Sep 20, 2013

Elegi Jebakan Filsafat




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Sesungguhnya aku adalah jebakan filsafat. Sesuai dengan hakekat filsafat, maka aku sangatlah halus, lembut dan tersembunyi. Hanya orang-orang tertentu aku perkenankan untuk menemuiku. Itupun dengan syarat-syaratnya yang sangat ketat.

Subyek:
Aku belum jelas siapakah engkau. Jika engkau jebakan filsafat maka apakah ciri-cimu itu?

Jebakan:
Aku adalah jebakan. Aku dapat sebutkan bahwa tempat tinggalku adalah pada batas dimensimu. Fungsiku adalah untuk menaikkan dimensimu. Sedangkan diriku itu beraneka ragam. Ragamku sebanyak batas dimensimu. Maka aku terdiri dari Jebakan1, Jebakan2, Jebakan3,... dst.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan kesadaran:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai kesadaranmu, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan kesadaranmu. Sebenar-benar kesadaran adalah dirimu yang terjaga. Maka agar engkau memahami sesuatu engkau harus letakkan kesadaranmu pada obyek yang akan engkau sadari. Kesadaranmu itu bersifat merdeka. Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaranmu. Jika engkau melupakan akan hal demikian maka itulah bahwa keadaanmu itu sudah masuk ke dalam perangkap kesadaranmu. Itulah jebakan kesadaranmu. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Keikhlasan:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam hatimu. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Perhatian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai perhatian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan perhatian. Sebenar perhatian itu memerlukan kesadaran dan keikhlasan. Bergabungnya parhatian, kesadaran dan keikhlasan merupakan langkah untuk menerima sesuatu sebagai hal yang memang patut diterima. Segala macam ilmumu itulah memerlukan perhatianmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan perhatian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Minat:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai minat maka sebenar-benar diriku adalah jebakan minat. Minatmu itu terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu. Sebenar-benar ilmumu itulah memerlukan minatmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan minat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Pengertian:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai pengertian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan pengertian. Pengertianmu itu engkau bangun berdasarkan minatmu dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar pengertianmu itulah akan membangun ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan pengertian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Sikap:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai sikap, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan sikap. Sikapmu itu engkau bangun berdasarkan pengertian dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar sikapmu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan sikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap.

Subyek:
Wahai sesuatu. Aku sedikit merasakan ada sesuatu di hadapanku. Siapakah dirimu itu.

Jebakan Karakter:
Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai karakter, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan karakter. Karaktermu itu engkau bangun berdasarkan sikap dan penilaianmu. Maka sebenar-benar karaktermu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan karakter. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Apalah sebenarnya yang dimaksud dengan jebakan filsafat itu?

Orang tua berambut putih:
Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.

63 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Membaca elegi jebakan filsafat di atas kesimpulan saya, sekarang ini banyak orang yang terjebak karena banyak orang yang merasa bisa, merasa kaya, merasa benar, merasa pandai, merasa lebih dari yang lainnya dan sebagainya.

    ReplyDelete
  2. Nurul Imtikhanah
    133012344002
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dari elegi di atas, menurut saya jebakan filsafat adalah suatu keadaan pikiran yang seharusnya pikiran kita tidak berada di tempat tersebut. Sehingga untuk mencapai filsafat kesadaran, filsafat kejujuran, filsafat tangung, jawab, filsafat karakter, dan filsafat-filsafat lainnya yang dibutuhkan adalah keikhlasan sehingga dalam menjalani proses-proses tersebut kita terhindar dari jebakan bersikap pura-pura memahaminya.

    ReplyDelete
  3. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Mereka sebenarnya hanya berpura-pura karena masih ada orang yang berdimensi lebih tinggi dari dirinya dalam semua hal. Ini membangun kesadaran saya akan pentingnya tawadu (rendah hati) dan menghormati orang lain yang mungkin kita anggap lebih rendah dari kita.

    ReplyDelete
  4. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Dari bacaan ini, kita tahu bahwa dimanapun dan kapanpun selalu berhadapan dengan jebakan. Ada jebakan perhatian, jebakan keihlasan, dan banyak lagi yang lainnya. Jebakan ini yang membuat kita harus tahu batas dimensi kita. Sampai mana kita harus melangkah dan sampai dimana kita harus berhenti agar tidak terjebak dalam jebakan itu.

    ReplyDelete
  5. assalamualaikum wr. wb.

    Elegi ini memiliki wacana bagaimana belajar filsafat orang mengalami kebingungan-kebingungan atas makna-makna. banyak orang terkadang hanya mampu melihat kulit tanpa memaknai isi yang dimiliki oleh filsafat itu sendiri sehingga tak jarang terjadi kesalahkaprahan manusia-manusia dalam memahami filsafat. orang berfilsafat harus ikhlas untuk mencari tahu dan berserah atas segala pengetahuan dari sang maha Mengetahui dan berusaha menangkap segala pengalaman dan kebijakan. Karena tugas manusia di dunia hanyalah beribadah dan ketika berfilsafat juga harus dilandasi bahwa kita sedang beribadah menuju ridho Ilahi.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP kelas A

    ReplyDelete
  6. Dian Rizki Herawati
    13301241057
    P.Mat A 2013

    Hanya kita sendiri yang tahu bagaimana kita atau bahkan kita tidak tahu samasekali tentang kita sendiri. Jebakan terkadang tersembunyi tetapi terkadang malah sangat amat terlihat tetapi kita tidak menyadarinya.

    ReplyDelete
  7. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Jebakan filsafat dapat menyerang beberapa dimensi dalam diri kita, misalnya dimensi kesadaran, keikhlasan, perhatian, minat, pengertian, sikap dan karakter. Menurut saya, jebakan yang paling sering kita alami adalah jebakan “keikhlasan”.
    Ilmu filsafat itu tidak sembarang orang bisa mempelajarinya. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Seperti yang sering dikatakan oleh Bapak Prof Dr. Marsigit, MA bahwa kita harus banyak membaca. Dalam memahami ilmu, ikhlaskan hati dan ikhlaskan pikiran. Semakin kita sulit ikhlas dalam memahami ilmu, maka makin sulit bagi kita memahami ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    mengutip elegi diatas, "Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam hatimu. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas.dalam hal ini prof marsigit ingin menjelskan kepada kita tentang keiklasan, bahawa untuk iklas harus lah totalitas

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    dalam perkuliahan terkadang semua pertanyaan nya menghasilkan nilai nol kepada kami. tapi inti dari itu adalah bahwa beliau mengajarkan kita akan pandangan dengan berbagai sudut.dan mengajarkan untuk melakukan segala sesuatu dengan iklas.

    ReplyDelete
  10. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs PEP B 2016

    Bismillahirrohmaanirrohiim.
    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Dalam perjalanan sering kali kita menemukan rintangan yang menghambat dan menguras energi. Namun saat berhasil melewatinya kita seakan punya energi belipat ganda untuk meneruskan perjalanan dan bersiap menghadapai rintangan lain. Begitupun dengan belajar filsafat. Sering kali kita terlena dan terjebak. Anggap saja itu sebagai batu ujian agar kita dapat naik ke level pemikiran dan pengetahuan tahap selanjutnya.
    Elegi ini menjelaskan berbagai jabakan yang tentunya berbahaya. Salah satunya adalah jebakan yang membuat kita seolah-olah merasakan/mengerti/mengalami. Padahal kita tidak merasakan/mengerti/mengalami. Maka di sini di perlukan kejujuran. Katakanlah belum bisa jika memang kita belum mampu . Dari sini akan jelas sejauh mana kita mampu jujur terhadap diri sendiri. Karena sebenar-benarnya filsafat adalah refleksi melihat ke dalam diri sendiri..

    Terima kasih,
    Wassalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  11. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs PEP B 2016

    Bismillahirrohmaanirrohiim.
    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Jebakan filsafat ini sungguh sangat berbahaya jika kita tidak mampu keluar dari belenggunya. Caranya simple, jujur. jangan memaksa diri kita untuk melakukan suatu kebohongan karena kita akan terus terjebak dan menyebabkan pengetahuan kita tidak berkembang. Semisal ada sesuatu yang tidak disukai namun tetap kita memaksakan diri untuk menyukainya maka hal tersebut dapat menyiksa diri kita sendiri. Selain itu, hal lain yang harus kita pahami agar terhindar dari jebakan filsafat terutama jebakan ruang dan waktu adalah memahami sebenar-benarnya ruang dan waktu tempat kita berada.

    Terima kasih,
    Wassalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  12. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kita terjebak jika tidak ada dalam kondisi dimana kita seharusnya berada, seperti harusnya sadar tetapi tidak sadar, seperti harusnya meletakkan kesadaran pada objek yang kita sadari, seperti harusnya benar-benar sadar bukan berpura-pura sadar

    ReplyDelete
  13. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Jebakan ruang dan waktu ketika kita tidak bisa menyesuaikan dengan ruang dan waktu. Seperti pada elegi yang lain disebutkan bahwa terperangkap dalam ruang gelap dan waktu diam. Ruang gelap dimana kita merasa nyaman di tempat padahal tidak ada yang benar-benar berhenti

    ReplyDelete
  14. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dewasa ini banyak orang yang hidup dalam kepura-puraan, pura-pura sadar padahal tidak sadar, pura-pura ikhlas padahal tidak ikhlas, pura-pura paham padahal tidak paham, pura-pura perhatian padahal tidak perhatian, pura-pura berminat padahal tidak berminat, dan pura-puraan lainnya. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang terjebak dalam kepura-puraan.

    ReplyDelete
  15. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tidak mengetahui bahwa dirinya sedang terkena jebakan filsafat merupakan keadaan yang berbahaya karena dirinya tidak mampu memahami keadaan dirinya. Karena Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Engkau hanya berpura-pura tapi sesungguhnya tidak. Contohnya engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.

    ReplyDelete
  16. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    pernyataan orangta berambut putih yang menjelaskang bahwa:
    Jebakan filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu.
    sangat jelas menjelaskan kepada kita bahwa jika kita melakukan sesautu yang tidak sebagimana mestinya berarti kita sdah terjebak dalam jebakan filsafat atau jebakan dunia dan jebakan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  17. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    elegi jebakana adalah kelanjutan dari elegi penampakkan, elegi penamakkan adalah jebakan yang berkaitan dengan sesuatu yang abstrak sedang elegi jebakan adlah sesuatu yang kongkri, elegi penampakan adala elegi yang menjebak dengan pemikirannya, ada pemikiran 1, pemikiran 2 dst, atau lebih dikenal denagn hakikat 1 hakikat 2 dst, sedangkan dengan elegi jebakan yaitu adala jebakan dalam bentuk pengalamn seperti bersikap padahal dibalik itu ada sesuatu yang sebenanya tidak bersikap, mengerti padahal dibalik itu ada sesuatu yang tidak mengerti, dst.

    ReplyDelete
  18. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    Pps PM B 2016

    Elegi jebakan filsafat menggambarkan bahwa banyak manusia yg tidak menyadari jika dia sedang terjebak. Kita merasa bahwa dalam berbuat kita sudah ikhlas, padahal belum, dalam menuntut ilmu kita merasa sudah paham padahal belum, dan masih banyak jabatan yg lain. Manusia sering terjebak karena kesombongan dirinya, kesombongan merasa yg paling sempurna. Oleh karena itu senantiasa kita untuk selalu berusaha menghindari jebakan-jebakan tersebut agar kita dapat berada pada ruang dan waktu yg seharusnya.

    ReplyDelete
  19. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A 2013

    Yang dapat saya simpulkan setelah membaca Elegi jebakan filsafat ini adalah banyak dari kita yang terperangkap pada suatu jebakan. Ketika kita merasa sudah pandai, pintas, baik hati,dll. Saat itulah kita telah terjebak dalam jebakan kepandaian, jebakan kepintaran, dan jebakan-jebakan dari apa yang kita anggap kita telah mencapainya.

    ReplyDelete
  20. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PENDIDIKAN MATEMATIKA A 2013

    Assalamualaikum Pak Marsigit, selamat malam..

    Hal yang saya dapat dari membaca elegi di atas diantaranya adalah untuk bisa menggapai ilmu diperlu adanya perhatian. Dan sebenar-benarnya perhatian memerlukan kesadaran dan keihkhlasan. Oleh karena itu, untuk menggapai ilmu, diperlukan adanya kesadaran dan keikhlasan. Selain itu, juga diperlukan minat yang dapat ditunjukkan melalui penerimaan, respon, dan sikap positif. Hal lain yang saya peroleh dari elegi di atas bahwa Ilmu dibangun melalui pengertian-pengertian yang kita dapat. Pengertian dan penilaian terhadap ilmu akan membangun sikap yang akan mendasari pembentukan karakter yang kita miliki.
    Perhatian, sadar, ikhlas, berminat, mengerti, berkarakter. Keadaan-keadaan tersebut dapat menjadi jebakan jika dilupakan.

    Terimakasih Pak, atas ilmu-ilmunya.

    ReplyDelete
  21. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Menurut saya elegi ini menjelaskan bagaimana terjebak dalam ilmu yang dipelajari tanpa mendalaminya terlebih dahulu. Dalam mendalami filsafat orang pasti mengalami kebingungan-kebingungan saat memahami makna sebenarnya yang terkandung didalam filsafat tersebut. Hal demikian sangat wajar, disinilah saatnya kita belajar dan mendalaminya dengan baik, agar semua kebingungan terjawab. Namun,terkadang kebanyakan orang terlalu cepat mengambil kesimpulan atas apa yang didapatnya, tanpa menelaah tentang kebenarannya terlebih dahulu. Disinilah letak jebakan yang bias membuat kita tersesat dan salah pemahaman.

    ReplyDelete

  22. Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai kesadaranmu, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan kesadaranmu. Sebenar-benar kesadaran adalah dirimu yang terjaga. Maka agar engkau memahami sesuatu engkau harus letakkan kesadaranmu pada obyek yang akan engkau sadari. Kesadaranmu itu bersifat merdeka. Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan kesadaranmu. Jika engkau melupakan akan hal demikian maka itulah bahwa keadaanmu itu sudah masuk ke dalam perangkap kesadaranmu. Itulah jebakan kesadaranmu. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan kesadaran adalah engkau berpura-pura sadar padahal engkau belum menyadarinya. Makna dari posting ini adalah kita jangan terjebak dengan kepura-puraan. Misal anggota DPR sebenarnya dia sadar akan posisinya sekarang ini, menyadari kalau hal suap menyuap adalah tidak terpuji, tetapi anggota DPR tersebt berpura-pura. memberantas padahal dia juga pengguna narkoba.

    ReplyDelete
  23. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Berfilsafat dengan baik bukanlah hal yang mudah. Ada banyak jebakan filsafat yang mungkin menghampiri kita. Ketika kita berpura-pura sadar padahal belum menyadari, berpura-pura ikhlas padahal sebenarnya tidak ikhlas, berpura-pura perhatian padahal tidak memperhatikan, berpura-pura berminat padahal tidak berminat,,,,,,dan kepura-puraan yang lain padahal sebenarnya kita tidak demikian. Kepura-puraan itulah yang menghalangi kita berpikir kritis, kepura-puraan itu lah yang menyebabkan kita berfilsafat secara parsial, kepura-puraan itulah yang menyebabkan kegagalan kita menggapai sesuatu, kepura-puraan itulah yang menghalangi sampainya sesuatu kepada kita. Naudzubillah min dzalik.

    ReplyDelete
  24. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Banyak dari kita yang terkena jebakan saat mencoba mengolah pikiran kita. Hanya dengan keihlasan hati dan pikiran kita bisa terhindar dari jebakan tersebut, dan itu tidak lah mudah. Tanggalkan kesombongan, tingkatkan keikhlasan, meski sebenarnya kita tidak pernah bisa benar-benar menghilangkan kesombongan dan benar-benar ikhlas.

    ReplyDelete
  25. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai keikhlasan maka sebenar-benar diriku adalah jebakan keikhlasanmu. Setinggi-tinggi hatimu adalah ikhlasmu. Maka tempat tinggalku adalah di dalam Haiti. Aku adalah bersih tak bersyarat. Keikhlasanmu adalah merdeka. . Maka sebenar-benar ilmu itu memerlukan keikhlasanmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan keikhlasan. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak dalam jebakan keikhlasan adalah engkau berpura-pura ikhlas, padahal engkau sebetulnya tidak ikhlas. Makna dari posting ini adalah bagaimana kita harus introspeksi diri serendah-rendahnya, apakah setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik yang kita lakukan sudah ikhlas?. Ikhlas adalah bersih dari hati yang paling dalam, Mungkin bisa kami gambarkan ikhlas itu tindakan dari hati yang bersih tanpa tekanan, tanpa paksaan, dan tidak akan mengingat, mengungkit, mencari lagi apa yang telah di lakukan, diucapkan, didengarkan, dirasakan. Menyerahkan sepenuhnya kepada Nya.

    ReplyDelete
  26. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai perhatian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan perhatian. Sebenar perhatian itu memerlukan kesadaran dan keikhlasan. Bergabungnya parhatian, kesadaran dan keikhlasan merupakan langkah untuk menerima sesuatu sebagai hal yang memang patut diterima. Segala macam ilmumu itulah memerlukan perhatianmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan perhatian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan perhatian adalah engkau berpura-pura memerhatikan, padahal engkau sebetulnya tidak memperhatikan.
    Makna posting ini adalah apakah perhatian yang kita berikan itu sudah betul betul perhatian. Kalau kami terjemahkan perhatian adalah buah pikir antara kesadaran dan keikhlasan yang secara bersama-sama tumbuh dari hati yang bersih tanpa paksaan, tanpa tekanan kepada sesuatu untuk mengetahuinya secara mendalam. Misal daalam kuliah kita memperhatikan dosennya maka kita dengan sadar dan ikhlas mendengarkan, mencerna, mengamati agar mendapatkan ilmu pengetahuan dari dosen tersebut. tetapi kalau kita memperhatikan pasti ilmu pengetahuan pada saat itu hilang lewat begitu saja.

    ReplyDelete
  27. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai minat maka sebenar-benar diriku adalah jebakan minat. Minatmu itu terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu. Sebenar-benar ilmumu itulah memerlukan minatmu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan minat. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan minat adalah engkau berpura-pura berminat, padahal engkau sebetulnya tidak berminat.
    Makna posting ini adalahsadar tidal sadar dalam diri kita itu pasti tumbuh minat, nah, sebesar apa minat itu masing-masing individu tidak sama. Minat terdiri dari penerimaanmu, responmu dan sikap postitifmu, artinya penerimaan sesuatu dalam diri kita secara ikhlas dan merespon dengan sikap positip terhadap sesuatu. Misal kita berpura-pura minat, kita ikut-ikutan membeli sesuatu sampai di rumah apa yang kita beli kita taruh saja tanpa disentuh. artinya apabila tidak berminat atau berpura-pura minat maka sesuatu itu akan ditinggalkan begitu saja dilupakan begitu saja.

    ReplyDelete
  28. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai pengertian, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan pengertian. Pengertianmu itu engkau bangun berdasarkan minatmu dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar pengertianmu itulah akan membangun ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan pengertian. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan pengertian adalah engkau berpura-pura mengerti, padahal engkau sebetulnya tidak mengerti.
    Makna posting ini adalah suatu usaha dari diri kita untuk mampu memahami, mendalami sesuatu yang sebenarnya sudah tumbuh dari dalam hati dengan minat yang ikhlas, dan berusaha mampu memberi penilaian terhadap sesuatu. Individu/kita yang mampu mengerti akan sesuatu maka sebenar-benarnya telah mampu memposisikan kita sebagai dirinya.

    ReplyDelete
  29. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai sikap, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan sikap. Sikapmu itu engkau bangun berdasarkan pengertian dan penilaianmu terhadap ilmu. Maka sebenar-benar sikapmu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan sikap. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan sikap adalah engkau berpura-pura bersikap, padahal engkau sebetulnya tidak bersikap.
    Makna posting ini adalah mampu bersikap yang sebenarnya. Bersikap merupakan gerakan sadar terhadap sesuatu yang dilandasi pengertiannya dan penilaian terhadap sesuatu. Kalau kita mampu mengerti dengan benar dan mempunyai penilaian positip maka sikap kita tentu postip, tetapi kalau pengertian kita salah dan penilaian kita juga salah maka sikap kita juga akan salah. Maka kita harus berhati-hati dalam mengerti sesuatu dan memberi penilaian agar sikap kita tidak salah.

    ReplyDelete
  30. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Aku adalah jebakan. Aku melihat bahwa dirimu sedang menggapai karakter, maka sebenar-benar diriku adalah jebakan karakter. Karaktermu itu engkau bangun berdasarkan sikap dan penilaianmu. Maka sebenar-benar karaktermu itulah akan menentukan ilmumu. Jika hal yang demikian engkau lupakan, maka itulah sebenar-benar engkau telah terjebak oleh jebakan karakter. Ciri-ciri bahwa engkau terjebak oleh jebakan karakter adalah engkau berpura-pura berkarakter, padahal engkau sebetulnya belum berkarakter.
    Makna dari posting ini adalah kita mampu untuk berkarakter postip. Berkarakter adalah pendalaman terhadap sesuatu yang benar sehingga sikap kita juga benar apabila peilaian terhadap sesuatu itu juga benar sehingga karakter kita akan baik, begitu sebaliknya jika penilaian kita terhadap sesuatu itu salah maka sikap kita juga akan salah sehingga karakter kita negatip. Semoga kita termasuk pada karakter baik, aamiin yra

    ReplyDelete
  31. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Sebagai manusia biasa belajar filsafat adalah patuh dan taan pada ruang dan waktu. Dimanapun berada kita harus instrospeksi diri kita di posisi mana, sadar akan keberadaan kita selalu memposisikan pada posisi positip dengan hati yang ikhlas, tawakal dan ikhtiar, kesombongan sangat dihindari.

    ReplyDelete
  32. Miftahir Rizqa
    PEP KElas A
    16701261027
    Filsafat memikirkan pikiran, Filsafat itu orangnya, memahami filsafat berrati memahami orangnya.orang apa yang ada dalam pikirannya. Pikiran bisa melayang kemana saja, untuk itu sesaat sebelum kita berpikir, mulailah dengan do'a agar kita jauh dari jebakan filsafat salah satunyanya adalah sombong. na'uzubillah minzalik

    ReplyDelete
  33. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Filsafat merupakan kesadaran kita untuk membangun olah pikir kita. Untuk memahaminya maka dianjurkan untuk terus membaca dan melihat perkembangan pemikiran para filsuf dari zaman yunani kuno sampai zaman kontemporer. Dengan membaca, maka kita mulai membangun pengetahuan kita, misalnya dengan membaca blog ini. Tetapi hanya membaca pun kita akan terkena jebakan filsafat, seperti pura-pura bahwa kita paham. Karena hanya memiliki satu sumber tanpa mau mencari lebih dalam. Keikhlasan dalam membaca juga bisa menjadi jebakan kita karena jika niatnya ‘yang penting komen’, maka tidak ada keikhlasan dalam hati dan pikiran, itulah sebenar-benarnya jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  34. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    jebakan adalah seuatu yang bertentangan denga keadaan yang sebenarnya karena suatu kesombongan yang telah meliputi diri-diri seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu. Jebakan itu bisa berasal dari mana saja karena sifatnya sangat halus dan terus menggoda kita untuk terjerumus kedalam hal itu, ketika kita salah langkah dalam melakukan suatu kebenaran yang hakikinya harus lah seperti itu maka kita sebenar-benarnya telah terjebak dalam jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  35. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dari mana datangnya jebakan-jebakan tersebut?Apakah dari pikiran kita sendiri atau dari hal yang sedang kita pikirkan?
    Kemudian Di elegi ini disebutkan beberapa jenis jebakan nah pertanyaannya apakah ketika kita terjebak pada salah satu jebakan tadi itu akan mempengaruhi kita dalam hal yang lain? dan bagaimana kita mengatasinya?

    ReplyDelete
  36. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Jebakan filsafat berdasarkan aspek Ontologi:
    Jebakan filsafat merupakan lawan keadaan dimana keberadaan sesuatu tidak sesuai dengan yang seharusnya. Sesuatu dikatakan masuk dalam jebakan filsafat apabila sesuatu itu berada di dalam ruang dan waktu yang salah.

    ReplyDelete
  37. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Jebakan filsafat berdasarkan aspek Epistemologi:
    Jebakan filsafat bersifat sangat halus, lembut, dan tersembunyi pada batas sebuah dimensi. Jebakan ini sangat banyak macamnya, seperti ketidaksadaran, ketidakikhlasan, tidak perhatian, tidak berminat, tidak punya sikap, tidak berkarakter, tidak disiplin, tidak jujur, tidak bertanggungjwab. dsb. Lawan dari semua yang harus dan seharusnya kita lakukan adalah sebuah jebakan.

    ReplyDelete
  38. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Jebakan filsafat berdasarkan aspek Aksiologi:
    Dari elegi ini dapat diambil sebuah pelajaran bahwa dalam menjalani hidup ini kita harus sangat berhati-hati dan harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan hal-hal yang harus dan seharusnya tidak kita lakukan.

    ReplyDelete
  39. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Jebakan menguji keikhlasan dan kesungguhan kita dalam hidup ini. Sebenar-benar jebakan adalah untuk menaikkan dimensi kita. Sama halnya dalam agama atau spiritualitas, maka jebakan itu bagaikan ujian yang Allah hadirkan kepada kita untuk menaikkan derajat kita. Allah menguji dibatas kemampuan kita agar kita bisa melewatinya karena Allah takkan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambaNya. Maka jangalah tertipu oleh jebakan. Jangan berpura-pura melewati dan terjebak olehnya. Ikhlaskan hati, pikiran dan perbuatan.

    ReplyDelete
  40. Intinya apabila kita melakukan kepura-puraan dalam hal kesadaran, keikhlasan, perhatian, minat, pengertian, sikap, karakter, disiplin, kejujuran, kebaikkan, tanggung jawab, kepatuhan, ruang dan waktu, maka saat itulah kita terjebak dalam jebakan filsafat. Dalam hal ini kita harus melakukan sesuatu dengan kesungguhan agar tidak terjebak dalam jebakan filsafat. Apabila kta berpura-pura, tidak akan ada hukum di dunia yang menolaknya tapi hati nuranilah yang nanti akan menolaknya. Dalam hal jebakan pengertian saya rasa banyak siswa/mahasiswa yg terjebak, misalnya saat guru/dosen menerangkan sesuatu, pada saat itu ada beberapa siswa/mahasiswa tidak paham, tapi mereka tidak menanyakan lebih lanjut karena berbagai alasan seperti enggan kepada guru/dosennya dan lain-lain.


    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  41. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Pada dasarnya segala sesuatu yang ada pada kehidupan dan dunia ini adalah jebakan hidup itu sendiri. Bahkan kengkap pada pikiran dan hati manusia adalah jebakan bagi dirinya sendiri yang mana bisa menentukan kesalahan sikap yang terbentuk atau muncul dari diri manusia tersebut. Sebagai contoh jebakan bagi manusia adalah rasa keihklasan. Rasa ikhlas yang berpura pura atau sungguh sungguh dalam memandang atau melakukan sesuatu dihadapan yang lainnya. Disisi lain untuk tidak membuat jebakan atas dirinya sendiri maka ia juga perlu menghindari jebakan yang ada dalam kehidupan dengan belajar, bertanya, dan berdoa.

    ReplyDelete
  42. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Kita tidak mampu memikirkan yang tidak bisa dipikirkan atau yang tidak ada, yang mungkin ada saja tidak bisa dipikirkan apalagi yang tidak ada. Semua yang ada, kenyataan ini adalah bayangan dari pikiran kita, ketika kita tidur tidak dapat melihat bayangan kita lagi. Semua yang ada didunia adalah bayang-bayang dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  43. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Orang sehat dalam filsafat itu orang yang masih mampu menemukan bayangannya, orang gila berarti tidak mampu menemukan bayangannya. Semua yang kelihatan merupakan bayangan pikiran masing-masing menurut orang barat sedangkan bagi orang timur pikiran dan hatinya. Keyakinan itu di dalam hati, anak kecil perlu dilatih untuk mengenali bayangan, tunjukkan penyebab dari bayangan itu secara intiutif agar anak kecil menemukan bayangan dalam melaksanakan kewajibannya masing-masing.

    ReplyDelete
  44. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  45. Ada sesuatu yang bahaya Prof.
    Yakni ketika manusia sampai lupa bahwa ia sedang berpura-pura. Kepura-puraan yang dia lakukan menjadi pembiasaan di tiap hari-harinya, Manusia makin lemah dalam kesalahan dirinya. Kepura-puraan adalah fatamorgana yang tiada yang lain adalah dirinya sendiri. Manusia ingin yakin di antara sedang berpura-pura. Rumus yang ia tegaskan adalah menghitung kepura-puraan dalam true score untuk mengestimasi skor hitung. Akhirnya tiap estimasi yang dihasilkan adalah semu dan makin lama jenuh.
    Prof., Igit.
    Tiap kekuatan fatamorgana adalah kekuatan itu sendiri, namun perlu estimasi yang akurat untuk menunjukkan kekuatan yang sebenarnya.
    Konteks dalam elegi ini adalah jebakkan yang bergerak seperti bayangan. Bayangan itu semu dan fatarmogana juga semu. Jika tiap kesemuan dipakai untuk mengestimasi true score, maka true score adalah semu. Manusia hidup dalam dunia semua, semua pura-pura, semua pakai topeng.
    Naudzubillah, semoga manusia saat ini juga sedang pura-pura, yakni pura-pura jahat, atau pura-pura tidak tahu, agar saling menghormati dalam toleransi.


    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    ReplyDelete
  46. Memet Sudaryanto
    16701261005
    S-3 PEP UNY

    Sangat kontradiktif nggih prrof, melihat fenomena kepura-puraan. Seperti pasangan yang pura-pura mencintai, seperti guru yang pura-pura ngajar, seperti siswa yang pura-pura belajar. Setiap kepuraan.
    Ohiya Prof., mohon maaf kemarin saya menelpon Prof. Igit karena kekhawatiran kami. Tidak seperti biasanya Prof.Igit datang terlambat, yang kebetulan cupumanik pak ketua kelas sedang opname.
    Semoga Prof. Igit sehat selalu nggih, diberkahi Tuhan dalam naungan yang indah.
    Prof., saya sedang tidak pura-pura berdoa.. heuheuheu

    ReplyDelete
  47. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Pemikiran manusia itu berbeda-beda, sehingga dalam mengartikan segala sesuatu satu dengan yang lain juga berbeda. Terkadang pemikiran kita benar terkadang juga salah. Jebakan filsafat berisi pandangan-pandangan yang dapat mengecoh pemikiran kita. Yang kita anggap benar, ternyata bukan itu jawabannya. maka kita harus berhati-hati dalam memikirkan sesuatu dan dalam bertindak, karena tindakanmu kadang dirasa tidak tepat bagi oranglain. Apalagi dengan kesombongan, maka akan semakin mudah tersesat pada jalan yang buruk.

    ReplyDelete
  48. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan elegi diatas yang dapat saya tangkap bahwa jebakan filsafat ada banyak macamnya. Jebakan tersebut bisa membuat kita berbuat salah tapi juga bisa membuat kita berbuat benar. Semua itu tergantung bagaimana kita bisa memahami dan mencari solusinya.

    ReplyDelete
  49. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Pemahaman saya dari elegi ini adalah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada masing-masing memiliki jebakan. Dimana jebakan itu merupakan dirinya sendiri sekaligus bukan dirinya. Karena sebenar-benar yang ada dan mungkin ada itu adalah sama sekaligus sebenar-benar yang ada dan mungkin ada itu adalah tidak sama.

    ReplyDelete
  50. Semua yang ada di dunia ini adalah jebakan, bahkan diri sendiri meliputi hati dan pikiran juga merupakan jebakan. Terkadang pikiran menginginkan A sementara hati inginnya B. Di saat seperti inilah manusia terjebak harus harus memilih A atau melakukan B.
    Dimana setiap tindakan yang dipilih memiliki resiko tersendiri. Terkadang kita sendiri bahkan belum mengenal diri kita sendiri. Jebakan terkadang tersembunyi tetapi terkadang malah sangat amat terlihat tetapi kita tidak menyadarinya
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  51. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Didalam sebuah perjalanan hidup kita selalu mempunyai masalah jadi dalam menjalaninya kita harus sangat berhati-hati dan selalu pantang menyerah dalam berusaha untuk tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan. Di dunia ini juga terdapat banyak sekali jebakan-jebakan yang siap menerka kita. Jebakan bisa berasal dari dalam diri kita dan dari luar diri. Kita harus bisa menghindari jebakan dengan menggunakan akal yang sehat dan hati yang bersih, pikiran dan hati harus berada dalam kesadaran. Kita juga harus bersifat ikhlas, selalu berikhtiar serta menyerahkan segala sesuatu hasilnya hanya pada ALLAH SWT

    ReplyDelete
  52. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013
    Banyak orang yang saat ini terjebak dalam berbagai hal, seperti terjebak dalam hawa nafsunya sendiri. Orang yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsu yang dimilikinya dapat berbahaya bagi kehidupannya sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  53. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Jebakan yang ada dalam hidup ini sangatlah banyak. Seperti jebakan keikhlasan, kesadaran, sikap, minat, perhatian, pengertian, karakter, dll. Namun jebakan-jebakan itu menurut filsafat dapat dirangkum menjadi jebakan ruang dan waktu. Maksudnya adalah di mana saja dan kapan saja kita bisa terjebak dan terlena akan waktu dan ruang. Jadi kita harus selalu berhati-hati dalam bertindak dan berpikir.

    ReplyDelete
  54. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menurut saya jebakan keikhlasan adalah jebakan di mana orang sering terjebak. Karena ikhlas atau tidaknya sesorang itu tidak dapat dilihat, tidak dapat diungkapkan, namun bisa dirasakan oleh hati. Seseorang sering dan bisa mengatakan ikhlas tapi di dalam hatinya sering sekali masih belum ikhlas. Oleh karena itu, kita harus berhati – hati dalam jebakan keikhlasan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seftika Anggraini
      13301241013
      Pendidikan Matematika I 2013

      Saya sependapat dengan yang disampaikan Mbak Septi Puji. Kita harus berhati-hati dengan jebakan keikhlasan. Namun sebenarnya ridak hanya jebakan keikhlasan saja, kita harus berhati-hati terhadap jebakan apa saja. Karena jebakan itu sifatnya menjebak. Menjebak itu membawa kita ka dalam kepura-puraan. Kepura-puraan itu tidak nyata atau tidak sesungguhnya. Dan itu berarti kita membohongi. Bohong adalah hal yang harus kita hindari.
      Terima kasih

      Delete
  55. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Jebakan filsafat adalah ketika berada pada lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Dimana engkau tidak sadar tetapi engkau pura-pura sadar. Dimana engkau tidak ikhlas tapi pura-pura ikhlas. Dimana engkau tidak berminat tetapi pura-pura berminat, dan begitu seterusnya. Dalam belajar filsafat mungkin sebagian orang tidak menyadari bahwa dirinya terkena jebakan filsafat. Maka janganlah kita bersikap sombong dan angkuh ketika belajar filsafat, sombong telah mengerti filsafat itu apa tetapi sebenarnya masih tidak mengerti, hanya pura-pura mengerti saja.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  56. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dari beberapa contoh jebakan tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri terjebak oleh jebakan berpura-pura. Pura-pura adalah fatamorgana. Fatamorgana merupakan penampakan dari sesuatu yang semu karena sebenarnya tidak ada namun menjadi nampak ada.

    Terima kasih

    ReplyDelete
  57. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Terjebak atau tidak terjebak itu dapat dilihat dari pengertian dan penilaiannya terhadap ilmu. Seberapa ilmu yang dimiliki itu dapat dilihat dari sikapnya, karakternya, disiplinnya, dan lain-lain.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  58. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    "Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu." Berbicara ruang dan waktu berarti berbicara filsafat. Karena filsafat itu selalu memerhatikan ruang dan waktunya. Filsafat mengajarkan kita untuk selalu sopan terhadap ruang dan waktu. Jika kita terjebak dalam suatu hal, itu berarti kita terjebak dalam ruang dan waktu. Terjebak dalam ruang dan waktu membawa kita untuk tidak sopan terhadap ruang dan waktu.
    Terima Kasih

    ReplyDelete
  59. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Terkadang diri ini merasa telah melakukan ini dan itu. Telah disiplin, jujur, baik, tanggung jawab, patuh, sadar, ikhlas, perhatian, dan sebagainya. Tanpa disadari ternyata semua itu hanya fatamorgana. Ternyata kita terjebak dalam ruang dan waktu. Maka dari itu berdoalah kepada Allah dan tingkatkan dimensi kita agar kita tidak masuk ke dalam jebakan-jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  60. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Selama di dunia ini mka kita tidak akan terlepas oleh berbagai macam jebakan. Jebakan filsafat dan elegi ini hanya salah satu jebakan yang diceritakan namun masih jebakan yang lain yaitu misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Sedangkan yang dimaksud sebenar-benar jebakan adalah ruang dan waktu adalah seperti dalam Quran surat Al Ashr, manusia sering lalai dengan nikmat sehat dan waktu luang.

    ReplyDelete
  61. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Jebakan sebenrnya selalu ada disekitar kita bahwkan ada didalam tubuh kita sendiri, jebakan kejujuran, jebakan kabaikan, dan jebakan lainnya. sama hal nya jebakan dalam arti sebenarnya bahwa jika kita terjebak dengan jebakan-jebakan yang ada maka kita akan mengalami kekalahan. jebakan yang ada hendaknya kita lawan dengan kiat yang berlandaskan spritual. jebakan filsafat bisa saja mengantarkan kita kemitos yang gelap, yang nampak indah di filsafat belum tentu dalam keadaaan sebenarnya. oleh karena itu meningkatkan dan mendekatkan diri kepada AllahSWT adalah cara agar kita dapat terhindar dari jebakan-jebakan yang ada khususnya jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  62. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Setelah membaca elegi ini, saya dapat memberikan gambaran bahwa jebakan merupakan sesuatu yang sangat halus bahkan tidak mampu disadari manusia sama sekali. Dalam proses belajar untuk menggapai ruang dan waktu, menggapai keikhlasan, menggapai ada, memahami dan menggapai kesadaran maka disitu adanya jebakan filsafat. Ketika kita merasa mengerti, maka kita terjebak dalam jebakan mengerti. Ketika kita merasa sadar maka itulah jebakan kesadaran. Ketika kita merasa ikhlas, maka inilah jebakan keikhlasan. Terus belajar dan membaca, terus berfikir kritis dan bertanya supaya kita tidak terjebak dalam jebakan filsafat.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id