Sep 20, 2013

Elegi Pemberontakan Patung Filsafat




Oleh Marsigit

Pengikut Patung Filsafat:
Wahai logos, ketahuilah bahwa kami semua adalah pengikut Patung Filsafat.

 Kami itu meliputi pengikut contoh, pengikut tokoh, pengikut ide, pengikut slogan,pengikut nasehat, pengikut bijaksana, pengikut disiplin, pengikut pembimbing, pengikut pemimpin, pengikut informasi, pengikut dermawan, pengikut kebaikkan, pengikut keamanan, pengikut koordinator, pengikut administrator, pengikut ketua, pengikut sekretaris, pengikut peraturan, pengikut sahabat, pengikut editor, pengikut fasilitator, pengikut guru, pengikut dosen, pengikut mahasiswa, pengikut jabatan, pengikut profesi, pengikut dedikasi, pengikut senior, pengikut pakar, pengikut pengalaman, pengikut orang tua, pengikut piagam, pengikut sertifikat, pengikut suami, pengikut lurah, pengikut ganteng, pengikut polisi, pengikut moral, pengikut etika, pengikut semua yang ada dan yang mungkin ada.
Ketahuilah bahwa kami semua merasa sangat terganggu dan tersinggung oleh ucapan dan tuduhanmu mengenai patung-patung filsafat. Tuduhanmu bahwa kami adalah patung-patung filsafat, sungguh sangat aneh dan asing bagi kami. Maka kami semua akan menuntut kepada engkau. Kami menyatakan dengan ini pemberontakan terhadap dirimu. Hanya ada satu hal saja yang dapat membatalkan rencana kami itu, yaitu bahwa engkau harus dapat menjelaskan mengapa kami itu engkau sebut sebagai patung filsafat?

Logos:
Wahai semua pengikut patung filsafat, kami hanya berusaha mengungkap fakta yang sebenarnya. Aku menyadari tiadalah mudah bagi engkau semua untuk menerima fakta tentang dirimu masing-masing. Tetapi jikalau engkau semua mendesak diriku untuk menjelaskan mengapa engkau semua aku sebut sebagai patung filsafat, maka ada 2 (dua) macam cara. Pertama, penjelasan khusus. Kedua, penjelasan umum.

Pengikut Patung Filsafat:
Apakah yang engkau maksud dengan penjelasan khusus?

Logos:
Karena penjelasan khusus, maka hanya bisa diambil kasus per kasus. Maka kemarilah diantara engkau itu, agar aku bisa menjelaskan satu per satu secara terbatas.

Patung Guru:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal aku adalah guru. Ketahuilah bahwa guru adalah digugu dan ditiru. Aku punya tugas mulia yaitu mendidik dan mencerdaskan siswa?

Logos:
Baiklah, wahai patung guru. Apakah engkau pernah melihat seorang guru yang tidak dapat digugu dan ditiru? Apakah engkau pernah melihat seorang guru melakukan tindakan tidak terpuji. Maka mereka itu sebenarnya bukanlah seorang guru, tetapi berlindung di balik nama guru. Mereka itulah sebenar-benar patung guru. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan datang kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung guru, menjadi logos guru.

Patung Sertifikat:
Wahai logos, mengapa engkau menyebut aku sebagai patung filsafat. Padahal sertifikat ini aku peroleh dengan susah payah. Ketahuilah bahwa aku telah mempertaruhkan segenap jiwa dan ragaku untuk memperoleh sertifikat ini.

Logos:
Baiklah, wahai patung sertifikat. Apakah engkau pernah melihat seseorang menyalah gunakan sertifikat? Apakah engkau pernah melihat seseorang bersikap tidak sesuai dengan sertifikat yang diperolehnya? Apakah engkau pernah melihat seseorang mencari sertifikat dengan menggunakan cara yang tidak benar? Mereka itulah sebenar-benar patung sertifikat. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan menunjukkan penyesalanmu serta datang untuk protes kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung sertifikat menjadi logos sertifikat.

Pengikut Patung Filsafat:
Cukup, lalu apakah yang engkau maksud dengan penjelasan umum?

Logos:
Penjelasan umum dari diriku menyatakan bahwa tidaklah hanya dirimu semua, tetapi adalah bagi semua yang ada dan yang mungkin ada, itu bisa terkena hukumnya menjadi patung filsafat. Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifatmu. Maka ketika engkau semua datang berbondong-bondong mendatangiku, itu suatu bukti bahwa engkau tidak dalam keadaan berhenti. Pada mulanya aku melihat dirimu semua nun jauh di sana dalam keadaan berhenti. Engkau semua kelihatan sangat menikmati keadaanmu dalam keadaan berhenti itu. Itulah sebenar-benar patung-patung filsafat yang aku saksikan. Tetapi ketika engkau mendengar pernyataanku tentang dirimu sebagai patung filsafat, aku kemudian melihat bahwa dirimu semua menggeliat bergerak menuju ke mari mendatangi diriku untuk melakukan protes dan pemberontakan. Maka seketika itulah aku melihat bahwa semua patung-patung filsafatmu itu telah lenyap. Aku telah menyaksikan dirimu semua telah berubah menjadi diriku, yaitu menjadi logos. Ketika engkau sedang menempuh perjalananmu menuju ke mari itulah engkau semua dalam keadaan bergerak. Itulah sebenar-benar logos, yaitu keadaan bergerak.
Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua. Aku ucapkan selamat wahai para logos: logos contoh, logos tokoh, logos ide, logos slogan,logos nasehat, logos bijaksana, logos disiplin, logos pembimbing, logos pemimpin, logos informasi, logos dermawan, logos kebaikkan, logos keamanan, logos koordinator, logos administrator, logos ketua, logos sekretaris, logos peraturan, logos sahabat, logos editor, logos fasilitator, logos guru, logos dosen, logos mahasiswa, logos jabatan, logos profesi, logos dedikasi, logos senior, logos pakar, logos pengalaman, logos orang tua, logos piagam, logos sertifikat, logos suami, logos lurah, logos ganteng, logos polisi, logos moral, logos etika, logos semua yang ada dan yang mungkin ada.

Orang tua berambut putih:
Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiranmu yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hatimu sebagai komandan bagi setiap sifatmu. Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua sebagai logos yang bernurani. Aku ucapkan selamat wahai para : logos contoh yang bernurani, logos tokoh yang bernurani, logos ide yang bernurani, logos slogan yang bernurani, logos nasehat yang bernurani, logos bijaksana yang bernurani, logos disiplin yang bernurani, logos pembimbing yang bernurani, logos pemimpin yang bernurani, logos informasi yang bernurani, logos dermawan yang bernurani, logos kebaikkan yang bernurani, logos keamanan yang bernurani, logos koordinator yang bernurani, logos administrator yang bernurani, logos ketua yang bernurani, logos sekretaris yang bernurani, logos peraturan yang bernurani, logos sahabat yang bernurani, logos editor yang bernurani, logos fasilitator yang bernurani, logos guru yang bernurani, logos dosen yang bernurani, logos mahasiswa yang bernurani, logos jabatan yang bernurani, logos profesi yang bernurani, logos dedikasi yang bernurani, logos senior yang bernurani, logos pakar yang bernurani, logos pengalaman yang bernurani, logos orang tua yang bernurani, logos piagam yang bernurani, logos sertifikat yang bernurani, logos suami yang bernurani, logos lurah yang bernurani, logos ganteng yang bernurani, logos polisi yang bernurani, logos moral yang bernurani, logos etika yang bernurani, logos semua yang ada dan yang mungkin ada yang bernurani.

54 comments:

  1. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dari elegi di atas, pada dasarnya dalam hidup ini ada yang masih menjadi patung filsafat dan ada pula yang sudah menjadi logos filsafat. Dan kita harus menghindari agar tidak menjadi patung filsafat, karena nurani kita akan hilang, melakukan hal yang tidak sesuai dengan posisi yang ia tempati dan hanya berlindung dibalik nama yang ia sandang, dan itulah sebenar-benar patung filsafat. Maka hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada sang Pencipta, berusaha dan berikhtiar, agar apa yang kita lakukan selalu berada di jalanNya dan di Ridhai Nya, agar kita menjadi logos filsafat yang bernurani.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Betapa hancurnya jika manusia itu hanya menjadi patung-patung filsafat. Agar kita tidak menjadi patung-patung filsafat hendaknya kita paham dengan apa yang kita lakukan di dalam kehidupan kita. Semoga sering berjalannya waktu, kita bisa meminimalisasi adanya patung filsafat yang menjadikan kita sombong,dan memalsukan jati diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  3. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Sebuah tugas yang penting, yaitu menjadikan kelemahan dalam diri kita menjadi sebuah kelebihan, dengan belajar filsafat dengan tidak secara langsung kita dapat memahami mana kelamahan dan kelebihan kita, bagaimana cara untuk merubah kelemahan menjdai kelebihan kita. dengan begitu kita akan emnjadi manusia yang mendekati sempurna.

    ReplyDelete
  4. Fauzul Muna Afani
    13301241010
    Pendidikan Matenatika A 2013

    Asalamu’alaikum

    Artikel Elegi Pemberontakan Patung Filsafat menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan itu selalu bergerak, guru harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sesuai perubahan zaman.

    Wassalamu’alaikum

    ReplyDelete
  5. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Banyak dari kita tidak sadar telah menjadi “patung”. Makna patung yang saya pahami dari elegi di atas adalah orang yang meyalahartikan sebuah logos. Contohnya, patung guru. Seorang guru yang melakukan tindakan tidak terpuji. Maka mereka itu sebenarnya bukanlah seorang guru, tetapi berlindung di balik nama guru. Mereka itulah sebenar-benar patung guru. Tetapi ketika engkau menggunakan pikiranmu dan datang kepadaku, maka aku telah menyaksikan bahwa engkau telah berubah dari patung guru, menjadi logos guru.

    Semua objek filsafat mungkin terkena patung filsafat. Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifat kita. Ketika kita kelihatan sangat menikmati keadaan dalam keadaan berhenti itu. ittulah sebenar-benar patung-patung filsafat. Tetapi ketika kita mendengar pernyataan tentang diri kita sebagai patung filsafat, kemudian bergerak untuk melakukan protes dan pemberontakan. Maka seketika itulah aku melihat bahwa semua patung-patung filsafat itu telah lenyap. Maka, dalam hidup kita tidak boleh berhenti, teruslah bergerak agar tidak menjadi “patung” kehidupan.

    ReplyDelete
  6. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    jika kita hanya menerima apa yang disampaikan dalam perkuliahan maka kita hanya akan menjadi patung-patung filsafat. sesungguhnya filsafat adalah diri kita sendiri, sehingga kita harus mampu merefleksikan pengtahuan itu sesuai dengan diri kita tanpa mengikuti karakter orang lain.

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    dengan termakan oleh mitos maka kita akan menjadi patung-patung filsafat.sehingga haruslah kita membuat sebuah antitesis untuk menghindari dari termakan mitos yang ada.akan tetapi kita tidak serta merta membuat antitesis, kita memerlukan ilmu sehingga antitesisnya pun relevan.

    ReplyDelete
  8. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Saya setuju bahwa senantiasa berupaya/ berikhtiar adalah cara terbaik untuk terhindar dari patung filsafat. Menjadi guru yang benar-benar dapat digugu dan ditiru juga harus terus diupayakan, agar kita tidak terjebak dalam status semata.

    ReplyDelete
  9. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Memang sekarang ini banyak orang yang hanya mementingkan status, sehingga menghalalkan segala cara untuk dapat mewujudkannya. Dan pada akhirnya setelah mendapatkan status tersebut, banyak orang yang kurang bertanggung jawab dalam menjalankannya, termasuk status sebagai seorang guru. Semoga kiga tidak termasuk di dalamnya.

    ReplyDelete
  10. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifatmu.
    inti dari elegi ini adalah saat kita berhenti dan tidak melakukan usaha lagi saat itulah kita dikatakan patung, tidak bergerak, hanya menikmati keadaan dimana tidak perlu bekerja dan berpikir. padahal inti dari filsafat adalah berfikir sehingga yang tadinya patung berubah menjadi logos.

    ReplyDelete
  11. Lazuardi Nugroho
    13301244017
    S1 Pendidikan Matematika C 2013
    Seseorang yang dalam keadaan berhenti, tidak mau bergerak maju, maka diibaratkan sebagai sebuah patung. Sebagai mahasiswa jika tidak mau berkembang hanya sebagai patung filsafat. Hanya menerima ilmu yang ia peroleh, tidak dikembangkan, sehingga lambat laun lupa dan tidak dipergunakan.

    ReplyDelete
  12. Lazuardi Nugroho
    13301244017
    S1 Pendidikan Matematika C 2013
    Maka sebagai mahasiswa yang tidak ingin disebut patung filsafat, mahasiswa harus mau bergerak, mau berkembang, ikhlas dan ikhtiar dalam usaha agar terhindar dari patung dan menjadi logos mahasiswa yang bernurani.

    ReplyDelete
  13. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Logos itu hidup di dalam pikiran kita, maka semakin banyak kita berpikir logos itu akan semakin mudah masuk dan bertambah. Namun ada kalanya antara logos dan nurani saling bertolak belakang, maka kita sebagai manusia harus mencoba menelaah keduanya, karena bisa jadi saat itu pikiran kita yang salah atau justru nurani kita yang sedang kurang baik keadaannya sehingga terjadi suatu ketidakseimbangan diantara logos dan nurani. Sebaik-baik kita adalah yang mampu menyelaraskan hati dan pikiran kita sehingga logos yang masuk dalam diri kita merupakan logos yang selalu siring dengan kata nurani kita,

    ReplyDelete
  14. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    patung adaalah benda yang tidak punya alasan, tak punya motif dan tidak berfikir, jadi jika kita menajdi patung guru, patung sertifikat, patung karyawan, patung masayrakat, dst.itu seperti subjek/ojek yang tidak berfikir untuk apa dan tidak memiliki tujuan serta tidak kritis dalam berfikir. karena dalafuilsafat manusia yang tidak berfikir adalah manusia yang mati bagaikan patung. nah dengan demikian kita harus bisa menajdi logos, logos guru,logos mahasiiswa, logos kraywan, logosa masyarakat dst. dengan menjadi logos kita memiliki motivasi, memiliki tujuan dan berfikir dalam beraktivitas.

    ReplyDelete
  15. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan elegi di atas yang dimaksud patung filsafat yaitu seseorang yang tidak mencerminkan atau bertindak sesuai profesi atau sertifikat yang diperolehnya. Misalkan seorang guru dapat berubah menjadi patung guru karena dia tidak dapat berlaku seperti layaknya guru yang dapat memberikan tauladan dan benar-benar memahami apa yang diajarkannya kepada siswanya. Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifat kita. Kita harus selalu berusaha, ikhtiar agar kita terhindar dan tidak menjadi patung filsafat.

    ReplyDelete
  16. NDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Dalam perjalanan hidup ini, sudah seyogyanya kita selalu berusaha menggapai apa yang kita cita-citakan sebab, Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri. Oleh karena itu, jika kita menghendaki kebahagiaan dunia dan kehidupan setelahnya, kiranya kita tidak menjadi layaknya patung filsafat.

    Sekian, terima kasih
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  17. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Ada pribahasa yang mengatakan, tuntutlah ilmu dari buayan, hingga ke liang lahat. Juga tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina. Beragam pribahasa tersebut menganjurkan agar kita terus menambah wawasan dan pengetahuan, tanpa batasan usia. Berhenti menuntut ilmu maka akan menjurumuskan kita dalam kebodohan juga tergolong sebagai sebuah patung filsafat seperti dalam tulisan Prof. Marsigit.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  18. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Kita sering kali terjebak dengan apa yang kita pikirkan, sehingga menjadi "patung" dalam mencari ilmu. Untuk terlepas dari semua itu, maka kita tidak boleh berhenti untuk belajar. Karena belajar itu tidak ada hentinya, sehingga kita akan terus belajar dan belajar agar tidak dikatakan "patung filsafat" akibat dari tidak mampu menjelaskan apa yang dipikirkan.

    ReplyDelete
  19. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    patung di sini berarti orang-orang yang telah berhenti untuk mencari ilmu dikarenakan terjadi kepuasan dalam diri bahwa ilmunya telah tercukupi, dan juga dapat berarti suatu hal yang telah bertentangan dalam kaidah-kaidah asli dari apa yang ingin dikemukakannya. ketika telah berbeda dari tujuannya secara menyeluruh maka ia telah mengingkari apa sebenarnya hakekat ilmu yang dimilikinya dan secara otomatis kita dapat mengatakan hal-hal tersebut menjadi sebuah patung yang tidak bergerak sama sekali. karena sebenar-benar orang hendak menggapai ilmu adalah dengan bergerak.

    ReplyDelete
  20. assalamualaikum, wr. wb.

    Patung-patung filsafat merupakan simbol keterpuasan orang-orang dalm mencari logos-logos dalam menggapai kebijakan. Hakikat manusia adalah tidak pernah berhenti untuk mencari logos-logos yang bertebaran di dunia semoga kita semua tidak berhenti engejar logos-logos yang mencerahkan dan menggapai kebijakan yang terinspirasi dari kalam dan kauniyah Sang Kuasa.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  21. Dari elegi di atas, padadasarnyadalamhidupiniada yang masih menjadi patung filsafat dan ada pula yang sudah menjadi logos filsafat. Dan kita harus menghindari agar tidak menjadi patung filsafat, karena nurani kita akan hilang, melakukan hal yang tidak sesuai dengan posisi yang ia tempati dan hanya berlindung dibalik nama yang ia sandang, dan itulah sebenar-benar patung filsafat. Maka hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada sang Pencipta, berusaha dan berikhtiar, agar apa yang kita lakukan selalu berada di jalan-Nya dan di Ridhai-Nya.Betapa hancurnya jika manusia itu hanya menjadi patung-patung filsafat. Agar kita tidak menjadi patung-patung filsafat hendaknya kita paham,sadar dengan apa yang kita lakukan di dalam kehidupan kita. Semoga sering berjalannya waktu, kita bisa meminimalisasi adanya patung filsafat yang menjadikan kita sombong, dan memalsukan jati diri kita sendiri. Sebuah tugas yang penting, yaitu menjadikan kelemahan dalam diri kita menjadi sebuah kelebihan, dengan belajar filsafat dengan tidak secara langsung kita dapat memahami mana kelamahan dan kelebihan kita, bagaimana cara untuk merubah kelemahan menjdai kelebihan kita. Dengan begitu kita akan menjadi manusia yang mendekati sempurna.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  22. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Kejujuran adalah buah kebaikan. Jika kita tahu itu tidak jujur tapi kita masih melakukan, namanya kita adalah batu. Batu yang diukir secara bagus disebut patung. Taruhlah kita dipercaya akan sesuatu tapi kita tidak bisa menjaganya dengan baik. Selain menyakitkan orang lain, diri kita juga tidak akan tenang hidup. Lebih dari itu, banyak pihak yang dirugikan. Kecuali kita menyadari apa kesalahan kita, kita akan tetap terkurung di dalam ketidakpastian dan terombang-ambing selalu menjadi patung. Patung yang bernyawa tetapi statis.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  23. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Patung guru, semoga calon-calon yang akan digugu dan ditiru tidak menjadi patung filsafat. Karena melihat perkembangan jaman bisa dilihat banyaknya kasus-kasus penyimpangan, berlindung dibalik nama dan berlindung di balik kekuasaannya. Akibatnya ke"patung"annya itu tidak hanya masalah tentang dirinya tapi juga merugikan orang lain.

    ReplyDelete
  24. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Ada kalanya saya juga menjadi patung. Dalam keadaan tertentu rasanya nyaman dengan zonanya dan berhenti disitu. Padahal kita tidak benar-benar berhentu, karena hidup santun terhadap ruang dan waktu. Oleh karena itu kita harus senantiasa berusaha dan berikhtiar, terus bergerak sebagai komandan dari sifat-sifat yang dimiliki

    ReplyDelete

  25. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Patung adalah sesuatu yang berhenti, sesuatu yang tidak bergerak menuju perbaikan. Orang yang memanfaatkan sesuatu di balik status yang disandangnya, di balik apa yang telah didapatkannya, maka ia diibaratkan seperti patung karena apa yang didapat dan disandangnya adalah semu. Sebuah patung tidak dapat bergerak memberi kebaikan kepada orang lain.

    ReplyDelete

  26. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Semua dari yang ada dan yang mungkin ada bisa menjadi patung filsafat ketika ia tidak mau bergerak, karena ketika ia bergerak maka ia akan menjadi logos. Seorang mahasiswa akan menjadi patung mahasiswa jika ia tidak membuat perubahan atas setatusnya. Seorang mahasiswa tidak dalam proses mengada ketika ia menjadi patung filsafat. Seorang mahasiswa yang melakukan kecurangan dalam mengerjakan tugasnya, maka ia menjadi patung mahasiswa. Seorang mahasiswa yang terus meningkatkan prestasinya, maka ia sedang menjadi loogos mahasiswa.

    ReplyDelete
  27. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  28. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Melakukan ikhtiar, mengada adalah satu-satunya proses bergerak menuju logos. Bergerak menuju logos adalah sebenar-benarnya pikiran kita. Logos yang bernurani. Kita sebagai manusia harus selalu berusaha untuk bergerak menuju perbaikan diri, karena perbaikan diri akan membawa perbaikan pada lingkungan dan masyarakat yang selanjutnya akan membawa kebaikan pada masyarakat luas.

    ReplyDelete
  29. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Patung adalah benda mati, yang tak bergerak. Ia hanya ditempatkan disuatu tempat untuk pajangan tanpa ada gunanya karena patung merupakan benda yang diam. Kasusnya menjadi sama dengan patung itu, bahwa kita bisa menjadi patung jika ingin sesuatu yang cepat, instan, ingin mendapatkan ijazah, melakukan sesuatu yang instan, misal plagiat terhadap skripsi orang lain. Ingin mendapatkan sertifikat instan dengan membayar sertifikat itu tanpa adanya usaha dalam menggapai sertifikat. Hal-hal tersebut menjadikan kita makhluk yang kosong tanpa isi serta tak berguna, karena pada dasarnya kita adalah patung. Sehingga jadilah orang yang berusaha dalam meraih sesuatu melalui proses agar bermakna dan memberikan pelaajran hidup.

    ReplyDelete
  30. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Patung adalah benda diam atau tiruan. Filsafat adalah olah piker. Maka patung filsafat adalah diam atau tiruan dari olah pikir filsafat. Patung filsafat yang dimaksudkan adalah tidak memikirkan tugas-tugas sebagai mana ia harus bertugas dan bersembunyi dibalik tiruannya itu. Seroang guru dikatakan patung jika ia tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang guru dalam mendidik, membimbing, memberikan contoh baik dalam lisan maupun perbuatan, siswa dikatakan patung jika tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai siswa dalam menuntut ilmu, membangun pengetahuan, belajar, bertanya yang tidak diketahuinya, menghormati guru, berbakti kepada orang tua dan perbuatan atau lisan lain sebagainya. Seorang pejabat dikatakan patung jika tidak dapat menjalanan tugasnya sebagai pemegang jabatan, ia berlaku tidak adil, tidak memikirkan kepentingan rakyat hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, zolim, melayani masyarakat baik lisan maupun perbuatannya dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  31. Retno Widyaningrum
    12701261004

    Sebagai manusia janganlah seperti patung filsafat, yaitu sesuatu yang tidak mampu bergerak dan hanya berhenti di tempat tanpa ada perubahan dari dirinya. sebagai pendidik maka jangan sampai menjadi patung pendidik artinya tidak pernah berkaya untuk meningkatkan prestasinya, selalu berusaha untuk meningkatkan kompetensinya seperti mengkuti diklat, seminar, menulis karya tulis yang dipublikasikan, sekolah ke jenjang lebih tinggi dan lain sebagainya. Sehingga menjadi logos pendidik.

    ReplyDelete
  32. Retno Widyaningrum
    12701261004

    Patung filsafat sifatnya tetap tidak berubah, kalau mampu bergerak akan menjadi logos. Oleh sebab itu bagaimana kita mampu mengubah patung-patung filsafat menjadi logos-logos. Tetapi masih banyak patung-patung filsafat disekitar kita baik dalam dunia pendidikan, pemerintahan, politik, perdagangan, perindustrian, pertanian, dan sebagainya. Maka kita jangan sampai ikut dalam kelompok patung-patung filsafat. Karena masih banyak yang berlindung di balik patung-patung filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  33. Retno Widyaningrum
    12701261004

    Untuk menjadi logos-logos tersebut perlu usaha yaitu mengada agar ada dan yang mungkin ada. Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiranmu yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hatimu sebagai komandan bagi setiap sifatmu. Dengan rasa haru dan iba, aku menyambut kedatanganmu semua sebagai logos yang bernurani. AAmiin yarabiil 'alamiin....

    ReplyDelete
  34. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Patung merupakan sebuah benda yang diam, tidak bergerak, dan tidak berpindah. Kita akan menjadi patung jika kita stagna dan diam di tempat, jika kita terlalu nyaman dan terlena dengan keadaan kita sekarang sehingga membuat kita malas untuk mencoba yang lain dan malas untuk maju. Oleh karena itu, agar kita terhindar dari predikat sebagai patung maka hendaklah kita selalu berusaha dan berikhtiar, berusaha dan berikhtiar untuk menjadi yang lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  35. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Saat ini masih banyak manusia yang terjebak menjadi patung filsafat dan beberapa orang nyaman dengan zona yang seperti itu. Kita harus bergerak agar tidak terjebak pada stigma partung filsafat. Cara kita agar terhindar menjadi patung filsafat adalah dengan terus berusaha dan terus berikhtiar.

    ReplyDelete
  36. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Dalam berikhtiar, manusia tidak perlu memikirkan tentang takdir yang akan berlaku pada dirinya. Sebab setiap orang tidak mungkin akan mengetahui nasibnya di masa yang akan datang. Yang terpenting bagi seorang manusia yaitu berikhtiar dengan sekuat tenaga, tidak boleh berpangku tangan, atau menunggu takdir yang baik.

    ReplyDelete
  37. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Di samping berusaha dengan segala daya dan kekuatan fisik, orang-orang beriman hendaknya juga berikhtiar secara batin yaitu dengan jalan berdoa dan memohon kepada Allah Tuhan Yang Maha Menentukan Qadha dan Qadar bagi semua makhluknya. Dipandang dari segi ini, maka berdoa dapat menggerakkan ikhtiar manusia secara fisik.

    ReplyDelete
  38. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PMA 13

    Selamat Pagi Prof..
    Hal yang dapat saya simpulkan dari elegi di atas adalah bahwa segala sesuatu dapat menjadi patung filsafat jika telah berhenti dari satu, beberapa, atau semua sifat-sifatnya. Cara agar tidak menjadi patung filsafat adalah dengan berusaha dan berikhtiar. Saya sangat setuju dengan hal di atas. Bergerak adalah kunci agar kita dapat tetap hidup. Seperti halnya ikan yang akan mati jika hanya diam. Bergerak, atau akan tergantikan dengan subjek filsafat yang lain. Semangat.

    ReplyDelete
  39. Semua yang ada dan yang mungkin ada dalam hidup ini bisa terkena hukum menjadi patung filsafat. Patung filsafat yang merupkan keadaan dimana kita berhenti dari satu atau beberapa, dan atau semua sifat-sifat kita. Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk kita terhindar dari sebutan sebagai patung filsafat dengan menggunakan sebenar-benar pikiran kita yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada hingga menjadi logos-logos yang bernurani.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  40. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Manusia tak terlepas perannya menjadi patung dalam kehidupannya, sebesar apa itu, sepenting apa itu, selama apa itu. Manusia bahkan pernah menjadi patung bagi dirinya sendri. Manusa selalu berpura pura untuk menutupi apa yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Tak sedikitpun manusia bisa mengelak perbuatan ini, Meskipun demikian, setidaknya manusa tidak menjadi patung saja sepanjang hidupnya, terkadang kejujuran ketulusan dan keihlasan dapat meruntuhkan itu semua.

    ReplyDelete
  41. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sebenar-benarnya guru adalah guru yang menggunakan pikirannya dan mampu mengendalikan dirinya seutuhnya agar bisa menjadi teladan dan mampu menfasilitasi siswa mereka dengan baik. Seorang guru yang tidak dapat digugu dan ditiru yang melakukan tindakan tidak terpuji sebenarnya bukanlah seorang guru, tetapi berlindung di balik nama guru. Mereka itulah sebenar-benar patung guru.

    ReplyDelete
  42. Manusia memiliki kemampuan dasarnya yang tentu bisa dikembangkan dalam tiap situasi yang lebih besar. Situasi tersebut dikembangkan dengan berbagai pola mitos. Setiap manusia harus memberontak, setidaknya memberontak dengan diri sendiri. Manusia tanpa pemberontakan akan berada di ambang ketidkpercayaan yang belum tentu dimiliki sebagai batas dan tujuan.
    Manusia dalam tiap ikhtiarnya menggapai logos untuk terus ada dan mengada. Jika manusia gagal mengada dalam tiap ikhtiarnya, ia perlu merefleksikan dirinya.
    Manusia yang berhenti, yakni yang dikatakan patung jika tidak bisa menjalankan tugasnya sebgaai manusia.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  43. "Semua dari yang ada dan yang mungkin ada bisa menjadi patung filsafat ketika ia tidak mau bergerak, karena ketika ia bergerak maka ia akan menjadi logos."
    Logos yang diciptakan adalah pola yang selalu mengada, tanpa mengada kita tidak mungkin menjadi logos. Namun belum tentu ia menjadi logos mesti telah mengada.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  44. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiran yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hati sebagai komandan bagi setiap sifat.

    ReplyDelete
  45. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Sebenar-benar patung filsafat adalah keadaan berhenti dari satu , atau beberapa, atau semua sifat-sifat, baik yang ada maupun yang mungkin ada berpeluang menjadi patung filsafat.

    ReplyDelete
  46. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Seorang guru bisa dikatakan guru apabila dia sudah memberikan contoh dan perilaku seorang guru yaitu tindakan yang baik, mempunya perilaku yang terpuji jadi tidak hanya didalam pemeblajaran di kelas guru mencotohkan sifat dirinya taip dimanapun dia harus berbuat baik. Apabila dia tidak berbuat hal baik maka dia bukan lahseorang dia hanya orang yang bekerja mengajar itu saja.

    ReplyDelete
  47. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Menjadi orang berkuasa tidaklah menjadikan kita berlindung dibalik kekuasaan untuk menutupi keburukan kita atau dengan kata lain tidak menyalahgunakan kekuasaan kita. Karena ketika kita hanya bisa berlindung dari balik keuasaan kita maka kita akan menjadi salah satu dari patung filsafat. Maka jadikan hati sebagai pengatur dari sifat-sifat. Tidaklah kita berhenti dari segala sifat-sifat kita, menjadi seseorang yang bukan hanya baik bagi diri sendiri tetapi baik juga untuk orang lain dan selalu berikhtiar agar tidak menjadi patung filsafat.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  48. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    “Berusaha dan ikhtiar adalah cara untuk terhindar bagi dirimu sebagai patung filsafat. Itulah sebenar-benar pikiranmu yaitu logos bagi semua yang ada dan yang mungkin ada. Maka tetapkanlah hatimu sebagai komandan bagi setiap sifatmu...“ Maka berusahalah!! Adanya mitos negatif terkadang sering membuat manusia enggan untuk menggunakan pikirannya. Ketika manusia sudah enggan untuk berpikir maka ia terancam akan menjadi patung filsafat. Dimana ia ada secara fisik dan raga, namun tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak mampu memikirkan apapun.

    ReplyDelete
  49. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  50. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    menyalahi logos yang ada adalah ibarat dari sebuah patung, dimana patung adalah kaku yang tidak memiliki hati dan perasaaan. Cara agar tidak menjadi patung filsafat adalah dengan berusaha dan berikhtiar.

    ReplyDelete
  51. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Semua yang ada dan yang mungkin ada akan berubah menjadi patung jika yang ada dan yang mungkin ada tersebut bertindak atau berprilaku tidak sesuai dengan namanya. Agar kita terhindar menjadi patung filsafat maka berusaha dan berikhtiarlah. Sehingga menjadi logos yang bernurani.

    ReplyDelete
  52. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Memiliki ilmu adalah sebuah keharusan, namun ilmu itu tak dapat berdiri sendiri. Ia memerlukan hati nurani untuk mengendalikannya. Maka manusia yang terbaik adalah ketika ia bisa menggunakan pikiran dan hatinya untuk berusaha dan ikhtiar dalam menjalani hidupnya. Jika ia tak memiliki semua itu maka ia hanya akan menjadi patung dalam kehidupan ini.

    ReplyDelete
  53. Dyah Padmi
    13301241031
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Yang dapat saya pahami dari postingan ini adalah bahwa jika seseorang mengaku sebagai dirinya namun tidak lagi memiliki sifat-sifat dirinya, maka orang tersebut bukanlah dirinya, melainkan hanya patung yang mengaku sebagai dirinya. Seperti misalnya seorang mahasiswa yang tidak pernah berangkat kuliah, tidak mengerjakan tugas, dan tidak mengikuti ujian bukanlah seorang mahasiswa, melainkan hanya patung yang menyandang nama mahasiswa.

    ReplyDelete
  54. Dyah Padmi
    13301241031
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Seringkali seseorang yang telah menjadi "patung filsafat" tidak menyadari bahwa dirinya adalah patung. Maka perlulah seseorang lain menyadarkannya, seperti yang dilakukan oleh logos. Dengan demikian ia akan tidak terima jika dikatakan sebagai patung, dan akhirnya kembali menjadi logos. Dari elegi ini saya memahami bahwa menjadi salah satu dari sekian banyak "patung filsafat" adalah hal yang sia-sia, karena patung tidak bergerak dan tidak punya pikiran. Terima kasih.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id