Jul 16, 2012

Elegi Pertengkaran Para Orang Tua Berambut Putih




Oleh: Marsigit

Orang Tua Berambut Putih Duduk Sendiri:


Aku duduk di sini. Maka aku yang telah mengaku sebagai orang tua berambut putih serta merta aku menyadari bahwa ketika aku duduk di sini, aku menjumpai ada aku yang duduk di sini, aku merasakan ada duduk dan aku mengerti ada di sini.


Tetapi serta merta pula jika yang demikian aku renungkan maka aku menyadari ada diri yang bukan aku, ada diri yang sedang tidak duduk dan ada diri yang di sana. Kalau aku perjelas refleksiku itu maka aku menemukan bahwa aku yang duduk di sini menyebabkan ada yang bukan aku yang tidak duduk di sini maupun yang duduk di sana. Aku terkejut karena aku menemukan bahwa ada aku yang tidak duduk di sini, dan ada diri yang bukan aku duduk di sini. Padahal aku telah mengaku bahwa aku duduk di sisini. Maka aku bertanya siapakah aku yang tidak duduk di sini, dan siapakah diri bukan aku yang duduk di sini. Pertanyaan itu ternyata dapat saya lanjutkan, siapakah aku yang duduk di sini dan siapakah aku yang tidak duduk di sini? Saya juga bisa bertanya siapakah aku yang duduk di sini dan siapakah bukan aku yang duduk di sini? Ternyata pertanyaan itu menyebabkan pertanyaanku yang berikutnya. Kalau begitu apakah ada aku yang bukan aku, duduk yang tidak duduk, di sini tetapi tidak di sini?. Aku menjadi teringat dengan pepatah jawa “ngono ning ojo ngono”. Apakah ada ngono yang bukan ngono, dan ojo ning bukan ojo? Kalau orang jawa saja sejak nenek moyang sudah mempunyai ngono ning ojo ngono, maka enehkah jika sekarang aku bertanya aku tetapi bukan aku, duduk tetapi bukan duduk, dan di sini tetapi bukan di sini? Kalau ini masih dianggap aneh maka sesungguhnyalah kita telah kehilangan dan tidak mampu memahamiwarisan leluhur.


Orang Tua Berambut Putih (pertama) Bertemu Dengan Orang Tua Berambut Putih Yang Lain (kedua):

Orang Tua Berambut Putih kedua:

Salam. Sesungguhnyalah aku mengikuti segala yang engkau pikirkan. Akulah mungkin aku yang bukan dirimu. Kemudian engkau mungkin bertanya apakah aku itulah yang tidak duduk di sini, atau apakah akulah yang duduk di sana, atau apakah akulah yang tidak duduk di sana? Tetapi setidaknya engkau telah berkata bahwa aku duduk di sini. Maka aku pun kemudian bertanya siapakah yang engkau maksud sebagai aku yang duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud sebagai bukan aku yang duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud aku yang tidak duduk di sini? Siapakah yang engkau maksud aku yang duduk di sana? Siapakah yang engkau maksud aku yang tidak duduk di sana? Siapakah yang engkau maksud bukan aku yang tidak duduk di sana?

Orang Tua berambut Putih Pertama:

Salam kembali. Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau yang tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu.

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Mengapa engka selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Kedua:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga Menjumpai Ada Dua Orang Berambut Putih Berkelahi:

Wahai para orang tua. Mengapa sesama orang tua seperti engkau berdua saling berhantam? Apa kau pikir yang ada di sini cuma engkau berdua? Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengerti pikiranmu berdua sedari awal. Apakah engkau berdua tidak mengerti bahwa sedari awal aku telah duduk di sini bersamamu? Maka apalah gunanya mengapa engkau saling bertengkar? Bukankah saling bertukar pikiran itu lebih baik dari pada berkelahi.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku berdua sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku berdua juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku berdua juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku berdua yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku berdua telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku berdua juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau juga tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:

Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau berdua akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu berdua.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguh-sungguhnya aku berdua juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku berdua ragu apakah aku berdua mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:

Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau berdua akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu berdua.

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:
Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama dan Kedua Secara bersama-sama menjawab:

Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Ketiga:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Keempat Menjumpai Ada Tiga Orang Berambut Putih Berkelai:
Wahai para orang tua. Mengapa sesama orang tua seperti engkau bertiga saling berhantam? Apa kau pikir yang ada di sini cuma engkau bertiga? Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku telah mengerti pikiranmu bertiga sedari awal. Apakah engkau bertiga tidak mengerti bahwa sedari awal aku telah duduk di sini bersamamu? Maka apalah gunanya mengapa engkau saling bertengkar? Bukankah saling bertukar pikiran itu lebih baik dari pada berkelahi.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:
Sesungguhnya pula aku juga menyadari bahwa engkau yang bukan aku telah mengetahui pikiranku berdua sedari awal. Namun ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi bahwa aku bertiga juga mengerti tentang pikiranmu sedari awal seawal-awalnya. Maka aku bertiga juga ingin bertanya mengapa engkau bertanya tentang aku bertiga yang duduk di sini? Padahal engkau tahu bahwa aku bertiga telah duduk di sini dan engkau yang bukan aku bertiga juga duduk di sini. Jadi sebetulnya siapakah engkau yang duduk di sini? Apakah engkau juga tidak duduk di sini? Apakah engkau juga duduk tidak di sini? Apakah engkau juga tidak duduk tidak di sini?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Sesungguh-sungguhnya aku telah mengerti bahwa engkau bertiga akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti jawabanmu bertiga.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:

Sesungguh-sungguhnya aku bertiga juga telah mengerti bahwa engkau akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku bertiga ragu apakah aku bertiga mengerti atau tidak mengerti komentarmu.

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Sesungguh-sungguhnya aku juga telah mengerti bahwa engkau bertiga akan memberi komentar seperti itu, tetapi aku ragu apakah aku mengerti atau tidak mengerti komentarmu bertiga.

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:

Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Mengapa engkau selalu menirukanku?

Orang Tua Berambut Putih Pertama, Kedua dan Ketiga Secara bersama-sama menjawab:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Keempat:
Kalau begitu apa maumu?

Orang Tua Berambut Putih Kelima Menjumpai Ada Empat Orang Berambut Putih Berkelahi:

.....
Orang Tua Berambut Putih Keseribu Menjumpai Ada Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan Orang Tua Berambut Putih Berkelai.
.....
Orang Tua Berambut Putih Ke-n Menjumpai Ada n-1 Orang Berambut Putih Berkelahi:
.....
Ada diri yang bukan mereka menjumpai mereka berkelahi:

Aku sendiri tidak tahu siapakah diriku. Apakah diriku itu diriku atau bukan diriku. Aku juga tidak tahu apakah diriku adalah satu dari mereka? Aku juga tidak tahu apakah aku tahu pikiran mereka sedari awal? Aku juga tidak tahu apakah aku duduk? Aku juga tidak tahu apakah aku di sini atau tidak di sini? Aku tidak tahu apakah mereka mengetahui pikiranku sedari awal. Aku tidak tahu apakah mereka tahu atau tidak tahu aku di sini atau tidak di sini, aku duduk atau aku tidak duduk? Aku tidak tahu apakah yang akan mereka tanyakan? Aku tidak tahu apakah yang mereka akan komentari. Aku tidak tahu apakah mereka akan selalu menirukanku? Aku tidak tahu apakah aku akan selalu menirukannya. Aku tidak tahu apakah aku juga akan berkelahi atau tidak akan berkelahi dengan mereka? Aku tidak tahu apakah jika aku berkelahi dengan mereka maka akan ada diri yang bukan diriku dan bukan diri mereka yang juga mengetahui pikiranku dan pikiran mereka sedari awal? Oleh karena aku banyak tidak tahu banyak maka aku tidak dapat mengatakan bahwa aku mengerti mereka atau tidak mengerti mereka. Tetapi ada yang aku tahu yaitu bahwa setidaknya aku tahu bahwa para orang tua itu saling merasa dan mengaku mengetahui para orang tua yang lainnya. Tidak hanya itu para orang tua itu bahwa saling bertengkar bahkan saling berkelahi. Tetapi aku juga tidak tahu apakah aku termasuk diantara mereka. Dan aku tidak tahu apakah aku sedang berkata tentang pengetahuanku atau ketidak tahuanku. Sehingga dapat aku simpulkan bahwa yang jelas-jelas aku tahu adalah aku tidak tahu siapakah diriku itu. Itulah sebenar-benar bahwa aku tidaklah mengatahui siapakah diriku itu. Tetapi aku mengetahui bahwa setidaknya aku bisa mengucapkan kalimatku yang terakhir. Maka akupun tidak tahu apakah itu batas ku yang ingin ku gapai. Artinya aku tidak bisa menjawab apakah aku bisa menggapai batasku.

Diantara Penonton Perkelahian Terdapatlah Guru Matematika Bersama Siswanya

Siswa:
Guru apakah engkau melihat perkelahian itu?

Guru matematika:
Ya aku sedang melihat perkelahian itu. Rupanya perkelahian itu sangat seru, tetapi aku tidak tahu mengapa mereka berkelahi, kapan mulai berkelahi dan kapan selesai berkelahi? Kelihatannya perkelahian diantara para orang tua berambut putih itu memang sebuah misteri.

Siswa:
Guru, bukankah engkau telah mengajariku matematika. Apakah aku bisa menggunakan matematika yang telah engkau ajarkan kepadaku untuk memecahkan misteri perkelahian itu.

Guru matematika:
Oh muridku pertanyaanmu sungguh cerdas. Tetapi ketahuilah bahwa matematika yang telah engkau pelajari hanya sebagian kecil saja dapat bisa memecah misteri perkelahian itu.

Siswa:
Apa contohnya Pak guru?

Guru matematika:
Jikalau engkau perhatikan, pertama ada 1 orang tua berambut putih, kemudian datang orang tua berambut putih ke 2, kemudian datang orang tua berambut putih ke 3, ke 4, ke 5, ... dst.

Siswa:
Oh aku tahu Pak Guru. Bukankah itu barisan bilangan? Kalau bilangan menunjukkan nomor urut dari orang tua berambut putih yang datang, maka aku menemukan barisan bilangan itu sebagai: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, ..... dst.

Guru matematika:
Bagus, betul sekali kamu. Untuk yang ini engkau mendapat nilai 10.

Siswa:
Tetapi guru, aku juga menemukan kalau kita ingin mengetahui banyaknya orang tua berambut putih pada stuatu saat maka aku juga bisa. Yaitu aku menemukan deret matematika sebagai:
1+1+1+1+1+1+1+... dst

Guru matematika:
Bagus, betul sekali kamu. Untuk yang ini engkau mendapat nilai 10.

Siswa:
Tetapi guru, kenapa mereka berkelahi?

Guru matematika:
Aku juga tidak tahu. Coba mari kita tanyakan kepada dosen yang pernah memberi kuliah Filsafat Pendidikan Matematika . Wahai dosen, dapatkah engkau menerangkan pertanyaan siswaku ini, mengapa para orang tua berambut putih itu saling berkelahi?

Dosen:
Terimakasih Pak Guru Matematika. Sebenarnya jawabanku hanyalah untuk Pak Guru saja, karena aku terikat oleh ruang dan waktu sehingga tidak mampu menjelaskan perkara ini kepada siswamu.

Guru matematika:
Baiklah, maka terangkanlah kepadaku, karena kebetulan siswaku tadi sudah pergi.

Dosen:
Menurut pengamatanku setiap orang tua berambut putih itu mengaku diri sebagai ilmu. Berarti aku dapat menyimpulkan bahwa mereka itu sebenar-benarnya adalah satu, yaitu ilmu itu sendiri.
Mengapa pada suatu saat kita melihat mereka sebagai banyak? Itulah sebenar-benar ilmu. Hakekat ilmu adalah multirupa. Dia bisa menempati satu titik sekaligus untuk wajahnya yang banyak, tetapi dia juga bisa menempati tempat yang banyak untuk wajahnya yang satu.

Guru matematika:
Mengapa dia mulai dari yang satu.

Dosen:
Saya tidak tahu persis darimana datang orang tua berambut putih pertama. Tetapi baiklah jikalau menganggap bahwa mereka dimulai dari seorang tua berambut putih, maka dapat aku katakan bahwa yang satu itupun disebut permulaan. Maka setiap permulaan selalu ada akhir di situ. Ketahuilah bahwa sebenar-benar pondasi adalah suatu permulaan. Maka jika mereka mengakui memulai dari seorang tua berambut putih, maka sebenar-benar mereka ingin menunjukkan bahwa mereka adalah suatu ilmu yang mempunyai pondasi. Itulah sifat suatu ilmu, bahwa suatu ilmu tentulah mempunyai pondasi.

Guru metamatika:
Dosen, mengapa setiap orang tua berambut putih yang datang kemudian terlibat perkelahian?

Dosen:
Hendaknya engkau waspada dan jernih dalam memandang. Mereka juga ingin menunjukkan kepada kita bahwa tiadalah suatu ilmu didapat tanpa perkelahian. Tetapi hendaknya engkau juga jangan salah paham. Perkelahian yang dimaksud di sini adalah perkelahian dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

Guru matematika:
Aku belum paham penjelasanmu yang terakhir, dosen?

Dosen:
Ituylah yang pernah diakui oleh orang tua berambut puth yang lain. Bahwa sebenar-benar perkelahian dalam ilmu adalah metode sintetik yang sesuai dengan prinsip kontradiktif.

Guru matematika:
Aku semakin tambah bingung, dosen?

Dosen:
Ambil seumpama contoh pertanyaanku ini. "Apakah engkau seorang guru?"

Guru matematika:
Jelas. Siapa yang meragukan bahwa saya seorang guru?

Dosen:
Akulah orang pertama yang meragukan.

Guru matematika:
Kenapa engkau meragukan bahwa saya seorang guru?

Dosen:
Ya, karena sebenar-benar bahwa "engkau" tidaklah sama dengan "guru". Sebelum aku tahu persis siapa engkau, dan sebelum aku tahu persis siapa guru, maka aku tidak akan pernah mengatakan bahwa engkau sama dengan guru.

Guru matematika:
Aku dapat membuktikan bahwa aku memang betul-betul guru. Bahkan aku sudah mempunyai Sertifikat Pendidik Profesional. Ini sertifikatnya. Apakah engkau masih ragu?

Dosen:
Ya benar aku masih ragu, karena aku pun menemukan bahwa "sertifikat" itu tidak sama dengan "guru". Maka aku pun belum dapat mengatakan bahwa sertifikatmu menunjukkan bahwa engkau seorang guru.

Guru matematika:
Kalau begitu engkau adalah seorang dosen yang keterlaluan. Mengapa engkau tidak percaya dengan sertifikat yang engkau buat sendiri.

Dosen:
Jangan salah paham. Yang aku maksud dengan sertifikat adalah sebenar-benar sertifikat dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dan yang aku maksud sebagai guru, adalah guru dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.

Guru matematika:
Kalau begitu coba lihatlah. Aku akan tunjukkan kepadamu bagaimana aku bisa mengajar matematika di depan kelas. Lihatlah gerakanku, lihatlah murid-muridku, dengarlah suaraku.

Dosen:
Aku juga menemukan bahwa ternyata "gerakanmu" tidaklah sama dengan "mengajar", "suaramu" tidaklah sama dengan "mengajar". "muridmu" tidaklah sama dengan "mengajarmu".

Guru matematika:
Lantas apa lagi, Dosen? Aku harus berbuat apa agar engkau yakin bahwa aku adalah seorang guru. Aku sebagai seorang gurupun engkau belum yakin, apalagi bahwa aku sebagai seorang guru matematika.

Dosen:
Baiklah, walaupun aku tidak dapat memperoleh keyakinanku seratus persen, tetapi setidaknya keyakinan itu sudah mulai ada. Karena penjelasanmu, karena uraianmu, karena contoh-contohmu, karena demonstrasimu itulah aku mulai yakin bahwa engkau adalah seorang guru, bahkan guru matematika. Itulah betapa sulitnya menjawab pertanyaanku yang pertama, yaitu "Apakah engkau seorang guru?".

Guru matematika:
Kalau Dosen sudah ada keyakinan bahwa aku seorang guru, maka bagaimana selanjutnya?

Dosen:
Itulah sebenar-benar jawaban pertanyaanmu yang lebih awal tadi, yaitu mengapa para orang tua berambut putih tadi berkelahi.

Guru matematika:
Aku belum jelas, Dosen?

Dosen:
Bukankah aku dan engkau baru saja berkelahi dan masih akan berkelahi sekedar dalam rangka memperoleh pengetahuan atau ilmu yang mengatakan bahwa "Engkau adalah guru". Jika engkau sadar maka adalah ilmuku dan ilmumulah yang sedang berkelahi. Padahal engkau tahu bahwa para orang tua berambut putih itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu, yaitu ilmuku dan ilmumu juga. Maka sebenar-benar memperoleh ilmu adalah malalui perkelahian di antara pengetahuan-pengetahuannya itu sendiri. Ilmuku adalah tesisku. Tesisku adalah anti-tesismu. Ilmumu adalah tesismu. Tesismu adalah antitesisku. Maka sebenar-benar perkelahian itu adalah "sintesis" antara tesis dan anti-tesis. Perkelahian itu atau yang disebut sebagai sintesis kemudian menghasilkan tesis-tesis baru. Tesis-tesis baru itu berdatangan seperti datangnya para orang tua berambut putih itu. Dalam rangka memperoleh tesis-tesis baru itu lah maka para orang tua berambut putih itu berkelahi.Itulah yang kemudian disebut sebagai metode berpikir sintetik dalam berpikir. Itulah sebenar-benar tempat tinggal para orang tua berambut putih, yaitu batas pikiranku dan juga batas pikiranmu. Amien.

26 comments:

  1. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Orang tua berambut putih diumpakan adalah ilmu. Ilmu itu seluas-luasnya, sedalam-dalamnya. Tak akan ada ujung sampai kiamat nanti. Karena ilmu itu multi, maka banyak hal dikehidupan ini bisa kita aplikasikan. Tidak ada satupun ilmu yang tidak bermanfaat. Mereka bertengkar dengan ilmunya masing-masing. Ilmu yang satu dan ilmu yang lainnya, jika bertemu maka akan terjadi pertentangan untuk memperoleh ilmu yang baru. Perpaduan antara ilmu yang baru datang dan ilmu yang sudah lama ada, menjadi ilmu baru untuk dibahas. Maka tidak akan pernah ada habisnya, mereka bertengkar untuk mencapai ilmu itu.

    ReplyDelete
  2. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016
    ilmu adalah hal yang sangat luas, kadang kala terdepat pertentangan antara ilmu satu dan lainnya. pertentangan antara ilmu berdampak positif dan negatif, berdampak positif jika melahirkan ilmu yang lain, dan berdampak negatif jika terjadi perpecahan dengan perbedaan pemahaman, tentu selayaknya kita memandangnya secara positif agar ilmu dapat bermanfaat dan berkembang.

    ReplyDelete
  3. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Ilmu matematika tidak hanya dipelajari dengan satu sumber saja. Banyak sumber yang bisa kita pakai untuk belajar matematika. Semua sumber ilmu matematika adalah ilmu, tidak ada yang bukan ilmu, tidak ada yang tidak bagus, dan sebenar-benarnya juga tidak ada yang the best, karena the best bersifat absolut, yaitu hanya milik Tuhan.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  4. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Elegi “Pertengkaran para orang tua berambut putih” kembali memunculkan tokoh orang tua berambut putih sebagai perwujudan ilmu.. Garis besar cerita ini menggambarkan bagaimana kita memperoleh pengetahuan dari proses berpikir sintesis. Konflik yang terjadi antara skema yang telah tertanam di pikiran seseorang dengan pengalaman dan pengetahuan baru adalah suatu proses alami untuk mendapatkan suatu hasil yang kemudian kita sebut dengan pengetahuan baru yang selanjutnya bergabung menjadi suatu skema pengetahuan yang lebih besar. Proses tersebut terus berlanjut sepanjang hidup kita yang menunjukkan ke-mahaagungan Allah SWT dalam mencipta mahluknya sedetaill-detailnya.
    Sekian, terima kasih.

    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    ReplyDelete
  5. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Lagi. Penjelasan yang diberikan dosen kepada guru dengan pertanyaan “Apakah engkau seorang guru” menunjukkan sebuah pertanyaan yang menuju pada cara berpikir sintesik. Dimana Cara Berpikir sintetik berarti menghubungkan satu objek dengan objek lainnya yang bukan merupakan kemestian bagi objek pertama. Sebagai contoh “engkau” dan “guru” bukan merupakan sebuah kemestian sehingga harus di cari tahu dulu siapakah “engkau” dan siapakah “guru” bagaimana ciri-ciri dan karakternya hingga pada suatu kesimpulan dosen mendapati bahwa “engkau” sama dengan “guru.” Sama hal nya dengan “Baju” dan “Basah”. Sifat “Basah” merupakan kemestian bagi “air” tapi bukan kemestian bagi “baju” seseorang berkata “bajuku basah,” berarti dia telah berpikir dengan cara sintetik.
    Sekian, terima kasih.

    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  6. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Dalam elegi ini dapat kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan itu dalam arti seluas-luasnya sebenarnya merupakan satu pondasi. Kemudian muncullah cabang-cabang dari satu kesatuan tadi. Suatu ilmu pengetahuan sebelum dapat dikenal oleh manusia, berarti ilmu pengetahuan tersebut masih bersifat yang mungkin ada dan ketika ilmu pengetahuan tersebut dikemukakan di publik atau masyarakat, maka ketika itulah ilmu pengetahuan mulai dikenal dan dimengerti oleh manusia. Yang tentunya sebelumnya telah dibuktikan terlebih dahulu, bukti kebenaran dari ilmu pengetahuan tersebut.

    ReplyDelete
  7. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Dari elegi diatas mengenai tentang setiap ilmu yang dibangun memiliki pondasi,landasan, dan kekuatan. Untuk membangun ilmu baru biasanya didasari oleh ilmu lain yang sudah ada. Ilmu dibangun dari realitas atau pengalaman yang ada. lmu yang satu merupakan tesis dan anti-tesis adalah dari ilmu yang lain, sedangkan sintesisnya adalah bagaimana manusia berpikir tentang tesis dan anti-tesis tersebut sehingga menghasilakan tesis-tesis yang baru yang berupa ilmu pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  8. Vety Triyana K
    13301241026
    P. Matematika I 2013

    Satu hal yang menarik perhatian saya dari elegi di atas, bahwa ilmu adalah yang bersifat seluas - luasnya dan sedalam - dalamnya. Apabila ketika kita belajar, maka ilmu yang sudah kita miliki akan bersintesis dengan ilmu yang lain sehingga akan menghasilkan ilmu - ilmu yang baru. Oleh karena itu, dalam belajar kita harus dapat mempelajari ilmu sedalam - dalamnya dan seluas - luasnya. Terima kasih

    ReplyDelete
  9. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Mencari ilmu memiliki beberapa proses dalam penemuan sebuah kebenaran. Pertengkaran yang dimaksud disini adalah gejolak dalam hati yang sering muncul, seperti “apakah ini benar?”, “mengapa? Kok bisa seperti itu ya?”, dll. Akan tetapi dari semua pertanyaan tersebut muncullah titik temu terhadap ilmu yang telah kita pelajari. Karena dalam memandang suatu hal tidak hanya dilihat dari satu sisi, sebab ilmu tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  10. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Sifat suatu ilmu tentunya memiliki pondasi. Sebenar benar seseorang mendapatkan ilmu adalah malalui argumentasi, perkelahian, perdebatan, atau penolakan di antara pengetahuan-pengetahuannya itu sendiri. Ilmunya subjek adalah tesisnya subjek. Tesisnya subjek adalah anti-tesisnya objek. Ilmu objek adalah tesisnya objek. Tesisnya objek adalah antitesisnya subjek. Karenanya sebenar-benar perdebatan itu adalah "SINTESIS" antara tesis dan anti-tesis. Perdebatan yang disebut sebagai sintesis pada setelahnya akan menghasilkan tesis tesis yang baru.

    Pengetahuan baru ibarat para orang tua berambut putih. Dalam rangka memperoleh pengetahuan baru, maka para orang tua berambut putih berdebat dan berkelahi. Itulah yang kemudian disebut sebagai metode berpikir SINTETIK dalam berpikir. Itulah sebenar-benar tempat tinggal para orang tua berambut putih, yaitu batas pikiran antara subjek dan juga batas pikirannya objek.

    ReplyDelete
  11. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pertentangan para orang tua berambut putih merupakan cermin dari berbagai pertentangan yang ada dalam hati, pikiran, perkataan, dan tindakan manusia. Banyak pertentangan yang terjadi dalam hidup terlebih lagi dalam menentukan suatu keputusan. Di sinilah peran ilmu itu akan muncul dengan sendirinya yaitu membantu manusia untuk membuat keputusan-keputusan dalam perjalanan hidupnya.

    ReplyDelete
  12. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Setiap orang berambut putih yang berkelahi dan bertanya itu sebenar-benarnya adalah tunggal, satu, yaitu ilmu. Karena sebenar-benarnya orangtua berambut putih satu sama dengan orangtua berambut putih dua, orangtua berambut putih satu dan dua sama dengan orang tua berambut putih tiga, dst. Seperti dalam matematika, jika ingin membuktikan sesuatu itu bersifat tunggal, contoh X, maka diasumsikan bahwa terdapat X1 dan X2, dimana X1 ≠ X2, yang kemudian, dalam proses pembuktiannya ditemukan bahwa X1=X2, sehingga pengandaian tadi salah dan terbukti bahwa X tunggal. Maka sebenar-benarnya orang tua-orangtua berambut putih tadi sedang menggapai dirinya. Perkelahian mereka bisa diibaratkan seperti perdebatan antara pengetahuan-pengetahuan dalam pikiran kita atau dengan pengetahuan orang lain sehingga menghasilkan tesis-tesis atau pengetahuan baru bagi kita.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  13. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Ilmu menjadi ilmu diperlukan perkelahian atau pengkajian dari para pembelajar. Dalam pengkajian tersebut kadang terjadi perbedaan atau perdebatan karena masing-masing memiliki landasan berpikir yang berbeda. Dari perdebatan akhirnya menghasilkan ilmu yang lebih tinggi dari ilmu yang sudah ada. Hal tersebut sesuai dengan metode berpikir sintetik dalam berpikir. Selain itu, ilmu yang disintesis akan menghasilkan tesis-tesis baru yang kemudian diselaraskan dengan pengetahuan sebelumnya, dengan demikian akan diperoleh ilmu baru yang saling berkaitan. Oleh karena itu, untuk menjadi guru yang sejatinya guru, guru harus selalu belajar karena ilmu itu tidak memiliki batas dan selalu berkembang sehingga perlu selalu ada pengkajian.

    ReplyDelete
  14. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    sebenar-benar untuk mencari ilmu adalah dengan menggunakan ilmu juga, sepperti yang diperlihatkan pada elegi diatas, menunjukkan bahwa setiap ilmu itu saling bertentangan seperti di gambarkan dengan sosok orang tua berambut putih, maka ilmu satu merupakan tesis ilmu satu dan merupakan anti tesis dari ilmu dua, dan imu dua adalah tesis bagi ilmu dua sedangkan ilmu dua merupakan antitesis dari ilmu satu, maka pertentangan tersebut adalah untuk menimbulkan ilmu baru yang disebut dalam istilah di atas adalah sintesis. maka untuk memperoleh ilmu dengan ilmu pula, dan untuk memperoleh pengetahuan yang baru maka kita harus mencari anti tesisnya dan membuat sintesisnya.

    ReplyDelete
  15. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Dalam elegi diatas terdapat percakapan antara guru dosen dan murid yang menggambarkan bahwa ilmu matematika itu sangatlah luas dan kompleks. Ilmu matematika itu bersifat kontekstual, yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tidak salah jika pertengkaran antar orang berambut putih itu terjadi, seperti halnya perdebatan di bidang matematika yang begitu banyak, karena sakinng luasnya ilmu yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  16. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Pada awalnya saya berpikir bahwa orangtua berambut putih adalah ilmu-ilmu yang kita miliki dalam diri kita, lebih dalam lagi bahwa orang tua berambut putih adalah diri kita. Setiap detiknya diri kita berubah, seiring dengan berjalannya waktu maka bertambah pula ilmu pengetahuan dalam diri kita oleh karena itu diri kita juga akan terus berubah dan memunculkan perkelahian diri kita sendiri. Namun ternyata pada akhir elegi dijelaskan bahwa orangtua berambut putih adalah memang ilmu, namun ilmu dari berbagai subyek yang berbeda. Ilmu yang dimiliki berbagai subyek akan memunculkan diskusi untuk menuju suatu obyektivitas hal yang dibahas, maka timbullah perseteruan antar ilmu yang dimiliki.

    ReplyDelete
  17. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Elegi ini memberitahukan pentingnya memiliki pemikiran yang sintesis. Pertengkaran yang dilakukan oleh para orang tua berambut putih di atas menggambarkan bahwa pertempuran yang dilakukan tidak akan pernah ada selesainya. Ilmu bisa kita dapatkan dari mana saja dan kapanpun kita mau. Di zaman modern ini kita bisa mengakses segala macam yang kita butuhkan melalui internet. Yang perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah belajar itu sepanjang hayat tidak terikat ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  18. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Dalam elegi di atas menceritakan tentang pertengkaran para orang tua berambut putih. Sebenar-benarnya orang tua berambut putih adalah ilmu itu sendiri. Terjadi pertengkaran ilmu karena ilmu bersifat kritis sehingga dalam perkembangannya selalu memerlukan pembuktian-pembuktian untuk mempertahankan eksistensinya sebagai ilmu.Karena itu belajarlah untuk memahami ilmu secara intensif dan ekstensif agar ilmu yang kita peroleh dapat bermanfaat dan dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    ReplyDelete
  19. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Dari elegi di atas yang dapat saya pahami adalah bahwa sebenar-benar ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dan sedang cari itu tidak akan pernah mencapai titik akhir sebagai ilmu yang sebenar-benarnya ilmu karena akan selalu ada tesis-anti tesi-sinteteis yang kesemuanya ini akan terus berputar tiada hentinya namun itulah sebenar-benarnya manusia yang sedang mencari ilmu.

    ReplyDelete
  20. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Kacaunya pikiran adalah tanda kita akan memperoleh ilmu. Ilmu diperoleh dari tesis, tesis diperoleh dari sintesis, sintesis sendiri diperoleh dari perkelahian tesis dengan anti-tesis. Perkelahian yang menyebabkan kacau dipikiran. Itulah sebenar-benar orang berpikir. Sebenar-benar orang yang hidup adalah dia yang menggunakan pikirannya.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  21. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Berulang kali Prof Marsigit menyampaikan bahwa “Kacaunya pikiran adalah tanda bahwa kita akan memperoleh pengetahuan”. Mungkin ini gambaran sederhana mengenai elegi di atas. Sebenar-benar mendapat ilmu adalah melalui perkelahian diantara pengetahuan-pengetahuannya itu sendiri. Dari proses perkelahian tersebut maka kita akan mendapatkan ilmu baru. Ilmu kita adalah tesis kita. Tesis kita adalah anti-tesis mereka. Ilmu mereka adalah tesis mereka. Tesis mereka adalah antithesis mereka. Maka sebenar-benar perkelahian itu adalah "sintesis" antara tesis dan anti-tesis. Dari sebuah sintesis kemudian menghasilkan tesis-tesis baru. Tesis-tesis baru itu berdatangan mendatangi ilmu awal yang disebut pondasi. Sebenar-benar tempat tinggal ilmu, yaitu batas pikiran kita. Wallahu a’lam..

    ReplyDelete
  22. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Bahwa ilmu pun tidak luput dari perkembangan. Ilmu tdaklah statis. Kadangkala ilmu itu harud dibenturkan dengan ilmu lain agar ia berkembang. Paling tidak untuk membuktikan bahwa ilmu itu adalah benar-benar ilmu dan bukan mitos. Itulah ilmu yang tidak hanya diam dan terduduk disinggasananya saja. Ketika satu ilmu dengan ilmu lain diperbenturkan bisa saja akan terlahir ilmu baru dari perbenturan tadi.

    ReplyDelete
  23. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Pengetahuan memiliki keterkaitan dengan berbagai macam pengetahuan lain dalam ruang dan waktu tertentu. Ilmu dimulai dari permulaan dan bersifat kontradiktif dalam ruang dan waktu. Manusia bisa berpikir dan memiliki ilmu pengetahuan dimana ilmu yang satu merupakan tesis dan anti-tesis dari ilmu yang lain, sedangkan sintesisnya adalah bagaimana manusia berpikir tentang tesis dan anti-tesis tersebut. Terbentuknya tesis-tesis baru dari berpikir tersebut merupakan metode berpikir sintetik dalam berpikir. Sehingga ilmu pengetahuan terus berkembang dengan adanya perbedaan pandangan.

    ReplyDelete


  24. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Adanya suatu ilmu itu tidak terlepas dari ilmu-ilmu lain, apabila ilmu itu masih berada dalam keraguan artinya terjadi kontradiktif, maka perlu dilakukan diskusi sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Akan muncul tesis-tesis baru dari kesimpulan perdebatan ilmu, maka yang ada di pikiran seseorang sekarang merupakan sintesis dari tesis-tesisnya ilmu.

    ReplyDelete
  25. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Pengetahuan yang ada di dunia ini selalu mengalami yang namanya perubahan, perkembangan untuk menyesuaikan diri sesuai dengan kebutuhan manusia. Di dalam perkembangannya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan baru, maka kita perlu membenturkan satu pengetahuan atau teori dengan teori yang lain. Sehingga kita akan menemukan sebuah kesenjangan antara teori yang satu dengan teori yang lain. Dengan demikian kita dapat menarik sebuah kesimpulan dari pembenturan kedua teori tersebut yang disebut dengan teori baru atau pengetahuan baru. Dalam hal ini ada banyak pengetahuan yang harus dikaitkan dengan pengetahuan lainnya sehingga dapat menciptakan suatu inovasi yang berguna bagi kebutuhan manusia, misalkan matematika dengan fisika, agama dengan ilmu kedokteran, teknologi dengan ilmu kesehatan, dan masih banyak lainnya.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  26. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh satu orang manusia sangat kompleks dan berbeda-beda bidangnya. Ilmu didapat bisa dari mana saja. Namun yang paling awal adalah ilmu diperoleh ketika kita bertanya. Kita kadang tidak tahu kita mendapatkan pengetahuan dari mana, namun sudah ada di dalam memori kita. Dan sebenar-benar ilmu bukan bukan untuk disombongkan namun sebenar-benar ilmu adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id