Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru Menggapai Batas




Oleh: Marsigit

Mulialah hati, pikiran dan tindakan pedagogik guru, karena tiadalah seorang guru bermaksud memberikan keburukan bagi siswanya. Totalitasnya dia mengidamkan kebaikan dan keberhasilan bahkan keberhasilan tertinggi jika memang mungkin bagi siswanya. Maka hati, pikiran dan jiwanya menyatu menjadi motivasi yang kuat bahkan mungkin SANGAT KUAT untuk mewujudkan tindakan pedagogik : MEMBIMBING, MENGAWASI, MEMBEKALI, MENASEHATI, MEWAJIBKAN dan kalau perlu MENGHUKUM siswanya DEMI KEPENTINGAN SISWA.

Ketika rakhmat Nya menghampiri guru sedemikian hingga guru dengan sengaja atau tak sengaja menembus BATAS jiwanya sehingga memperoleh kesempatan MELIHAT DIRINYA dari tempat nun jauh secara mandiri maupun berbantuan orang atau guru atau nara sumber, maka adalah suatu tempat dimana BATAS ITU akan digapainya. Dalam batas itulah guru menemukan FATAMORGANA.
Atas fatamorgana itu maka terdengarlah nyanyian AKAR dan RUMPUT yang sayup-sayup sampai kira-kira bait-baitnya begini:

-Jangan jangan motivasimu yang sangat KUAT telah MELEMAHKAN INISIATIF nya, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEMBIMBING telah menjadikannya TERGANTUNG DAN TAK BERDAYA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENGAWASI telah menjadikannya mereka merasa menjadi makhluk yang memang selalu perlu diawasi dan dengan demikian identik dengan KEBURUKAN, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEMBEKALI telah menjadikanmu SOMBONG DAN TAKABUR serta menjadikannya RENDAH DIRI DAN TAK BERDAYA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENASEHATI adalah AMBISI DAN EGOMU yang menyebabkan mereka hidup TIDAK BERGAIRAH, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MEWAJIBKAN adalah pertanda HILANGNYA NURANIMU sekaligus HILANGNYA NURANI MEREKA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu MENGHUKUM adalah SEMPITNYA HIDUPMU dan juga SEMPITNYA HIDUP MEREKA, apakah itu batas yang kau cari?
-Jangan-jangan maksudmu DEMI KEPENTINGAN SISWA adalah keadaan HAMPA TAK BERMAKNA atau bahkan MENYESATKAN, apakah itu batas yang kau cari?

Orang tua berambut putih datang dan berkata:

"ITULAH SEBENAR-BENAR BATAS YANG KAU CARI, DAN BATASMU TIDAK LAIN TIDAK BUKAN ADALAH BATAS MEREKA. ANTARA DIRIMU DAN MEREKA ITULAH SEBENAR-BENAR ILMUMU TENTANG DIRIMU DAN TENTANG DIRI MEREKA.
JIKA KAMU BELUM MENGETAHUI BATASMU JANGAN HARAP RAHMAT ITU DATANG MENGHAMPIRIMU KEMBALI, TETAPI JIKA TOH KAMU TELAH MENGETAHUI BATASMU MAKA ADALAH KODRAT NYA BAHWA KAMU MASIH HARUS BERJUANG MENGGAPAI RAHMATNYA.
NAMUN MAAF SAYA TELAH SALAH UCAP, KARENA SEBENAR-BENARNYA YANG ADA, ADALAH TIADALAH ORANG PERNAH DAN DAPAT MENGGAPAI BATASNYA. UNTUK ITU MARILAH KITA TAWADU' DENGAN KODRAT DAN IRADATNYA. TETAPI JANGAN SALAH PAHAM BAHWA IKHTIARMU MENGGAPAI BATASMU ADALAH JUGA KODRATNYA.AMIN YA ROBBIL ALAMIN"

Orang Tua berambut putih Beranjak Pergi Tetapi Guru Berusaha Menggapainya:

Guru menggapai batas:
Aduhai orang tua berambut putih yang telah bertitah dihadapanku..
Siapakah sebenarnya dirimu itu? Tunjukkanlah padaku wajah yang sebenar-benar wajahmu.
Aku sangat terharu mendengarkan titahmu. Masih bolehkah aku memohon titah-titahmu yang lain?
Orang tua berambut putih:
Tenang dan sabarlah. Ciri-ciri orang cerdas adalah jika secara proporsional mampu mengendalikan perasaanya. Dan aku melihat kamu bisa. Maka aku melihat bahwa kamu ternyata cerdas pula. Jika kamu merasa terharu maka sebetulnya aku merasa lebih terharu lagi. Jangankan mendengar teriakan dan tangismu, mendengar satu pertanyaanmu saja aku merasa tergetar dan terharu. Mengapa? Karena itu pertanda bahwa kamu sedang memulai ilmumu. Bukankah bertanya adalah juga karunia Tuhan? Maka ketika kamu mendengar pertanyaan murid-muridmu itu pertanda bahwa kamu sedang menjemput rakhmat Nya. Padahal aku mengerti bahwa kamu mempunyai tugas yang sangat mulia. Apa itu? Yaitu membuat para siswa-siswa mu kelak mampu bertanya pula. Bukankah jika siswamu mampu bertanya itu juga pertanda bahwa mereka telah merasa menemukan batasnya dan menggapai nuraninya kembali yang telah hilang terenggut. Jadi sebetulnya, sebenar-benar hidup adalah jikalau kamu masih mampu bertanya.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan kepadamu. Bolehkan aku selalu mengikutimu?
Orang tua berambut putih:
Pertanyaan yang hebat, tetapi saya mengkhawatirkan pertanyaanmu, karena pertanyaanmu terlalu mekanistis dan kekanak-kanakan. Perasaan harumu telah betul, artinya kamu sedang dalam proses melakukan komunikasi transenden? Apakah kamu tahu apa itu komunikasi transenden? Komunikasi transenden adalah komunikasi setelah pikiranmu. Apakah kamu tahu komunikasi setelah pikiranmu? Tidak lain tidak bukan adalah perasaanmu. Apakah perasaanmu itu? Itu bukan nafsumu, itu bukan egomu, itu bukan sifat negatifmu. Tetapi itu adalah naluri dan intuisimu. Maka ikutilah naluri dan intuisimu. Tetapi bukan sembarang naluri dan bukan pula sembarang intuisi. Naluri dan intuisimu sebagai seorang yang telah merasa menemukan batasmu sebagai hasil pengalamanmu, yang didukung oleh pengetahuanmu serta oleh doa-doamu.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu aku semakin mantap akan ikut denganmu.
Orang tua berambut putih:
Semakin mantap kamu ingin mengikutiku maka semakin mantap pula aku menolaknya. Karena jika kamu selalu mengikutiku maka kamu akan selalu tertutup oleh bayang-bayangku. Dan dengan demikian tiadalah sebetulnya hakekat dirimu itu. Jika kamu terlalu mengagung-agungkan bayanganku maka kamu akan menghadapi bahaya besar yaitu terperosok ke dalam ruang gelap di mana ilmu mu telah berubah menjadi mitosmu. Mitosmu adalah mitos tentang diriku. Ketahuilah bahwa musuhmu paling besar bagimu di dunia ini adalah mitos-mitosmu. Maka sungguhlah merugi bagi seorang guru yang mengajarnya hanya berdasarkan mitos-mitos. Bukankah sekedar hapal rumus tetapi tidak tahu maknanya itu juga merupakan mitos. Sekedar kagum tetapi tidak mampu berpikir kritis itu juga mitosmu. Maka kenalilah baik-baik musuhmu itu. Sedangkan bahaya paling besar di muka bumi ini adalah jika seseorang sangat menikmati kegiatannya menutupi jati diri orang lain dengan bayangannya. Apakah kamu juga menginginkan agar murid-muridmu selalu mengejar dan berlindung di bawah bayang-bayangmu. Bukankah hal yang demikian sebetulnya menghilangkan jati diri mereka dan dengan demikian kamu telah berbuat dholim kepadanya. Ingatlah bahwa tiadalah orang selalu dapat bersama dengan semua sifat-sifat dan miliknya. Hanya sifat dan milik tertentu saja yang Tuhan perkenankan untuk selalu mendampingimu kelak sampai ke akhir jaman. Kata orang bijak itulah amal dan perbuatanmu. Jadi keunikanmu itu adalah hargamu. Hanya dirimu sendirilah yang mempertanggungjawabkan perbuatanmua.
Guru menggapai batas:
Kalau begitu siapakah sebenarnya kau dan dimanakah kau itu?
Orang tua berambut putih:
Aku sendiri sulit mendefinisikan diriku sendiri. Kadang-kadang aku adalah bacaanmu, kadang-kadang aku adalah referensimu, kadang-kadang aku adalah gurumu, kadang-kadang aku adalah pertanyaamu, kadang-kadang aku adalah pikiranmu, kadang kadang aku adalah pikiran gurumu dan kadang-kadang aku adalah gurumu. Tetapi aku bisa menjelma menjadi paradigma, menjadi teori, menjadi filsafat da menjadi cita-citamu. Maka untuk memahamiku tidaklah cukupkamu hanya menggunakan satu metode saja. Terlibatlah secara sinergis tali temali dengan ku dan juga dengan murid-muridmu. Berlandaskan keteguhan hati dan iman dan taqwa kepada Alloh ya Robbi.
Guru menggapai batas:
Aku bingung. Siapakah kau dan dimanakah kamu berada?
Orang tua berambut putih:
Kadang-kadang aku adalah kau juga. Kadang-kadang aku menyerupai dosenmu. Tetapi jika kamu ingin melihat wajahku yang sebenarnya maka tengoklah pada akal dan pikiranmu. Tempat tinggalku adalah di batas pikiranmu. Usahamu menggapai batas pikiranmu itulah sebenarnya aku. Padahal kita tahu bahwa batas pikiranmu itulah sebenar-banarnya ilmumu. Jadi aku tidak lain tidak bukan sebenarnya adalah ilmumu. Aku dan kau adalah sama juga yaitu menterjemahkan dan diterjemahkah. Itulah sebenar-benar hidup di dunia. Maka agar kau sukses dalam mendidik siswa-siswamu, sinergis tali-temalikanlah dirimu dengan mereka untuk bersama sama saling menterjemahkan dan diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu. Bagaikan bola dunia yang berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari. Gerakanmu dan gerakan mereka yang kokoh, kuat dan stabil seakan tenang sunyi dan hening, padahal sangat ramai di dalamnya. Itulah sifat black-hole yang mempunyai energi yang sangat besar dan mampu menarik segalanya yang ada disampingnya, yang ada dalam penglihatannya, yang ada dalam pergaulannya, yang ada dalam doa-doanya. Di situlah kamu sudah dapat dikatakan berada dalam kedudukan sistemik melakukan hijrah inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan jika didukung oleh semua orang yang sadar dengannya maka dia ibarat black-hole tersebut. Maka jadikanlah bahwa dirimu tidak lain tidak bukan adalah inovasi itu sendiri. Katakan bahwa aku adalah inovasi. Maka sebenar-benar diriku, Orang Tua Berambut Putih, tidak lain tidak bukan adalah inovasi. Ketahuilah bahwa bumi tidak hanya berputar pada porosnya, tetapi bergerak mengelilingi matahari. Itulah kodrat Nya. Jadi untuk mengetahuiku kamu harus berikhtiar. Apakah ikhtiar itu? Tidak lain tidak bukan adalah hijrah. Maka sebetul betulnya hidup adalah hijrah, disadari maupun tidak engkau sadari. Bukankah para Nabi telah mengajarkanmu apa itu dan bagaimana hijrah. Hijrahlah dalam doa, karena kita dapat juga katakan bahwa sebenar-benar hidupmu adalah doamu. Itulah sebetulbetulnya tujuan bagi semua manusia di dunia yaitu kebahagiaanmu didunia dan akhirat, jikalau dia telah mentransformir dirinya menjadi doa kepada Mu Ya Alloh Ya Robbi. Amien.
Guru menggapai batas:
Aku ingin menangis.
Orang tua berambut putih:
Boleh. Karena tangisanmu adalah tulisanmu, referensimu, bukumu dan juga ilmumu. Namun janganlah kamu terbuai dengan tangisanmu, karena tangisanmu hanyalah sebagian dari hidupmu. Lebih banyak lagi hal-hal yang perlu kamu pikirkan. Sebagai orang cerdas maka kamu ku tantang dapatkah menangis sambil memikirkan hal-hal yang lain? Bukankah kita maklum bahwa setinggi-tinggi ilmu adalah ikhlas dan mengingat Tuhan. Maka setinggi-tinggi amal perbuatanmu adalah selalu ikhlas dan dalam keadaan mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun, dalam keadaan bercakap, dalam keadaan duduk, bahkan dalam keadaan menangis atau tidur sekalipun.
Guru menggapai batas:
Saya telah memperoleh terang yang luar biasa guruku. Dan sekarang saya iklhas berpisah dengan mu. Dan saya akah kembali pulang bertemu dengan keluarga untuk berjuang meningkatkan pendidikan matematika lebih bernurani.
Orang tua berambut putih:
Jika kau sebut aku sebagai gurumu maka itu adalah diriku yang lain. Sekali lagi aku khawatir tentang klaimmu bahwa kau telah memperoleh terang yang luar biasa. Jangan-jangan itu kesombonganmu. Karena klaim sekecil apapun tidak luput dari kesalahan. Mengapa? Itulah sifat terbatas manusia, dan sifat tak terbatas hanyalah milik Tuhan. Padahal kesombongan adalah dosa pertama dan dosa paling besar. Tetapi tidak. Saya melihat bahwa kamu tadi adalah spontan dan murni. Spontan, murni, orisinalitas dan tak berprasangka buruk adalah modal utama memperoleh ilmu. Tetapi maaf karena kalimatku yang terakhir itu juga adalah klaim ku. Jadi aku juga terancam kesombongan. Maka ighstifar adalah satu-satunya solusi. Alhamdullilah. Mudah-mudahan kita semuanya ikhlas. Jika terpaksa aku mengucapkan good bye, maka itu juga diriku yang lain. Jika aku teruskan ucapanku aku khawatir dituduh tidak sadar ruang dan waktu. Tiadalah ada sebenar-benarnya perpisahan itu bagi orang-orang beriman. Beterbaranlah dimuka bumi ini dan menjadilah pahlawan pendidikan. Tetapi ingatlah bahwa pahlawan bukannya seorang jendral yang memenangkan perang dimedan laga. Tetapi seorang hamba yang berilmu. Namun janganlah pernah mengklaim diri sebagai pahlawan, biarkan akar rumput yang menyanyikannya. Maka aku juga kurang begitu nyaman jika ada guru menyanyikan dirinya sebagai pahlawan. Selamat berjuang. Maafkan segala kekhilafanku. Semoga berhasil. Amien

Guru Menggapai Batas Ternyata Masih Mengejarnya:

Tunggu dulu guru, masih ada satu lagi pertanyaanku. Temanku mengatakan bahwa untuk menjadi guru yang baik, tentunya membutuhkan proses dan bimbingan. Dia mengatakan bahwa sesuai ungkapan " Man ta'allama bila syaikhin, fa syaikhuhu syaitoon " Orang yang belajar tanpa pembimbing maka pembimbingnya adalah setan. Maka jika guru meninggalkan ku aku khawatir muncul sifat - sifat setan yang mengajak pada perilaku yang tidak diridloi oleh Allah SWT.

Orang Tua Berambut Putih Bersedia Menghantar Sampai Batas:

Jangan salah paham, sudah saya katakan bahwa yang mengucapkan good-bye adalah diriku yang lain. Sedangkan diriku yang lain lagi senyata-nyatanya selalu bersamamu kamanapun kamu pergi. Panggilah aku dengan pertanyaanmu, karena aku tidak lain tidak bukan adalah pertanyaanmu. Dan pertanyaanmu adalah pengetahuanmu. Tetapi hendaklah kamu belajar agar mengerti batas-batas sampai di mana aku bisa bersamamu. Aku selalu bersamamu sampai kamu tidak bisa lagi “bertanya”. Karena sesungguh-sungguhnya segala macam pertanyaanmu itu tidak bisa berada diluar pikiranmu. Padahal aku mengerti bahwa pikiranmu bersifat terbatas, dan batasnya tidak lain tidak bukan adalah diriku. Sekali lagi aku ingatkan bahwa disinilah kamu mulai masuk alam transenden, dimana segenap jiwa ragamu termasuk pikiranmu beserta diriku menjelma kedalam hatimu. Maka disini, sebenar-benar ilmumu adalah hatimu. Sebenar-benar hidupmu adalah juga hatimu. Dan juga tidak ada lagi diriku. Yang ada adalah ikhlas, iman dan taqwa mu. Maka untuk bertemu Tuhan mu tidaklah cukup hanya dengan pikiranmu dan tidaklah cukup juga mengandalkan diriku, tetapi hatimu yang ikhlas itulah yang akan menuntunmu. Ketika kamu semakin dekat dengan Tuhan mu, maka tidaklah kamu memerlukan "pertanyaan". Keikhlasan yang dibimbing Tuhan mu itulah yang akan mampu mengusir setan dan Jin bertanduk tujuh. Itulah setinggi-tinggi tujuan hidup, yaitu dihampiri rakhmat Nya. Jikalau Tuhan telah berkenan menghampirimu, maka kemanapun kamu memandang, adalah rakhmat dan karunia Nya yang ada di situ. Itulah sebenar-benar makna pendidikan kualitas kedua, ketiga, dst. Baiklah kalau begitu marilah kau kuhantarkan sampai tempat di mana kamu tidak bisa lagi “bertanya”. Amien ya robbal alamin.

38 comments:

  1. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Adakalanya dimana guru mempunyai batas dalam mengajar muridnya. Misalnya batas dalam membimbing atau menjelaskan, berilah kesempatan siswa untuk berkembang dan mencari jawaban atas pertanyaannya. Disini kita bisa sedikit mengarahkan mengarahkan siswa dan selanjutnya siswa belajar mandiri sampai menemukan sebuah jawaban. Janganlah guru mengharapkan siswa untuk sama dengan dirinya karena sebenar-benarnya manusia adalah berbeda.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  2. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Guru adalah pekerjaan mulia karena tujuan dan harapannya hanyalah kebaikan dan keberhasilan bagi siswanya. Berbagai upaya yang dilakukan guru untuk mewujudkan tujuan pembelajaran diantaranya membimbing, mendidik, mengawasi, menasihati, membekali, mewajibkan, dan bahkan menghukum demi kepentingan siswanya. Agar semua yang dilakukan tersebut memperoleh rahmatNya, maka seorang guru harus berusaha mengetahui batasnya. Untuk menggapai batasnya maka seorang guru harus cerdas, mampu mengendalikan diri, dan menyadari kalau dirinya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Meskipun tiada manusia yang dapat menggapai batasnya, namun kita harus tetap berusaha, karena usaha itu adalah kodratNya.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  3. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Guru adalah salah satu profesi yang mulia. Menjadi guru membantu peserta didik untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini tidak serta merta melalui perjuangan yang singkat, butuh usaha dan upaya yang kerasa untuk dapat dikatakan menjadi guru yang baik dan bermanfat bagi siswa rekan dan semua orang. Begitu pula adanya perkembangan jamna yang mengharuskan guru selalu mengupgrade ilmu pengetahuan yang dimiliki. Sehingga sebenar-benarnya batas seorang guru adalah selalu terus belajar dan mengevaluasi diri demi memaksimalkan profesionalitasnya.

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum Wr. Wb
    Setiap guru pastilah menginginkan yang terbaik bagi tiap siswanya, tidaklah mungkin seorang guru mneginginkan hal yang terburuk untuk para siswanya. Upaya untuk melakukan hal tersebut adalah dengan cara membimbing, mendidik, mengawasi, menasihati, membekali, mewajibkan bahkan terkadang menghukum untuk kepentingan para siswa. Akan tetap terkadang seorang guru tidak bisa melakukan itu semua dikarenakan seorang guru mempunyai keterbatasan. Sehingga sebagai guru haruslah terus belajar dan belajar untuk mencari tahu sehingga mampu mencapai batasnya.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  5. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Guru adalah komponen yang penting dalam pendidikan, yakni orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik, dan bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam rangka membina anak didik agar menjadi orang yang bersusila yang cakap, berguna bagi Nusa dan Bangsa di masa yang akan datang.Guru berusaha membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu siswa akan tumbuh dan berkembang menjadi seseorang sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Guru juga bisa memberikan suatu pembelajaran yang dapat menjadikan ilmu yang diberikan kepada siswanya bermanfaat tidak hanya untuk sekarang tetapi untuk masa depan.

    ReplyDelete
  6. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Guru hanyalah manusia yang juga memiliki batas- batas dalam mengajar. Oleh karena itulah tugas seorang guru adalah memfasilitasi siswa agar dapat membangun ilmunya sendiri. Oleh karena itulah jangan sampai guru menjadi bayang- bayang bagi siswanya sehingga membatasi siswanya untuk berkembang. Oleh karena itulah metode mengajar terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Guru dan siswa harus bersama- sama menterjemahkan dan diterjemahkan, sama- sama saling belajar dan mengajarkan.

    ReplyDelete
  7. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Guru adalah seorang manusia, sebenar-benar manusia adalah selalu dalam keterbatasan dan yang tidak terbatas adalah Allah SWT. Jika seorang guru mencari batasnya, maka sebenar-benar batas yang dicari dan batanya tidak lain tidak bukan adalah batas mereka, yaitu batas para murid itu sendiri. Jika telah mengetahui batasmu, maka kewajibannya adalah menggapai rahmatnya, yaitu bagaimana cara melewati batasan itu dan menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  8. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Manusia adalah makhluk yang memiliki batas tergantung pada individu masing-masing. Hal ini juga terjadi pada guru yang memiliki pengetahuan yang luas. Adakalanya, seorang guru memiliki keterbatasan dalam pengetahuan. Namun, menurut saya jangan jadikan keterbatasan itu sebagai kendala. Guru harus memiliki kreatifitas dan inovasi untuk merubah keterbatasan itu menjadi sebuah metode untuk mengikutsertakan siswa mengakses pengetahuan secara bersama-sama. Intinya, jangan bersikap sombong dengan memaksakan keterbatasan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  9. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan maju tidaknya pendidikan karena guru terlibat langsung dalam proses belajar-mengajar sehingga seorang guru berkewajiban untuk mengajar dengan sebaik-baiknya dengan memperhatikan kemampuan dan kebutuhan siswa agar potensi dalam diri siswa dapat berkembang secara optimal.Guru juga harus mampu mengerti akan dirinya dengan mengetahui batas-batas kemampuannya agar tindakannya tidak berlebihan dan tujuannya dapat tercapai dengan mampu membangun fasilitas belajar yang dapat disesuaikan dengan kemampuannya dan kebutuhan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai

    ReplyDelete
  10. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Elegi diatas mengabarkan bahwa seorang guru tentunya ada yang terlalu sayang kepada murid-muridnya dan ingin selalu memberikan yang terbaik. Namun ternyata yang terbaik itu bukanlah yang diberikan dengan terlalu banyak atau berlebihan, tetapi yang tepat sesuai porsinya, sehingga guru dapat benar-benar menjadi fasilitator dengan mengetahui batas dirinya terhadap muridnya.

    ReplyDelete
  11. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Sungguh berat tugas seorang guru, tapi masih saja dianggap kurang sempurna. Tetapi jangan putus asa. Guru bukanlah sesuatu yang tidak tak terbatas. Guru hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya. Berbagai upaya yang dilakukan guru untuk mewujudkan tujuan pembelajaran iantaranya membimbing, mendidik, mengawasi, menasihati, membekali, mewajibkan, dan bahkan menghukum demi kepentingan siswanya. Semua itu dilakukan untuk menjadikan siswanya agar jauh lebih baik.

    ReplyDelete
  12. Vety Triyana K
    13301241027
    P Matematika Int 2013

    Dalam era sekarang guru tidak hanya dituntut sabagi pengajar, namun juga sebagai pembimbing dan fasilitator siswa, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa guru hanya bertugas sebagai transfer ilmu saja tetapi guru di era sekarang juga haruslah dapat menjadi motivator. Setiap guru yang mengajar memiliki karakteristik tersendiri sehingga sangatlah beragam dan berbeda pembelajaran yang digunakan oleh setiap guru karena disesuaikan dengan kompetensi dan keadaan kelas yang dihadapi. Sebagai manusia guru juga memiliki keterbatasan dalam mengelola kelas ketika pembelajaran berlangsung, sehingga ada potensi bahwa guru tersebut melakukan kesalahan, namun guru yang bijak pastilah akan berusaha memperbaiki diri dari apa yang kurang, sehingga guru memiliki pandangan yang lebih terbuka mengenai pendidikan. Semoga guru - guru yang akan datang dapat menjadi sebaik - baiknya guru.

    ReplyDelete
  13. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Menjadi seorang guru tentu bukan hal yang mudah. guru memiliki julukan "digugu lan ditiru" (ditiru) oleh anak didik karena guru tidak hanya mengajarkan ilmu tetapi tugas seorang guru untuk memberikan pendidikan moral bagi siswa mereka sebagai guru dalam hal sopan santun. tanggung jawab moral di sini adalah contoh bahwa guru harus bertingkah laku yang baik kapanpun dan dimanapun.

    ReplyDelete
  14. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Menurut pendapat saya, selain meningkatkan profesionalisme guru juga terus melakukan dengan berinovasi, berkreatif dan bekerja untuk menjadi panutan bagi siswa dan guru yang ideal juga untuk siswanya. Karena guru profesional yang benar jika guru mampu mensukseskan peserta didik sukses tidak hanya di dunia tetapi juga sukses di akhirat.

    ReplyDelete
  15. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Tugas seorang guru adalah membimbing, mengawasi, membekali, menasehati, mewajibkan, dan bila diperlukan menghukum siswanya demi kepentingan siswa itu sendiri. Namun ternyata bimbingan dari guru dapat menjadikan siswa tergantung dan tak berdaya, meberikan motivasi kepada siswa dapat meemahkan inisiatif dari dalam diri mereka sendiri. Betapa serba salah menjadi guru. Namun tiadalah yang sempurna. Segala seuatu pasti ada kekurangannya. Itu lah tanda seorang guru memiliki keterbatasan. Yang ada hanya berusaha sebaiknya-baiknya untuk mendekati kesempurnaan.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  16. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Guru merupakan profesi yang sangat mulia. Selain memimbing siswa menjadi anak yang cerdas, guru juga mendidik siswa agar mempunyai akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik pula. Menjadi seorang guru tidaklah mudah. Perlu perjuangan untuk menyandang sebagai guru profesional idaman siswa. Semua yang dilakukan guru di kelas, sedikit banyak pasti akan ditirukan oleh siswa siswinya sehingga tidak boleh sembarangan dalam bertingkahlaku.

    ReplyDelete
  17. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Guru bertanggung jawab atas semua yang terjadi di sekolah karena guru juga merupakan orang tua siswa yang kedua setelah orang tua mereka masing-masing di rumah. Menjadi guru berarti harus siap untuk terus belajar untuk dirinya sendiri serta belajar untuk membelajarkan dan memahami siswanya dengan cara melihat bagaimana mereka belajar.

    ReplyDelete
  18. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Susah untuk kita dapat menggapai batas itu. Karena mana mungkin ilmu ada batasnya. Itulah yang akan terus memunculkan pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan kita karena ilmu yang kita peroleh tidak akan pernah cukup. Sehingga kita tidak akan pernah menggapai batas itu.

    ReplyDelete
  19. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Tidaklah setiap manusia itu tak terbatas. Bahkan mesin pun punya batas. Unlimited bagi manusia terutama guru adalah hal yang mustahil. Limited memanglah merupakan kodrat yang sejatinya dimiliki oleh setiao insan. Namun haruskah limited itu mengahalangi manusia terutama guru untuk peduli dengan manusia lainnya terutama siswa? Ketika limited menghalangi, maka pejuang sejati adalah yang mampu melewati rintangan itu, meskipun itu adalah tembok limited. Jika bukan dengan memanjatnya, maka diputarinya. Itulah pejuang sejati, pejuang dalam mendidik bangsa.

    ReplyDelete
  20. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Astaghfirullahalazim, ternyata niatan baik kita sebagai guru yang terlalu besar untuk mendidik siswa justru dapat membahayakan siswa jika kita tidak mengetahui batasannya. guru seringkali terjebak oleh paradigmanya sendiri karena belum memahami batasannya. Guru harus berusaha menggapai batas pikirannya dengan terus menerus belajar hingga tidak dapat lagi mempertanyakan ilmunya. Guru perlu memahami batas membimbing siswa, batas menjadi fasilitator siswa, batas memotivasi siswa, dan lain sebagainya. Siswa tetap harus mendapatkan kesempatan yang luas dalam membangun pengetahuannya. Namun, sesungguhnya tiadalah manusia yang mampu menggapai batas, yang ada ialah bahwa kodrat manusia adalah berusaha untuk menggapai batas.

    ReplyDelete
  21. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B


    Semua orang dapat menjadi guru karena guru adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan membantu untuk menransfer pengetahuan itu. Hanya saja bentuk formal dari guru adalah guru yang berada di kelas. Profesi guru itu tidaklah mudah, karena selain harus mempunyai ilmu pengetahuan, guru harus bisa menransfernya pada siswa. Biasanya permasalahan yang sering muncul adalah proses transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Karena memang karakter guru dengan siswa itu berbeda, siswa dengan siswa pun berbeda, maka akan muncul banyak pandangan. Tetapi di sisi lain, guru merupakan tugas mulia, karena dia mendapatkan ilmu pengetahuan, kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Ketika orang lain itu juga menyampaikan ke orang lain dan seterusnya, maka guru turut berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dan dari sisi pahala, itu adalah pahala yang tidak pernah putus, karena akan selalu digunakan dan disampaikan ke orang lain.

    ReplyDelete
  22. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Terkadang niat yang baik belum tentu menjadi hal yang baik ketika cara yang kita lakukan untuk mewujudkannya salah. Begitupun menjadi guru. Satu niatan yang sangat mulia, tetapi tak jarang karena kesalahan guru justru mematikan potensi siswa. Menjadi tugas penting seorang guru untuk membuat siswa-siswa kelak mampu bertanya. Dari bertanya itu lah maka siswa akan memperoleh ilmu baru. Apapun pertanyaan yang muncul oleh siswa ketika pembelaaran jangan sampai disepelekan. Bisa jadi pertanyaan itu sepele bagi kita, namun bisa jadi pertanyaan itu adalah awal dari siswa membangun pengetahuannya. Maka bijaklah dalam menanggapi pertanyaan siswa.

    ReplyDelete
  23. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Batas untuk seorang guru saat guru itu tidak mampu menjangkau dan mengoptimalkan potensi yang dimilki dari setiap siswanya. Inilah yang menjadi tantangan bagi seorang guru untuk bagaiman langkah yang harus dilakukan agar melewati batas tersebut. Usaha yang ekstra yang diikuti dengan proses tawakkal dan ikhtiar menjadi sebuah keharus bagi guru untuk menghadapi rintangan tersebut.

    ReplyDelete
  24. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Seperti filosofi Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarso Sung Tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut Wuri Handayani” yang artinya bahwa seorang guru seorang bisa menginspirasi, memberikan teladan dan memotivasi siswanya. Oleh karena itu sebagai seorang guru harus dapat memaksimalkan potensinya untuk memaksimalkan potensi siswanya. Mengurangi akivitas transfer pengetahuan demi memaksimalkan aktivitas siswa. Membimbing dan mendidik siswa dalam proses belajarnya untuk mengalami dan menemukan pengetahuannya bukan untuk menyamakan kemampuan guru dan siswa.

    ReplyDelete
  25. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016


    Dalam berpikir pun manusia memiliki keterbatasan. Ada hal-hal yang tidak dapat dicapai manusia dalam proses berpikir dan biasanya hal ini tersebut terkait dengan ketentuan absolut yang telah ditetapkan Allah SWT. Dalam berpikir juga diharapkan keikhlasan yang dibimbing Tuhan agar dapat mengkhusyukkan diri dan dijauhkan dari godaan setan. Selanjutnya juga dijelaskan bahwa sebenar-benar ilmu adalah hati dan sebenar-benar hidup adalah perihal hati.

    ReplyDelete
  26. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Seorang guru dalam mengajar siswanya haruslah memiliki rasa ikhlas. Kami sebagai murid sangat merasakan perbedaan antara guru yang mengajar kami dengan rasa ikhlas dengan guru yang mengajar kami hanya sebagai formalitas belaka untuk mendapatkan gaji. Biasanya guru yang mengajar hanya sebagai formalitas hanya menyuruh kita membaca buku lalu disuruh menjawab soal latihan, beda dengan guru yang mengajar dengan ikhlas, dimana sang guru betul-betul membimbing kami agar kami memahami materi yang sedang kami pelajari. Oleh karena itu benar yang dikatakan di atas bahwa dalam mengajar sangat dibutuhkan rasa ikhlas, karena dengan rasa ikhlas itu segala macam halangan yang menghalangi ilmu dapat sampai ke siswa maka akan dapat terlewati.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  27. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Guru memiliki tugas yang mulia. Dalam mengemban tugasnya ini, guru hendaknya tidak hanya bertindak sebagai pendidik juga bertindak sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Siswa dibiarkan untuk menemukan dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Berbagai upaya yang dilakukan guru untuk mewujudkan tujuan pembelajaran diantaranya membimbing, mendidik, mengawasi, menasihati, membekali, mewajibkan, dan bahkan menghukum demi kepentingan siswa itu sendiri. Semua itu dilakukan untuk menjadikan siswa agar jauh lebih baik. Guru merupakan fasilitator dalam pembelajaran di mana guru merupakan agen perubahan untuk dapat mengubah pendidikan yang ada di negara ini agar menjadi lebih baik lagi. Baik atau tidaknya proses pembelajaran akan begitu menentukan nasib siswa pada khususnya dan untuk bangsa pada umumnya. Oleh karenanya, sebagai calon guru atau pun yang telah menjadi seorang guru perlulah mereka untuk senantiasa belajar dan mengevaluasi diri.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  28. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Bagi saya, sepintar apapun guru, jika tidak ikhlas, akan seperti debu di padang pasir yang luas. Hanya akan menyengsarakan muridnya. Bagaimana tidak, wajah masam, penuh mitos di pelajarannya, dan seakan-akan dia tidak berada di ruang dan waktu yang tepat. Padahal hasil belajar siswa adalah refleksi guru tersebut menerangkan. Dan hasil itu adalah kenyataan yang dihadapi. Bukan pertanyaan Rene Descartes, ini mimpi atau tidak.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  29. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Guru harus mengerti batas-batas seorang guru agar tindakannya tidak berlebihan dan tujuannya dapat tercapai. Menyeimbangkan antara kebutuhan siswa dan kemampuan guru adalah tindakan paling tepat. Namun tak ada guru yang sempurna, yang mampu menyeimbangkan antara kebutuhan siswa dengan kemampuannya dengan baik atau sempurna. Ciri orang yang mampu menggapai batas dirinya adalah ketika seseorang dapat menyadari kalau dirinya banyak kekurangan dan kelemahan. Ketika orang bertanya tentang sesuatu yang dia tidak tahu, maka itulah batas dirinya.

    ReplyDelete
  30. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Paradigma pendidikan telah diubah sejak zaman kolonial, yakni lebih menonjolkan fungsi guru sebagai pengajar dari pada sebagai pendidik. Orientasi pendidikan lebih terfokus pada penciptaan tenaga kerja, dan bukan lagi pada soal kepribadian, etika ataupun sikap mental. Paradigma pendidikan “kolonial” tersebut secara tidak disadari dalam praktek pendidikan di sekolah sampai kini masih berlangsung, bahkan semakin dipupuk oleh adanya kebijakan pasar atau bursa tenaga kerja yang lebih mengutamakan formalitas nilai NEM atau IPK yang tertuang dalam ijazah.

    ReplyDelete
  31. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Ilmu itu seperti apa yang ada di dalam pikiran orang tersebut. Saya sangat tertarik dengan kalimat berikut : "Tenang dan sabarlah. Ciri-ciri orang cerdas adalah jika secara proporsional mampu mengendalikan perasaannya. Dan aku melihat kamu bisa. Maka aku melihat bahwa kamu ternyata cerdas pula. Jika kamu merasa terharu maka sebetulnya aku merasa lebih terharu lagi....Karena itu pertanda bahwa kamu sedang memulai ilmumu...." Jadi sebenarnya, ketika kita menemukan masalah dan kita menjadi bimbang atau bingung maka itu pertanda bahwa kita telah berpikir. Ketika kita mulai berpikir itu artinya kita sedang belajar. Karena belajar merupakan perubahan pada diri manusia sebagai hasil dari interaksi diri dengan pengetahuan dan lingkungan.

    ReplyDelete
  32. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tidak ada satu pun guru yang bermaksud memberikan keburukan bagi siswanya. Hal yang diberikan demi perkembangan siswa. Siswa bertanya adalah suatu hal yang diinginkan oleh guru. Karena itu menunjukkan bahwa adanya antusiasme dan rasa keingintahuan siswa terhadap pembelajaran yang diberikan oleh guru. Bertanya merupakan batas pengetahuan. Bertanya merupakan salah satu cara kita untuk memperoleh pengetahuan. Bertanya pada orang yang telah memiliki ilmu.Dalam bertanya, tentu ada pemikiran dan rasa yang terkandung. Di lain sisi, orang yang cerdas yaitu orang yang mampu mengendalikan perasaan dan emosinya. Oleh karenanya, kita hendak tidak malu untuk bertanya karena itu demi memperoleh pengetahuan.

    ReplyDelete
  33. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Saya tertarik pada salah satu kalimat yang disampaian orangtua berambut putih : agar engkau sukses dalam mendidik siswa-siswimu, sinergis tali temalilah dirimu dengan mereka untuk bersama sama saling menerjemahkan dan diterjemahkan dalam dimensi ruang dan waktu. Menurut saya kalimat tersebut memberikan pesan kepada kita sebagai pendidik untuk selalu membangun kerja sama menjadi sebuah tim yang baik untuk mensukseskan pembelajaran di kelas. Sebagus apapun inovasi yang sudah dibuat, jika tidak ada sinergi tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Kerjasama ini adalah saling percaya satu sama lainnya, saling menghargai, saling mendukung dan saling membantu.

    ReplyDelete
  34. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Sebagai seorang pendidik, sudah menjadi tugas kita mencerdaskan anak bangsa, mendidik budi pekerti dan akhlak mereka menjadi manusia yang berkarakter dan bertanggung jawab. Kita tidak perlu mengklaim bahwa kita pahlawan pendidikan, jasa kita besar terhadap Negara dsb. Diatas semua yang sudah kita lakukan, biarlah oranglain yang menilai. Bersihkan niat kita untuk ikhlas lillahi ta’ala. Setinggi-tingginya amal perbuatanmu adalah selalu iklas dan dalam keadaan mengingat Allah AWT dalam keadaan apapun, dalam keadaan bercakap, dalam keadaan duduk, bahkan dalam keadaan menangis atau tidur sekalipun

    ReplyDelete
  35. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP A UNY

    Menjadi seorang guru senantiasa hendaklah untuk selalu belajar, baik pada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan dan alam semesta, karena dari semua itu akan banyak terdapat pelajaran yang petunjuk. Janganlah kita pernah menganggap bahwa kita paling benar walaupun telah berbuat yang terbaik, karena kebenaran hanya milik Allah semata. Mungkin saja yang selama ini kita agung-agungkan sebagai kebenaran adalah sebuah kemunafikan yang akan muncul dari kesombongan dan keegoisan kita.

    ReplyDelete
  36. Fandi Kurnia Giri
    13301241012
    Pend. Matematika A 2013

    Seorang guru harus memahami betul batasan-batasan yang dia miliki. Batasan ini berguna untuk mencegah guru bertindak sombong dan semena-mena terhadap siswanya. Batasan penting untuk dipahami guru sebagai patokan dimana guru harus memaksimalkan kemampuannya sekaligus menekan kesewenangnya. Yang perlu dipahami kembali bahwa seorang guru tidak akan pernah betul-betul menggapai batasan tersebut. Namun bukan berarti guru harus berhenti menggapai batasan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedikit tambahan juga, elegi di atas juga mengajarkan untuk selalu mau belajar dan terus belajar. Carilah seseorang atau sesuatu yang dapat membimbing kita untuk terus belajar, namun jangan sampai kita lantas terus berada dalam bayang-bayang pembimbing tersebut.

      Delete
  37. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Ada pelajaran berharga yang saya dapatkan dari elegi di atas. Sebagai seorang calon guru, seyogyanya kita memperhatikan betul bagaimana interaksi kita dengan siswa. Siswa adalah objek yang hidup dan memiliki logos. Salah satu tujuan pendidikan adalah membuat siswa menggunakan dan mengembangkan logosnya. Maka adalah tidak benar jika kita menganggap diri kita adalah yang paling tahu dan paling bisa, sebab yang demikian membuat siswa tertimpa bayang-bayang kita. Jika demikian, siswa hanyalah sebatas objek belajar yang sibuk menghapal mitos-mitos dan gagal membangun logosnya. Tidak memiliki logos berarti kehilangan diri kita sebagai ada, mengada dan pengada.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id