Oleh Marsigit
Ass karena pentingnya isi dan pesan dari elegi berjudul Forum Tanya Jawab 53: Dialog Filsafat, maka berikut saya tayangkan kembali dan saya beri judul baru seperti di atas. Selamat membaca, semoga menambah pencerahan baru. Amin
Metafisika Filsafat
Oleh Marsigit
Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.
Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.
Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedangkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?
Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.
Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.
Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?
Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Sedangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disamping telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.
Mahasiswa Pendidikan Matematika:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?
Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.
Mahasiswa Pendidikan Sain:
Maaf P Marsigit, saya ingin bertanya apakah perbedaan Sain, Filsafat Sain dan Filsafat Pendidikan Sain?
Marsigit:
Menurutku, pengertian Sain merentang pada dimensinya. Pada tataran Spiritual, Sain adalah Rakhmat dan Karunia Tuhan. Pada tataran Filsafat atau tataran Normatif, Sain adalah sumber-sumber ilmu, macam-macam ilmu dan pembenaran ilmu. Maka pada tataran Filsafat atau Normatif, Sain adalah Pikiran Para Filsuf; dia meliputi metode berpikir dan pembenarannya. Pada tataran Filsafat maka Sain itu tidak lain tidak bukan adalah Epistemologi itu sendiri. Pada tataran Formal, Sain adalah berbagai macam ilmu pengetahuan yang merupakan ilmu-ilmu bidang atau ilmu-ilmu cabang. Pada tataran Formal, umumnya Sain bersifat positive dengan metode utamanya adalah metode ilmiah. Sedangkan pada tataran Material, maka Sain merupakan teknologi (terapan) yang menghasilkan karya-karya atau produk yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, termasuk kebutuhan melakukan eksplorasi alam semesta. Sedangkan Filsafat Sain berusaha merefleksikan kerja dan karya para ilmuwan (saintis); mengapa dan bagaimana mereka menemukan suatu temuan, menghasilkan suatu produk dan dampak-dampaknya. Filsafat Pendidikan Sain berusaha merefleksikan Pendidikan Sain dalam konteks Ruang danWaktunya. Obyek dari Filsafat Pendidikan Sain adalah semua yang ada dan yang mungkin ada dalam Pendidikan Sain. Jadi obyeknya bisa meliputi Guru Sain, Metode Mengajar sain, Siswa Belajar Sain, Evaluasi Pembelajaran sain, Sumber Belajar Sain, dst.
Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?
Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.
Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?
Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.
Mahasiswa Pendidikan Matematika:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?
Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.
Mahasiswa Pendidikan Matematika dan Mahasiswa Pendidikan Sain
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan Pendidikan Matematika atau Pendidikan sain?
Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika atau pendidikan sain. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA, kemudian keluar naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika atau pendidikan sain..
Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?
Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya. Hal yang demikian tentu berlaku untuk Filsafat Pendidikan Sain.
Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?
Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.
Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?
Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disiplin maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.
Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?
Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.
Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?
Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Tentu hal yang demikian berlaku untuk Filsafat Pendidikan Sain.
Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah Filsafat Ilmu? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.
Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.
Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?
Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.
Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?
Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.
Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?
Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.
Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?
Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.
Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.
Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien.
Selamat berjuang.
Assalamualaikum..
ReplyDeleteSelamat sore Pak Marsigit, alhamdulilah saya masih dapat berjumpa dan berkomunikasi dengan Bapak meskipun hanya lewat posting baik elegi maupun yang lainnya lewat blog ini. Sedikit bercerita, belum lama ini saya berkunjung ke rumah teman di Purbalingga. Ada kesempatan saya ngobrol kesana kemari sampai orang tua temen saya itu (dapat saya sebut sebagai orang tua berambut putih juga) berbicara mengenai falsafah orang Banyumas dan sekitarnya. Menurut beliau, prinsip orang hidup adalah DUIT dan modalnya hanyalah dengan SEJUTA. Sempet saya bingung dan ternyata DUIT adalah Doa-Usaha-Iman dan Taqwa sedangkan SEJUTA adalah Setia-Jujur-Tanggung jawab. Tetapi sering kali kita masuk dalam jebakan filsafat dengan salah menafsirkan bahwa prinsip orang hidup adalah uang (istilah DUIT adalah lebih tepat, menurut Beliau) yang akhirnya membuat kita lupa diri dan sebagainya.
Jika merujuk dari apa yang saya ceritakan dan ilmu yang akhirnya saya dapatkan dan ternyata BENAR dan sangat sesuai dengan apa yang Pak Marsigit ajarkan selama ini bahwa filsafat itu MEMBANGUN HIDUP. Secara FISIK memang bewujud uang tetapi secara METAFISIK ternyata DUIT mengandung makna yang jauh lebih besar. Makna yang terkandung dalam DUIT sudah mencakup semua tataran, bahkan sampai pada tataran spiritual yaitu IMAN dan TAQWA.
Semoga saya dan teman-teman yang lain dapat terus belajar dan belajar dalam memahami filsafat, khususnya filsafat matematika dan pendidikan matematika, sehingga nantinya kita semua dapat menjadi PILOT helicopter yang selain mampu mengetahui ke mana arah KA berjalan juga mampu menerbangkan helicopter tersebut dengan baik, Amin...
Wassalamualikum wr wb
Nama : Djuwita Amin Mahmud
ReplyDeleteKelas : Pend.Mat-B
Ass.wr.wb......
Terima kasih Bapak.
Dengan membaca elegi diatas maka semakin memupuk dan memicu keinginan dan kemauan kami untuk lebih banyak lagi belajar filsafat dengan penuh keihlasan, karena belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong,kalimat-kalimat filsafatnya juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal,sebab jika demikian maka tentu kami akan memperoleh gambaran yang tidak lengkap.Filsafat adalah olah pikir, tetapi dalam mempelajari filsafat juga kita harus olah hati agar supaya kita tidak terjebak dalam jebakan filsafat.Dan kita akan selalu mengingat pesan dari orang tua berambut putih agar menggunakan filsafat sesuai ruang dan waktu, supaya kita tidak tergolong orang-orang yang berbuat dholim.
Ass P Heru Sukoco, ternyata aku menemukan bahwa PRINSIP itu Berdimensi. Prinsip ada pada dimensi material, formal, normatif dan spiritual. Yang ada dan yang munkin ada ternyata juga mempunyai prinsip. Ternyata bahwa prinsip itu merentang dari terikat ruang dan waktu sampai terbebas dari ruang dan waktu. Implikasinya, bahwa prinsip itu ternyata juga kontekstual. Jikalau para Dewa juga mempunyai prinsip, mengapa orang tua di Purbalingga tidak boleh mempunyai prinsip. Dengan prinsip Reduksi maka aku menemukan bahwa ternyata Dunia itu adalah Prinsip itu sendiri. Tetapi aku tidak begitu nyaman, menyebut Duit sebagai prinsip, karena terlalu kuat berkonotasi dengan yang lainnya (terlalu vulgar). Maka sekali lagi bahwa aku menemukan diriku sebagai kontradiksi. Renungkanlah.
ReplyDeleteMarsigit, Kebumen, 20 Nop 2011
Komentar Metafisika Filsafat
ReplyDeleteM. Syawahid
NIM : 11709251032
Pps UNY Pend. MTK kelas C 2011
Assalamu’alaikum Wr Wb
Terima kasih pak atas elegi-elegi yang sudah bapak buat dan bagi saya elegi itu sangat bermanfaat dan mungkin bukan hanya untuk saya buat temen-temen yang lain. Semoga elegi itu menjadi catatan amal ibadah bagi bapak dan semoga kami yang membaca bisa mengembangkan untuk di ajarkan ke yang lain.
Izinkan saya ikut berkomentar dalam posting ini meskipun bukan elegi.
Fisika mengkaji hal-hal nyata atau yang bersifat fisik, maka metafisika hadir sebagai wadah untuk membicarakan diatas fisik. Filsafat adalah ilmu yang universal dan cocok untuk semua ranah bidang keilmuan maka tatkala ia berbicara masalah metafisika maka olah pikir yang kita lakukan adalah jauh diatas fisik kita. Ketika kita mendengar ucapan bahwa “jangan sekali-kali engkau berbohong” sekali-kali ajaran itu tidak bolah ditentang dan harus dilaksanakan. Akan tetapi filsafat menanyakan “kenapa?” hal ini tenatu akan menguatkan kepercayaan kita terhadap sesuatu. Ibarat dalam matematikaka ketika rumus phytagoras yang diberikan sudah baku dan banyak diajarkan mulai dari smp maka lantas tidak cukup hanya sampai disana akan tetapi bertanyalah kenapa bisa “a2 + b2 = c2”. Apa hakikat semya itu dan lain sebagainya. Demikian kehadiran filsafat yang terus berkumandang sebagai induk semua ilmu yang mengkaji yang ada dan yang mungkin ada dengan bahasa analogi.
Sedikit bertanya pak : seperti diketahui bahwa banyak sekarang orang yang mempelajari filsafat hanya sampai pada batas normatif dan formal saja tidak sampai pada tingkat spiritual sampai-sampai ada yang menamatkan shalat dan lain sebagainya hal in tentu akan memperburuk citra filsafat dalam dunia pendidikan. Kira-kira langkah apa yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya dan bagaimana menyingkapinya supaya tidak terjebak?
Sekian dan terima kasih.. wassalamu’alaikum Wr. Wb
Ass P M Syawahid, filsafat sudah dipuja sekaligus dikutuk sejak lahir (Yunani Kuno. Dalam tataran Mikrokosmos, Filsafat adalah dirimu atau diriku sendiri. Dalam tataran Makrokosmos, Filsafat adalah Dunia ini, yaitu kecenderungan Pemikiran Dunia. Jika filsafat adaah diri kita masing-masing maka Citra Filsafat adalah Citra diri kita masing-masing. Jika kita ingin mengetahui Dunia maka tengoklah Pikiran kita. Jika ingin mengubah kecenderungan Pemikiran Dunia maka berkaryalah sekaliber dunia meniru jejak para Filsuf. Karya-karya para Filsuf adalah pikiran-pikiran mereka. Maka renungkanlah.
ReplyDeleteSalam, masih dari Kebumen.
Assalamu’alaikum.....
ReplyDeleteAmin ya Rab...semoga kita bisa meraih predikat orang yan g mutmainnah...
dari awal, saya yakin berfilsafat dengan benar akan mampu mengarahkan kebingunganku selama ini akan terpecahkan apalagi ketika mulai belajar filsafat beberapa bulan yang lalu namun sampai sekarang ternyata masalahku kian bertambah,,, aku ingin bebas berfikir seperti bapak,,,banyak motivasi yang saya dapat dari elegi-elegi bapak namun banyak juga elegi yang membuatku bingung,,,saya berharap setiap pertemuan dikelas ada pencerahan dari bapak mengenai “ APA MAKSUD SEBENARNYA DARI ELEGI YANG JUDULNYA (.....).” walaupun hanya satu elegi. sehingga saya bisa mengevaluasi sejauh mana saya mampu memahami elegi itu sendiri....
Dari elegi diatas nampk bahwa kekuatan filsafat terletak pada ketajaman analisisnya, dia mampu menempel pada setiap disiplin ilmu apapu, seperti yang bapak bilang yang kita cari dalam filsafat adalah diatasnya fisik yaitu metafisik, dia akan menjadikan sesuatu lebih berarti, dia mampu menjadikan sesuatu lebih sempurna,,,tapi kadang dia mampu menjadikan orang gila tarutama jika podasinya tidak kuat dalam berfilsafat pada ranah agama.
Filsafat matematika maupun filsafat pendidikan matematika memang akan menjadi mitos jika ruang dan waktunya tidak kita tetapkan karena prinsip kebenaran dalam filsafat sangatlah berbeda, seperti yang sudah dijelaskan pada komen saudarku SYAWAHID DAN HERU SUKOCO, dan inilah yang menjadi tantangku untuk lebih memahami sebenanya fisafat pendidikan matematika itu apa,,,? Sehingga nanti jika ditakdirkan menjadi dosen filsafat akan mampu menjelaskannya dengan sebaik-baiknya apa hakekat filsafat pendidikan matematika.... terahir terimakasih atas bimbingannya selama ini baik secara langsung maupun dari elegi-elgi yang bapak, sungguh elegi ini akan menjadi bekalku dalam membangun hidup (berfilsafat) ....mohon maaf jika ada yang kurang berkenan...
Ass Pak Fahrurrozi teruskanlah membaca Elegi (dan juga referensi Primer lainnya) semoga meningkatkan kecerdasan hati dan pikir. Amin
ReplyDelete(Salam untuk semuanya dari Purbalingga)
Filsafat dibangun oleh setiap manusia sesuai dengan dimensi pikirannya. Olah pikir tersebut tergantung pada bagaimana kekritisan orang tersebut dalam menerjemahkan dan diterjemahkan kemudian bagaimana pula menjelaskannya melalui kata-kata. Sehingga filsafat pada setiap individu akan berkembang sesuai dengan kemampuan olah pikir masing-masing individu. Selain itu, ternyata filsafat berkembang sesuai dengan pengalaman, pergaulan, logika, ide, pertanyaan, rasional, bahasa, dan kesalahan. Maka melalui perkuliahan filsafat maupun elegi-elegi Bapak-lah saya belajar itu semua yaitu mengembangkan filsafatku dalam rangka membangun hidupku. Semoga, latihan ini dapat terus saya lakukan dan terapkan dalam kehidupan saya pribadi maupun tugas saya sebagai guru.
ReplyDeletePM A PPs S2 UNY
ReplyDelete11709251043
Alhamdulillah...saya mendapat kesempatan membaca elegi ini...
Saya merasakan semua elegi yang sudah saya baca terdapat dalam elegi ini.
Tiga pertanyaan mendasar, yaitu Apa, Bagaimana, dan Mengapa belajar filsafat semua terdapat dalam elegi ini.
Pertanyaan "apa filsafat itu?", terjawab dari sebuah kalimat singkat dalam elegi ini, yaitu "Filsafat itu adalah refleksi" yang dalam kenyataannya bermakna sangat luas melebihi singkatnya kalimat itu.Selanjutnya pertanyaan "bagaimana seharusnya kita berfilsafat?", terjawab singkat dalam kalimat "Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong", yang bisa diartikan bahwa dalam berfilsafat kita harus melakukannya dengan penuh kesadaran, mendasar, dan menyeluruh dengan memperhatikan ruang dan waktu. Pertanyaan ketiga yaitu "Mengapa harus berfilsafat" terjawab dalam kalimat "orang yang telah mempelajari filsafat.... jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek..."
Berdasarkan 3 pertanyaan dan jawaban dalam elegi tersebut, dapatlah dikatakan bahwa hidup dan kehidupan ini adalah filsafat. Semua aktivtas kita dalam kehidupan ini adalah dalam rangka membangun filsafat. Agar dapat menghasilkan bangunan yang bagus maka harus kita lakukan sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Dengan demikian kita berharap menjadi manusia yang lebih kritis dalam menghadapi dan memecahkan semua permasalahan hidup yang ada.
Disamping jawaban atas tiga pertanyaan mendasar tersebut, dalam elegi ini juga memberikan pelajaran yang sangat berarti dan mendasar. Dunia pembelajaran yang selama ini kita laksanakan adalah juga sebuah filsafat. Dia mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada dalam dunia pembelajaran, meliputi input, proses, output dan lingkungan. Untuk membawa dunia pembelajaran menjadi lebih baik tidak ada jalan lain kecuali dengan selalu merefleksinya meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada yang bisa direduksi menjadi 4 komponen tersebut. Sebagai seorang guru tidaklah bijaksana melakukan proses pembelajarannya dalam ruang dan waktu yang berbeda dengan metode, strategi, pendekatan, dan model yang sama dalam proses pembelajarannya. Jika hal tersebut terjadi maka sebenarnya kita telah menjadikannya proses pembelajaran itu menjadi sebuah mitos.
Yang terakhir, elegi ini juga memberikan pelajaran dalam hidup kita agar tidak menjadi sebuah jebakan filsafat yang berarti tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Dari nasehat ini kita bisa merefleksi kegiatan dalam proses pembelajaran kita. Apakah terjerembab ke dalam jebakan filsafat atau tidak? Apakah kita melakukan proses pembelajaran hanya semata-mata untuk meraih hasil UN dan mengejar peringkat sekolah yang bagus? Apakah kita melakukan persiapan hanya pada saat-saat tertentu menghadapi supervisi atau monitoring evaluasi (ME)? Jika keadaanya masih demikian maka harus kita akui bahwa dunia pembelajaran kita masih terpuruk dalam jebakan filsafat.
Dalam lingkup yang lebih luas, banyak slogan-slogan yang biasa kita buat dengan makna yang bagus tapi kurang bagus dalam pelaksanaan. Kampanye tentang pendidikan karakter saat ini amatlah bagus dan mudah diucapkan dan dituangkan dalam sebuah adminitrasi pembelajaran. Tapi apakah pelaksanaan di lapangan sudah sesuai dengan yang di kampanyekan dan di tuangkan dalam administrasi? Apakah lingkungan sekitar seperti media (cetak maupun elektronik) yang biasa menjadi tontonan para peserta didik kita sudah mendukung pelaksanaan pendidikan karakter? Itu beberapa pertanyaan seputar tulisan-tulisan yang indah dan bagus diucapkan dan dituliskan tapi sangat sulit dilaksanakan.
Semoga dengan elegi ini, dan elegi-elegi yang lain kita menjadi lebih ikhlas menjalani hidup dan kehidupan ini, sehingga menjadi berkah dan mendapat rahmat dari Allah SWT, Tuhan semesta alam. Amiiin....
Ahmad Nasrullah (11709251025)
ReplyDeleteP-Mat kelas B
Assalamu ‘alaikum
Semoga Bapak dalam lindungan dan rahmat Allah. Kembali lagi melalui koment ini saya sampaikan terima kasih atas ilmu yang Bapak berikan kepada kami selaku murid-murid Bapak, baik secara langsung di dalam perkuliah filsafat maupun secara tidak langsung yaitu dengan elegy-elegi yang Bapak posting di blog ini. Sekali lagi terima kasih Pak. Semoga Bapak diberikan balasan yang lebih baik atas segala usaha dalam perbaikan umat.
Secara pribadi begitu besar saya rasakan manfaat belajar filsafat ini terutama untuk menajamkan kepekaan pribadi dan juga kepekaan social, Memikirkan segala sesuatu dalam rangka mengagungkan kebesara-Nya. Semoga bagi teman-teman yang lain juga merasakan manfaat yang lebih besar. Amin
Manusia sebagai makhluk Tuhan, dalam rangka melaksanakan tugas dan kewajiban tidak lepas dari tiga hal yang saling berkaitan satu dengan yang lain, yaitu: Hubungan manusia dengan Allah (hablun minallah), hubungan manusia dengan sesama (hablun minannas), dan hubungan manusia dengan makhluk yang lain.
Namun pada kenyataannya, poin yang kedua –hubungan manusia dengan sesama- banyak manusia yang GAGAL karena mereka tidak memiliki kepekaaan social. Mereka beribadah kepada Allah akan tetapi mereka mereka menyakiti tetangganya, berkata namun sering menyinggung perasaan orang lain, dan seterusnya-dan seterusnya.
Hal-hal seperti ini mudah-mudahan dapat kita kurangi dengan belajar filsafat ini. Apalagi mengingat posisi kita sebagai seorang calon pendidik tentu mendapat banyak sekali tuntutan di masyarakat terutama dalam peran serta memberikan warna kepada mereka.
Dengan demikiann maka sangat perlu bagi kita untuk selalu memperbaiki adab-adab dan tata krama yang berlaku di lingkungan atau masyarakat tertentu agar proses pendidikan dapat berjalan dengan lancar serta tercapai tujuan pendidikan itu sendiri.
Di akhir koment ini saya menyampaikan sebuah sesenggak (ungkapan) orang sasak berbunyi: “aiq meneng, tunjung tilah, mpaq bau” artinya “air tetap jernih, tunjung tetap indah (tidak rusak), dan ikan pun dapat”. Naaaah mungkin seperti itu idealnya seorang pendidik (guru) di masyarakat. Maka renungkanlah.
Mudah-mudahan dengan belajar filsafat yang singkat ini dapat kita jadikan modal dasar dalam memasuki hutan rimba kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khusunya masyarakat pendidikan matematika. Amin.
Wassalam.
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete11709251039/ P.Mat C / PPs UNY
ReplyDeleteBanyak orang memandang bahwa filsafat adalah merupakan bidang ilmu yang rumit, kompleks dan sulit dipahami secara definitif. Namun demikian sebenarnya pendapat yang demikian tidak selamanya benar. Selama manusia hidup sebenarnya tidak seorangpun dapat menghindar dari kegiatan berfilsafat. Dengan kata lain perkataan setiap orang dalam hidupnya senantiasa berfilsafat, sehingga berdasarkan kenyataan tersebut maka sebenarnya filsafat itu sangat mudah dipahami. Contoh; Jikalau seseorang berpendapat bahwa dalam hidup ini materilah yang essensial dan mutlak maka orang tersebut berfilsafat materialisme. Jikalau seseorang berpandangan bahwa kebenaran pengetahuan itu sumbernya rasio maka orang tersebut berfilsafat rasionalisme, demikian juga jikalau seseorang berpandangan bahwa dalam hidup ini yang terpenting adalah kenikmatan, kesenangan, dan kepuasan lahiriah maka paham ini disebut hedonisme, demikian jika juga jikalau seseorang berpandangan bahwa dalam hidup masyarakat maupun negara yang terpenting adalah kebebasan individu, atau dengan lain perkataan bahwa manusia adalah sebagai makhluk individu yang bebas maka orang tersebut berpandangan individualisme, liberalisme. Jadi dapat disimpulkan bahwa Filsafat didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Media Pembelajaran yang berupa elegi ini dimaksudkan Beliau sebagai sarana pendukung dalam mempelajari Filsafat, agar kita mampu mengembangkan pemikiran filsafat. Elegi-elegi tidak hanya bersifat ringan dan menghibur tetapi juga bersifat intensif dan ekstensif. Makna yang terkandung di dalamnya berfsifat metafisik yaitu bersifat tersembunyi dalam rangkaian kalimat atau
kata-kata dalam bahasa Analog.
Terimakasih untuk Pak Marsigit atas semua ilmu yang telah di berikan kepada kami, semoga bermanfaat bagi kami..
amien..
Aleksius Madu
ReplyDelete11709251023
PMat B
Slamat Malam bpk. Semoga saya dapat berjumpah bapak dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa. Sepintas saya membaca elegi ini dan saya mendalami dengan pikiran dan hati yang ikhlas untuk mencoba menemukan jawabannya. dalam keterbatasan pemahaman saya tentang filsafat, saya ucapkan banyak terimakasih kepada bapak yang telah membagikan ilmu yang bapak miliki untuk kami sebagi murid-murid bapak baik lewat perkuliahan maupun lewat elegi-elegi yang bapak muat di blog ini. Secara pribadi saya sangat merasakan betapa manfaatnya ketika saya belajar filsafat kerana dengan filsafat saya mulai memahami dan mengetahui sedikit demi sedikit tentang segala sesuatu yang ada dan mungkin ada di dunia ini. segala sesuatu yang terikat oleh ruang dan waktu. Seperti yang bapak katakan bahwa matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final untuk suatu kebutuhan tertentu tetapi jika saya analogikan dengan kehidupan manusia sebagai makluk sosial maka jelas antara saya dengan orang disekitar saya berbeda tetapi bagaimana cara kita menghargai perbedaan itu adalah hal yang paling penting. Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, inilah esensi perbedaan itu. bagaimana kita menghayati ini dalam kehidupan kita itu yang paling utama. kita diciptakan oleh Tuhan menurut gambar dan rupaNya dan kita adalah maklu sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Jadi, ketika kita berbicara tentang hal ini maka kita sudah berfilsafat. dan seperti yang bapak katakan bahwa filsafat itu adalah diri kita sendiri. Dengan dimikian terdapat banyak hal yang kita ketahui attau belum kita ketahui di dunia ini. Sehingga kebenaran mutlak tentang segala yang ada dan mungkin ada hanya pada Tuhan... Trimaksih Bapak....
metafisik...emm...saya akan menjelaskan dengan pengertian yang saya buat sendiri,
ReplyDeletemetafisik adalah sesuatu yang lebih dalam dari apa yang kita ketahui. Itulah pengertian metafisik yang berhasil saya tarik dari secuil pengetahuan saya mengenai metafisik. Seseorang akan mengetahui metafisik setelah mengetahui yang fisik atau yang kasatmata secara mendalam. Dengan pengetahuan yang mendalam itu orang akan mampu mengejawantah apa itu makna dari sebuah makna, apa itu arti dari sebuah arti, mengetahui hakikat biji sawi, atau dalam istilah sanepa jawa "Lelangen ing awang-awang".
Metafisika mengajarkan cara berpikir yang serius, terutama dlm menjawab problem yg bersifat enigmatik (teka-teki), shg melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yg mendalam(Kennick).
ReplyDeleteManusia yg bebas sebagai kunci bagi akhir Pengada,artinya manusia memiliki kebebasan utk merealisasikan dirinya sekaligus bertanggungjawab bagi diri, sesama, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan di satu pihak dan tanggung jawab di pihak lain merupakan sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yg sarat dengan nilai.
P.Mat.B
ReplyDelete11709251012
assalamu'alaikum wr.wb Bapak..
semoga kita semua senantiasa dalam keadaan sehat dan lindunganNya amin..
filsafat adalah bagaimana kita merefleksikan tentang semua hal yang ada dan yang mungkin ada.membangun dunia pada hakikatnya adalah dengan filsafat.dengan filsafat kita belajar untuk dapat menerjemahkan dan diterjemahkan.dengan filsafat kita semakin sensitif dalam bersikap.dengan filsafat kita selalu berpikir kritis.
Sejauh mana kemampuan kita untuk membangun hidup kita sendiri dan membangun dunia ini?adalah tergantung pada sejauh mana sepak terjang kita untuk dapat berkarya dan terus berkarya.para filsuf dan ilmuan dengan seluruh karyanya telah memberikan banyak teladan kepada kita dan sangat menginspirasi.
begitupun dengan karya-karya Bapak termasuk salah satunya adalah blog ini yang kami gunakan sebagai sarana untuk membangun filsafat.seperti yang Bapak ungkapkan bahwa pikiran manusia itu berdimensi,dan kita harus berusaha untuk selalu meningkatkan dimensi tersebut.
semoga kelak kami semua mahasiswa Bapak mampu mengikuti jejak-jejak langkah Bapak, para filsuf, serta para ilmuan pendahulu dalam menciptakan karya-karya yang bermanfaat...amin.
wassalamu'alaikum wr.wb..
assalamualaikumm..
ReplyDeleteterimakasih atas sarannya pak...
keterbatasan adalah sifatku,,,semoga bapak selalu sabar dalam membimbingku tertama dalam usahaku belajar filsafat sekaligus belajar agama...amin
Paulus Roy saputra
ReplyDeleteNIM : 11709251044
Pps UNY Pend. MTK kelas C 2011
Dari elegi ini saya mengutip :
"Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapi selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bisa mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya."
Bpk Marsigit, apa saya boleh merefleksikan persoalan ini adalah dampak dari pemikiran aliran empirisme dan aliran rasionalisme?
lalu apakah dampak lain dari aliran Rasionalisme dan Empirisisme Terhadap Perkembangan Ilmu Matematika dan ilmu pendidikan matematika?
ya... sungguh sebuah pembahasan yang menarik mengenai pro kontra yang terjadi dalam ranah materiel dan yang bersifat implisit.... ketika penafsiran kita telah peka maka kita akan segera mampu untuk menemukan bagaimana yang menjadi arah tujuan dari pada masing masing elegi yang ada... :D sebuah pembelajaran yang mahal,, bagaimana masalah yang ada memicu terjadinya sebuah karya...
ReplyDelete"olah pikir" ya .. itu adalah sangat tepat... bagaimana melihat sesuatu dari sudut yang berbeda ,, melihat dari segi metafisik... kita akan sangan sensitiv terhadap gerakan sekecil apapun ketika kita telah mampu untuk benar2 menguatkan pemikiran analisis kita terhadap apa yang kita pelajari..... sebuah nasihat yang sangat apik pula tersaji dalam elegi ini,, bagaimana mengemas nasihat penuh daya yang dibungkus dalam elegi yang menarik dan memunculkan banyak fakta fakta yang sebenarnya itu adalah jawaban material dari pertanyaan pertanyaan yang selama ini muncul.. lalu bagaimana jawaban atas dimensi yang telah berbeda.. tak ada lain adalah bagaimana kita mampu bersifat ikhlas,, melakukan kewajiban dengan senang dan selalu berusaha menemuka arti sirat atas semua apa yang kita temui dalam pembelajaran. terima kasih
ya... sungguh sebuah pembahasan yang menarik mengenai pro kontra yang terjadi dalam ranah materiel dan yang bersifat implisit.... ketika penafsiran kita telah peka maka kita akan segera mampu untuk menemukan bagaimana yang menjadi arah tujuan dari pada masing masing elegi yang ada... :D sebuah pembelajaran yang mahal,, bagaimana masalah yang ada memicu terjadinya sebuah karya...
ReplyDelete"olah pikir" ya .. itu adalah sangat tepat... bagaimana melihat sesuatu dari sudut yang berbeda ,, melihat dari segi metafisik... kita akan sangan sensitiv terhadap gerakan sekecil apapun ketika kita telah mampu untuk benar2 menguatkan pemikiran analisis kita terhadap apa yang kita pelajari..... sebuah nasihat yang sangat apik pula tersaji dalam elegi ini,, bagaimana mengemas nasihat penuh daya yang dibungkus dalam elegi yang menarik dan memunculkan banyak fakta fakta yang sebenarnya itu adalah jawaban material dari pertanyaan pertanyaan yang selama ini muncul.. lalu bagaimana jawaban atas dimensi yang telah berbeda.. tak ada lain adalah bagaimana kita mampu bersifat ikhlas,, melakukan kewajiban dengan senang dan selalu berusaha menemuka arti sirat atas semua apa yang kita temui dalam pembelajaran. terima kasih
Deki Sulistiyo
11709251027
PMAT B 2011
PPs UNY
Metafisika Filsafat
ReplyDeletePosted by Dr. Marsigit M.A.
Concluding remark by Dya Ajeng Kumala (08305141038)
dya-ajeng-kumala.blogspot.com
Assalamu'alaikum wr wb...
dalam 'Metafisika Filsafat'
banyak kalimat2 yang menggugah pikiran saya.
banyaknya mahasiswa yang melakukan banyak cara untuk mendapatkan nilai sempurna, seperti dengan saling menjatuhkan satu sama lain, mempelajari materi hanya yang diujikan tanpa mengerti makna dalam kehidupan sehari2, mungkin itu termasuk dalam jebakan filsafat.
lalu apa yang salah??mungkinkah SISTEM yg membuat semua ini terjadi???keharusan dan tuntutan??padahal hakekat nilai sebenarnya lebih tinggi dari nilai itu sendiri..wallahu'alam
Bagi mahasiswa matematika, tugas2 yg juga kekuasaan kami adalah belajar dan membelajarkan masyarakat dengan ilmu yg telah kami terima, dan godaan terbesar kami adalah persaingan, sehingga kami melupakan tugas kami terhadap objek kekuasaan kami yaitu masyarakat, sehingga hidup kami hanya diliputi persaingan tentang nilai tanpa diikuti hakekat nilai itu sendiri...astaghfirullah....semoga kami dapat memperbaiki diri ... dan lebih ikhlas menuntut ilmu
Wassalamu'alaikum wr wb...
HUSNUL LALI (P.MAT B)
ReplyDelete11709251003
jika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan, kami sadar, suatu saat bapak pasti akan meninggalkan kami dan memerintahkan kami untuk berfilsafat sendiri. terimakasih atas semua ilmu yang sudah bapak berikan selama kami mengikuti mata kuliah filsafat,sedih rasanya karena waktu kami disemester 1 sudah akan habis dan tinggal menghitung hari. namun yang sangat kami syukuri, walaupun demikian kami masih tetap bisa belajar dengan membaca elegi-elegi bapak sampai kapanpun dan dimanapun. Alhamdulillah..
berbicara tentang metafisik filsafat, yang saya tahu bahwa Filsafat (metafisika) tidak pernah berangkat dari dunia awang-awang atau khayalan. Titik tolaknya selalu pengalaman nyata inderawi. Pengalaman itu disistematisir. Kemudian berdasarkan pengalaman itu, dibangun refleksi yang spesifik. Kalau tidak berdasarkan pengalaman, refleksi akan mengambang tanpa makna dan isi, sehingga sia-sia. filsafat mengangkat Pengalaman hidup untuk mencari prinsip-prinsip dasar.
Metafisika berangkat dari yang kita alami sampai kepada prinsip-prinsip dasar. Dengan demikian diharapkan bahwa kita sampai pada Sang Illahi yang disebut Allah oleh orang yang beragama. Selain itu, dengan menyadari keterbatasan daya pikir manusia, metafisika mengajarkan kepada kita kebijaksanaan hidup. Hidup perlu ditangkap dalam keseluruhannya, tetapi tidak berarti kita memahami kehidupan itu secara tuntas.
Dari segi bahasa, bahasa metafisika bersifat integratif dan indikatif. Dengan metafisika kita berusaha menyatakan semua pengalaman kita dengan mengangkat dasarnya yang paling dalam. Tetapi sekaligus, bahasa metafisika tetap terbatas, hanya menunjuk pada keseluruhan dan pada yang paling dasar dari pengalaman langsung.
Pengalaman langsung tetap kaya dan dalam. Ilmu, filsafat, termasuk metafisika, dan teologi, mengabdi pada kehidupan yang kita alami secara langsung. Metafisika tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri, tetapi sebagai salah satu jalan memperkaya kehidupan dengan jalan merefleksikan dan mengangkatnya ke permukaan.
abul walid PM C (11709259003)
ReplyDeleteDalam mazhab Neo-Platonisme dan filsafat Islam, tujuan pembahasan metafisika adalah untuk membangun suatu sistem alam semesta yang dapat memadukan ajaran agama dengan tuntutan akal
Dalam sistem yang semacam ini, masalah hubungan “Yang Esa” dengan “pluralitas alamiah” ini merupakan titik berangkat atau dasar utama dalam membangun filsafat seluruhnya. Alam semesta muncul dari yang Esa dengan proses emanasi. Bertentangan dengan dogma ortodoks tentang penciptaan, filsafat Islam mengemukakan doktrin kekekalan alam. Doktrin emanasi digunakan untuk menjelaskan ini. Hierarki wujud menurut al-Farabi adalah sebagai berikut :
1. Tuhan yang merupakan sebab keberadaan segenap wujud lainnya.
2. Para Malaikat yang merupakan wujud yang sama sekali immaterial.
3. Benda-benda langit atau benda-benda angkasa (celestial).
4. Benda-benda bumi (teresterial).
Dengan filsafat emanasi al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Esa. Tuhan bersifat Maha Esa, tidak berubah, jauh dari materi, Maha Sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Kalau demikian hakikat sifat Tuhan bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang Maha Satu. Emanasi seperti yang disinggung di atas merupakan solusinya bagi al-Farabi. Proses emanasi itu adalah sebagai berikut:
Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul satu maujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua, dan juga mempunyai substansi. Ia disebut Akal Pertama (First Intelligent) yang tak bersifat materi. Wujud kedua ini berpikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran ini timbullah wujud ketiga, disebut Akal Kedua.
Wujud II atau Akal Pertama itu juga berpikir tentang dirinya dan dari situ timbul langit pertama.
Wujud III/Akal II ------ Tuhan = Wujud IV/Akal Ketiga
------ dirinya = Bintang-bintang
Wujud IV/Akal III ------ Tuhan = Wujud V/Akal Keempat
------ dirinya=Saturnus
Wujud V/Akal IV ------ Tuhan =Wujud VI/Akal Kelima
------ dirinya=Jupiter
Wujud VI/Akal V ------ Tuhan=Wujud VII/Akal Keenam
------ dirinya=Mars
Wujud VII/AkalVI ------ Tuhan=Wujud VIII/Akal Ketujuh
------ dirinya=Matahari
Wujud VIII/Akal VII ------ Tuhan=Wujud IX/Akal Kedelapan
------ dirinya=Venus
Wujud IX/AkalVIII ------ Tuhan=Wujud X/Akal Kesembilan
------ dirinya=Mercury
Wujud X/Akal IX ------ Tuhan=Wujud XI/Akal Kesepuluh
------ dirinyaBulan
Pada pemikiran Wujud IX/Akal Kesepuluh ini berhenti terjadi timbulnya akal-akal. Tetapi dari Akal Kesepuluh muncullah bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur api, udara, air dan tanah. Sepuluh lingkaran geosentris yang disusun oleh al-Farabi berdasarkan sistem Ptolomeus. Teori ini kemudian dilanjutkan oleh Ibn Sina. Teori pengetahuan dan juga filsafat manusia serta filsafat kenabian diturunkan dari teori emanasi ini.
Assalamu'alaikum,
ReplyDeleteSemoga kita semua senantiasa dalam rahmat serta lindunganNya...
Filsafat merupakan olah pikir, yang selanjutnya akan membantu kita untuk dapat memahami dan menjelaskan suatu hal dari sisi lain yang lebih mudah berdasarkan hasil menterjemahkan dan diterjemahkan. Untuk dapat menterjemahkan dan diterjemahkan maka kepekaan itulah menjadi hal yang utama. Filsafat dapat dipelajari dari berbagai sumber yang tentunya tetap memperhatikan relevansi sumber tersebut. Dan melalui blog ini menjadi salah satu sumber yang sangat dapat melatih kepekaan kita serta menjadi bekal untuk dapat mengembangkan kemampuan filsafat kita. Semoga apa yang telah bapak sampaikan melalui elegi-elagi ini dapat bermanfaat bagi saya dan yang lain, dan semoga menjadi suatu amal jariyah yang berkah bagi bapak.. Amin
11709259002
ReplyDeletePMAT C
Amiin, terima kasih pak, banyak yang saya dapati dengan belajar filsafat dari bapak, tentang bagaimana menjadi seorang guru yang professional, dan mengembangkan fikiran dengan membaca dan memberikan coment terhadap elegi-elegi yang bapak buat.
filsafat merupakan pandangan hidup seseorang. melalui filsafat, kita dapat melihat dan menilai kehidupan dari sisi yang lain,
ReplyDeletemetafisika merupakan studi mengenai keberadaan atau realitas, ini berhubungan erat dengan proses bagaimana kita mempelejari hidup melalui filsafat.
terimakasih atas karya-karya Bapak, yang telah banyak membukakan pikiran kami tentang banyak hal dalam kehidupan ini.
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang kita miliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dari belajar mata kulia Filsafat Ilmu. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam membangun filsafat berikutnya.
ReplyDeleteMira Marlina Pmat B 11709251020
ReplyDeleteBerfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Dengan merefleksikan pengalaman kita dapat memberikan nilai tersendiri pada hidup dan memperkaya kehidupan. Maka Filsafat adalah membangun hidup. Dalam bidang pendidikan, filsafat bertugas memberi arahan dan memonitor perjalanan pendidikan agar tetap berada pada tujuan yang benar. Dengan memperlajari filsafat, kita sebagai calon guru merupakan salah satu usaha membangun dunia pendidikan khususnya pendidikan sains/matematika dengan dasar pemikiran, pengetahuan dan nilai.
Refleksi oleh : P. Matematika, PPs UNY 2011. kelas A (11709251011)
ReplyDeleteHakekat Metafisika Filsafat adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasan tentang segala sesuatu. Jadi jika kita dapat menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka kita telah melakukan metafisik. Sehingga untuk dapat melakukan metafisika filsafat kita harus banyak membaca elegi-elegi agar kita belajar untuk menjelaskan segala hal yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini.
PALUPI SRI WIJAYANTI
ReplyDeleteNIM.11709251045
PPs UNY PEND. MATEMATIKA KELAS C
Studi pendidikan matematika yang saya tekuni ini tidak lain dan tidak bukan adalah diriku sendiri. Dengan adanya filsafat yang tersirat dalam studi pendidikan matematika tersebut secara eksplisit membuka cakrawala dunia pendidikan itu sendiri. Metafisik filsafat dalam pendidikan matematika itu adalah diri saya untuk membantu siswa-siswa dalam membangun pengetahuan matematikanya. Ini masih merupakan separuh dunia. Ketika status saya menjadi masyarakat, metafisik filsafat dari pendidikan matematika itu sendiri adalah menempatkan diri sebagai orang yang dapat bergaul bersama dan bersilaturohim secara subjektif menuju objektif, secara kategori ataupun reduksi, berupaya untuk menjadi ada, mengada, dan pengada. Ini masih separuh dunia. Ketika saya menjadi seorang abdi Allah, metafisik filsafat dari pendidikan matematika adalah ikhlas dan741 berdoa.
Tri Wijayanti
ReplyDelete11709251048
P Mat C PPs UNY
Filsafat sebagai suatu komponen yang sangat lekat dengan kehidupan mempunyai peran yang sangat penting untuk membentuk pola pikir manusia. Setiap diri mampu membangun filsafat mereka masing-masing dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki serta kesaksian hidupnya. Filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada, semua yang ada dan yang mungkin ada dapat diterjemahkan dan menterjemahkan sehingga membentuk suatu hermeutik kehidupan.
Mempelajari filsafat tidak boleh hanya parsial saja karena itu baru sebagian dunia saja, mempelajaru filsafat haruslah holistic dan universal sehingga apa yang ada disebalik filsafatpun dapat kita pelajari. Mengetahui apa yang terkandung dibalik sesuatu adalah berarti kita berusaha untuk menganalisis pada dimensi yang lebih tinggi yaitu pada tingkatan normatif bahkan spiritual. Hal itu juga perlu memperhatikan ruang dan waktu karena berfilsafat berarti kita berbicara ruang dan waktu. Orang yang bijak akan memandang dan bertindak sesuai dengan ruang dan waktunya. Sepert yang selalu dipesankan oleh orang tua berambut putih dalam elegy di atas.
11709251031
ReplyDeletePMAT C
filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong dan harus berdasarkan ruang dan waktu, sebab bila tidak akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap.Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasan tentang segala sesuatu. Jadi jika sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka telah melakukan metafisik.Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi.dengan menjadi saksi itu menjadikan kita ada.bila kita tidak menjadi saksi itu berarti kita tidak ada. filsafat akan selalu ada dalam kehidupan kita,untuk itu teruslah belajar.
Sri Subekti
ReplyDelete11709251021 PM A
Metafisika Filsafat
Dengan membaca elegi ini banyak sekali nasehat yang dapat saya ambil, yang merupakan akhir perkuliahan bapak, yang tentunya sangat berguna bagi kami untuk dapat menerapkan filsafat dalam kehidupan sEhari-hari sebagai guru, antara lain:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Sedangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disamping telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya.Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya.
Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.
Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Semoga kami dapat melaksanakan apa yang bapak sampaikan , terima kasih dan maaf atas segala kesalahan ,Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien.
Di dalam ranah filsafat, metafisika, seperti sudah dijelaskan oleh elegi ini sebelumnya,
ReplyDeletemengacu pada pemahaman filsafat yang hendak memahami hakekat fundamental dari seluruh
realitas. Hakekat itu bisa tampak bagi mata, tetapi juga bisa tidak. Metafisika berusaha
mendeskripsikan realitas secara sangat mendasar (basic), sederhana (simple), dan luas,
sehingga deskripsinya bisa mencakup semua hal.
Saya sebenarnya masih bingung dengan metafisika itu sendiri... Pilihannya ada dua, yakni bersikap skeptis terhadap metafisika, ataupun tidak peduli terhadap metafisika dengan mengabaikan semua problem‐problem metafisis,lalu apakah metafisika mungkin?
ReplyDeleteMohon Pencerahannya...
Muhamad Farhan (11709251034) PMAT C
ReplyDeletesegala sesuatu berdasarkan apa yang kita pikirkan, seseorang akan mendefinisikan A sesuai apa yang pikirkan dan ia ketahui,.
metafisika filsafat, memberikan sebuah cakupan yang sangat luas dari mempelajari filsafat, hal-hal yang mendasar sampai ke hal-hal yang cakupannya lebih luas lagi..
mempelajari filsafat hendaklah menyeluruh, jika kita mempelajarinya sepotong-potong, setengah-setengah maka tidaklah sempurna apa yang kita dapatkan (separoh dunia)akhirnya kita pun terjebak oleh ketidak ikhlasan kita,..
membaca elegi-elegi adalah belajar memperbincangkan filsafat, berbincang sesuai dengan ruang dan waktunya..
semoga kita lebih bersemangat dalam mempelajari filsafat agar menggapai dunia yang seutuhnya..
Sumarno
ReplyDeleteNIM 11709251028
P MAT Kelas A
Bekal yang harus saya miliki adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Maka sudah selayaknya selalu berusaha meningkatkan dimensi pikiran dan hati, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan. Karena tantangan terbesar dalam tugasku adalah bagaimana kemampuan menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasku adalah bagaimana murid-murid juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah
Ummi Aisyah 11709251049 PMAT A PPS UNY 2011
ReplyDeleteAssalamu’alaikum
Filsafat adalah kehidupan, karena dalam kehidupan manusia yang masih hidup selalu menggunakan akal pikirannya untuk memikirkan yang ada dan yang mungkin ada. Ketika seseorang berpikir untuk menata kehidupannya untuk lebih baik, ia mesti menggunakan logikanya dan pengalamannya maka secara tidak sadar ia telah membangun filsafatnya kearah yang lebih baik pula. Karena filsafat itu olah pikir dan refleksi kehidupan, maka refleksikan kehidupan sesuai dengan ruang dan waktunya . Karena filsafat itu sangat luas yang objeknya semua yang ada dan yang mungkin ada maka untuk bisa berfilsafat dengan baik dan lengkap harus baca, dan baca, mampu menterjemahkan dan diterjemahkan.
ERNI GUSTIEN VIRGIANTI
ReplyDeletePPS UNY 2011 PMAT A(11709251046)
Metafisika Filsafat
Filsafat sesungguhnya bagian dari keseharian kita, pengetahuan yang kita dapatkan sehari-hari direfleksikan secara filosofi oleh karena itu Filsafat bertujuan merefleksikan realitas secara mendalam untuk menemukan jawaban-jawaban final mengenainya. Filsafat mempertanyakan dan merefleksikan realitas, termasuk kesadaran manusia sendiri yang merefleksikan realitas tersebut. Pengetahuan yang dihasilkan dari refleksi yang radikal, kritis, dan mendalam terhadap realitas, termasuk kesadaran subjek berpikir itu sendiri disebut pengetahuan filosofis. Filsafat berbeda dengan agama, Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatiku. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.
Terima kasih untuk semua ilmu yang bapak berikan melalui perkuliahan maupun elegy-elegi yang bapak tulis, semoga kelak dengan belajar filsafat kami bisa membuat langkah kami menjadi lebih baik dari saat ini.
dari elegi metafisika filsafat ini ada beberapa yang mungkin juga dirisaukan oleh rekan-rekan yang lain ... terjebak filsafat,... dalam elegi tentang menggapai tidak risau... didapat pula bahwa setiap manusia juga tidak dapat terlepas dari kerisauan,.. semoga dalam belajar filsafat ini-pun kami jangan sampai terkena jebakan filsafat...
ReplyDelete11709251018/P Mat B
ReplyDeletedalam kehidupan modern ini, filsafat bisa diartikan sebagai ilmu yang berupaya memahami semua hal yang muncul di dalam keseluruhan ruang lingkup pandangan dan pengalaman umat manusia. dengan kata lain, berfilsafat adalah salah satu upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai bidang kehidupan manusia.
menurut Jalaluddin dan Usman Said dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, jawaban yang dimaksud merupakan suatu hasil pemikiran yang sistematis, menyeluruh, dan mendasar. jawaban seperti ini juga digunakan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan.
ReplyDeletedengan demikian filsafat dibutuhkan manusia dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai lapangan kehidupan manusia. jawaban itu merupakan hasil pemikiran yang sistematis, integral, menyeluruh dan mendasar. jawaban seperti itu juga digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang menyangkut berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan.
ReplyDeleteFilsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada.Diri kita termasuk yang ada Maka diri kita itu adalah filsafat. Sedangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaan kita pun itu disamping telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmu kita. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari kita dianjurkan gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan. Sebenar-benar tantangan kita itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuan kita untuk menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika.
ReplyDeleteFilsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hati. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.Oleh karena itu berhati-hatilah kita dalam melangkah jangan sampai terjebak dalam filsafat.Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika kita mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika kita pura-pura disiplin maka itu jebakan filsafat. Maka perbanyaklah membaca.
ReplyDeletefilsafat sebagai proses olah pikir tentu menduduki porsi yang esensial dalam kencah perkembangan pemikiran. saya agaknya masih sangat bingung untuk mendefinisikan filsafat itu sendiri.........
ReplyDelete11709251015
ReplyDeletePPS UNY P.Mat B
Filsafat bisa diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat tidak pernah berangkat dari dunia awang-awang atau khayalan. Titik tolaknya selalu pengalaman nyata inderawi. Kemudian berdasarkan pengalaman itu, dibangun refleksi yang spesifik. Filsafat mengangkat pengalaman hidup untuk mencari prinsip-prinsip dasar. Metafisika berangkat dari yang kita alami sampai kepada prinsip-prinsip dasar. Selain itu, dengan menyadari keterbatasan daya pikir manusia, metafisika mengajarkan kepada kita kebijaksanaan hidup. Hidup perlu ditangkap dalam keseluruhannya, tetapi tidak berarti kita memahami kehidupan itu secara tuntas
Kemampuan untuk merefleksi diri merupakan kesadaran yang paling dalam tentang apa yang telah dikerjakan ataupaun yang akan dikerjakan, tentang apa yang dipikirkan ataupun yang akan dipikirkan, apa yang ada dan yang tidak ada, yang mungkin dan tidak mungkin, yang sekarang dan tidak sekarang, yang nyata dan yang tidak nyata yang duniawi maupun yang tidak duniawi, yang indrawi maupun tidak indrawi. Tidak akan ada habisnya. Perubahan pola pikir dan tingkah laku merupakan pengejawantahan dari refleksi itu. Ruang dan waktu yang membuktikannya.
ReplyDeleteRAEKHA AZKA (11709251037)
ReplyDeleteAda perasaan sedih namun akupun bahagia. Sedihku karena akan susah untuk berkomunikasi langsung kepada bapak namun bahagiaku karena telah diberinya bekal kepadaku agar aku mampu meningkatkan dimensiku.
Dimensi sebagai pendidik dan pengajar pendidikan matematika yang seharusnya. Bagai mana mampu mengantarkan siswa-siswiku untuk bisa meraih ilmu nya sendiri, meraih matematikanya sendiri.
Dimensi sebagai manusia yang sudah seharusnya mampu menggapai perubahan. Perubahan menuju lebih baik dan semakin baik.
Dimensi keilmuan bahwa ilmu yang senantiasa berkembang maka kita sudah seharusnya mampu mengikuti perkembangan ilmu serta mampu mengembangkan khasanah wawasan keilmuan kita dengan memikirkan yang ada dan yang mungkin ada.
Intinya adalah jangan pernah berhenti berkreatifitas dan jangan terlalu dsenang dengan keberhasilan yang telah dicapai. Karena esok adalah misteri maka persiapkanlah. Hari ini sukses belum tentu sukses esok. Maka persiapkanlah sebaik-baiknya. Karena akhir ini adalah awal dari sesuatu yang baru.
Terimakasih kepada Mr. Marsigit semoga kita senantiasa tetap menjalin silaturahmi dan tetap sharing untuk bisa saling meningkatkan dimensi kita.
Salam dari saya
(Kebumen – Jogjakarta)
Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:
ReplyDeleteApakah sumber dari suatu realitas?
Apakah Tuhan ada?
Apa tempat manusia di dalam semesta?
tapi beberapa manusia ada yang berpendapat bahwa metafisika terkait dengan hal-hal gaib (supernatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Pemikiran seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme. Dari sini lahir tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme.
Menurut Cristian Wolf (1679-1754), metafisika terbagi menjadi dua jenis. Pertama, metafisika generalis, yakni ilmu yang membahas mengenai yang ada atau pengada atau yang lebih dikenal sebagai ontologi, dan kedua, metafisika spesialis yang terbagi menjadi tiga bagian besar,
(1) antropologi, yang menelaah mengenai hakikat manusia, tentang diri dan kedirian, tentang hubungan jiwa dan raga,
(2) kosmologi, yang membahas asal-usul alam semesta dan hakikat sebenarnya, dan
(3) teologi, membahas mengenai Tuhan secara rasional.
Bahasan yang terdapat dalam metafisika secara umum antara lain meliputi,
ReplyDelete(1) yang-ada (being),
(2) kenyataan (reality),
(3) eksistensi (existence),
(4) esensi (essence),
(5) substansi (substance),
(6) materi (matter),
(7) bentuk (form),
(8) perubahan (change),
(9) sebab-akibat (causality), dan
(10) hubungan (relation).
adapun contoh pemikiran metafisik yang saya peroleh dari salah satu blog, yaitu mengenai kenyataan (reality).
Ketika pertanyaan mengenai hakikat terdalam dari kenyataan diajukan, maka muncul berbagai jawaban atasnya. Louis O. Kattsof (1996) dengan menyatakan terdapat beberapa aliran, antara lain adalah: pertama, realisme. Ia menyatakan bahwa terdapat hal-hal yang tidak bergantung pada pengetahuan dan bahwa hakikat hal-hal tersebut berbeda dari akal yang mengetahuinya, dengan kata lain alam di luar ide atau pengetahuan akal adalah hakikat kenyataan (reality). Realisme berkebalikan dengan idealisme, Kattsof (1996) menyatakan, terdapat hal-hal yang bereksistensi secara intrinsik berhubungan dengan perbuatan mengetahui, dan dalam babak terakhir sama hakikatnya dengan roh. Jadi, misalnya, apakah sebuah meja yang ada di dalam kelas itu jelek atau tidak tergantung dari ide, persepsi, pengetahuan, akal kita dalam mengetahui meja tersebut, ini adalah pandangan idealisme yang sebetulnya lebih tepat disebut ideisme, namun terasa janggal. Sementara realisme menyatakan, jelek atau tidaknya meja di dalam kelas itu tidak tergantung pada pengetahuan kita atasnya, namun tergantung pada kenyataan atau realitas dirinya sendiri.
Metafisika secara tradisional didefinisikan sebagai pengetahuan tentang Pengada.Klasifikasi metafisika
ReplyDeleteMetaphysica Generalis (ontologi); ilmu tentang yg ada atau pengada.
Metaphysica Specialis terdiri atas:
1. Antropologi; menelaah ttg hakikat manusia, terutama hub. jiwa & raga.
2. Kosmologi; menelaah ttg asal usul & hakikat alam semesta.
3. Theologi; Kajian ttg Tuhan secara rasional.
Beberapa Tafsiran Metafisika Dalam menafsirkan hal ini, manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supernatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Pemikiran seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme. Dari sini lahir tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme.
Tri Wijayanti
ReplyDelete11709251048
P Mat C PPs UNY
Seperti yang Bapak sampaikan pada awal perkuliahan bahwa dalam mempelajari filsafat maka diri kita yang mulanya merasa mengetahui sesuatu maka pada akhir perkuliahan akan mengalami dan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa dan dari yang dulunya kita anggap jelas akan menjadi sesuatu yang semakin tidak jelas karena keterbatasan pikiran kita.
Terima kasih atas ilmu yang Bapak berikan selama ini sehingga saya menjadi sadar bahwa pikiran ini sangatlah terbatas untuk mampu memikirkan yang ada dan yang mungkin ada sebagai objek dari filsafat.
Semoga di akhir perkuliahan ini apa yang pernah Bapak sampaikan dapat menjadi pelajaran yang dapat saya ambil manfaatnya dan akan berguna bagi kehidupan saya kelak. Aamiin
Muhammad Istiqlal (S2 Pmat C)
ReplyDelete11709251041
dengan filsafat (metafisika) orang dapat menunjukkan bahwa manusia tidak hanya sekedar makhluk yang bisa makan, menikmati keenakan dunia dan alam semesta. Filsafat bertugas tidak lain menggemakan kenyataan. Manusia, dengan berfilsafat, menggemakan lagi nada metafisik kenyataan yang sudah pudar oleh hingar-bingarnya perjuangan memenuhi kebutuhan fisik belaka. Filsafat terus dan tak bosan-bosannya menggemakan suara kebenaran dan kebaikan, yang hampir sirna oleh pertarungan kepentingan sesaat dan usaha manipulasi yang sering tak terkendali.
Sebagai manusia yang, dari kodratnya, berakalbudi, kita semua berkemampuan filosofis. Dengan akalnya, manusia mencari rumusan baru tentang kenyataan fisik dan metafisik. Dalam perumusan sudah tersirat tanda bahwa manusia tidak terikat oleh apa yang kini dipegangnya, karena perumusan merupakan kegiatan abstraksi dari kenyataan. Abstraksi, pada giliranya, merupakan petunjuk adanya kemampuan transedental dalam diri manusia. Ia mau menempatkan seluruh kekiniannya itu dalam konteks yang lebih luas dan mendasar: prinsip hidup. Filsafat, dalam kedudukanya sebagai salah satu ilmu, bertugas mengeksplisitkan prinsip hidup yang sedikit banyak masih implisit adanya dalam diri setiap orang. Filsafat ingin mengangkat ke permukaan kebijaksanaan hidup yang lebih sering didominir oleh keputusan kepentingan tertentu.
11709259002
ReplyDeletePMAT C
Amiin terima kasih pak, dari elegi2 ini banyak sekali pengetahuan yang saya dapat, walaupun awal2nya malas bangat mau membaca dan mau ngomen, tetapi setelah dibaca ternyata asyik juga, dan terkadang saya juga ikut terhanyut kedalam cerita2 di elegi bapak, terkadang membuat saya tertawa, terkadang membuat saya terharu, dan terkadang juga dapat menyadarkan saya,,
Palupi Sri Wijayanti
ReplyDeleteNIM.11709251045
PPs Pend. Matematika Kelas C
Sumbangan metafisika terhadap ilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah pada fundamental ontologisnya. Sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah persinggungan antara metafisika dan/atau ontologi dengan epistemologi. Dalam metafisika yang mempertanyakan, apakah hakikat terdalam dari kenyataan? yang di antaranya dijawab bahwa hakikat terdalam dari kenyataan adalah materi, maka muncullah paham materialisme. Sedangkan dalam epistemologi yang dimulai dari pertanyaan, bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan?, yang dijawab salah satunya oleh Descartes, bahwa kita memperoleh pengetahuan melalui akal, maka muncullah rasionalisme. John Locke yang menjawab pertanyaan tersebut bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman, maka ia telah melahirkan aliran empirisme, dan lainnya. Berbagai perdebatan dalam metafisika mengenai realitas, ada-tiada, dan lainnya sebagaimana telah dikemukakan di depan yang telah melahirkan berbagai pandangan yang berbeda satu sama lain secara otomatis juga melahirkan berbagai aliran pemahaman yang lazim dinyatakan sebagai aliran-aliran filsafat awal. Ketika pemahaman aliran-aliran filsafat tersebut dipertemukan dengan ranah epistemologis atau dihadapkan pada fenomena dinamika perkembangan ilmu pengetahuan akan menghasilkan percabangan disiplin ilmu baru (Kennick).
I think
ReplyDeleteachadika noor aryadhi
ReplyDelete10305144009
i don't know about philosophy of mathematics, but my knowledge of mathematics is a way or process to achieve the same goal .. true or not,sir?