Sep 20, 2013

Jargon Pertengkaran antara Subyek dan Obyek




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, subyek itu obyek dan obyek itu subyek,...dst. Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia. Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon subyek dan jargon obyek. Wahai jargon subyek dan jargon obyek dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon subyek kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon obyek kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon subyek. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada obyek agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para obyek tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon obyek:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon obyek. Saya menyadari bahwa jargon para subyek itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada subyek agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para subyek. Ketahuilah tiadalah subyek itu jika tidak ada obyek.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon subyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon subyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon subyek. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi obyek pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada obyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada obyek maka kedudukanku sebagai subyek akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi subyek yang kuat, yaitu sebear-benar subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai subyek sejati maka aku harus mengelola semua obyek sedemikian rupa sehingga semua obyekku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar obyek selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para obyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para obyek. Dari pada jargon obyek menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon subyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon subyek ketua :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon subyek ketua. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai ketua. Ketika aku menjadi ketua maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku menjadi ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai ketua, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan para anggotaku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai ketua. kekuasaanku sebagai ketua itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai ketua itu harus jujur, sebagai ketua itu harus peduli, sebagai ketua itu harus adil, sebagai ketua itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus terhormat, ketua harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai ketua adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai ketua terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para obyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai ketua. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon subyek ketua. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon subyek ketua, agar diketahui oleh para obyek-obyekku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon obyek. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon obyek:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon obyek. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para subyek. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada subyek. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada subyek maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh subyek-subyekku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para subyek. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai obyek sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para subyek. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para subyek. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para subyek. Tetapi aplah dayaku sebagai obyek. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi obyeknya para jargon subyek.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon obyek, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para anggotamu menyampaikan kepadaku.

Jargon obyek anggota :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon obyek anggota. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai anggota. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai ketua baru. Ketika aku mempunyai ketua baru aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai anggota. Maka setelah aku mempunyai ketua aku mulai kehilangan jargon anggota, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon ketua. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai anggota yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai anggota itu harus jujur, sebagai anggota itu harus peduli, sebagai anggota harus patuh, sebagai anggota harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan ketuaku itu mengalir melalui jargon-jargon ketua: sebagai ketua itu memang harus jujur, sebagai ketua itu memang harus peduli, sebagai ketua itu memang harus patuh, sebagai ketua itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa ketuaku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: ketua harus melindungi anggota, ketua harus menolong anggota, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai anggota adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, ketua itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu tidak pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai anggota sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para subyek. Agar aku selamat dari penindasan para jargon subyek. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai anggota. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon obyek anggota. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon obyek anggota, agar aku bisa berlindung dari ancaman para subyek. Aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon subyek saja kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuha itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para subyek dan obyek agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sama subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Dengan ini aku peringatkan kepada subyek. Janganlah engkau bertindak melebihi batas. Tiadalah manusia itu pernah menjadi subyek sejati. Sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

38 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia diciptakan berbeda-beda, akan tetapi dari perbedaan itu diharapkan kita bisa saling mengisi satu sama lain bukan malah bertengkar untuk mendapatkan posisi terbaik sehingga menghalalkan berbagai cara. Dalam kisah pertengkaran antara subyek dan obyek ini sangatlah di sayangkan karena sesungguhnya subyek dikatakan subyek ketika ada obyek dan obyek dikatakan obyek adalah ketika ada subyek.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Manusia terkadang bisa menjadi subyek, tetapi juga bisa menjadi obyek. Atau bahkan manusia itu bisa menjadi keduanya yaitu menjadi subyek dan obyek. Tuhan telah menciptakan semuanya bersama-sama antara subyek dan obyek itu terdapat jargon, dimana jargon itu juga akan lenyap di perbatasan pemikiran kita.

    ReplyDelete
  3. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Keterkaitan antara subyek dan obyek sangatlah erat membentuk hubungan yang harmoni. Tidak ada subyek tanpa obyek. Dan sebaliknya, tidak ada obyek tanpa subyek. Meskipun dalam kenyataan terlihat bahwa subyek lebih tinggi daripada obyek, sebenarnya kalau dipikirkan dan dikaji lagi tidaklah demikian. Seperti yang dikatakan orangtua berambut putih bahwa subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek. Maka sebagai subyek janganlah semena-mena terhadap obyek dan obyekpun janganlah merasa rendah karena tidak ada batasan keduanya di dalam pikiran.

    ReplyDelete
  4. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sebenarnya semua merupakan Jargon, kecuali Tuhan YME. Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah bergantung pada keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai obyek dan sebagai subjek, ketika kita melakukan sesuatu hal di dunia ini maka kita sedang menjadi subyek, namun di sisi lain kita sedang diamati dan dicatat amal perbuatan kita oleh para malaikat Allah SWT, maka kita menjadi obyek. Sehingga menjadi obyek atupun subyek tergantung dari cara kita memandang sesuatu. Yang dibutuhkan yang berserah pada yang maha kuasa, Allah SWT.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  5. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.


    Tak ada kesejatian yang melekat pada manusia sebagai subyek, pun manusia sebagai objek. Masing-masing terhalang oleh sebuah garis yang disebut batasan. Hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana memahami dan dipahami atas setiap yang ada dan mungkin ada. Sehingga rasa syukur akan selalu terpatri sebagai hamba yang terus mengharap keridhoan-Nya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  6. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Tidak ada subyek tanpa obyek. Dan sebaliknya, tidak ada obyek tanpa subyek. Meskipun dalam kenyataan terlihat bahwa subyek lebih tinggi daripada obyek,Objek adalah tujuan untuk mencapai sesuatu, sedangkan subyek adalah diri kita yang berperan sebagai penentu tercapainya sebuah tujuan. pada dasarnya subjek dapat melakukan berbagai aktivitas dan mempunyai kewajiban yang banyak.

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah bergantung pada keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Bagi para obyek, jargon itu adalah bagian dari mereka. Obyek tidak akan mampu terlepas dari jargon. Hal itu dilaksanakan agar jargon dari semua obyek tidak hanya menjadi jargon semata, namun bisa terlihat dalam hal praktknya.

    ReplyDelete
  8. Dewi Saputri
    13301241068
    Subyek dan obyek diciptakan bersama sama, mereka masing masing memiliki dan memerlukan jargon, berusaha menjadi yang terbaik. Tapi subyek bisa saja bertindak melebihi batas, padahal tidak ada subyek tanpa obyek dan sebaliknya. Sebenar benar subyek absolut adalah Tuhan YME

    ReplyDelete
  9. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    seperti halnya tradisional dan inovatif, standar dan proses, pria berambut putih juga menengahi perselisihan antar subjek dna objek ini dengan menyarankan agar keduanya saling menerjemahkan sehingga bisa memahami satu sama lain karena subjek merupakan jargon, dan objek juga merupakan jargon dan kesimpulannya sujek sama dengan objek.

    ReplyDelete
  10. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    subjek punya jargon untuk pengakuan dan kakutan sebagai subjek, sedangkan objek punya jargon untuk menjaga kesewenang-wenangan subjek dan melindingi diri dari kekuasaan subjek. pada suatu saat pun onjek bisa menjadi subjek dan subjek menjadi objek, posisi apapun janganlah lepas dari sopan santun dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Semuanya adalah jargon, dan semuanya memerlukan jargon. Hanya kuasa dan milik Tuhan YME sebenar-benar bukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk menegakkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya agar dirinya ada. Baik jargon subyek dan jargon obyek perlu untuk saling memahami agar terhindar dari perselisihan sehingga subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya.

    ReplyDelete
  12. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    setiap yang ada di dunia ini haruslah memiliki jargonnya masing-masing. dimana jargon yang dimilikinya dapat berfungsi sebagai pemantapan kedudukannya sebagai seseorang yang berkuasa ataupun dapat dikatakan sebagai subyek, jargon juga dapat berfungsi sebagai tempat perlindungan diri dari hal-hal yang dapat mempengaruhi dirinya yaitu obyek.

    ReplyDelete
  13. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Selamat Malam Pak Marsigit..
    Subjek dan objek memiliki jargonnya masing-masing. Subjek menggunakan jargonnya untuk memantapkan kedudukannya terhadap objek, sedangkan objek menggunakan jargonnya untuk melindungi dirinya dari tekanan si subjek. Meski demikian, keduanya dapat hidup bersama-sama dengan saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Keduanya harus saling memahami bahwa di batas tertentu subjek adalah objek, dan objek adalah subjek. Karena pada dasarnya, subjek dan objek ini saling berkaitan.

    ReplyDelete
  14. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Artikel berjudul “Jargon Pertengkaran antara Subyek dan Obyek” ini hampir mirip dengan artikel berjudul “Jargon Kebaikan dan Keburukan”. Dalam artikel ini kita dapat memahami lebih jauh tentang objek dan subjek yang sebenarnya tidak perlu “di-pertengkar-kan”. Karena semuanya memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya.

    Tiadalah manusia itu pernah menjadi subyek sejati. Sebenar-benar subyek absolut adalah Allah swt. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Allah swt.

    ReplyDelete
  15. Jargon subjek
    Tentu saja jika menjadi jargon ketua itu harus jujur,harus peduli,adil,dan bijak.
    Jika tidak begitu akan sulit dan akan banyak menuai kontroversi
    Dalam menjadi ketua tidak ada kata berbohong demi kebaikan karena yang namanya berbohong itu tidaklah baik dalam menjadi ketua .
    Maupun tidak adil meskipun demi kebaikan ,karena ketua itu harus adil dalam hal apapun. Dan tidak memakai topeng untuk menutupi nenutupi kelemahan
    Jargon objek
    Tidaklah baik menggunakan topeng menjadi jargon anggota karena lebih baiktampil dengan alakadarnya di banding memakai topeng untuk menutupi kelemahan dihadapan jargon subjek

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  16. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Subyek perlu obyek, dan obyek perlu subyek. karena keterkaitannya, mereka menjadi berguna dan bermakna. Saling membutuhkan satu sama lain, seperti dalam ujian, dimana subyek ujiannya itu adalah guru sebagai penguji, dan obyek ujiannya adalah siswa sebagai yang diuji. Jika subyek tidak mempunyai obyek, maka siapa yang ingin diuji, guru pun tidak ada gunanya sebagia penguji. Subyek dan obyek bisa jadi bertengkar jika salah satu dari mereka saling menyalahkan. Misal dalam ujian ada siswa yang nilainya jelek, siswa tersebut menyalahkan guru. Dan sebaliknya guru bisa saja menyalahkan siswa karena tidak belajar. Keduanya tidak sadar bahwa seharusnya dijadikan refleksi diri antara guru dan siswa agar tidak terjadinya pertengkaran saling menyalahkan.

    ReplyDelete
  17. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Ketua dan anggota, masing-masing memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Keduanya memiliki jargonnya masing-masing. Menurut Ketua, jargon anggota adalah: sebagai anggota harus jujur, peduli, patuh dan bijak. Menurut ketua, sebagai ketua hars memiliki jargon topeng yaitu jargon yang dapat menutupi segala kesalahan dan kelemahannya di hadapan para anggota. Menurut anggota, ketua dan anggota juga memiliki jargon yang berbeda. Semua jargon dimunculkan untuk melindungi dan mempertahankan eksistensinya.

    ReplyDelete

  18. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Subjek dan objek merupakan dua posisi yang berbeda. Masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Kalaupun ada dari masing-masing yang menutupi kelemahan sifat-sifatnya, itu dilakukan untuk menjaga eksistensinya. Yang perlu dilakukan adalah saling terjemah-menerjemahkan, saling menghargai posisi dan fungsi masing-masing, dan saling berkomunikasi. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan tanpa komunikasi.

    ReplyDelete

  19. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Tuhan YME menciptakan hal yang beraneka ragam dengan segala jenis sifatnya memiliki tujuan supaya manusia bisa memikirkan semua yang ada. Manusia dituntut untuk bisa berfikir dan bersikap bijaksana atas apa yang ada dan yang mungkin ada, termasuk posisi menjadi subjek atau objek. Apapun posisi kita, kita harus berusaha menjadi subjek logos dan objek logos yang selalu mengada, dengan selalu mengingat fitrah masing-masing.

    ReplyDelete
  20. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Subyek memerlukan jargon untuk menunjukan eksistensinya sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Tiadalah ada obyek tanpa adanya subyek dan sebaliknya tiadalah subyek tanpa adanya obyek. Keduanya saling keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah berusaha untuk menterjemahkan dan diterjemahkan, memikirkan dan memahami kedudukan antara subyek dan obyek. Subyek dan obyek sebagai pemegang jabatan harus berlaku adil, jujur, amanah, tidak zolim, setia, mengayomi anggotanya, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  21. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Subyek dalam elegi di atas adalah yang merasa berkuasa karena yang melakukan tindakan sehingga akan terus berusaha untuk bisa menjadi lebih ... dan lebih. Makna dari elegi sebagai subyek adalah sebgai individu haruslah tetap pada porsi yang sesuai semua kalau lebih pasti tidak lah baiknyang terbaik adalah cukup dan pas. Sebagai pemimpin harus mampu memanagemen anak buanhya baik dalam hati, pikiran dan perbuatan. Tidak dengan kekuasaannya akan semena-mena terhadap anak buah. Selain itu bagaimana kita mampu mengendalikan diri untuk menghilangkan nafsu kekuasaan absolut. Karena sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Obyek dalam elegi ini adalah sesuatu yang dikenai tindakan. Artinya selalu dalam hal yang mendapat kerja. Makna dari elegi obyek ini adalah sebagai hal yang dikenai, tentunya lemah jika melawan subyek. Makna sebagai obyek kaena di kenai tindakan kalau dalam kehidupan sebagai anak buah msalnya, maka sebagai anak buah tetap mengikuti aturan dan etika yang telah dibuat oleh tempat kerja kita. Patuh dan taat adalah kunci keberlanggengan status kita di tempat, maka sebagai obyek sikapnya adalah menerima apa yang telah ditakdirkan tapi tetap dalam usaha dan doa.

    ReplyDelete
  23. Retno Widyaningrum
    16701261004

    keberadaan subyek dan obyek tidak bisa dipisahkan dan tidak akan bisa berdiri sendiri oleh karena itu bagaimana tetap menjaga keharmonisan, ketenangan, dan kebersamaan itulah tujuan utama dalam hidup. Menjaga posisi dan menempatkkan dalam posisinya dengan ikhlas, wibawa dan kasih sayang tentu akan menciptakan kelanggengan dalam kebersamaan. Karena sebenar-benarnya yang menentukan adalah Allah Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  24. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Subyek dan obyek saling mempengaruhi satu sama lain. Tuhan telah menciptakan suasana dimana subyek dan obyek dapat bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Bagi subyek yang memiliki kekuasaan tinggi, janganlah bertindak melebihi batasan yang ada. Tidak ada di dunia ini adalah subyek sejati, karena sebenar-benar subyek absolut itu adalah milik Allah.

    ReplyDelete
  25. Jargon pertengkaran antara subyek dan obyek menceritakan persaingan yang tidak dapat dielakkan. Tidak ada subyek tanpa obyek, begitu pula sebaliknya. Mereka saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan, jadi subyek dan obyek seharusnya saling memahami jargon masing-masing. Karena sesungguhnya subyek dan obyek adalah jargon itu sendiri, dan tidak ada sebenar-benar jargon kecuali kuasa Tuhan YME.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  26. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Jika ada pertengkaran antara subyek dan obyek tentunya harus segera diselesaikan dengan bijak. Jika pertengkaran itu tetap dibiarkan, maka dapat merusak tatanan bernegara, kemudian bisa berakhir kepada ketidakpercayaan lagi kepada subyek secara mutlak terhadap pemerintahan.

    ReplyDelete
  27. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Hubungan antara subyek dan obyek tak dapat dipisahkan sejatinya dalam konteks filsafat karena subyek adalah bagian dari filsafat, subjek dalam filsafat adalah berfikir. sedang apa yang dipikirkan adalah objek ap yang dipikirkan. Apa uyang dipikirkan adalah mitos , sedang mitos yang dibuktikan berubah menjadi logos yang sesungguhnya adalah mitos.

    ReplyDelete
  28. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Ternyata semuanya memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuha itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya.

    ReplyDelete
  29. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek. Tiadalah manusia itu pernah menjadi subyek sejati. Sebenar-benar subyek absolut adalah Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  30. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Subyek dan obyek adalah dua hal pasti ada di detiap kesempatan. Ketika menjadi subjek janganlah bersikap dan bertindak semena-mena kepada objek tetapi lakukan semuanya dengan semnagat kebersamaan, penghargaan dan penghormatan. Sebagi objek juga harus menyadari ada batasan-batasan yang harus dimengerti. Keihlasan dan ketulusanlah yang akan membangun keharmonisan antara objek dengan subjek. Dan perlu diketahui tidak selamanya kita menjadi obyek dan juga jadi subyek.

    ReplyDelete
  31. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Subyek dan obyek memiliki jargon masing-masing untuk membuktikan bahwa dia adalah subyek dan dia adalah obyek. Terkadang subyek bisa menjadi obyek dan obyek bisa menjadi subyek. Misalnya seorang mahasiswa pendidikan menjadi guru, dimana guru adalah subyek dari siswa yang sebagai obyek, tetapi ketika guru yang seorang mahasiswa tersebut di dalam perkuliahan maka mahasiswa adalah obyek dan dosen menjadi subyeknya. Oleh karena itu, subyek tidak boleh melebihi batas sifatnya karena semua jargon tersebut akan lenyap diperbatasan pikiran. Sebenar-benarnyanya subyek absolut adalah Allah S.W.T.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  32. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Jargon pertengkaran atau perselisihan antara subjek dan objek. Subjek dan objek itu harus ada secara beriringan dan bersama. Mereka berbeda, namun keduanya saling membutuhkan. Subjek melakukan tindakan, sedangkan objek itu yang dilakukan oleh subjek, atau yang dilakukan tindakan. jadi, keduanya sangat penting. Jika ada subjek tanpa objek, maka tidak akan terjadi suatu tujuan. Padahal, subjek dan objek memiliki suatu tujuan bersama. Tujuan menemukan keharmonisan.

    ReplyDelete
  33. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Subyek memiliki jargon dan obyek juga memiliki jargon. Ada pada ruang dan waktu tertentu, subyek adalah obyek dan obyek adalah subyek. Maka agar tidak saling ribut antara subyek dan obyek maka subyek dan obyek harus bisa menterjemahkan dan diterjemahkan. Sadar akan ruang dan waktu bisa menjadi solusi agar tidak terjadi pertengkaran antara subyek dan obyek.

    ReplyDelete
  34. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Solusi terbaik adalah menerjemahkan dan diterjemahkan. Karena Tuhan YME Maha Bijaksana. Di batas sana subyek itu adalah obyek dan obyek adalah subjek. Tiadalah manusia menjadi yek sejati, kita tetaplah obyek dari malaikat yang mencatat amal kita, setan yang menggodan iman, Tuhan YME yang mengawasi kita bahkan obyek manusia lain. Sehingga janganlah sampai kita melebihi batas, karena manusia adalah subyek sekaligus obyek. Subyek sejati adalah Tuhan YME.

    ReplyDelete
  35. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Kehidupan manusia layaknya seperti roda yang berputar. Kadang berada di atas dan juga di bawah. Ketika manusia memiliki jabatan dalam pekerjaannya maka bersikaplah bijaksana ketika menjadi seorang pemimpin, harus dapat mengatur anggotanya dengan baik. Tidak menyombongkan diri dengan jabatannya itu. Karena manusia hidup di dunia ini hanya sementara. Manfaatkan segala hidup untuk dapat menjadi orang yang terbaik dalam sikap dan perbuatan. Waktu kita berada di atas selalu ingat waktu kita berada di bawah. Sehingga kita sadar bagaimana menempatkan posisi yang terbaik dalam menata kehidupan.

    ReplyDelete
  36. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Hidup didunia memanng harus selalu berdampingan. Jangan selalu menyombongkan diri. Objek dan Subjek juga saling memiliki jargon entah untuk memantapkan kedudukan maupun melindungi diri. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya.

    ReplyDelete
  37. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Mengutip kalimat dalam elegi di atas, “Ternyata semuanya memerlukan jargon. Subyek memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai subyek, sedangkan obyek memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuha itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana subyek dan obyek dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para subyek dan obyek agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sama subyek itu adalah obyek, dan obyek itu adalah subyek”. Maka tak ada yang perlu di-pertengkar-kan, saling terjemah dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  38. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    dari elegi tersebut, manurut saya elegi tersebut menceritakan tenatng amanah. Setiap orang ketika memegang amanah baik sebagai ketua maupun anggota, masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban. Melaksanakan segala amanah yang telah diberikan dengan baik dan bertanggung jawab. Amanah tersebut dapat meliputi kepemimpinan terhadap diri kita maupun kepada orang lain baik adik, anak, ataupun orang-orang yang berada dalam kewenangan kita.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id