Feb 25, 2011

Elegi Pertandingan Tinju antara Kualitatif melawan Kuantitatif




Oleh Marsigit

Monolog Kuantitatif:
Besar harapanku. Kecil rintanganku. Panjang perjalananku. Pendek jangkauanku. Tepat sasaranku. Separuh peluangku. Penuh perolehanku. Kosong negatifku. Sepuluh nilaiku. Dua ratus persen kenaikan gajiku. Semua itu ada dalam daftar. Aku dapat menggambarnya. Aku dapat menghitungnya. Ini dia grafiknya. Dalam seminggu, sepuluh kegiatanku. Dalam sebulan, lima belas pekerjaanku. Ditambah waku, dikurangi daya, hasilnya tetap. Benarlah jawabanku dan salahlah jawabanmu. Kalkulasiku tepat dan kalkulasimu tidak tepat. Perkiraanku benar perkiraanmu salah. Jika engkau wakilnya, aku tidak butuh mereka. Satu untuk semuanya. Terpaksa aku tentukan, engkau itu lima atau delapan. Jika engkau lima, maka semuanya adalah lima, jika engkau delapan maka semuanya adalah delapan. Ambil sembarang bilangan, kalikan tujuh dan tambahlah tujuh kemudian bagilah dengan tujuh, hasilnya kurangi dengan satu, berapakah bilangan itu? Sembilan puluh persen ingatanku masih baik, yang lima persen sering lupa. Banyak tidurku tidak boleh lebih dari kerjaku. Pikiran ku acak terhadap mereka. Segerombolan orang-orang itu tidak mengetahui diriku. Aku hanya melihat dia cacah kepalanya. Luas pikirannya tidak lebih dari satu meter persegi. Dalam hatinya tidak lebih dari sepuluh senti meter. Cintaku kepadamu masih sembilan puluh lima persen. Keyakinanku tiga perempat. Lambang adalah mutiaraku, rumus adalah primadonaku, prinsip adalah semangatku.


Monolog Kualitatif:
Kugapai harapanku. Kulalui rintanganku. Kutempuh perjalananku. Kurasa jangkauanku. Baiklah sasaranku. Berharap peluangku. Halal perolehanku. Haram negatifku. Memuaskan nilaiku. Bermanfaat kenaikan gajiku. Apalah artinya daftar. A[pa perlu aku menggambarnya. Aku dapat merasakannya. Ini dia refleksiku. Dalam seminggu, ibadahku. Dalam sebulan, tanggungjawabku. Kesadaranku dan lingkunganku, menentukan keberadaanku. Etika jawabanku dan jawabanmu. Perasaanku dan perasaanmu. Apakah pantas aku memilih. Apakah pantas aku memberitahu. Aku tidak berani menentukan engkau lima atau delapan. Aku lebih suka bercerita dan berkomunikasi tentang dan dengan engkau. Janganlah berlaku sombong dan arogan. Lebih baik tidur dari pada berbuat dosa. Hatiku membatasi pikiranku. Sungguh malang nasibnya, hanya bernasib terwakili. Itulah pertimbanganku. Semoga hatiku berdzikir. Tak terukurlah cintaku itu. Au hanya bisa berharap dan berdoa. Apalah artinya lambang, aku lebih suka maknanya. Apalah artinya rumus, aku lebih suka hakekatnya. Apalah artinya prinsip, aku lebih suka realitanya.

Wasit:
Wahai kuantitatif, terdengar hebat pula ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kuantitatif dan angka-angka. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kuantitatif minded. Wahai kualitatif, terdengar indah ucapanmu itu. Ucapanmu penuh dengan kualitatif dan makna. Tidaklah mudah memahami ucapanmu. Kelihatannya, engkau memang kualitatif minded. Namun aku melihat ada kelemahan di masing-masing dirimu itu. Kelemahanmu adalah engkau berdua ternyata mempunyai pamrih dan maksud tertentu dalam monologmu. Sebenar-benar dirimu adalah menyindir satu dengan yang lain. Lebih dari itu engkau berdua tampak sekali bersaing memperebutkan sesuatu. Padahal ketahuilah bahwa aku adalah seorang wasit tinju. Pekerjaanku adalah mengadu dan mempertemukan orang-orang yang saling siap bertarung. Maka kalau boleh aku ingin bertanya. Daripada saling menyindir, maukah engkau berdua aku adu, dalam pertandingan tinju antara kualitatif melawan kuantitatif.

Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Aku bersedia.

Wasit:
Tetapi ketahuilah bahwa pertandingan tinju itu hanyalah pertanyaanku-pertanyaanku yang perlu engkau jawab silih bergantian. Apakah setuju?

Kuantitatif dan Kualitatif secara bersama menjawab:
Setuju

Wasit:
Baiklah aku mulai dengan pertenyaanku.
Bagaimanakah engkau bisa mendefinisikan dirimu masing-masing?

Kuantitatif:
Aku adalah kuantitatif. Kuantitatif adalah diriku. Lima adalah contohnya. Maka lambang adalah diriku.
Obyektif adalah tujuanku. Konsisten adalah jiwaku. Tempat tinggalku di pikiran orang-orang.

Kualitatif:
Aku sulit mendefinisikan diriku, karena aku bersifat kualitatif. Aku juga sulit mengambil contoh buatku, karena contohnya sangat banyak dan kontekstual. Aku juga sulit mendefinisikan tujuanku karena itu semata-mata tergantung dari subyeknya. Tetapi yang paling merisaukanku adalah aku tidak tahu di mana jiwaku? Tempat tinggalku di hati setiap insan.

Wasit:
Jika engkau menjadi guru, bagaimanakah engkau mengetahui kompetensi siswa-siswamu?

Kuantitatif:
Aku buat soal obyektif. Aku hitung benarnya. Aku tak peduli keadaan mereka. Maka jika skornya tinggi maka nilainya tinggi juga. Titik. Begitu saja kok repot.

Kuantitaif:
Aku buat catatan-catatan portfolio. Aku membuat tugas. Aku sarankan mereka menggunakan komputer. Aku perkenankan mereka promosi diri. Kadang-kadang aku perlu mengobservasi dan wawancara dengannya. Menilai seseorang memang repot. Tidaklah mudah memberi predikat kepada seseorang. Bukanlah kalau kita memberi predikat tidak benar, ityu adalah dosa?

Wasit:
Bagaimana engkau menganggap dan bergaul dengan siswa-siswamu.

Kuantitatif:
Aku sebenarnya enggan menjawab pertanyaanmu itu. Pertenyaanmu itu terlalu naif bagiku. Apa perlunya saja. Pekerjaanku sangat banyak. Jadi aku batasi pergaulanku dengan siswaku. Kalau perlu aku menghindar bisa bertemu dengannya. Bagiku murid-muridku adalah banyaknya mereka sebanyak aku membilang.

Kualitatif:
Pertanyaanmu sangat baik. Itulah pertanyaan yang selalu aku tunggu. Aku memandang setiap siswa adalah dunia. Jadi setiap siswa adalah segenap isi dan misterinya. Maka tidaklah mudah bergaul dengannya. Aku harus mengembangkan metode dan teknologi agar aku mampu melayani belajar mereka. Mereka semua adalah berbeda-beda. Masing-masing perlu perhatian khusus. Bagiku murid-muridku masing-masing adalah benih-benih yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya memerlukan bantuan, pupuk, dan memberisihakan hama-hama.

Wasit:
Coba terangkan bagaimana anda satu dengan yang lain saling membutuhkan?

Kuantitatif:
Sebenar-benar diriku tidaklah memerlukan kualitatif. Bagiku kualitatif adalah tidak pasti dan itu menjadi keadaan buruk bagiku.

Kualitatif:
Sebenar-benar diriku adalah tidak sepenuhnya kualitatif. Aku masih membutuhkan kuantitatif dalam kegiatanku. Maka aku sangat perlu menjalin hubungan yang baik dengan kuantitatif.

Wasit:
Terangkan apakah cita-cita hidupmu masing-masing?

Kuantitatif:
Aku hanyalah berhenti di sini. Tiadalah cita-cita ada dalam hidupku.

Kualitatif:
Aku tidak tahu kapan aku mulai, dan au tidak tahu kapan aku berakhir. Cita-citaku adalah untuk semaksimal mungkin demi kemslahatan manusia semuanya. Aku berharap bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi semua.

Wasit:
Terangkan bagaimana anda masing-masing dapat membantu siswa belajar?

Kuantitatif:
Dengan metode numerik dan logika aku pastikan siswa-siswa melakukannya. Kepastian adalah jiwaku. Perhitungan-perhitungan adalah panglimaku.

Kualitatif:
Doa, motivasi, semangat adalah modal untuk belajar. Sikap dan perbuatan perlu disesuaikan agar murid mampu memperoleh kompetensinya. Dengan pengetahuan yang diperoleh, kemudian berilah kesempatan kepada murid-murid untuk mengembangkan keterampilan dan pengalamannya.

Wasit:
Bagaimana engkau beribadah?

Kuantitatif:
Aku lafalkan seribu kali doa. Beres.

Kualitatif:
Aku berlatih berdoa. Aku sadar tidak mudah untuk berdoa. Dari satu milyar doaku belumlah ada jaminan bahwa satu diantaranya dapat diterima. Tetapi ikhtiar adalah kewajibanku. Maka aku akan selalu mencoba untuk berdoa, karena aku yakin Tuhan YME akan mendengar setiap doa ku.

Wasit:
Prit..prit. Cukup. Dari catatan, observasi dan rekaman data serta kualitas jawaban. Aku memutuskan bahwa kualitatif telah memenangkan pertandingan, tetapi dengan catatan sebegai berikut: pertama, engkau tak boleh lagi saling mengejek apa lagi saling bertanding; kedua, engkau sebenarnya saling membutuhkan; ketiga, jika engkau mampu saling bekerja sama maka perolehanmu akan lebih besar dari yang sudah engkau peroleh selama ini; keempat, tetapi ingatlah bahwa pada setiap perjalananmu, maka kualitatiflah komandannya; kelima, dalam keadaan tertentu maka kuantitatif mampu bekerja sangat efektif dengan hasil yang besar jika didukung oleh kualitatif; dan terakhir, hidup rukunlah selalu selama hayatmu dalam saling harmoni. Amien.

30 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Kuantitatif dan kualitatif sama-sama mempunyai kekurangan maupun kelebihan. Kuantitatif bermain dengan data sedangkan kualitatif bermain dengan makna. Tetapi tidak semua dapat terselesaikan hanya denga hitungan data seperti kuantitatif, melainkan juga dapat dibutuhkan kualitatif untuk mengetahui maknanya. Sehingga keduanya sama-sama saling membutuhkan. Tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya, semua memiliki kekurangan dan kelebihannya.

    ReplyDelete
  2. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Hidup tidak melulu dinilai dari kuantitasnya, pun begitu dengan proses pembelajaran. Hidup dinilai dari seberapa besar kualitas ada, mengada dan pengada kita, baik pada saat berinteraksi dengan Tuhan, sesama manusia, binatang, tumbuhan, dan benda mati maupun makhluk Tuhan lainnya. Namun dalam mengukur kualitas terkadang dibutuhkan kuantitas. Sehingga untuk mencapai keharmonian, kita membutuhkan keduanya, kualitatif dan kuantitatif, untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  3. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY 2016

    Kualitatif dan kuantitatif tidak dapat dipisahkan satu lain. Untuk menjelaskan hal sesuatu yang bersifat kualitatif diperlukan data kuantitatif, dan untuk menjelaskan hasil kuantitatif diperlukan penjelasana kualitatif. Keduanya akan memberikan makna yang lebih dalam saat mampu berjalan bersama-sama dan melengkapi satu sama lainnya.

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum Wr. Wb
    Antara kualitatif dengan kuantitatif saling membutuhkan dan tidak dapat terpisahkan. Keduanya mempunyai kelebihan masing-masing. Semuanya tergantung dari mana yang dibutuhkan untuk suatu penelitian. Sehingga sangatlah perlu untuk memahami anatara kualitatif dengan kuantitatif agar bisa digunakan sesuai dengan kebutuhannya.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  5. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Manusia membutuhkan aspek kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif dan kualitatif tidak dapat dipisahkan di dalam kehidupan. Berdasarkan elegi ini, saya belajar bahwa kita harus bisa memaknai hidup baik secara kuantitatif dan kualitatif. Kita bisa meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan secara kualitatif dan meningkatkan kesejahteraan hidup secara kuantitatif.

    ReplyDelete
  6. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kualitatif dan Kuantitatif adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan bersinergi. Seorang guru dalam menilai muridnya memerlukan kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif untuk menilai aspek pengetahuan dan keterampilan, kualitatif untuk menilai spiritual dan sosial. Maka kuantitaif dan kualitatif bergantung ruang dan waktu. Ada saat kita memerlukan kuantitatif, ada saat kita memerlukan kualitatif, ada saat kita membutuhkan keduanya. Sebenar- benar orang cerdas adalah yang dapat menyesuaikan dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    ini adalah pertarungan antara pikiran (kuantitatif)dan hati(kualitatif).terkadang pikiran hanya dapat menerima fakta-fakta empirik dan mengabaikan hal-hal yang bersifat tidak kasat mata. maka dalam hal ini dibutuhkan kejelian mata hati untuk membaca dunia. mengikuti pikiran tanpa pertimbangan hati adalah kesombongan, namun mengikuti kata hati tanpa mau mempertimbangkan pikiran adalah kecerobohan. maka sebenar-benarnya manusia adalah harus menyeimbangkan kedua potensi dalam dirinya: hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  8. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Jika engkau (kualitatif dan kuantitatif) mampu saling bekerja sama maka perolehanmu akan lebih besar dari yang sudah engkau peroleh selama ini. Artinya bagi seorang guru kualitatif dan kuantitatif ini sangatlah penting dalam menilai siswa. Kuantitatif dan kualitatif ini harus bersinergi untuk menghasilkan nilai yang sesuai dengan seharusnya. Dengan melihat nilai yang diperoleh, sikap-sikap atau prilaku, bagaimana cara memperoleh jawaban dan sebagainya insyaallah akan memperoleh penilaian yang sesuai.

    ReplyDelete
  9. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Pada elegi diatas bahwa kuantitatif dan kualitatif tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan satu sama yang lain, walaupun keduanya memiliki peran masing-masing tetapi keduanya saling membutuhkan. Selain itu mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dan bagaiamana mereka bisa menutupi satu dengan yang lainnya. Dengan kuantitatif dan kualitatif ini dapat diterapkan dalam kehidupan kita agar bisa menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  10. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Kuantitatif diibaratkan akal dan pikiran, sedangkan kualitatif adalah hati. Berdasarkan elegi pertandingan tinju kuantitatif dan kualitatif ternyata yang memenangkan pertarungan adalah kualitatif, ini menunjukkan walaupun filsafat berarti olah pikir namun bukan berarti pikiran harus mendominasi ketika kita akan mengambil suatu keputusan, namun haruslah seimbang antara pikiran dan hati.Oleh karena itu ketika kita dihadapkan pada beberapa permasalahan, dan harus mengambil sebuah keputusan maka gunakanlah pikiran untuk mengolah tentang mana keputusan yang terbaik, mana yang paling banyak manfaatnya dan sedkikit kesalahannya, kemudian setelah kita berpikir dari berbagai sudut pandang maka baru kita gunakan hati kita untuk memutuskan pilihan.Karena sebenar-benarnya kuantitatif (pikiran) dan kualitatif (hati) adalah saling melengkapi

    ReplyDelete
  11. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Jika kita dihadapkan pada beberapa permasalahan, maka kita harus menggunakan atau mengolah dalam pikiran kita yang mana yang terbaik, yang mana yang paling banyak manfaatnya dan sedikit kesalahannya. Setelah kita memikirkannya dari segala macam sudut pandang, maka baru kita putuskan dalam hati. Kuantitatif disini diibaratkan akal dan pikiran, sedangkan kualitatif adalah hati. Jika guru-guru mampu menggabungkan antara Kualitatif dengan Kuantitatif maka jadilah guru-guru yang sebenar-benarnya profesional dan akan mampu mendidik siswa-siswanya menjadi siswa-siswa yang mampu berdaya upaya.

    ReplyDelete
  12. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend.Matematika Sub'12

    Aspek kuantitatif adalah dua hal yang sama – sama dibutuhkan dalam kehidupan, kuantitatif itu diibaratkan akal dan pikiran, sedangkan kualitatif adalah hati. Misalnya jika kita dihadapkan pada beberapa permasalahan, dan kita harus memutuskan satu diantaranya, maka disini kita harus menggunakan atau mengolah dalam pikiran kita yang mana yang terbaik, yang mana yang paling banyak manfaatnya. Setelah kita memikirkannya dari segala macam sudut pandang, maka baru kita putuskan dalam hati. terimaksih

    ReplyDelete
  13. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Kualitatif dan kuantitatif adalah hal yang berbeda namun saling melengkapi. Ibarat seorang guru yang mengajar di kelas, ia menuliskan perhitungan di papan tulis serta dilengkapi dengan penjelasan (kata-kata) baik secara lisan maupun tulisan, hal demikian dilakukan agar siswanya lebih paham. Jika hanya disajikan perhitungan saja tanpa penjelasan maka siswa akan sulit memahami, begitu juga jika hanya dijelaskan dengan kata-kata siswa akan sulit membayangkannya dan menjadi tidak paham. Hal demikian menunjukkan bahwa kualitatif dan kuantitatif saling mendukung dan tak dapat dipisahkan.

    ReplyDelete
  14. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Peneliti yang melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif maupun kuantitatif pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Jika kedua metode tersebut di mix akan lebih baik lagi, maka menjadi saling melengkapi. Kualitatif sendiri memiliki kekurang salah satuny adalah tidak bisa digeneralisasikan, berbeda dengan kuantitatif yang dapat digeneralisasikan. Namun kuantitatif sendiri memiliki kekurangan pula yaitu penelitiannya berdasarkan pada asumsi.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  15. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Kuantitatif menggunakan dasar hukum yang kuat melalui perhitungan yang dilakukan untuk membuktikan bahwa hipotesisnya benar. Sedangkan kualitatif mendiskripsikan permaslahan yang ada menggunakan tulisan. Keduanya jika dilihat sekilas seperti saling berlawanan, tetapi 2 jenis peneltian itu dapat dikombinasikan menjadi mix method. Sehingga lengkap, ada perhitungan untuk menguji asumsi, kemudian dijawabkan dijabarkan melalui penelitian kualitatif sehingga hasilnya menjadi lebih maksimum.

    ReplyDelete
  16. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis)

    ReplyDelete
  17. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Meskipun kualitatif dinyatakan unggul, namun kualitatif tetap membutuhkan dukungan dari kuantitatif. Keduanya memanglah dapat berdiri sendir-sendiri, namun kualitatif hanya berisikan deskripsi akan sesuatu yang masih bersifat luwes, sementara kuantitatif memiliki sifat yang kaku dengan numerik dan logika-logikanya. Maka sebaiknyalah keduanya harus saling mendukung, agar tidak terlalu luwes yang mengakibatkan ketidakkonsistenan dan agar tidak kaku yang mengakibatkannya sulit dipahami dan diterima secara umum.

    ReplyDelete

  18. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Kuantitatif maupun kualitatif sama sama memberikan makna dan keduanya penting. Keduanya akan memberikan makna yang lebih dalam saat mampu berjalan bersama-sama dan melengkapi satu sama lainnya. Jadi dalam dunia ini, termasuk dalam penelitian, kuantitatif maupun kualitatif harus sama sama di junjung tinggi.

    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  19. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Kualitatif dan kuantitatif adalah dua hal yang berbeda tetapi saling melengkapi. Karena dalam kasus-kasus tertentu ada hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kuantitatif tetapi akan lebih bermakna jika dapat diungkapkan dengan kualitatif. kuantitatif tanpa kualitatif maka akan monoton dan kualitatif tanpa kuantitaif maka akan general. jika dihubungkan dengan hal pendidikan di sekolah, guru-guru yang mampu menggabungkan antara Kualitatif dengan Kuantitatif maka jadilah guru-guru yang sebenar-benarnya profesional dan akan mampu mendidik siswa-siswanya menjadi siswa-siswa yang mampu berdaya upaya.
    Jika siswa mampu menggabungkan antara Kualitatif dengan Kuantitatif maka jadilah siswa memiliki skill berpikir rasio yang tinggi.

    ReplyDelete
  20. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Jika dikaitkan dengan pembelajaran, kenyataannya kebanyakan guru lebih banyak menggunakan kuantitatif daripada kualitatif. Kuantitatif dianggap lebih mudah untuk dilakuan. Padahal jika orientasi pembelajaran hanya fokus pada kuantitaif saja, maka pembelajarn menjadi kurang memperhatikan kualitasnya. Pembelajaran yang mementingkan kuantitatif hanya fokus hasil akhir saja tanpa peduli prosesnya. Di dalam pembelajaran, meskipun tidak dapat terlepas dari kuantitatif, kualitatif menjadi lebih penting. Maka hendaknya, pembelajaran menggunakan kualitatif sebagai acuannya dan kuantitatif sebagai pelengkaonya. Keduanya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik bila dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  21. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Kehidupan manusia berkaitan dengan kuantitatif dan kualitatif. Didalam menjalani kehidupan ini adalah dengan kualitas yang baik dan tentunya diringi dengan kauantitatif juga. Misalnya dalam beribadah, dinilai dari kualitas ibadahnya dan diiringi dengan jumlah pelaksanaannya. Ibadah yang baik adalah ibadah yang kualitasnya sesuai dengan tuntunan Al Quran dan As Sunnah, dan kuantitatifnya sesuai dengan aturan Al Quran dan As Sunnah. Semakin baik kualitas dan semakin banyak jumlahnya maka itu adalah hal yang baik.

    ReplyDelete
  22. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Paa dasarnya kualitatif dan kuantitatif berjalan pada perannya masing-masing, dimana keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan dilihat ari segi ketergunaannya. Demikian pula halnya dalam pembelajaran dikelas, keduanya diperlukan antara satu dan yang lain. Untuk itu, alangkah baiknya dalam menggunakan keduanya saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan satu dan lainnya.

    ReplyDelete
  23. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Baik kualitatif ataupun kuantitatif sama-sama mempunyai kelebihan. Namun kualitatif dirasa lebih baik karena benar-benar, secara awam, terperinci dalam mengetahui kualitas sesuatu. Sementara kuantitatif menghitung berdasarkan rumus dan teorema-teorema. Ibarat menggali, kita bisa mengetahui lebih banyak hal mengenai sesuatu yang ada di dalamnya, apa nama item nya, apa fungsinya. Dibandingkan dengan kita menentukan berapa item yang kita peroleh. Secara sederhana dan sepemikiran saya seperti itu.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  24. UR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Baik itu kuantitatif maupun kualitatif memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya dapat kita gunakan sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dihadapi serta tujuan apa yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Kendati demikian keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dalam kondisi tertentu penelitian dimulai dengan analisis kualitatif kemudian dikuantitatifkan. Dalam kondisi lain kita mngkualitatifkan hasil kuantitatif.

    ReplyDelete
  25. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Kuantitatif menekankan pada data-data, sementara kualitatif lebih menekankan pada kedalaman makna. Dalam konteks pengembangan pendidikan, maka penelitian kuantitatif dan kualitatif menjadi hal yang perlu dilakukan. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan, bukan terpisah satu dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  26. Wadiyono
    16701251021
    Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S2 2016

    Kualitatif dan kuantitatif adalah hal yang berbeda namun saling melengkapi. Ibarat seorang guru yang mengajar di kelas, ia menuliskan perhitungan di papan tulis serta dilengkapi dengan penjelasan (kata-kata) baik secara lisan maupun tulisan, hal demikian dilakukan agar siswanya lebih paham.Peneliti yang melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif maupun kuantitatif pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Jika kedua metode tersebut di mix akan lebih baik lagi….

    ReplyDelete
  27. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Kuantitatif dan kualitatif tidak ada yang lebih baik dibanding yang lain. Dalam masalah-masalah tertentu kadang manusia tidak dapat mencari solusi dengan kuantitatif saja, perlu adanya interpretasi dan data kualitatif. Begitu juga dengan kualitatif, kadang membutuhkan kuantitatif sebagai penguat argumen yang ada. Dari elegi ini kita bisa belajar bahwa menjadi pendidik memerlukan minimal dua kemampuan ini, kualitatif dan kuantitatif. Jika guru hanya memiliki satu kemampuan saja maka akan berakibat buruk bagi siswa. Siswa akan terpengaruh dengan pola pikir guru yang mengikuti kuantitatif atau kualitatif saja. Kedua kemampuan ini harus seimbang.

    ReplyDelete
  28. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Memang sering terjadi perdebatan antara kualitatif dan kuantitatif. Orang-orang kualitatif menganggap salah kuantitatif begitu pun sebaliknya orang kuantitatif menganggap salah kualitatif. Namun demikian, kuantitatif dan kualitatif masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kuantitatif adalah penelitian dengan yang sangat objektif yang penuh angka-angka, sedangkan kualitatif adalah penelitian yang menekankan kebermaknaan suatu fenomena yang diamati atau proses namun tingkat subjektivitas yang juga tinggi. Namun demikian Kuantitatif dan kualitatif bisa saling mengisi untuk memperkuat suatu penelitian.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  29. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif adalah menekan pada analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metoda statistika. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang lebih menekankan analisisnya dari pada proses penyimpulan deduktif dan iduktif serta pada analisis dinamika hubungan antar fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah.
    Ciri-ciri dari penelitian kuantitatif, meliputi: Permasalahan penelitian terbatas dan sempit, Mengikuti pola berpikir deduktif, mempercayai angka (statistika atau matematika) sebagai instrumen untuk menjelaskan kebenaran, membangun validitas internal dan validitas eksternal sebaik mungkin.
    Sedangkan Ciri-ciri penelitian kualitatif yaitu berupaya mengungkap keunikan individu kelompok, masyarakat atau organisasi tertentu dalam kehidupannya sehari-hari secara komprehensif dan rinci.
    Desain penelitian kuantitatif meliputi adanya minat, mengadakan hubungan kepada audiens, Menentukan Topik masalah yang bersifat umum, muncul pertanyaan pokok, mengumpulkan data yang diperlukan, memilih metode dengan pertimbangan waktu, biaya dan kemampuan, menentukan populasi, memasuki lapangan, pengumpulan data, analisis data, kesimpulan, penulisan laporan. Desain penelitian kualitatif adanya minat dan mengadakan hubungan antara audience, merumuskan pertanyaan pendahuluan, memilih metode dengan mempertimbangan waktu, biaya dan kemampuan, sampling purposif, triangulasi dan verifikasi, menganalisis data kemudian membuat laporan sehingga timbul pertanyaan baru. Begitu seterusnya desain ini disebut desain sirkuler.

    ReplyDelete
  30. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Kualitatif menggambarkan sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan angka dan materialisme. Tetapi kualitatif adalah persoalan yang lebih hakiki mengenai rasa dari realita yang di raih oleh manusia. Tidak peduli walau besarnya kuantitatif yang didapat bila manusia tidak bisa menyikapi dan mensyukurinya dia tidak akan menemukan esensi kualitas dan kebahagiaan dalam hidupnya. Sebaik-baiknya hidup adalah yang memperoleh kuantitas disertai dengan kualitas didalamnya. Dan seburuk-buruknya hidup adalah yang tidak meraih kuantitas dan tidak pula menemukan kualitas di dalamnya.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id