Sep 20, 2013

Jargon Para Subyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para subyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para Subyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pembuat.
Aku itu meliputi para pembuat tugas, pembuat mandat, pembuat amanah, pembuat kewajiban, pembuat aturan, pembuat obyek, pembuat sifat, pembuat permulaan, pembuat inisiatif, pembuat kesimpulan, pembuat pertanyaan, pembuat jawaban, pembuat kesimpulan, pembuat benar, pembuat salah, pembuat suasana, pembuat akhiran, pembuat laporan, pembuat metode, pembuat alat, pembuat tulisan, pembuat bicara, pembuat proposal, pembuat baik, pembuat buruk, pembuat bergerak, pembuat diam, pembuat tidak jelas, pembuat kacau, pembuat tidak kacau, pembuat jargon, pembuat elegi, pembuat contoh, pembuat hubungan, pembuat sesuai, pembuat tidak sesuai, pembuat terang, pembuat gelap, pembuat mahal, pembuat murah, pembuat turun, pembuat naik, pambuat ramai, pembuat sepi, pembuat perang, pembuat kacau, pembuat adil, pembuat jabatan, pembuat PR, pembuat nilai, pembuat naik kelas, pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para pembuat. Para pembuat itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para penentu.
Aku itu meliputi para penentu tugas, penentu mandat, penentu amanah, penentu kewajiban, penentu aturan, penentu obyek, penentu sifat, penentu permulaan, penentu inisiatif, penentu kesimpulan, penentu pertanyaan, penentu jawaban, penentu kesimpulan, penentu benar, penentu salah, penentu suasana, penentu akhiran, penentu laporan, penentu metode, penentu alat, penentu tulisan, penentu bicara, penentu proposal, penentu baik, penentu buruk, penentu bergerak, penentu diam, penentu tidak jelas, penentu kacau, penentu tidak kacau, penentu jargon, penentu elegi, penentu contoh, penentu hubungan, penentu sesuai, penentu tidak sesuai, penentu terang, penentu gelap, penentu mahal, penentu murah, penentu turun, penentu naik, penentu ramai, penentu sepi, penentu perang, penentu kacau, pembuat adil, penentu jabatan, penentu PR, penentu nilai, penentu naik kelas, penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek penentu. Para penentu itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengemban.
Aku itu meliputi para pengemban tugas, pengemban mandat, pengemban amanah, pengemban kewajiban, pengemban aturan, pengemban obyek, pengemban sifat, pengemban permulaan, pengemban inisiatif, pengemban kesimpulan, pengemban pertanyaan, pengemban jawaban, pengemban kesimpulan, pengemban benar, pengemban salah, pengemban suasana, pengemban akhiran, pengemban laporan, pengemban metode, pengemban alat, pengemban tulisan, pengemban bicara, pengemban proposal, pengemban baik, pengemban buruk, pengemban bergerak, pengemban diam, pengemban tidak jelas, pengemban kacau, pengemban tidak kacau, pengemban jargon, pengemban elegi, pengemban contoh, pengemban hubungan, pengemban sesuai, pengemban tidak sesuai, pengemban terang, pengemban gelap, pengemban mahal, pengemban murah, pengemban turun, pengemban naik, pengemban ramai, pengemban sepi, pengemban perang, pengemban kacau, pembuat adil, pengemban jabatan, pengemban PR, pengemban nilai, pengemban naik kelas, pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengemban. Para pengemban itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemangku.
Aku itu meliputi para pemangku tugas, pemangku mandat, pemangku amanah, pemangku kewajiban, pemangku aturan, pemangku obyek, pemangku sifat, pemangku permulaan, pemangku inisiatif, pemangku kesimpulan, pemangku pertanyaan, pemangku jawaban, pemangku kesimpulan, pemangku benar, pemangku salah, pemangku suasana, pemangku akhiran, pemangku laporan, pemangku metode, pemangku alat, pemangku tulisan, pemangku bicara, pemangku proposal, pemangku baik, pemangku buruk, pemangku bergerak, pemangku diam, pemangku tidak jelas, pemangku kacau, pemangku tidak kacau, pemangku jargon, pemangku elegi, pemangku contoh, pemangku hubungan, pemangku sesuai, pemangku tidak sesuai, pemangku terang, pemangku gelap, pemangku mahal, pemangku murah, pemangku turun, pemangku naik, pemangku ramai, pemangku sepi, pemangku perang, pemangku kacau, pembuat adil, pemangku jabatan, pemangku PR, pemangku nilai, pemangku naik kelas, pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemangku. Para pemangku itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pelaksana.
Aku itu meliputi para pelaksana tugas, pelaksana mandat, pelaksana amanah, pelaksana kewajiban, pelaksana aturan, pelaksana obyek, pelaksana sifat, pelaksana permulaan, pelaksana inisiatif, pelaksana kesimpulan, pelaksana pertanyaan, pelaksana jawaban, pelaksana kesimpulan, pelaksana benar, pelaksana salah, pelaksana suasana, pelaksana akhiran, pelaksana laporan, pelaksana metode, pelaksana alat, pelaksana tulisan, pelaksana bicara, pelaksana proposal, pelaksana baik, pelaksana buruk, pelaksana bergerak, pelaksana diam, pelaksana tidak jelas, pelaksana kacau, pelaksana tidak kacau, pelaksana jargon, pelaksana elegi, pelaksana contoh, pelaksana hubungan, pelaksana sesuai, pelaksana tidak sesuai, pelaksana terang, pelaksana gelap, pelaksana mahal, pelaksana murah, pelaksana turun, pelaksana naik, pelaksana ramai, pelaksana sepi, pelaksana perang, pelaksana kacau, pembuat adil, pelaksana jabatan, pelaksana PR, pelaksana nilai, pelaksana naik kelas, pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pelaksana. Para pelaksana itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?
Para subyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pemelihara.
Aku itu meliputi para pemelihara tugas, pemelihara mandat, pemelihara amanah, pemelihara kewajiban, pemelihara aturan, pemelihara obyek, pemelihara sifat, pemelihara permulaan, pemelihara inisiatif, pemelihara kesimpulan, pemelihara pertanyaan, pemelihara jawaban, pemelihara kesimpulan, pemelihara benar, pemelihara salah, pemelihara suasana, pemelihara akhiran, pemelihara laporan, pemelihara metode, pemelihara alat, pemelihara tulisan, pemelihara bicara, pemelihara proposal, pemelihara baik, pemelihara buruk, pemelihara bergerak, pemelihara diam, pemelihara tidak jelas, pemelihara kacau, pemelihara tidak kacau, pemelihara jargon, pemelihara elegi, pemelihara contoh, pemelihara hubungan, pemelihara sesuai, pemelihara tidak sesuai, pemelihara terang, pemelihara gelap, pemelihara mahal, pemelihara murah, pemelihara turun, pemelihara naik, pemelihara ramai, pemelihara sepi, pemelihara perang, pemelihara kacau, pembuat adil, pemelihara jabatan, pemelihara PR, pemelihara nilai, pemelihara naik kelas, pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pemelihara. Para pemelihara itu adalah para subyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para subyek?

Para subyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para subyek. Aku adalah para subyek dari golongan para pengawas.
Aku itu meliputi para pengawas tugas, pengawas mandat, pengawas amanah, pengawas kewajiban, pengawas aturan, pengawas obyek, pengawas sifat, pengawas permulaan, pengawas inisiatif, pengawas kesimpulan, pengawas pertanyaan, pengawas jawaban, pengawas kesimpulan, pengawas benar, pengawas salah, pengawas suasana, pengawas akhiran, pengawas laporan, pengawas metode, pengawas alat, pengawas tulisan, pengawas bicara, pengawas proposal, pengawas baik, pengawas buruk, pengawas bergerak, pengawas diam, pengawas tidak jelas, pengawas kacau, pengawas tidak kacau, pengawas jargon, pengawas elegi, pengawas contoh, pengawas hubungan, pengawas sesuai, pengawas tidak sesuai, pengawas terang, pengawas gelap, pengawas mahal, pengawas murah, pengawas turun, pengawas naik, pengawas ramai, pengawas sepi, pengawas perang, pengawas kacau, pembuat adil, pengawas jabatan, pengawas PR, pengawas nilai, pengawas naik kelas, pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para subyek pengawas. Para pengawas itu adalah para subyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para subyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat subyek para penilai, para komentator, para pendoa, para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para subyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...subyek.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para subyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar subyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Subyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada obyek. Subyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada pembuat, penentu, pengemban, pemangku, penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...subyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan pembuat kacau, penentu kacau, pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para subyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para subyek sengan pikiran kacau, bahasa kacau, pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...subyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para subyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai subyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu.

40 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Jargon dan subyek adalah dua hal yang saling membutuhkan. Semua subyek pasti memiliki jargon. Subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengawas, subyek pemelihara, dan masih banyak lagi. Seringkali terjadi pertentangan antara jargon dengan subyeknya. Jika ini dibiarkan maka akan melemahkan subyeknya. Semoga kita dapat mengharmonikan antara jargon dan subjek.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Subyek adalah jargon itu sendiri. Subyek membutuhkan jargon, dan tidak dapat terlepas dari jargon. Dalam rangka menegakkan diri sebagai subyek, telah banyak hal yang membuktikan bahwa subyek itu bagian dari jargon, bahkan subyek itu adalah jargon.

    ReplyDelete
  3. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Jargon adalah bagian dari subyek yang melambangkan peran dari subyek itu sendiri. Elegi ini memaparkan peran subyek yang dikelompokkan dalam beberapa kategori meliputi pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, para penilai, para komentator, para pendoa, para pengacau, dst. Baik atau buruknya peran dalam kategori tersebut tidaklah ada perbedaan, semuanya tetaplah sama-sama yang merupakan bagian dari subyek.

    ReplyDelete
  4. Nikma Husna
    13301244024
    Pendidikan Matematika C 2013
    Jargon yang dimiliki oleh masing-masing subjek sangatlah banyak meurut kedudukan yang dimilikinya. Jargon-jargon tersebut saling berkesinambungan dan memerlukan kerjasama yang baik antar berbagai subjek. Semoga jargon yang dimiliki oleh masing-masing subjek dapat dilaksanakan dengan baik dan bertanggungjawab.

    ReplyDelete
  5. Dita Aldila Krisma
    13301241002
    Pendidikan Matematika I 2013

    Para subjek adalah pembuat, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, dan masih banyak subjek lainnya. Dalam melakukan sesuatu, subjek dapat melakukan berbagai aktivitas dan mempunyai kewajiban yang banyak. Jargon mewakili peran dari subjek. Subjek yang akan jargon seperti apa yang akan diwujudkan, ke arah mana subjek akan membawa jargon, dan subjek seerti apa yang akan tercipta bersama jargon.

    ReplyDelete
  6. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sebenarnya semua merupakan Jargon, kecuali Tuhan YME. Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah tergantung keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai obyek dan sebagai subjek, ketika kita melakukan sesuatu hal di dunia ini maka kita sedang menjadi subyek, namun di sisi lain kita sedang diamati dan dicatat amal perbuatan kita oleh para malaikat Allah SWT, maka kita menjadi obyek. Sehingga menjadi obyek atupun subyek tergantung dari cara kita memandang sesuatu.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  7. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Berpikir keras dan kritis untuk lebih dapat memahami diri sendiri, dikarenakan banyaknya sifat dan potensi yang ada dalam diri kita. Janganlah kita terlalu sering mengkritik seseorang bahwa dia bersifat begini begitu padahal sebenarnya kita juga memiliki sifat dan potensi yang sama dengan orang tersebut.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Elegi ini memaparkan peran subyek yang dikelompokkan dalam beberapa kategori meliputi pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, para penilai, para komentator, para pendoa,dan para pengacau. pada dasarnya subjek dapat melakukan berbagai aktivitas dan mempunyai kewajiban yang banyak.adapun Jargon-jargon yang ada saling berkesinambungan dan memerlukan kerjasama yang baik antar berbagai subyek.

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Objek adalah tujuan untuk mencapai sesuatu, sedangkan subyek adalah diri kita yang berperan sebagai penentu tercapainya sebuah tujuan. Bagi para obyek, jargon itu adalah bagian dari mereka. Obyek tidak akan mampu terlepas dari jargon.Hal itu dilaksanakan agar jargon dari semua obyek tidak hanya menjadi jargon semata, namun bisa terlihat dalam hal praktknya.Sehingga dalam hal ini jargon tidak akan pernah sama dengan subyeknya sebagaimana subyek tidak akan pernah sama dengan obyeknya

    ReplyDelete
  10. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    seperti halnya objek, ternyata jargon juga merupakan subjek. subjek dengan berbagai macam jenisnya yang terdapat pada post blog diatas.

    ReplyDelete
  11. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Para subyek penentu, pembuat, pemangku, pelaksana, pembelihara adalah para subyek. Ada tak hingga para para subyek. Subyek memerlukan jargon untuk berkuasa, tapi menyadari bahwa subyek tak berarti tanpa pembuat, penentu, pemangku, pelaksana, pemelihara, dst itu sendiri. Karena sebenarnya para subyek adalah para jargon

    ReplyDelete
  12. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    setelaj membacaa elegi tentang objek, sekarang saya membaca elegi tentang subjek, di dunia ini tidak lepas dari subjek predikat dan objek, masing-masing memiliki jargon. jadi bisa kita tentukan bahwa dunia ini adalah subjek, dunia ini adalah objek. dunia ini adalah predikat.

    ReplyDelete
  13. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Elegi jargon para subyek di atas sama seperti elegi jargon para obyek sebelumnya yaitu dalam elegi jargon para subyek, para subyek dalam elegi tersebut juga terdiri dari subyek pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, dan lain sebagainya karena jumlah jargon para subyek ini juga ada tak terhingga banyaknya. Subyek mempunyai banyak sekali sifat yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Subyek dan jargon tidak dapat dilepaskan karena subyek memerlukan jargon untuk menjaga sifat-sifat yang dimilikinya, sehingga sesungguhnya subyek merupakan para jargon.

    ReplyDelete
  14. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Seperti halnya objek, terdapat 7 subjek yang dipaparkan dalam artikel ini, yakni Subjek; (1) Pembuat, (2) Penentu, (3) Pengemban, (4) Pemangku, (5) Pelaksana, (6) Pemelihara, dan (7) Pengawas serta para objek yang lain.

    Kesimpulannya pun sama, bahwa para subjek itu ternyata juga para jargon seperti halnya objek Lebih lanjut bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar jargon adalah hanya kuasa dan milik Allah swt.

    ReplyDelete
  15. Semua subyek tidak akan mampu terlepas dari jargon, kerena mereka satu yang berhubungan saling keterkaitan. Jargon adalah istilah khusus ( lingkungan ) tertentu. Dalam elegi subyek terdapat bermacam-macam tapi tetap saja mereka memiliki satu sebagai penentu dalam mencapai tujuan kaitanya dengan jargon mereka adalah satu yaitu dua proses satu keputusan. Inilah kenapa jargon para subyek memiliki hubungan yang terikat terus selain itu. obyek adalah pelaku atau siswa dalam lingkungan belajar. Dengan demikian siswa di fasilitasi agar aktif dalam belajar melakukan kegiatan-kegiatan untuk menemukan konsep tertentu, Kalau di lihat dari filsafatnya saya setuju kerena dalam berfilsafat tujuannya untuk mengembengkang diri untuk lebih baik dalam kehidupan termasuk menghadapi berbagai masalah , bijaksana, dan benar.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  16. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    subyek adalah sesuatu yang mempunyai kekuasaan untuk membuat, menentukan, mengemban, menjadi pemangku jabatan dst. Akan tetapi dari seluruh kelebihan yang dimiliki oleh para subyek, subyek membutuhkan jargon untuk dapat menjaga sifat dari para subyek. sehingga dapat kita katakan antara subyek dan jargon merupakan dua hal yang tidak dapat di pisahkan.

    ReplyDelete
  17. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Kita semua punya jargonnya masing-masing. guru yang ingin terlihat akan kedudukannya sebagai orang yang memberikan ilmu, ia tidak sadar membuat jargon untuk dirinya. Bahwa ia punya sesuatu untuk diberikan kepada siswa. disini memisalkan subyek adalah guru, dimana kinerja subyek pun aka ditentukan oleh kinerja obyek. Karena terlihat bagaimana subyek melakukan upaya agar obyek juga mendapatkan hasil yang bagus. Sehingga jargon para subyek harus dikelola dengan baik dan bijaksana, jangan semena-mena terhadap obyek dan semestinya mampu memberikan hasil dari suatu obyek.

    ReplyDelete
  18. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Subjek adalah pelaku tindakan, yang menguasai tindakan dan keadaan. Ada banyak sekali jargon dan sifat subjek yang berhubungan dengan pengendali tindakan. Meskipun demikian, subjek tidak ada artinya tanpa objek. Seorang penguasa tidak ada artinya tanpa objek yang dikuasainya. Subjek membutuhkan objek, begitu juga objek membutuhkan subjek.

    ReplyDelete
  19. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Melalui elegi ini kita bisa mengetahui Apakah hakikat subjek itu? Elegi ini menjelaskan bahwa subjek tidak lain dan tidak bukan adalah jargon yang dibuatnya. Subjek sangat bergantung pada jargon yang dikembangkannya. Subjek membutuhkan jargonnya untuk menjaga sifatnya sebagai subjek. Dari sini terlihat hubungan ketergantungan yang sangat tinggi subjek kepada jargonnya.

    ReplyDelete
  20. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Subyek adalah yang melakukan tindakan, dalam elegi ini diantaranya adalag si berpikir, si pembuat, si penentu, si pengemban, si penailai, si pemroduksi, si pemangku, dan si ...., si...., si yang lain. Sehingga banyak sekali tidak terhingga banyaknya.

    ReplyDelete
  21. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Subjek memiliki Eksistensi ada jika ada objeknya, setiap subjek memiliki jargonnya sendiri misalnya nama, sifat, struktur, ruang dan waktu, dan lain-lainnya. Subjek memiliki peran penting untuk menunjukan diri sebagai subjek. Ketika kita menjadi subjek maka kita adalah bagian dari yang melakukan pekerjaan atau pelaku, pembuat, pelaksana, penyampai, pencerita, pengacau, peneliti dan lain sebagainya. Guru sebagai subjek harus berusaha mendidik, mengajar, membimbing, memotivasi siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Subjek filsafat adalah seseorang yang yang berfikir atau memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Subyek jumlah tak terhingga, berfikir dan mendalam tentang sesuatu, Subyek ada jika yang dipikirkan ada yaitu obyek, sehingga subyek ada karena adanya obyek yang dipikirkan. Jargon subyek tidak mampu kita menghitungnya.

    ReplyDelete
  23. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Subjek dan objek adalah dua hal yang saling berkaitan, saling mempengaruhi satu sama lain. Subjek tidak akan berarti jika tidak ada objek, begitu pula sebaliknya. Selin dengan objek, subjek juga berkaitan dengan jargon. Karena subjek adalah jargon itu sendiri.

    ReplyDelete
  24. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Subyek bisa beraneka macam yang masing-masing memiliki tugas dan peran. Subyek ini bisa ada karena ada dipikiran kita. Saat membicarakan subyek tentu juga akan muncul obyek, karena keduanya saling berkaitan. Keduanya juga memiliki jargon untuk mempertahankan kedudukannya masing-masing.

    ReplyDelete
  25. Sama halnya dengan jargon para obyek, ada begitu banyak subyek dalam kehidupan kita. Semua subyek itu mempunyai jargonnya masing-masing. Subyek itu muncul karena adanya obyek yang dipandangan sebagai sasaran. Jargon sebagai obyek dari subyek yang ada. Subyek dan obyek saling berkaitan satu sama lain, tidak dapat terpisahkan. Subyek sebagai jargon dan obyek juga sebagai jargon. Jadi subyek adalah jargon itu sendiri.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  26. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sejatinya subyek sebagai pembuat, penentu, pengawas serta pemelihara kebijakan tentunya harus mempunyai sifat-sifat yang baik dalam semua hal. Dari dunia pewayangan dan pustaka lama pun, seringkali dapat kita pelajari sifat-sifat yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Misalnya seperti yang diajarkan oleh Resi Abiyasa kepada ksatriya Arjuna dalam kisah-kisah Mahabarata: Heneng, Hening, Heling, dan Hawas.

    ReplyDelete
  27. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Subjek adalah sesuatu yang memiliki peran, ia bebas melakukan apapun yang menjadi perannya. sedangkan obyek adalah salah satu dari sesuatu yang dikenai peran oleh subyek. Subyek dalam filsafat saah satunya adalah pikiran. Berfikir merupakan subjek dari filsafat akan tetapi tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Subjek filsafat adalah seseorang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh dan mendalam, Dalam hidupnya manusia selalu tidak terlepas dari proses berfikir, sehingga dapat dikatakan manusia adalah bagian peggerak subjek dalam filsafat.

    ReplyDelete
  28. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Ternyata kita menyadari bahwa para jargon subyek itu adalah kita sebagai pembuat. Semuanya tergantung apa yang kita perbuat dan semuanya berdampak kembali pada diri kita.

    ReplyDelete
  29. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Kita memerlukan diri kita untuk menjaga sifat kita sebagai para subyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diri kita sebagai subyek, kita telah terbukti bahwa kita adalah mereka, yaitu para jargon.

    ReplyDelete
  30. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Subyek adalah pelaku yang menentukan sebuah kegiatan,mempunyai pengaruh . Perannya sangat penting disini, yaitu sebagai pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana. Oleh karena itu sebagai subjek harus bertindak yang bijak, karena membawa tanggung jawab yang besar sehingga tidak merugikan objek.

    ReplyDelete
  31. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Terdapat golongan-golongan subyek dan setiap golongan subyek memiliki jargonnya masing-masing, mulai dari subyek sebagai pembuat, penentu, pengemban, penilai, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, dan seterusnya. Subyek memerlukan jargon untuk menjaga sifat sebagai subyek. Maka sebenar-benarnya subyek adalah pembuat, penentu, pengemban, penilai, pelaksana, pemelihara, pengawas bagi obyeknya.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  32. Rhomiy Handican
    167092510131
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Jargon para subjek. Dari postingan yang bapak berikan tentang jargon para subjek, banyak sekali ternyata tugas dari subjek. Subjek membuat suatu, menentukan sesuatu, mengemban sesuatu, memangku sesuatu, melaksanakan sesuatu, memelihara sesuatu, mengawasi sesuatu menilai sesuatu, dan seterusnya. Semua itu tergantung ruang dan waktunya. Dan jika semua subjek itu bisa menyatu dengan baik, maka saya yakin, subjek tersebut akan menjadi subjek yang sangat hebat. Karena bersatu kita teguh, dan bercerai kita runtuh. Dari pembicaraan antara subjek dengan jargon, saya mendapatkan sesuatu hal yang penting. Betapa pentingnya diri kita untuk tidak egois. Kita harus bisa mendukung kelebihan orang lain. Pengisi kekurangan dan kekosongan itu sangat bagus. Baik untuk diri kita, maupun orang lain.

    ReplyDelete
  33. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  34. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Para subyek tak berhingga banyaknya. Begitu pula dengan jargon. Karena tiada subyek tanpa jargon dan tiada jargon tanpa subyek. Jargon merupakan bagian dari subyek. Subyek merasa selalu memerlukan jargon untuk menjaga sifatnya sebagai para subyek.

    ReplyDelete
  35. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Jargon para subyek ini menjelaskan tentang keberanekaragaman subyek. Subyek dan objek saling berkaitan satu sama lain, adanya subek karena dia memiliki objek, begitu juga dengan adanya objek karena dia memiliki subyek. Tanpa objek maka tidak akan ada subyek. Selain itu subyek juga merupakan salah satu bagian dari jargon, karena jargon berarti kacau, maka jargon subyek itu adalah kekacauan dalam membuat, menentukan, mengembangkan, memelihara, mengawas, menilai dan sebagainya. Dalam pembelajaran, sudah sepatutnya siswa memiliki peranan sebagai subyek belajar, dimana siswa memiliki hak menentukan kegiatan pembelajaran yang sesuai dan guru bertindak untuk memfasilitasi dan memberi masukan terhadap adanya kekeliruan.

    ReplyDelete
  36. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Pada bacaan ini dijelaskan bahwa di
    subjek selalu memerlukan jargon untuk mempertahankan sifatnya dalam rangka menegakkan diri sebagai subjek.
    selama di dunia kita bisa menjadi subjek ataupun objek. Subjek ketika kita melkukan segala aktivitas hidup kita, namun juga obyek ketika ada malaikat yang mencatat segala perbuatan kita, ada setan yang menggoda iman kita dan ada Tuhan YME yang selalu mengawasi kita.

    ReplyDelete
  37. Subyek bisa diartikan pelaku atau apa yang dibicarakan. Diri sendiri menjadi subjek dari perbuatan tertentu. Subjek meliputi hal yang tidak terhingga. Kita bisa menyatakan pembuat, pengawas, pembuat, penentu dan lainnya sebagai subjek. Subjek itu banyak dan bermacam-macam dan sulit membedakan satu sama lain. Setiap subjek memiliki jargon dalam dirinya untuk menegaskan sifatnya sebagai subjek tertentu.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  38. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Subjek dan jargon pada dasarnya saling berhubungan. Jargon itu adalah bagian dari subjek. Subjek dapat berupa berbagai hal yaitu dapat berupa benda, dapat berupa sifat, dan sebagainya. Dan Subjek juga sangat berhubungan erat dengan objek.

    ReplyDelete
  39. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Subyek dan objek adalah sepasang jargon yang saling terkait. Obyek memiliki jargoonya sendiri, begitupun subyek memiliki jargonnya sendiri. Masing-masing merupakan bagian dari dimensi dan struktur dunia ini. Tidak perlu menganggap salah satu lebih baik dengan menghadirkan “pertengkaran” di tengah-tengahnya. Sebenar-benar jargon adalah dunia, dan Yang Maha Memiliki adalah Allah subhnahu wa ta’ala. Allahu’alam.

    ReplyDelete
  40. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Berbicara subjek, ketika kita membicarakan proses belajar mengajar di kelas. Ada satu kesalahan pandangan yang harus di ubah. Siswalah yang seharusnya sebagai subjek belajar. Karena ialah yang menjadi subjek utama yang melakukan proses belajar. Akan tetapi karena dominasi guru, gurulah yang kemudian menjadi subjek utama dalam kelas. Hal semacam ini tentu bertentangan dengan pradigma pembelajaran konstruktif yang coba dikembangkan.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id