Feb 12, 2013

Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika

Berikut saya sampaikan artikel saya sebagai salah satu bahan yang akan digunakan untuk menyusun Buku Pedoman Pendidikan Karakter di Universitas Negeri Yogyakarta. Hak cipta dilindungi oleh UU. Pembaca dapat mengopi untuk kepentingan kajian akademik dan dapat menggunakannya sebagai referensi sepanjang tetap mencantumkan pengarangnya. Demikian selamat membaca.




Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika

Oleh Marsigit
Jurusan Pendidikan Matematika, FMIPA, UNY

A.Pendahuluan


Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah memunyai aspek pemahaman tentang hakikat matematika, hakikat matematika sekolah, hakikat pendidikan matematika, hakikat nilai matematika, hakikat belajar matematika, hakikat proses belajar mengajar matematika, hakikat pembudayaan matematika sekolah.

Di sisi lain, secara umum, pendidikan karakter harus mampu menjelaskan hakikat karakter, implementasi dan contoh-contohnya, menjelaskan sumber-sumber pengetahuan dan nilai-nilai dan macam-macam karakter yang harus digali dan dikembangkan, ukuran atau pembenaran kelaziman karakter dalam lingkup pribadi, kelompok, berbangsa dan secara universal.

Jika karakter dipandang sebagai nilai yang perlu digali, dikembangkan dan diimplementasikan, maka konteks ruang dan waktu serta arah pengembangannya menjadi sangat penting.

Pendidikan matematika dapat dipandang sebagai suatu keadaan atau sifat atau bahkan nilai yang bersinergis dengan pendidikan karakter. Perpaduan atau sinergi antara pendidikan karakter dan pendidikan matematika merupakan keadaan unik sebagai suatu proses pembelajaran yang dinamis yang merentang dalam ruang dan waktunya pembelajaran matematika yang berkarakter konteks ekonomi, social, politik, dan budaya bangsa.

Dengan demikian, pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan potensi sekaligus fakta yang harus menjadi bagian tidak terpisahkan bagi setiap insan pengembang pendidikan, baik pendidik, tenaga pendidik maupun pengambil kebijakan pendidikan.

Secara umum, kiranya semua sependapat bahwa tidak mudah memahami kompleksitas karakter sebagai suatu nilai atau suatu objek. Jika kita memikirkan karakter sebagai suatu objek maka secara umum apapun yang kita bicarakan, selalu berkaitan dengan dua hal pertanyaan yaitu:
Apa objek dan apa metodenya?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan karakter itu?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan matematika itu?
Apakah objek formal dan objek material pendidikan karakter dalam pendidikan matematika itu?
Untuk dapat menjawab semua pertanyaan itulah, kita memerlukan kajian tentang hakikat dari semua aspek yang terkandung di dalam pendidikan karakter dan pendidikan matematika.

Prinsip-prinsip dasar pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika meliputi berbagai proses yang secara hirarkhis merentang mulai dari kesadaran diri dan lingkungan, perhatian, rasa senang dan rasa membutuhkan disertai dengan harapan ingin mengetahui, memiliki dan menerapkannya, merasa perlunya memunyai sikap yang selaras dan harmoni dengan keadaan di sekitarnya, baik dalam keadaan pasif maupun aktif, serta mengembangkannya dalam bentuk tindakan dan perilaku berkarakter; merasa perlunya disertai usaha untuk mencari informasi dan pengetahuan tentang karakter dan karakter dalam matematika, yang dianggap baik, mengembangkan keterampilan menunjukan sifat, sikap dan perilaku berkarakter dalam pendidikan matematika, serta keinginan dan terwujudnya pengalaman mengembangkan hidupnya dalam bentuk aktualisasi diri berkarakter dalam pendidikan matematika, baik secara sendiri, bersama atau pun dalam jejaring sistemik.

B.Matematika dan Pendidikan Karakter


Secara material objek matematika dapat berupa benda-benda konkret, gambar atau model kubus, berwarna-warni lambang bilangan besar atau kecil, kolam berbentuk persegi, atap rumah berbentuk limas, piramida-piramida di Mesir, kuda-kuda atap rumah berbentuk segitiga siku-siku, roda berbentuk lingkaran, dan seterusnya. Secara material objek matematika itu berada di lingkungan atau sekitar kita.

Secara formal objek matematika berupa benda-benda pikir. Benda-benda pikir diperoleh dari benda konkret dengan melakukan abstraksi dan idealisasi.

Abstraksi adalah kegiatan yang hanya mengambil sifat-sifat tertentu saja untuk dipikirkan atau dipelajari.

Idealisasi adalah kegiatan yang menganggap sempurna sifat-sifat yang ada. Dari model kubus yang terbuat dari kayu jati, dengan abstraksi kita hanya mempelajari bentuk dan ukuran saja.

Dengan idealisasi kita memperoleh informasi bahwa ruas-ruas kubus berupa garis lurus yang betul-betul lurus tanpa cacat.

Secara normatif, objek-objek matematika berupa makna yang terkandung di dalam objek-objek material dan formal.

Makna-makna yang terungkap dari matematika material dan matematika formal itulah kemudian yang menghasilkan value atau nilai matematika.

Misalnya, objek matematika material berupa “bilangan 2 yang terbuat dari papan triplek yang digergaji dan kemudian diberi warna yang indah”.

Di dalam khasanah matematika material, kita dapat memikirkan bilangan 2 yang lebih besar, bilangan 2 yang lebih kecil, bilangan 2 yang berwarna merah, bilangan 2 yang berwarna biru, dan seterusnya.

Pada dimensi formal terdapat pencampuradukan antara pengertian bilangan dan angka. Tetapi, begitu kita memasuki dimensi matematika formal, semua sifat dari bilangan 2 tadi kita singkirkan, dan yang kita pikirkan sifat nilai nya saja dari 2.

Kita tidak mampu memikirkan nilai bilangan 2 jika kita tidak memiliki bilangan-bilangan yang lain. Nilai bilangan 2 adalah lebih besar dari bilangan 1, tetapi lebih kecil dari bilangan 3.

Secara normatif, makna bilangan 2 mengalami ekstensi dan intensi.

Jika diintensifkan, bilangan 2 dapat bermakna “genap”, dapat bermakna “pasangan”, dapat bermakna “bukan ganjil”, dapat bermakna “ayah dan ibu”, atau dapat bermakna “bukan satu”. Secara metafisik, bilangan 2 dapat bermakna “jarak antara dua hal” misalnya jarak antara potensi dan vitalitas, jarak antara konkret dan abstrak, jarak antara subjek dan objek, dan seterusnya.

Jika diekstensifkan, maka makna bilangan 2 dapat berupa 2 teori, 2 teorema, 2 sistem matematika, 2 variabel, 2 sistem persamaan, dan seterusnya. Dengan cara yang sama kita dapat melakukan intensi dan ekstensi untuk semua objek matematika.

Uraian di atas barulah tentang dimensi matematika dari bilangan 2 dan objek-objek matematika yang lainnya.

Jika ingin menguraikan bagaimanakah implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah, kita masih harus memikirkan pendidikan matematika, pembelajaran matematika, berpikir matematika, dan seterusnya.

Katagiri (2004) menguraikan bahwa berpikir matematika meliputi 3 aspek: pertama, sikap matematika, kedua, metode memikirkan matematika, dan ketiga, konten matematika.

Berpikir matematika juga merentang berpikir matematika pada dimensinya. Artinya, ada berpikir matematika di tingkat sekolah/material, atau perguruan tinggi/formal.

Secara umum, sikap matematika ditunjukkan oleh indikator adanya rasa senang dan ikhlas untuk mempelajari matematika, sikap yang mendukung untuk mempelajari matematika, pengetahuan yang cukup untuk mempelajari matematika, rasa ingin tahu, kemamuan untuk bertanya, untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman matematika.

Secara pragmatis, kita dapat menyatakan bahwa matematika adalah himpunan dari nilai kebenaran yang terdiri dari teorema-teorema beserta bukti-buktinya.

Sementara itu, filsafat matematika muncul ketika kita meminta pertanggungjawaban akan kebenaran matematika. Oleh karena itu, filsafat matematika merupakan pandangan yang memberikan gambaran penting dan menerangkan secara tepat bagaimanakah seseorang dapat mengerjakan matematika.

Perbedaan filsafat matematika yang dianut akan menyebabkan perbedaan praktik dan hasil pendidikan matematika. Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan implikasi dari kesadaran akan pentingnya refleksi kegiatan matematika melalui kajian matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensinya.

Dengan demikian implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mengandung makna seberapa jauh kita mampu melakukan kegiatan dalam rentang niat, sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat dicapai atas dasar pemahaman tentang pengetahuan matematika yang bersifat objektif dan pelaku matematika yang bersifat subjektif di dalam usahanya untuk memperoleh justifikasi tentang kebenaran matematika melalui kreasi, formulasi, representasi, publikasi dan interaksi.

Secara eksplisit implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mendasarkan pada :
(1) pengetahuan matematika pada berbagai dimensinya, yang meliputi hakikat, pembenaran, dan kejadiannya,
(2) objek matematika pada berbagai dimensinya yang meliputi hakikat dan asal-usulnya,
(3) penggunaan matematika formal yang meliputi efektivitasnya dalam sains, teknologi, dan ilmu lainnya, serta
(4) praktik matematika pada berbagai dimensi secara lebih umum termasuk aktivitas para matematikawan atau aktivitas matematika para siswa SD.

C.Pendidikan Matematika dan Pendidikan Karakter

Secara umum diakui bahwa isi dan metode matematika formal, karena hakikatnya, membuat matematika menjadi abstrak, umum, formal, objektif, rasional, dan teoretis. Ini adalah hakikat ilmu pengetahuan dan matematika.

Dengan pendekatan ini kaum absolutis membangun matematika formal yang dianggapnya sebagai netral dan bebas nilai (Shirley, 1986). Hal-hal yang terikat dengan implikasi sosial dan nilai-nilai yang menyertainya, secara eksplisit, dihilangkannya.

Para absolutis teguh pendiriannya dalam memandang secara objektif kenetralan matematika formal. Tetapi dalam kenyataannya, nilai-nilai yang terkandung dalam hal-hal tersebut di atas, membuat masalah-masalah tidak dapat dipecahkan. Hal ini disebabkan karena mendasarkan hal-hal yang bersifat formal saja hanya dapat menjangkau pada pembahasan bagian luar dari matematika itu sendiri.

Matematika yang dipromosikan itu sendiri secara implisit sebetulnya mengandung nilai-nilai. Abstrak adalah suatu nilai terhadap konkret, formal suatu nilai terhadap informal, objektif terhadap subjektif, pembenaran terhadap penemuan, rasionalitas terhadap intuisi, penalaran terhadap emosi, hal-hal umum terhadap hal-hal khusus, teori terhadap praktik, kerja dengan pikiran terhadap kerja dengan tangan, dan seterusnya.

Jika berkehendak menerima kritik yang ada, sebetulnya pandangan mereka tentang matematika formal yang netral dan bebas nilai juga merupakan suatu nilai yang melekat pada diri mereka dan sulit untuk dilihat.

Kaum social constructivits memandang bahwa matematika merupakan karya cipta manusia melalui kurun waktu tertentu. Semua perbedaan pengetahuan yang dihasilkan merupakan kreativitas manusia yang saling terkait dengan hakikat dan sejarahnya.

Akibatnya, matematika dipandang sebagai suatu ilmu pengetahuan yang terikat dengan budaya dan nilai penciptanya dalam konteks budayanya.

Sejarah matematika adalah sejarah pembentukannya, tidak hanya yang berhubungan dengan pengungkapan kebenaran, tetapi meliputi permasalahan yang muncul, pengertian, pernyataan, bukti dan teori yang dicipta, yang terkomunikasikan dan mengalami reformulasi oleh individu-individu atau suatu kelompok dengan berbagai kepentingannya.

Pandangan demikian memberi konsekuensi bahwa sejarah matematika perlu direvisi. Dengan demikian, pemikiran kaum social constructivist mengarah kepada kebutuhan matematika material.

Kaum absolutis berpendapat bahwa suatu penemuan belumlah merupakan matematika dan matematika modern merupakan hasil yang tak terhindarkan.

Namun, bagi kaum ‘social constructivist’ matematika modern bukanlah suatu hasil yang tak terhindarkan, melainkan merupakan evolusi hasil budaya manusia.

Joseph (1987) menunjukkan betapa banyaknya tradisi dan penelitian pengembangan matematika berangkat dari pusat peradaban dan kebudayaan manusia.

Sejarah matematika perlu menunjuk matematika, filsafat, keadaan sosial dan politik yang bagaimanakah yang telah mendorong atau menghambat perkembangan matematika.

Sebagai contoh, Henry dalam Ernest (1991: 34) mengakui bahwa calculus dicipta pada masa Descartes, tetapi dia tidak suka menyebutkannya karena ketidaksetujuannya terhadap pendekatan infinitas.

Restivo, MacKenzie dan Richards dalam Ernest (1991 : 203) menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara matematika dengan keadaan sosial; sejarah sosial matematika lebih tergantung kepada kedudukan sosial dan kepentingan pelaku dari pada kepada objektivitas dan kriteria rasionalitasnya.

Kaum social constructivist berangkat dari premis bahwa semua pengetahuan merupakan karya cipta. Kelompok ini juga memandang bahwa semua pengetahuan memiliki landasan yang sama, yaitu ‘kesepakatan’.

Baik dalam hal asal-usul maupun pembenaran landasannya, pengetahuan manusia memiliki landasan yang merupakan kesatuan, dan oleh karena itu semua bidang ilmu pengetahuan manusia saling terikat satu dengan yang lain.

Akibatnya, sesuai dengan pandangan kaum social constructivist, matematika tidak dapat dikembangkan jika tanpa terkait dengan pengetahuan lain, dan yang secara bersama-sama memunyai akarnya.

Dengan sendirinya matematika tidak terbebaskan dari nilai-nilai dari bidang pengetahuan yang diakui karena masing-masing terhubung olehnya.

Karena matematika terkait dengan semua pengetahuan diri manusia (subjektif), jelaslah bahwa matematika tidak bersifat netral dan bebas nilai.

Dengan demikian matematika memerlukan landasan sosial bagi perkembangannya (Davis dan Hers dalam Ernest 1991 : 277-279).

Dengan demikian hakikat mempelajari matematika adalah mempertemukan pengetahuan subjektif dan objektif matematika melalui interaksi sosial untuk menguji dan merepresentasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang telah diperolehnya.

Di dalam usahanya untuk memperoleh atau mempelajari pengetahuan objektif matematika, siswa mungkin perlu mengembangkan prosedur, misalnya : mengikuti langkah yang dibuat orang lain, membuat langkah secara informal, menentukan langkah awal, menggunakan langkah yang telah dikembangkan, mendefinisikan langkah sehingga dapat dipahami orang lain, membandingkan berbagai langkah, dan menyesuaikan langkah.

Melalui langkah-langkah demikian, siswa akan memperoleh konsep matematika yang telah teraktualisasi dalam dirinya sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan matematikanya bersifat subjektif.

Namun, dalam beberapa hal, pengetahuan subjektif matematikanya belum tentu sesuai dengan pengetahuan objektifnya.

Untuk mengetahui apakah pengetahuan subjektif matematikanya telah sesuai dengan pengetahuan objektifnya, siswa perlu diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan publikasi.

Kegiatan publikasi matematika dalam praktiknya dapat berupa tugas-tugas yang diberikan oleh guru, pekerjaan rumah, membuat makalah, atau pun mengikuti ujian.

Interaksi sosial di antara para siswa dan guru akan dapat memberikan kegiatan kritisisasi untuk pembetulan konsep-konsep sehingga siswa akan memperoleh perbaikan konsep, dan akhirnya pengetahuan subjektif matematikanya telah sama dengan pengetahuan objektifnya.

Hubungan antara pengetahuan objektif dan pengetahuan subjektif matematika dan langkah-langkah implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat diturunkan dari konsep yang diadaptasi dari Ernest.P (1991) sebagai berikut.


D.Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika


Hartman (1942) menggariskan bahwa apa pun tentang objek pikir, termasuk matematika, selalu memunyai nilai meliputi empat hal: nilai dikarenakan maknanya, nilai dikarenakan tujuan atau manfaatnya, nilai dikarenakan fungsinya dan nilai dikarenakan keunikannya.

Agar dapat dilakukan usaha implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah, seyogyanya kita menggunakan dimensi matematika material atau matematika pada dimensi transisi menuju matematika formal.

1.Pendidikan Karakter dan Hakikat Matematika Sekolah


Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah dapat diawali dengan mendefinisikan hakikat matematika sekolah.

Ebbutt dan Straker (1995) mendefinisikan matematika sekolah sebagai:
(1) kegiatan matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan,
(2) kegiatan matematika memerlukan kreativitas, imajinasi, intuisi dan penemuan, (3) kegiatan dan hasil-hasil matematika perlu dikomunikasikan,
(4) kegiatan problem solving merupakan bagian dari kegiatan matematika,
(5) algoritma merupakan prosedur untuk memperoleh jawaban-jawaban persoalan matematika, dan
(6) interaksi sosial diperlukan dalam kegiatan matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah dapat menekankan kepada hubungan antarmanusia dan menghargai adanya perbedaan individu baik dalam kemampuan maupun pangalaman.

Matematika dipandang sebagai kebenaran absolut dan pasti, tetapi peran individu sangat menonjol dalam pencapaiannya.

Tetapi, siswa dapat dipandang sebagai makhluk yang berkembang (progress). Oleh karena itu matematika dipandang secara lebih manusiawi yang antara lain dapat dianggap sebagai bahasa, dan kreativitas manusia.

Pendapat pribadi dihargai dan ditekankan. Siswa memunyai hak individu untuk melindungi dan mengembangkan diri dan pengalamannya sesuai dengan potensinya.

Kemampuan mengerjakan soal-soal matematika adalah bersifat individu. Teori belajar berdasarkan anggapan bahwa setiap siswa berbeda antara satu dengan lain dalam penguasaan matematika.

Siswa dianggap memunyai kesiapan mental dan kemampuan yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika. Oleh karena itu, setiap individu memerlukan kesempatan, perlakuan, dan fasilitas yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika.

Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dan pembelajaran matematika berimplikasi kepada fungsi guru sebagai fasilitator sebaik-baiknya agar siswa dapat mempelajari matematika secara optimal.

Matematika dipandang bukan untuk diajarkan oleh guru, tetapi untuk dipelajari oleh siswa. Siswa ditempatkan sebagai titik pusat pembelajaran matematika.

Guru bertugas menciptakan suasana, menyediakan fasilitas, dan lainnya, sedang peranan guru lebih bersifat sebagai manajer daripada pengajar.

Pembelajaran dilakukan dalam suasana yang kondusif, yaitu suasana yang tidak begitu formal.

Siswa mengerjakan kegiatan matematika yang berbeda-beda dengan target yang berbeda-beda.

Guru memunyai tiga fungsi utama yaitu: sebagai fasilitator, sumber ajar dan pemonitor kegiatan siswa.

Dengan demikian, guru dapat mengembangkan metode pembelajaran secara bervarisasi: ceramah, diskusi, pemberian tugas, seminar, dan sebagainya. Sumber belajar atau referensi merupakan titik sentral dalam pembelajaran matematika.

Variasi sumber belajar atau referensi diperlukan termasuk buku-buku, jurnal, dan akses ke internet. Penilaian dilakukan dengan pendekatan asesmen, portofolio, atau autenthic assessment.

2.Hermenitika Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika


Unsur dasar hermenitika implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika adalah kegiatan mengomunikasikan matematika pada berbagai dimensi.

Komunikasi dapat didefinisikan sebagai berbagai bentuk vitalitas potensi-potensi relational antara subjek-subjek, subjek-objek, objek-subjek atau objek-objek. Bentuk vitalitas memiliki makna kesadaran dan perubahan ke dalam, paralel atau keluar dari diri potensi.

Oleh karena itu salah satu sifat vitalitas adalah sifat relational dan sifat penunjukkan kepada subjek atau objek di dalam, paralel atau diluar dirinya.

Maka, terbentuklah suatu relasi yang bersifat fungsional diantara subjek-subjek atau objek-objek.

Sifat penunjukkan terhadap subjek atau objek selain dirinya disebut juga sebagai sifat determine.

Satu-satunya substansi yang tidak dapat dihilangkan dari relasi penunjukkan atau determine adalah “sifat”.

Jadi, untuk dapat memahami secara ontologis hakikat komunikasi matematika, kita harus dapat memahami sifat, bukan sebagai sifat, tetapi sifat sebagai subjek dan sifat sebagai objek.

Jika sifat-sifat sudah melekat pada subjek atau objeknya, maka kita dapat mengatakan sebagai ciri-ciri subjek atau ciri-ciri objek berdasar sifat-sifatnya.

Jadi komunikasi matematika merupakan bentuk vitalitas dari potensi korelational yang memunyai sifat-sifat penunjukkan atau determine, yaitu terkarakterisasikannya sifat-sifat yang terjunjuk berdasar sifat-sifat penunjuk.

Dimensi komunikasi ditentukan oleh sifat apakah sifat dari subjek atau objeknya memunyai sifat dengan arah ke dalam, arah paralel, atau arah ke luar.

Dimensi komunikasi juga ditentukan oleh banyaknya satuan potensi matematika yang terlibat dan ragam vitalitas yang diakibatkan.

Secara harfiah, kristalisasi dimensi komunikasi matematika memberikan makna adanya komunikasi material matematika, komunikasi formal matematika, dan komunikasi normatif matematika.

a.Pendidikan karakter melalui komunikasi material matematika


Komunikasi material matematika didominasi oleh sifat horisontal arah vitalitasnya.

Dilihat dari segi keterlibatannya, jumlah satuan potensi yang terlibat adalah bersifat minimal jika dibandingkan dengan komunikasi dari dimensi yang lainnya.

Maka, sebagian orang dapat memperoleh kesadaran bahwa komunikasi material matematika adalah komunikasi dengan dimensi paling rendah.

Sifat korelasional sejajar memiliki makna kesetaraan antara subjek atau objek komunikasi. Implikasi dari kesetaraan subjek dan objek adalah bahwa mereka memiliki posisi yang paling lemah dalam sifat penunjukannya.

b.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Formal Matematika

Komunikasi formal matematika didominasi oleh sifat-sifat korelasional ke luar atau ke dalam dari vitalitas potensinya.

Korelasi ke luar atau ke dalam memunyai makna perbedaan antara sifat-sifat yang di luar dan sifat-sifat yang di dalam.

Korelasi antara perbedaan sifat itulah yang menentukan sifat dari subjek atau objek komunikasinya.

Implikasi dari perbedaan sifat-sifat subjek atau sifat-sifat objek memberikan penguatan adanya perbedaan sifat penunjukan.

Vitalitas dari subjek matematika dengan potensi lebih besar akan mengukuhkan dirinya tetap bertahan sebagai subjek, sedangkan vitalitas dari subjek dengan potensi lebih kecil akan menggeser peran subjek dirinya menjadi peran objek bagi subjeknya.

Intuisi two-oneness akan membantu subjek matematika untuk memahami objek matematika.

c.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Normatif Matematika


Komunikasi normatif matematika ditandai dengan meluruhnya sifat-sifat penunjukan korelasionalitas penunjukannya pada diri subjek dan objeknya.

Namun demikian, komunikasi dikatakan memunyai dimensi yang lebih tinggi dikarenakan keterlibatan satuan-satuan potensinya lebih banyak, lebih luas, dan lebih kompleks.

Meluruhnya sifat penunjukan korelasional horisontal bukan disebabkan oleh lemahnya potensi dan vitalitas komunikasi, tetapi semata-mata dikarenakan luasnya jangkauan dan keterlibatan satuan-satuan potensi dan vitalitas baik pada diri subjek maupun objek.

Maka, pada komunikasi normatif dapat dideskripsikan sifat-sifat pada subjek dan objeknya sebagai subjek yang memunyai potensi dan vitalitas matematika yang tinggi, tetapi memunyai korelasional horisontal yang rendah.

Dapat dimengerti bahwa pada komunikasi normatif matematika, sifat-sifat korelasional ke dalam dan keluar bersifat semakin kuat. Mereka semakin kuat jika dibandingkan pada komunikasi material ataupun komunikasi formal.

Keadaannya dapat digambarkan sebagi suatu gencatan senjata atau cease fire di antara potensi dan vitalitas matematika ke dalam dan ke luarnya.

Struktur komunikasi demikian ternyata merupakan struktur komunikasi yang lebih banyak mampu menampung karakteristik subjek atau objek komunikasi matematika.

Komunikasi normatif matematika ditandai adanya sifat-sifat ideal yang abstrak dari potensi dan vitalitas subjek dan objek matematika, misalnya keadaan baik atau buruknya matematika, pantas atau tidak pantasnya matematika, seyogyanya atau tidak seyogyanya matematika, bermanfaat atau tidaknya konsep matematika, dan seterusnya.

d.Pendidikan Karakter melalui Komunikasi Spiritual Matematika


Sifat-sifat korelasional keluar dari konsep matematika menunjukkan keadaan semakin jelas dan tegasnya apakah dalam bentuk ke luar ke atas atau ke luar ke bawah.

Korelasionalitas potensi dan vitalitas matematika ke atas akan mentransformasikan bentuk komunikasi ke dimensi yang lebih atas yaitu komunikasi spiritual matematika.

Di pihak lain, korelasional potensi dan vitalitas ke bawah akan mentransformasikan bentuk komunikasi matematika ke dimensi yang lebih bawah, yaitu komunikasi formal matematika atau komunikasi material matematika.

Maka komunikasi spiritual matematika menampung semua komunikasi yang ada dan yang mungkin ada. Komunikasi ke dalam akan memberikan sifat penunjukan absolut bagi subjek dan objek matematika.

Komunikasi ke luar ke atas akan meluruhkan semua sifat subjek dan objek matematika sehingga dicapai keadaan subjek dan objek komunikasi dengan sifat tanpa sifat.

Keadaan subjek dengan sifat tanpa sifat itu adalah keadaan di mana subjek dan objek komunikasi juga meluruh ke dalam keadaan di mana subjek dan objek matematika yang tidak dapat dibedakan lagi.

Artinya, tiada subjek dan objek komunikasi matematika pada tataran metafisik dari komunikasi spiritual dapat diidentifikasi dengan menggunakan hubungan korelasional potensi dan vitalitas subjek dan objek.

Hubungan korelasional ke dalam kemudian mentransformaikans semua potensi dan vitalitas matematika ke dalam subjek absolut.

Subjek absolut merupakan subjek dengan dimensi tertinggi yang mengatasi segala subjek dan objek komunikasi sekaligus juga mengatasi semua jenis komunikasi yang ada dan yang mungkin ada.

E.Pendidikan Karakter di dalam Pengembangan dan Inovasi Pendidikan Matematika


Implementasi pendidikan karakter di dalam kaitannya dengan pengembangan dan inovasi pendidikan matematika dapat diperoleh melalui berbagai kegiatan yang mencakup semua aspek pembelajaran matematika.

Berbagai persoalan dan tantangan akan timbul sesuai dengan konteks ruang dan waktu dimana pembelajaran matematika itu diselenggarakan.

Berikut adalah butir-butir yang dapat digunakan sebagai bahan renungan dan kajian lebih lanjut:
1)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pengembangan PBM matematika yang menekankan kepada proses?
2)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pembelajaran matematika kooperatif learning?
3)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam belajar kelompok matematika?
4)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui belajar matematika di luar kelas?
5)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui permainan matematika?
6)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui variasi model pembelajaran matematika?
7)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan benda-benda konkret dalam PBM matematika?
8)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pembelajaran kontekstual matematika?
9)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan alam sekitar dalam PBM matematika?
10)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui team teaching matematika?
11)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dengan cara mendorong inisiatif siswa dalam PBM matematika?
12)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dengan cara meningkatkan peran siswa dalam PBM matematika?
13)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pengembangan variasi sumber belajar matematika?
14)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui pemanfaatan alat peraga matematika?
15)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter berbagai percobaan matematika?
16)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam perencanaan pembelajaran matematika yang inovatif?
17)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter pada diskusi matematika?
18)Bagaimanakah guru mampu memonitor aspek pendidikan karakter dalam PBM matematika?
19)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam lesson study pembelajaran matematika?
20)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan presentasi siswa?
21)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kemandirian belajar matematika?
22)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui peningkatan peran fasilitator guru?
23)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam kegiatan asesment matematika?
24)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan remedial matematika?
25)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter pada kegiatan apersepsi siswa?
26)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan melalui variasi interaksi dan komunikasi matematika?
27)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui peningkatan kreativitas siswa?
28)Bagaimanakah mewujudkan portfolio pendidikan karakter dalam PBM matematika?
29)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui kegiatan konstruksi konsep-konsep matematika secara mandiri?
30)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter melalui matematika realistik?
31)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam kegiatan refleksi siwa?
32)Bagaimanakah mengembangkan instrument observasi pendidikan karakter dalam PBM matematika?
33)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter yang selaras dengan konsep “Education is for All?”
34)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter sesuai dengan kebutuhan belajar matematika siswa?
35)Bagaimanakah mewujudkan pendidikan karakter dalam pengembangkan LKS pembelajaran matematika?



E. Kesimpulan

Untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi.

Dimensi makna karakter dalam pendidikan matematika dapat dilihat dari sisi dimensi karakter matematika, karakter pendidikan matematika yang meliputi karakter guru matematika dan karakter siswa belajar matematika, baik untuk contoh-contoh konkret maupun bentuk-bentuk idealnya.

Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normative, dan komunikasi spiritual.

Dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika, kita memerlukan pendekatan yang lebih cocok dengan dunia siswa belajar matematika.

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah.

Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.

Pada akhirnya, implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajran matematika yang dilakukan secara terusmenerus baik secara instrinsik, ekstrinsik, atau sistemik.

DAFTAR PUSTAKA
Ebbutt, S dan Straker, A., 1995, Children and Mathematics: A Handbook for Teacher, London: Collins Educational.
Ernest, P., 1991, The Philosophy of Mathematics Education, London: The Falmer Press.
Kant, I., 1781, “The Critic Of Pure Reason: SECTION III. Systematic Representation of all Synthetical Principles of the Pure Understanding” Translated By J. M. D. Meiklejohn, Diunduh tahun 2003
Shirley, 1986, Mathematics Ideology, London : The Falmer Press

68 comments:

  1. uki suhendar
    pps UNY PM D
    13709251057
    pendidikan sejatinya adalah untuk membuat perubahan ke arah positif. tidak hanya pendidikan matematika, tetapi setiap pendidikan apapun, kapanpun, dan dimanapun. perubahan positif tidak hanya dalam hal kognitif, tetapi juga perilaku siswa, yang akhir-akhir ini sering disebut karakter. bagaimana setelah belajar siswa menjadi pandai, cerdas dan mampu menempatkan diri. bertingkah sopan santun. karena memang harusnya ada perbedaan antara orang belajar dan yang tidak belajar. tetapi mungkin di tengah jalan ada yang tergiur dengan kenikmatan negatif, sehingga walaupun belajar tetapi perilakunya negatif. jadi semua tergantung pada individu masing-masing. ini menurut saya.

    ReplyDelete
  2. ا ﻠسلا م عليكم و ر حمة ﺍﷲ و بر كا ﺗﮫ

    Hal-hal yang perlu kita perhatikan untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika adalah diperlukan pemahaman tentang makna karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi. Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif, dan bermuara dengan komunikasi spiritual. Dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika, kita memerlukan pendekatan yang lebih cocok dengan dunia siswa dalam belajar matematika. Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajran matematika yang dilakukan secara terusmenerus baik secara instrinsik, ekstrinsik, atau sistemik.

    Wallahu a’lam bish-shawabi…

    ReplyDelete
  3. Hanna Filen Sopia (13709251052)
    PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas B

    Pembelajaran matematika bisa membentuk karakter siswa seperti nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam diri siswa. Sebagai contoh dalam penyelesaian masalah matematika tidak mungkin dapat diselesaikan jika tidak disiplin, jadi pengerjaannya harus urut dan tidak boleh meloncat-loncat, jika tidak urut proses penyelesaiannya maka siswa tidak akan mendapatkan jawaban yang benar. Sedangkan untuk pembentukan nilai kejujuran, maka siswa harus dilatih untuk menjawab soal dengan cara yang jujur. ‘’Artinya jika siswa mengerjakan soal berhitung 4 + 4, maka siswa harus menjawab 8. Jika tidak dijawab 8, maka jawaban siswa tersebut salah. Matematika juga berkenaan dengan masalah pembuktian, langkah-langkah pembuktian matematika harus berdasarkan pada hal-hal yang sudah diakui kebenarannya, langkah demi langkah harus berdasarkan alasan yang kuat dan benar. Dengan cara inilah matematika mengajarkan sikap hidup benar dan bertanggung jawab. Dalam implikasinya dengan kehidupan, bahwa kita diajarkan untuk berbuat benar pada setiap perkataan, kehendak dan perbuatan.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  4. NIM: 13709251016/PPs UNY P-Mat

    Untuk mengembangkan karakter siswa melalui pendidikan matematika, dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normative, dan komunikasi spiritual. Dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika, kita memerlukan pendekatan yang lebih cocok dengan dunia siswa belajar matematika. Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Dari hal ini, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran matematika untuk mengembangkan karakter siswa adalah suatu kegiatan (Math is doing something) yang dibungkus dengan pemecahan masalah, investigasi, realistik, konstektual, dan cooperatifve.

    ReplyDelete
  5. Terima kasih Prof. Marsigit atas artikelnya ini. kesimpulan yang bapak buat mengenai pendidikan karakter ini memberian peta langkah awal seorang guru dalam melakukan aktifitas pembelajaran serta pengajarannya.

    ReplyDelete
  6. Raoda Ismail (13709251060)
    PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas D

    Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah tidak diajarkan dalam mata pelajaran khusus, namun,dilaksanakan dalam keseharian pembelajaran yang sudah berjalan di sekolah. Pelajaran matematika diajarkan dalam semua jenjang sekolah. Untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika diperlukan pemahaman tentang makna karakter, nilai-nilai karakter, dan hakekat matematika. Dimensi makna karakter dalam pembelajaran matematika dapat dilihat dari sisi dimensi karakter/hakekat matematika, karakter kegiatan pendidikan matematika yang meliputi karakter guru matematika dan karakter siswa belajar matematika, baik untuk contoh-contoh konkret maupun bentuk-bentuk idealnya.

    ReplyDelete
  7. Nidya Ferry Wulandari (13709251072)
    Pend. Matematika PPs UNY Kelas C

    Dalam dunia pendidikan matematika, sebenarnya semua yang ada dan mungkin ada pasti lah menjadi hal yang perlu menjadi bahan pemikiran bagi guru. Sehingga guru mampu bertindak cerdas. Semua kemungkinan tersebut hasil dari kemajemukan pemikiran siswa yang diampu. Dan kadang kita sebagai guru tidak akan menduga reaksi, pemikiran siswa karena pemikiran siswa penuh dengan imajinasi. Hal tersebut jika dihilangkan dan tidak diperhatikan guru menjadikan kreativitas siswa hilang. Sehingga siswa mau tidak mau hanya mengikuti alur pembelajaran yang diberikan guru. Jika sudah begitu siswa tidak ikhlas dalam belajar dan karakter yang berusaha ditanamkan akan sulit dicapai. Sedikit tersebut hanya pendapat saya, saya menyadari bahwa terdapat kurang karena sedikitnya pengetahuan saya.

    ReplyDelete
  8. Bismillahirrahmanirrahim.

    Dalam mengembangkan karakter siswa, seperti yang kita ketahui bahwa dalam kurikulum yang berlaku tidak lama ini bahwa siswa lebih diarahkan kedalam pembentukan karakter. Untuk mencapai tujuan tersebut maka banyak hal yang harus diupayakan oleh seorang guru dalam pembelajaran matematika. diantaranya adalah melatih siswa dalam menyampaikan pendapat didepan kelas, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri pola-pola baru matematika yang sudah dijelaskan oleh guru yang tentunya dengan masalah yang bervariasi. Karena seperti yang kita ketahui bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  9. Melania Eva Wulanningtyas _PMat A_ 13709251007

    Artikel ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita cenderung menggunakan standar yang biasa saja. Dimana seorang siswa dianggap berhasil jika dia dapat menunjukkan keunggulan dalam bidang akademik, menguasai ilmu yang diberikan oleh guru, dan mampu menggunakan teknologi yang sedang berkembang saat ini. hal – hal tersebut di atas memang penting bagi siswa jika standar yang ditetapkan adalah standar kognitif saja. Namun kita juga harus menyadari bahwa memiliki budi pekerti luhur, bela rasa, serta memiliki kepribadian unggul juga sangat dibutuhkan oleh siswa. Apa gunanya jika siswa memiliki pengetahuan yang sangat tinggi dalam bidang kognitif tetapi dia tidak memiliki budi pekerti luhur? Mungkinkah ilmu yang dimiliki dapat berguna bagi diri sendiri dan sesama? Oleh karena itu adanya pendidikan karakter sangat penting dalam pendidikan tidak hanya dalam pendidikan matematika saja. Tujuannya adalah agar siswa mampu menggunakan ilmu yang dimiliki dengan baik, menggunakan ilmu yang dimiliki bukan hanya pada pelajaran yang sedang dihadapi saja tetapi dikorelasikan dan diintergrasikan dengan pelajaran lain, dan siswa juga mampu menggunakan ilmu yang dimiliki untuk kepentingan dirinya sendiri, orang lain, dan juga mampu mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar. Jika pendidikan karakter ini dapat dijalankan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh siswa maka siswa tidak hanya akan memiliki nilai yang baik pada aspek kognitif tetapi juga memiliki kepribadian yang unggul.

    ReplyDelete
  10. Linda (13709251040)
    PPs Pendidikan Matematika Kelas B

    Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika, dapat terwujuda apabila di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika bisa melalui komunikasi material, komunikasi formal, komunikaso normative dan komunikasi spiritual. Komunikasi ini perlu dikembangkan agar menumbuh kembangkankan karakter siswa menjadi siswa yang memiliki karakter baik. Pendidikan karakter dalam pendidikam matematika ini biasanya akan ditemukam pada matematika sekolah.

    ReplyDelete
  11. Uun Yuni Armita
    13709251005
    PPs UNY 2013 Pendidikan Matematika A


    Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika

    Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah memunyai aspek pemahaman tentang hakikat matematika, hakikat matematika sekolah. Pendidikan karakter harus mampu menjelaskan hakikat karakter, implementasi dan contoh-contohnya, menjelaskan sumber-sumber pengetahuan dan nilai-nilai dan macam-macam karakter yang harus digali dan dikembangkan, ukuran atau pembenaran kelaziman karakter dalam lingkup pribadi, kelompok, berbangsa dan secara universal. Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Secara umum, sikap matematika ditunjukkan oleh indikator adanya rasa senang dan ikhlas untuk mempelajari matematika, sikap yang mendukung untuk mempelajari matematika, pengetahuan yang cukup untuk mempelajari matematika, rasa ingin tahu, kemamuan untuk bertanya, untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman matematika. Dengan demikian, implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajran matematika yang dilakukan secara terusmenerus baik secara instrinsik, ekstrinsik, atau sistemik.

    Terimakasih.

    ReplyDelete
  12. Zuli Nuraeni
    13709251059
    PPs UNY Pend. Matematika Kls D

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Dalam sebuah artikel juga dikatakan bahwa Pendidikan matematika di seolah bisa mengajarkan anti korupsi pada siswa. Dalam pengajaran bilangan misalnya, kita berharap siswa mengerti bilangan satu juta dan satu miliar (bilangan yang dipilih tergantung dari level kelasnya). Pembelajaran ini bukan hanya sekedar menginformasikan bahwa satu juta mempunyai enam nol (1.000.000) dan satu miliar mempunyai sembilan nol (1.000.000.000), tetapi siswa dibantu memahami seberapa besar nilainya. Misalnya, seberapa banyak satu juta biji jagung? Atau, satu miliar rupiah? Ini terkait dengan 'number sense'. Contoh yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari akan mempermudah siswa memahami makna dan dampak korupsi, jika 1.000.000 biji ini hilang 5 biji jumlahnya tidak lagi 1.000.000 artinya ada korupsi dan ketidakjujuran, diharapkan ini bisa membuat siswa menjadi generasi anti-korupsi yang mengutamakan kejujuran. Tentu saja ini adalah benefit jangka panjanya, untuk benefit jangka pendeknya matematika mengajarkan siswa untuk lebih kreatif, disiplin, cermat dan teliti, jujur, tidak mudah menyerah dan tanggung jawab. Solusi dari matematika tidak mungkin didapat secara instan dan asal-aslan, untuk itu dibutuhkan kecermatan, ketelitian dan kerntutan sistematis dalam mengerjakan. Jadi bisa disimpulkan bahwa Matematika dapat membentuk karakter baik pada siswa.
    Terimakasih
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

    ReplyDelete
  13. St. Rahmah Sami Ahmad
    PPs UNY Pendidikan Matematika 2013
    13709251077 [Kelas D]

    Bismillah...

    Penerapan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika sama dengan pertanyaan bagaimana mengembangkan aspek nilai budi pekerti dalam pembelajaran matematika? Mungkin pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah dapat dilaksanakan secara terintegrasi dalam proses pembelajaran matematika. Guru sebagai fasilitator, dapat menanamkan karakter tertentu melalui pengkondisian kelas dan pemberian fasilitas dalam proses pembelajarannya agar peserta didik melakukan salah satu nilai-nilai yang akan ditanamkan. Sebagai contoh, guru masuk/keluar kelas tepat waktu (disiplin), mengawali dan mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan berdo'a (religius), memfasilitasi kegiatan diskusi dan presentasi yang sehat (menghargai pendapat).

    ReplyDelete
  14. Mega Eriska R.P.(13709251064)
    PPS Pend Mat, Kelas C

    Bila dikaitkan dengan pendidikan karakter, maka dalam bidang pembentukan sikap, pendidikan matematika di sekolah belum bisa menumbuhkan sikap menghargai matematika sebagai ilmu yang sangat berguna bagi umat manusia pada diri para siswa. Dan dalam bidang pengembangan kepribadian, pendidikan matematika di sekolah juga belum mampu mengembangkan pribadi-pribadi siswa menjadi pribadi-pribadi yang mampu mengambil keputusan mengenai apa yag paling baik bagi dirinya, bersifat jujur, dan berani bertanggung jawab terhadap segala hal yang telah dilakukan atau diucapkan. Sehingga banyak siswa menempuh pelajaran matematika melulu karena hal itu diharuskan oleh sistem yang ada, sesuai dengan kurikulum. pendidikan matematika di sekolah, dan pendidikan formal pada umumnya, cenderung menghasilkan lulusan yang mempunyai banyak pengetahuan (khususnya pengetahuan faktual), tetapi miskin dalam kemampuan berpikir, dan miskin dalam hal kepribadian, termasuk berjiwa penakut, kurang berani mengambil keputusan, dan kurang berani bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan.Kurikulum baru akan bernasib sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya jika antara lain tidak dikawal dengan paradigma pembelajaran yang tepat dan tidak ditangani oleh guru-guru yang profesional dan berpikiran inovatif.

    ReplyDelete
  15. Margaretha Madha Melissa
    13709251071
    Pend.Matematika PPs UNY Kelas C

    Matematika memang ilmu yang sangat penting di setiap jenjang pendidikan, namu yang terjadi sekarang banyak siswa yang tidak suka pada matematika karena dianggap sulit dan membosankan. Oleh sebab itu, sikap mereka saat pelajaran matematika menunjukan karakter yang tidak baik. Maka sebagai seorang guru atau calon guru, kita diharapkan dapat merubah “image” matematika menjadi lebih bersahabat dan menyenangkan bagi siswa, sehingga karakter pendidikan matematika siswa juga akan lebih baik.

    ReplyDelete
  16. Tri Purwanto (13709251084)
    PPs UNY pendidikan Matematika 2013 kelas C
    Assalamualaikum Wr Wb

    Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.
    Berdasarkan kalimat diatas, matematik sekolah dipandag sebagi tempat yang pas, karena di sekolah berbeda dengan matematika di universitas yang menerapkan pure matematika, karekter penting oleh karena itu guru haruis dapat membawakan matematika dengan baik dan siswa senang dengan pembawaan materi oleh gur, bukan tugas yang mudah namun harus tetap diusahakan

    ReplyDelete
  17. Eka Sulistyawati 13709251025
    PPs UNY Pendidikan Matematika 2013 Kelas B

    Maraknya pergaulan bebas, kekerasan anak, kejahatan, kebiasan mencontek, perusakan hak milik orang lain menjadi pertimbangan bagi para pakar pendidikan bagaimana merancang pendidikan sedemikian sehingga hal-hal negatif tersebut dapat diminimalisir. Menurut Lickona, karakter berkaitan denga konsep moral, sikap moral, dan perilaku moral. berdasarkan tiga komponen tersebut dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Nilai-nilai karakter berlandaskan budaya bangsa diantaranya adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, gemar mebaca, tanggung jawab, dll.

    ReplyDelete
  18. Edi Susanto (13709251078)
    PMat Kelas D PPs UNY 2013

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Artikel yang Prof. Berikan ini memberikan pencerahan pemahaman saya tentang bagaimana pendidikan karakter dalam pendidikan. Selama ini hanya mendengar pendidikan karakter saja namun tidak tahu bagaimana implementasinya dalam pendidikan. Semoga dalam membelajarakan matematika semua pserta didik mampu mengintegrasikan pembelajaran matematika dengan pembelajaran karakter sehingga peserta didik yang dihasilkan tidak hanya mampu secara akademik tetapi juga mampu dan baik karakternya.

    ReplyDelete
  19. Assalamu'alaikum wr. wb.
    Okky Riswandha Imawan (13709251050), PPs UNY, P. Mat. 2013, Kelas D.
    Berdasarkan sumber yang saya baca, dapat saya simpulkan bahwa beberapa prinsip dasar pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika meliputi kesadaran terhadap kemampuan diri sendiri, kesadaran terhadap keadaan lingkungan, perhatian terhadap objek yang dihadapi, rasa senang terhadap objek yang dipelajari, kebutuhan akan ilmu pengetahuan, dan rasa keingintahuan dan kebutuhan akan sesuatu yang penting dalam kehidupan. Interaksi sosial, baik antara siswa dengan siswa, maupun antara para siswa dan guru akan dapat memberikan kegiatan interaksi yang kritis untuk perbaikan konsep-konsep sehingga siswa akan memperoleh perbaikan konsep, dan bagi guru mendapatkan koreksi terhadap pemahamanya yang masih keliru. Implementasi pendidikan karakter di dalam kaitannya dengan pengembangan dan inovasi pendidikan matematika dapat diperoleh melalui berbagai kegiatan yang mencakup semua aspek pembelajaran matematika. Terimakasih kepada Pak Marsigit dan teman-teman karena berkenan membaca dan mengomentari tulisan saya. Mohon maaf jika saya melakukan kesalahan.

    ReplyDelete
  20. Pasttita Ayu Laksmiwati
    09313244017
    PPs Pendidikan Matematika 2013 Kelas B

    Matematika menempati posisi yang sangat penting dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari ujian nasional yang menjadikan matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang diujikan. Oleh karena itu matematika erat kaitannya dengan proses kognitif yang dimiliki siswa. semua uraian di atas maka yang dimaksud pembelajaran matematika sekolah adalah proses belajar mengajar matematika yang dilaksanakan di lingkungan sekolah yang berfungsi sebagai alat, pola pikir, dan pengetahuan serta bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika seperti yang tercantum dalam Kurikulum. Itulah kurikulum menjadi dasar dan tujuan dari belajar.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  21. Anisya Septiana 13709251063
    PPS PMAT C UNY 2013

    Pendidikan matematika dapat dipandang sebagai suatu keadaan atau sifat atau bahkan nilai yang bersinergis dengan pendidikan karakter. Perpaduan atau sinergi antara pendidikan karakter dan pendidikan matematika merupakan keadaan unik sebagai suatu proses pembelajaran yang dinamis yang merentang dalam ruang dan waktunya pembelajaran matematika yang berkarakter konteks ekonomi, social, politik, dan budaya bangsa.

    Membangun karakter siswa seperti halnya membangun rumah. Kita harus membangun pondasi yang kuat agar bangunan itu tidak mudah rubuh. Oleh karena, membangun karakter siswa dilakukan mulai dari yang paling bawah yaitu pada jenjang usia dini. Pada saat jenjang ini diharap pondasi yang dibangun harus sekuat mungkin agar bisa menopang bangunan yang selanjutnya dan tidak mudah hancur karena terkena arus globalisasi. Pendidikan karakter tidak hanya diterapkan pada mata pelajaran agama, kewarganaraan, ilmu sosial akan tetapi pada semua mata pelajaran termasuk matematika. Dengan begitu pendidikan matematika dan pendidikan karakter dapat bersinergi dalam mengembangkan pendidikan yang bermoral. Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika meliputi berbagai proses yang dimulai dari kesadaran diri dan lingkungan, perhatian, rasa senang dan rasa membutuhkan. Serta rasa ingin tahu untuk mempelajarinya sehingga segala potensi yang ada pada diri siswa dapat berkembang melalui keterampilan dan dapat menunjukan sifat, sikap dan perilaku berkarakter dalam pendidikan matematika. Kemudian segala wujud tersebut dapat teraktualisasi baik secara individu maupu kelompok.

    ReplyDelete
  22. Dewi Mardhiyana (13709251043)
    PPs UNY Pendidikan Matematika kelas B

    Sebagai ilmu pengetahuan, matematika memiliki beberapa karakteristik yaitu (1) memiliki objek kajian abstrak, (2) bertumpu pada kesepakatan, (3) berpola pikir deduktif, (4) memiliki simbol yang kosong arti, (5) memperhatikan semesta pembicaraan, serta (6) konsisten dalam sistemnya. Dari karakteristik tersebut dapat dilihat nilai-nilai karakter yang termuat dalam pembelajaran matematika. Karakteristik objek kajian abstrak memuat nilai kreatif. Karakter bertumpu pada kesepakatan memuat nilai disiplin. Karakter berpola pikir deduktif memuat nilai cerdas dan kreatif. Karakter memiliki simbol yang kosong arti memuat nilai demokratis dan toleran. Karakteristik memperhatikan semesta pembicaraan memuat nilai peduli lingkungan. Sedangkan karakteristik konsisten dalam sistemnya memuat nilai kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab. Oleh karena itu, dari kajian terhadap karakteristik matematika terlihat bahwa nilai-nilai karakter termuat dalam masing-masing karakteristik tersebut. Hal ini tentunya memperlihatkan bahwa pengembangan pendidikan karakter dapat dilakukan melalui pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  23. p.mat kelas c
    13709251054

    untuk mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahaman tenatang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika dalam berbagai dimensi. karakter pendidikan matematika meliputi: karakter guru dan karakter siswa.Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normative, dan komunikasi spiritual. keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah.

    ReplyDelete
  24. Fauzia Rahmawati (13709251062)
    PPs UNY Pendidikan Matematika 2013 Kelas C

    Assalamualaikum wr.wb

    Pada dasarnya dalam matematika itu terselip nilai kejujuran, ketekunan, ketelitian, kecepatan, dan kemandirian. Selanjutnya untuk mendapat hasil maksimal antara pendidikan matematika dan pendidikan karakter, seorang guru dituntut untuk memberikan kontibusi yang optimal kepada peserta didiknya. Seorang guru juga harus mampu menentukan dan melaksanakan konsep antara pendidikaan matematika dan pendidikan karakter dalam suatu pembelajaran agar dapat bersinergi. Dalam rangka menjalankan tujuan yang ingin dicapai.

    ReplyDelete
  25. 13709251068
    P. Mat C

    Dengan demikian implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mengandung makna seberapa jauh kita mampu melakukan kegiatan dalam rentang niat, sikap, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman matematika, pendidikan matematika, dan pembelajaran matematika.

    Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat dicapai atas dasar pemahaman tentang pengetahuan matematika yang bersifat objektif dan pelaku matematika yang bersifat subjektif di dalam usahanya untuk memperoleh justifikasi tentang kebenaran matematika melalui kreasi, formulasi, representasi, publikasi dan interaksi.

    Secara eksplisit implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mendasarkan pada :
    (1) pengetahuan matematika pada berbagai dimensinya, yang meliputi hakikat, pembenaran, dan kejadiannya,
    (2) objek matematika pada berbagai dimensinya yang meliputi hakikat dan asal-usulnya,
    (3) penggunaan matematika formal yang meliputi efektivitasnya dalam sains, teknologi, dan ilmu lainnya, serta
    (4) praktik matematika pada berbagai dimensi secara lebih umum termasuk aktivitas para matematikawan atau aktivitas matematika para siswa SD.

    ReplyDelete
  26. Ria Wijayanti 13709251008
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Pendidikan karakter adalah salah satu pendidikan yang sangat penting. Pendidikan ini diharapkan dapat membantu menanggulangi karakter siswa yang buruk sehingga tercipta generasi muda yang tidak hanya berkualitas secara intelektual tapi berkualitas juga pribadi dan karakternya. Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan potensi sekaligus fakta yang harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi insan pendidikan, baik pendidik maupun tenaga pendidik. Tujuan pendidikan ini tidak hanya mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar atau mana yang salah, tetapi lebih menanamkan kebiasaan yang baik sehingga siswa menjadi tahu mana yang baik dan mana yang buruk, dan melakukan hal yang baik. Pendidikan karakter sangat penting untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Pendidikan ini hendaknya diterapkan kepada anak sedini mungkin agar bisa menanamkan moral yang baik pada anak, sehingga bisa menjadi landasan terbentuknya moral anak.

    ReplyDelete
  27. 13709251081

    pendidikan matematika di sekolah, dan pendidikan formal pada umumnya, cenderung menghasilkan lulusan yang mempunyai banyak pengetahuan (khususnya pengetahuan faktual), tetapi miskin dalam kemampuan berpikir, dan miskin dalam hal kepribadian, termasuk berjiwa penakut, kurang berani mengambil keputusan, dan kurang berani bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan.

    ReplyDelete
  28. Susant_13709251080_pmatD

    karakter adalah wilayah yang sulit untuk dijangkau namun akan ada banyak upaya yang dapat dilakuakn untuk membentuk karakter, yakni dengan pembiasaan2 dan melalui sebuah proses yang lama. pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan potensi sekaligus fakta yang harus menjadi bagian tidak terpisahkan bagi setiap insan pengembang pendidikan, baik pendidik, tenaga pendidik maupun pengambil kebijakan pendidikan.

    ReplyDelete
  29. Melda Ariyanti
    PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas C (13709251039)

    Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika
    Dari paparan artikel diatas bahwa Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika dapat dicapai atas dasar pemahaman tentang pengetahuan matematika yang bersifat objektif dan pelaku matematika yang bersifat subjektif di dalam usahanya untuk memperoleh justifikasi tentang kebenaran matematika melalui kreasi, formulasi, representasi, publikasi dan interaksi. Secara eksplisit implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mendasarkan pada : pengetahuan matematika pada berbagai dimensinya, yang meliputi hakikat, pembenaran, dan kejadiannya, Objek matematika pada berbagai dimensinya yang meliputi hakikat dan asal-usulnya. Penggunaan matematika formal yang meliputi efektivitasnya dalam sains, teknologi, dan ilmu lainnya, serta praktik matematika pada berbagai dimensi secara lebih umum termasuk aktivitas para matematikawan atau aktivitas matematika para siswa SD.

    ReplyDelete
  30. Siti Rochana /13709251079
    PPs Pend. Matematika D
    Assalammualaikum
    Pendidikan adalah upaya untuk berubah kearah yang lebih baik. Melalui pendidikan kita diharapkan tidak hanya berubah dalam hal kognitifnya tetapi ada perubahan tingkah laku juga dan perubahan itu harus kearah yang lebih baik. Tak hanya dalam pemdidikan matematika tetapi dalam setiap aspek pendidikan diharapkan dapat menjangkau dan mencakup pendidikan karakter pada siswa.

    ReplyDelete
  31. Rusnilawati PM D 13709251037
    Assalamu'alaikum wr. wb.

    Pendidikan matematika tidak telepas dari upaya untuk membangun karakter siswa. Oleh karena itu pendidikan matematika dapat dipandang sebagai suatu keadaan atau sifat atau bahkan nilai yang bersinergis dengan pendidikan karakter. Kegiatan pembelajaran matematika membutuhkan pengembangan pendidikan karakter serta memerlukan pendekatan yang lebih cocok dengan dunia siswa dalam belajar matematika. Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajran matematika yang dilakukan secara terus menerus baik secara instrinsik, ekstrinsik, atau sistemik.

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  32. Nadya Armintia 13709251067
    PPs Pendidikan Matematika Kelas D

    Ass. Wr. Wb.
    Salah satu cara mengajarkan karakter kepada anak adalah dengan melalui matematika. Misal, saat siswa berkelompok mengerjakans suatu permasalahan matematika, di situ dia belajar untuk saling menghargai, menghormati ide yang lain, belajar untuk berpikir tenang, dan masih banyak lagi.

    ReplyDelete
  33. MUSLIM (13709251061)
    PPs UNY KELAS C P. MAT

    mplementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika di sekolah mempunyai aspek pemahaman tentang hakikat matematika, hakikat matematika sekolah, hakikat pendidikan matematika, hakikat nilai matematika, hakikat belajar matematika, hakikat proses belajar mengajar matematika, hakikat pembudayaan matematika sekolah.

    Secara sadar, bahwa dalam pendidikan matematika tercantum nilai-nilai karakter seperti ketekunan, kesabaran, keuletan, rasa ingin tahu yang mendalam tentang matematika. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator, mediator sekaligus motivator bagi anak didiknya yaitu mendorong mereka untuk giat belajar dan menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi sebagai rasa tanggung jawab mereka terhadap matematika. Dengan cara seperti itu, maka nilai-nilai karakter akan nampak dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  34. Refiona Andika (10313244024)
    Pendidikan matematika Internasional

    saya tertarik pada pendapat Ebbutt dan Straker (1995) yang mendefinisikan matematika sekolah sebagai:
    (1) kegiatan matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan,
    (2) kegiatan matematika memerlukan kreativitas, imajinasi, intuisi dan penemuan, (3) kegiatan dan hasil-hasil matematika perlu dikomunikasikan,
    (4) kegiatan problem solving merupakan bagian dari kegiatan matematika,
    (5) algoritma merupakan prosedur untuk memperoleh jawaban-jawaban persoalan matematika, dan
    (6) interaksi sosial diperlukan dalam kegiatan matematika.

    hal ini sangat baik benar-benar diapplikasikan dalam proses kegiatan belajar mengajar. dan matematika pun tidak lagi hanya sekedar hapalan rumus belaka.

    ReplyDelete
  35. Fadiah Khairina Pertiwi
    10313244027
    P. Matematika Int 2010

    Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika sebenarnya merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Hal ini dikarenakan peran guru dalam pembelajaran matematika bukan sekedar membelajarkan konsep-konsep matematika, namun lebih pada bagaimana agar potensi siswa dapat berkembang melalui pembelajaran matematika yang dilaksanakan. Hal ini berkaitan dengan proses bagaimana siswa memperoleh konsep-konsep matematika. Dalam hal ini, siswa sebenarnya harus selalu terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran matematika, sehingga potensi mereka dapat berkembang secara maksimal. Misalnya, dengan mempelajari matematika, siswa dapat berpikir kritis, logis, dan analitis. Selain itu, kemampuan pemecahan masalah pada siswa juga dapat berkembang secara maksimal.

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  36. Meita Fitrianawati
    13709251017
    PPs P.Matematika A

    Setelah membaca Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika, Hal yang dapat saya petik adalah bahwa saya setuju dengan apa yang disampaikan Prof Marsigit, bahwa Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Selain itu, Matematika adalah ilmu yang membutuhkan karakter siswa yang dapat berpikir kritis, kreatif serta mempunyai sikap matematika. Ketelatenan, berpikir terbuka serta ketelitian sangat berperan dalam membentuk pola pikir siswa di dalam belajar matematika sehingga matematika ini memiliki satu kesatan dalam membentuk karakter peserta didik. Terima Kasih

    ReplyDelete
  37. Anisah (13709251006)
    PPs UNY P.Mat A

    Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia.

    ReplyDelete
  38. 13709251045 P.Mat D.
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Secara umum, sikap matematika ditunjukkan oleh indikator adanya rasa senang dan ikhlas untuk mempelajari matematika, sikap yang mendukung untuk mempelajari matematika, pengetahuan yang cukup untuk mempelajari matematika, rasa ingin tahu, kemamuan untuk bertanya, untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman matematika.
    Wallaahu a’alamu bishshawaabi.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  39. Wita Ratna Puspita 13709251021
    PPs UNY Pend. Matematika Kelas A

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Akhir-akhir ini, dunia pendidikan di Indonesia sedang mengalami krisis moral. Pendidikan di Indonesia cenderung hanya menggunakan standar normativ saja, dengan mengesampingkan budi pekerti dan moral siswa. Akhirnya menyebabkan budaya mencontek mengakar hingga saat ini.
    Pendidikan merupakan dasar untuk menumbuhkan pendidikan karakter dalam diri setiap peserta didik. Pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk menanamkan nilai-nilai atau sikap yang baik bagi peserta didik, sehingga diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam tingkah laku sehari-hari. Nilai-nilai tersebut diantaranya nilai religius, jujur, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan pengintegrasian pendidikan karakter kedalam setiap mata pelajaran, termasuk pelajaran matematika.
    Dalam pembelajaran matematika, pendidikan karakter lebih ditekankan pada hubungan atau komunikasi yaitu dengan mengembangkan komunikasi material, formal, normatif, dan spiritual. Dengan pengintegrasian dan penanaman pendidikan karakter pada siswa sejak dini, diharapkan moral anak bangsa kita lebih baik dan lebih baik lagi, sehingga dapat mencapai tujuan dari pendidikan nasional Indonesia.

    ReplyDelete
  40. Anastasia Shinta Wirasasmita (13709251001)
    Pend. Matematika PPs UNY 2013 Kelas A.

    Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika
    Pendidikan karakter adalah pendidikan yang diupayakan untuk membentuk manusia yang memiliki moral dan akhlak yang mulia.Dan memiliki rasa cinta terhadap lingkungan sekitarnya. Jadi dalam pendidikan matematikapun perlu ditanamkan nilai-nilai dari pendidikan karakter. Sehingga di dalam pembelajaran matematikapun diusahakan siswa dapat berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih akrab dengan siswa dan menyenangkan.

    Terima Kasih.

    ReplyDelete
  41. Dewi Nasiroh/10301241037
    Pendidikan Matematika 2010

    Pendidikan saat ini bukan hanya ditekankan pada pencapaian kecerdasan intelektual peserta didik tetapi juga kecerdasan emosional. Ternyata kehidupan sekarang menuntut sumber daya manusianya untuk bisa cakap dalam hal ilmu dan berinteraksi dengan sesamanya. Semua itu dapat dicapai melalui pendidikan karakter. Begitu pula dalam pembelajaran matematika, pendidikan karakter dapat diterapkan dengan cara mengubah pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna bukan hanya sekedar menghafalkan rumus-rumus, namun juga dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  42. Dedi Saputra
    13709251014
    PPs P.Mat A

    Setelah saya membaca wacana di atas saya memberikan komentar bahwa Pendidikan merupakan dasar untuk menumbuhkan pendidikan karakter dalam diri setiap peserta didik. Pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk menanamkan nilai-nilai atau sikap yang baik bagi peserta didik, sehingga diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam tingkah laku sehari-hari. Nilai-nilai tersebut diantaranya nilai religius, jujur, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan pengintegrasian pendidikan karakter kedalam setiap mata pelajaran, termasuk pelajaran matematika.
    Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika merupakan potensi sekaligus fakta yang harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi insan pendidikan, baik pendidik maupun tenaga pendidik. Tujuan pendidikan ini tidak hanya mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar atau mana yang salah, tetapi lebih menanamkan kebiasaan yang baik sehingga siswa menjadi tahu mana yang baik dan mana yang buruk, dan melakukan hal yang baik. Pendidikan karakter sangat penting untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

    Terima Kasih

    ReplyDelete
  43. Harry Syafutera (13709251056)
    PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas C

    Menurut paparan diatas bahwa, Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Selain itu, Matematika adalah ilmu yang membutuhkan karakter siswa yang dapat berpikir kritis, kreatif serta mempunyai sikap matematika.

    ReplyDelete
  44. Aep Sunendar 13709251082
    PPs UNY Pend. Matematika C

    Untuk mengimplementasikan karakter dalam penbelajaran matematika terlebih dahulu kita harus mengerti matematika itu sendiri dan karakter suatu bangsa sesuai dengan dimensi ruang dan waktunya, penbelajaran matematika diharapkan tidak hanya mengembangkan kemampuan kogntif tetapi juga dapat mengembangkan karakter. Sehingga didapat manusia yang berkarakter sesuai dengan yang di harapkan.

    ReplyDelete
  45. Tri Hidayati (13709251073)
    Pendidikan Matematika Kelas C
    PPS UNY 2013

    Pendidikan matematika tidak menutup kemungkinan adanya pendidikan karakter. Perlu diluruskan bahwa matematika tidak hanya sebagai mata pelajaran yang netral dan bebas nilai. Dalam kenyataannya, begitu banyak proses untuk mengembangkan pembuktian-pembuktian dalam matematika. Sudah jelas bahwa matematika mendukung adanya pelatihan pemecahan masalah pada diri siswa. Dalam proses pemecahan masalah, terkandung banyak solusi yang dapat memacu kekreativitasan siswa untuk mencari penyelesaian terbaik. Selain itu, matematika juga perlu didiskusikan dengan orang lain, hal ini akan membantu siswa dala melatih dirinya mengembangkan aspek sosialnya seperti kerja sama dan komunikasi.
    Dari artikel di atas dikatakan bahwa matematika sebagai pendidikan karakter adalah kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Pada dasarnya setiap mata pelajaran cocok dengan pendidikan karakter, karena pengetahuan-pengetahuan itu datangnya juga dari diri manusia, dari kehidupan mereka. Maka terbukti bahwa pebelajaran matematika pun mampu mendidik karakter siswa untuk terus berkembang menjadi individu yang unggul dan terus mampu melakukan inovasi matematika untuk perkembangan yang lebih maju ke depannya.

    ReplyDelete
  46. Siti Umi Rokhani / 13709251048
    PPs UNY Pend.Matematika Kelas D
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Matematika yang selama ini dipandang sebagai mata pelajaran yang menakutkan sebenarnya mempunyai peranan penting dalam penanaman karakter pada setiap individu. Pembelajaran matematika sebenarnya mengandung nilai-nilai pendidikan karakter, di antaranya konsistensi, disiplin, keseimbangan, kreatif, dan inovatif. Nilai-nilai ini secara tidak langsung tersirat dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukan secara tepat, akan tetapi hal ini belum sepenuhnya disadari oleh para pendidik sehingga proses pembelajaran masih berkutat pada materi matematika saja. Padahal jika hal ini bisa disadari dan dikembangkan maka akan terbentuk manusia-manusia yang tidak hanya hebat dalam matematika akan tetapi juga mempunyai karakter yang baik dan kuat.
    Terima kasih.
    wassalamu'alaikum wr. wb

    ReplyDelete
  47. Dhanar Dwi Hary J. (13709251076)
    PPs PM Kelas C

    sebenarnya dalam dunia pendidikan matematika semua yang ada dan mungkin ada pastilah menjadi hal yang perlu menjadi bahan pemikiran bagi guru sehingga nantinya guru mampu bertindak cerdas. Dan kadang kita sebagai guru tidak akan menduga reaksi dan pemikiran siswa karena pemikiran siswa penuh dengan imajinasi. bila hal tersebut tidak diperhatikan guru, maka akan menjadikan kreativitas dari siswa hilang. Sehingga siswa hanya mengikuti alur pembelajaran yang diberikan guru dan karakter yang berusaha ditanamkan akan sulit dicapai.

    ReplyDelete
  48. Juliana Untayana
    P. Mat A. (13709251015)

    Artikel ini berbicara mengenai pendidikan karakter yang penting dalam pendidikan matematika. Pembelajaran matematika bisa membentuk karakter siswa seperti nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam diri siswa. Perubahan positif tidak hanya dalam hal kognitif, tetapi juga perilaku siswa, yang akhir-akhir ini sering disebut karakter. bagaimana setelah belajar siswa menjadi pandai, cerdas dan mampu menempatkan diri. bertingkah sopan santun. karena memang harusnya ada perbedaan antara orang belajar dan yang tidak belajar. tetapi mungkin di tengah jalan ada yang tergiur dengan kenikmatan negatif, sehingga walaupun belajar tetapi perilakunya negatif.

    ReplyDelete
  49. Novferma (13709251042)
    PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas B
    Asalamualaikum,wr.wb
    Menurut pendapat saya tentang artikel populer: pendidikan karakter dalam pendidikan matematika bahwa karakter seseorang berkaitan denga sikap moral atau perilaku moral yang dimiliki mereka. Menurut saya dalam pembelajaran matematika bisa membentuk karakter siswa. Karekter yang dimaksud seperti kedisiplinan dan tanggung jawab. Banyak cara matematika mengajarkan kedisiplinan, kejujuran dan tanggung jawab siswa dari permasalahan-permasalahan yang diberikan. Dimana terdapat nilai-nilai karakter yang berlandaskan budaya bangsa, salah satunya yaitu religius, jujur, disiplin, tanggung jawab, dan sebagainya. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, dimana keinginan untuk berbuat baik itu lah kunci dari segalanya.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  50. 13709251046/ PM B/ PPs UNY 2013

    Bagaimana matematika bisa membangun karakter? sebenarnya memang pertanyaan yang penting dan telah terjawab dari postingan ini. Maka, untuk membuat matematika berfungsi dalam pendidikan karakter sudah seharusnya guru membangun dunia siswa belajar matematika, bukan dunianya sendiri membelajarkan matematia. Dengan kebermaknaan proses belajarlah pada akhirnya siswa secara otomatis melakukannya berulang-ulang seperti kebiasaan. Segala sesuatu yang bermula dari kebiasaan memang akan lebih mudah dijalankan daripada dengan keterpaksaan karena nilai atau harga diri saja. Terimakasih.

    ReplyDelete
  51. Nevi Narendrati (13709251009)
    PPs UNY P.Mat A

    Keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah. Pada matematika sekolah, konsep matematika esensial sebagai basic untuk prasyarat konsep yang lebih tinggi dan banyak menggunakan aplikasi dalam kehidupan di masyarakat. Konsep yang dipelajari bisa didekati dengan pengalaman siswa atau benda-benda konkret yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Melalui matematika sekolah kita mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan-perubahan keadaan di dalam kehidupan dunia yang senantiasa berubah, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis dan rasional, kritis dan cermat, objektif, kreatif, dan efektif.

    ReplyDelete
  52. Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normative, dan komunikasi spiritual. Dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika, kita memerlukan pendekatan yang lebih cocok dengan dunia siswa belajar matematika. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah. Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.

    Sriyanta (13709251034)
    PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas B

    ReplyDelete
  53. Puput Wahyu Hidayat (13709251013)
    Pendidikan Matematika Kelas A PPs UNY 2013

    Assalammualaikum Wr Wb,

    Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika.
    Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimism.

    Wassalammualaikum Wr Wb

    ReplyDelete
  54. Veny Sri Astuti (13709251029)
    Pend. Matematika Kelas B

    AssaLamu’aLaykum Wr. Wb.

    Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Dari hal ini, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran matematika untuk mengembangkan karakter siswa adalah suatu kegiatan (Math is doing something) yang dibungkus dengan pemecahan masalah, investigasi, realistik, konstektual, dan cooperatifve.

    ReplyDelete
  55. Telah dibahas beberapa kali bahwa intuisi itu sangat penting pada proses pembelajaran Matematika. Untuk itu intuisi seseorang perlu dikembangkan sebaik mungkin sejak kecil. Peran guru itulah yang paling utama dalam menumbuhkan intuisi siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar atau yang secara kasar dapat dikatakan memaksa siswa untuk menguasai materi pelajaran. Inilah persepsi yang perlu diubah mulai saat ini. Guru sangat diperlukan perannya untuk mengembangkan intuisi siswa. Namun semuanya ini tidak semata-mata sebagai tanggung jawab guru tetapi juga tanggung jawab semua pihak sekolah bahkan keluarga dan masyarakat. Pihak sekolah harus membantu siswa untuk mengembangkan kreativitas siswa. Begitu pula dari pehak keluarga, orang tua siswa harus memperhatikan anaknya dengan baik sesuai bakatnya dan tidak boleh hanya memaksa mereka untuk belajar terus-menerus. Sedangkan untuk masyarakat juga harus turut berperan terhadap pengembangan intuisi maupun kreativitas siswa.

    ReplyDelete
  56. Assalamualaikum Wr. Wb.

    Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu : koleris, sanguin, plegmatis dan melankolis. Dari ke 4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi.

    Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya). Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.

    Maka pendidikan karakter ini bisa diterapkan dan diusahakan dalam pendidikan matematika, dan diharapkan akan membentuk siswa yang mampu mengelola kemapuan matematikanya secara baik serta memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan, mislakan pendidikan matematika dapat membentuk sikap teliti, sikap ilmiah, sikap menghargai setiap pendapat, dan lain-lain.

    sumber:
    http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-melengkapi-kepribadian/

    ReplyDelete
  57. Nuraini mustika sari dewi (137 0925 1035)
    Pendidikan matematika kelas D

    Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif, dan bermuara dengan komunikasi spiritual. Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mendasarkan pada : pengetahuan matematika pada berbagai dimensinya, yang meliputi hakikat, pembenaran, dan kejadiannya.

    ReplyDelete
  58. PM A (13709251024)
    PPs UNY

    Bismillaahirrahmaanirrohiim,
    Dalam Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika di atas menjelaskan bahwa untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi. Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, formal, normatif serta spiritual. Matematika sekolah yang cocol dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi. Sehingga pada akhirnya, pendidikan karakter diharapkan dapat berkontribusi untuk keunggulan bangsa..

    ReplyDelete
  59. Khikayah / NIM 13709259005
    PPs P.MAT P2TK 2013
    Assalamu'alaikum Wr Wb
    Setiap siswa mempunyai karakteristik dan kemampuan yang berbeda antara siswa satu dengan lainnya. Hal ini yang mendasari perlu adanya suatu metode pembelajaran yang berbeda daripada biasanya.Untuk dapat mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diperlukan pemahaman tentang makna karakter, karakter bangsa, matematika dan pendidikan matematika pada berbagai dimensi. Siswa dapat dipandang sebagai makhluk yang berkembang. Oleh karena itu matematika dipandang secara lebih manusiawi yang antara lain dapat dianggap sebagai bahasa, dan kreativitas manusia. Pendapat pribadi siswa dihargai dan ditekankan. Siswa memunyai hak individu untuk melindungi dan mengembangkan diri dan pengalamannya sesuai dengan potensinya. Implementasi pendidikan karakter pada pendidikan matematika diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk kemajuan pendidikan melalui inovasi-inovasi pembelajaran.
    Wassalamu'alaikum Wr Wb

    ReplyDelete
  60. ABDUL KHAMID
    PPS UNY - PMat P2Tk 2013
    NIM. 1370 925 9003

    Sekarang ini Matematika dipandang bukan untuk diajarkan oleh guru, tetapi untuk dipelajari oleh siswa.
    Siswa ditempatkan sebagai titik pusat pembelajaran matematika.
    Guru bertugas menciptakan suasana yang ramah dan menyenangkan dan suasananya tidak begitu formal, menyediakan fasilitas, dan lainnya, sedang peranan guru lebih bersifat sebagai manajer daripada pengajar.
    Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan kreatifitas, imajinasi,intuisi dan penemuan, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi dan interaksi sosiali sebagaimana menurut Ebbutt dan Straker (1995).

    ReplyDelete
  61. Harsiti Indrawati
    13301241021
    Penidikan Matematika A 2013

    We know that now education base of character education. The material also base of character education. In mathematics actually include of character education. although very abstract, but it is can be perceived. Example, in mathematics we trained to consistent and honest. We can not deceive other if we have the false answer.

    ReplyDelete
  62. PARJO (13709259001)
    PPs Pendidikan Matematika UNY P2TK 2013

    Assalamu’alaikum Wr Wb,
    Sebagai insan yang dibekali oleh Tuhan dengan naluri yang ingin berkembang, khususnya dalam rangka mengembangkan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif, dan bermuara dengan komunikasi spiritual. Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika mendasarkan pada : pengetahuan matematika pada berbagai dimensinya, yang meliputi hakikat, pembenaran, dan kejadiannya.menggapai keutamaan di bidang ilmu pengetahuan, tentunya kita pasti berhasrat untuk memperdalam ilmu tersebut.

    Sekian, terima kasih

    ReplyDelete
  63. ARI AKHIRNI
    P.MAT P2TK 2013
    NIM 13709259007

    Seperti disampaikan bahwa implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajaran matematika yang dilakukan secara terusmenerus baik secara instrinsik, ekstrinsik, atau sistemik. inilah harapan yang hendak dicapai bagi terciptanya kebangkitan bangsa dalam pendidikan khususnya matematika.

    ReplyDelete
  64. Dessi Kristiyani
    PPs PM P2TK 2013_NIM 13709259010

    Assalamuálaikum..

    Pendidikan karakter dalam pendidikan matematika saya rasa sangat penting, karena tujuan pendidikan bukanlah hanya bertumpu pada output yang berupa insan - insan yang berilmu akan tetapi juga insan yang berilmu dan berakhlak, sehingga generasi penerus tidak akan tergerus oleh pola yang ada dalam era modren saat ini.

    Wassalamuálaikum..

    ReplyDelete
  65. Siti Muzaro’ah, S.Pd.Si
    P.Mat P2TK Dikdas 2013
    NIM. 13709259012

    Bismillah..
    keberhasilan pendidikan karakter dalam pendidikan matematika ditentukan seberapa jauh kita mampu mendefinisikan dan mengimplementasikan konsep dasar matematika sekolah. Matematika sekolah yang cocok dengan pendidikan karakter antara lain menganggap matematika sebagai kegiatan menelusuri pola-pola, kegiatan penelitian atau investigasi, kegiatan pemecahan masalah, dan kegiatan komunikasi.
    Pada akhirnya, implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan matematika diharapkan dapat berkontribusi pada keunggulan bangsa melalui inovasi pembelajran matematika yang dilakukan secara terusmenerus baik secara instrinsik, ekstrinsik, atau sistemik.

    ReplyDelete
  66. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  67. Dita Aldila Krisma
    Pendidikan Matematika A 2013 UNY
    13301241002

    I like this sentence: pragmatically, we can state that mathematics is the set of truth values consisting of the theorems and their proofs. Furthermore, in my opinion, the implementation of character education in mathematics is the ability of each individual respect for his work, each individual has the opportunity for creativity, innovate, and grow. So, every work of any kind, character education actually can not be released and is expected to contribute more control to learning innovation

    ReplyDelete
  68. Septi Puji Rahayu
    Pend. Matematika A 2013
    13301241028

    In my opinion, the implementation of character education in mathematics education is very appropriate because the math can form good character and positive, such unyielding, meticulous, high curiosity, critical thinking and rational, it is not easy to believe the other person because of the mathematics taught about a statement of evidence and so on. So the mathematics education can promote the establishment of character education in Indonesia.

    ReplyDelete