Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 31: Menggapai Kedamaian



Oleh: Marsigit

Kemenangan yang datang:

Terang teranglah sudah. Puas puaslah sudah. Akhirnyanya kesampaian juga harapanku. Inilah yang selamanya aku cari. Telah aku korbankan segalanya untuk menemukan kedamaian. Damai damailah sudah. Kini saatnyalah aku perlu bereuporia dalam kedamaianku. Dalam damaiku ini aku akan lebih banyak berafirmatif daripada berinterogated. Karena selama berafirmatif itulah aku terbebas dari keraguanku. Aku terbebas dari pertanyaanku. Inilah kepastian yang selama ini aku cari. Maka dalam kedamaianku maka pasti dan pastilah aku. Tiada keraguan lagi bagiku. Maka selesailah perjuanganku. Selesai dan selesai. Maka menanglah diriku. Menang dan menang. Maka merdekalah aku dalam kedamaian dan merdekalah aku dalam kemenangan

Memperdalam makna kemenangan:
Yah kemenangan itu begitu indahnya bagiku. Aku akan selalu menyanyikan kemenanganku itu dalam lagu dan syair kalimat afirmatif. Karena dengan kalimat afirmatif maka aku bisa selalu dalam kemenangan dan kepastian. Maka kujaga dan kupegang erat-eratlah kalimat afirmatif. Dan saya tidak mau lagi direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Inilah ilmuku. Inilah kepastianku. Inilah kemenanganku. Dalam kemenangan ini aku merasa seperti dalam ruangan yang serba indah dan serba ada. Tiadalah kekurangan dalam diriku. Maka hanyalah tinggallah satu yang perlu aku gapai, yaitu ketika aku harus mengahadap kepada sang Kholik. Tetapi kapan ya itu?

Begitu mendengan kalimat terakhir sebagai pertanyaan, maka muncullah orang tua berambut putih:
Salam, wahai hamba Tuhan. Terimakasih engkau telah memanggilku kembali. Apa khabar? Baik-baik saja bukan? Aku telah lama tidak berjumpa denganmu. Kemana sajakah engkau? Kelihatannya wajahmu berbinar-binar. Sepertinya hatimu juga bergembira. Kelihatannya engkau baru saja meraih sesuatu atau mencapai suatu hasil yang besar bahkan mungkin sangat besar.

Hamba menggapai kedamaian:

Salam, kembali wahai orang tua berambut putih. Benar apa yang engkau katakan. Ketahuilah bahwa aku sedang menikmati kemenanganku sendiri, maka janganlah kau usik diriku dengan titah-titahmu lagi. Semuanya yang engkau katakan, semuanya yang engkau pikirkan bahkan semuanya yang akan engkau ucapkan, terkira-kira aku telah mengetahuinya. Aku telah mengetahui prinsip dan pokoknya. Aku telah mengetahui arah dan tujuannya. Jadi biarlah aku menikmati kepastian dan kemenanganku ini sendirian tanpa engkau usik kembali. Maka sebenar-benar aku sekarang adalah aku yang tidak lagi memerlukanmu. Inilah yang selama ini aku perjuangkan. Inilah yang selama ini berusaha raih dengan segenap pengorbananku. Maka sekali lagi, aku dapat katakan bahwa diriku sekarang adalah sebenar-benar diriku yang tidak memerlukan dirimu lagi. Bahkan ketika engkau mengaku sebagai pertanyaanku dan ketika engka mengaku sebagai ilmuku sekalipun, maka sebenar-benar bahwa aku tidak lagi memerlukan dirimu lagi. Kenapa engkau hanya diam seribu bahasa. Bukankah engkau tadi juga sempat pergi, tetapi mengapa sekarang engkau menghampiriku lagi, wahai orang tua?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai, biarkan aku terdiam sejenak. Aku memerlukan waktu sejenak untuk meneteskan air mataku. Maka tidak pula hanyalah engkau yang menginginkan diam dan tenang. Akupun demikian. Maka sebenar-benar diriki sekarang adalah diriku yang tidak ingin engkau usik. Yaitu ketika aku diam. tetapi ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa diamku tidak lah sama dengan diammu. Jikalau diammu engkau rasakan sebagai euporia kemenangan. Maka diamku adalah euporia kesedihan. Aku terdiam karena tidak bisa melantunkan kata-kataku. Aku terdiam karena memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis. Tetapi mengapa ketika ketika aku terdiam dan menangis, engkau pergi dari hadapanku?

Hamba menggapai kedamaian menhampiri orang tua berambut putih:

Wahai orang tua berambut putih. Aku baru mengalami kejadian yang luar biasa yang menimpa diriku. Ketika engkau bertanya kenapa aku pergi, maka datanglah energi yang luar biasa dasyatnya sehingga melemparkan diriku ke tampat yang jauh. Ternyata tempat yang sangat jauh itu tidak lain tidak bukan adalah tempat di depanmu ini. Itulah mengapa serta merta aku menghampirimu, ketika engkau membuat pertanyaan. Tetapi aku tidak mengetahui dari manakah energi sebesar itu?

Orang tua berambut putih terperanjat mendengar penuturan hamba menggapai damai:

Oh hamba menggapai damai. Bukankah keadaanmu sekarang adalah bertentangan dengan apa yang engkau katakan dan engkau cita-citakan. Bukankah engkau merasa telah menemukan kedamaianmu? Engkau telah menemukan kepastianmu. Maka engkau ingin hidup menyendiri. Dan engkau tidak lagi memerlukan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan dengan sombongnya engkau tidak lagi menginginkan ilmu. Tetapi kenapa engkau masih melantunkan pertanyaan-pertanyaanmu? Bukankah engkau masih ingat bahwa pertanyaanmu itu adalah ilmumu. Ilmumu tidak lain-tidak bukan adalah diriku. Mengapa di satu sisi engkau menampikku sekaligus merindukanku? Bukanlah itu kontradiksi dalam pikiranmu?

Hamba menggapai damai:

Wahai orang tua berambut putih. Kenapa pertanyaanmu yang terakhir juga telah menyebabkan aku terlempar di depanmu? Perkenankanlah aku juga menginginka diam sejenak untuk sekedar meneteskan air mataku. Yang sekarang ini diamku agak berbeda dengan waktu yang lalu. Aku sedih karena aku juga melihat bahwa dalam dirimu terdapat kontradiksi. Bukankah engkau pernah mengatakan bahwa kontradiksi adalah sebenar-benar ilmu dalam pikiranku. Kenapa engkau menyesali kontradiksi itu?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai. Ingin aku katakan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku baru saja mengalami peristiwa seperti apa yang engkau alami. Begitu engkau melantunkan pertanyaanmu, maka datanglah energi yang besar sehingga melemparku ke hadapanmu.

Hamba menggapai batas dan orang tua berambut putih terhentak oleh kesadarannya sendiri, dan bersama-sama melantunkan kata-kata:
Jikalau engkau adalah ilmuku, maka aku ternyata adalah juga ilmumu. Maka aku telah menemukan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku dan engkau tidak dalam keadaan diam. Aku menjumpai bahwa aku dan engkau saling datang dan pergi. Aku dan engkau saling bertanya dan menjawab. Aku dan engkau saling memerlukan dan berjuang. Aku dan engkau belum berhenti. Aku dan engkau belum memperoleh kepastian. Aku dan engkau masih diliputi keraguan. Maka belumlah selesai perjuangan hidupku ini. Maka belumlah ada sebenar-benar kemenangan itu. Tetapi mengapa kita terburu-buru merayakannya?

Hamba yang lain datang menghapiri:
Wahai hamba menggapai batas. Bolehlah engkau menyebut diriku sebagai hamba ataupun sebagai orang tua berambut putih. Itu sama saja buatku. Tetapi aku juga terpaksa datang oleh karena pertanyaanmu yang terakhir. Aku ingin menyampaikan bahwa sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya. Maka “keadaan jelas” bagimu adalah sebenar-benar ancaman bagimu. Barang siapa telah merasa jelas akan sesuatu maka seketika “ruang gelap” telah menantimu. Mengapa? Karena bisa saja jelasmu itu adalah jelasnya sekedar ruanganmu, bukankah engkau juga menginginkan jelas pula untuk ruangan di sebelahmu. Bagaimana mungkin engkau memperoleh jelas akan ruang di sebelahmu jikalau engkau terperosok dalam-dalam pada suatu ruang saja. Bukankah “diam” mu itu menunjukkan bahwa engkau sedang menikmati “keterperosokkanmu” di dalam “ruang gelapmu”. Itulah sebenar-benar bahaya di muka bumi ini, yaitu jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga yang demikian telah menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Bukankah itu adalah kesombongan luar biasa bagi seseorang yang telah merasa bisa sehingga merasa toidak perlu lagi mencari pengetahuan yang lainnya. Maka sebenar-benar bahaya adalah ruang-ruang gelap yang setiap saat siap menerkammu sehingga engkau puas dalam kedamaian kepastianmu. Ketahuilah bahwa tiadalah sesuatu yang pasti di dunia ini. Kepastian itu hanyalah milik Allah SWT. Maka jikalau seseorang telah menolak ilmu-ilmunya, maka sulitlah bahwa dia masih dapat dikatakan sebagai sebenar-benar hidup di dunia ini. Ingatlah bahwa sebenar-benar hidup adalah ilmu. Bahkan ketika matipun kita masih memerlukan ilmu. Bukankah kita memerlukan ilmu bagaimana kita bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah. Amien Ya robbal alamin.

44 comments:

  1. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Afirmasi adalah sebuah penguatan yang berupa serangkaian kata positif yang dilakukan secara berulang dengan harapan dapat memprogram pikiran untuk membuang kepercayaan yang keliru sehingga dapat mendatangkan keajaiban.. Berpikir afirmasi tentang kedamaian bukan merupakan sesuatu yang salah tapi jangan sampai terjebak dalam mitos karena keadaan yang terasa sangat jelas sesungguhnya adalah sebuah ancaman. Karena ketika kita merasa jelas akan sesuatu, maka seketika itu kita akan terjerumus dalam ruang yang gelap. Dan bahaya yang sebenarnya adalah ketika kita merasa puas dalam kepastian kedamaian itu dan akhirnya membuat kita terperosok jatuh dan tersesat dalam ruang-ruang gelap. Sebab ketahuilah dalam dunia ini penuh dengan ketidakpastian, karena kepastian itu hanyalah milik Tuhan YME

    ReplyDelete
  2. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Ketika kita merasa puas atau menang terhadap sesuatu, sesungguhnya kita telah terjerumus ke dalam kegelapan dan kesombongan. Kesombongan karena kita tidak mau lagi berusaha/berikhtiar padahal apa yang kita punyai belum ada apa-apa. Sesungguhnya ketika manusia sudah merasa ilmunya telah banyak, berarti dia telah berada dalam kesombongan. Janganlah menjadi orang yang sombong karena merasa berilmu, ilmu tiada batasnya, dan tuntutlah ilmu setinggi langit. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di antara makhluk lain, manusia haruslah mencari ilmu sebagai tuntunannya dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Belajar itu sepanjang hayat. Ilmu itu tak terbatas dan tak pernah habis untuk dipelajari, oleh karena itu manusia harus menuntut ilmu seumur hidupnya tanpa berhenti, sejak lahir hingga mati.

    ReplyDelete
  3. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Kedamaian didapatkan oleh seseorang bergantung pada dirinya sendiri. Kedamaian itu diciptakan oleh diri sendiri. Kita yang membuat segala sesuatunya menjadi damai. Karena damai adalah apa yang ada didalam diri kita. Bukan apa yang orang lain lihat. Damai membuat kehidupan ini harmonis. Bersama kedamaian sisi positif dalam kehidupan akan terus bermunculan dan menenggelamkan sang negatif. Negatif yang membuat disharmonis dan merusak segi kehidupan. Damai didapatkan dari keseimbangan. Keseimbangan antara material, formal, normatif dan spiritual. Yang kesemuanya bertujuan untuk menggapai ridho Allah sebagai kedamaian yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  4. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Ada saatnya setelah kita berusaha sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya untuk menggapai cita-cita, kita harus berserah dan berikhtiar. berdamai dengan diri sendiri dan dunia disekitar kita. untuk bersiap menjemput kedamaian yang abadi diakhirat nanti, tapi jika kita masih mampu, jangan pernah merasa puas dengan apa yang kita dapat.

    ReplyDelete
  5. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Dalam elegi mengingatkan kita untuk tidak mudah puas dengan ilmu pengetahuan yang kita dapatkan. Karena ilmu itu luas, semilyar pangkat semilyar saja belum tentu bisa menjabarkan semua sifat ilmu yang ada. Maka terusalah belajar dan mencari ilmu. Karena sampai akhir hayat pun seharusnya kita tetap mencari ilmu agar dapat mati dengan khusnul kotimah. Karena sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya. Jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Semoga kita menjadi hamba yang tidak sombong dan selalu mencari ilmu karena sejatinya kita hanya berusaha untuk memahaminya bukan benar-benar memahaminya.

    ReplyDelete
  6. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Dalam elegi mengingatkan kita untuk tidak mudah puas dengan ilmu pengetahuan yang kita dapatkan. Karena ilmu itu luas, semilyar pangkat semilyar saja belum tentu bisa menjabarkan semua sifat ilmu yang ada. Maka terusalah belajar dan mencari ilmu. Karena sampai akhir hayat pun seharusnya kita tetap mencari ilmu agar dapat mati dengan khusnul kotimah. Karena sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya. Jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Semoga kita menjadi hamba yang tidak sombong dan selalu mencari ilmu karena sejatinya kita hanya berusaha untuk memahaminya bukan benar-benar memahaminya.

    ReplyDelete
  7. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Cara orang menemukan kedamaian berbeda-beda, ada yang merasa damai karena telah berkumpul dengan keluarga, ada yang merasa damai karena telah menyelesaikan kewajibannya dalam pekerjaan, ada yang merasa damai jika hidupnya sudah mapan, dan lain sebagainya. Maka kedamaian itu bersifat relatif. Namun kedamaian yang hakiki hanya akan benar-benar dirasakan jika kita mengingat Allah, dengan selalu menyebut namaNya dalam setiap keadaan, sehingga kedamaian akan selalu menyelimuti kita

    ReplyDelete
  8. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Tidak ada seorangpun yang dapat benar-benar menggapai ilmu, yang ada hanyalah berusaha untuk menggapainya. Maka, tidak panas manusia untuk merasa cukup atau bahkan telah merasa menguasai suatu ilmu sehingga beranggapan bahwa tidak perlu lagi mencari ilmu. Hal yang demikian itu merupakan kesombongan yang dibenci oleh Allah SWT. Selama masih hidup, manusia harus selalu mencari ilmu bahkan terkadang manusia tidak menyadari hal itu. Dengan terus menerus belajar, ilmu yang dimiliki akan terus berkembang dan akan semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Cinta Adi Kusumadewi
    13301241056
    Pendidikan Matematika I 2013

    Tak sepantasnya manusia merasa sombong atas rasanya yang tak perlu lagi mencari ilmu. Ilmu yang dimiliki manusia tak sebanding dengan luasnya lautan di dunia, atau hanya seper sekian dari ilmu Allah. Ilmu Allah SWT yang digambarkan dengan samudra lautan sebagai mintanya saja tidak cukup, belum mencakup semua ilmuNya. Maka sangatlah tidak pantas bagi manusia untuk sombong. Jika manusia yang hidup di dunia menginginkan kebahagiaan diniawi,maka haruslah ia berilmu. Terlebih manusia yang ia menghendaki kebahagiaan di masa mendatang sebagai bekal amal pun juga harus dengan ilmu. Jadi, selama manusia masih hidup di dunia, wajiblah baginya untuk mencari ilmu, karena disamping suatu kewajiban pun Allah memberikan balasan derajat yang tinggi baginya.

    ReplyDelete
  10. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP/B

    There are two importannt points i get from this elegi, the first one is to try to find the answers to the questinable situations instead of asking questions to thers, this does not mean that asking questions to the friends is bad but it is teaching us that in any situation, we have to find the way out of any complications, that is why in the elegi it is stated AFFIRMATIVE SENTENCE. The second point is talking about our knowledge where it is said that our looking for knowledge does not have any limit, but lack of clearness, when some one says that he already have full knowledge, that is extraordinary arrogance.

    ReplyDelete
  11. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Yang membahayakan ketika kita hidup di dunia adalah kesombongan akan kejelasan terhadap sesuatu sehingga tidak berusaha lagi untuk mencari ilmu pengetahuan yang lainnya. Maka hindarilah hal demikian. Tidak ada sebenar-benar damai bila hanya bertumpu pada ilmu yang itu-itu saja. Berusahalah berdamai dengan diri agar lebih rendah hati terhadap ilmu yang dimiliki dan terus menerus memperkayanya.

    ReplyDelete
  12. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Kadangkala kita merasa bahwa kemenangan adalah sesuatu yang harus kita raih, kadang kala pula kemengangan mampu menjadi alasan bagi kedamaian diri kiata. Namun ketika kita berpikir bahwa kemenangan adalah akhir, maka hidup kita akan jadi “menyendiri”. Menyendiri yang dimaksud adalah kita hidup tanpa tujuan lagi karena merasa tujuan kita telah tercapai. Maka, kita harus hati-hati bahwasanya kadangkala justru merasa “menang” malah membuat kita lengah hingga bersombong diri.
    Tiada yang pasti di dunia ini kecuali Allah menghendaki. Maka, satu-satunya yang pasti hanyalah kematian, tujuan akhir setiap makhluk. Bersiaplah untuk kematian yang damai.

    ReplyDelete
  13. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    sebagai seseorang yang ingin terus menggapai ilmu maka kita tidak patut senang terlampau cepat dengan apa yang telah kita gapai saat ini, karena ketika kita senanng dan merayakannya maka kita akan berada dalam zona nyaman kita sehingga kita bisa saja melupakan segala hal yang ingin kita cari. untuk itu keluar lah dari zona nyaman itu sehingga kita kembali bertanya, karena seperti yang dikemukakan bahwa ketika kita bertanya maka itu adalah ilmu kita, dan dalam menggapai ilmu tiada batas yang menghampirinya.

    ReplyDelete
  14. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Saya akan berkomentar menggapai kedamaian dari sudut pandang Salam.
    Di dalam Misbah asy-Syariah, makna salam di akhir salat adalah aman. Artinya, barangsiapa melaksanakan perintah Allah dan sunnah Nabi-Nya dengan menghadapkan hati yang khusyuk, ia akan memperoleh aman dari bencana dunia dan bebas dari siksa akhirat.
    Kata para ulama, “A-Salam” adalah salah satu nama Allah Ta’ala yang dititipkan kepada makhluk-Nya agar menggunakan maknanya dalam berbagai muamalah, amanat, hubungan, dan menegaskan persahabatan di antara mereka serta mengesahkan pergaulan mereka. Secara ritual dan sosial, Tuhan menyertai dan meliputi kita. Salam adalah mencari selamat dan aman dari perjalanan ritual dan sosial tadi.
    Sebaliknya, ada pun bagi kita, aman barangkali hanya pengucapan lisan, tanpa hati yang tunduk, dan tanpa perbuatan ikhlas. Sehingga, seakan-akan kita berpikir bahwa aman yang kita maksud adalah aman dari marabahaya, kepemilikan dan kepentingan yang tidak ada gangguannya. Biasanya kita menghubungkan rasa aman itu dengan pribadi, ambisi dan materi.
    Sementara bagi para wali-Nya, yang disebut aman adalah tiada keterhijaban dari Keindahan Sang Kekasih dengan hijab-hijab kemajemukan. Keterhijaban ini merupakan siksaan tertinggi bagi para pencinta-Nya, sebagaimana dalam munajatnya, Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Ilahi, anugerahilah aku. Aku dapat bersabar atas siksa-Mu, tapi bagaimana aku bisa bersabar mengalami keterpisahan dari-Mu.”
    Tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan bagi pencinta-Nya daripada keterpisahan dari-Nya. Jadi, salam bagi para wali-Nya adalah permintaan aman dari bencana hijab-hijab kegelapan dunia dan hijab-hijab cahaya di akhirat.
    Rumi berkata, “Intelek bertanya: Apa yang lebih menyakitkan daripada kematian?
    Cinta menjawab: Pemisahan dari Kekasih lebih menyakitkan dari apa pun.”

    ReplyDelete
  15. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Berpikir afirmasi tentang kedamaian bukan merupakan sesuatu yang salah tapi jangan sampai terjebak dalam mitos karena keadaan yang terasa sangat jelas sesungguhnya adalah sebuah ancaman. Karena ketika kita merasa jelas akan sesuatu, maka seketika itu kita akan terjerumus dalam ruang yang gelap.Yang membahayakan ketika kita hidup di dunia adalah kesombongan akan kejelasan terhadap sesuatu sehingga tidak berusaha lagi untuk mencari ilmu pengetahuan yang lainnya.

    ReplyDelete
  16. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Jika manusia yang hidup di dunia menginginkan kebahagiaan diniawi,maka haruslah ia berilmu. Terlebih manusia yang ia menghendaki kebahagiaan di masa mendatang sebagai bekal amal pun juga harus dengan ilmu. Jadi, selama manusia masih hidup di dunia, wajiblah baginya untuk mencari ilmu, karena disamping suatu kewajiban pun Allah memberikan balasan derajat yang tinggi baginya.

    ReplyDelete
  17. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Setiap orang pasti menginginkan suatu kedamaian, entah dalam hati ataupun pikiran. Orang yang hidupnya damai, maka keteraturan dalam hidupnya akan terjalin. Melalui belajar kita dapat memperoleh ilmu yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita. Jadi jangan lah cepat puas dengan ilmu yang kita miliki. Ketika seseorang merasa dirinya paling tahu, merasa superior disitulah bibit pembodohan diri mulai aktif dan menghalangi ilmu yang datang.

    ReplyDelete
  18. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    pada kutipan:
    Itulah sebenar-benar bahaya di muka bumi ini, yaitu jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga yang demikian telah menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Bukankah itu adalah kesombongan luar biasa bagi seseorang yang telah merasa bisa sehingga merasa toidak perlu lagi mencari pengetahuan yang lainnya.
    berarti kita tidak boleh merasa cukup dan puas dengan ilmu yang telah kita miliki. sangatb bahaya ketika kita berikhtiar mencari ilmu karena itu termasuk kesombongan yang luar biasa.

    ReplyDelete
  19. Nuha FAzlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    elegi diatas memberikan pesan epaa saya peribadi bahwa saya haru skeluar dari dunia damaiku, harus keluar dari duanu=ia nyamanku, bahwa apa yang sudah saya capai, pa yang sudah saya daptkan, apa yang sudah saya meiliki itu hany mitos, untuk menajdai nyata adalah terus lah bererak teruslah ciptakan kedaaian dam kemudian kulair untuk mencpaai kedamaian yang laian, kedamain di ruangan yang lain, kedaiana di waktu yang lain. dst dst nya..

    ReplyDelete
  20. Dalam kehidupan yang kita jalani di dunia yang fana ini, kata "puas" adalah kata yang patut diperbincangkan. Karena sebab dari kata itu dapat merealisasikan seseorang kepada hal positif bahkan negatif. Contoh positif, Jika tak ada kata "puas" maka aktifitas muamalah (seperti kegiatan jual beli) di dunia ini menjadi selalu ada yang merasa dirugikan. sedangkan contoh negatif dari kata puas yaitu ketika kita berilmu, memandang orang lain berilmu merasakan rasa yang sangat berbahaya dari "puas". Yaitu rasa ingin ilmunya tidak boleh ada yang menandingi bahkan lebih daripadanya, yang sering kita sebut dengan kata sombong. Ketika seseorang sudah ditbuhi sifat sombong maka tumbuhlah kejelekan didalam dirinya. Maka ingatlah, diatas langit masih ada langit. Diatas orang berilmu masih ada Yang Maha Memiliki Ilmu. Diatas Cahaya ada cahaya. Maka kejar dan tuntutlah ilmu dengan tidak mengenal kata "Puas". Dan gunakanlah ilmu dengan kontrol yang baik, tak meremehkan makhluk Allah yang lain. Menggunakan ilmu kita untuk mencapai kedamaian. Bahkan dengan ilmu untuk mencapai surga-Nya kelak.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  21. Beberapa waktu lalu, ada artikel menarik di Harian Kompas tentang tema Teater Koma yang dipentaskan di Jakarta. Judul artikel tersebut adalah, Hidup Ini Tidak Pernah Baik-Baik Saja. Mungkin saja ini sudah masuk ranah Filsafat. Karena bila ditelisik lebih dalam, sama maknanya dengan Sebenar-benar hidup adalah Kontradiksi.
    Kedamaian abadi hanya milik Tuhan. Kedamaian yang kita rasakan adalah relatif dan semu. Pada hakekatnya, dalam hidup akan selalu muncul persoalan hingga akhir jaman.
    Sebuah pelajaran berharga dari Filsafat adalah tidak menjadikan diri kita sebagai Mitos..berjalan..berjalan dan berjalan. Berfikir..berfikir dan berfikir.

    Nur Tjahjono Suharto
    S3 PEP (A)
    16701261007

    ReplyDelete
  22. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu harta yang dibawa saat kita mati. Janganlah merasa puas dengan ilmu yang kita miliki saat ini, karena masih banyak ilmu-ilmu lainnya, karena kehidupan ini merupakan ladang ilmu.

    ReplyDelete
  23. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Seorang yang merasa bahwa dirinya berkecukupan ilmu, maka dia akan merasa bahwa dia tidak perlu belajar lagi, artinya dalam hal ini orang tersebut sudah cukup puas akan ilmu yang telah ia dapatkan sehingga membuatnya berada dalam kondisi stagnan. Dalam kondisi yang stagnan tersebut ia telah merasa mendapatkan kemenangan. Padahal hidup ini haruslah selalu disi dengan pengatahuan. Utamanya pengetahuan bagaimana agar kita bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah. Maka hal-hal apa sajakah yang harus kita lakukan sehingga kita bisa menggapai hal itu. Tentunya kita masih tetap membutuhkan ilmu.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  24. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Menuntut ilmu merupakan kewajiban dalam agama islam. Oleh karena itu perintah pertama Tuhan kepada umat manusia adalah menuntut ilmu. Kenapa menuntut ilmu. Karena ilmu dapat menjaga kita, orang yang berilmu akan dinaikkan derajatnya satu derajat lebih tinggi dari pada orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu marilah kita menuntut ilmu dengan ikhlas. Karena menuntut ilmu meruapakan suatu kewajiban.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  25. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Elegi di atas memberikan kita gambaran bahwasanya belajar adalah dengan tak hingga waktu dan tempat. Tidak ada satupun manusia yang seharusnya merasa puas dengan ilmu yang sudah mereka dapatkan karena Allah-lah yang Maha Segalanya.

    ReplyDelete
  26. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Sesuatu yang kita, manusia, lihat pasti ada ilmunya, yang kita dengar, rasakan, itupun pasti ada ilmunya. Manusia adalah makhluk terbatas, jadi janganlah sombong karena ilmu kita. teruslah menuntut ilmu baik dimana dan kapan, bahkan dengan siapa.

    ReplyDelete
  27. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Ilmu yang terbaik adalah ilmu yang turun dari Allah SWT. Jangan lupa, selalu hadirkan Allah dalam setiap kegiatan belajar kita sehingga apa yang kita pelajari dapat benar bermanfaat bagi kita dan orang lain. Aamiin.

    ReplyDelete
  28. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Dalam hidup ketika kita bis amendapatkan apa yang kita inginkan, kita tidak boleh sombong dengan apa yang sudah bisa kita capai. Lebih banyak orang di luar sanayang pepencapaiannya melebihi dari diri kita. Oleh karena itu kita harus senantiasa rendah diri dan tidak perlu menyombongkan apa yang sudah kita dapatkan. Belajar itu tidak ada batasan waktunya. Ilmu selalu bertambah setiap saat, kita harus senantiasa mau berusaha dan berkembang sesuai dengan ilmu.

    ReplyDelete
  29. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Tiada batas usia dalam belajar, tuntutlah ilmu hingga ke liang lahat. Kita tidak boleh merasa sudah cukup memiliki ilmu pengetahuan lalu berhenti tidak belajar lagi, apalagi jika kita tidak mempelajari suatu ilmu secara menyeluruh, misalkan saja dalam mempelajari filsafat ilmu hanya setengah-setengah tidak secara komprehensif ini akan berbahaya.

    ReplyDelete
  30. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Damai merupakan suatu hal yang sangat berharga namun tidak bisa diperjual-belikan. Berbagai macam cara dilakukan manusia untuk mencapai kedamaian. Namun banyak diantara mereka tidak menemukan kedamaian tersebut bahkan putus asa dan tidak sedikit dari mereka yang mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri. Padahal dalam islam telah memberikan solusinya sebagaimana dalam Al-Quran Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

    ReplyDelete
  31. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Kesemua yang kita lakukan di dalam hidup ini adalah berkesinambungan dan bertujuan. Tujuan yang mengalahkan segala dimensi kehidupan dunia adalah saat-saat di mana kita kembali pada-Nya. Yang harus dalam keadaan baik karena ingin menemui Sang Pencipta. Hidup harus ada tujuan jika kita ingin selangkah ke depan. Jika tidak, kita akan terkurung di dalam ruang hampa.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  32. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Kedamaian yang dimaksud dari elegi di atas adalah kepuasan akan sesuatu dan tidak membutuhkan sesuatu yang lain. Jikalau kita berhenti karena kepuasan maka sebenar-benar hal tersebut bukanlah kepuasan melainkan kesombongan merasa mengetahui segala nya. Kodrat seorang manusia bahwa manusia itu tidak akan pernah puas di dalam hidupnya. Oleh karena itu, teruslah mencari, jangan pernah merasa puas untuk hal kebaikan termasuk ilmu.

    ReplyDelete
  33. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Menggapai ilmu memang tiada batasnya, sebagaimana ada anjuran belajarlah hingga akhir hayat. Karena ilmu diibarat laksana cahaya yang menerangi kita dalam kehidupan dan meningkatkan kualitas hidup kita. Sangat banyak keutamaan untuk menuntut ilmu salah satunya jika kita ingin menggapai kebahagiaan/kedamaian dunia akhirat. Sebagaimana dalam hadist: ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

    ReplyDelete
  34. Jahidatu Lis Silmu I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan elegi di atas dapat disimpulkan bahwa menggapai ilmu itu tidak ada batasnya dan tidak ada akhirnya. Mulai dari kita lahir hingga kita mati memerlukan ilmu. Dalam melakukan segala hal kita memerlukan ilmu. Sebenar-benarnya hidup adalah ilmu, maka ilmu itu harus selau dicari selama masih hidup. Ilmu yang kita dapatkan bisa menuntun kita untuk meraih kedamaian hidup di dunia dan juga di akhirat.

    ReplyDelete
  35. Seorang hamba bisa menggapai kedamaian dengan berbagai cara diantaranya kemenangan. Banyak cara yang dilakukan untuk merayakan kemenangan tersebut seperti dengan euporia atau diam, namun sayang diamnya bukan diam yang bersyukur melainkan diam yang sombong, merasa telah berhasil sehingga tidak perlu belajar lagi dan merasa dirinya telah mendapatkan segalanya. Padahal sejatinya menggapai ilmu itu tiada berbatas, karena tidak ada kepastian dan kejelasan yang hakiki sehingga yang demikian itu telah menghilangkan ikhtiar kita untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Itu adalah kesombongan luar biasa bagi seseorang yang telah merasa bisa sehingga merasa tidak perlu lagi mencari pengetahuan yang lainnya. Maka sebenar-benar bahaya adalah ruang-ruang gelap yang setiap saat siap menerkammu sehingga engkau puas dalam kedamaian kepastianmu. Ketahuilah bahwa tiadalah sesuatu yang pasti di dunia ini. Kepastian itu hanyalah milik Allah SWT. Kedamaian sejati adalah kedamaian yang tunduk akan perintah dan larangan Allah SWT.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  36. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Hamba penggapai kedamaian adalah seseorang yang mudah puas dengan apa yang dicapainya. Padahal apa yang dicapainya belum seberapa jika dibandingkan dengan pengetahuan yang ada di muka bumi ini. Semakin banyak yang kita tahu, hendaknya kita semakin rendah hati dan bersyukur atas segaa karunia dan anugerah dari Tuhan yang telah diberikan kepada kita, bukan justru dijadikan ajang kesombongan di masa hidup di dunia.

    ReplyDelete
  37. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Menuntut ilmu itu tidak akhir dan batasnya, jangan merasa sudah cukup dengan ilmu, sebagai mahasiswa kita harus selalu haus akan ilmu, karena satu ilmu dikembangkan bisa menjadi banyak ilmu, akan ada banyak temuan, inovasi dan perkembangan di berbagai bidang jika kita bisa mengamalkan ilmu yang kita punya.
    Orang yang paling terancam di dunia ini adalah orang sudah merasa jelas dengan ilmu, ia telah masuk ke "ruang gelap" tidak ada cahaya karena kesombongannya. Padahal jika kita mencari dan mencarinya lagi, maka kita akan sadar betapa bodohnya dan betapa banyak hal yang tidak diketahui.

    ReplyDelete
  38. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Sulitnya menggapai damai dalam hidup. Karena terkadang manusia mengalami kontradiksi dalam pikir dan hatinya yang menjadikam sulit menggapai damai. Pada dasarnya manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang ia capai sehingga keadaan ini memumculkan kegundahan hati dan pikiran manusia. Sebenarnya benarnya menggapai damai dimulai dari rasa syukur. Namun kedamaian sendiri yang terlalu berlebihan membuat manusia terlena dengan apa yang terjadi dalam kehidupannya. Terkadang kegundahan diperlukan untuk membangun rasa semangat manusia dalam mencari kedamaiannya.

    ReplyDelete
  39. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    "Elegi Ritual Ikhlas 31: Menggapai Kedamaian", Dalam menuntut ilmu kita tidak mengenal batasan atau tidak ada batas dalam menuntut ilmu.Kita jangan merasa puas terhadap ilmu yang telah diperoleh, karena rasa puas dalam menuntut ilmu dapat menghilangkan ikhtiar dan menimbulkan sifat sombong bagi kita.Ingat suatu pepatah tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat, bahwa kita dari lahir sudah dituntut untuk menuntut ilmu sampai meninggal dunia. Terima kasih.

    ReplyDelete
  40. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Ilmu, telah menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa. Islam merupakan agama yang punya perhatian besar kepada ilmu pengetahuan. Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu. Nabi Muhammad Saw menganjurkan kita untuk menuntut ilmu sampai ke liang lahat. Tidak ada Nabi lain yang begitu besar perhatian dan penekanannya pada kewajiban menuntut ilmu sedetail nabi Muhammad Saw. Ilmu itu tetap akan kekal sekalipun pemiliknya telah mati, berbeda dengan harta. Karena harta yang jadi rebutan manusia itu pasti akan sirna.

    ReplyDelete
  41. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Ilmu merupakan jalan menuju Surga, tiada jalan pintas menuju Surga kecuali ilmu. Sabda Rasulullah:

    مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

    Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim).

    Ilmu merupakan pertanda kebaikan seorang hamba. Tidaklah akan menjadi baik melainkan orang yang berilmu, sekalipun bukan jaminan mutlak orang yang (mengaku) berilmu mesti baik. Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba Allah. Orang ‘alim (berilmu) adalah cahaya bagi manusia lainnya. Dengan dirinyalah manusia dapat tertunjuki jalan hidupnya.

    ReplyDelete
  42. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Allah akan mengangkat derajat Ahli Ilmu (orang alim) di dunia dan akhirat. Di dunia Allah angkat derajatnya di tengah-tengah umat manusia sesuai dengan tingkat amal yang dia tegakkan. Dan di akhirat akan Allah angkat derajat mereka di Surga sesuai dengan derajat ilmu yang telah diamalkan dan diajarkannya.

    ReplyDelete
  43. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Hidup damai adalah harapan semua orang. Untuk menggapai damai, adalah dengan memilik iman dani ilmu. Jangan sampai kita cepat puas dengan iman ilmu yang kita miliki. Karena iman dan ilmu itu tidak terbatas adanya. Menuntut ilmu itu tidaklah cukup sebatas tamat smp, sma, s1, s2, s3, namun menuntut ilmu itu diwajibkan kepada semua orang sampai detik nafas terakhir. Berusaha dan berusa yang harus dilakukan dalam menggapai ilmu. Dan sebenar-benarnya kedamaian adalah bagaimana kita menuntut ilmu sampai meninggalkan dunia yang fana ini dan ilmu yang sebenar benarnya harus kita pelajari sampai akhir hayat adalah Alquran

    ReplyDelete
  44. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PMA 13

    Elegi di atas memberikan pesan kepada kita untuk tidak merasa jelas dan puas dalam menuntut ilmu. Telah merasa jelas akan sesuatu hingga menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya adalah suatu kesombongan yang luar biasa. dan ilmu tidak bisa diraih dengan kesombongan. Padahal, sebenar-benar hidup adalah ilmu. Bahkan matipun kita memerlukan ilmu. Jika seseorang telah menolak ilmu-ilmunya, maka sulit untuk dikatakan sebagai sebenar-benar hidup.
    Semoga Alloh senantiasa mengkaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat. aamiin

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id