Sep 20, 2013

Elegi Seorang Guru Menggapai Siswa




Oleh: Marsigit

BERANGKAT KE SEKOLAH

Guru menggapai siswa:

Ketika aku akan berangkat ke Sekolah, tidak seperti biasanya hari ini. Kenapa tiba-tiba di depan rumahku telah ada beberapa jalan baru, ada jalan yang lurus dan lebar, ada jalan yang sempit dan berkelok-kelok, ada jalan yang kelihatannya licin, ada jalan yang berbatu-batu.Halaman rumahku juga tidak seperti biasanya, dia menjadi luas dan banyak tanaman serta hiasan jalan. Aku kemudian tertegun memikirkan apa yang sedang terjadi. Apakah ini sebuah mimpi atau kenyataan. Betul-betul aku tidak dapat membedakan. Kalau sebuah mimpi, mengapa aku bisa melihat, berjalan, bercakap-cakap dan lain-lain. Kalau sebuah kenyataan, mengapa aku tidak mengerti mengapa semua ini mesti terjadi?. Kepada siapa mesti aku bertanya. Jika aku bertanya kepada dia si tua berambut putih, jawabnya pasti adalah bahwa sebenar-benar ilmuku adalah antara mimpi dan kenyataan ini. Ah bosan aku. Paling jawabnya ya gitu-gitu aja. Ah itu ada orang lewat. Rambutnya tidak putih. Yang ini aku agak semangat untuk bertanya.
Pertanyaanku:
“Hai saudaraku, aku lihat engkau begitu nyaman dan enaknya melewati jalan-jalan itu. Padahal jalan itu bagiku begitu rumitnya, disamping bercabang-cabang, semit, licin lagi. Tetapi engkau begitu mahirnya, masih pakai sepatu roda lagi. Seakan-akan engkau sedang mengejekku saja. Bolehkah aku bertanya kepadamu, hai saudaraku”
Orang berambut tidak putih:
“ Oh, alhamdullilah. Aku telah tidak sengaja telah diberi kenikmatan oleh Tuhan untuk bisa bersilaturahim kepadamu. Baik, ingin bertanya apakah saudaraku juga?”
Pertanyaanku:
”Aku sudah beberapa waktu tidak mengajar. Aku merindukan siswaku. Tetapi tiba-tiba banyak jalan di depan rumahku. Aku bingung jalan mana yang harus ku lalui? Dapatkah kau menunjukkan jalan mana yang menuju ke Sekolah ku?”
Orang berambut tidak putih:
“Ampun tuanku, mengapa engkau mesti bertanya seperti itu? Bukankah sangat jelas terlihat bahwa jalan manapun yang engkau lewati semuanya bisa menuju ke Sekolah mu?”
Pertanyaanku:
“Apakah jalan yang lebar itu?”
Orang berambut tidak putih:
“Jalan yang lebar itu bisa juga. Anda jalan lurus saja sampai pertigaan, belok kiri sampai perempatan, kemudian belok kanan sampai perlimaan. Kemudian ambil tikungan yang no 3 dari kiri, setelah itu ada jalan menurun dan jembatan kemudian jalan menaik serta menelusuri tebing , terus sampai ditanah datar dan terdapat bangunan-bangunan baru. Diantara bangunan-bangunan baru itulah Sekolahmu berada”
Pertanyaanku:
“Bagaimana dengan jalan yang sempit di sebelah kiri ini?”
Orang berambut tidak putih:
“Boleh juga. Walaupun kelihatannya sempit, tetapi nanti setelah tikungan pertama, jalan ini akan melebar bahkan bercabang. Ambil cabang kiri teruskan sampai perempatan. Kemudian beloklah ke kanan sampai pertigaan. Kemudian belok kanan lagi sampai jalan berlubang kemudian naik sedikit. Setelah itu terlihatlah dua buah jembatan, maka teruskan sehingga menelusuri tebing, kemudian melingkar, karena ada taman di situ. Diujung jalan yang melingkar, engkau akan menemukan tanah datar beserta banyak bangunan di situ. Diantara banyak bangunan itulah, Sekolah mu berada.
Pertanyaanku:
“Aku bingung, bisakah engkau menghantarkanku ke Sekolah”
Orang berambut tidak putih:
“Maaf, karena aku juga harus mengajar pada jam yang sama, padahal sekolah kita lokasinya berbeda. Untuk saat ini aku tidak bisa menghantarmu. Mungkin lain kali. Baiklah saudaraku selamat bekerja dan sampai di sekolah kita masing-masing”

DI TENGAH KEBINGUNGAN, ORANG TUA BERAMBUT PUTIH TERNYATA MENGHAMPIRINYA

Orang berambut putih:

Aku dengar tadi kau merindukan murid-muridmu, benarkah itu?
Guru menggapai siswa:
Oh guruku. Tidak kusangka engkau menghampiriku lagi.
Orang berambut putih:
Sudah kukatakan, bahwa setiap engkau bertanya maka hadirlah aku di situ. Karena aku adalah pengetahuanmu.
Guru menggapai siswa:
Tetapi guru, setiap aku melihatmu maka tubuhku terasa ringan seakan-akan terbang tinggi setinggi langit. Tetapi pikiranku terasa berat seakan tenggelam di dasar laut. Mataku melebar seakan seluas gurun pasir. Bagaimana ini guru. Dapatkah engkau menolongku.
Orang berambut putih:
Sebenar-benar pertolongan datangnya dari Allah SWT, maka mohonlah pertolongan pada Nya.
Guru menggapai siswa:
Ya Tuhan, ampunilah segala dosaku, ampunilah segala dosa orang tuaku, ampunilah segala dosa leluhurku. Berikan aku pertolongan Mu ya Allah. Kenapa ilmuku telah membuatku berat untuk melangkah, ragu-ragu untuk menentukan, tidak yakin untuk memilih, tidak jelas untuk memandang.
Orang berambut putih:
Amien. Amien ya Robbal alamin. Aku ikut berdoa semoga terkabul segala permohonanmu.
Guru menggapai siswa:
Bukankah guru belum menjawab pertanyaanku.
Orang berambut putih:
Hah, apa tidak terbalik. Kalau tidak salah yang bertanya bukankah aku? Kan aku yang bertanya kepadamu, benarkah kamu merindukan murid-muridmu? Dan engkau belum menjawabnya.
Guru menggapai siswa:
Aku sekarang telah tidak mempercayaimu. Karena kamu telah pelupa dan tidak mengetahui keadaanku yang sebenarnya.
Orang berambut putih:
Mengapa.
Guru menggapai siswa:
Kenapa engkau tidak pula mengetahui bahwa sebenarnya saya telah bertanya kepadamu. Tetapi pertanyaanku tidak aku ucapkan. Dan kenapa engkau tidak pula mengerti akan hal itu.
Orang tua berambut putih:
Baik. Kalau engkau tidak mempercayaiku, maka aku sebaliknya. Kepercayaanku kepadamu justru meningkat sekarang, karena engkau semakin mempedulikanku. Itu pertanda bahwa engkau semakin cerdas. Aku akan tingkatkan bicaraku kepadamu, karena kamu telah meningkat ilmumu. Engkau telah mengajakku bicara tentang hakekat bertanya. Apakah sebenarnya pertanyaan itu? Apakah selalu bahwa pertanyaan itu perlu diucapkan? Bolehkan aku bertanya dalam hati saja? Apakah selalu bahwa pertanyaan memerlukan jawabannya? Bolehkah kita menanyakan semuanya yang ada?
Guru menggapai siswa:
Tentu saja guru. itulah yang ku inginkan.
Orang berambut putih:
Jika engkau punya keinginan itu, tentu aku pun boleh punya keinginan.
Guru menggapai siswa:
Apa keinginanmu guru?
Orang berambut putih:
Jika memang itu yang kau kehendaki, maka keinginanku adalah mengajakmu bicara tentang tidak hanya hakekat pertanyaan. Tetapi hakekat rindu, hakekat siswa, hakekat merindukan siswa, hakekat jalan, hakekat jalan menuju ke sekolah, hakekat sekolah, hakekat mengajar, hakekat belajar, hakekat matematika, hakekat matematika sekolah, hakekat mengajar, hakekat tanya jawab, hakekat metode pembelajaran, hakekat penilaian, hakekat ujian, hakekat, menghukum, hakekat memberi bekal, hakekat, motivasi, hakekat appersepsi, hakekat diskusi, hakekat kelompok, hakekat diskusi kelompok, hakekat kkompetensi, hakekat standard, hakekat silabus, hakekat RPP, hakekat alat peraga, hakekat sumber belajar, hakekat tugas, hakekat PR, hakekat kewajiban, hakekat kebutuhan, hakekat investasi, hakekat constructivis, hakekat contextual, hakekat..., hakekat..., hakekat, ...
Guru menggapai siswa:
Ampun guruku. Ampunilah aku, karena aku telah berlaku sombong dan telah menghinamu. Ternyata pengetahuanmu sangat tinggi dan luas. Banyak sekali apa-apa yang ada dalam pikiranmu, bermacam-macam lagi. Menjawab satu pertanyaanmu saja aku merasa tidak mampu. Sekali lagi mohon ampun aku wahai guruku.
Orang berambut putih:
Wahai muridku. Perkenankanlah aku sekarang memanggil engkau, muridku. Iba rasa hatiku, haru rasa hatiku setelah mendengar engkau memohon ampun berkali-kali. Padahal ketahuilah, bahwa sebenar-benar aku adalah ilmumu, maka tetesan air mata ini sebagi pertanda bahwa kita saling memaafkan. Karena jika engkau peka dan sensitif, aku juga telah berlaku sombong. Dengan membuat begitu banyak pertanyaan tanpa sempat memberimu kesempatan bukankah itu kesombonganku. Maka maafkanlah juga aku wahai muridku.
Guru menggapai siswa:
Bolehkan engkau menerangkan satu persatu apa yang kau maksud dengan bermacam-macam hakekat itu?
Orang berambut putih:
Boleh, tetapi kita juga terikat oleh ruang dan waktu. Maka katakanlah sebenarnya, diantara sekian banyak yang telah aku sebut itu, engkau akan menanyakan yang mana?

BERTEMU DENGAN MURID

Guru menggapai siswa:

Aku ingin bertanya hakekat RINDU dan CINTA
Orang berambut putih:
Baik. Rindu adalah keinginan untuk mengulangi pengalaman masa lampau. Tetapi ketahuilah bahwa adalah engkaulah yang mempunyai keinginan itu. Dan engkau pulalah yang mempunyai pengalaman itu. Padahal kita tahu, banyak orang mempunyai keinginan dan pengalaman yang berbeda-beda. Keinginanku dan pengalamanku jelas lain dengan keinginanmu dan pengalamanmu. Keinginanmu dan pengalamanmu jelas lain dengan keinginan dan pengalaman muridmu. Jadi jika engkau merindukan muridmu, maka belum tentulah muridmu itu merindukanmu. Maka waspadalah jika engkau mempunyai perasaan rindu. Jangan-jangan itu tidak lain tidak bukan adalah egomu. Maka aku sangat khawatir, ketika engkau mengatakan bahwa engkau merindukan untuk bertemu murid-muridmu. Karena jika betul-betul itu adalah egomu, maka hanyalah menjadi korban darimu itulah murid-muridmu. Adalah sebaliknya yang kita harapkan, yaitu keadaan yang sangat berpengharapan bilamana murid-muridmu itulah yang sebenar-benar merindukan dirimu. Maka jangan sekali-kali engkau merasa rindu kepada muridmu manakala itu adalah egomu. Biarlah bahwa muridmu itulah yang merindukanmu. Maka sebenar-benar rindu adalah miliknya dan bukan milikmu.
Guru menggapai siswa:
Kemudian kalau begitu apa pula hakekat cinta?
Orang tua berambut putih:
Setali tiga uang. Dari uraianku di atas, maka setiap kata-kata ku tentang rindu bisa kamu substitusikan dengan kata cinta. Maka aku juga mengkhawartirkan perasaan cintamu itu. Jangan-jangan maksudmu mencintai sesuatu justru sebetulnya merusak apa yang kau cintai itu. Dengan demikian maka tiadalah cinta yang kau dapat, melainkan penderitaan adanya. Bukankah pengalaman menunjukkan bahwa tidaklah selalu bahwa cinta itu berkesampaian. Orang jawa bilang "welas tanpa asih" itu adalah cinta karena egomu tetapi tidak cinta karena asih. Maka sebenar-benar cinta adalah miliknya bukan milikmu.
Guru menggapai siswa:
Aku belum begitu paham guru. Mengapa aku tidak boleh merindukan muridku sementara membiarkan muridku merindukan akan diriku. Mengapa kau juga mengkhawatirkan perasaan cintaku. Bukankah hal yang demikian tidak adil.
Orang berambut putih:
Itulah hakekat rindu, itulah hakekat cinta, itulah hakekat guru, itulah hakekat siswa. Mengapa? Pada hakekatnya guru adalah berbeda dengan siswa. Sudah pernah saya katakan bahwa guru adalah subyek yang berkuasa terhadap obyek siswa yang dikuasai. Maka hakekat rindu akan berbeda pula manakala dia berdomisili pada guru ataupun berdomisili pada siswa. Rindunya orang yang berkuasa tentu akan berbeda dengan rindunya orang yang dikuasai. Cintanya orang yang menguasai tentulah berbeda dengan cintanya orang yang dikuasai. Jikalau ada orang yang dikuasai merindukan terhadap orang yang menguasai itu adalah luar biasa. Tetapi sulit ditemukan. Jika ternyata memang ada maka akal kita pun sulit menerimanya. Mungkin adalah muridnya yang luar biasa atau gurunya yang luar biasa. Tetapi jangan salah paham, bahwa yang dimaksud luar biasa adalah diluar kebiasaan, jadi bisa positif tetapi juga bisa negatif. Maka aku juga dapat katakan bahwa rindu tidak lain tidak bukan adalah sifat yang melekat pada obyek. Guru bisa menjadi subyek sekaligus obyek, demikian juga siswa bisa menjadi obyek sekaligus subyek. Maka sebenar-benar rindu dan cinta adalah rindu dan cinta kepada Nya. Untuk menggapainya, maka itu sebenar-benar jalan mana yang engkau lalui.
Guru menggapai siswa:
Kenapa guru singgung-singgung tentang jalan. Bukankah guru tahu bahwa itulah awal kebingungan saya. Lalu apa hubungan "jalan" dengan rindu? Apa pula hubungan "jalan" dengan cinta?
Orang berambut putih:
Wahai muridku yang semakin budiman saja. Ketahuilah bahwa berbagai macam jalan yang berada di depan dan samping rumahmu itu sebenar-benar adalah ciptaanku. Aku sengaja ciptakan jalan itu agar kamu mau belajar. Ketahuilah bahwa jalan-jalan di depan rumahmu itu tidak lain adalah jalan hidupmu. Jalan hidupmu adalah pilihanmu. Maka sebenar-benar hidupmu adalah pilihanmu. Jalan hidupmu yang akan kau lalui. Maka jalan hidupmu tergantung pula oleh pengetahuanmu. Jika pengetahuanmu hanya sebatas mengajar dengan metode ceramah, maka hanya jalan ceramah itulah yang selalu ada dalam pikiranmu. tetapi jika pengetahuanmu sampai jalan konstruktivis, maka kamu juga bisa melalui jalan konstruktivis yang ada di samping rumahmu itu. Apakah jalan rindumu dan cintamu adalah egomu? Mengapa aku ciptakan banyak jalan untukmu. Jika engkau akan berangkat menuju ke Sekolahmu maka itulah sebenar-benar jalan yang dapat engkau pilih. Jalan-jalan itulah sebenar-benarnya metode menggapai siswa dan metode mengajarmu. Menggapai siswa dan metode mengajar tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan satu metode saja yang selama ini kamu yakini dan kamu jalani. Untuk menggapai, menghantar dan melayani siswa agar dapat belajar matematika dengan baik, maka guru memerlukan banyak cara dan banyak metode yang diterapkan secara dinamis dan kreative sesuai dengan konteks pembelajaram, tingkat kemampuan siswa serta kemampuan yang akan dicapai. Maka tiadalah jalan lain bagimu untuk selalu mencoba jalan-jalan itu, walau suatu saat kamu terjatuh sekalipun. Jikalau perlu maka kau sendiri pulalah dapat membuat jalan-jalanmu itu. Itulah hakekat dirimu mengkonstruksi jalanmu untuk menggapai rindu dan cintamu. Melalui jalan-jalan itu, maka sinergi-dan tali temalikanlah dirimu dengan diri siswa agar kamu bisa melayani dan memberi kesempatan bagi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Ketahuilah bahwa konstruksimu adalah berbeda dengan konstruksi siswamu. Maka jangan sekali-kali kau paksakan siswamu mengikuti jalan konstruksi pengetahuanmu. Berilah kesempatan agar siswamu juga mencoba banyak jalan-jalan di depan rumahmu. Namun itu pun belum mencukupi. Karena sebenar-benar hakekat muridmu adalah dia yang bisa membuat jalannya sendiri. Itulah sebenar-benar konstruktivisme. Sehingga dia pun bisa dan berhak menggapai rindu dan cintanya. Amien ya Robbal Alamien.
Guru menggapai murid:
Bisakah aku bertemu dengan muridku?
Orang tua berambut putih:
Lagi-lagi kamu menanyakan hakekat. Sebelum kau bisa bertemu dengan muridmu maka kenalilah dirimu. Sebelum kau bertemu dengan muridmu maka kenalilah muridmu itu. Namun aku sangsi apakah kamu sebenar-benar mampu mengenal dirimu. Ketahuilah dirimu adalah kata-katamu. Dirimu adalah pertanyaanmu. Dirimu adalah pikiranmu. Dirimu adalah kuasamu. Dirimu adalah mimpimu. Dirimu adalah kuasamu. Dirimu adalah bahasamu. Dirimu adalah perbuatanmu. Dirimu adalah doamu. Dirimu adalah amal kebajikanmu. Demikan juga siapakah diri muridmu itu. Demikian kau dapat menyebutnya seperti aku telah baru saja sebut yang banyak tadi. Jadi dirimu yang mana dan diri muridmu yang mana yang kamu harapkan akan bertemu. Maka di sini lagi-lagi kamu bertanya tentang hakekat pertemuan. Maka dapat aku katakan bahwa tiadalah dapat sebenar-benar kau dapat menggapai muridmu itu, kecuali kalau kau anggap sekaligus dirimu dan diri muridmu adalah ilmuku, karena ilmuku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu sekaligus pengetahuan muridmu. Itulah sebenar-benar belajar, yaitu jika kamu dan muridmu dapat bertemu di dalam ilmu berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi dalam iman, ilmu dan taqwa itulah sebenar-benar kamu bisa menggapai muridmu dan sebenar-benar belajar bagi muridmu. Namun itupun belum cukup karena sebenar-benar rindu dan cintamu adalah jika siswamu dalam iman, ilmu dan taqwa mampu membuat jalannya untuk menemuimu. Itulah sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswamu telah menggapaimu. Amien.

57 comments:

  1. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Yang saya pahami dari elegi di atas adalah, bahwa guru akan menggapai siswa jika siswa tersebut telah menggapai sang guru. Maksudnya, dalam proses belajar mengajar, metode yang digunakan guru tidak monoton itu-itu saja, mungkin guru merasa nyaman dengan metode yang dia gunakan, tapi mungkin saja siswa malah kurang menyukainya, sehingga tidak terjadi kesinergian antara keduanya, oleh karena itu guru juga harus mencoba berbagai metode dalam mengajar, agar siswa juga merasa nyaman dengan metode yang guru ajarkan sehingga akan saling bersinergi antara keduanya, dimana siswa dapat memahami apa yang disampaikan oleh gurunya, ilmu yang ditransfer oleh guru dapat diserap siswa dengan baik, dan pada akhirnya siswa dapat menggapai guru, dan guru menggapai siswa.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Tidak ad seorang guru yang dapat menggapai muridnya kecuali kalau dia menganggap dirinya dan muridnya adalah ilmunya. Karena ilmu seorang guru tidak lain adalah ilmunya dan ilmu muridnya. Inilah yang namanya belajar, apabila guru dan muridnya bertemu di dalam ilmu dengan berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan YME. Sebenar-benar rindu dan cinta guru adalah jika siswa adalah iman. Jadi, sebenar-benar guru menggapai siswa adalah jika siswa telah menggapai gurunya.

    ReplyDelete
  3. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Mendidik siswa bukanlah hal yang mudah. Tidak cukup dengan hanya mendidik dengan sepenuh hati, namun juga harus dibarengi dengan sikap memahami apa yang diperlukan siswa, metode mengajar apa yang cocok untuk materi tersebut, bagaimana menguasai kelas yang baik, bagaimana membuat siswa nyaman dalam mengikuti pembelajaran yang ada.

    ReplyDelete
  4. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Untuk menemukan solusi dari setiap pertanyaan tersebut pasti membutuhkan waktu dan pengalaman sehingga kita bisa menjadi seorang guru yang menjadi fasilitator yang mampu memberikan yang terbaik untuk siswa - siswanya.

    ReplyDelete
  5. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Dalam mentransfer pengetahuan, seorang guru tentu akan berhadapan dengan si pembelajar yang biasa disebut dengan siswa. Bukan satu, dua siswa saja tetapi lebih dari itu sehingga karakter yang harus dihadapi gurupun sangat beragam tergantung dengan banyaknya siswa. Karena setiap orang memiliki karakternya masing-masing. Untuk dapat menggapai siswa, menghadapi berbagai karakter siswa yang beragam, elegi ini menyiratkan bahwa meskipun memiliki kendali yang besar dalam pembelajaran, guru tidak boleh mendominasi dan memkasakan siswa harus mencapai tujuan pembelajaran dengan cara guru. Melainkan guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  6. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Assalamu’alaikum
    Seorang guru harus menciptakan caranya/ jalannya untuk dapat memahamkan siswanya mengenai materi Matematika. Bisa saja cara yang digunakan gagal ketika diterapkan akan tetapi sebenarnya itu bukanlah kegagalan melainkan sebuah pelajaran untuk mendapatkan cara yang lebih baik untuk mengajarkan Matematika. Metode/ cara yang tepat dapat membuat siswa paham dan merindukan pelajaran Matematika. Membuat murid merindukan matematika memang tidak mudah tapi itu adalah perjuangan seorang guru utuk menggapai siswanya.

    Wassalamu’alaikum

    ReplyDelete
  7. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B


    Elegi tersebut sebenarnya sederhana, seorang guru yang kebingungan memilih jalan menuju sekolah karena kerinduannya terhadap siswanya.
    Ada banyak jalan yang dapat dilalui guru menuju sekolah, ada jalan yang lebar, jalan yang sempit dsb. Dan kesemua jalan itu akan mengantarkann guru tersebut menuju sekolah untuk menemui murid yang dirindukannya. Tugas guru tersebut adalah memilih salah satu jalan untuk sampai pada tujuannya.
    Salah satu kalimat dalam elegi di atas; “Jalan hidupmu adalah pilihanmu. Maka sebenar-benar hidupmu adalah pilihanmu. Jalan hidupmu yang akan kau lalui. Maka jalan hidupmu tergantung pula oleh pengetahuanmu”. Pilihlah, bukan berdasarkan ego namun pertimbangan nurani dan pikiran.

    ReplyDelete
  8. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Setelah saya membaca elegi ini, saya dapat menyimpulkan bahwa guru memiliki banyak cara untuk mengajar siswa mereka. Banyak cara dan metode yang dapat digunakan oleh guru dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa dan keanekaragaman siswa agar siswa lebih mudah menemukan konsep yang akan dipelajari.

    ReplyDelete
  9. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    “Maka tiadalah jalan lain bagimu untuk selalu mencoba jalan-jalan itu, walau suatu saat kamu terjatuh sekalipun. Jikalau perlu maka kau sendiri pulalah dapat membuat jalan-jalanmu itu. Itulah hakekat dirimu mengkonstruksi jalanmu untuk menggapai rindu dan cintamu”. Guru bebas memilih metode yang akan digunakan agar siswa dapat menkontruksikan pengetahuan yang dimilikinya. Ketika memilih metode dalam mengajar ini, guru pasti sudah memiliki pengalaman tersendiri. Meskipun tidak ada satupun metode pembelajaran yang cocok untuk semua siswa. jadi metode yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

    ReplyDelete
  10. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Guru mengajar perlu mengenali dirinya dan mengenali bagaimana siswanya, begitu pula siswa mengenali dirinya sendiri dan mengenali guru mereka, sehingga akan terjadi hubungan yang baik antara siswa dan guru. Guru yang baik adalah guru yang memberikan kesempatan kepada siswanya dan tidak memaksa siswa agar memiliki jalan seperti yang diajarkan oleh gurunya, jika jalan yang ditemukan oleh siswa berbeda tetapi memiliki penyelesaian yang sama mengapa tidak.

    ReplyDelete
  11. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    seorang guru tentu akan berhadapan dengan siswa. Bukan satu, dua siswa saja tetapi lebih dari itu sehingga karakter yang harus dihadapi guru pun sangat beragam tergantung dengan banyaknya siswa. sehingga dalam pembelajaran haruslah membedakan dalam penerapan metode yang di gunakan agar siswa yang beranekaragam tidak terzolimi dengan satu metode.

    ReplyDelete
  12. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    "Jalan hidupmu adalah pilihanmu".jika kita memperhatikan kalimat itu, Maka sebenar-benar hidupmu adalah pilihanmu. Jalan hidupmu yang akan kau lalui. Maka jalan hidupmu tergantung pula oleh pengetahuanmu”. Pilihlah, bukan berdasarkan ego namun pertimbangan nurani dan pikiran. artinya ketika kita menjalani hidup ini, pada dasarnya adalah sesuai dengan pilihan kita.apakah memilih jalan yang baik atau sebaliknya.

    ReplyDelete
  13. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. matematika A 2013

    Menurut saya, seorang guru seharusnya dapat memahami karakter dirinya sendiri dan karakter siswa siswinya dengan baik. Banyak model pembelajaran yang dapat dipilih oleh guru untuk mengajar siswa-siswinya dengan tetap mempertimbangkan keanekaragaman karakteristik siswa tersebut. Dengan memahami karakteristik siswa-siswinya, guru dapat memilihkan model pembelajaran yang sesuai dengan keadaan mereka sehingga dapat memfasilitasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan belajar siswa. Selain itu, apabila guru juga harus menjadi pribadi yang disenangi oleh siswa supaya ilmu yang diajarkan mudah dipahami oleh siswa tersebut. Dalam pembelajaran, misalnya dijumpai siswa yang mengerjakan soal dengan cara berbeda, maka guru tidak boleh langsung menyalahkan karena hasil penyelesaian tersebut bisa jadi sama.

    ReplyDelete
  14. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. matematika A 2013

    Elegi ini menceritakan seorang guru yang kebingungan dalam memilih jalan menuju sekolah agar bertemu dengan siswanya. Ada banyak jalan yang dapat dilewati oleh guru untuk sampai ke sekolah. Jalan-jalan itulah sebenarnya merupakan metode mengajar yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Dalam mengajar, sebaiknya guru tidak hanya menggunakan satu jalan saja, artinya guru harus menggunakan beberapa metode tidak hanya satu metode saja karena tidak ada metode pembelajaran yang cocok digunakan untuk menyampaikan semua materi pelajaran. Guru sebaiknya memberi kesempatan siswa untuk melewati jalan yang telah dipilih tadi, artinya siswa diberi kesempatan untuk belajar menggunakan metode yang telah dipilih tadi.

    ReplyDelete
  15. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Elegi di atas sebagai refleksi bagi diri saya sendiri bahwa menjadi guru harus benar-benar dapat memfasilitasi siswa-siswanya, harus dapat memberi kesempatan kepada murid-muridnya untuk dapat berkembang.

    ReplyDelete
  16. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Hidup adalah pilihan. Menjadi guru juga merupakan pilihan. Menjadi guru tradisional ataupun guru konstruktivis juga merupakan sebuah pilihan. Tidak ada kata tidak bisa untuk berusaha menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  17. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi diatas adalah proses pembelajaran terjadi jika seornag guru danmurid dapat bertemu dalam ilmu, tidak ada sebenar-benar elajar selain hal tersebut.

    ReplyDelete
  18. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Di dalam hidup ada banyak pilihan. Dan pilihan-pilihan itu diciptakan untuk dapat dipilih. Artinya kita dapat menentukan pilihan yang mana saja, apakah hanya satu dan itu-itu saja atau mau mencoba yang lain, meski tidak tahu apakah akan terjatuh atau tidak

    ReplyDelete
  19. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dalam konteksnya sebagai guru, maka harusnya banyak jalan yang bisa dipilih. Tidak hanya dengan metode ceramah misalnya, namun juga metode metode yang lain. Atau kalau bisa malah membuat jalan sendiri dan berinovasi. Akan tetapi masih lebih baik jika siswa yang mampu membuat jalan sendiri, karena mereka yang mengonstruksi pemahamannya

    ReplyDelete
  20. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Rindu dan cinta kepada murid seharusnya adalah welas asih, bukan karena ego. Seperti memberikan pengetahuan kepada murid tanpa membiarkan mereka membangun pengetahuannya sendiri. Begitu juga terhadap sesama, jangan sampai cinta merusak apa yang dicintai tersebut

    ReplyDelete
  21. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    guru memberikan banyak jalan kepada siswa dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilihnya,ilustrasi di atas mirip dengan pendekatan open ended yang memberikan kebebsan siswa untuk berfikir, kebebsan beraktifitas, bebas mencoba.

    ReplyDelete
  22. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Elegi di atas mengajarkan kita bahwa untuk menggapai siswa seorang guru perlu menggunakan berbagai macam metode mengajar yang dinamis dan kreatif sesuai dengan konteks pembelajaran, tingkat kemampuan siswa serta kemampuan yang akan dicapai. Oleh karena itu diharapkan siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Jadi sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswa tersebut telah menggapai gurunya, siswa telah memahami/memiliki ilmu yang sama dengan sang guru berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  23. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    ketika hendak menempuh pendidikan maka kita akan dihadapi dengan banyak rintangan yang ada yang akan mempersulit kita untuk menuju kearah yang benar tersebut. Walaupun arah dan tujuannya sama sekalipun kita akan di perhadapkan dengan banyak jalan dimana masing-masing jalan sudah tentu mempunyai hambatan dan rintangannya masing-masing dan itu semua adalah proses. dan ketika kita dapat mengahrgai proses yang terjadi dalam pencapaian maka Insya ALLAH ilmu yang kita dapatkan kedepannya akan lebih bermanfaat.

    ReplyDelete
  24. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sebenar-benar guru menggapai siswa jika siswa telah menggapai guru dalam iman, ilmu, dan taqwa. Itu artinya, siswa tidak lagi belajar dengan paksaan, tetapi belajar atas dasar keimanan. Atas dasar keimanan dan disertai dengan keikhlasan, siswa menuntut ilmu. Dan sejatinya ilmu haruslah mampu mempertebal keimanan dan mengantarkan pada ketaqwaan.

    ReplyDelete
  25. Karena setiap jalan sama saja ,hanya bagaimana cara kita untuk melewatinya dan menentukan jalan benar benar baik untuk kita jalani.
    Seorang guru tidaklah harus sombong dengan apa yang dia punya karena kita tidak tahu apakah ada diantara murid yang jauh lebih luas pengetahuanya diantara kita

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  26. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pasti terdapat kelebihan dan kelemahannya. Banyak permasalahan yang terjadi di dalamnya, di antaranya ada yang bersumber dari siswa ataupun guru itu sendiri. Semua permasalahan itu merupakan proses menuju pendidikan yang berkualitas sehingga sebagai calon guru kita harus mempersiapkan untuk menghadapi permasalahan dalam dunia pendidikan. Guru sebaiknya memberikan kebebasan pada siswa untuk berpikir kreatif sesuai dengan apa yang dipikirkannya.

    ReplyDelete
  27. Guru menggapai siswa, dalam perspektif ini guru memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Kekuatannya untuk menaklukkan hati para siswa membuat saya berpikir mengenai logos yang terus berkembang dan menganak-pinak pada aturan yang telah dibuat secara seksama. Tiap dimensi yang diciptakan secara berkesinambungan, membuat alam pikir berada pada dimensi yang sama. Semakin lama dimensi itu membuat paradigma, semakin lama pula keyakinan yang diteguhkan membentuk pola hibernasi keilmuan.

    Guru merupakan pilar, dan siswa juga pilar. Tekad kuat guru menghadirkan siswa dalam kehidupannya membuat saya memikirkan hakikat juga. Hakikat guru dan siswa dalam satu elegi yang selalu diciptakan pada sebuah diorama. Guru dan siswa harus berada dalam satu frekuensi pemikiran. JIka sampai orang berambut putih sebagai sumber ilmu pengetahuan datang untuk menghampiri, maka guru dan siswa perlu belajar memaknai filosofi evaluasi dalam segmentasi kemasyarakatan.


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP Kelas A
    16701261005

    ReplyDelete
  28. Jalan apa saja, seperti apa saja, bagaimana saja, sama saja. Setiap jalan adalah konsekuensi logis yang diciptakan untuk mengubah paradigma pada contoh nyata dan pertanggungjawaban. Apalagi jalan menuju kebaikan yang hakiki.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP Kelas A
    16701261005

    ReplyDelete
  29. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Menjadi guru yang kreatif dan profesional adalah suatu pilihan. Kenapa dikatakan pilihan, karena guru juga bisa tidak peduli dengan kelasnya, hanya mengajar tanpa melihat kondisi dan keadaan siswa serta kelasnya. Sehingga interaksi guru dan siswa haruslah dijalin, guru harus bisa beradaptasi dengan siswa agar mengenali kelemahan dari segi kondisi dan berpikirnya siswa, guru pun harus penuh dengan kreatifitas dalam pembelajarannya, karena suatu kreatifitas merupakan kemampuannya untuk melahirkan sesuatu yang baru, karena guru bisa saja setiap harinya menemukan ide yang baik dan baru untuk mengatasi kelemahannya dalam mengajar, sehingga guru menemukan sesuatu yang berbeda dalam pengajarannya.

    ReplyDelete
  30. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Berfikir secara filsafati adalah berfikir kritis seperti yang dilakukan oleh Guru menggapai siswa kepada Orang tua berambut putih. Dia selalu menanyakan apa yang masih membingungkan baginya. Ketika pertanyaan itu belum dijawab oleh Orang tua berambut putih, dia masih terus berusaha mengejar jawabannya sampai pertanyaannya terjawab. Berfilsafat adalah selalu mengejar logos untuk menghindari mitos.

    ReplyDelete
  31. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Guru menggapai siswa yang tertulis dalam elegi ini adalah seorang guru sejati, bukan guru patung, tetapi guru logos. Dia selalu berusaha untuk menggapai murid-muridnya. Guru yang berusaha mencapai hakikat atas elemen yang ada pada guru itu sendiri, Guru yang berusaha mencari hakikat mengajar, hakikat jalan, hakikat teori belajar, hakikat motivasi, hakikat silabus, hakikat RPP, dan hakikat elemen lainnya. Menjadi guru juga harus benar-benar mengetahui hakikat dirinya yang menjadi subjek,juga hakikat murid yang menjadi objek.

    ReplyDelete
  32. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Saya sangat merinding membaca akhir elegi ini: "tiadalah sebenar-benarnya kamu dapat menggapai muridmu kecuali kalau kau anggap sekaligus dirimu dan muridmu adalah ilmuku. Itulah sebenar-benarnya belajar, yaitu jika kamu dan muridmu dapat bertemu di dalam ilmu berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan YME. Itulah sebaenar-benar guru menggapai siswa, yaitu jika siswamu telah menggapaimu."
    Kalimat penutup ini sangat mengena dan berharga untuk kita semua, karena masing-masing dari kita adalah seorang guru; guru bagi kita sendiri, bagi anak-anak kita, bagi keluarga dan bagi masyarakat. Sebenar-benar ilmu adalah yang dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Tuhan YME.

    ReplyDelete
  33. Kumala Kusuma Putri
    13301241020
    Pendidikan Matematika I 2013

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    In my opinion, this elegy said that teacher also should think about their students. Teacher should think like this "teacher and students are me". With that, teacher will understand about their students. They will understand all about their students even if students don't talk about their wish. Communication between teacher and students is really imprtant thing. With communication, they can be closed each other. I think that is enough. Thank you.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  34. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Untuk menjadi seorang guru adalah harus dapat menunjukan eksistensinya sebagai seorang guru. Memikirkan, mengikuti aturan, merasakan, menterjemah dan terjemahkan tugas dan kewajiban seorang guru. Bagaimana eksistensi keilmuan seorang guru, cara mengajar, cara memotivasi, cara membimbing, cara mengajak, cara mendengar, cara melihat, cara berkata, berbuat yang baik dan meninggalkan yang buruk dan lain sebagainya agar siswa merasa memiliki seorang guru, guru yang dirindu dan ditiru kebaikannya baik lisan maupun perbuatannya dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  35. Retno Widyaningrum
    126701261004

    Wahai muridku. Perkenankanlah aku sekarang memanggil engkau, muridku. Iba rasa hatiku, haru rasa hatiku setelah mendengar engkau memohon ampun berkali-kali. Padahal ketahuilah, bahwa sebenar-benar aku adalah ilmumu, maka tetesan air mata ini sebagi pertanda bahwa kita saling memaafkan. Karena jika engkau peka dan sensitif, aku juga telah berlaku sombong. Dengan membuat begitu banyak pertanyaan tanpa sempat memberimu kesempatan bukankah itu kesombonganku. Maka maafkanlah juga aku wahai muridku.
    Posting ini mengandung makna bahwa kita tidak boleh sombong kalau dalam ruang dan waktu. Meskipun kita sebagai yang lebih dan lebih tapi adakalanya kita lalai akan apa yang kita lakukan dengan tidak menyadarinya. Oleh sebab itu setiap pikiran, ucapan, perbuatan selalu di kontrol tetap dalam ruang dan waktu yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  36. Retno Widyaningrum
    126701261004

    Maka jangan sekali-kali engkau merasa rindu kepada muridmu manakala itu adalah egomu. Biarlah bahwa muridmu itulah yang merindukanmu. Maka sebenar-benar rindu adalah miliknya dan bukan milikmu.
    Posting ini mengandung makna bahwa kita sebagai guru tidak boleh berkeinginan untuk memaksa pada siswa untuk mengikuti keinginan kita. Biarlah mereka melakukan sesuai karakterstik mereka, kita sebagai fasilitator mengarahkan kemana jalan mereka yang sebenarnya. Dengan begitu maka siswa akan merasa rindu dengan kita dan selalu berharap untuk bertemu kembali.

    ReplyDelete

  37. Retno Widyaningrum
    126701261004

    Cintanya orang yang menguasai tentulah berbeda dengan cintanya orang yang dikuasai. Jikalau ada orang yang dikuasai merindukan terhadap orang yang menguasai itu adalah luar biasa. Tetapi sulit ditemukan. Jika ternyata memang ada maka akal kita pun sulit menerimanya. Mungkin adalah muridnya yang luar biasa atau gurunya yang luar biasa. Tetapi jangan salah paham, bahwa yang dimaksud luar biasa adalah diluar kebiasaan, jadi bisa positif tetapi juga bisa negatif. Maka aku juga dapat katakan bahwa rindu tidak lain tidak bukan adalah sifat yang melekat pada obyek. Guru bisa menjadi subyek sekaligus obyek, demikian juga siswa bisa menjadi obyek sekaligus subyek.
    Makna posting ini adalah sebagai guru dan siswa bisa berubah posisi manakala saling menyadarai akan posisinya pada ruang dan waktu tersebut. Sehingga kecintaan siswa akan lebih kepada gurunya dan akan selalu berharap akan kehadiran gurunya disampingnya. Hal ini terjadi apabila kita benar-benar mampu memahami siswa akan keinginan, kebutuhan dan kesulitan yang dihadapinya setiap waktu dalam proses pembelajaran

    ReplyDelete
  38. Retno Widyaningrum
    126701261004

    Maka dapat aku katakan bahwa tiadalah dapat sebenar-benar kau dapat menggapai muridmu itu, kecuali kalau kau anggap sekaligus dirimu dan diri muridmu adalah ilmuku, karena ilmuku tidak lain tidak bukan adalah pengetahuanmu sekaligus pengetahuan muridmu. Itulah sebenar-benar belajar, yaitu jika kamu dan muridmu dapat bertemu di dalam ilmu berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi dalam iman, ilmu dan taqwa itulah sebenar-benar kamu bisa menggapai muridmu dan sebenar-benar belajar bagi muridmu. Namun itupun belum cukup karena sebenar-benar rindu dan cintamu adalah jika siswamu dalam iman, ilmu dan taqwa mampu membuat jalannya untuk menemuimu. Itulah sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswamu telah menggapaimu. Aamiin yarabil'alamiin
    Begitu mengena kalimat terakhir ini di hati, sangat-sangat setuju, dengan introspeksi diri, berserah kepada Nya semoga bisa melakukan ini semua kepada siswa kita. AAmiin yaarobil'alamiin...

    ReplyDelete
  39. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Elegi seorang guru menggapai siswa menyiratkan bahwa dalam proses pembelajaran guru tidak sekedar hanya menyampaikan materi pembelajaran, tapi guru juga harus berusaha untuk dapat mengenali siswanya sehingga apa yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti siswa. Untuk mencapai itu, maka guru harus memahami karakter dan kemampuan siswanya sehingga dapat terjalin sinergi dan tali temali antara guru dan siswa. Dan jalan mencapai itu tidak hanya satu jalan, namun ada banyak jalan, guru tidak dapat memaksakan siswa untuk memahami dirinya namun gurulah yang harus mengikuti dan memahami siswanya

    ReplyDelete
  40. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Memang tidaklah mudah tugas seorang guru, mengenal dan memahami karakter siswa bukanlah pekerjaan yang ringan. Meguasai karakter siswa berarti menciptakan strategi bagi guru untuk mengeolala kelas selama pembelajaran. Kesulitan guru dalam mengelola kelas biasanya diawali dengan ketidakpahaman guru terhadap berbagai karakter siswa yang berada dalam sebuah kelas. Sehingga guru perlu mencari strategi yang cocok, metode yang yang sesuai dengan karakter siswa. Guru perlu melakukan eksperimen kecil-kecilan untuk mengetahui efektifitas masing-masing model pelayanan belajar di kelas

    ReplyDelete
  41. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Berdasarkan elegi di atas, yang dapat saya simpulkan adalah bahwa seorang guru harus mengenali karakter muridnya dengan baik, dan juga guru tidak boleh untuk memaksakan ego nya kepada murid. Ketika seorang guru telah mampu mengenali murid-muridnya maka guru tersebut aan mampu menentukan metode embelajaran apa yang cocok untuk murid-muridnya. Jadi janganlah guru memaksakan satu metode terus menerus, karena hal tersebut adalah bagian dari ego seorang guru. Selain itu, di dalam pembelajaran seorang guru juga tetap harus menanamkan nilai spiritual kepada muridnya, yaitu pembelajaran yang berlandaskan iman dan taqwa kepada Allah.

    ReplyDelete
  42. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Guru menggapai siswa memang tidaklah mudah. Guru memiliki banyak peran dan tugas, untuk menggapai siswa satu persatu itu bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan. Guru sering mengalami kesulitan, hambatan, dan masalah saat proses menuju penggapaian siswa. Memang haruslah sabar dan ikhlas dalam menjalani prosesnya.

    ReplyDelete
  43. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Sebagai seorang guru, kita harus mengenali terlebih dahulu siapa kita dan siapa murid kita. Hal itu dapat kita ketahui dari cara berbicara, berpikir, bersikap, dll. Ketika kita sudah mengenalinya, maka bisa dengan mudah kita menentukan metode apa yang akan kita gunakan dalam mengajar. Kemudian sebaiknya digunakan berbagai metode agar siswa tidak bosan.

    ReplyDelete
  44. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Kenyataannya tidak mudah untuk mengenal diri sendiri, mengenal siapa diri kita sebenarnya. Kebanyakan diantara kita mengabaikan hakikat diri yang sebenarnya. Mereka tidak mengenal secara penuh siapa dirinya sebenarnya, apalagi mengetahui untuk apa sejatinya mereka hidup.

    ReplyDelete
  45. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Berbagai cara yang diajarkan oleh guru-guru kita, mulai dari menggali potensi, mengasah bakat, karakter, dll. semuanya itu sebenarnya adalah alat bantu yang digunakan untuk memudahkan kita mencari jalan untuk mengenali diri.

    ReplyDelete
  46. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Seorang murid dalam mencari ilmu haruslah merasakan bahwa belajar atau memperoleh ilmu adalah kebutuhannya. Seorang murid dalam menempuh proses belajar harus penuh kesabaran, harus patuh dan hormat kepada guru, harus bersikap sportif terhadap kelalaian dan kesalahannya, harus berani mengkritik dan memberikan saran kepada guru, harus serius serta penuh perhatian terhadap apa yang dijelaskan oleh gurunya.

    ReplyDelete
  47. Dalam elegi seorang guru menggapai murid diceritakan bahwa guru bisa sebagai subyek sekaligus sebagai obyek, begitu juga sebaliknya. Karena guru menggapai siswa jika siswa tersebut telah menggapai gurunya. Guru adalah subyek yang berkuasa terhadap obyek siswa yang dikuasai. Jadi rindu dan cinta seorang guru terhadap muridnya belum tentu sama dengan rindu dan cinta murid terhadap gurunya, bisa jadi itu hanya ego sang guru semata, sebab rindu dan cinta orang yang menguasai berbeda dengan rindu dan cinta orang yang dikuasai. Tapi jika rindu dan cinta itu datang dari orang yang dikuasai maka itu luar biasa. Seorang guru bisa menggapai siswanya jika guru tersebut mampu menerapkan metode pembelajaran yang dinamis dan kreatif sehingga menjadi fasilitator bagi siswa untuk membangun konstruktivitas pengetahuan murid itu sendiri bukan memaksakan untuk mengikuti konstruktivitas pengetahuan miliknya, sehingga murid dapat mencapai kesuksesan masa depan serta rindu dan cintanya terhadap gurunya.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  48. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Menjadi guru perlu adanya rasa ikhlas yang besar. Tak mudah bagaimana mencari jalan untuk menggapai dunia murid. Mengarungi dunia murid. Maka guru perlu berbesar hati untuk belajr terlebih dahulu, menata hati nya, menata sikap, menata tujuannya, menata pengetahuannya untuk mendapatkan jalan kepada muridnya, Sebenar benar muridnya adalah ilmu pengetahuan juga bagi sang guru. Maka meskipun guru mampu menggapai muridnya, tak bisa guru memaksa muridnya menjadi satu pemikiran dengannya, karena antra guru dan murid adalah dua dunia yang berbeda.

    ReplyDelete
  49. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Guru yang gaya mengajarnya monoton akan membuat siswa merasa bosan dan tidak bersemangat. Menggapai siswa disini dapat dimaksudkan sebagai dapat memfasilitasi siswa untuk belajar dengan baik. Sehingga diperlukan cara agar sebagian besar siswa dapat terfasilitasi dengan baik, paling sering perubahan yang dilakukan adalah dengan mengganti metode pembelajarannya. Karena karakter siswa itu berbeda-beda, maka tidak ada cara terbaik dalam mengajar. Tetapi yang bisa dilakukan adalah dengan mengombinasi metodenya. Ketika semua siswa terfasilitasi dengan baik, maka akan tercipta pembelajaran yang maksimal.

    ReplyDelete
  50. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Guru adalah subyek yang berkuasa terhadap obyek siswa yang dikuasai. Menggapai siswa dan metode mengajar tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan satu metode saja yang selama ini diyakini dan dijalani. Untuk menggapai, menghantar dan melayani siswa agar dapat belajar matematika dengan baik, maka guru memerlukan banyak cara dan banyak metode yang diterapkan secara dinamis dan kreative sesuai dengan konteks pembelajaram, tingkat kemampuan siswa serta kemampuan yang akan dicapai.

    ReplyDelete
  51. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Jadi dalam iman, ilmu dan taqwalah sebenar-benar seorang guru bisa menggapai muridnya dan sebenar-benar belajar bagi muridnya. Serta sikap ikhlas dan ridho akan apa yang di jalaninya, serta rasa cinta terhadap anak muridnya.

    ReplyDelete
  52. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Sebagai seorang guru, memang semestinya harus mampu mengenali segala potensi yang ada dalam diri muridnya, tidak boleh kita memaksakan sebuah cara kepada setiap murid, karena setiap murid memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus bisa Menghidupkan belajar mengajar agar tidak monoton, penyampaian materi pun menjadi menyenangkan dengan metode yang bervariasi sehingga siswa tidak malas untuk berperan aktif di kelas. Semua itu sangat positif agar karena siswa suka kepada guru seperti itu.

    ReplyDelete
  53. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sebelum guru menggapai siswa, guru harus mengenal dirinya dulu kemudian mengenal siswanya, bagaimana sifat siswa dalam pembelajaran. Maka seorang guru dapat menggapai siswa ketika siswa telah menggapai guru, dimana siswa rindu dengan pengetahuan yang diberikan oleh gurunya. Oleh karena itu pertemuan guru dengan siswanya dengan ilmu pengetahuan melalui proses belajar.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  54. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi seorang guru menggapai siswa. Dari judul postingan yang diberikan, saya bisa menduga bahwa maksud dari judul tersebut adalah bagaimana usaha seorang guru agar bisa mencapai tujuannya sebagai guru, bagaimana ia bisa menggapai siswanya. Jalan apa yang harus dilaluinya, sehingga ilmu yang ia miliki bisa tergapai oleh siswanya. Dalam kalimat yang ditulis oleh profesor. Ketahuilah bahwa berbagai macam jalan yang berada di depan dan samping rumahmu itu sebenar-benar adalah ciptaanku. Aku sengaja ciptakan jalan itu agar kamu mau belajar. Ketahuilah bahwa jalan-jalan di depan rumahmu itu tidak lain adalah jalan hidupmu. Jalan hidupmu adalah pilihanmu. Maka sebenar-benar hidupmu adalah pilihanmu. Jalan hidupmu yang akan kau lalui. Maka jalan hidupmu tergantung pula oleh pengetahuanmu. Jika pengetahuanmu hanya sebatas mengajar dengan metode ceramah, maka hanya jalan ceramah itulah yang selalu ada dalam pikiranmu. Tetapi jika pengetahuanmu sampai jalan konstruktivis, maka kamu juga bisa melalui jalan konstruktivis yang ada di samping rumahmu itu. Apakah jalan rindumu dan cintamu adalah egomu? Mengapa aku ciptakan banyak jalan untukmu.

    ReplyDelete
  55. , yang Maha Kuasa banyak sekali menyiptakan berbagai jalan. Sehingga bagaimana seharusnya seorang guru itu melaui jalannya. Apakah ia benar ataukah salah semua itu tergantung lewat mana ia berjalan. Seharusnya seorang guru bisa memilih jalan yang tepat, agar tujuan untuk menggapai siswanya bisa tercapai. Apa yang dipikirkan seorang guru, sebaiknya adalah berpikir kedepan, berpikir modern. Seperti misalnya dalam menyampaikan pembelajaran dengan metode yang lebih bagus. Jangan hanya mengandalkan metode ceramah saja. Jadi, jika guru sudah bisa memikirkan jalan apa yang akan dilaluinya, maka semuanya akan menjadi indah.

    ReplyDelete
  56. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswa telah menggapai gurunya. Bagaimana cara agar siswa menggapai guru?. Jika siswa dalam iman, ilmu dan taqwa mampu membuat jalannya untuk menemui gurunya. Inilah pentingnya pendidikan moral terhadap siswa sehingga siswa tersebut bukan hanya pintar dalam ilmu dunia tetapi bagaimana dia bisa berprilaku yang baik terhadap orang tua, guru, teman sebaya dan masyarakat di sekitar mereka.

    ReplyDelete
  57. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Dalam elegin ini jika kita refleksikan dalam kehidupan kita sebagai calon guru maka langkah-langkah agar kita bisa menggapai siswa adalah kenali dulu diri kita. Lewat apa mengenali diri kita? yaitu lewat kata-kat kita, pertanyaan kita, pikiran kita, bahasa kia, doa kita, perbuatan kita, mimpi kita, kuasa kita, ilmu kita, dll. Dan kenalilah murid juga dengan cara yang sama. Bertemulah dengan murid pada hal yang sama, yaitu pada ilmu. Kenalilah ilmu kita dan ilmu murid kita, hal ini hanya bisa dicapai jika ilmu berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan YME. Dan sebenar-benar guru menggapai siswa yaitu jika siswamu telah menggapaimu.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id