Sep 20, 2013

Jargon Para Obyek




Oleh Marsigit

Jargon:
Wahai para obyek, apa yang engkau ingin katakan kepadaku? Kenapa engkau datang berbondong-bondong kepadaku? Siapa sajakah engkau itu?

Para obyek pembuat:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pembuat. Aku itu meliputi para obyek pembuat tugas, obyek pembuat mandat, obyek pembuat amanah, obyek pembuat kewajiban, obyek pembuat aturan, obyek pembuat obyek, obyek pembuat sifat, obyek pembuat permulaan, obyek pembuat inisiatif, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat pertanyaan, obyek pembuat jawaban, obyek pembuat kesimpulan, obyek pembuat benar, obyek pembuat salah, obyek pembuat suasana, obyek pembuat akhiran, obyek pembuat laporan, obyek pembuat metode, obyek pembuat alat, obyek pembuat tulisan, obyek pembuat bicara, obyek pembuat proposal, obyek pembuat baik, obyek pembuat buruk, obyek pembuat bergerak, obyek pembuat diam, obyek pembuat tidak jelas, obyek pembuat kacau, obyek pembuat tidak kacau, obyek pembuat jargon, obyek pembuat elegi, obyek pembuat contoh, obyek pembuat hubungan, obyek pembuat sesuai, obyek pembuat tidak sesuai, obyek pembuat terang, obyek pembuat gelap, obyek pembuat mahal, obyek pembuat murah, obyek pembuat turun, obyek pembuat naik, pambuat ramai, obyek pembuat sepi, obyek pembuat perang, obyek pembuat kacau, obyek pembuat adil, obyek pembuat jabatan, obyek pembuat PR, obyek pembuat nilai, obyek pembuat naik kelas, obyek pembuat lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek pembuat. Para obyek pembuat itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek penentu:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek penentu.
Aku itu meliputi para obyek penentu tugas, obyek penentu mandat, obyek penentu amanah, obyek penentu kewajiban, obyek penentu aturan, obyek penentu obyek, obyek penentu sifat, obyek penentu permulaan, obyek penentu inisiatif, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu pertanyaan, obyek penentu jawaban, obyek penentu kesimpulan, obyek penentu benar, obyek penentu salah, obyek penentu suasana, obyek penentu akhiran, obyek penentu laporan, obyek penentu metode, obyek penentu alat, obyek penentu tulisan, obyek penentu bicara, obyek penentu proposal, obyek penentu baik, obyek penentu buruk, obyek penentu bergerak, obyek penentu diam, obyek penentu tidak jelas, obyek penentu kacau, obyek penentu tidak kacau, obyek penentu jargon, obyek penentu elegi, obyek penentu contoh, obyek penentu hubungan, obyek penentu sesuai, obyek penentu tidak sesuai, obyek penentu terang, obyek penentu gelap, obyek penentu mahal, obyek penentu murah, obyek penentu turun, obyek penentu naik, obyek penentu ramai, obyek penentu sepi, obyek penentu perang, obyek penentu kacau, obyek pembuat adil, obyek penentu jabatan, obyek penentu PR, obyek penentu nilai, obyek penentu naik kelas, obyek penentu lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek penentu. Para obyek penentu itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pengemban:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengemban.
Aku itu meliputi para obyek pengemban tugas, obyek pengemban mandat, obyek pengemban amanah, obyek pengemban kewajiban, obyek pengemban aturan, obyek pengemban obyek, obyek pengemban sifat, obyek pengemban permulaan, obyek pengemban inisiatif, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban pertanyaan, obyek pengemban jawaban, obyek pengemban kesimpulan, obyek pengemban benar, obyek pengemban salah, obyek pengemban suasana, obyek pengemban akhiran, obyek pengemban laporan, obyek pengemban metode, obyek pengemban alat, obyek pengemban tulisan, obyek pengemban bicara, obyek pengemban proposal, obyek pengemban baik, obyek pengemban buruk, obyek pengemban bergerak, obyek pengemban diam, obyek pengemban tidak jelas, obyek pengemban kacau, obyek pengemban tidak kacau, obyek pengemban jargon, obyek pengemban elegi, obyek pengemban contoh, obyek pengemban hubungan, obyek pengemban sesuai, obyek pengemban tidak sesuai, obyek pengemban terang, obyek pengemban gelap, obyek pengemban mahal, obyek pengemban murah, obyek pengemban turun, obyek pengemban naik, obyek pengemban ramai, obyek pengemban sepi, obyek pengemban perang, obyek pengemban kacau, obyek pembuat adil, obyek pengemban jabatan, obyek pengemban PR, obyek pengemban nilai, obyek pengemban naik kelas, obyek pengemban lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengemban. Para obyek pengemban itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pemangku:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemangku.
Aku itu meliputi para obyek pemangku tugas, obyek pemangku mandat, obyek pemangku amanah, obyek pemangku kewajiban, obyek pemangku aturan, obyek pemangku obyek, obyek pemangku sifat, obyek pemangku permulaan, obyek pemangku inisiatif, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku pertanyaan, obyek pemangku jawaban, obyek pemangku kesimpulan, obyek pemangku benar, obyek pemangku salah, obyek pemangku suasana, obyek pemangku akhiran, obyek pemangku laporan, obyek pemangku metode, obyek pemangku alat, obyek pemangku tulisan, obyek pemangku bicara, obyek pemangku proposal, obyek pemangku baik, obyek pemangku buruk, obyek pemangku bergerak, obyek pemangku diam, obyek pemangku tidak jelas, obyek pemangku kacau, obyek pemangku tidak kacau, obyek pemangku jargon, obyek pemangku elegi, obyek pemangku contoh, obyek pemangku hubungan, obyek pemangku sesuai, obyek pemangku tidak sesuai, obyek pemangku terang, obyek pemangku gelap, obyek pemangku mahal, obyek pemangku murah, obyek pemangku turun, obyek pemangku naik, obyek pemangku ramai, obyek pemangku sepi, obyek pemangku perang, obyek pemangku kacau, obyek pembuat adil, obyek pemangku jabatan, obyek pemangku PR, obyek pemangku nilai, obyek pemangku naik kelas, obyek pemangku lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemangku. Para obyek pemangku itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pelaksana:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pelaksana.
Aku itu meliputi para obyek pelaksana tugas, obyek pelaksana mandat, obyek pelaksana amanah, obyek pelaksana kewajiban, obyek pelaksana aturan, obyek pelaksana obyek, obyek pelaksana sifat, obyek pelaksana permulaan, obyek pelaksana inisiatif, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana pertanyaan, obyek pelaksana jawaban, obyek pelaksana kesimpulan, obyek pelaksana benar, obyek pelaksana salah, obyek pelaksana suasana, obyek pelaksana akhiran, obyek pelaksana laporan, obyek pelaksana metode, obyek pelaksana alat, obyek pelaksana tulisan, obyek pelaksana bicara, obyek pelaksana proposal, obyek pelaksana baik, obyek pelaksana buruk, obyek pelaksana bergerak, obyek pelaksana diam, obyek pelaksana tidak jelas, obyek pelaksana kacau, obyek pelaksana tidak kacau, obyek pelaksana jargon, obyek pelaksana elegi, obyek pelaksana contoh, obyek pelaksana hubungan, obyek pelaksana sesuai, obyek pelaksana tidak sesuai, obyek pelaksana terang, obyek pelaksana gelap, obyek pelaksana mahal, obyek pelaksana murah, obyek pelaksana turun, obyek pelaksana naik, obyek pelaksana ramai, obyek pelaksana sepi, obyek pelaksana perang, obyek pelaksana kacau, obyek pembuat adil, obyek pelaksana jabatan, obyek pelaksana PR, obyek pelaksana nilai, obyek pelaksana naik kelas, obyek pelaksana lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pelaksana. Para obyek pelaksana itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pemelihara:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pemelihara.
Aku itu meliputi para obyek pemelihara tugas, obyek pemelihara mandat, obyek pemelihara amanah, obyek pemelihara kewajiban, obyek pemelihara aturan, obyek pemelihara obyek, obyek pemelihara sifat, obyek pemelihara permulaan, obyek pemelihara inisiatif, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara pertanyaan, obyek pemelihara jawaban, obyek pemelihara kesimpulan, obyek pemelihara benar, obyek pemelihara salah, obyek pemelihara suasana, obyek pemelihara akhiran, obyek pemelihara laporan, obyek pemelihara metode, obyek pemelihara alat, obyek pemelihara tulisan, obyek pemelihara bicara, obyek pemelihara proposal, obyek pemelihara baik, obyek pemelihara buruk, obyek pemelihara bergerak, obyek pemelihara diam, obyek pemelihara tidak jelas, obyek pemelihara kacau, obyek pemelihara tidak kacau, obyek pemelihara jargon, obyek pemelihara elegi, obyek pemelihara contoh, obyek pemelihara hubungan, obyek pemelihara sesuai, obyek pemelihara tidak sesuai, obyek pemelihara terang, obyek pemelihara gelap, obyek pemelihara mahal, obyek pemelihara murah, obyek pemelihara turun, obyek pemelihara naik, obyek pemelihara ramai, obyek pemelihara sepi, obyek pemelihara perang, obyek pemelihara kacau, obyek pembuat adil, obyek pemelihara jabatan, obyek pemelihara PR, obyek pemelihara nilai, obyek pemelihara naik kelas, obyek pemelihara lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pemelihara. Para obyek pemelihara itu adalah para obyek.

Jargon:
Aku masih melihat engkau yang lain. Apakah engkau juga para obyek?

Para obyek pengawas:
Kenalkan wahai jargon, aku adalah para obyek. Aku adalah para obyek dari golongan para obyek pengawas.
Aku itu meliputi para obyek pengawas tugas, obyek pengawas mandat, obyek pengawas amanah, obyek pengawas kewajiban, obyek pengawas aturan, obyek pengawas obyek, obyek pengawas sifat, obyek pengawas permulaan, obyek pengawas inisiatif, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas pertanyaan, obyek pengawas jawaban, obyek pengawas kesimpulan, obyek pengawas benar, obyek pengawas salah, obyek pengawas suasana, obyek pengawas akhiran, obyek pengawas laporan, obyek pengawas metode, obyek pengawas alat, obyek pengawas tulisan, obyek pengawas bicara, obyek pengawas proposal, obyek pengawas baik, obyek pengawas buruk, obyek pengawas bergerak, obyek pengawas diam, obyek pengawas tidak jelas, obyek pengawas kacau, obyek pengawas tidak kacau, obyek pengawas jargon, obyek pengawas elegi, obyek pengawas contoh, obyek pengawas hubungan, obyek pengawas sesuai, obyek pengawas tidak sesuai, obyek pengawas terang, obyek pengawas gelap, obyek pengawas mahal, obyek pengawas murah, obyek pengawas turun, obyek pengawas naik, obyek pengawas ramai, obyek pengawas sepi, obyek pengawas perang, obyek pengawas kacau, obyek pembuat adil, obyek pengawas jabatan, obyek pengawas PR, obyek pengawas nilai, obyek pengawas naik kelas, obyek pengawas lulus...dst. Maka ada tak berhingga banyaknya para obyek obyek pengawas. Para obyek pengawas itu adalah para obyek.

...

Jargon:
Aku ternyata masih melihat para obyek yang lain. Sekarang aku tahu bahwa di situ juga terdapat obyek para penilai, obyek para komentator, obyek para pendoa, obyek para pengacau, ...dst. Maka aku sedang menghadapi ada tak berhingga banyaknya para para obyek. Ternyata aku masih pula melihat para para para para para...obyek.

Para para para ...obyek:
Wahai jargon, apa yang sedang engkau pikirkan?

Jargon:
Aku sedang dalam kondisi di antara jelas dan tidak jelas. Mengapa? Karena aku ternyata mendapatkan para obyek itu banyak dan bermacam-macam. Aku agak sulit membedakan satu dengan yang lain, maka aku sedang mengalami kekacauan pikiran. Tetapi mengapa aku harus bingung, bukankah aku harus bisa bersikap. Ah untuk mengetahui sekedar obyek saja kok sulitnya bukan main. Tak peduli. Mereka ada atau tidak ada, bagiku tak masalah. Obyek itu toh tak ada artinya jika tidak ada subyek. Obyek itu juga tidak ada artinya jika tidak ada subyek pembuat, subyek penentu, subyek pengemban, subyek pemangku, subyek penilai..dst. Tetapi mengapa aku juga ternyata menyebut mereka. Bukankah menyebut mereka itu sama artinya aku menganggap mereka itu penting. Wah kacau pikiranku. Bukankah aku ini adalah jargon. Bukankah jargon itu juga berhak berkuasa. Jika aku berkuasa maka aku dapat menentukan sifat-sifat sesuka hatiku sesuai dengan tujuanku dan kebisaanku, sesuai dengan sifatku, sesuai dengan kepentinganku, sesuai dengan tujuanku.

Para para para ...obyek:
Wahai jargon, aku telah menyaksikan pengakuanmu sebagai jargon. Itulah sebenar-benar jargon, si berpikir kacau dan obyek pembuat kacau, obyek penentu kacau, obyek pengemban kacau, peneilai kacau, pemroduksi kacau, obyek pemangku kaca, bahasa kacau, ....dst. Ternyata aku melihat bahwa banyak anggotamu itu adalah sebanyak diriku.

Jargon:
Wahai para obyek, janganlah bersifat munafik. Aku telah menyaksikan bahwa engkau semua itu sebenarnya para jargon itu. Para jargon adalah para obyek dengan pikiran kacau, bahasa kacau, obyek pemangku kacau, penilai kacau, ...dst. Jadi engkau telah memahami bahwa engkau itu ternyata adalah anggota para para para ...jargon.

Para para para ...obyek:
Maafkanlah wahai para para para...jargon. Ternyata aku telah menyadari bahwa para jargon itu adalah bagian dari diriku. Tetapi aku ingin sampaikan bahwa aku tidak dapat melepaskan dirimu. Aku merasa selalu memerlukanmu untuk menjaga sifatku sebagai para obyek. Ternyata dalam rangka menegakkan diriku sebagai obyek, aku telah terbukti bahwa aku adalah engkau, yaitu para jargon. Aku memerlukan perundingan dan waktu berikutnya lebih jauh dengan dirimu untuk mengetahui lebih lanjut sifat-sifat diriku dan dirimu. Dan ternyata aku menemukan bahwa ketika aku memikirkanku maka aku obyek telah berubah menjadi aku subyek, yaitu jargon. Maka dapat aku katakan bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon. Para subyek itu juga para jargon. Lebih lanjut dapat aku katakan bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Tuhan YME.

43 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Berbagai macam objek tidak akan memiliki makna apabila tidak ada subyek. Objek adalah tujuan untuk mencapai sesuatu, sedangkan subyek adalah diri kita yang berperan sebagai penentu tercapainya sebuah tujuan. Keduanya saling berhubungan satu sama lain serta ada saat dimana obyek berubah jadi subyek dan subyek berubah jadi objek, keduanya relatif terhadap ruang dan waktu

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Bagi para obyek, jargon itu adalah bagian dari mereka. Obyek tidak akan mampu terlepas dari jargon. Sama halnya dengan obyek, subyek pun sebenarnya juga jargon. Jadi intinya, obyek dan subyek itu semua adalah jargon. Dan semuanya selain jagron, sebenarnya adalah milik Tuhan.

    ReplyDelete
  3. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Keterlihatan subyek yang selalu lebih tinggi daripada obyek tidaklah benar. Sebenar-benarnya obyek adalah subyek itu sendiri. Maka bila jargon berupa peran subyek yang dikelompokkan dalam beberapa kategori seperti pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, penilai, komentator, pendoa, pengacau, dst adalah sekaligus peran dari obyek juga.

    ReplyDelete
  4. Nikma Husna
    13301244024
    Pendidikan Matematika C 2013
    Semua obyek memiliki tugas dan peran masing-masing dan harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan kedudukannya. Semua obyek harus bekerjasama, mulai dari obyek pembuat sampai dengan obyek pengawas agar tujuan yang akan dicapai dapat terlaksana dengan baik.

    ReplyDelete
  5. Nikma Husna
    13301244024
    Pendidikan Matematika C 2013
    Obyek pemelihara dan pengawas harus bekerja secara adi tidak boleh berat sebelah, condong ke salah satu pihak. Hal itu dilaksanakan agar jargon dari semua obyek tidak hanya menjadi jargon semata, namun bisa terlihat dalam hal praktknya.

    ReplyDelete
  6. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Jargon adalah predikat yang melekat pada diri subyek, sehingga apa yang menjadi andalan subyek maka itulah yang menjadi jargonnya. Sehingga dalam hal ini jargon tidak akan pernah sama dengan subyeknya sebagaimana subyek tidak akan pernah sama dengan obyeknya. Oleh karena itu jargon hanyalah milik Allah SWT karena yang dapat sama antara subjek dan predikatnya atau antara subjek sama dengan jargonnya hanyalah Allah SWT.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  7. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sebenarnya semua merupakan Jargon, kecuali Tuhan YME. Kita bisa menjadi suatu subyek ataupun obyek adalah tergantung keadaan dan kondisi yang sedang terjadi pada diri kita. Kita bisa saja berada pada kondisi keduanya, yakni sebagai obyek dan sebagai subjek, ketika kita melakukan sesuatu hal di dunia ini maka kita sedang menjadi subyek, namun di sisi lain kita sedang diamati dan dicatat amal perbuatan kita oleh para malaikat Allah SWT, maka kita menjadi obyek. Sehingga menjadi obyek atupun subyek tergantung dari cara kita memandang sesuatu.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Objek adalah tujuan untuk mencapai sesuatu, sedangkan subyek adalah diri kita yang berperan sebagai penentu tercapainya sebuah tujuan. Bagi para obyek, jargon itu adalah bagian dari mereka. Obyek tidak akan mampu terlepas dari jargon.Hal itu dilaksanakan agar jargon dari semua obyek tidak hanya menjadi jargon semata, namun bisa terlihat dalam hal praktknya.

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Semua obyek harus bekerjasama, mulai dari obyek pembuat sampai dengan obyek pengawas Obyek pemelihara dan pengawas harus bekerja secara adil tidak boleh memihak salah satu diantaranya, Sehingga dalam hal ini jargon tidak akan pernah sama dengan subyeknya sebagaimana subyek tidak akan pernah sama dengan obyeknya.

    ReplyDelete
  10. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    objek adalah salah satu entuk jargon. objek juga terbagi menjadi ermacam-macam dari objek pemangku, objekpelaksana, dan lain sebagainya. harus lebih banyak membaca lagi agar memahami hal tersebut secara lebih dalam.

    ReplyDelete
  11. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Para obyek pembuat, penentu, pemangku, pelaksana, dan pemelihara adalah para obyek. Ada tak hingga para para obyek. Obyek memerlukan jargon untuk melindungi diri, tapi juga menyadari bahwa subyek itu penting. Karena sebenarnya subyek itu jargon, semuanya jargon. Sebenar benar bukan jargon adalah Tuhan YME

    ReplyDelete
  12. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    dari postingan di atas say jadi mengetahui tentang macam-macam objek yang ada di dunia ini, dan setiap macam objek memiliki jargonnya sendiri, bahkan jargon itu sendiri bisa menjadi sebuah objek, semua tang ada di dunia adalah jargon dan semua yang ada di dunia adalah objek.

    ReplyDelete
  13. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Jargon para obyek dalam elegi tersebut terdiri dari obyek pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, dan lain sebagainya karena ternyata ada tak terhingga banyaknya jumlah jargon para obyek ini. Setiap obyek ternyata pasti memiliki jargonnya masing-masing, dan antara jargon dan obyek ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, bahkan sebenarnya semua obyek itu adalah jargon, semuanya adalah jargon, sehingga dunia itu adalah jargon. Hanya kuasa dan milik Tuhan YME sebenar-benar bukan jargon.

    ReplyDelete
  14. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Selamat Malam Prof..
    Elegi di atas menjelaskan bahwa objek itu jargon, subjek itu jargon, dan semuanya itu jargon. Semuanya Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Tuhan.KIta bisa menjadi subjek, dan bisa juga menjadi objek.

    ReplyDelete
  15. assalamualaikum wr. wb.

    Jargon-jargon adalah identitas atas segala pemikiran manusia. jargon bisa saling berlawanan dan bergantian menjadi objek maupun subjek. karena sebenar-benarnya jargon adalah ketika jargon itu ditempatkan sesuai ruang dan waktu namun semua itu tidak mungkin akan mengalahkan kebenaran kuasa Tuhan atas kita sebagai objek maupun subjek dalam peribadahan kepada Nya...

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  16. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Terdapat 7 objek yang dipaparkan dalam artikel ini, yakni Objek; (1) Pembuat, (2) Penentu, (3) Pengemban, (4) Pemangku, (5) Pelaksana, (6) Pemelihara, dan (7) Pengawas serta para objek yang lain.
    Semua objek yang ada tidak ada artinya tanpa ada subjek. Seperti halnya bahwa jargon juga bagian dari objek. Maka objek dan subjek merupakan sesuatu yang kait terkait.

    Kesimpulan akhirnya, bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon. Para subyek itu juga para jargon. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Allah swt.

    ReplyDelete
  17. Sama halnya dengan subyek jargon tidak dapat dipisahkan dengan obyek kedua saling berhubungan satu sama lain dan obyek memiliki berbagai macam dalam mencapai tujuan untuk mencapai sesuatu. Dalam filsafat obyek ada dua. Ada dan mungkin ada tentunya ini obyek memiliki peran yang terkait dengan para jargon, tanpa obyek jargon tidak memiliki arti dan sebaliknya.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A 16701261024

    ReplyDelete
  18. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    sama halnya dengan subyek, obyek pun membutuhkan jargon sebagai penjaga sifatnya agar dia dapat tetap menjadi obyek. Walau sebagai obyek sekalipun kita membutuhkan jargon kita masing-masing ini dapat dikatakan sebagai prinsip hidup yang kita harus emban agar kita tidak mengikuti apa-apa yang menjadi perintah orang melainkan yang kita ikuti adalah hasil dari pola pikir kritis kita sesuai dengan pengalaman ilmu yang kita dapatkan.

    ReplyDelete
  19. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Memahami obyek tidaklah mudah jika tidak adanya subyek. obyek menjadi tidak ada arti jika tidak ada subyek. seperti halnya guru ingin menguji, tapi tak ada sesuatu atau seseorang untuk diuji. Maka obyek pun penting untuk subyek. Jika obyek dianggap tidak penting oleh subyek satu, bisa saja obyek penting disisi lain. Obyek juga membutuhkan jargonnya, maka keduanya saling melengkapi.

    ReplyDelete

  20. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Objek adalah yang dikenai tindakannya subjek. Keberadaan objek tidak akan bermakna tanpa ada subjek. Objek tidak ada artinya tanpa ada subjek yang juga mengembangkan jargonnya sendiri. Objek juga berhak mengembangkan jargon sesuai dengan sifat-sifat dan kebutuhan, serta tujuannya. Keberlangsungan objek ada karena peran subjeknya Keduanya saling membutuhkan satu sama lain.

    ReplyDelete
  21. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Melalui elegi ini kita bisa mengetahui Apakah hakikat objek itu? Elegi ini menjelaskan bahwa objek tidak lain dan tidak bukan adalah jargon yang dibuatnya sendiri. Objek sangat bergantung pada jargon yang dikembangkannya. Objek membutuhkan jargonnya untuk menjaga melindunginya dari kesewenangan subjek. Dari sini terlihat hubungan ketergantungan yang sangat tinggi subjek kepada jargonnya.

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Obyek adalah jargon tentang sesuatu yang ada dalam pikiran, sesuatu yang menjadi pembicaraan, sesuatu yang dikenai tindakan. Objek yang dipikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan mungkin ada, jadi luas sekali. Banyak sekali karena banyaknya kita tidak akan mampu menhiitungnya.

    ReplyDelete
  23. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Dalam filsafat ada beberapa macam obyek. Objek yang diselidiki oleh filsafat ini disebut objek material, yaitu segala yang ada dan mungkin ada tadi. Tentang objek materia ini banyak yang sama dengan objek material sains. Bedanya ialah dalam dua hal. Pertama, sains menyelidiki objek material yang empiris, filsafat menyelidiki itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan bagian yang abstraknya. Kedua, ada objek materia filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti tuhan, hari akhir, yaitu untuk objek material yang selama-lamanya tidak akan empiris. Jadi, objek material filsafat tetap saja lebih luas dari objek material sains. Selanjutnya...

    ReplyDelete
  24. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Selain objek materia, ada lagi objekforma, yaitu sifat penyeledikan. Objek forma filsafat ialah penyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat ialah penyelidikan yang mendalam. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris. Penyeledikan sains tidak mendalam karena ia hanya ingin tahu sampai batas objek itu data di teliti secara empiris. Ingatlah lagi contoh tanaman jeruk yang di bahas sebelum ini. Jadi, objek penelitian sains ialah pada batas dapat di riset, sedangkan objek penelitian filsafat adalah pada daerah tidak dapat di riset, tetapi tidak dapat dipikirkan secara logis. Jadi, sains menyelidiki dengan riset, filsafat meneliti dengan memikirkannya. Itulah filsafat tentang obyek. Berpikir dan berpikir.

    ReplyDelete
  25. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Obyek ada karena ada subyek, subyek ada karena ada obyek, keduanya saling terkait. Tidak bisa dilepaskan, berkembang, berjalan bersama-sama saling melindungi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

    ReplyDelete
  26. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Obyek meliputi yang ada dan mungkin ada, obyek dikatakan ada jika memiliki eksistensi. Eksistensi ada jika ada subjeknya, setiap objek memiliki jargonnya sendiri misalnya nama, struktur, ruang dan waktu, dan lain-lainnya. Obyek adalah segala apa yang dilihat, didengar, dirasakan, diraba, dipikirkan, dibuat, dst oleh indrawi manusia. setiap objek memiliki kedudukannya masing-masing, maka objek harus menunjukan bahwa objek berada atau pantas berkedudukan seperti itu, seperti guru harus menunjukan kepantasan menjadi guru, pengawas harus menunjukan kepantasan menjadi pengawas.

    ReplyDelete
  27. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Objek secara bahasa adalah sesuatu yang dikenai suatu sifat aau pekerjaan. Akan ada objek jika ada sujek, akan tetapi objek juga bisa berlaku sebagai subjek. Subjek yang berkuasa cenderung semena-mena dan sesuka hati terhadap objek sesuai dengan tujuan, sifat, kepentingan, dan lain-lain.

    ReplyDelete
  28. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Objek adalah sudut pandang subyek. Objek memiliki dunianya sendiri, karena obyek berstruktur dan berhirarki. SUbyek pun memiliki dunianya sendir yang berstruktur dan berhirarki. Terkadang subyek dapat meraih obyek, menilai obyek, dan obyek hanya bergantung pada bagaimana tentang subyek. Terkadang subyek memiliki tujuan yang berbeda dengan objek, sisi buruk obyek adalah memaksa obyek untuk menjadi seperti yang diiinginkan si subyek

    ReplyDelete
  29. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Objek adalah sudut pandang subyek. Objek memiliki dunianya sendiri, karena obyek berstruktur dan berhirarki. SUbyek pun memiliki dunianya sendir yang berstruktur dan berhirarki. Terkadang subyek dapat meraih obyek, menilai obyek, dan obyek hanya bergantung pada bagaimana tentang subyek. Terkadang subyek memiliki tujuan yang berbeda dengan objek, sisi buruk obyek adalah memaksa obyek untuk menjadi seperti yang diiinginkan si subyek. manusia adalah subyek tersebut

    ReplyDelete
  30. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Obyek bisa beraneka macam yang masing-masing memiliki tugas dan peran. Obyek ini bisa ada karena ada dipikiran kita. Saat membicarakan obyek tentu juga akan muncul subyek, karena keduanya saling berkaitan. Keduanya juga memiliki jargon untuk mempertahankan kedudukannya masing-masing.

    ReplyDelete
  31. Ada begitu banyak obyek dalam kehidupan kita. Semua obyek itu mempunyai jargonnya masing-masing. Obyek itu muncul karena adanya pandangan dari subyek. Jargon sebagai subyek dari obyek yang ada. Obyek dan subyek saling berkaitan satu sama lain, tidak dapat terpisahkan. Obyek sebagai jargon dan subyek juga sebagai jargon. Jadi obyek adalah jargon itu sendiri.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  32. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Keharmonisan hidup antara subjek dan objek seperti pemimpin dan rakyatnya, tentunya ini yang menjadi harapan semua masyarakat. Kepemimpinan adalah tanggung jawab, bukan kesewenang-wenangan. Jika kita mendapati pemimpin yang bertanggung jawab, adil, dan berilmu pengetahuan tentu kita bersyukur. Kebahagiaan kita sebagai masyarakat telah kita dapatkan. Namun sebaliknya, bila pemimpin kita gemar korupsi, pencitraan, dan tidak mengayomi rakyat berarti kita menjadi manusia yang rugi.

    ReplyDelete
  33. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Kehadiran pemimpin diharapkan dapat mengatur dan mengayomi masyarakat agar tercipta tujuan hidup yang lebih aman, damai, dan berkesinambungan. Keseharian hidup dan keharmonisan hubungan akan terwujud jika pemimpin yang diangkat adalah pemimpin yang berkualitas, baik berkualitas dalam hal ilmu, pengalaman, juga berkualitas dalam memberikan pelayanan publik yang baik dan menyeluruh.

    ReplyDelete
  34. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Ternyata kita menyadari bahwa para jargon obyek itu adalah bagian dari diri kita. Kita tidak akan lepas dari oranglain. Kita pasti merasa selalu memerlukan orang lain untuk dapat hidup didunia ini.

    ReplyDelete
  35. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Bahwa para obyek itu ternyata juga para jargon. Para subyek itu juga para jargon. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa semuanya itu jargon. Jadi ternyata dunia itu jargon. Sebenar-benar bukan jargon adalah hanya kuasa dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  36. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Obyek memang tergantung pada subyeknya. Tetapi tanpa obyek, subyek tidak memiliki arti. Objek adalah peranan yang kita lakukan dalam menjalani hidup yang hanya sementara ini. Objek yang ada mempunyai banyak variasi.

    ReplyDelete
  37. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Seperti halnya subyek, obyek juga memerlukan jargon untuk menjaga sifatnya sebagai obyek dan memiliki golongan-golongan seperti pembuat, penentu, pengemban, penilai, pemangku, pelaksana, pemelihara, pengawas, dan seterusnya. Obyek adalah jargon dan juga subyek adalah jargon. Maka jargon adalah perubahan obyek menjadi subyek.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  38. Rhomiy Handican
    1670925101
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Jargon para objek. Hampir sama dengan jargon para subjek.objek juga memiliki tugas yang banyak seperti subjek. Ada bagiannya sendiri-sendiri. Objek membuat suatu, menentukan sesuatu, mengemban sesuatu, memangku sesuatu, melaksanakan sesuatu, memelihara sesuatu, mengawasi sesuatu menilai sesuatu, dan seterusnya. Semua itu tergantung ruang dan waktunya. Dan jika semua objek itu bisa menyatu dengan baik, maka objek tersebut akan menjadi objek yang sangat bermanfaat. Dari pembicaraan antara objek dengan jargon, ternyata didalam diri objek itu terdapat jargon. Objek memerlukan jargon. Maka dengan itu, betapa pentingnya sesuatu itu untuk kita renungkan. Kita harus tau siapa diri kita. Apa yang kita butuhkan. Apa yang harus kita lakukan. Agar kita menjadi orang yanh berguna.

    ReplyDelete
  39. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Serupa dengan elegi sebelumnya yang berjudul jargon para subyek. Para obyek tak berhingga banyaknya. Begitu pula dengan jargon. Karena tiada obyek tanpa jargon dan tiada jargon tanpa obyek. Jargon merupakan bagian dari obyek. Obyek merasa selalu memerlukan jargon untuk menjaga sifatnya sebagai para obyek.

    ReplyDelete
  40. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Jargon para objek menjelaskan tentang beranekaragamnya objek, dan ternyata objek juga termasuk dalam jargon. Objek ternyata banyak dan bermacam-macam, ada objek pembuat, penentu, pengemban, pemangku, pelaksana, pemelihara dan lain sebagainya. Sama seperti pada komen sebelumnya, tidaklah mudah untuk bisa memahami objek jika tidak ada subjek. Objek juga tidak memiliki arti jika tidak ada subjek. Objek memandang jargon sebagai objek, dan juga memandang dirinya sebagai subjek. Ketika memikirkan objek sebagai subjek, maka subjek di sini bisa menjadi jargon.

    ReplyDelete
  41. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Pada bacaan ini dijelaskan bahwa di dunia ini semua obyek adalah jargon, kecuali kuasa Tuhan YME. Hal ini menyadarkan kita bahwa selama di dunia kita bisa menjadi subjek ataupun objek. Subjek ketika kita melkukan segala aktivitas hidup kita, namun juga obyek ketika ada malaikat yang mencatat segala perbuatan kita, ada setan yang menggoda iman kita dan ada Tuhan YME yang selalu mengawasi kita.

    ReplyDelete
  42. Objek hadir didampingi subjek. Sulit memahami objek tanpa subjek karena objek menjadi tidak berarti tanpa hadirnya subjek. objek itu dapat berwujud sesuatu atau dapat juga subjek itu sendiri. Sebagai contoh: Ketika aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  43. assalamualaikum wr. wb

    Objek dalam bahasa dapat berwujud orang dari subjek, benda dari subjek, frase dari subjek, dan bisa objek langsung dan tidak langsung. demikian juga filsafat objek akan ada bila memiliki subjek. hidup didunia kita bisa menjadi objek namun tidak jarang kita menjadi subjek tergantung bagaimana kita berlaku dan berpikir.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id