Sep 20, 2013

Elegi Kerajaan Stigma




Oleh Marsigit

Stigmaraja:
We ha ha he he... aku adalah si raja stigma. Hemmm...aku telah menyebar prajurit-prajurit stigma untuk mengembara ke seluruh dunia. Hanya satu tujuanku yaitu menguasai dunia ini. Siapapun yang menjadi penghalang diriku maka dia aku anggap musuh. Maka dengan segenap cara, cara baik, cara buruk, cara licik, adu domba, peperangan, fitnah, apapun akan aku tempuh demi mewujudkan cita-citaku. Tidaklah boleh ada yang lain yang lebih dari diriku. Maka siang maupun malam, prajurit-prajuriku yang terpilih akan aku utus membujuk, merayu kalau perlu menghancurkan kerajaan-kerajaan lain yang tidak mendukung dan menjadi pesaingku.

Stigmakayat:
Wahai baginda sang raja, setelah mendengar titahmu aku merasa bangga mempunyai raja seperti dirimu. Raja seperti dirimu itulah yang selalu aku dambakan. Engkau adalah seorang raja yang kuat, berwibawa dan mempunyai cita-cita tinggi serta dapat menghidupi segenap rakyatmu. Tetapi bolehkah aku bertanya perihal satu perkara kepadamu. Kenapa engkau masih saja tampak menyembunyikan kesedihanmu? Jika engkau berkenan bolehkah aku mengetahuinya.

Stigmaraja:
Wahai stigmakayat, engkau adalah pembantuku yang sangat cerdas. Engkau selalu saja mengetahui relung hati dan pikiranku. Ketahuilah apa yang menyebabkan aku masih merasa belum tenteram? Itu tu..di kejauhan sana aku mendengar ada percabaan Kutarunggu. Sungguh percabaan itu telah menggangguku siang maupun malam. Konon dalam percabaan itu, semakin banyakk saja para cantriknya. Semakain banyak orang datang ke Kutarunggu berarti kedudukanku semakin terancam. Maka ketahuilah, dengan ini aku proklamirkan dan aku menyatakan perang terhadap percabaan Kutarunggu. Dikarenakan ulah orang-orang dari Kutarunggu itulah, aku mengalami kesulitan melaksanakan semua rencana-rencanaku. Untuk itu maka aku akan memanggil panglima-panglimaku untuk menyampaikan perihal tugas-tugasnya.

Stigmapangla:
Wahai sang baginda raja, perkenankanlah aku melapor perihal tugas-tugasku. Aku adalah panglima stigma. Tugasku adalah menyebar prajurit stigma. Prajurit-prajuritku selalu cerdik dan pandai mencari mangsa. Mangsa dari stigmaprajurit adalah para cantraman. Cantraman adalah orang baik-baik tetapi mereka belum mengakui kerajaan stigma. Cara memangsa para cantraman adalah dengan menyebar fitnah, isu dan gosip. Maka semua fitnah, isu dan gosip itu pada hakekatnya adalah prajurit stigma yang terdepan. Begitu para cantraman termakan oleh fitnah, isu dan gosip, maka berubahlah mereka menjadi stigma-stigma.

Stigmaraja:
Hus..aku ingin berita keberhasilanmu, bukan tentang definisimu. Itu semua aku sudah tahu, tidaklah engkau perlu menceramahiku. Maka selama ini apa keberhasilanmu?

Stigmapangla:
Para stigmakomandan telah menemukan subyek pada percabaan Kutarunggu. Namanya adalah Ahilu. Kelihatannya Ahilu itu mempunyai kedudukan tinggi di percabaan tersebut. Disamping sebagai panglima dia juga sebagai Cantralma. Ketahuilah bahwa seorang Cantralma itu mempunyai kedudukan strategis pada percabaan Kutarunggu. Sang Bagawat sering menggunakan pemikiran-pemikirannya untuk mempertimbangkan aspek kehidupan di Kutarunggu. Tetapi stigmakomandan telah berhasil merayunya untuk menjadikan dia sebagai subyek stigma.

Stigmaraja:
Apa dampaknya bagi kita dengan engkau mengangkat Ahilu sebagai subyek stigma?

Stigmapangla:
Wah dampaknya luar biasa. Ternyata mulai terjadi kekacauan di Kutarunggu. Semua orang di Kutarunggu mengarahan pendengaran dan penglihatannya kepada perkataan dan perbuatan Ahilu. Padahal perkataan dan perbuatan Ahilu telah aku kendalikan, artinya perkataan dan perbuatannya adalah perkataan dan perbuatan para stigma. Itulah keberhasilanku. Maka atas doa restumu perkenankanlah aku memohon bantuan tambahan prajurit untuk segera meruntuhkan percabaan Kutarunggu.

Stigmaraja:
Wa ha ha ha..we he he he.... Tidak percuma aku membayarmu dengan gaji yang tinggi. Demikianlah selayaknya engkau harus berbakti kepadaku. Maka dalam rangka menyelesaikan tugas-tugasmu, aku akan turuti semua permintaanmu.

60 comments:

  1. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs PMat A 2016

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Stigma sering disebut dengan istilah yang lain, yaitu stempel, tuduhan, cap, yang dilekatkan pada seseorang/organisasi. Stigma memudahkan kita untuk menyimpulkan atau mengambil tindakan tetapi diwaktu lain menjerumuskan kepada suatu sikap atau tindakan yang salah. Stigma akan membentuk frame, kerangka berpikir kita.
    Stigma terbentuk karena kesamaan ciri atau kemiripan yang akhirnya kita katakan sebagai in grup, dalam bahasa matematika dengan himpunan atau bahasa statistika dengan clustering. Benda/orang/obyek yang kita identifikasi mempunyai kesamaan dengan kumpulan benda/orang/obyek maka kita anggap benda/orang/obyek itu “pantas” untuk dijadikan satu kumpulan/kelompok.
    Stigma lahir seringkali untuk tujuan simplifikasi, kemalasan berfikir, “kebodohan”, atau keengganan untuk mencari kebenaran karena merasa diri sudah benar dan sempurna walaupun tidak mau mengakui secara dhahir (lisan/tulisan)=sombong. Kadangkala orang melahirkan stigma didorong karena kegagalannya melihat intisari masalah, lebih melihat baju daripada isi kepala, melihat kulit dibandingkan isi, melihat atribut dibandingkan esensi.
    Kalau kita mau sedikit berpikir, sebenarnya sangat mudah untuk melihat secara fokus apa yang menjadi tema atau bahasan suatu pembicaraan/tulisan. Mengapa orang tidak setuju, dimana letak persamaan dan perbedaannya? apa argumentasinya? apakah pendapat saya yang kurang argumentatif ataukah pendapat saya dipahami dengan pengertian lain? Instropeksi semacam itu lebih penting daripada menanyakan: orang yang tidak setuju dengan pendapat saya ini dari kelompok mana ya? punya maksud apa kok tidak setuju terhadap kebenaran yang saya tuliskan? apakah orang ini beriman? tipu daya apa yang dilakukan untuk menghalangi perjuangan membela kebenaran yang saya lakukan?
    Marilah kembali ke realitas, batasi diskusi hanya pada topik. Jangan melihat siapa yang berbicara tetapi apa yang dibicarakannya.
    wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    ReplyDelete
  2. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Ambisi untuk menguasai suatu hal menjadikan berbagai macam cara digunakan untuk mencapainya. Segala hal yang tidak mendukungnya dianggap musuh dan pesaing. Apalagi ambisi sebagai penguasa tunggal, dengan segala kemampuan dan kekuatannya berusaha menghancurkan pesaingnya.

    ReplyDelete
  3. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Boleh saja mempunyai ambisi dan mimpi yang tinggi, tetapi tetap sadar pada kemampuan sendiri dan cara yang digunakan untuk mencapainya pun dengan cara yang baik. Ambisi dan mimpi yang tinggi dapat memberikan motivasi untuk serius menekuni hal yang sesuai dengan yang kita impikan.

    ReplyDelete
  4. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Menurut sya kerajaan stigma ini adalah sutu sifat buruk seseorang yang identik dengan keangkuhan dan keegoisan dimana dia mempertahankan posisinya tetapi dengan menghalalkan banyak cara. Menyebar isu, gosip, fitnah dan semacamnya yang tentu saja itu adalah cara untuk meruntuhkan peradaban kebaikan yang ada di sekitarnya.

    ReplyDelete
  5. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Elegi ini menggambarkan tentang sebuah kepemimpinan dimana sifat stigma menyelimuti pemimpinnya. Pemimpin yang memiliki keegoisan tinggi, tidak ingin disaingi, dan menginginkan sebuah kediktatoran dimana rakyat harus menuruti segala perkataan dan perbuatannya. Pemimpin ini juga ingin menguasai banyak hal namun dengan menghalalkan segala cara. Sungguh elegi ini mengingatkan setiap kita yang merupakan pemimpin setidaknya pemimpin bagi dirinya sendiri untuk dapat mengontrol dan memfilter diri dengan kecerdasan intelegensi, emosional maupun spiritual agar tidak terkena stigma.

    ReplyDelete
  6. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Dalam elegi di tas, digambarkan ada 3 macam stigma yakni stigma raja, stigma kayat, dan stigma pangla. Dari ketiga stigma tersebut masing-masing memiliki lebih dari satu stigma yang melekat. Yang harus kita sadari bahwa tidak semua stigma itu benar adanya, kadangkala kita perlu melihat lebih dalam, memahami lebih jauh dan tidak menjadi bagian dari stigma itu sendiri. Karena.. segala sesuatu selalu memiliki lebih dari satu sisi.

    ReplyDelete
  7. PEP B S2
    Stigma adalah label label yang melekat pada diri manusia akibat perbuatan, sebutan nama lainnya. Seorang yang baik dapat termakan isu, fitnah, dan gosip jika tidak menggunakan akal fikirannya dengan bersih, stigma yang diberikan adalah dengan mengasunsikan perbuatan sehibgga perbuatan yabg sebenarnya adalah terkendali, dari luar diri, bukan dari dalam hati tulus. Oleh karenanya label apapun itu adalah subjektif, tergantung ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Stigma terbentuk karena kesamaan ciri atau kemiripan yang akhirnya kita katakan sebagai in grup, dalam bahasa matematika dengan himpunan atau bahasa statistika dengan clustering. obyek yang kita identifikasi mempunyai kesamaan dengan kumpulan obyek maka kita anggap obyek itu pantas untuk dijadikan satu kelompok.
    Stigma lahir seringkali untuk tujuan simplifikasi, kemalasan berfikir, kebodohan, atau keengganan untuk mencari kebenaran karena merasa diri sudah benar dan sempurna walaupun tidak mau mengakui secara dhahir.

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Ambisi untuk menguasai suatu hal menjadikan berbagai macam cara digunakan untuk mencapainya.elit politik tergadang mengunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang menjadi tuuannya dengan segala cara,mereka tidak sadar apa yang dilakukannya padahl berdampak kepada orang banyak.

    ReplyDelete
  10. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs PEP B 2016

    Bismillahirrohmaanirrohiim.
    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Stigma tidak selamanya negative, kita juga bisa menjadikan stigma ini sesuatu yang positif di kehidupan kira sehari-hari. Jika kita memahami arti hidup maka stigma sebenarnya bisa menjadi percikan semangat hidup. Meskipun, kebanyakan kita memang menjadikan sebagai penghambat hidup kita, sehingga hidup selalu dalam bayang-bayang stigma, merasa terkekang bagai dalam penjara.
    Menanggapi hal tersebut, minimal ada dua pilihan dalam menjalaninya. Mengikuti stigma atau melawan!. Untuk melawan stigma pertama kita harus bedamai dengan stigma itu sendiri dengan tidak memikirkannya. Lalu kita harus menunjukkan bagaimana diri kita yang sebenarnya kepada ornag-orang yang memiliki stigma terhadap kita. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata kita untuk melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu yang sebenarnya dan dengan sendirinya memuja diri kita.

    Terima kasih,
    Wassalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  11. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs PEP B 2016

    Bismillahirrohmaanirrohiim.
    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Stigma dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan ciri negative yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Stigma merupakan berbagai pandangan orang yang menilai negative pada diri kita, hal yang kita lakukan bahkan pada pemikiran kita.
    Hampir setiap hari kita menjumpai stigma. Dari teman, tetangga, orang lewat bahkan dari keluarga sendiri. Contohnya, sebuah stigma yang biasa melekat pada wanita yang selalu pulang larut malam. Pasti banyak orang-orang disekitarnya yang langsung memberikan cap bahwa wanita tersebut wanita tidak baik tanpa melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh wanita tersebut sehingga pulang larut malam. Itulah stigma.Stigma ini akan selalu datang tanpa di dahului fakta karena kebanyakan kita tidak ingin tahu apa fakta di balik semua itu.

    Terima kasih,
    Wassalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  12. Perilaku seorang raja stigma ini menggambarkan sebuah kepemimpinan yang sangat haus akan gelar dan termasuk pemimpin yang otoriter.Dengan ambisi yang kuat untuk merajai segalanya. Hasrat dan mimpi yang tinggi dapat memberi dukungan terhadap diri kita sendiri dalam menggapai sebuah cita-cita, tetapi tidak dengan segala cara yang menyimpang dari aturan, kita harus bijaksana dalam mengambil tindakan dan tidak melakukannya dengan kecurangan. Kita harus memiliki sifat kepemimpinan untuk mengendalikan diri agar dapat mengatur hawa nafsu, sehingga apa yang kita lakukan akan sesuai dengan kaidah kehidupan yang hakiki

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  13. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Menghalalkan segara cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan akan memberikan dampak baik kecil maupun besar yang tak terbayangkan. Cara-cara yang ditempuh biasanya lebih ampuh dari kekerasan, yaitu fitnah, isu, dan gosip. Maka penting sekali untuk tidak mudah percaya akan hal-hal demikian

    ReplyDelete
  14. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Kerajaan stigma bertujuan menghancurkan percabaan kutarunggu, karena dianggap akan membahayakan kerajaan stigma. Untuk mencegah itu, stigmakomandan merayu dan mempengaruhi ahilu (orang yang memiliki kedudukan strategis pada percabaan Kutarunggu dan Sang Bagawat sering menggunakan pemikiran-pemikirannya untuk mempertimbangkan aspek kehidupan di Kutarunggu) agar terjadi kekacauan di Kutarunggu. Semua orang di Kutarunggu mengarahan pendengaran, penglihatan, perkataan dan perbuatan pada Ahilu. Padahal perkataan dan perbuatan Ahilu telah dikendalikan oleh stigmapanglima, artinya perkataan dan perbuatannya adalah perkataan dan perbuatan para stigma. Inilah yang terjadi sekarang, rencana power now untuk menguasai dunia adalah dengan mempengaruhi dan mengendalikan pemimpin-pemimpin rakyat atau orang-orang yang berpengaruh di negaranya agar ditiru dan menyebabkan perselisihan dan kehancuran.

    ReplyDelete
  15. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Elegi diatas menceritakan bahwa Stigmaraja mempunyai sifat yang sangat ambisius untuk menguasai segalanya, dengan menghalalkan segala cara, dan tidak rela apabila ada yang melebihi dirinya. Stigmaraja merasa tidak senang dengan percabaan Kutarunggu karena semakin banyak para cantriknya dan memerintahkan stigmapangla untuk memangsa para cantraman dengan menyebar fitnah, isu dan gosip.

    ReplyDelete
  16. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Elegi Kerajaan Stigma tersebut telah mengajarkan kita agar kita tidak mudah untuk percaya dengan berita yang belum jelas asalnya, karena bisa jadi berita tersebut adalah gosip. Jangan sampai kita langsung menerima berita jelek orang lain, yang menyebabkan kita turut memfitnah orang tersebut dan menimbulkan perpecahan di antara kita.

    ReplyDelete
  17. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Saat ini manusia memang sangat mudah di adu domba. Berita bohong, fitnah, iso, gosip, tersebar di mana-mana. Hal tersebut sangat berdampak buruk, terutama dapat menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat. Oleh karena itu kita jangan mudah percaya akan berita-berita yang tidak jelas asal-usulnya.

    ReplyDelete
  18. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    dari elegi diatas kita dijarkan agar tidak sembarangan mempercayai berita-berita, gosip, atau isu apapun yang beredar di sekitar kita karena hal tersebut belm tentu kebenarannya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. hal tersebut dikarenakan berita-berita yang tkdak diketahui kebenarannya jika dipercaya begitu saja akan mendatangkan perpecahan apalagi apabila terdapat dua informasi yang berbeda.

    ReplyDelete
  19. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    Dari potingan diatas, saya mendapatakn bahwa stigma saling bersaing agara stigma miliknya serng diunakan, saya belum thu mengapa stigma berlomba-lomba ingin menjadi stigma yang sering digunakan atau sering dikunjungi.

    ReplyDelete
  20. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Selamat malam Prof..
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari membaca elegi di atas adalah bahwa stigma yang diberikan atau disematkan kedalam diri seseorang dapat mempengaruhi perilaku orang tersebut, seperti yang digambarkan dalam elegi di atas. Seorang anak bisa menjadi benar-benar nakal, jika orang-orang di sekitarnya memberikan stigma atau cap nakal kepadanya. Karenanya, kita sebaiknya tidak dengan mudah memberikan stigma kepada orang lain. Maka dari itu, ibarat sebuah buku.. janganlah melihat buku dari sampulnya saja..

    ReplyDelete
  21. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    stigma adalah sesuatu yang tidak baik yang merupakan hal-hal yang perlu kita jauhi sebagai manusia karena dapat menimbulkan tercerai berainya silahturahim antara sesama. Ketika stigma telah merasuki manusia maka ia akan menyebarkan segala macam unsur fitnah yang bisa jadi menimbulkan keresahan di daerah itu, sehingga kehidupan masyarakat di daerah itu menjadi tidak tenang, tidak stabil dan lain sebagainya. untuk itu kita perlu menghindarinya dengan cara berpikir kritis dan melapangkan dada kita serta mensyukuri apa yang ada.

    ReplyDelete
  22. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Stigma dalam elegi ini adalah suatu keadaan dimana telah di doktrin untuk mengikuti kemauannya secara egois dan sombong untuk mempuaskan tujuan yang diinginkan, dengan kuasanya maka semua yang berada dalam naungannya harus mengikuti dan menuruti kehendaknya secara sepihak. Semua yang dilakukan adalah buruk semua. Dengan menyebarkan isu, fitnah, kemunafikan kepada yang lain sehingga yang lain akan mengikuti juga keburukan.

    ReplyDelete
  23. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Pengaruh isu, fitnah, yang telah disebarkan pada masyarakat membuat resah menimbulkan tidak aman baik dalam pribadi maupun dalam masyarakat. Hal ini kita harus mewaspadai adanya stigma ini karena kita harus membuktikan apakah memang benar adanya stigma ini. Yang namanya isu dan fitnah adalah tidak dibenarka oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  24. Retno Widyaningrum
    16701261004

    Mitis-miris dizaman sekarang ini stigma begitu mudah beredar didunia maya, yang dalam hitungan detik telah menyebar seantero dunia. Dan begitu banyak orang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyak. Anehnya ada juga yang dengan sengaja membuat stigma untuk dirinya sendiri hanya untuk mengejar keterkenalan di dunia (panggung sandiwara). Astaqfirullah ampuni dosa-dosa mereka. Semoga kita terhindar dari itu semua ...Aamiin yra...

    ReplyDelete
  25. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Dari elegi ini, saya mengetahui bahwa stigma sebenarnya banyak di sekeliling kita. Terutama stigma keburukan atau kejahatan. Saya ambil satu contoh. Seorang guru hendaknya menghindari stigma negatif terhadap para murid. Karena jika guru melakukan hal tersebut, pengetahuan yang disampaikan guru juga akan sulit sampai pada siswa. Sebaiknya guru ikhlas hati dan pikir dalam pembelajaran sehingga tidak ada lagi stigma-stigma negatif yang muncul.

    ReplyDelete
  26. Stigma adalah alasan paling berbahaya dari bentuk percabangan pikiran. Bahkan melalui stigma manusia bisa bercabang baik melalui keadaan yang dibuat maupun alamiah pikir dari masing-masing perspektif yang sengaja dibuat berbeda. Stigma akhirnya memengaruhi pikir polos manusia yang tadinya apa adanya menjadi ada apanya. Manusia berpikir dirinya punya stigma yang diharapkan selalu menguatkannya, keberadaan tiap stigma dipertaruhkan menjadi kewajiban berpikir dan sudut pandang orang lain yang dipaksakan menjadi arah yang belum jelas tujuannya.
    stigma mengubah paradigma, dan seterusnya sampai manusia berada di titik mitos paling bahaya. Manusia menjadi gunung yang besar dan menyeramkan.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP A UNY

    ReplyDelete
  27. Raja stigma yang licik dan berkuasa mampu mengubah paradigma, dan setiap kebijakannya ternyata bisa diubah dengan berbagai paradigma para panglima. Belum tentu benar sesuatu yang besar, belum tentu menjadi besar sesuatu yang dianggap benar. Perspektif dan paradigma serta stigma yang besar memengaruhi dalih-dalih kebenaran yang nyata dan benar adanya.
    Paradigma stigma
    "a mark of disgrace associated with a particular circumstance"
    jika masyarakat dihadapkan pada keadaan tanpa distribusi peran dan tugas, maka keadaan bisa membentuk pola sendiri, dan tiap pola tersebut mampu mengubah makna dari kebenaran. Perubahan paradigma masyarakat tanpa dukungan pola aksiologi, epistimologi, dan ontologi akan berada di titik terendah.
    "a mark of disgrace associated with a particular quality."
    Kualitas menjadi tolok ukur stigma, dalam penjabaran dan pembentukan makna antarparadigma, kualitas memang memagang peran penting. Namun bukan berarti satu-satunya faktor penentu keberhasilan pola tersebut adalah kualitas.
    "a mark of disgrace associated with a particular person."
    seseorang yang tiap ucapannya mampu membentuk stigma adalah bentuk power of person yang mengakar di budaya. Maka, manusia pintar mampu memilah dan memilih setiap perkataan yang baik dan benar. Baik sesuai konteks dan benar sesuai aturan,

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP A UNY

    ReplyDelete
  28. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Stigma dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Jika seseorang terkena stigma, maka ia akan selalu dikelilingi oleh hawa nafsu yang negatif. Pembicaraan orang kepada kita, jika belum tentu kebenarannya, sebaiknya jangan diambil serius, apalagi menyebarkannya lagi menjadi sesuatu yang benar. Karena yang menyebarkan stigma bisa saja tidak mengerti sedang membangun stigmanya sendiri dan membuat orang-orang percaya bahwa stigma tersebut adalah benar.

    ReplyDelete
  29. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Cerminan dunia ini yang digambarkan melalui kerajaan stigma di mana di dalamnya hiduplah orang-orang yang ingin menghalalkan segala cara demi apa yang ia inginkan. Ingin semuanya serba instan dan tak mau repot. Namun apakah itu tujuan hidup yang sebenarnya?

    ReplyDelete
  30. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Tujuan hidup ini tidak selalu tentang duniawi namun hidup ini juga tentang rohani. Stigma cenderung ingin menguasai dunia ini namun tidak memikirkan tentang dunia akhirat. Ini bukan tujuan hidup kita yang sebenarnya. Maka akankah kita tetap ingin hidup layaknya kerajaan stigma?

    ReplyDelete
  31. Contoh lainnya , misalkan dalam sistem sosial manusia, purusa adalah brahmana. Brahmana di sini berbeda dengan keturunan brahmana. Brahmana memiliki sifat-sifat yang sama dengan matahari. Brahmana dapat menjelaskan ajaran spiritual dengan baik. Brahmana memiliki porsi keraguan yang teramat kecil, sifat pemarah yang sangat kecil.

    Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    ReplyDelete
  32. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Contoh lain yang dekat dengan kita, misalkan dalam sistem pengajaran, purusa adalah guru. Guru adalah orang yang terfokus untuk memberikan ilmu kepada sang murid. Guru memiliki kesenangan jiwa yang baik dan dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya dengan jalan yang baik di luar hubungannya sebagai seorang guru dengan seorang murid. Guru memiliki kenetralan sifat sebagaimana matahari.

    ReplyDelete
  33. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Stigma adalah ciri negatif yang menempel pada diri manusia karena pengaruh lingkungan dan dirinya sendiri. Bahkan karena sifat negatif yang menempel pada diri manusia itu sendiri, maka bisa jadi muncul pandangan buruk baginya dari orang lain. Manusia tidak terlepas dari kesalahan, namun manusia sendiri dibekali akal pikiran dan spiritual yang dapat dibangun didalam hatinya, yang sekiranya dapat menghindar dari sisi negatif dalam hidupnya.

    ReplyDelete
  34. Budi Yanto
    1709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Power now mempengaruhi setiap kehidupan didunia ini. Hegemoni negara-negara dan pemilik modal besar menginginkan negara lain tunduk dengan perintahnya. Neokapitalisme, liberalisme, ditebar keseluruh penjuru dunia sebagai umpan yang menarik. Tidak peduli cara baik maupun cara buruk dengan adu domba, peperangan, fitnah, isu sara, menghancurkan negara-negara oposisi dan menjadi pesaing, serta serta menjauhkan dari agama karena salah satu cara untuk menguasai dunia timur adalah dengan menjauhkan dari agama yang dianut dunia timur. Power now dengan tujuan utamanya adalah untuk menguasai negara lain dan dunia dalam bidang politik, ekonomi, social budaya, teknologi dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  35. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Stigma secara bahasa adalah ciri negatif yang menempel pada diri seseorang akibat dari lingkungannya. Elegi di atas sesuai dengan 'Nila setitik rusak susu sebelangga'. Setiap manusia tidak terkecuali siapapun bisa mendapatkan stigma. Sebaik apapun orang tersebut jika sudah terkena stigma maka bisa berubahlah predikat kebaikannya tersebut. Jika stigma sdah melekat pada diri mak akan susah untuk memperbaikinya. Oleh karena itu kita senantiasa berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, dan ketika kita melakukannya maka kita harus melakukan nya dengan ikhlas dan juga selalu berdoa agar kita dapat terhindar dari segala stigma.

    ReplyDelete
  36. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Penguasa yang sombong padahal kesombongan bagaikan penyakit yang aneh. Yang menderita bukanlah orang yang mengidap penyakit tersebut, namun orang lain di sekilingnya. Orang yang menderita penyakit ini pada umumnya tidak merasakan gejala apa-apa, namun orang lain yang berinteraksi dengannya merasa mual dan muak. Penyakit arogansi ini menjangkiti semua orang: kaya dan miskin, bodoh dan pandai, jahat dan baik, ateis dan teis, Injili dan Liberal, Republican dan Democrat, Arminian dan Calvinist, dan seterusnya. Pendek kata, semua orang. Tidak ada yang imun dari penyakit ini. Yang menarik, penyakit ini dapat menjadi ganas dan menular apabila itu diderita oleh pemimpin, karena pengaruh yang dimiliki oleh pemimpin. Semakin besar pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin, karena peran atau posisinya, semakin berbahaya apabila ia menjadi sombong.

    ReplyDelete
  37. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Percaya atau tidak, jenis manusia yang sangat rentan dan mudah terjangkiti penyakit ini adalah pemimpin. Banyak pemimpin yang pada awal proses kepemimpinannya rendah hati berubah menjadi tinggi hati. Hal ini seringkali terjadi karena kuasa yang dilekatkan pada diri para pemimpin tersebut tatkala mereka diberi kepercayaan untuk memimpin orang lain (mempengaruhi, mengajar, memotivasi, memberdayakan, dan sebagainya).

    ReplyDelete
  38. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Persepsi ini seringkali disertai dengan perlakuan-perlakuan yang lebih istimewa terhadap pemimpin dibanding non-pemimpin. Kebutuhannya didahulukan dan keinginanannya dinomorsatukan. Orang sangat ingin mendengar pandangan dan pendapat pemimpin, sehingga apa yang ia katakan jauh lebih penting daripada perkataan orang lain.

    ReplyDelete
  39. Stigma yang merupakan persepsi negatif akan suatu hal sebaiknya kita hindari sejauh mungkin. Stigma akan selalu berusaha menggoda kita untuk melakukan apa yang mereka inginkan agar kita terjerumus melewati batas ruang dan waktu yang kita miliki. Stigma menggunakan berbagai macam cara untuk bisa mempenagruhi kita, tidak hanya bagi orang awam dengan sedikit ilmu bahkan sang ahli yang mumpuni ilmunya pun tidak terlepas dari gangguan para stigma. Jika stigma sudah mempengaruhi seorang pemimpin maka pengaruhnya akan lebih besar karena segala tindak tanduk seorang pemimpin menjadi perhatian bagi warganya. Oleh karena itu, kita harus pandai menjaga pikiran dan hati kita agar terhindar dari pengaruh buruk stigma. Seperti pepatah semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin banyak pula godaannya. Dengan selalu mengingat Allah dalam segala siatuasi dan kondisi kita dapat terhindar dari segala stigma tersebut.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  40. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Stigma sering di artikan sebagai sebuah pandangan negatif orang terhadap orang lain. Setiap orang mempunyai stigmanya masing-masing, stigma orang tidak selalu sama tapi berbeda. Seperti dalam elegi ini bahwa ada tiga stigma yaitu stigmaraja, stigmapangla dan stigmarakyat. ketiganya mempunyai stigmanya masing-masing. Stigma negatif seharusnya dihindari, karena hal tersebut bisa menjerumuskan kita kedalam sesuatu yang tidak baik. Cara menghindarinya adalah dengan selalu berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

    ReplyDelete
  41. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Ambisi untuk menguasai suatu hal menjadikan berbagai macam cara digunakan untuk mencapainya. Segala hal yang tidak mendukungnya dianggap musuh dan pesaing. Ambisi sebagai penguasa tunggal yang akan menghabisi pesaingnya.

    ReplyDelete
  42. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Stigma dalam elegi ini adalah suatu keadaan dimana telah di doktrin untuk mengikuti kemauannya secara egois dan sombong untuk memuaskan tujuan yang diinginkan, dengan kuasanya maka semua yang berada dalam naungannya harus mengikuti dan menuruti kehendaknya secara sepihak.

    ReplyDelete
  43. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Pada elegi kerajaan stigma, kerjaan stigma menggambarkan dimana stigma-stigma itu berkumpul, ada raja stigma dan anak buah stigmanya. Stigma tidak akan berhenti untuk mempengaruhi kita, mulai dari stigma yang sifatnya kecil atau sederhana sampai dengan stigma yang besar atau stigmaraja. Jika stigma sederhana atau digambarkan dengan anak buah stigma berhasil menyerang kita maka seterusnya stigma-stigma lain akan mudah menyerang kita. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam perkataan maupun perbuatan.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  44. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi ini menceritkan tentang Perilaku seorang raja stigma yang haus akan gelar dan termasuk pemimpin yang otoriter. Dengan ambisi yang kuat untuk mengusai segala sesuatu yang ada. Hasrat dan mimpi yang tinggi dapat memberi dukungan terhadap diri kita sendiri dalam menggapai sebuah cita-cita, tetapi tidak dengan segala cara yang menyimpang dari aturan, kita harus bijaksana dalam mengambil tindakan dan tidak melakukannya dengan kecurangan. dengan kata lain kerajaan stigma ini adalah kerajaan yang dibangun atar penyimpangan-penyimpangan. jangan sampai didiri kita terbangun kerajaan stigma yang kelam ini.

    ReplyDelete
  45. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb
    Stigma menurut saya adalah hal yang selalu ingin merusak atau antitesis dari kebaikan. Di dalam diri seseorang, ada beberapa bagian yang membangun kebaikan orang tersebut. Hati, pikiran, raga, dan jiwa. Jika satu saja tidak lengkap, tidak bisa dikatakan baik. Seperti suatu tiang penyangga. Satu sja dirobohkan semua akan oleng. Terutama hati. Hati yang jelek menyebabkan semua ikut jelek. Maka seringkali kita dengar, syaithan masuk ke dalam tubuh kita dengan menyusup dan membuat keraguan kecil di dalam hati kita untuk selanjutnya manusia itu bertambah ragu dan ragu akhirnya jauh dari Tuhan. Setan menyusup di aliran darah kita. Naudzubillah. Semoga kita dijauhkan dari hal tersebut.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  46. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Dari elegi di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa hendaknya kita jangan fanatik buta terhadap seseorang, guru, ahli, kelompok ataupun golongan. Jika kita fanatik buta terhadap guru kita maka kita akan mengikuti apapun yang dilakukan dan dikatakan oleh guru kita tanpa peduli benar atau salah. Padahal sang guru tersebut telah terkena stigma. Maka dari itu berdoalah kepada Allah dan tingkatkan kualitas diri dalam menuntut ilmu agar kita terhindar dari stigma baik secara langsung maupun melalui orang lain. (catatan: guru dalam arti intensif dan ekstensif).

    ReplyDelete
  47. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Stigmaraja memiliki ambisi untuk dapat menguasai dunia. Dari stigmaraja kita dapat mencontoh tekad kuatnya dalam memenuhi cita-cita. Akan tetapi, sikapnya yang menghalalkan berbagai cara dalam menggapai keinginannya itu salah dan tidak baik.

    ReplyDelete
  48. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Dari elegi ini saya dapat belajar bahwa menjadi baik saja tidak cukup, namun kita juga butuh menjadi orang baik yang berilmu. Karena sesungguhnya banyak orang yang ingin merusak dunia dengan menyebarkan fitnah, isu dan gosip. Apalagi di era media sosial ini yang sangat mudah menyebarkan hoax dan kebencian, maka berhati-hatilah dan berilmulah. Dan suatu masa akan datang seseorang yang bernama Ahilu dalam elegi ini, yang dipercayai dan dihormati oleh orang-orang, padahal ia penuh dengan tipu muslihat. Tetap berhati-hati dan berilmu.

    ReplyDelete
  49. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dalam hidup kita harus menghidari prasangka-prasangka buruk yang hadir dari pikiran dan hati kita. Kita harus bisa berprasangka baik atau berpikir positif terhadap segala hal. Namun tidak menutup kemungkinan kalau kita juga harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Hal ini berguna agar kita dapat mencari solusinya.

    ReplyDelete
  50. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Untuk mencari kemenangan dalam sebuah kompetisi kita harus berusaha dengan keras, namun cara yang digunakan juga haruslah yang baik. Kita tidak boleh saling menjatuhkan dengan cara menjelek-jelekan satu sama lain dan menyebar keburukan-keburukannya entah itu benar atau hanya sekedar gosip belaka. hal demikian akan memunculkan suatu pandangan yang tidak baik terhadap orang yang dijelek-jelekkanya tersebut, maka dari itu harus dihindari.

    ReplyDelete
  51. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Seorang yang bijak dan cerdas tidak akan mudah terpengaruh oleh gosip atau berita yang menyebar di mana-mana. Ia akan berusaha memastikan dan mencari tahu kebenaran dari berita tersebut, apakah memang fakta atau hanya sekedar gosip. Untuk menghindari kepercayaan kita akan hal tersebut, maka kita harus dapat berpikir dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih serta selalu memohon petunjuk kepada-Nya.

    ReplyDelete
  52. Stigma itu seperti sebuah bom yang siap meledak kapan saja. Pembunuh pikiran. Mampu meracuni orang di sekitarnya. Karena stigma bisa berupa fitnah, isu dan gosip. Sangat perlu bagi kita untuk tidak menjadi subjek stigma yang menelan setiap stigma begitu saja tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  53. Praneswari Kusuma Dewi
    13301241033
    Pendidikan Matematika A 2013

    Harta dan tahta terkadang bisa melalaikan manusia, memalingkan hatinya dari kebaikan dan kebenaran. Seseorang yang memiliki harta dan tahta adalah orang yang berkedudukan. Maka perkataannya bisa sangat berpengaruh, karena ia berusaha untuk menguasai segalanya. Maka supaya hidupnya tidak terjebak dalam kesesatan dunia, tidaklah hanya kekayaan disekelilingnya yang ia utamakan, tetapi juga kekayaan di dalam hatinyalah yang paling utama. Kekayaan hati akan senantiasa mengarahkan seseorang dalam kebaikan, mengembalikannya kepada rahmat dan ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  54. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya; tanda. Dalam elegi ini stigma melakukan berbagai cara agar tetap mempertahankan tahta yang dimilikinya. Baik buruk cara tersebut mereka hiraukan untuk memdapatkan apa yang mereka inginkan. Hal ini merupakan hal yang tidak baik. Pada kenyataannya kini banyak orang yang tergila-gila akan tahta dan kedudukan. Mereka melakukan berbagailah tidak melihat baik dan buruknya untuk mendapatkan kedudukan yang mereka inginkan.

    ReplyDelete
  55. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B
    Stigma negatif dan stigma positif itu muncul tergantung pada pola pikir dan kontrol hati seseorang. bila ia bisa berpikir jernih dan bisa mengyinkronkan hati dan pikiran nya dengan positif, maka hasil nya akan baik. begitu pula sebalikknya. walaupun memilki jabatan atau kekuasaan yang tinggi, tetaplah menghasilkan stigma postif bagi bawahan atau masyarakt lainnya. jangan menyalahgunakan sesuatu untuk mendapatkan kepuasaan tersendiri yang merugikan beribu umat.

    ReplyDelete
  56. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Stigma merupakan penialian negatif terhadap sesorang. Hendaknya kita melakukan tabayyun (kroscek) terhadap suatu berita sebelum kita memberikan penilaian kepada orang tersebut. Stigma juga berarti fitnah, isu, dan gosip. Sebagai seorang muslim, kita menghindari perkataan dan perbuatan demikian. Karena menjaga aib saudaranya merupakan perintah Allah. Adapun dalam melakukan nasihat terhadap orang yang terkena stigma, hendaknya dilakukan secara personal bukan diumumkan di depan umum.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    ReplyDelete
  57. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Sebagai raja, sudah sepatutnya jika raja bercita-cita ingin menguasai apa saja. Seperti dahulu ketika Indonesia masih berbentuk kerajaan-kerajaan, Sang Raja pasti memiliki cita-cita ingin memperluas wilayah kekuasaan. Namun cara yang dipilih seharusnya cara yang baik dan tidak melibatkan cara buruk. Begitu juga dengan manusia. Pasti manusia memiliki cita-cita dan cita-cita tersebut haruslah digapai dengan cara yang baik. Karena cara buruk hanya baik untuk sesaat.

    ReplyDelete
  58. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Untuk itu, benar saja jika rajastigma ingin menguasai dunia dengan Ahilu. Semua penduduk meyakini dengan perkataan dan perbuatan Ahilu. Dengan begitu, penduduk akan mudah menjadi stigma karena pengaruh Ahilu (sebagai lingkungan).

    ReplyDelete
  59. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dari elegi dan pengertian tentang stigma, dengan ciri negatifnya itu, stigma sangatlah berbahaya. Selain itu, stigma terbentuk karena pengaruh lingkungannya. Lingkungan adalah tempat manusia tinggal, sehingga manusia tidak bisa menghindari lingkungan dan secara otomatis tidak bisa menghindari stigma. Untuk itu, sebagai manusia yang tinggal di lingkungan yang beragam, sebaiknya selalu berhati-hati agar tidak terpengaruh oleh stigma.

    ReplyDelete
  60. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Jika kita lihat dari cita-cita rajastigma yaitu ingin menguasai dunia dengan cara apapun, cara baik maupun cara buruk. Dari situ sudah nampak bahwa stigma adalah suatu hal yang tidak baik. Karena stigma sangatlah berambisi untuk mengejar cita-cita dengan memasukkan cara buruk di dalamnya. Ini juga termasuk hedonisme. Hedonisme sangat lah tidak baik untuk manusia.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id