Feb 12, 2013

Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika

Berikut saya sampaikan artikel saya sebagai salah satu bahan yang akan digunakan untuk menyusun Buku Pedoman Pendidikan Karakter di Universitas Negeri Yogyakarta. Hak cipta dilindungi oleh UU. Pembaca dapat mengopi untuk kepentingan kajian akademik dan dapat menggunakannya sebagai referensi sepanjang tetap mencantumkan pengarangnya. Demikian selamat membaca.




Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika

Oleh Marsigit
Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA, UNY

A.Pendahuluan


Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah memunyai aspek pemahaman tentang hakikat matematika, hakikat matematika sekolah, hakikat pendidikan matematika, hakikat nilai matematika, hakikat belajar matematika, hakikat proses belajar mengajar matematika, hakikat pembudayaan matematika sekolah.

Di sisi lain, secara umum, pendidikan karakter harus mampu menjelaskan hakikat karakter, implementasi dan contoh-contohnya, menjelaskan sumber-sumber pengetahuan dan nilai-nilai dan macam-macam karakter yang harus digali dan dikembangkan, ukuran atau pembenaran kelaziman karakter dalam lingkup pribadi, kelompok, berbangsa dan secara universal.

Jika karakter dipandang sebagai nilai yang perlu digali, dikembangkan dan diimplementasikan, maka konteks ruang dan waktu serta arah pengembangannya menjadi sangat penting.

Pendidikan matematika dapat dipandang sebagai suatu keadaan atau sifat atau bahkan nilai yang bersinergis dengan pendidikan karakter. Perpaduan atau sinergi antara pendidikan karakter dan pendidikan matematika merupakan keadaan unik sebagai suatu proses pembelajaran yang dinamis yang merentang dalam ruang dan waktunya pembelajaran matematika yang berkarakter konteks ekonomi, social, politik, dan budaya bangsa.

Dengan demikian, pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan potensi sekaligus fakta yang harus menjadi bagian tidak terpisahkan bagi setiap insan pengembang pendidikan, baik pendidik, tenaga pendidik maupun pengambil kebijakan pendidikan.

Secara umum, kiranya semua sependapat bahwa tidak mudah memahami kompleksitas karakter sebagai suatu nilai atau suatu objek. Jika kita memikirkan karakter sebagai suatu objek maka secara umum apapun yang kita bicarakan, selalu berkaitan dengan dua hal pertanyaan yaitu:
Apa objek dan apa metodenya?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan karakter itu?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan matematika itu?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan karakter dalam pendidikan matematika itu?
Untuk dapat menjawab semua pertanyaan itulah, kita memerlukan kajian tentang hakikat dari semua aspek yang terkandung di dalam pendidikan karakter dan pendidikan matematika.

Prinsip-prinsip dasar pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika meliputi berbagai proses yang secara hirarkhis merentang mulai dari kesadaran diri dan lingkungan, perhatian, rasa senang dan rasa membutuhkan disertai dengan harapan ingin mengetahui, memiliki dan menerapkannya, merasa perlunya memunyai sikap yang selaras dan harmoni dengan keadaan di sekitarnya, baik dalam keadaan pasif maupun aktif, serta mengembangkannya dalam bentuk tindakan dan perilaku berkarakter; merasa perlunya disertai usaha untuk mencari informasi dan pengetahuan tentang karakter dan karakter dalam matematika, yang dianggap baik, mengembangkan keterampilan menunjukan sifat, sikap dan perilaku berkarakter dalam pendidikan matematika, serta keinginan dan terwujudnya pengalaman mengembangkan hidupnya dalam bentuk aktualisasi diri berkarakter dalam pendidikan matematika, baik secara sendiri, bersama atau pun dalam jejaring sistemik.

B.Matematika dan Pendidikan Karakter


Secara material objek matematika dapat berupa benda-benda konkret, gambar atau model kubus, berwarna-warni lambang bilangan besar atau kecil, kolam berbentuk persegi, atap rumah berbentuk limas, piramida-piramida di Mesir, kuda-kuda atap rumah berbentuk segitiga siku-siku, roda berbentuk lingkaran, dan seterusnya. Secara material objek matematika itu berada di lingkungan atau sekitar kita.

Secara formal objek matematika berupa benda-benda pikir. Benda-benda pikir diperoleh dari benda konkret dengan melakukan abstraksi dan idealisasi.

Abstraksi adalah kegiatan yang hanya mengambil sifat-sifat tertentu saja untuk dipikirkan atau dipelajari.

Idealisasi adalah kegiatan yang menganggap sempurna sifat-sifat yang ada. Dari model kubus yang terbuat dari kayu jati, dengan abstraksi kita hanya mempelajari bentuk dan ukuran saja.

Dengan idealisasi kita memperoleh informasi bahwa ruas-ruas kubus berupa garis lurus yang betul-betul lurus tanpa cacat.

Secara normatif, objek-objek matematika berupa makna yang terkandung di dalam objek-objek material dan formal.

Makna-makna yang terungkap dari matematika material dan matematika formal itulah kemudian yang menghasilkan value atau nilai matematika.

Misalnya, objek matematika material berupa “bilangan 2 yang terbuat dari papan triplek yang digergaji dan kemudian diberi warna yang indah”.

Di dalam khasanah matematika material, kita dapat memikirkan bilangan 2 yang lebih besar, bilangan 2 yang lebih kecil, bilangan 2 yang berwarna merah, bilangan 2 yang berwarna biru, dan seterusnya.

Pada dimensi formal terdapat pencampuradukan antara pengertian bilangan dan angka. Tetapi, begitu kita memasuki dimensi matematika formal, semua sifat dari bilangan 2 tadi kita singkirkan, dan yang kita pikirkan sifat nilai nya saja dari 2.

Kita tidak mampu memikirkan nilai bilangan 2 jika kita tidak memiliki bilangan-bilangan yang lain. Nilai bilangan 2 adalah lebih besar dari bilangan 1, tetapi lebih kecil dari bilangan 3.

Secara normatif, makna bilangan 2 mengalami ekstensi dan intensi.

Jika diintensifkan, bilangan 2 dapat bermakna “genap”, dapat bermakna “pasangan”, dapat bermakna “bukan ganjil”, dapat bermakna “ayah dan ibu”, atau dapat bermakna “bukan satu”. Secara metafisik, bilangan 2 dapat bermakna “jarak antara dua hal” misalnya jarak antara potensi dan vitalitas, jarak antara konkret dan abstrak, jarak antara subjek dan objek, dan seterusnya.

Jika diekstensifkan, maka makna bilangan 2 dapat berupa 2 teori, 2 teorema, 2 sistem matematika, 2 variabel, 2 sistem persamaan, dan seterusnya. Dengan cara yang sama kita dapat melakukan intensi dan ekstensi untuk semua objek matematika.

Uraian di atas barulah tentang dimensi matematika dari bilangan 2 dan objek-objek matematika yang lainnya.

Jika ingin menguraikan bagaimanakah implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah, kita masih harus memikirkan pendidikan matematika, pembelajaran matematika, berpikir matematika, dan seterusnya.

Katagiri (2004) menguraikan bahwa berpikir matematika meliputi 3 aspek: pertama, sikap matematika, kedua, metode memikirkan matematika, dan ketiga, konten matematika.

Berpikir matematika juga merentang berpikir matematika pada dimensinya. Artinya, ada berpikir matematika di tingkat sekolah/material, atau perguruan tinggi/formal.

Secara umum, sikap matematika ditunjukkan oleh indikator adanya rasa senang dan ikhlas untuk mempelajari matematika, sikap yang mendukung untuk mempelajari matematika, pengetahuan yang cukup untuk mempelajari matematika, rasa ingin tahu, kemamuan untuk bertanya, untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman matematika.

Secara pragmatis, kita dapat menyatakan bahwa matematika adalah himpunan dari nilai kebenaran yang terdiri dari teorema-teorema beserta bukti-buktinya.

Sementara itu, filsafat matematika muncul ketika kita meminta pertanggungjawaban akan kebenaran matematika. Oleh karena itu, filsafat matematika merupakan pandangan yang memberikan gambaran penting dan menerangkan secara tepat bagaimanakah seseorang dapat mengerjakan matematika.

Perbedaan filsafat matematika yang dianut akan menyebabkan perbedaan praktik dan hasil pendidikan matematika. Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan implikasi dari kesadaran akan pentingnya refleksi kegiatan matematika melalui kajian matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensinya.

Dengan demikian implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mengandung makna seberapa jauh kita mampu melakukan kegiatan dalam rentang niat, sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat dicapai atas dasar pemahaman tentang pengetahuan matematika yang bersifat objektif dan pelaku matematika yang bersifat subjektif di dalam usahanya untuk memperoleh justifikasi tentang kebenaran matematika melalui kreasi, formulasi, representasi, publikasi dan interaksi.

Secara eksplisit implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mendasarkan pada :
(1) pengetahuan matematika pada berbagai dimensinya, yang meliputi hakikat, pembenaran, dan kejadiannya,
(2) objek matematika pada berbagai dimensinya yang meliputi hakikat dan asal-usulnya,
(3) penggunaan matematika formal yang meliputi efektivitasnya dalam sains, teknologi, dan ilmu lainnya, serta
(4) praktik matematika pada berbagai dimensi secara lebih umum termasuk aktivitas para matematikawan atau aktivitas matematika para siswa SD.

C.Pendidikan Matematika dan Pendidikan Karakter

Secara umum diakui bahwa isi dan metode matematika formal, karena hakikatnya, membuat matematika menjadi abstrak, umum, formal, objektif, rasional, dan teoretis. Ini adalah hakikat ilmu pengetahuan dan matematika.

Dengan pendekatan ini kaum absolutis membangun matematika formal yang dianggapnya sebagai netral dan bebas nilai (Shirley, 1986). Hal-hal yang terikat dengan implikasi sosial dan nilai-nilai yang menyertainya, secara eksplisit, dihilangkannya.

Para absolutis teguh pendiriannya dalam memandang secara objektif kenetralan matematika formal. Tetapi dalam kenyataannya, nilai-nilai yang terkandung dalam hal-hal tersebut di atas, membuat masalah-masalah tidak dapat dipecahkan. Hal ini disebabkan karena mendasarkan hal-hal yang bersifat formal saja hanya dapat menjangkau pada pembahasan bagian luar dari matematika itu sendiri.

Matematika yang dipromosikan itu sendiri secara implisit sebetulnya mengandung nilai-nilai. Abstrak adalah suatu nilai terhadap konkret, formal suatu nilai terhadap informal, objektif terhadap subjektif, pembenaran terhadap penemuan, rasionalitas terhadap intuisi, penalaran terhadap emosi, hal-hal umum terhadap hal-hal khusus, teori terhadap praktik, kerja dengan pikiran terhadap kerja dengan tangan, dan seterusnya.

Jika berkehendak menerima kritik yang ada, sebetulnya pandangan mereka tentang matematika formal yang netral dan bebas nilai juga merupakan suatu nilai yang melekat pada diri mereka dan sulit untuk dilihat.

Kaum social constructivits memandang bahwa matematika merupakan karya cipta manusia melalui kurun waktu tertentu. Semua perbedaan pengetahuan yang dihasilkan merupakan kreativitas manusia yang saling terkait dengan hakikat dan sejarahnya.

Akibatnya, matematika dipandang sebagai suatu ilmu pengetahuan yang terikat dengan budaya dan nilai penciptanya dalam konteks budayanya.

Sejarah matematika adalah sejarah pembentukannya, tidak hanya yang berhubungan dengan pengungkapan kebenaran, tetapi meliputi permasalahan yang muncul, pengertian, pernyataan, bukti dan teori yang dicipta, yang terkomunikasikan dan mengalami reformulasi oleh individu-individu atau suatu kelompok dengan berbagai kepentingannya.

Pandangan demikian memberi konsekuensi bahwa sejarah matematika perlu direvisi. Dengan demikian, pemikiran kaum social constructivist mengarah kepada kebutuhan matematika material.

Kaum absolutis berpendapat bahwa suatu penemuan belumlah merupakan matematika dan matematika modern merupakan hasil yang tak terhindarkan.

Namun, bagi kaum ‘social constructivist’ matematika modern bukanlah suatu hasil yang tak terhindarkan, melainkan merupakan evolusi hasil budaya manusia.

Joseph (1987) menunjukkan betapa banyaknya tradisi dan penelitian pengembangan matematika berangkat dari pusat peradaban dan kebudayaan manusia.

Sejarah matematika perlu menunjuk matematika, filsafat, keadaan sosial dan politik yang bagaimanakah yang telah mendorong atau menghambat perkembangan matematika.

Sebagai contoh, Henry dalam Ernest (1991: 34) mengakui bahwa calculus dicipta pada masa Descartes, tetapi dia tidak suka menyebutkannya karena ketidaksetujuannya terhadap pendekatan infinitas.

Restivo, MacKenzie dan Richards dalam Ernest (1991 : 203) menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara matematika dengan keadaan sosial; sejarah sosial matematika lebih tergantung kepada kedudukan sosial dan kepentingan pelaku dari pada kepada objektivitas dan kriteria rasionalitasnya.

Kaum social constructivist berangkat dari premis bahwa semua pengetahuan merupakan karya cipta. Kelompok ini juga memandang bahwa semua pengetahuan memiliki landasan yang sama, yaitu ‘kesepakatan’.

Baik dalam hal asal-usul maupun pembenaran landasannya, pengetahuan manusia memiliki landasan yang merupakan kesatuan, dan oleh karena itu semua bidang ilmu pengetahuan manusia saling terikat satu dengan yang lain.

Akibatnya, sesuai dengan pandangan kaum social constructivist, matematika tidak dapat dikembangkan jika tanpa terkait dengan pengetahuan lain, dan yang secara bersama-sama memunyai akarnya.

Dengan sendirinya matematika tidak terbebaskan dari nilai-nilai dari bidang pengetahuan yang diakui karena masing-masing terhubung olehnya.

Karena matematika terkait dengan semua pengetahuan diri manusia (subjektif), jelaslah bahwa matematika tidak bersifat netral dan bebas nilai.

Dengan demikian matematika memerlukan landasan sosial bagi perkembangannya (Davis dan Hers dalam Ernest 1991 : 277-279).

Dengan demikian hakikat mempelajari matematika adalah mempertemukan pengetahuan subjektif dan objektif matematika melalui interaksi sosial untuk menguji dan merepresentasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang telah diperolehnya.

Di dalam usahanya untuk memperoleh atau mempelajari pengetahuan objektif matematika, siswa mungkin perlu mengembangkan prosedur, misalnya : mengikuti langkah yang dibuat orang lain, membuat langkah secara informal, menentukan langkah awal, menggunakan langkah yang telah dikembangkan, mendefinisikan langkah sehingga dapat dipahami orang lain, membandingkan berbagai langkah, dan menyesuaikan langkah.

Melalui langkah-langkah demikian, siswa akan memperoleh konsep matematika yang telah teraktualisasi dalam dirinya sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan matematikanya bersifat subjektif.

Namun, dalam beberapa hal, pengetahuan subjektif matematikanya belum tentu sesuai dengan pengetahuan objektifnya.

Untuk mengetahui apakah pengetahuan subjektif matematikanya telah sesuai dengan pengetahuan objektifnya, siswa perlu diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan publikasi.

Kegiatan publikasi matematika dalam praktiknya dapat berupa tugas-tugas yang diberikan oleh guru, pekerjaan rumah, membuat makalah, atau pun mengikuti ujian.

Interaksi sosial di antara para siswa dan guru akan dapat memberikan kegiatan kritisisasi untuk pembetulan konsep-konsep sehingga siswa akan memperoleh perbaikan konsep, dan akhirnya pengetahuan subjektif matematikanya telah sama dengan pengetahuan objektifnya.

Hubungan antara pengetahuan objektif dan pengetahuan subjektif matematika dan langkah-langkah implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat diturunkan dari konsep yang diadaptasi dari Ernest.P (1991) sebagai berikut.


D.Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika


Hartman (1942) menggariskan bahwa apa pun tentang objek pikir, termasuk matematika, selalu memunyai nilai meliputi empat hal: nilai dikarenakan maknanya, nilai dikarenakan tujuan atau manfaatnya, nilai dikarenakan fungsinya dan nilai dikarenakan keunikannya.

Agar dapat dilakukan usaha implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah, seyogyanya kita menggunakan dimensi matematika material atau matematika pada dimensi transisi menuju matematika formal.

1.Pendidikan Karakter dan Hakikat Matematika Sekolah


Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah dapat diawali dengan mendefinisikan hakikat matematika sekolah.

Ebbutt dan Straker (1995) mendefinisikan matematika sekolah sebagai:
(1) kegiatan matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan,
(2) kegiatan matematika memerlukan kreativitas, imajinasi, intuisi dan penemuan, (3) kegiatan dan hasil-hasil matematika perlu dikomunikasikan,
(4) kegiatan problem solving merupakan bagian dari kegiatan matematika,
(5) algoritma merupakan prosedur untuk memperoleh jawaban-jawaban persoalan matematika, dan
(6) interaksi sosial diperlukan dalam kegiatan matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah dapat menekankan kepada hubungan antarmanusia dan menghargai adanya perbedaan individu baik dalam kemampuan maupun pangalaman.

Matematika dipandang sebagai kebenaran absolut dan pasti, tetapi peran individu sangat menonjol dalam pencapaiannya.

Tetapi, siswa dapat dipandang sebagai makhluk yang berkembang (progress). Oleh karena itu matematika dipandang secara lebih manusiawi yang antara lain dapat dianggap sebagai bahasa, dan kreativitas manusia.

Pendapat pribadi dihargai dan ditekankan. Siswa memunyai hak individu untuk melindungi dan mengembangkan diri dan pengalamannya sesuai dengan potensinya.

Kemampuan mengerjakan soal-soal matematika adalah bersifat individu. Teori belajar berdasarkan anggapan bahwa setiap siswa berbeda antara satu dengan lain dalam penguasaan matematika.

Siswa dianggap memunyai kesiapan mental dan kemampuan yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika. Oleh karena itu, setiap individu memerlukan kesempatan, perlakuan, dan fasilitas yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dan pembelajaran matematika berimplikasi kepada fungsi guru sebagai fasilitator sebaik-baiknya agar siswa dapat mempelajari matematika secara optimal.

Matematika dipandang bukan untuk diajarkan oleh guru, tetapi untuk dipelajari oleh siswa. Siswa ditempatkan sebagai titik pusat pembelajaran matematika.

Guru bertugas menciptakan suasana, menyediakan fasilitas, dan lainnya, sedang peranan guru lebih bersifat sebagai manajer daripada pengajar.

Pembelajaran dilakukan dalam suasana yang kondusif, yaitu suasana yang tidak begitu formal.

Siswa mengerjakan kegiatan matematika yang berbeda-beda dengan target yang berbeda-beda.

Guru memunyai tiga fungsi utama yaitu: sebagai fasilitator, sumber ajar dan pemonitor kegiatan siswa.

Dengan demikian, guru dapat mengembangkan metode pembelajaran secara bervarisasi: ceramah, diskusi, pemberian tugas, seminar, dan sebagainya. Sumber belajar atau referensi merupakan titik sentral dalam pembelajaran matematika.

Variasi sumber belajar atau referensi diperlukan termasuk buku-buku, jurnal, dan akses ke internet. Penilaian dilakukan dengan pendekatan asesmen, portofolio, atau autenthic assessment.

2.Hermenitika Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika


Unsur dasar hermenitika implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika adalah kegiatan mengomunikasikan matematika pada berbagai dimensi.

Komunikasi dapat didefinisikan sebagai berbagai bentuk vitalitas potensi-potensi relational antara subjek-subjek, subjek-objek, objek-subjek atau objek-objek. Bentuk vitalitas memiliki makna kesadaran dan perubahan ke dalam, paralel atau keluar dari diri potensi.

Oleh karena itu salah satu sifat vitalitas adalah sifat relational dan sifat penunjukkan kepada subjek atau objek di dalam, paralel atau diluar dirinya.

Maka, terbentuklah suatu relasi yang bersifat fungsional diantara subjek-subjek atau objek-objek.

Sifat penunjukkan terhadap subjek atau objek selain dirinya disebut juga sebagai sifat determine.

Satu-satunya substansi yang tidak dapat dihilangkan dari relasi penunjukkan atau determine adalah “sifat”.

Jadi, untuk dapat memahami secara ontologis hakikat komunikasi matematika, kita harus dapat memahami sifat, bukan sebagai sifat, tetapi sifat sebagai subjek dan sifat sebagai objek.

Jika sifat-sifat sudah melekat pada subjek atau objeknya, maka kita dapat mengatakan sebagai ciri-ciri subjek atau ciri-ciri objek berdasar sifat-sifatnya.

Jadi komunikasi matematika merupakan bentuk vitalitas dari potensi korelational yang memunyai sifat-sifat penunjukkan atau determine, yaitu terkarakterisasikannya sifat-sifat yang terjunjuk berdasar sifat-sifat penunjuk.

Dimensi komunikasi ditentukan oleh sifat apakah sifat dari subjek atau objeknya memunyai sifat dengan arah ke dalam, arah paralel, atau arah ke luar.

Dimensi komunikasi juga ditentukan oleh banyaknya satuan potensi matematika yang terlibat dan ragam vitalitas yang diakibatkan.

Secara harfiah, kristalisasi dimensi komunikasi matematika memberikan makna adanya komunikasi material matematika, komunikasi formal matematika, dan komunikasi normatif matematika.

a.Pendidikan karakter melalui komunikasi material matematika


Komunikasi material matematika didominasi oleh sifat horisontal arah vitalitasnya.

Dilihat dari segi keterlibatannya, jumlah satuan potensi yang terlibat adalah bersifat minimal jika dibandingkan dengan komunikasi dari dimensi yang lainnya.

Maka, sebagian orang dapat memperoleh kesadaran bahwa komunikasi material matematika adalah komunikasi dengan dimensi paling rendah.

Sifat korelasional sejajar memiliki makna kesetaraan antara subjek atau objek komunikasi. Implikasi dari kesetaraan subjek dan objek adalah bahwa mereka memiliki posisi yang paling lemah dalam sifat penunjukannya.

b.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Formal Matematika

Komunikasi formal matematika didominasi oleh sifat-sifat korelasional ke luar atau ke dalam dari vitalitas potensinya.

Korelasi ke luar atau ke dalam memunyai makna perbedaan antara sifat-sifat yang di luar dan sifat-sifat yang di dalam.

Korelasi antara perbedaan sifat itulah yang menentukan sifat dari subjek atau objek komunikasinya.

Implikasi dari perbedaan sifat-sifat subjek atau sifat-sifat objek memberikan penguatan adanya perbedaan sifat penunjukan.

Vitalitas dari subjek matematika dengan potensi lebih besar akan mengukuhkan dirinya tetap bertahan sebagai subjek, sedangkan vitalitas dari subjek dengan potensi lebih kecil akan menggeser peran subjek dirinya menjadi peran objek bagi subjeknya.

Intuisi two-oneness akan membantu subjek matematika untuk memahami objek matematika.

c.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Normatif Matematika


Komunikasi normatif matematika ditandai dengan meluruhnya sifat-sifat penunjukan korelasionalitas penunjukannya pada diri subjek dan objeknya.

Namun demikian, komunikasi dikatakan memunyai dimensi yang lebih tinggi dikarenakan keterlibatan satuan-satuan potensinya lebih banyak, lebih luas, dan lebih kompleks.

Meluruhnya sifat penunjukan korelasional horisontal bukan disebabkan oleh lemahnya potensi dan vitalitas komunikasi, tetapi semata-mata dikarenakan luasnya jangkauan dan keterlibatan satuan-satuan potensi dan vitalitas baik pada diri subjek maupun objek.

Maka, pada komunikasi normatif dapat dideskripsikan sifat-sifat pada subjek dan objeknya sebagai subjek yang memunyai potensi dan vitalitas matematika yang tinggi, tetapi memunyai korelasional horisontal yang rendah.

Dapat dimengerti bahwa pada komunikasi normatif matematika, sifat-sifat korelasional ke dalam dan keluar bersifat semakin kuat. Mereka semakin kuat jika dibandingkan pada komunikasi material ataupun komunikasi formal.

Keadaannya dapat digambarkan sebagi suatu gencatan senjata atau cease fire di antara potensi dan vitalitas matematika ke dalam dan ke luarnya.

Struktur komunikasi demikian ternyata merupakan struktur komunikasi yang lebih banyak mampu menampung karakteristik subjek atau objek komunikasi matematika.

Komunikasi normatif matematika ditandai adanya sifat-sifat ideal yang abstrak dari potensi dan vitalitas subjek dan objek matematika, misalnya keadaan baik atau buruknya matematika, pantas atau tidak pantasnya matematika, seyogyanya atau tidak seyogyanya matematika, bermanfaat atau tidaknya konsep matematika, dan seterusnya.

d.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Spiritual Matematika


Sifat-sifat korelasional keluar dari konsep matematika menunjukkan keadaan semakin jelas dan tegasnya apakah dalam bentuk ke luar ke atas atau ke luar ke bawah.

Korelasionalitas potensi dan vitalitas matematika ke atas akan mentransformasikan bentuk komunikasi ke dimensi yang lebih atas yaitu komunikasi spiritual matematika.

Di pihak lain, korelasional potensi dan vitalitas ke bawah akan mentransformasikan bentuk komunikasi matematika ke dimensi yang lebih bawah, yaitu komunikasi formal matematika atau komunikasi material matematika.

Maka komunikasi spiritual matematika menampung semua komunikasi yang ada dan yang mungkin ada. Komunikasi ke dalam akan memberikan sifat penunjukan absolut bagi subjek dan objek matematika.

Komunikasi ke luar ke atas akan meluruhkan semua sifat subjek dan objek matematika sehingga dicapai keadaan subjek dan objek komunikasi dengan sifat tanpa sifat.

Keadaan subjek dengan sifat tanpa sifat itu adalah keadaan di mana subjek dan objek komunikasi juga meluruh ke dalam keadaan di mana subjek dan objek matematika yang tidak dapat dibedakan lagi.

Artinya, tiada subjek dan objek komunikasi matematika pada tataran metafisik dari komunikasi spiritual dapat diidentifikasi dengan menggunakan hubungan korelasional potensi dan vitalitas subjek dan objek.

Hubungan korelasional ke dalam kemudian mentransformaikans semua potensi dan vitalitas matematika ke dalam subjek absolut.

Subjek absolut merupakan subjek dengan dimensi tertinggi yang mengatasi segala subjek dan objek komunikasi sekaligus juga mengatasi semua jenis komunikasi yang ada dan yang mungkin ada.

E.Pendidikan Karakter di dalam Pengembangan dan Inovasi Pendidikan Matematika


Implementasi pendidikan karakter di dalam kaitannya dengan pengembangan dan inovasi pendidikan matematika dapat diperoleh melalui berbagai kegiatan yang mencakup semua aspek pembelajaran matematika.

Berbagai persoalan dan tantangan akan timbul sesuai dengan konteks ruang dan waktu dimana pembelajaran matematika itu diselenggarakan.

Berikut adalah butir-butir yang dapat digunakan sebagai bahan renungan dan kajian lebih lanjut:
1)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pengembangan PBM matematika yang menekankan kepada proses?
2)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pembelajaran matematika kooperatif learning?
3)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam belajar kelompok matematika?
4)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui belajar matematika di luar kelas?
5)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui permainan matematika?
6)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui variasi model pembelajaran matematika?
7)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan benda-benda konkret dalam PBM matematika?
8)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pembelajaran kontekstual matematika?
9)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan alam sekitar dalam PBM matematika?
10)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui team teaching matematika?
11)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dengan cara mendorong inisiatif siswa dalam PBM matematika?
12)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dengan cara meningkatkan peran siswa dalam PBM matematika?
13)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pengembangan variasi sumber belajar matematika?
14)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan alat peraga matematika?
15)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter berbagai percobaan matematika?
16)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam perencanaan pembelajaran matematika yang inovatif?
17)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter pada diskusi matematika?
18)Bagaimanakah guru mampu memonitor aspek pendidikan karakter dalam PBM matematika?
19)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam lesson study pembelajaran matematika?
20)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan presentasi siswa?
21)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kemandirian belajar matematika?
22)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui peningkatan peran fasilitator guru?
23)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam kegiatan asesment matematika?
24)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan remedial matematika?
25)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter pada kegiatan apersepsi siswa?
26)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan melalui variasi interaksi dan komunikasi matematika?
27)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui peningkatan kreativitas siswa?
28)Bagaimanakah mewujudkan portfolio pendidikan karakter dalam PBM matematika?
29)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan konstruksi konsep-konsep matematika secara mandiri?
30)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui matematika realistik?
31)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam kegiatan refleksi siwa?
32)Bagaimanakah mengembangkan instrument observasi pendidikan karakter dalam PBM matematika?
33)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter yang selaras dengan konsep “Education is for All?”
34)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter sesuai dengan kebutuhan belajar matematika siswa?
35)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pengembangkan LKS pembelajaran matematika?



E. Kesimpulan

Untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi.

Dimensi makna karakter dalam pendidikan matematika dapat dilihat dari sisi dimensi karakter matematika, karakter pendidikan matematika yang meliputi karakter guru matematika dan karakter siswa belajar matematika, baik untuk contoh-contoh konkret maupun bentuk-bentuk idealnya.

Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normative, dan komunikasi spiritual.

Dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika, kita memerlukan pendekatan yang lebih cocok dengan dunia siswa belajar matematika.

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah.

Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.

Pada akhirnya, implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajran matematika yang dilakukan secara terusmenerus baik secara instrinsik, ekstrinsik, atau sistemik.

DAFTAR PUSTAKA
Ebbutt, S dan Straker, A., 1995, Children and Mathematics: A Handbook for Teacher, London: Collins Educational.
Ernest, P., 1991, The Philosophy of Mathematics Education, London: The Falmer Press.
Kant, I., 1781, “The Critic Of Pure Reason: SECTION III. Systematic Representation of all Synthetical Principles of the Pure Understanding” Translated By J. M. D. Meiklejohn, Diunduh tahun 2003
Shirley, 1986, Mathematics Ideology, London : The Falmer Press

35 comments:

  1. Tety Dwi Setyaningsih
    14709251088
    P. Mat B

    Pendidikan matematika di sekolah, dan pendidikan formal pada umumnya, cenderung menghasilkan lulusan yang mempunyai banyak pengetahuan (khususnya pengetahuan faktual), tetapi miskin dalam kemampuan berpikir, dan kurang dalam hal kepribadian, termasuk berjiwa penakut, kurang berani mengambil keputusan, dan kurang berani bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan.Kurikulum baru akan bernasib sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya jika antara lain tidak dikawal dengan paradigma pembelajaran yang tepat dan tidak ditangani oleh guru-guru yang profesional dan berpikiran inovatif.

    ReplyDelete
  2. Nuraida Lutfi Hastuti
    NIM 11301241031
    Pendidikan Matematika

    Berikut ini pernyataan Bapak Marsigit:
    “Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah.

    Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.”

    Jika pernyataan tersebut dikaitkan dengan Kurikulum 2013 (K13) menurut saya itu sejalan. Dalam K13 ditekankan pendidikan karakter melalui KD 1 dan KD 2. Sedangkan penanaman konsep matematika tetap dilakukan untuk siswa. Hal tersebut dilakukan melalui 5 langkah pembelajaran Saintifik yaitu mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi/menalar, dan mengkomunikasikan. Oleh sebab itu, meskipun masih ada pandangan kurang baik terhadap K13 tetapi hal ini sudah menjadi kebijakan pemerintah. Sebagai guru yang profesional, seharusnya dapat menyikapi dengan bijak perubahan tersebut. Bukankah perubahan itu untuk menuju kebaikan. Hal yang penting adalah memperhatikan kebutuhan siswa kita. Siswa bukan hanya membutuhkan ilmu matematika tetapi juga ilmu kehidupan melalui pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran matematika. Hal itu sebagai bekal nantinya dalam kehidupan bermasyarakat.

    ReplyDelete
  3. Pendidikan karakter sangat penting dalam dunia pendidikan. Pendidikan karakter hendaknya diiterapkan pada anak sedini mungkin. Pendidikan karakter dapat menjadi sarana untuk menanamkan moral-moral yang baik pada diri anak. Diharapkan moral yang baik akan melekat pada diri mereka hingga mereka dewasa. Usia anak-anak merupakan usia emas bagi mereka untuk diberikan pendidikan-pendidikan yang mereka butuhkan. Itulah yang mendasarii pentingnya pendidikan karakter dilakukan sejak kecil. Penting untuk disisipkan pendidikan karakter baik dalam pendidikan formal maupun no formal. Pendidikan karakter dappat dikolaborasikan dengan setiap mata pelajaran, termasuk matematika. Semoga pendidikan karakter yang sedang diterapkan efektif mencetak generasi penerus bangsa yang unggul

    ReplyDelete
  4. Rila Reva Yanti
    11313244025

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dalam kurikulum 2013, aspek yang ditekankan bukan hanya aspek pengetahuan maupun intelektual, namun juga aspek kognitif yang dinilai oleh diri sendiri, teman sejawat maupun pengamatan guru. Penekanan aspek sikap ini menjadi penting karena apabila siswa hanya mementingkan aspek intelektualnya saja, maka akan tercipta lulusan yang hanya akan tertuju pada motif mementingkan dan menguntungkan diri sendiri. Namun apabila ditekankan juga aspek afektifnya, maka diharapkan nantinya siswa akan memiliki kehidupan social yang lebih baik.

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum wr wb.
    Lisda fitriana masitoh (14709251008 P.Mat A 2014)

    Pendidikan karakter berhasil ketika mampu membuat siswa menerapkan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari dan bertanggungjawab terhadap segala apa yang ia peroleh dari belajar matematika. Hal inilah yang sebenarnya menjadi tujuan penting dalam pembelajaran matematika. Siswa tidak sekedar belajar, akan tetapi bisa tumbuh menjadi siswa yang berkarakter melalui pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  6. Bismillahirahmanirahim
    Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    Karakter bangsa merupakan bagian penting yang harus diperhatikan dalam pendidikan. Sebagai investasi jangka panjang, pendidikan harus mampu menanamkan karakter positif yang kuat kepada para peserta didik secara terus-menerus dan berkesinambungan, sehingga para generasi muda calon-calon penerima estafet kepemimpinan bangsa ini kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin yang berkarakter kuat yang bisa mngembalikan keterpurukan bangsa ini di dalam berbagai aspek. Pendidikan Matematika sebagai salah satu bagian di dalamnya punya kewajiban ikut menanamkan karakter tersebut kepada para peserta didik dalam proses pembelajarannya. Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah mengandung arti seberapa jauh proses pembelajaran matematika di sekolah dapat memberikan pengetahuan, menguatkan niat, dan kemauan melaksanakan nilai-nilai karakter yang ditanamkan melalui proses pembelajaran.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  7. Bismillahirahmanirahim
    Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah dapat dilaksanakan secara terintegrasi dalam proses pembelajaran matematika. Guru sebagai fasilitator, dapat menanamkan karakter tertentu melalui pengkondisian kelas dan pemberian fasilitas dalam proses pembelajarannya agar peserta didik melakukan salah satu nilai-nilai yang akan ditanamkan. Sebagai contoh, guru masuk/keluar kelas tepat waktu (disiplin), mengawali dan mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan berdo'a (religius), memfasilitasi kegiatan diskusi dan presentasi yang sehat (menghargai pendapat). Sebagai sumber ajar dalam proses pembelajaran, guru memberikan contoh nyata tentang karakter-karakter positif yang akan ditularkan kepada peserta didiknya. Sebagai seorang motivator, guru selalu memberikan motivasi kepada peserta didiknya untuk selalu bertindak yang baik sesuai dengan norma/aturan yang berlaku. Ketiga fungsi guru itu, sebagai fasilitator, sumber ajar, dan motivator harus dilaksanakan untuk meraih 2 tujuan sekaligus, yaitu peserta didik mampu mempelajari dan memahami konsep matematika yang dipelajari sekaligus menanaman karakter positif yang kuat kepada peserta didiknya.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  8. Bismillahirahmanirahim
    Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    Keberhasilan pendidikan karakter mempunyai 3 kunci pokok, yaitu adanya pengetahuan, niat, dan pelaksanaan dari nilai-nilai karakter yang ditanamkan. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak hanya sebatas memberitahu saja, tetapi harus sampai pada pelaksanaan. Semua komponen terkait di bidang pendidikan (termasuk guru) seharusnya tidak hanya sibuk mengkampanyekan pendidikan karakter melalui penyusunan/penyiapan administrasi (perangkat) pembelajaran yang berkarakter saja, tetapi harus sampai pada contoh pelaksanaan nilai-nilai karakter tersebut. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus mampu memberikan contoh/tauladan tentang karakter-karakter positif yang akan ditanamkan. Pendidikan karakter adalah kegiatan PEMBIASAAN melakukan nilai-nilai karakter itu sendiri. Pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggungjawab guru di sekolah saja, tetapi juga orang tua, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  9. Asslamualaikum, Wr. Wb
    Rita Febriyanni Guci (14709251024 - Pmat A 2014)
    pendidikan matematika di indonesia bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk kepribadian peserta didik menjadi anak didik yang berkarakter. Agar tujuan tersebut tercapai maka diperlukan pendidikan yang berkarakter yang dapat mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi anak yang beriman, berakhlak mulia, yang mampu berinteraksi dengan lingkungan dengan baik, jujur, adil dan perbuatan baik lainnya. inilah yang menjadi landasan pentingnya pendidikan karakter diterapkan di indonesia.

    ReplyDelete
  10. Keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan dengan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah. Untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi. Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.
    Terimakasih...
    Aminullah. PMat B.

    ReplyDelete
  11. Arifuddin Qadarullah
    Dikdas S2 14712251032

    Pendidikan karakter adalah pendidikan di mana seorang guru menanamkan karakter kepada siswanya. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, karakter di sini afalah proses penanaman kepribadian yang unggul. Mampu memikirkan dan bertindak dengan bijaksana, mengatur dirinya, serta memahami lingkungan sekitar Di kurikulum 2013 ini pendidikan karakter sedang digalakkan dan ditingkatkan, karena diharapkan dengan adanya karakter anak yang baik maka kemajuan bangsa akan sehat dan berkembang tanpa adanya nepotisme serta korupsi.

    ReplyDelete
  12. Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika adalah harus didukung oleh semua unsur pembelajaran baik dari kurikulum, guru maupun unsur yang lain. Pendidikan karakter adalah termasuk didalamnya memahami hakikat matematika sekolah yang mayoritas merupakan kegiatan mengembangkan intuisi siswa secara alami selain itu guru sebagai salah satu unsur penentu keberhasilan pendidikan hendaknya mampu memfasilitasi peserta didik dengan pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap kegiatan pembelajarannya.

    ReplyDelete
  13. Pendidikan karakter memang sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Dari Pendidikan karakter ini lah guru mampu membentuk karakter anak.Maka hendaklah guru mengembangkan intuisi siswa serta selalu semangat,dan senantiasa haus akan inovasi. Karena Guru mempunyai peran yang sangat vital dalam dunia pendidikan ini.

    ReplyDelete
  14. Nirma Dwi Febriana (14709251015) P.Mat B
    Assalamualaikum Wr. Wb
    Implementasi pendidikan karakter pada pembelajaran matematika merupakan pembentukan karakter siswa melalui pembelajaran matematika. Hal ini bisa dicontohkan oleh guru dengan mengawali dan mengakhiri pembelajaran dengan tepat waktu yang nantinya akan menimbulkan kebiasaan untuk disiplin, membentuk kelompok dalam proses pembelajaran yang nantinya akan timbul rasa kerjasama, saling menghargai pendapat, memberikan kesempatan siswa untuk mempresentasikan hasil pekerjaan yang nantinya akan menimbulkan rasa percaya diri bagi siswa. Dengan contoh-contoh ini diharapkan siswa dapat membentuk pendidikan karakternya sehingga kepribadian siswa akan lebih baik serta mempunyai karakter yang baik.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  15. Rofi Amiyani_11301241021_P.Matematika subsidi 2011

    Karakter merupakan sesuatu yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang di dalamnya terkandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan. Untuk membangun karakter hampir sama halnya dengan membuat ukiran yang akan menetap dan tertanam daram diri setiap individu. Oleh karena itu, terminologi dari ‘karakter’ setidaknya memuat dua hal yakni nilai dan kepribadian. Istilah ‘karakter’ memunculkan lagi sebuah istilah ‘pendidikan karakter’. .Istilah Pendidikan Karakter sebenarnya bukan lah hal yang asing lagi ditengah-tengah kita. Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” menandai atau mengukir. Mengukir tidak sama dengan menggambar, karena menggambar dapat terhapus sedangkan mengukir akan terus berbekas. Pendidikan karakter sebagai sebuah paedagogik memiliki tujuan agar setiap pribadi semakin menghayati individualitasnya, maupun menggapai kebebasan yang dimilikinya, sehingga ia dapat semakin bertumbuh sebagai pribadi maupun warga negara yang bebas dan bertanggung jawab, bahkan sampai pada tingkat tanggung jawab moral integral atas kebersamaan hidup dengan warga yang lain.

    ReplyDelete
  16. Rofi Amiyani_11301241021_P.Matematika subsidi 2011

    Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai usaha sadar yang harus dilakukan oleh para pendidik/ tenaga pendidik untuk mengukir nilai-nilai kebaikan yang menyatu dalam kehidupan keseharian anak. Pendidikan karakter berkaitan erat dengan pembentukan karakter anak. Untuk itu sebagai Guru matematika khususnya, pengembangan pendidikan karakter dalam pembelajaran matematikan dapat dikaji.
    Sebagai ilmu pengetahuan, matematika memiliki beberapa karakteristik yakni (1) memiliki objek kajian abstrak, (2) bertumpu pada kesepakatan, (3) berpola piker deduktif, (4) memiliki simbol yang kososng arti, (5) memperhatikan semesta pembicaraan, serta (6) konsisten dalam sistemnya. Dari karakteristik tersebut dapat dilihat nilai-nilai karakter yang termuat dalam pembelajaran matematika. Karakteristik objek kajiana abstrak memuat nilai kreatif. Karakter bertumpu pada kesepakatan memuat nilai disiplin. Karakter berpola piker deduktif memuat nilai cerdas dan kreatif. Karakter memiliki simbol yang kosong arti memuat nilai demokratis dan toleran. Karakteristik memperhatikan semesta pembicaraan memuat nilai peduli lingkungan. Sedangkan karakteristik konsisten dalam sistemnya memuat nilai kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab.

    ReplyDelete
  17. Rofi Amiyani_11301241021_P.Matematika subsidi 2011


    Pengembangan pendidikan karakter dapat dilakukan melalui pembelajaran matematika. Pendidikan karakter meliputi proses knowing the good, feeling loving the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatu kebaikan. Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan acting the good berubah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, pendidikan karakter melalui pembelajaran matematika dilakukan dengan usaha mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam mata pelajaran matematika yang didasarkan pada pengkajian terhadap tujuan pembelajaran matematika .

    ReplyDelete
  18. Rofi Amiyani_11301241021_P.Matematika subsidi 2011

    Dalam situasi pembelajaran di kelas, karakter yang baik juga dapat muncul karena strategi pembelajaran yang dipilih, seperti kooperatif yang menekankan kerjasama,pembelajaran langsung yang menekankan pada teladan-teladan dalam mengajar pengetahuan deklaratif dan prosedural setahap demi setahap. Pemilihan strategi ataumodel pembelajaran yang tepat dapat memadukan tujuan pengembangan pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika secara manusiawi akan membentuk nilai-nilai kemanusiaan dalam diri siswa. Selainmemahami dan menguasai konsep matematika, siswa akan terlatih bekerja mandiri maupunbekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, kreatif, konsisten, berpikir logis, sistematis,menghargai pendapat, jujur, percaya diri, dan bertanggung jawab. Pada aspek ini kreativitasguru untuk memfasilitasi kegiatan belajar siswa dengan berbagai metode dan kreativitassiswa untuk menemukan atau membangun pengetahuannya sendiri saling terpadu danmenunjang bagi keberhasilan tujuan belajar siswa

    ReplyDelete
  19. Widya Putri Nurmawati
    Matematika E 2014
    14305141056
    Assalamualaikum Wr Wb

    In my opinion Character education is very important in the world of education. Character education will be better if done early by parents. Character education can be a good means to instill good moral in children. Character education can collaborate with each subject, including mathematics. Hopefully that character education is being implemented effectively printing superior next generation.

    ReplyDelete
  20. Putri Anjaswati Pramana14305144016
    Matematika E 2014

    Assalamualaikum wr.wb.
    In my opinion, true indeed character education within one's self can be formed from a formal or non-formal learning. It depends by themselves respectively. Learning mathematics for character education could be easily applied when construed according to daily life. So that later can be applied in the life of a community, a nation and a country. Thank you.
    Waalaikumsalam wr.wb.

    ReplyDelete
  21. Assalamu'alaikum wr.wb

    Actually education have a goal is build character, all of science and social education besides to give knowledge to people also to make the people have the character. In mathematics education, we are required to think broadly, because in mathematics we learn something abstract. So in mathematics education we build the thinker character and the other characters.

    Wassalamu'alaikum wr.wb

    Indah Puspita
    14305141051
    Mat E 2014

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. Putri Anjaswati Pramana
    14305144016
    Matematika E 2014

    Assalamualaikum wr.wb. In my opinion, with the learning of mathematics, much less learned since childhood we can learning about honesty, we can solve math problems occurred means we understand the problem and when we got the answer correctly the value of what the meaning of work done. To be honest with ourselves that we still need each other to learn and can also assume that in as a question that requires more than one formula. Thank You.
    Wassalamualaikum wr.wb

    ReplyDelete
  24. Dhina Windy A
    14305144005
    Matematika E 2014

    Assalamuallaikum wr.wb

    in math education in character education, math sendirimemiliki cirui special compared to other fields. the mathematics became more nyatadalam menetrangkannya and accompanied by evidence that if easy to remember. mathematics education themselves are abstract formal mathematics that is, General, formal, objective, rational, and theoretical.

    Wassalamualaikum wr.wb

    ReplyDelete
  25. Education is a very important thing in this life. Each individual should be given the facilities so that they are able to feel the beauty of the bench education, especially for those who are less capable. Through education a person would understand the meaning of life. They will have the character that became the hallmark of the nation Indonesia. Thank you...

    Nuraisyah Meitasiwi Pratiwi
    14305141040
    Matematika e 2014

    ReplyDelete
  26. Afrida Dzul 'Arofah
    Matematika E 2014 (14305141048)

    Assalamualaikum Wr Wb
    Character education is very important for education. Character education is the business by teachers to teach good values in everyday life. Character education is closely related to the formation of character in children. From the study of the characteristics of mathematics is seen that the values of the characters contained in each of these characteristics. Especially young children is one of the very proper object of study for character education. Thank you.
    Wassalamualaikum Wr wb

    ReplyDelete
  27. Erba Firstananda
    11313244022
    Pend. Matematika Inter. 2011

    Artikel tsb menginformasikan betapa pentingnya pendidikan karakter untuk ditanamkan pada siswa sejak dini. Dalam hal ini pendidikan karakter diintegrasikan dalam matematika. Agar pendidikan karakter dapat diimplementasikan dengan baik dalam pendidikan matematika, maka perlu adanya pemahaman makna pendidikan karakter itu sndr, karakter bangsa, matematika, serta pendidikan matematika pada berbagai dimensi. Harapan dari implementasi pendndikan karakter dalam pendidikan matematika ini dapat menjadi kontribusi dalam meningkatkan kualitas bangsa melalui inovasi-inovasi pembelajaran matematika secara terus-menerus.

    ReplyDelete
  28. M Ghani F/ MAT E/ 14305141041

    We do need to implement character education in mathematics education with a view aspect of the character of mathematics itself. That is the view of the character of mathematics teachers and students in learning mathematics character.

    ReplyDelete
  29. M Ghani F/ MAT E/ 14305141041

    For math teacher character, how they develop different teaching methods or simple or creative as possible which enables students to develop math skills in school and make students love math wholeheartedly.

    ReplyDelete
  30. M Ghani F/MAT E/14305141041

    for the students themselves, how they seek mathematics in their own way to make them know what is mathematical truth, for what mathematics is learned, what benefits obtained when studying mathematics, mathematical important, sebandingkah what is learned with what is obtained.

    ReplyDelete
  31. M Ghani F/ MAT E/14305141041

    Character education is very advisable to do when we were kids, because if something good like character education is done while still low probability of success greater its development. because when I was little new information can be learned and captured quickly and will last a long time inside.

    ReplyDelete
  32. Herida Okta P.
    14305141043
    Matematika E 2014

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    After I read the article, I argue that character education is very important to be fostered in every student. And learning of mathematics in the classroom by using methods appropriate learning can improve the education of the students possessed character. One example that can be a teacher in menanamakan character education in schools is to start and end on time lesson. So that the students can be disciplined for his time.

    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  33. Aprilia Rizqi N
    14305144009
    MAT E 2014
    Assalamu’alaykum,,
    Related math and character education, I have a sample implementation of character education mathematics. In math we learned unconsciously instill honesty in ourselves, for example, only when faced with questions such as 5 + 6, we will answer 11 if the answer is not 11, it means that we are wrong. things like that can be applied in everyday life, when faced with a problem, let alone such as in a mathematical problem that we must always be honest to get the correct answer. That was a small example of what can I say.
    Thank You.. Wassalamu’alaykum.

    ReplyDelete
  34. Dewi Mustika Sari
    1430544014
    Math E 2014

    character education is not only derived from religious studies but mathematics can also to cultivate good character traits. like a math problem provided it may cause the child to be honest and independent to answer the question.

    ReplyDelete