Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 32: Mengaji Jalaliyyah dan Jamaliyyah Wujud Allah




Oleh Marsigit

Bagawat Selatan:

Wahai Ustad Jalaludin Rakhmat, sekalian saya ingin bertanya tentang Wujud Allah itu seperti apa?

Jalaludin Rakhmat:
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:”Qulid’ullaha awid ‘urrahmana ayyama tad’u falahul husna: Berdoalah kamu dengan memanggil nama Allah, atau memanggil al-Rahman. Karena baginya ada namanama yang baik”

Bagawat Selatan:
Apakah nama Allah itu? Dan apakah nama-nama yang baik itu? Apakah nama-nama itu berelasi dengan wujud-Nya? Apakah wujud-Nya itu juga wajah-Nya?

Jalaludin Rakhmat:
Melalui Al-Qur’an , kita mengenal dua wajah Allah. pertama adalah jalal-Nya, yaitu nama Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya, keagungan-Nya, kemahaperkasaan-Nya, ketidakdapat-terbantahan-Nya, dan kekuatan-Nya untuk memaksa manusia, yang sangat berat siksaan-Nya, Al-Mutaqim-Sang Pembalas Dendam. Dalam Al-Qur-an:”Subhanallahi ta’ala ‘amma yasifun: Mahasuci Allah Ta’ala dari apa yang mereka sifatkan dan mereka bayangkan”. Itulah jalaliyyah dari wujud Allah.

Bagawat Selatan:
Bagaimana kita memahami atau mengenal jalaliyyah dari wujud Allah?

Jalaludin Rakhmat:
Seorang ulama pernah berkata:”Sekiranya kita melakukan salat, lalu kita ingin slat secara khusuk dan kita membayangkan Allah dengan bayangan kita, maka kita telah melakukan kemusyrikan. Kita telah menyembah bayangan kita tentang Allah. Padahal Dia Mahasuci dari apa pun yang kita bayangkan. Subhanallahi ta’ala amma yasifun Q.S. Al-Shaffat [37]:159

Bagawat Selatan:
Lalu...bagaimana kita dapat membayangkan Allah?

Jalaludin Rakhmat:
Kalau kita membayangkan Allah dari segi zat-Nya, maka yang harus kita lakukan adalah tanzih atau pembersihan. Kita bersihkan diri kita dari segala bayangan apa pun tentang Allah, karena Allah tidak bisa kita bayangkan. Laisa kamislihi syai-un: tiada yang semisal Dia sedikitpun (Q.S. Al-Syura:11). Wa lam yakun lahu kufuwan ahad: Dia tidak menyerupai siapapun (Q.S. Al-Ikhlas:4). Jadi sikap kita terhadap Allah dari segi zat-Nya adalah membersihkan Dia dari segala yang kita sifatkan.

Bagawat Selatan:
Apakah sifat Allah dari sisi jalaliyyah-Nya?

Jalaludin Rakhmat:
Dari sisi jalaliyyah-Nya, Allah itu bersifat transenden, artinya Dia itu berada di luar bayangan-bayangan kita. Karena Allah bersifat transenden, maka kita mempunyai kesan bahwa Allah itu jauh (al-bu’du). Sifat-sifat dari sisi jalaliyyah-Nya membuat kita merasa takut kepada-Nya, membuat kita jauh dari-Nya, kita ingin lari dari-Nya. Maka posisi yang benar dalam memahami sisi jalaliyyah Allah adalah kita sebagai hamba-Nya (‘abd). Maka seperti kita salat, kita mengucapkan:”Iyyaka na’budu: Kepada-Mu kami menyembah” (Q.S. Al-Fatihah:5)

Bagawat Selatan:
Terimakasih ...alhamdulillah. Apakah wujud Allah, selain dari sisi jalaliyyah-Nya?

Jalaludin Rakhmat:
Wajah yang lain dari Allah adalah dari sisi jamaliyyah-Nya, yaitu sisi yang menunjukkan keindahan-Nya. Jika jalal berhubungan dengan zat Allah, maka jamal berhibungan dengan sifat-sifat Allah. Kita tidak bisa mengenal Zat-Nya karena Dia berbeda dengan kita. Tetapi Allah memperkenalkan diri-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Diantara sifat-sifat Allah yang jamal adalah:kasih sayang-Nya, anugerah-Nya, kenikmatan-Nya, karunia-Nya, dan pemeliharaan-Nya. Dalam Al-Qur’an, sebutan Asma Allah yang menunjukkan dimensi jamaliyyah itu lebih banyak daripada sebutan Asma Allah dari sisi jalaliyyah-Nya. Hal ini menunjukka bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Allah itu lebih cepat rida-Nya daripada murka-Nya.

Bagawat Selatan:
Jika dari sisi jalaliyyah-Nya kita harus membersihkan diri atau tanzih, maka kita harus bagaimana dari sisi jamaliyyah-Nya?

Jalaludin Rakhmat:
Dari sisi jamaliyyah-Nya kita harus melakukan tasybih, yaitu kita harus meniru Allah dan menyerupai-Nya dalam sifat-sifat-Nya yang indah, berakhlak dengan akhlak Allah, dan mencoba menyerap sifat-sifat Allah ke dalam diri kita. Yang serupa itu akan saling tarik menarik satu dengan yang lainnya. Bila kita menginginka orang lain suka kepada kita, usahakan untuk menunjukkan kesamaan kita dengannya. Dalam perwujudan lamaliyyah-Nya, Allah itu begitu dekatnya dengan kita karena keserupaan sifat kita dengan-Nya. Dari sinilah akan timbul pada diri kita perasaan mahabbah, yaitu Cinta kita kepada Allah. Mahabbah itu ditunjukkan dalam anugerah-Nya, kasih sayang-Nya, karunia-Nya, ampunan-Nya, dan pahala-Nya.

Bagawat Selatan:
bagaimana sifat jamaliyyah Allah disebut dalam Al-Qur’an?

Jalaludin Rakhmat:
Dalam Al-Qur’an:”Al-Rahaman ‘allamal qur’an khalaqal insan: Dialah Sang maha Pengasih yang mengajarkan Al-Qur’an danyang menciptakan insan” (Q.S. Al-Rakhman:1-3). Al-Rahman adalah Asma Allah yang menggambarkan keindahan-Nya. jadi penciptaan manusia itu lahir dari sifat jamaliyyah Tuhan, dari kasih sayang-Nya. Olehkarena itu, ketika menciptakan manusia, Tuhan tidak berkata:”Aku akan ciptakan seorang hamba di muka bumi ini”, tetapi “Inni ja’ilun fil ardhi khalifah: Aku akan jadikan di bumi seorang lkhalifat” (Q.S. Al-Baqarah:30). Maka dari sisi jalaliyyah-Nya, posisi manusia bukan lagi sebagai hamba, melainkan sebagai khalifah. Manusia memikul amanat yang besar untuk menjadi wakil Tuhan di bumi. Di antara seluruh makhluknya, Tuhan melihat manusia sebagai satu-satunya makhluk yang berhak mengenakan jubah kehormatan sebagai khalifah Tuhan.

Bagawat Selatan:
Apakah akhlak manusia mampu menerima amanat Allah itu?

Jalaludin Rakhmat:
Para malaikat bertanya:”Ataj’alu fiha man yufsidu fiha wa yasfikud dima wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqadissulak: Akankah Engkau jadikan di bumi seorang khalifah yang nanti akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami selalu bertasbih kepada-Mu dan mensucikan-Mu”. Maka Allah menjawab dengan firman-Nya:”Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(Q.S. Al-Baqarah:30). Jadi kekhalifahan adalah amanah. Dalam Al-Qur’an disebutkan, ketika amanah itu diberikankepada langit, bumi, dan bukit-bukit , mereka semua bergetar ketakutan menolak amanah itu. Kemudian manusialah yang menerimanya. Mengapa manusia dipilih sebagai khalifah dibanding makhluk-makhluk lain? Karena, pada manusialah dua wajah Allah itu bisa bergabung. Sedangkan pada semua makhluk selain manusia, mereka hanya membawa satu sifat saja dari sifat Allah. Halilintar hanya membawa wujud jalaliyyah-Nya. Hujan hanya membawa sifat jamaliyyah-Nya. Maka pada kedudukannya sebagai khalifah Allah, manusia itu mempunyai berbagai keistimewaan.

Bagawat Selatan:
Bagaimana menyeimbangkan pemahaman kita tentang wujud jalaliyyah dan jamaliyyah Allah?

Jalaludin Rakhmat:
Sekiranya kita hanya berpegang pada dimensi jamaliyyah Tuhan, tidak memperhatikan sisi jalaliyyah-Nya, maka manusia akan menjadi sangat longgar danbebas melakukan maksiat karena berangapan bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maka manusia akan banyak melanggar berbagai aturan-Nya karena ampunan Allah lebih luas dari dosa-dosa kita. Tetapi coba terapkanlah kepada diri manusia, jika anda dirampok orang maka anda pun segera mamaafkan karena melihat bahwa Allah pun Maha Pengampun. Maka kejahatan akan berkembang luar biasa di muka bumi. Oleh sebab itu kita harus memahami keadilan ilahi yang terangkum dalam sifat jalaliyyah-Nya. Keadilan Allah itulah yang sangat ditakuti manusia.

45 comments:

  1. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Tuhan YME dapat dilihat sebagai sesuatu yang sangat bernilai luar biasa, sangat tinggi, tak terjangkau dan tak ada bandingannya (transenden) dengan manusia.Karenanya manusia akan merasa sangat kotor dan merasa jauh dari Tuhan YME dikarenakan sifat Tuhan yang Maha Suci ,sehingga merasa bahwa Tuhan YME berada dalam posisi yang tak terjangkau oleh manusia. Akibatnya manusia akan mengikuti perintah Tuhan dilandasi dengan perasaan takut.

    ReplyDelete
  2. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Tuhan YME dapat dipandang juga dari sisi keserupaan bahwa manusia diciptakan berdasarkan gambar dan rupa Allah sehingga akan terasa Allah berada dalam diri kita (immanent) dan kita berada dalam Dia. Sehingga yang timbul bukan perasaan takut melainkan rasa cinta, kepasrahan diri, dan kekaguman karena merasa Allah begitu dekat dengan manusia. Sehingga ibadah yang kita lakukan bukanlah menjadi sebagai kewajiban (beban) karena perasaan takut dan tunduk kepada Allah, melainkan ibadah yang kita lakukan sebagai wujiud kecintaan kita kepada Allah sebagai sumber pemberi hidup. Namun jika kita salah memahami konsep kebaikan Allah justru akan membuat manusia hidup semena-mena dan tidak lagi mengindahkan lagi kebaikan yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  3. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Manusia sebagai ciptaan Allah yang diberikan keistimewaan akal, seharusnya dapat memaknai sifat-sifat Allah, seperti dalam Asmaul Husna. Kita dapat mengenal dan dekat dengan Allah melalui Asmaul Husna. Setiap nama Allah adalah kebaikan dan keindahan. Terdapat beberapa hal yang harus bersinergi satu sama lain, termasuk jalaliyyah dan jamaliyyah Allah. Kekuasaan dan kasih sayang Allah bersinergi dalam kehidupan kita. Kelebihan manusia dibanding makhluk lain adalah manusia bisa bersikap sebagai penguasa menunjukkan kekejamannya namun di sisi lain manusia bisa menjadi orang yang penuh dengan kasih sayang. Dua hal tersebut mirip dengan sifat Allah jalaliyyah dan jamaliyyah. Oleh karena itu manusia hendaknya merasa takut kepada Allah karena Allah adalah penguasa dan kekuatan-Nya melebihi apapun. Namun di sisi jamaliyyah Allah itu indah dengan sifat Pengasih dan Penyayang semua umat-Nya. Jadi sebagai manusia, selalu taatlah untuk beribadah kepada Allah dan mensyukuri segala kasih sayang yang telah Ia berikan.

    ReplyDelete
  4. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Dari elegi ini saya tersadar bahwa manusia sejatinya harus selalu berhati-hati dari apa yang dilakukannya. Manusia tidak boleh sembrono dalam berbuat dosa dan tidak memperhatikan apa yang harus dan tidak harus dilakukan. Manusia tidak boleh sembarangan dalam bertindak. Tidak bisa kita seenaknya berbuat dosa kemudian kita bisa bertobat dan mengulangi perbuatan tersebut karena hanya mengingat bahwa Allah itu maha pengasih dan maha penyayang. Manusia harus bisa terus berhati-hati dalam bertindak. Saya belajar untuk mengingat posisi manusia sebagai makhluk Allah dan mengingat sifat jamaliyyah dan jalaliyyah Allah. Kita harus takut akan keadilan Allah.

    ReplyDelete
  5. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Manusia terkadang diselimuti oleh perasaan khawatir dan ragu-ragu. Jauhilah keragu-raguan itu. Dekatkan diri kepada Allah, karena Allah akan menunjukkan secara jelas mana yang benar dan mana yang sebenarnya salah. Tidak akan ada rasa kekhawatiran jika kita senantiasa ingat bahwa langkah kita masih berada di jalan Allah

    ReplyDelete
  6. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Wajah Allah dilihat dari sisi Jalaliyyah dan Jamaliyyah, maksudnya Jalaliyyah adalah Allah itu berada di luar bayangan-bayangan kita dan Jamaliyyah artinya sisi yang menunjukkan keindahan-Nya. Jalaliyyah berhubungan dengan zat Allah sedangkan jamaliyah berhubungan dengan sifat-sifat Allah. Kita harus memperhatikan keduanya dan harus menyeimbangkannya. Namun, jangan melakukan hal yang sudah tahu salah namun berusaha mencari pembenaran/pembelaan dengan sifat-sifat Allah. Gunakanlah sifat-sifat-Nya untuk hal baik. seperti mudah memaafkan orang lain, menyayangi orang-orang di sekitar kita, mengasihi anak yatim dan kurang mampu, dan sifat lainnya yang dapat kita terapkan sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Allah SWT memiliki wujud Jalaliyyah dan Jamaliyyah. Jalaliyah menunjukkan segala tentang Kebesaran-Nya, Keagungan-Nya, Kekuatan-Nya dan sifat-sifat Kemahaperkasaan-Nya yang lain. Sedangkan wujud Jamaliyyah menunjukkan segala keindahan-Nya. Setiap manusia hendaknya meyakini keduanya. Dengan mengenali wujud Jalaliyyah-Nya, manusia akan menyadari kehambaannya dan merasa takut akan kekuatan dan kebesaran Allah. Dengan demikian manusia akan berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sementara itu, wujud Jamaliyyah akan membuat manusia merasa dekat dengan Allah dan merasakan cinta yang besar kepada Allah. Apabila manusia hanya berpegang pada dimensi Jamaliyyah saja, maka manusia akan merasa bebas melakukan segala sesuatu tanpa ada pertanggungjawabannya. Sedangkan jika hanya berpegang pada wujud jalaliyyah, maka manusia hanya memiliki rasa takut tetapi tidak memiliki kecintaan pada Allah.

    ReplyDelete
  8. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dan dalam hidup ini, hendaknya kita melakukan sesuatu seperti dimensi jamaliyyah dan jalaliyah Allah, manusia hendaknya tidak hanya berpegang pada dimensi jamaliyyah Allah, namun juga berpegang pada sisi jalaliyahNya agar setiap apa yang kita lakukan, tidak keluar dari koridorNya, dan tetap bisa menyeimbangkan dua hal tersebbut, sehingga kita tetap berada pada jalan yang benar.

    ReplyDelete
  9. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP/B
    Everu human kind should know that God is Omnipresent, Omniscient, Transcendent, Omnipotent. the first the characteristics of God stated above cannot be revealing in human kinds even if he/she has supernatural power. Omnipresent means that God is always with us especially when we pray. Omnicsient means that God knows everything about us before we introduce them. Omnipotent means that God has power over human kinds but despite that power, He is very kind to us. in the elegi it is said that, however big your sins are, God is ready to forgive you while asking for the pardon.

    ReplyDelete
  10. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Jalaliyyah berhubungan dengan zat Allah sedangkan jamaliyah berhubungan dengan sifat-sifat Allah. Janganlah sampai disalahgunakan sifat-sifat Allah tersebut untuk membenarkan tindakan kita yang salah, namun gunakan untuk menjadikan kita lebih baik. Seperti Allah maha pemaaf maka sifat tersebut kita gunakan untuk menjadi pribadi yang lebih dapat memaafkan kesalahan orang lain.

    ReplyDelete
  11. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Jalaliyyah adalah nama Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya, keagungan-Nya, kemahaperkasaan-Nya, ketidakdapat-terbantahan-Nya, dan kekuatan-Nya. Dalam Al-Qur’an, ”Subhanallahi ta’ala ‘amma yasifun”, Mahasuci Allah Ta’ala dari apa yang mereka sifatkan dan mereka bayangkan”. Itulah jalaliyyah dari wujud Allah.
    Namun, yang perlu kita ingat, seorang ulama pernah berkata:”Sekiranya kita melakukan salat, lalu kita ingin slat secara khusuk dan kita membayangkan Allah dengan bayangan kita, maka kita telah melakukan kemusyrikan. Kita telah menyembah bayangan kita tentang Allah. Padahal Dia Mahasuci dari apa pun yang kita bayangkan. Subhanallahi ta’ala amma yasifun Q.S. Al-Shaffat [37]:159
    Sedangkan jamaliyyah adalah sisi yang menunjukkan keindahan-Nya. Jika jalal berhubungan dengan zat Allah, maka jamal berhibungan dengan sifat-sifat Allah. Kita tidak bisa mengenal Zat-Nya karena Dia berbeda dengan kita. Tetapi Allah memperkenalkan diri-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Diantara sifat-sifat Allah yang jamal adalah:kasih sayang-Nya, anugerah-Nya, kenikmatan-Nya, karunia-Nya, dan pemeliharaan-Nya. Dalam Al-Qur’an, sebutan Asma Allah yang menunjukkan dimensi jamaliyyah itu lebih banyak daripada sebutan Asma Allah dari sisi jalaliyyah-Nya. Hal ini menunjukka bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Allah itu lebih cepat rida-Nya daripada murka-Nya.

    ReplyDelete
  12. Wajah Allah yang bernama Jalaliyyah dan Jamaliyyah memang sudah melekat pada diri manusia. Seorang yang berma’rifat kepada Allah mengatakan “Barang siapa mengenal akan dirinya maka dia mengenal akan Tuhannya”. Kalau kedua wujud Allah itu bisa diterapkan pada diri manusia maka akan terwujud keseimbangan sifat yang baik, bijaksana dan bertanggung jawab. Tapi sayang sekali jaman sekarang sikap buruk (keiblisan) yang penuh hawa nafsu duniawi yang lebih menguasai diri manusia itu sendiri, sehingga wujud Allah jadi tidak tampak pada dirinya. Tapi wujud Allah itu tidak bisa dilihat secara jahiriah dan dibayangkan oleh pikiran, karena Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya.

    M. Saufi Rahman
    PEP S3 Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  13. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam diri setiap manusia secara Jalaliyyah ia tidak dapat membayangkan dan bagaimana ALLAH itu karena ketika terlintas pemikiran tersebut maka itu adalah sebuah kemusyrikkan. Sedangkan musyrik adalah dosa besar sehingga kita perlu bertuabat dengan taubat yang sebenar-benarnya. dalam Asma'ul Husna kita dapat mengetahui nama-nama ALLAH SWT dimana ke semua itu adalah suatu kebaikkan dan apabila kita menerapkan secara Jamaliyyah nama-nama yang baik itu maka Insya ALLAH kita senantiasa dalam lindunganNYA.

    ReplyDelete
  14. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Jamal (Keindahan) dan Jalal (Keagungan)
    “Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu yang paling indah dari keindahan-Mu, dan seluruh keindahan-Mu adalah indah. Ya Allah, sungguh aku memohon pada-Mu yang paling agung dari keagungan-Mu, dan seluruh keagungan-Mu adalah agung. (Doa Sahr)
    Dalam teks-teks agama istilah jamal dan jalal sering digunakan untuk menjelaskan sifat Tuhan. Pembagian sifat Ilahi menjadi seperti yang dikemukakan dalam kajian teologi. Standar pembagiannya, bahwa setiap sifat yang berhubungan dengan kelembutan tergolong ke dalam sifat jamal, dan setiap sifat yang berhubungan dengan ketegasan termasuk ke dalam sifat jalal. Suatu hal yang jelas sebagai sifat makhluk mumkin dan tersusun dari bagian-bagian, tidak mungkin memiliki dua sifat yang berlawanan dilihat dari aspek mana pun. Apalagi wajib al-wujud yang merupakan eksistensi sederhana secara mutlak, ketika aspke dan sudut pandang yang berbeda-beda adalah mustahil bagi-Nya. Ketika kita menjelaskan sifat wujud wajib dengan sebuah sifat dari satu sisi, Dia pun bisa memiliki sifat-sifat lain yang berlawanan dari sisi yang lain.

    ReplyDelete
  15. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Kebaikan berada di hati. Namun, ketika kita ingin melakukan kebaikan kemudian keburukan akan selalu berdiri di jalan kita. Kita tidak seharusnya terjebak dalam keburukan. Dan jangan pernah mendekat dengan kejahatan karena akan menjerumuskan kita. dalam menghadapi sebuah keburukan yang ada di muka bumi ini, kita hendaknya tidak boleh bersikap lebih buruk lagi dari padanya, melainkan dengan memberinya dengan kebaikan, dalam artian kebaikan ini kita dapat menjelaskan apa-apa yang menjadikannya agar seseorang tersebut menjadi berubah kearah yang lebih baik dengan menjelaskan secara sopan dan santun serta dengan ilmu-ilmu yang telah kita peroleh.

    ReplyDelete
  16. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Doa sesungguhnya merupakan ibadah, kerendahan hati, dan penghambaan. Dengan perantara doa, kita berkomunikasi kepada Allah SWT. Doa sejalan dengan ridha diri kita untuk mengakui keterbatasan, mensyukuri nikmat serta pasrah kepada kehendak Allah SWT.Selama kita melakukan doa kita harus memnita dengan rendah hati, berdoa dengan setulus-tulusnya berharap agar doa kita dikabulkan namun jangan bertindak sombong dan terlalu yakin doa kita akan dikabulkan.

    ReplyDelete
  17. 16701251016
    PEP B S2
    Manusia diciptakan tidak lain adalah diamanahkan menjadi khalaifah, pemakmur alam. Namun banyak yang lalai, banyak yang malah berbuat kerusakan. Manusia mempunyai dua sisi wajah yang diamanahkan oleh Allah, yaitu sisi jalaliyah dan jamaliayah, ini adalah keistimewaan dibandingkan dengan makhlyk lain. Makhluk lain hanya satu sisi wajah saja.
    Senantiasa menjaga amanah adalah sebuah keharusan, berpegang teguh kepada tuntunan al Quran, hingga kahir hidup kelak membawa banyak bekal hiduo, sehingga digolongkan manusia yang layak untuk menghuni surga.

    ReplyDelete
  18. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Mengenal Allah SWT dapat melalui sifat jalaliyah-Nya dan sifat jamaliyah-Nya. Sifat jalaliyah Allah SWT melalui jalal-Nya, Allah SWT menunjukkan keagungan, kebesaran, dan kekuatan-Nya. Melalui perasaan yang selalu diawasi, maka akan muncul sikap kehati-hatian dalam diri manusia untuk bertindak dan bertingkah laku, sehingga akan terhindar dari berbagai perbuatan yang tidak baik. Sedangkan melalui jamal-Nya, Allah SWT menunjukkan keindahan-Nya. Allah SWT memperkenalkan diri-Nya melalui sisi jamaliyah-Nya atau melalui sifat-sifat Allah SWT, seperti maha pengasih, maha penyayang, dan sifat-sifat Allah SWT lainnya, yang akan mendorong kita menuju jalan yang benar.

    ReplyDelete
  19. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    dalam elegi ini dapat kita ambil pelajaran bahwa wujud Allah dari sisi jalaliyah dan jamaliyah sudha dijelaskan dalam al-Quran, cara membayangkan wajah Allah pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, dan banyak hal lain yang dijelaskan dari dialog antara bagawat selatan dan jalaludin rahmat ini.

    ReplyDelete
  20. Nuha Fazussalam
    13301244023
    s1 pendidikna matematik c 2013

    sifat jalaliyah itu adalah obejk abstark nyata yang ideal, bahkan saking idelanya kita tdak boleh membayangkeidealanya, karena itu idela yang di atas ideal, jika dalam matematika bisa membayaknykan delanya titik tetapi idealnya allah tidak bisa dibayakngkan dalam idealnya pikiran, itu adalah bentuk mensucikan pikrian kita dalam memahami sifat jalaliyah Nya, \sifat jamaliyah adalah sifat yang harus kita pahami untuk mencinta allah, mahabbatullah.
    dengan memahami sifat jalaiyah dan sifat jamaliyah bisa embuat pikiran dan tindakaan kita menajdi lebih mawas diri dan menjaga diri dari perbuatan dosa.

    ReplyDelete
  21. Agama mengajak umatnya untuk selalu berfikir. Al-Qur'an, selalu menekankan ayat berfikir dan membaca. Apapun yang ada dan yang mungkin ada hakekatnya adalah berfikir. Namun memikirkan zat Tuhan adalah berbeda. Allah itu transenden, artinya berada diluar bayangan kita. Filsafat membatasi ini, jangan sampai kebablasan dalam memikirkan zat Allah SWT karena tidak akan terjangkau. Hati yang bisa merasa. Jauh atau dekat ada di dalam hati.

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP S3 (A)
    16701261007

    ReplyDelete
  22. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Subhanallah. Saya sangat suka artikel bapak yang menyangkut tentang menambah kecintaan kita terhadap Allah SWT. Sungguh antara jalaliyah dan jamaliyah haruslah seimbang, sehingga ketika kita akan bertindak sesuatu, maka akan selalu ada kontrol dengan mengingat sifat jalaliyah Allah SWT. Kemudian ketika kita habis khilaf, maka baik bagi kita mengingat sifat jamaliyah Allah SWT, sehingga kita bersemangat dan optimis dalam melakukan suatu taubat karena kasih sayang Allah itu lebih besar dibandingkan dengan murka-Nya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  23. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sifat-sifat Allah ada yang tertuang kepada makhluknya, misalnya saja sifat Maha pengasih Allah SWT yang juga dimiliki oleh manusia meskipun hanya sebagian kecil. Sesungguhnya sifat-sifat Allah itu lebih luas ampunannya dibanding dengan murkanya, sehingga marilah kita memperbanyak taubat atas kesalah yang telah kita perbuat, karena pintu taubat Allah SWT lebih luas dari pada pintu murka-Nya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  24. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Dalam hidup kita haruslah senantiasa mengigat Allah SWT. Hal ini karena tanpaNya kita tidak bisa menjadi apa-apa. Kita sebagai MahlukNya adalah harus senantiasa berbuat baik, bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan kepada kita semua. Karena semua pada hari akhir akan diperhitungkan segala perilaku kita di dunia.

    ReplyDelete
  25. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Subhanallah. Membaca elegi ritual ikhlas 32 ini memberikan pengertian bahwasanya Allah tidak hanya dikenal dari sisi jamaliyyahnya saja, namun juga dari sisi jalaliyyah. Hal ini disebutkan dengan syarat bahwa haruslah ada keadilan dalam mengenal dua wajah tersebut.

    ReplyDelete
  26. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Manusia yang membayangkan atau bahkan sekedar memperkirakan wajah Allah dari sisi jalaliyyahdisebutkan termasuk orang-orang yang musyrik. Semoga melalui elegi ini, bagi siapapun yang membaca, dapat menambah keimanan dalam beribadah dengan tidak mencoba-coba untuk membayangkan bentuk dzat Allah. Naudzubillah.

    ReplyDelete
  27. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di bumi, dipilihnya manusia dibandingkan makhluk Allah yang lain karena manusia paling sempurna mempunyai dua wajah Allah yaitu wujud jalaliyyah dan jamaliyyah seperti kemahaperkasaan-Nya dan kasih sayang-Nya. Kita harus selalu menaati perintah Allah, beribadah kepadaNya, dan percaya bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Begitu pula kita sebagai manusia juga harus berbuat adil akan kejahatan yang dilakukan seseorang, karena jika kita selalu mudah memaafkan maka kejahatan akan merajalela, akan tetapi setelah orang tersebut selesai menjalani hukuman dan menyesali perbuatannya kita juga harus mengasihi orang tersebut.

    ReplyDelete
  28. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Pembagian yang populer di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat. Tauhid asma’ wa shifat adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya kita harus menetapkan seluruh nama dan sifat bagi Allah sebgaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dalam menetapkan sifat bagi Allah tidak boleh melakukan ta’thil, tahrif, tamtsil, maupun takyif. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11) (Lihat Al-Qaulul Mufiiid I/7-10). (muslimah.or.id)

    ReplyDelete
  29. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Manusia diciptakan memiliki hati. Dan hati itu memiliki dua sisi. Yaitu sisi baik dan buruk. Karena memang sudah kodratnya seperti itu. Untuk itu ada yang menggunakannya secara bijak ada yang semena-mena. Karena memang sudah kodrat. Namun manusia bisa saja sangat lembut jika telah disentuh hatinya. Hati manusia mudah bolak-balik. Namun Allah Maha Besar dan Maha Penyayang. Asal kita bisa menjaga kebaikan hati, Allah menjanjikan surga di akhirat.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  30. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Allah SWT memiliki wujud Jalaliyyah dan Jamaliyyah. Aspek Jalaliyyah adalah sesuatu yang sangat bernilai luar biasa, sangat tinggi, tak terjangkau dan tak ada bandingannya dengan makhluknya. Di samping itu Allah juga sekaligus indah, dekat, akrab, penuh cinta, dan sifat-sifat kelembutan lainnya yang terangkum dalam aspek Jamaliyyah. Sebagaimana dalam elegi ini disebutkan "Sekiranya kita hanya berpegang pada dimensi jamaliyyah-Nya" Ya.sebagai manusia, usaha kita sebagai hamba adalah hanya sebatas untuk meniru sifat jamaliyah Allah SWT yang merupakan bentuk kesungguhan kita untuk menjadi hamba yang baik. Usaha meniru ini tentunya tidak akan sama dengan sifat asli yang dimiliki Allah SWT, namun yang paling penting adalah semangat untuk meneladani sifatNYa.

    ReplyDelete
  31. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Dalam Al-Quran di jelaskan mengenai dua wajah Allah. Wajah disini bukan berarti fisik, tetapi lebih kepada dzat-dzat dan sifat-sifat Allah. Yang pertama adalah jalaliyyah atau dzat-Nya, yaitu nama Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya, kemahaperkasaan-Nya, keagungan-Nya, kekuatan-Nya untuk memaksa manusia, yang sangat berat siksaan-Nya. Sikap kita terhdapa Allah dari segi dzat-Nya adalah membersihkan Dia dari segala yang kita sifatkan. Stau lagi adalah wajah jamaliyyah Allah atau sifat-sifat Allah, Allah dari segi keindahan-Nya. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sikap kita terhadap sifat Allah adalah meniru dan menyerupai Allah dalam hal sifat-sifat-Nya yang indah, berakhlak mulia, dan mencoba menyerap sifat-sifat Allah ke dalam diri kita. Manusia di bumi adalah sebagai khalifah. Khalifah yang mengemban amanah untuk menjaga bumi. Kenapa manusia yang dijadikan sebagai khalifah? Karena kedua wajah Allah itu hanya bisa bertemu di dalam diri manusia dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah lainnya.

    ReplyDelete
  32. Mengaji sifat jalaliyyah dan jamliyyah Allah sangatlah menarik. Allah dengan semua kesempurnaan yang dimiliki tidak bisa kita bayangkan zatNya karena berbeda dengan kita dan tidak ada yang menyerupaiNya, sementara sifat-sifat Allah sebaiknya kita serap dalam diri kita dan kita aplikasikan dalam hidup kita. Itulah kenapa manusia yang paling mulia dihadapan Allah adalah yang paling bertakwa yaitu yang paling mematuhi perintah dan laranganNya. Cara terbaik dalam mengaji sifat jaliyyah dan jamliyyah Allah adalah dengan menyeimbangkannya yaitu mensyukuri rahmatNya yng Maha Pengasih dan Maha Penyanyang tapi tak lupa juga dengan azabnya yang amat pedih jika kita lalai dan ingkar.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  33. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Dzikrullah, selalu mengingat Allah. Elegi ini mengajarkan kepada kita untuk selalu mengingat Allah di segala kondisi baik ketika susah maupun senang. Allah telah menuliskan 99 nama Asmaul Husna agar manusia dapat mengetahui dan memahami sifat-sifat Allah melalui Asmaul Husna tersebut. Segala macam kejadian yang terjadi dalam hidup kita merupakan kebesaran dari Allah sehingga harus kita syukuri. Semua anugerah ersebut merupakan wujud kekuasaan Allah dan cinta Allah kepada makhlukNya

    ReplyDelete
  34. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Dalam dimensi jalaliyyah, posisi kita terhadap Allah adalah sebagai hamba-Nya. Seperti ketika shalat, kita menyatakan dengan ucapan: “Iyyaka na’budu; Kepada-Mu kami menyembah” (QS Al-Fatihah: 5). Dalam perwujudan jalaliyyah Allah, kita tidak bisa mengenal zat-Nya karena Dia berbeda dengan kita. Oleh karena itu Allah memperkenalkan Diri-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Diantara sifat jamaliyyah Allah adalah kasih sayang-Nya, anugerah-Nya, kenikmatan-Nya, karunia-Nya dan pemeliharaan-Nya.

    ReplyDelete
  35. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Maha Suci Allah yang menciptakan manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lain yang ada di muka bumi ini. Manusia diberikan akal untuk berpikir, itulah ketentuan Allah yang mengamanati manusia sebagai "khalifah" di bumi, bukan hanya sebagai hamba. Khalifah adalah pengganti di muka bumi, yaitu menggantikan mereka yang berbuat kerusakan dan tidak istiqamah. Sebagian ulama berpendapat, sesungguhnya ada kaum sebelum Adam yaitu sekelompok manusia dan makhluk lain yang disebut al-jinn dan al-hinn yang melakukan kerusakan di bumi

    ReplyDelete
  36. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Sungguh indah, luar biasa dan sangat tinggi sifat dan wujud Tuhan dibandingkan manusia yang hanya butiran debu dan sangan kotor. Perbedaan Tuhan dan makhluk tak dipahami sebagai dua realitas yang memiliki batasan dan garis pemisah tapi perbedaan keduanya terletak pada kesempurnaan Tuhan dan kekurangan makhluk, kekuatan-Nya dan kelemahannya. Maka dari itu, perbedan antara keduanya bukan perbedaan yang saling berhadap-hadapan tapi perbedaan yang bersifat "mencakupi" dan "meliputi".Bagaimana manusia dapat melihat Tuhan adalah dengan cara mendekatkan diri dengan Tuhan, merasakan kehadiran Tuhan melalui hatinya. Tuhan hadir lebih dahulu atas waktu, atas segala keberadaan dan atas segala permulaan, konsep ini merupakan salah satu pemikiran yang cermat dan jitu dalam filsafat Ilahi, dan pengertian keazalian Tuhan bukan hanya bermakna bahwa Dia senantiasa berada bahkan keazalian Tuhan diatas ke-senantiasa-an keberadaan tersebut, karena ke-senantiasa-an itu mengharuskan adanya waktu sementara Tuhan, disamping bersama dengan segala realitas waktu, juga mendahului segala sesuatu termasuk waktu itu sendiri. Inilah pengertian yang benar tentang keazalian Tuhan. Tuhan adalah wujud murni dan semata-mata aktual serta tak dibatasi oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  37. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    "Elegi Ritual Ikhlas 32: Mengaji Jalaliyyah dan Jamaliyyah Wujud Allah", Pelajaran dari elegi ini adalah kita dapat mengenal dua wajah Allah yaitu jalaliyyah dan jamaliyyah. Wajah jalaliyyah Allah berhubungan dengan zat Allah, sedangkan jamaliyyah berhubungan dengan sifat-sifat Allah. Kita harus menyeimbangkan pemahaman tentang wujud jalaliyyah dan jamaliyyah Allah dalam kehidupan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  38. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Elegi ini sebenarnya memposisikan diri kita sebagai sang bagawat selatan, kita sendiri terkadang membayangkan bagaimana rupa Allah SWT. Sungguh tidak ada makhluk yang menyerupai bentuk dan sifat-sifat Allah SWT. Bahkan, dari elegi ini, membayangkan wajah Allah pun adalah suatu kesyirikan. Naudzubillaaah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hal ini juga disebut melakukan tanzih yaitu pemurnian dari Penyerupaan itu yang disesuaikan dengan Sifat AsliNya dan/atau DzatNya yaitu sifat Jalaliyyah dan Jamaliyah Allah SWT.

      Yurizka Melia Sari
      16701261003
      PPs PEP A 2016

      Delete
  39. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Kemudian bagaimana kita bisa mengenal Allah tanpa membayangkannya?

    Untuk itulah elegi di atas menjabarkan sifat jalaliyyah dan jamaliyah yang mempelajari sifat dan wujud Allah SWT. Seperti kata pepatah bahwa tak kenal maka tak sayang. Maka untuk bisa dekat dengan Allah dan rindu kepada Allah, maka kita harus mengenal sifat-sifat dan wujud Allah itu sendiri. Jalaliyyah itu sendiri berhubungan dengan zat Allah, sedangkan Jamaliyah adalah sifat-sifat Allah.

    ReplyDelete
  40. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Saya juga tertarik dengan konsep manusia yang dijelaskan begitu apik oleh Ustadz Jalaludin Rahmat dimana manusia merupakan khalifah yang terpilih untuk diberikan amanah, karenna manusia dapat menggabungkan Jalaliyyah dan Jamaliyah Allah SWT. Akan tetapi, bagaimana kalau manusia berat sebelah dalam memahami sifat dan wujud Allah. Seperti yang ustadz uraikan, manusia cenderung hanya mengenal sifat Jamaliyah Allah, Maha pengasih dan penyayang dan sifat baik Allah lainnya, sehingga manusia melakukan perbuatan tercela dan mereka merasa bahwa Allah pasti mengampuni mereka. Dan mereka lupa akan zat Allah yang lain yaitu Jalaliyyah NYA, dimana Allah mempunyai keadilan tertinggi yang ditakuti oleh makhluknya.

    ReplyDelete
  41. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Wujud Allah tidak seperti apa yang ada dalam bayangan kita. Allah berbeda dari semua yang kita bayangkan tentangNya. Oleh karena itu benarlah yang disampaikan oleh Ust. Jalaludin Rahmat dalam elegi ini. Inilah yang disebut dengan sifat 'Mukhalatu lil hawadits' pada dza Allah.

    ReplyDelete
  42. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Wajah Allah bisa dilihat dari dua sisi; Jalaliyah, dan Jamaliyah. Jalaliyah adalah wajah Allah yang berhubungan dengan Dzat Allah. Adapun Jamliyah adalah wajah Allah yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah yang indah. Allah memiliki banyak sifat sesuai dengan Asmaul Husna.Sisi Jamalaiyah adalah sisi yang menunjukan keindahan Allah.

    ReplyDelete
  43. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    " Oleh sebab itu kita harus memahami keadilan ilahi yang terangkum dalam sifat jalaliyyah-Nya. Keadilan Allah itulah yang sangat ditakuti manusia."
    Kutipan di atas menunjukkan bahwa Allah adalah hakim yang paling adil. Kita harus meyakini hal ini. Tidak semua orang yang melakukan kesalahan di dunia mendapatkan hukumannya yang setimpal. Orang yang mendapatkan hukuman di dunia akan terkurangi bebannya dalam menanggung hukuman di akhirat. Sebaliknya orang yang tidak mendapatkan hukuman di dunia akan menanggung dengan sempurna hukuman akhiratnya. Inilah yang dimaksud dengan keadilan ilahi.

    ReplyDelete
  44. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Asmaul husna, atau yang sering di sebut nama-nama Allah yang baik itu terbagi dua, yaitu jalalliyah dan jamalliyah. Nama jalilliyah itu adalah nama Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya, keagungan-Nya, kemahaperkasaan-Nya, ketidakdapat-terbantahan-Nya, dan kekuatan-Nya untuk memaksa manusia, yang sangat berat siksaan-Nya, Al-Mutaqim-Sang Pembalas Dendam. Sehingga jika kita menyadari, dari sifat-sifat sisi jalaliyyah-Nya membuat kita merasa takut kepada-Nya, membuat kita jauh dari-Nya, kita ingin lari dari-Nya. Maka posisi yang benar dalam memahami sisi jalaliyyah Allah adalah kita sebagai hamba-Nya (‘abd). Maka seperti kita salat, kita mengucapkan:”Iyyaka na’budu: Kepada-Mu kami menyembah”. Kita selalu ingat padanya, kita tidak akan bersifat sombong dengan mengetahui sifat jalilliyah Allah itu. Sedangkan sifat jamalliayah Allah, yaitu sifat Allah yang dilihat dari sisi yang menunjukkan keindahan-Nya. Jika jalal berhubungan dengan zat Allah, maka jamal berhibungan dengan sifat-sifat Allah. Diantara sifat-sifat Allah yang jamal adalah:kasih sayang-Nya, anugerah-Nya, kenikmatan-Nya, karunia-Nya, dan pemeliharaan-Nya. Dengan kita mengetahui sifat jamalliyah Allah tersebut, maka kita kita akan slalu bertasbih dan berakhlak baik. jika kita sudah bersifat baik seperti sifat jamalliyah yang dimiliki oleh Allah, maka kita akan sayang kepada Allah, kita akan merasa dekat kepada Allah, dan kita akan memiliki rasa cinta kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar cinta.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id