Sep 20, 2013

Elegi Memahami Elegi




Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Aku jengkel, aku marah, aku tak peduli, aku tersinggung...

Dosen:
Sebentar apa masalahnya? Mengapa anda bersikap demikian?

Mahasiswa:
Ah Bapak tak perlu berpura-pura. Kan segala macam persoalan yang membuat Bapak sendiri.

Dosen:
Lho kenapa, emangnya apa salahnya Elegi?

Mahasiswa:
Setelah membaca Elegi dan mengikuti kuliah Bapak saya jadi pusing. Konsep pemikiranku menjadi berantakan tak karuan. Waktu saya untuk belajar filsafat itu cuma sedikit Pak. Saya mempunyai banyak tugas-tugas yang lain. Apa lah gunanya berfilsafat, sehingga berbicara ngalor ngidul yang tak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lagi pula tidak ada sangkut pautnya dengan tugas mengajar saya. Saya perlu pemondokan, saya perlu transportasi, saya bolak balik dari kampus ke tempat asalku. Itu sudah sangat menyita waktu.

Dosen:
Lha apa usul anda?

Mahasiswa:
Berikan saja kepada saya referensi yang singkat, padat dan jelas, untuk kemudian saya bisa baca dengan singkat dan saya gunakan untuk persiapan ujian. Beres gitu aja pak.

Dosen:
Maaf, menurut pandangan saya. Ibarat perjalanan, anda sudah memasuki jalan-jalan dan gang sempit, sehingga sulit bagi dirimu untuk membalikkan kendaraanmu atau parkir atau balik arah dsb. Padahal orang belajar filsafat itu ibarat duduk di lobi, dia belum menentukan sikap jalan mana yang harus dilalui, dia hanya baru memikirkannya.

Mahasiswa:
Tetapi sebagian Elegio itu betul-betul mengganggu pikiran saya. Saya kadang-kadang tidak merasa nyaman di hati, bahkan ingin marah.

Dosen:
Kelihatannya anda cukup bernafsu dalam bersikap. Jika demikian maka pilihan hidup anda akan semakin sedikit. Bukankah banyak orang lebih suka mempunyai banyak pilihan agar hidup itu membahagiakan? Padahal dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa.


Mahasiswa:
Jujur saja untuk berbicara di kelas juga aku mengalami kesulitan, karena mungkin bacaanku juga masih sedikit.

Dosen:
Kenapa engkau tidak usul atau bertanya atau memberi saran.

Mahasiswa:
Untuk itu semua juga sama saja. Saya tidak merasa pede karena mungkin saya juga kurang membaca. Atau bacaan saya belum relevan dengan pokok pembicaraan.

Dosen:
Terus apalagi yang ingin engkau sampaikan?

Mahasiswa:
Kenapa Bapak melakukan testing filsafat, sehingga terasa memberatkan mahasiswa?

Dosen:
Itu merupakan komunikasi formal. Wajib hukumnya bagi dosen untuk menguji mahasiswa.

Mahasiswa:
Kenapa ujiannya seperti itu, lain lagi minta ujiannya sesuai dengan selera saya.

Dosen:
Ujian seperti apa yang engkau inginkan?

Mahasiswa:
Aku sendiri juga bingung. Bagaimana ya cara Bapak menguji diriku agar Bapak juga tahu kemampuan berfilsafatku?

Dosen:
Saya sebetulnya mempunyai banyak cara dan teori untuk mengujimu. Anda sendiri juga bisa membuat refleksi, bisa membuat makalah, bisa menguraikan atau membuat tesis, anti tesis atau sintesis.

Mahasiswa:
Apa pula itu Pak?

Dosen:
Kemarahan dan emosimu telah menutup sebagaian ilmumu. Jika engkau terus-teruskan itulah sebenar-benar musuhmu dalam belajar filsafat. Jika engkau tidak mamu mengatasi sampai kuliah ini berakhir, itu pertanda engkau gagal dalam menempuh perkuliahan. Padahal sebetul-betulnya yang terjadi adalah untuk belajar filsafat, tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya menginginkan petunjuk teknis, tidak cukup kalau hanya membaca referensi wajib, tidak cukup hanya berpikir parsial. Jika itu yang engkau lakukan maka itulah sebenar-benar anda akan menjadi manusia yang berbahaya dimuka bumi ini, karena anda akan menggunakan filsafat tidak tepat ruang dan waktunya. Maka mempelajari filsafat juga tidak bisa urut hirarkhis, tidak hanya membaca tetapi berfilsafatlah dengan segenap jiwa ragamu. Itulah maka sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidupmu sendiri. Amarahmu dan kekecewaanu itu adalah catatanmu. Tetapi ketahuilah bahwa amarah dan emosi itu sebenar-benar adalah telah menghabiskan dan membakar energimu.

Mahasiswa:
Pak, untuk sementara aku akan berdiam diri, untuk memperoleh ketenangan.

Dosen:
Baik, dalam diam itu ada kebajikan. Karena diam dapat digunakan sebagai sarana untuk refleksi diri. Ketahuilah bahwa refkesi diri itu merupakan kegiatan berpikir yang paling tinggi. Demikianlah semoga kita semua dapat selalu belajar dari pengalaman. Amiiin.

Mahasiswa:
Ntar Pak jangan ditutup dulu. saya ingin tanya dengan jurur. Terus terang saya mengalami kesulitan memahami Elegi Bapak. Bahasa apa yang Bapak gunakan?

Dosen:
Baik anda mengalami kesulitan karena saya menggunakan berbagai macam bahasa dengan segala tingkatannya.

Mahasiswa:
Maksud Bapak?

Dosen:
Elegi itu tidak hanya meliputi jenis ucapan tetapi juga tindakan ucapan. Kita mengetahui ada paling sedikit empat macam jenis komunikasi: material, formal, normatif dan spiritual. Maka Elegi itu meliputi semua tingkatan jenis komunikasi tersebut.

Dalam Elegi aku juga berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya saya berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya bahasaku sendiri. Dengan bahasa konstatif itu anda dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan saya. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi saya. Tetapi ada juga Elegi dimana saya bebas memilih kata-kata atau bahasa saya sesuai dengan selera saya.

Dengan bahasa demikian saya tidak bermaksud agar anda membuktikan kebenarannya, tetapi semata-mata merupakan usaha saya sebagai penutur bahasa untuk memberi muatan filsafat, muatan moril atau muatan pengetahuan atau muatan pengalaman lainnya. Dengan bahasa perforatif itu saya ingin menunjukkan bahwa elegi itu memang orisinil tulisan saya.

Saya juga ingin menunjukkan kehadiran keterlibatan saya dalam elegi itu dengan demikian saya bisa lebih menghayati penulisan elegi itu. Di sinilah mungkin terjadi perbedaan taraf kelaikan yang anda harapkan dengan taraf kelaikan yang saya gunakan atau saya pilih. Jika terjadi kesenjangan ini maka saya menyadari bahwa anda akan dibuatnya “unhappy”, sedangkan saya sipembuat elegi happy-happy saja.

Tetapi dalam membuat Elegi ini saya juga tidak hanya melakukan hal-hal di atas. Dalam beberapa hal saya juga melakukan apa yang disebut sebagai tindakan lokusi, yaitu meletakkan tanggung jawab penuturan bahasa bukan pada penuturnya tetapi kepada semuanya. Artinya penuturan bahasa itu memang bersifat umum. Dengan mengambil tindakan lokusi pada suatu Elegi saya merasa mempunyai landasan untuk mengembangkan tindakan illokusi bahasa.

Tindakan illokusi bahasa adalah bahasa yang menunjukkan lawan terhadap tindakan sesuatu, dengan demikian tindakan illokusi ini akan menuntut saya sebagai si penutur bahasa untuk bersikap konsekuen juga melaksanakan penuturan saya itu. Misal keyika saya menyarankan anda untuk membaca, itu berarti saya juga seharusnya menyarankan kepada diri saya juga. Demikian juga ketika saya menyarankan anda untuk berbuat baik, bertindak konsisten, berpikir kritis, dsb.

Namun tidak hanya itu saja. Kata-kataku dalam elegi juga sebagian menunjukkan keadaan si pendengar dengan segala implikasinya. Artinya, saya menyadari bahwa kata-kata saya itu akan berpengaruh terhadap si pembaca elegi. Dalam filsafat bahasa mungkin ini yang disebut sebagai tindakan saya yang bersifat perlokusi.

Misalnya kalimat saya yang berbunyi-tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca-.
Ini berakibat anda sebagai mahasiswa saya yang menempuh filsafat, mau tidak mau harus membaca. Jika hal demikian dirasa berat, itulah anda dan juga saya menemukan bukti yang kesekian kalinya bahwa manusia di dunia itu bersifat kontradiktif.

Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Maka renungkanlah. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Amiin.

58 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Setelah membaca elegi diatas yang saya pahami adalah pemaparan tentang elegi itu sendiri. Hakikat elegi dan kaitannya dengan filsafat.Saya menyadari bahwa untuk mempelajari dan memahami segala sesuatu dibutuhkan proses. Proses yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan dan pantang menyerah. Dibutuhkan keesabaran dan keikhlasan dalam memahami elegi-elegi yang tampak membingungkan bagi orang-orang awam yang baru mengenal filsafat. Tetapi dengan kesabaran dan keikhlasan maka pesan-pesan yang terkandung dalam elegi-elegi tersebut sangat bermakna dan bermanfaat bagi kita. Begitu juga ilmu, ilmu akan terus mengalir ke kita jika kita membuka pikiran kita dengan rasa ikhlas, sebaliknya ia akan tertutup jika pikiran kita dilingkupi oleh emosi dan ketidakikhlasan serta akan terasa tidak nyaman tanpa ada kerelaan dari kita.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Rhomiy handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi memahami elegi, dari pembicaraan antara dosen dan mahasiswa, dapat di tarik kesimpulan, bahwa dalam belajar filsafat itu harus bisa sabar. Harus bisa membuka hati kita untuk belajar menerima apa yang diajarkan. Untuk berfilsafat, kita tidak hanya saja membaca elegi, tapi harus bisa berfilsafat dalam kehidupan kita di sehari-hari. Dan dalam hidup itu adalah pilihan kita. Kita yang menentukan kehidupan kita. Apakah kita ikhlas atau tidak dalam menjalani semuanya, jika kita sudah ikhlas, maka apa yang diajarkan oleh seorang guru, maka kita akan bisa menerimanya.

    ReplyDelete
  4. Nurul Imtikhanah
    13301244002
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalam mempelajaran filsafat dibutuhkan keikhlasan agar kita mampu mencapai dan memahami elegi. Selain itu juga dibutuhkan untuk banyak-banyak membaca atau mencari sumber-sumber filsafat lainnya agar pikiran kita semakin terbuka dan menambah pengalaman serta ilmu sehingga dapam mempelajari filsafat terasa sedikit lebih mudah.

    ReplyDelete
  5. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Memahami elegi itu butuh ilmu, untuk apa pula kita menuntut mendapatkan ilmu tanpa ada usaha sendiri. Meskipun memahami elegi itu tidak mudah, tapi ketika kita mencoba, kita akan sering berfilsafat dengan banyak pertanyaan karena ketidaktahuan kita. Dari situ akan muncul banyak ilmu yang dapat kalian ambil. Kita juga butuh yang namanya merefleksi diri, agar kita tahu apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah kita dapatkan.

    ReplyDelete
  6. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Salah satu sebab kita masuk dalam jebakan filsafat adalah ketika kita gagal menggapai ikhlas. Meskipun ikhlas sulit diukur dan sulit dilakukan. Namun, kita memang harus ikhlas. Memahami apapun, belajar apapun, dalam sudut pandang kehidupan apapun, cobalah untuk selalu ikhlas. Ketika ikhlas, meski belum tentu meringankan namun setidaknya tidak membuat kita mengeluh. Belajarlah, dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  7. Harsiti Indrawati
    13301241021
    P.MAT A 2013

    Belajar memahami elegi bukanlah hal mudah dengan kompleksitas isi. Kita membutuhkan proses berpikir lebih dalam seperti biasanya. Namun, sangat elegi-elegi juga serat dengan pesan moralyang patut direfleksikan. Memang benar bahwa dierlukan keikhlasan dan kejernihan dalam memahami elegi.

    ReplyDelete
  8. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Membaca "Elegi Memahami Elegi" pelajaran yang dapat saya ambil yaitu belajar ikhlas dan sabar dalam belajar.Dalam memahami elegi kita harus ikhlas dengan sepenuh hati untuk dapat memahaminya. Selain itu, memfokuskan terlebih dahulu dengan hati untuk dapat memahami elegi. Mulai dari hati maka akan sampai ke dalam pikiran untuk belajar tentang elegi dalam filsafat.

    ReplyDelete
  9. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Dalam Elegi ini berusaha menggunakan bahasa konstatif, maksudnya adalah berusaha menggambarkan suatu kejadian atau fakta atau fenomena menggunakan gaya prof marsigit sendiri. Dengan bahasa konstatif itu dapat melakukan verifikasi atau menilai benar salahnya pernyataan. Maka carilah mereka itu dalam Elegi-elegi. Tetapi ada juga Elegi dimana bebas memilih kata-kata atau bahasa sesuai dengan selera saya.

    ReplyDelete
  10. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Meskipun memahami elegi itu tidak mudah, tapi ketika kita mencoba, kita akan sering berfilsafat dengan banyak pertanyaan karena ketidaktahuan kita. Dari situ akan muncul banyak ilmu yang dapat kalian ambil. Kita membutuhkan proses berpikir lebih dalam seperti biasanya. Namun, sangat elegi-elegi juga serat dengan pesan moral yang patut direfleksikan. Kita juga butuh yang namanya merefleksi diri, agar kita tahu apa yang sudah kita lakukakan dan apa yang sudah kita dapatkan.

    ReplyDelete
  11. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Emosi berujung ketidakmauan hanya akan menutup sebagian ilmu. Ketidakikhlasan hanya akan membawa ketidakbermanfaatan. Lebih baik terbuka dan ikhlas daripada memaksakan diri dan tidak memperoleh apa-apa karena sia-sia.

    ReplyDelete
  12. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Jika sudah ada kemauan dan keikhlasan, maka telah memahami satu elegi pun kita akan menemukan bahwa satu elegi saja tidak cukup. Karena semua itu memerlukan proses dan kesabaran, sehingga harus banyak-banyak membaca

    ReplyDelete
  13. Dewi Saputri
    13301241068
    Pendidikan Matematika I 2013

    Belajar filsafat tidak cukup hanya dengan singkat, padat, dan jelas. Karena belajar filsafat memerlukan pemahaman dengan segenap jiwa raga, dan tentunya tidak bisa hanya secara teknis singkat saja.

    ReplyDelete
  14. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Belajar merupakan suatu proses, begitu pula dalam belajar filsafat. Sehingga belajar filsafat memang tidak cukup hanya dengan singkat, padat, dan jelas, melainkan melalui proses yang panjang. Membaca merupakan proses belajar yang paling tepat untuk mempelajari segala hal, termasuk filsafat.

    ReplyDelete
  15. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Saya pun sempat mengalami hal serupa seperti dalam elegi ini. Saya pun sempat mengalami kebingungan. Mulai dari apa itu filsafat, apa itu elegi, dan lain-lain. Namun dari membaca postingan dalam blog ini, saya sedikit demi sedikit mulai mengerti dan mulai tertarik untuk membaca lebih dalam lagi.

    ReplyDelete
  16. Endah Kusrini
    13301241075
    Pendidikan Matematika I 2013

    Saya setuju dengan pendapat Dewi Saputri bahwa: "Emosi berujung ketidakmauan hanya akan menutup sebagian ilmu. Ketidakikhlasan hanya akan membawa ketidakbermanfaatan. Lebih baik terbuka dan ikhlas daripada memaksakan diri dan tidak memperoleh apa-apa karena sia-sia."

    Dalam bertindak memang harus selalu dilandasi dengan keikhlasan, karena dengan keikhlasan maka pikiran kita akan terbuka dan kita mampu menyerap hikmah dari setiap apa yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  17. YUNDA VICTORINA TOBONDO
    16709251015
    P.MAT A 2016

    Setelah membaca tulisan bapak di atas, dapat dikatakan bahwa dalam berfilsafat, kita perlu kesabaran dan kerendahan hati. Sifat keegoisan dan kecongkakan kita akan menjadi penghambat kita dalam berfilsafat. Setiap elegi-elegi yang dituliskan memang tidak mudah untuk dipahami, oleh karena itu dibutuhkan kesabaran dan kerendahan hati dalam membacanya agar kita dapat mengatahui apa makna dan pesan dari setiap tulisan dalam elegi.

    ReplyDelete
  18. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Untuk dapat memahami elegi diperlukan keikhlasan, yaitu ikhlas dalam pikiran (tau apa yang dibaca, tidak boleh abai) serta ikhlas dalam hati (tidak boleh sombong). Dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Artinya agar mampu berpikir kritis, maka kita perlu berpikir netral, tidak prejudice atau watprasangka, tidak emosi, tidak putus asa. Dalam keadaan nol inilah mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan baru dari elegi yang telah ia baca dan mampu memahami isi elegi sehingga bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan untuk menghilangkan kemalasan dalam membaca elegi perlu continue dalam membacanya, jangan biarkan ada jarak lama tidak membaca dan terpenting adalah ikhlas dan untuk tau maka perlu membaca.

    ReplyDelete
  19. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Dalam mempelajari filsafat ataupun mempelajari ilmu-ilmu lain hendaknya kita ikhlas dalam menjalaninya. Berbagai tugas yang diberikan merupakan salah satu cara untuk mempelajari filsafat. Sebenarnya ilmu yang kita pelajari itu memiliki manfaat, termasuk filsafat, tinggal bagaimana kita menyadari kebermanfaatan tersebut. Jalanilah segala sesuatu dengan ikhlas agar dapat memberikan manfaat bagi kita.

    ReplyDelete
  20. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Maka dapat aku katakan bahwa hidup itu adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, mengapa engkau melakukan segala perbuatanmu kelihatannya kurang ikhlas. Bukannya engkau tahu bahwa ketidak ikhlasan walau sedikitpun itu tidak akan membawa manfaat baik di dunia maupun akhirat.
    belajar filsafat berarti belajar olah pikir,pikiran kita pula yang menentukan perbuatan kita. pikiran kita pula yang menentukan keikhlasan kita dalam melakukan perbuatan. belajar filsafat berarti salah satu cara untuk belajar memahami keikhlasan.

    ReplyDelete
  21. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    Apa yang diutarakn oleh mahasiswa dalam postingan di atas sudah menjadi/mewakili saya sebagian mahasiswa, awalanya saya meras dalam membaca yang berkaitan dengn filsafat agak, berat karena memng yang saya tangkap dari bacaan filsafata itu bersifat umum, holistik, tidak parsial. Jadi kitas eagai mahasiswa yang menentukan, filsafat hanya memberikan peta, memberikan pemikiran, untuk pelaksanaannya kembali ke diri kitas masing-masing.

    ReplyDelete
  22. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Hidup adalah pilihan. Jika memilih pendidikan kita harus mendalaminya dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Benar jika telah terjebak didalam gang sempit dan tidak bisa kembali lagi, kita harus berusaha mencari jalan keluar. Salah satu solusinya kenapa kita tidak melanjutkan perjalanan saja, meskipun sempit, jalannya kan tidak buntu. Masih ada kesempatan untuk berhasil. Kita bisa mengambil hikmahnya, dengan banyak membaca, secara tidak langsung ilmu dan pengetahuan kita bertambah. Begitu juga cara berfikir dan cara kita memahami berbagai jenis bahasa yang digunakan dalam elegi-elegi yang berbeda. Terima kasih atas ilmunya Prof.

    ReplyDelete
  23. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Semua bermula dari NIAT jika memang sudah diniati maka apapun akan dilakukan. karena kata niat itu berarti dari lubuk yang paling dalam sudah di bentuk hati dan pikiran dengan ikhlas akan dilakukan. Sebenar-benarnya niat adalah keinginan.

    ReplyDelete
  24. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Untuk mempelajari elegi yang mana elegi itu sangat dekat dengan hati dan pikiran maka hati dan pikiran kita pasrahkan. Tentu ada kemudahan dan kelancaran dalam memahami elegi-elegi tersebut. Semua dinikmati dan dijalani kalau kita mempelajari dengan hati yang ikhlas, ikhtiar, tawakal daan doa. Pasti ada jalan yang memudahkan kita untuk menuju elegi-elegi tersebut.

    ReplyDelete
  25. Retno Widyaningrum
    16701261004
    S3 PEP A
    Belajar Berfilsafat adalah belajar berpikir ada dan yang mungkin ada dalam ruang dan waktu. Maka untuk mempelajarinya sadar atau tidak sadar adalah dengan iqro' dan iqro'. Karena dengan ini pengetahuan, pemahaman, pemaknaan, pengertian, pendefinisian, percontohan, per dan per yang lain akan kita dapatkan. Tidak mungkin seperti menemukan harta karun dengan tiba-tiba berada di depan kita tanpa usaha ikhtiar. Oleh sebab itu dengan membaca dan membaca insya Allah kita akan dimudahkan untuk memahaminya.

    ReplyDelete
  26. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Keihlasan merupakan salah satu kunci teraihnya apa yang kita cari, termasuk keihlasan dalam membaca elegi ini. Ikhlas hati dan ikhlas pikiran, dua hal ini yang kita butuhkan. Ikhlas hati berarti kita harus singkirkan 'kesombongan' yang masih melekat dalam diri kita. Ikhlas pikiran adalah memposisikan pikiran secara netral agar dapat berpikir jernih dan kritis sehingga dapat memahami kebenaran sebenar-benarnya.

    ReplyDelete
  27. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Berdasarkan apa yang pernah saya pelajari, Ada enam syarat teraihnya ilmu yang kita cari; (1) kemauan, (2) ketekunan, (3) kesabaran, (4) biaya, (5) petunjuk guru, (6) waktu. Keenam hal ini adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu, termasuk ilmu filsafat. Kebaikan, termasuk ilmu tidak bisa diraih dengan cara instan.

    ReplyDelete
  28. Sampai kapan gunung itu akan kau pelihara jika gunung yang kau buat belum punya dasar yang kuat?
    Untuk apa gunung itu kau pelihara jika gunung yang kau buat belum punya dasar yang kuat?
    Bagaimana gunung itu akan kau pelihara jika gunung yang kau buat belum punya dasar yang kuat?
    Mengapa gunung itu akan kau pelihara jika gunung yang kau buat belum punya dasar yang kuat?
    siapa gunung itu akan kau pelihara jika gunung yang kau buat belum punya dasar yang kuat?

    Jika kerikil kecil mungil dan tidak akan meledak, kenapa kita tidak menjadi kerikil saja?
    JIka kerikil bisa juga tajam bisa juga tumpul, kenapa kita tidak menjadi kerikil saja?
    JIka kerikil itu banyak dan bisa sama manfaatnya, kenapa kita tidak menjadi kerikil saja?
    JIka kerikil itu juga hitam keras dan berisi, kenapa kita tidak menjadi kerikil saja?

    Saya belajar meruntuhkan gunung yang selalu mencoba ditinggi-tinggikan, dan nikmat ini tidak akan pernah saya lupakan. Nikmat meruntuhkan diri sendiri.
    Matur nuwun nggih prof., sudah bersedia menjadi arsitektur dalam ego saya.

    Ananda Memet Sudaryanto
    Di tengah rumitnya Kota Elegi
    16701261005
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
  29. Prof. Igit,
    sepenggal pengalaman pribadi dan butuh solusi..

    Saya mengajar bahasa Indonesia sebagai mata kuliah umum, Prof., sebagian anak didik saya di fakultas tertentu tidak bersedia menerima ilmu yang saya sampaikan. Menurut mereka, bahasa Indonesia itu tidak penting dan tidak berguna. Saya sedih sebagai polisi bahasa dalam mencoba menengakkan penggunaan bahasa Indonesia di setiap situasi yang saya gunakan.
    Prof., gunung mereka terlalu tinggi untuk saya daki, gunung mereka terlalu curam untuk saya naikki, dan gunung mereka terlalu berlumut untuk saya panjat.
    Akhirnya, saya hanya menyampaikan apa yang mereka butuhkan dan inginkan. Entah mereka menerimanya dengan ikhlas atau tidak itu urusan mereka. Tapi saya selalu ikhlas menyampaikan apa yang bisa saya sampaikan. Di sisi lain, saya selalu mencoba menggunakan metode terbaik agar pembelajaran yang mereka dapatkan dapat bermakna dan bisa mereka gunakan sampai mereka menulis skripsi, dan tugas lainnya.
    Menjadi pendaki gunung susah nggih Prof??
    Mohon balasannya.

    Ananda Memet Sudaryanto
    Di tengah rumitnya Kota Gunung Milik Mahasiswa Saya
    16701261005
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya pernah uji coba tes jawab cepat, dan gagal. Mereka untuk materi-materi umum saja belum memahami.

      Delete
  30. Dosen yang baik, ia selalu mengedepankan pemikiran dingin hati yang putih. Prof. Igit pernah menyampaikan
    "Satu kelas terdapat puluhan bakat dari masing-masing anak, sifat, karakter yang berbeda yang perlu perlakuan dengan adil. Adil bukan berarti sama rata, dosen harus memperlakukan setiap peserta didiknya dengan bijak, membantu mereka yang perlu dibantu dengan senang hati dan penuh kasih sayang tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakan, aspek sosial dan lain-lain."

    Semoga menjadi inspirasi bagi saya setiap saat setiap waktu.

    salam selamat malam.


    Ananda Memet Sudaryanto
    Di tengah rumitnya Kota Gunung Milik Mahasiswa Saya
    16701261005
    S3 PEP A 2016

    ReplyDelete
  31. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    untuk mempelajari ilmu yang ada di dunia ini baik itu ilmu tentang filsafat ataupun ilmu-ilmu lainnya pastinya membutuhkan proses. Proses itulah yang nantinya menjadikan kita dapat berkembang dalam hal pemahaman, pengetahuan, daya analisis, penalaran dan lain sebagainya. sebagai manusia kita harus pahami ketika menempuh pengetahuan baru maka pastilah kita berawal dari dasar atau nol, sehingga pengetahuan-pengetahuan itu akan terus menambah apa yang nol itu menjadi 1, 2, 3 dst dan itulah yang menjadikan pola pemikiran kita berkembang.

    ReplyDelete
  32. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kemarahan dan emosimu dapat menutup ilmu kita. marah dan emosi adalah sebenar-benar musuh dalam pencarian sebuah ilmu. jika kita lah melawan kemarahan dan emosi berarti kita telah berhasil dalam belajar.

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Filsafat bukan sekedar merupakan mata kuliah. Filsafat adalah suatu tindakan, suatu aktivitas. Filsafat adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia (apa tujuan hidup, apakah Tuhan ada, bagaimana menata organisasi dan masyarakat, serta bagaimana hidup yang baik), dan mencoba menjawabnya secara rasional, kritis, dan sistematis.Filsafat sudah ada lebih dari 2000 tahun, dan belum bisa (tidak akan pernah bisa) memberikan jawaban yang pasti dan mutlak, karena filsafat tidak memberikan jawaban mutlak, melainkan menawarkan alternatif cara berpikir.

    ReplyDelete
  34. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Elegi merupakan wadah dan alat pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi proses pembelajaran karena dengan bahasa yang sederhana dalam elegi tersebut diharapkan orang lebih bisa memahami dengan tepat isi dari suatu elegi.

    ReplyDelete
  35. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Setelah mengetahui apa itu elegi, ada satu kata lagi yang tidak biasa terdengar ditelinga kita dalam kehidupan sehari-hari yaitu Jargon. Jargon menurut arti bahasa adalah kosa kata yang dipakai khusus di bidang kehidupan tertentu (kamus bahasa indonesia). Jargon juga dapat diartikan sebagai bahasa yang kacau. Bentuk jargon hampir sama dengan elegi tetapi perbedaannya hanya pada bahasa yang digunakan. Dalam elegi bahasa yang digunakan bahasa lebih sederhana dibandingkan bahasa yang digunkan dalam jargon sehingga elegi dapat lebih mudah dipahami di bandingkan jargon.

    ReplyDelete
  36. Ika Dewi Fitria Maharani
    16709251027
    PPs UNY P.Mat B 2016

    Paragraf terakhir sangat perlu untuk direnungkan. Kehidupan yang kita jalani memberikan banyak pilihan kepada kita, terserah kita mau memilih yang mana. Tapi alangkah sia-sai jika kita melakukan pilihan kita tanpa disertai hati dan pikiran yang ikhlas. Disinilah sifat manusia yang kontradiktif. Dan selama di dunia maka kita akan selalu bersifat kontradiktif, maka ikhlaskan hati dan pikiran, bahagialah menjalani pilihan hidup kita.

    ReplyDelete
  37. Setelah saya membaca elegi memahami elegi ini menurut saya mahasiswa tidak seharusnya menyalahkan dosennya apalagi menyalahkan metode pembelajaran dosen tesebut sebenarnya itu sudah resiko seorang mahasiswa mengerjakan setiap tugas yang diberikan dosen. Seorang dosen pun tidak mungkin memberikan suatu hal yang tidak bermamfaat bagi mahasiswanya. Dosen akan selalu memmbuka pikiran mahasiswanya agar menyadari bahwa untuk mempelajari atau memahami sesuatu butuh proses. Proses itu pun harus dilandasi kesabaran, keikhlasan, semangat yang tinggi, serta jiwa pantang menyerah. Dalam kehidupan kita memiliki banyak pilihan, dalam memilih pilihan tersebut tergantung diri kita ingin memilih yang mana, seperti mahasiswa itu sudah menjadi pilihan hidup kita sebagai seorang mahasiswa dan kita harus bisa menerima apapun konsekuensinya dengan segala kesebaran dan keikhlasan. Dalam elegi ini pun saya sendiri sangat tidak mengerti tapi, karena ini tugas dari dosen saya, saya merasa terbebani sebenarnya namun behubung saya seorang mahasiswa yang sadar akan koensikuensi sebagai seorang mahasiswa. Dan sebenarnya saya memiliki pilihan untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan dengan segala konsekuensi setiap pilihan yang saya ambil. Saya pun mulai mempelajari dan memahami elegi ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan meskipun saya mengetahui untuk memahami elegi ini tidak mudah dan butuh konsentrasi penuh dalam memahami elegi ini tapi saya dengan dengan yakin mencoba memahami. Sehingga terpenuhilah tugas ini karena kesabaran dan keiklasan.

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  38. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Kesabaran ibarat tanaman yang harus senantiasa dipupuk. Pupuk yang dimaksud adalah keyakinan bahwa tanaman tersebut kelak akan berbuah manis dan layak untuk dinikmati oleh setiap insan yang punya rasa yakin itu. Saya sendiri masih tertatih tatih. Setidaknya begitulah kira-kira jawaban yang akan keluar saat seseorang bertanya sejauh mana saya sudah mempraktekannya. Dan kesabaran, nyatanya, akan terlatih dengan baik manakala seseorang dihadapkan dengan permasalahan, mulai dari yang sepele sampai yang pelik sekalipun. Begitupun dalam mencari ilmu, kita dituntut untuk selalu menanamkan sifat sabar dan ikhlas dalam belajar.

    ReplyDelete
  39. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Ketika emosi lebih leluasa berbicara ketimbang hati yang pandai menahan amarah, maka kekacauan bisa lekas dikenali. Seorang atasan yang selalu emosi seringkali mendzolimi bawahannya, bahkan mengurangi hak-hak orang yang dipimpinnya. Seorang bawahan yang tak sabar ingin cepat naik jabatan akan menjadi penjilat bagi atasannya, dan saat keduanya bekerja sama maka mereka mulai mendzolimi orang-orang disekitarnya. Begitupun dengan orang tua yang belum mampu bersikap sabar. Walaupun sabar bukan berarti lemah, namun kesabaran diharapkan mampu membantu mereka mendidik anak menjadi pribadi yang merasa terlindungi, terbimbing dan terarahkan pada nilai-nilai keluhuran budi yang nantinya akan dia tularkan saat bersama teman-teman dan orang-orang yang dikenalnya. Dalam hal ini, kesabaran manusia diuji dalam menghadapi orang lain yang berada disekelilingnya, sejauh mana mereka mampu menghadapi masalah dengan pikiran jernih dan mengendalikan diri untuk terhindar dari emosi sesaat yang hanya akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  40. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Pada kenyataannya, penguji kesabaran terbesar bagi manusia bukan hanya manusia lain, tapi juga uang. Lihatlah bagaimana seseorang menjadi koruptor karena dia tidak sabar mengumpulkan kekayaan dari hasil jerih payahnya sendiri. Mereka berbondong-bondong merampok uang yang bukan hak mereka dan lupa bahwa ada orang lain yang lebih berhak atas uang tersebut. Uang membuat manusia khilaf, membuat mereka lupa akan kesederhanaan. Seseorang yang terhimpit masalah ekonomipun bisa melakukan segala upaya untuk mendapatkan uang dan kesenanngan. Kesabaran mereka runtuh, lagi lagi juga karena uang. Alangkah indah jika mereka bisa bersabar sembari berusaha, dan mereka yang kaya mau berbagi dengan sesama secara ikhlas.

    ReplyDelete
  41. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Elegi bisa bermakna syair atau sebuah puisi yang cenderung menyuarakan ratapan pada suatu yang ada maupun tidak ada atau bagian dari ungkapan rasa duka cita itu pengertian secara bahasa mengenai elegi. Tetapi jika ditinjau lebih dari pada sebuah nilai dan essensinya elegi filsat ini membuat para intelek membuka jendela dunia tentang apa yang diterima, dibangun, dipikirkan, dan disampaikan. Membaca elegi satu demi satu, kata demi kata, sampai mengambil makna pada kalimatnya, adalah bukan karena keharusan , tetapi belajar memaknai lebih memberikan sebuah pengalaman dan nilai bagaimana hidup dan menjalaninya. Terlalu sulit memahami tidak bisa dihindari, tetapi semua akan runtuh dengan rasa ikhlas dan kesungguhan.

    ReplyDelete
  42. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan pembicaraan antara dosen dan mahasiswa tersebut dapat terlihat bahwa sang mahasiswa sudah merasa lelah dan bingung saat belajar filsafat. Memahami elegi memang tidak mudah, untuk itu kita perlu sering-sering membaca dan pelan-pelan memahami apa isinya. Hal tersebut juga harus benar-benar ikhlas untuk melakukannya agar kita dapat menggapai elegi.

    ReplyDelete
  43. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Untuk belajar filsafat memerlukan proses yang tidak sebentar. Dari elegi-elegi kita bisa memahami filsafat dengan gaya bahasa yang dapat dikatakan lebih mudah dipahami karena berbentuk layaknya seperti cerita. Hal tersebut agar lebih memudahkan kita dalam memahami sebagian dari filsafat. Karena sebenar-benar filsafat adalah pikiran para filsuf.

    ReplyDelete
  44. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Niat yang baik akan menghasilkan buah yang baik, demikian juga sebaliknya. Namun meskipun niat sudah ada, tapi jika tidak disertai keikhlasan, juga tidak ada artinya, ibarat tubuh tanpa jiwa. Jadi antara niat dan ikhlas haruslah seiring sejalan tidak boleh dipisah-pisahkan. Demikian juga dalam belajar filsafat, maka harus dimulai dahulu dari niat dan diiringi dengan keikhlasan, insyaAllah kita akan mampu menjalani prosesnya dengan baik serta memperoleh hasil yang baik pula

    ReplyDelete
  45. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Suatu pengetahuan akan diperoleh seseorang jika dalam dirinya ada rasa ingin tahu, diikuti dengan kesadaran, dan petanyaan sebagai buah hasil berpikir. Dan manusia adalah makhluk Allah yang dilengkapi dengan sarana berpikir. Namun terkadang manusia tidak mau menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagai mana mestinya. Bahkan banyak yang hampir tidak pernah berpikir. Belajar filsafat itu menggunakan metode hermeutika, yaitu dengan menerjemahkan dan diterjemahkan mengenai fenomena alam. Seperti tentang semua yang ada dan mungkin ada

    ReplyDelete
  46. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Salah satu kunci meraih kesuksesan itu adalah kesabaran, memang sederhana namun tidak semua orang mampu memilikinya. Ibarat kita menanam pohon, dengan sabar setiap hari kita sirami dan beri pupuk, maka suatu saat nanti ketika pohon tersebut dapat berbuah, maka kita akan menikmati buah tersebut. Demikian halnya dengan belajar filsafat, kita harus sabar, tidak mungkin belajar filsafat akan mahir dalam satu dua minggu, namun perlu kesabaran dalam proses mempelajarinya. Seperti pada wacana elegi memahami elegi diatas, bahwa belajar filsafat tidak cukup hanya membaca sedikit, tidak tepat kalau hanya mendengarkan petunjuk teknis, dan tidak cukup hanya membaca refensi wajib. Perlu waktu dan usaha yang ikhlas untuk dapat menguasainya

    ReplyDelete
  47. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika

    Keikhlasan adalah kunci utama dalam melakukan segala hal. Karena dengan keikhlasan tersebut, apapun yang kita lakukan dapat bernilai ibadah. Selain itu, dengan keikhlasan lah kita akan mendapat hasil yang lebih baik dari pada tanpa berlandaskan keikhlasan. Itu lah yang seharusnya diterapkan dalam belajar filsafat termasuk dalam membaca elegi.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  48. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Belajar filsafat tidak cukup dengan mendengarkan kuliah dosen. Harus didukung dengan membaca buku atau referensi lainnya. Bacaan yang dibaca juga harus beragam supaya mengetahui banyak hal/aliran dalam filsafat sehingga tidak terkesan berpihak pada yang tertentu.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  49. Seftika Anggraini
    13301241013
    Pendidikan Matematika I 2013

    Elegi adalah salah satu yang berkaitan dengan filsafat. Membaca elegi merupakan kegiatan berfilsafat. Dari membaca elegi-elegi di blog ini, ilmu filsafat menjadi bertambah. Dari membaca ini, menjadi terbiasa dengan bahasa yang digunakan dalam filsafat dari bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami sampai bahasa yang sangat sulit untuk dimengerti. Ya, sepeti itulah keberagaman filsafat.

    ReplyDelete
  50. Rizqi Khilda Amalia
    13301241046
    P Mat I 2013

    Salah satu sebab kita masuk dalam jebakan filsafat adalah ketika kita gagal menggapai ikhlas. Meskipun ikhlas sulit diukur dan sulit dilakukan. Namun, kita memang harus ikhlas. Memahami apapun, belajar apapun, dalam sudut pandang kehidupan apapun, cobalah untuk selalu ikhlas. Ketika ikhlas, meski belum tentu meringankan namun setidaknya tidak membuat kita mengeluh. Belajarlah, dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  51. Belajar filsafat seyogyanya belajar menata pikiran. Belajar proses berpikir. Betul kata bapak, dalam mempelajari filsafat, mahasiswa itu seyogyanya dalam keadaan NOL. Inilah yang akan melatih kemampuan kami, baik kemampuan berpikir, mental, maupun spiritual. Belajar filsafat berarti belajar berpikir kritis. Sangat tidak mungkin belajar filsafat tanpa membaca berbagai referensi yang dapat menjadi panduan. Selain itu, mental pun terasah ketika merasa putus asa dan lelah mencoba memahami filsafat namun mengalami stagnan. Saat itulah harus berupaya untuk terus belajar dan belajar tanpa menyerah. Kemampuan spiritual secara tidak langsung akan meningkat seiring memahami hakekat ada dan tiada.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  52. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Ikhlas dapat digapai setidaknya ketika memenuhi tiga pilar yaitu niat, keikhlasan, dan kejujuran. Begitu pula dalam berfilsafat. Untuk dapat memperoleh sebenar benar pengetahuan kita harus mempunyai niat yang benar, ikhlas dalam menjalani, dan kejujuran dalam menempuhnya..

    ReplyDelete
  53. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menurut saya, memang benar bahwa dalam belajar diperlukan suatu keikhlasan. Ikhlas dalam pikiran dan ikhlas dalam hati. Artinya ikhlas dalam pikiran adalah berpikir dengan pikiran yang jernih, bening, dan dengan kepala dingin. Sedangkan ikhlas dalam hati adalah tidak ada rasa sedih, rasa jengkel, rasa kecewa dalam belajar, yang ada hanyalah rasa senang.

    ReplyDelete
  54. Septi Puji Rahayu
    13301241028
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menurut saya, membaca adalah satu cara dari belajar. Seperti kata pepatah yang mengatakan "Jika kau ingin mengenal dunia maka membacalah dan jika kau ingin dikenal dunia maka menulislah ". Jadi, jika kita ingin bisa berfilsafat maka salah satu caranya adalah memperbanyak membaca.

    ReplyDelete
  55. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Dibutuhkkan keikhlasan dan kesabaran untuk memahami elegi. Elegi memberi muatan filsafat, muatan moril, muatan pengetahuan, dan muatan lainnya, di dalam elegi juga terdapat gambaran suatu kejadian atau fakta yang bisa kita pelajari dan mengambil hikmahnya. Jika kita menganggap diri kita ikhlas dan sabar tetapi sebenarnya tidak maka untuk memahami elegi akan sulit dan kita tidak bisa mengambil setiap pelajaran atau hikmah di dalam elegi tersebut.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  56. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Elegi memang berbeda dari bacaan biasanya. Melalui elegi merupakan salah satucara untuk mempelajari filsafat. Dalam belajar filsafat tentu butuh keikhlasan. Keikhlasan menjadikan diri dapat lebih mudah dalam menjalankan apapun. Sehingga memahami filsafatpun akan lebih mudah dan cepat.

    ReplyDelete
  57. Umi Arismawati
    13301241032
    Pendidikan Matematika A 2013

    Ikhlas diartikan bersih hati; tulus hati . Mengikhlaskan diartikan memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati; merelakan. keikhlasan juga diartikan ketulusan hati; kejujuran; kerelaan. Belajar filsafat membutuhkan keikhlasan. Sehingga ilmu dapat diraih.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id