Feb 26, 2011

Elegi Menggapai Sastra Jawa




Oleh Marsigit

Sastra Jawa:
Masih persoalan misteri yang tersembunyi. Kenapa engkau masih risau? Bukankah itu adalah lumrah jika memang membawa manfaat. Salah satu manfaatnya adalah agar kebenaran itu dapat disampaikan dengan cara yang santun. Bukankan ancaman bagi orang yang tidak santun itu adalah kebodohan? Maka dengan ini saya akan memberikan sedikit ruang dan waktunya bagi para anggotaku untuk menguraikan epistemologinya, bagaimana mereka sengaja menyembunyikan ontologinya.

Wangsalan:
Kenalkanlah, aku adalah wangsalan. Pekerjaanku adalah menyampaikan kebenaran ontologis, tetapi epistemologiku adalah dengan cara tak langsung. Yang aku maksud dengan cara tak langsung adalah aku selalu membuat pendahuluan kepada setiap kalimatku agar yang mendengar atau menerima pesan dariku merasa nyaman.

Sastra Jawa:
Berikanlah contohnya?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini: “Dewa tirta, tirta andheging baita”.
Dewa tirta adalah Sang Yang Baruna.
Tirta andheging baita adalah pelabuhan.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Pra taruna, kondhang labuhe mring nagara”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada contoh yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Ujung jari, balung roning kalapa”
Ujung jari itu adalah kuku.
Balung roning kalapa itu adalah sada.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Winengkua sayekti dadi usada”

Sastra Jawa:
Masih ada yang lain?

Wangsalan:
Perhatikan kalimatku ini:”Balung janur, janur ingisenan boga”
Balung janur itu adalah sada.
Janur ingisenan boga itu adalah kupat.
Maka sebetulnya saya ingin mengatakan:”Widada, lepat saking sambekala”

Sastra Jawa:
Selain wangsalan, apakah masih ada?

Parikan:
Kenalkan saya adalah parikan. Fungsiku adalah untuk menyampaikan ajaran moral.

Sastra Jawa:
Berikan contohnya?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Kandang panggonan sapi”
Sebetulnya saya ingin menyampaikan pesan moral:”Ayo tandang sing premati”

Sastra Jawa:
Oh begitu, saya ingin contoh lagi?

Parikan:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak kawis, wontene ming awis-awis”
Sebetulnya saya ingin mengtakan:”Aja ngawis, nembah Gusti tanpa uwis”

Sastra Jawa:
Baiklah, apakah masih ada yang lainnya?

Purwakinanthi:
Kenalkan aku adalah purwakinanthi. Fungsiku juga seperti yang lainnya, hanya saja aku sangat memperhatikan keindahan.

Sastra Jawa:
Contohnya?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak laos, digodhog lestari atos”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”Dhurung jegos anggepe kaya wis bonthos”

Sastra Jawa:
Wah menarik, beri contohnya yang lain?

Purwakinanthi:
Perhatikan kalimatku ini:”Rujak jambe rujake wong dhemen ngame”
Sebetulnya saya ingin mengatakan:”tanpa gawe uripmu mung mampir ngombhe”

Sastra Jawa:
Apakah masih ada yang ingin menyampaikan?

Pasemon:
Kenalkan, saya adalah pasemon. Pekerjaan saya adalah menyampaikan pesan moral dengan cara simbolik atau tersirat. Aku sudah sering digunakan oleh para Wali dari Kerajaan Demak Bintara.

Sastra Jawa:
Silahkan beri contohnya?

Pasemon:
Perhatikan bait-bait nyanyianku:
"Ilir-ilir tandure wus sumilir", itulah pasemonku untuk mengajak orang-orang menggapai kesadarannya, karena kesadaran adalah awal dan pangkal dari ilmu. Sedangkan ajakanku itu dikarenakan adanya kesempatan untuk menuntut ilmu.

"Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar", itulah pasemonku untuk menggambarkan semangat "munculnya kesadaran" sebagaimana semangatnya temanten anyar.

"Bocah angon-bocah angon penekna blimbing kuwi", itulah pasemonku..bocah angon sama saja dengan bocah gunung pada Elegi saya yang lain, maksudnya adalah "keadaan tidak prejudice". Maka hanyalah orang-orang yang ikhlas dalam hati, berpikir netral, tidak prejudice, tidak berprasangka buruk, ikhlas dalam pikir atau pure-reason lah yang mampu menuntut ilmu. Maka hanya kepada merekalah aku menyuruh untuk menuntut ilmu atau "menek blimbing".

"Lunyu-lunyu penekna, kanggo masuh dodotira", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa mencari ilmu itu tidaklah mudah, yaitu seperti lunyu (licinnya) memanjat pohon. Ilmu iku kelakone kanthi laku (menek). Dodot itu pakaian (Jawa: jarit/sarung), maka "masuh dodot" itu artinya membasuh baju. Artinya, ilmu itu bermanfaat untuk kepentingan dan kebutuhan menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari.

"Dodotira kumitir bedhahing pinggir", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa hidup itu penuh dengan tantangan, persoalan dan cobaan serta ujian. Kalimatku itu juga untuk menggambarkan bahwa manusia itu punya sifat tidak sempurna. Kumitir itu berkibar, artinya pertanda yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia yang mampu menyadarinya sekaligus kesadaran akan adanya suratan takdir dari Nya.

"Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore", itulah pasemonku bahwa manusia juga ditakdirkan untuk berikhtiar. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika ybs tidak berikhtiar. Kanggo seba mengko sore, itu artinya untuk menggapai alam abadi atau akhirat.

"Mumpung jembar kalangane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya "ruang". Maka sadar akan ruang itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. Ruang itu adalah wadahnya ilmu. Sadar ruang itu artinya "mpan papan", mengetahui sedang bicara apa dan kepada siapa serta dimana. Itulah sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Mumpung padhang rembulane", itulah pasemonku untuk menggambarkan pentingnya sadar "waktu".Maka sadar akan waktu itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu. waktu itu adalah wadahnya ilmu. Sadar waktu itu artinya "mpan wektu", mengetahui sedang bicara apa dan kapan bicara. Itulah juga sopan santun memperoleh ilmu. Barang siapa tidak santun maka dia terancam tidak berilmu.

"Yo suraka surak hore", itulah pasemonku untuk menggambarkan bahwa suatu perolehan apapun, disadarai atau tidak disadari, itu harus merupakan kesadaran bahwa yang demikian semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka manusia itu harus pandai-pandai bersyukur. Amiin.

Sastra Jawa:
Padhang trawangan. Terimakasih, terimakasih pasemon, penjelasanmu sudah sangat jelas.
Pada periode berikutnya saya ingin member kesempatan para “tembang” untuk memperkenalkan dirimu masing-masing, kalau perlu berikan contohnya?

Mijil:
Aku adalah nama tembang. Tetapi aku mempunyai arti sebagai “lahir”. Maka tembanganku itu menggambarkan bagaimana keadaan permulaan kehidupan itu. Berikut adalah contoh tembang mijil:”Madya ratri kentarnya mangikis, sira sang lir sinom, saking taman miyos butulane, datan wonten cethine udani, lampahe lestari, wus ngambah marga gung” (Serat Srikandhi Maguru Manah dalam Soetrisno)

Sinom:
Aku adalah nama tembang. Aku mempunyai arti “muda”. Maksudnya aku bisa melambangkan keadaan seorang anak muda yang mulai berkembang. Tembangku “Mangkana janma utama, tuman-tumaneming sepi, ing saben rikala mangsa, masah amemasuh budi, laire anetepi, ing roh kasatriayanipun, susila anoraga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Maskumambang:
Kenalkan, aku juga nama tembang jawa. Maskumambang itu terdiri dari emas atau perhiasan. Kumambang berarti terlihat dan bersinar. Aku menggambarkan keadaan seorang anak yang menuju dewasa, sudah mulai akil balig, bersinar seperti perhiasan emas. Tembangku:”Gelangsaran Putri Cina kawlas asih, Wara Kelaswara, Pedhangen juren wak mami, Aja andedawa lara” (Serat Menak dalam Soetrisno)

Asmaradana:
Kenalkan aku adalah juga nama tembang jawa. Asmara itu cinta, dana itu memberi. Jadi aku menggambarkan keadaan remaja atau orang muda yang sedang berkisah kasih. Tembangku:”Dudu ngakeh trusing gendhing, ngakal lungiting susastra, ngakal ing gendhing jatine, babaring jatining sastra, kawitaning aksara, sawiji alif kang tuduh, mengku gaibul uwiyah” (Serat Sastra Gendhing dalam Soetrisno)

Dhandhanggula:
Dhandang itu hitam. Gula itu manis. Gula hitam itu manisnya madu. Jadi aku menggambarkan seseorang yang telah menemukan manisnya kehidupan, yaitu pasangan suami isteri. Tembangku:”Rukun Islam kang lima puniki, katindakna mring pra sasama, aja padha ditinggalke, rukun lima puniku, sahadate kang angka siji, kang angka lara salat, dene kang katelu, ramadhan nindakna pasa, kapat zakat ping lima ngibadah haji, rukun Islam sampurna” (Anom Surata dalam Soetrisno).

Kinanthi:
Kinanti itu menanti. Aku adalah ajakan untuk menapaki rumah tangga yang baik. Tembangku:”Mangka kanthining tumuwuh, kanthi harsayeng kayun, kanthi pedah luhung, sayekti kanthi utama” (Soetrisno)

Gambuh:
Gambuh itu cocok, harmoni, seimbang, jumbuh, selaras, serasi. Aku melambangkan kehidupan rumah tangga yang mawadah, warokhmah dan sakinah. Tembangku:”Rasaning tyas kayungyun, angayomi lukitaning gambuh, gambir wana kalawan hening ing ati, katenta kudu pitutur, sumingkiring reh tyas mirong” (Serat Sabdatama dalam Soetrisno)

Durmo:
Dur itu mundur. Mo itu momor. Maksudnya adalah aku menggambarkan keadaan di mana manusia sudah saatnya mundur dari dunia dan maju menghadapi akhirat. Tembangku:”Gunane sanepan paribasan jawi, ngaka madya krama hinggil, lire tata krama, kanggo jroning pasrawungan, tindak tanduk kang becik, tan tanpa kulakan, nanging bisa mranani”(Purwadi, Desa Mawa cara dalam Soetrisno)

Pangkur:
Pangkur betul-betul mungkur. Tidak ada waktu lagi untu menunda persiapan akhir menuju akhirat. Tembangku:”Mingkar mingkuring ukara, akarana karenaning mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartine ngelmu luhung, kang tumrap neng tanah jawa, agama ageing aji”(Serat Wedhatama dalam Soetrisno)

Megatruh:
Megat itu pisah. Ruh itu arwah. Megatruh itu pisahnya jiwa dan raga atau meninggal dunia. Tembangku:”Para jalma sajroning jaman pakewuh, kasudranira andadi, durune saya ndarung, keh tyas mirong murang margi, kasekten wus nora katon”(Serat Sabda Jati dalam Soetrisno)

Pocung:
Pocung adalah tata cara ngrupti orang meninggal dunia, memandikan, menyolatkan dsb. Tembangku:”Bapak pucung dudu watu dudu gunung, sangkaning ing sabrang, ngon-ingoning sang Bupati, yen lumlaku si pucung lembehan grana”.

Sastra Jawa:
Baik..baik..wah..wah njlimet tenan. Terimakasih. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Soetrisno, R, MSi, 2004, Nilai Filosofis Kidung Pakeliran, Yogyakarta: Adita Pressindoesti

29 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Filsafat terdapat dimanapun, selain di matematika juga terdapat di sastra jawa. Banyak istilah jawa yang dapat ditemukan artinya dengan kehidupan secara filsafat. Kebanyakan tembang sastra jawa menyiratkan kesadaran manusia akan hidupnya yang terkait dengan gustinya, lingkungannya, dan dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  2. Wangasalan, parikan, tembang-tembang jawa mengandung pesan-pesan moral kehidupan. Dalam budaya jawa nilai kehidupan yang ada mengandung filosofi kebaikan yang berbudaya luhur. Sehingga dalam menyikapi perkembangan jaman yang semakin modern, kita harus bisa menyaring akan adanya budaya yang masuk dalam kehidupan, contohnya budaya barata, ambil hal-hal yang positif. Akan tetapi, jangan sampai kita melupkan budaya kita sendiri, karena budaya milik kita adalah warisan sejarah yang tidak bisa terulang. Maka dari itu kita sebagi generasi penerus bangsa setidaknya harus bersama-sama “nguri uri kabudayan” yang berarti melestarikan kebudayaan.

    ReplyDelete
  3. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dalam sastra Jawa terdapat wangsalan, parikan, purwakinanthi dan tembang yang semuanya mengajarkan kebaikan selama hidup. Pada dasarnya kita diajari untuk berbuat kebaikan selama hidup karena yang disebut sebai ilmu pun yang baik dan bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  4. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Menyampaikan kebenaran haruslah dengan cara yang santun. Dalam sastra dan tembang jawa mengandung kebenaran yang merupakan falsafah kehidupan dan ajakan-ajakan pada kebenaran yang disiratkan dalam setiap baitnya. Oleh karena itu, dalam memahaminya, kita perlu lebih teliti dan hati-hati untuk menggapai ontologi sastra jawa.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  5. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PPs UNY PEP KElas A 2016

    Assalamu'alaikum, Wr.Wb.
    Menyampaikan sebuah pemikiran (khususnya dalam bahasa Jawa) dapat dilakukan melalui berbagai macam ragam. Bahasa menjadi sangat penting dalam filsafat, sebagai jembatan pesan dari pikiran seseorang untuk mengada dalam pikiran pihak lainnya. Yang dapat saya tangkap dalam elegi ini bahwa suatu pikiran dapat dinyatakaan dalam berbagai ragam cara yang santun menyampaikan pesan dengan menyembunyikan ontologinya. Untuk menggapai ontologi sastra jawa diperlukan pikiran guna membuka ontologi yang tersimpan didalam suatu pesan. Saya menyebutnya sebagai: berpikir dari sebuah pikiran.

    ReplyDelete
  6. Assalamualaikum Wr. Wb
    Dalam sastra jawa didalamnya terdapat manfaat, pesan atau nasihat bagi manusia. Serta menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun dan sopan sehingga hal-hal tersebut menjadi lebih indah dan bisa dimengerti.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Indonesia memiliki berbagai kekayaan budaya, salah satunya adalah sastra jawa. Bahkan dalam sastra jawa terdapat berbagai bentuk seperti parikan, purwakinanthi, tembang, dan berbagai macam lainnya yang berisi nasihat. Nasihat dalam sastra jawa tersebut disampaikan dengan bahasa yang indah. Dan seperti itulah seharusnya sebuah nasihat disampaikan. Nasihat yang disampaikan dengan keindahan tutur kata dan kesopanan tentu akan lebih enak di dengar dibandingkan nasihat yang diiringi kata- kata kasar dan cemoohan.

    ReplyDelete
  8. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Di dalam sastra Jawa tersebut banyak hal yang bisa dijadikan tuladha bagi kehidupan kita. Contohnya, yang mengajarkan kita untuk selalu ramah, sopan, menghargai, menghormati orang tua dan orang lain. Namun, orang asli Jawa sekalipun masih kurang pemahaman terhadap filsafat sastra jawa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu memperlajari dan membuka wawasan kita untuk belajar dari sastra Jawa.

    ReplyDelete
  9. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Sastra jawa merupakan sebuah identitas bahasa yang di dalamnya mengandung makna, adat, dan nasihat-nasihat. Tutur kata dalam sastra Jawa sangat sopan dan santun sehingga mudah untuk dimengerti. Tetapi hati-hati juga dalam mengucapkannya dan harus disesuaikan dengan kaidah-kaidah sastra Jawa.

    ReplyDelete
  10. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Sastra jawa merupakan salah satu tradisi peninggalan dari nenek moyang kita yang harus kita jaga, bukan hanya sebatas pada tradisi sastra jawa tapi juga untuk semua tradisi-tradisi yang ada di Negara kita yang nampaknya mulai terkikis dan hamper punah seiring dengan perkembangan zaman. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai tradisinya sendiri dan peninggalan bangsanya sendiri sehingga sudah sepantasnya bagi kita sebagai generasi muda untuk menjaga dan melestarikan tradisi-tradisi peninggalan dari nenek moyang kita

    ReplyDelete
  11. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Banyak sekali istilah dalam sastra jawa yang indah artinya meskipun saya tidak memahami secara penuh, tetapi dalam elegi ini dipaparkan secara singkat dan saya memahaminya. Sesungguhnya dalam sastra jawa ini sangat banyak unsur-unsur filosofis yang berguna dalam kehidupan manusia diataranya sadar akan ruang karena sadar akan ruang itu adalah suatu awal dan pangkal dari ilmu dan agar mengetahui sedang bicara apa dan kepada siapa serta dimana pembicaraan itu berlangsung.

    ReplyDelete
  12. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Di balik keindahan sastra Jawa ini, terkandung pesan dan nasihat yang ingin disampaikan oleh para penciptanya. Inilah cara orang jawa untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada orang lain, menggunakan cara yang halus dan sopan, bahkan dengan memikirkan keindahan di dalamnya.

    ReplyDelete
  13. Assalamualaikum wr. wb.

    Menelusuri sastra jawa klasik layaknya memasuki lautan makna. Pembaca dituntut tidak gegabah menangkap apa yang nampak, tetapi menggali apa yang ada di balik itu. Tetapi anehnya, nilai moral yang terkandung dalam sastra adiluhung kurang tergali dan teraktualisasi pada masa kini. Sastra adiluhung (jawa klasik) hadir melampaui sejarah, ruang, dan waktu. Demikian pula obyeknya adalah realitas kehidupan, meskipun dalam menangkap realitas tersebut sang pujangga tidak mengambilnya secara acak. Ia memilih dan menyusun bahan-bahan itu dengan berpedoman pada asas dan tujuan tertentu.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  14. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    Kemampuan untuk menangkap dan memaknai fenomena sosial-budaya yang diwujudkan dalam gagasan, pikiran, dan karya sastra tersebut menunjukkan bahwa individu adalah makhluk sosial yang tidak dapat terlepas dari campur tangan orang lain, budaya dan tradisi sekitar, dimana hal itu hidup dan dihayati dalam suatu komunitas tertentu. Individu tersebut telah menjadi subjek dalam suatu kelompok masyarakat atas gagasan, ide, pikiran-pikiran yang ada dalam karyanya, sehingga dapat dianggap mewakili suatu kelompok masyarakat tertentu. Hal demikian dapat dimaknai bahwa karya individu dapat dipahami lebih kompleks, tidak hanya terbatas pada struktur karya itu saja, namun lebih pada unsur sosiologi kemunculan karya tersebut.

    ReplyDelete
  15. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Sastra jawa memiliki anggota berupa wangsalan, parikan, purwakinanthi, dan lain-lain. Semua itu merupakan isitlah yang mempunyai fungsi tertentu. Sehingga dapat dikatakan bahwa sastra jawa itu sendiri memiliki manfaat untuk menyampaikan kebenaran ontologi secara tak langsung, menyampaikan ajaran moral secara simbolis maupun tersirat, dan lain-lain. Sastra jawa sendiri memiliki keindahan dalam bahasanya.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  16. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Filsafat di dalam sastra jawa juga terdapat metode-metode yang bisa dilkakukan kaitannya epistemologi dalam mengungkapkan sebuah ontologi yang sera keseluruhan agar mampu berfikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggung jawabkan maka hal yang harus dipenuhi dalam berfikir kritis diantaranya harus sistematis, harus konsepsional,harus koheren, harus rasional, harus sinoptik serta harus mengarah kepada pandangan dunia

    ReplyDelete
  17. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Sastra jawa yang didalamnya terdapat sekali produk produknya seperti tembang maupun parikan memberikan kita nasihat yang dikemas dalam budaya jawa. Nasihat nasihat yang diharapkan sampai kepada setiap hati manusia dengan tata bahasa yang halus sopan dan penuh makna.




    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  18. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Manusia harus bangun dari keterpurukan. Mempertebal keimanan kepada Allah. Menegakkan 5 rukun islam barusaha walaupun dengan kesusahan dan tantangan. Dengan tujuan untuk mencapai derajat takwa. Keimanan manusia masih terkadang naik turun, berlobang dan lain sebagainya. Oleh karena itu manusia diwajibkan untuk selalu mengintropeksi diri, memperbaiki dan membenahi diri agar dimatikan dalam keaadaan yang bertakwa.

    ReplyDelete
  19. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Sastra jawa dan tradisinya memiliki banyak arti filosofinya dalam kehidupan manusia. Lagu lir ilir memiliki banyak nilai filosofis tentang kehidupan. Jika dihayati maknanya terkandung bahwa manusi adalah makhluk yang lemah namun manusia harus bangun dari kelemahan dan keterpurukan. Mempertebal keimanan kepada Allah. Menegakkan 5 rukun islam barusaha walaupun dengan kesusahan dan tantangan. Dengan tujuan untuk mencapai derajat takwa. Keimanan manusia masih terkadang naik turun, berlobang dan lain sebagainya. Oleh karena itu manusia diwajibkan untuk selalu mengintropeksi diri, memperbaiki dan membenahi diri agar dimatikan dalam keaadaan yang bertakwa.

    ReplyDelete
  20. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Salah satu hal yang dibahas pada elegi diatas adalah tentang “Yo suraka surak hore" yang menggambarkan tentang apapun yang diperoleh manusia, disadari atau tidak ,haruslah merupakan kesadaran bahwa yang apapun yang kita terima, baik atau buruk semua hanya berdasar kehendak Allah SWT, dan yang demikian itu juga semata-mata karena kebesaran Allah SWT. Maka sudah sepantasnya manusia husnuzon pada semua rencana Tuhannya agar apapun yang menjadi takdir Allah dapat dilalui dengan hti ikhlas dan penuh rasa syukur.

    ReplyDelete
  21. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Sastra sebagai cermin masyarakat sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depan berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisinya. Sastra jawa, bisa dijadikan salah satu sarana untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dalam sastra Jawa terdapat banyak karya yang mengandung pesan atau nasihat yang ingin disampaikan oleh para penciptanya. Pesan atau nasihat itu meliputi segala pesan atau nasihat yang sangat baik bila diterapkan dalam kehidupan manusia. Inilah cara orang jawa untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada orang lain, menggunakan cara yang halus dan sopan, bahkan dengan memikirkan keindahan di dalamnya. Saya sebagai mahasiswa yang sedang mengemban ilmu di sini, merasakan budaya Jawa yang benar-benar ramah kepada saya, meskipun kita tidak saling mengenal sebelumnya, mereka selalu memberikan senyum. Sudah seharusnya kita semua melestarikan budaya kita agar selalu terjaga sampai pada generasi-generasi mendatang.

    ReplyDelete
  22. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Obyek pikir filsafat ialah meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Demikian pula dengan sastra jawa juga dapat kita jadikan sebagai objek pikir filsafat yang kita refleksikan melalui olah pikir filsafat. Di samping indah didengar dan diucapkan, di dalam sastra jawa terdapat banyak sekali pesan dan nasehat yang disampaikan dengan cara tidak langsung. Bahasa yang digunakan tidak dapat dengan mudah langsung dipahami oleh pendengarnya, tetapi setiap kalimatnya memiliki makna yang mendalam. Dengan nasihat yang seperti itu, orang-orang tidak akan mudah tersinggung. Dalam bahasa filsafat, sastra jawa memiliki epistemologi (cara) untuk menyembunyikan ontologi (hakekat)-nya. Menurut saya, budaya yang semacam ini perlu dilestarikan, kalau dalam bahasa Jawa diuri-uri, karena budaya ini sangat baik, tetapi sekarang ini banyak orang jawa yang sudah mulai melupakannya.

    ReplyDelete
  23. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Tembang macapat itu melambangkan perjalanan hidup manusia menjelajah ruang dan waktu dari mijil (metu/keluar) sampai kembali ke tanah (dipocung/kain kafan).
    Begitu hebatnya para ulama menarik perhatian orang masuk islam dengan ilir-ilir. Budaya jawa.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  24. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Sastra sebagai cermin (mirror) masyarakat sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depan berdasarkan imajinasi, perasaan dan intuisi. Pengertian ini tidak semata menganggap bahwa sastra merupakan hasil kopian dari kenyataan secara mentah, melainkan kenyataan yang telah ditafsirkan. Hal inilah yang mewarnai perjalanan sastra yang dalam konteks ini sastra dianggap sebagai ilusi dari kenyataan (refleksi) yang halus dan indah. Dalam elegi di atas yang diangkat adalah mengenai filsafat sastra jawa. Sastra jawa adalah salah satu sarana untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran tersirat secara santun dan indah. Adapun wangsalan, wangsalan adalah sastra jawa yang bertujuan untuk menyampaikan kebenaran ontologis. Kemudian parikan dan pasemon adalah sastra jawa yang berisi pesan moral. Jadi sesungguhnya proses kehidupan manusia dan pesan-pesan yang baik untuk kehidupan manusia dapat disampaikan dengan cara yang santun dan indah, yaitu melalui sastra jawa.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  25. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Wangsalan, parikan, purwakinanthi, pasemon maupun tembang merupakan bagian dari sastra jawa yang di dalamnya berisi banyak pesan moral yang dapat kita petik pelajaran baik. Pesan moral tersebut dikemas dengan kalimat yang indah, menggunakan bahasa yang halus, menunjukkan keluhuran bahasa dan sopan santun yang tinggi. Ini juga secara tidak langsung menunjukkan bagaimana orang jawa berfilsafat dan memahami kehidupan.

    ReplyDelete
  26. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Salah satu sastra yang dimunculkan dalam elegi di atas adalah tembang Lir-Ilir. Tembang lir-ilir ciptaan Sunan Kalijaga ini mempunyai makna yang mendalam dan dapat menginspirasi hakikat kehidupan kita. Karena dalam tembang jawa ini mengandung unsur-unsur ajakan untuk kembali kepada Allah, senantiasa mengingat kepada Allah, dan menahan hawa nafsu agar kita tidak terjerumuskan ke lembah yang tidak di ridho’i Allah, selalu mohon ampun kepada Allah. Sunan Kalijaga juga meningatkan kepada kita bahwa perbuatan baik dan amalan menempati peran penting termasuk Sahadat, Sholat, Zakat, Haji, Puasa dalam Islam sebagai bekal yang menentukan keselamatan seseorang yang harus dibawa dan dipertanggungjawabkan saat mereka mengalami kematian kelak. Lagu Lir Ilir memberi kita pelajaran dan pesan, hendaknya manusia menyadari, bahwa hidup di dunia ini tidak akan lama dalam bahasa jawa diibaratkan “urip iku sekedar mampir ngombe” yang maknanya hidup itu sementara, seyogjanya kita semua harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sehingga kelak kita akan siap ketika tiba saatnya kita semua dipanggil menghadap kehadirot Allah SWT.

    ReplyDelete
  27. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Jawa adalah suku yang penuh dengan budaya. Dalam sastra Jawa terdapat puisi, nyayian, pepatah, simbol dan lain-lain. Seperti adanya sinom, maskumambang, asmarandana merupkan contoh dari sastra Jawa tersebut. Banyak petuah yang ada di dalamnya. Bila kita dapat melaksanakannya maka kita akan dapat hidup dengan seimbang, rukun dan damai. Sebanarnya, para pendahulu kita misalnya orang-orang jawa masala lalu juga memiliki filosofi. Beberapa filsafat jawa yang bisa menjadi tuntunan dalam kehidupan manusia diantaranya:
    1.Memayu hayuning bawana, berarti bahwa kita sebagai manusia supaya melindungi bagi kehidupan dunia.
    2.Sukeng tyas yen den hita, berarti bahwa kita supaya suka/bersedia menerima nasihat, kritik, ataupun teguran untuk membuat hidup menjadi lebih maju.
    3.Jer basuki mawa beya, berarti bahwa keberhasilan seseorang itu diperoleh dengan pengorbanan.
    4.Ajining dhiri dumunung ing lathi, berarti bahwa nilai diri seseorang itu terletak pada ucapannya, baik atau buruk ucapan seseorang yang menentukan nilai seseorang.
    5.Ajining raga dumunung saka busana, berarti bahwa nilai badan seseorang itu terletak pada pakaian yang dikenakannya.

    ReplyDelete
  28. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Ajaran jawa kuno sering menggunakan filosofi (unen-unen/peribahasa) yang berhubungan dengan budi pekerti luhur dan etika kehidupan. Filosofi ini selalu digunakan sebagai pedoman agar dalam menjalani hidup selalu tertuntun ke dalam jalan yang lurus. Ajaran jawa kuno sering menggunakan filosofi (unen-unen/peribahasa) yang berhubungan dengan budi pekerti luhur dan etika kehidupan. Filosofi ini selalu digunakan sebagai pedoman agar dalam menjalani hidup selalu tertuntun ke dalam jalan yang lurus. Salah satunya adalah tembang Macapat, yang merupakan tembang klasik asli Jawa, dan pertama kali muncul adalah pada awal jaman para Wali Songo, dimana para wali pada saat itu mencoba berdakwah dan mengenalkan Islam melalui budaya dan diantaranya adalah tembang-tembang macapatan ini. Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Derajat serta Sunan Kudus adalah kreator awal munculnya tembang-tembang macapat. Apabila diperhatikan dari asal-usul bahasanya(kerata basa), macapat berarti maca papat-papat(membaca empat-empat).

    ReplyDelete
  29. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Menurut para filsuf, dalam pembahasan filsafat, terdapat suatu bagian pembahasan yang lebih istimewa daripada bagian yang lain. Dan seakan-akan, inti dari pembahasan filsafat ada pada bagian itu; ia memiliki pelbagai sebutan: filsafat utama, filsafat tinggi, ilmu tertinggi (a’la), ilmu universal (kulli), teologi (Ilahiyah), dan filsafat metafisika. Keistimewaan ilmu itu dari seluruh ilmu yang lain antara lain; Pertama, menurut pendapat orang-orang terdahulu, ilmu ini lebih argumentatif dan lebih meyakinkan dibandingkan dengan jenis ilmu yang lain. Kedua, ilmu itu menguasai pelbagai ilmu yang lain, dan pada hakikatnya merupakan raja dari semua ilmu. Oleh karena itu, seluruh ilmu membutuhkannya dan bergantung kepadanya, sedangkan ilmu tersebut tidak membutuhkan ilmu-ilmu lain. Ketiga, ilmu tersebut lebih universal daripada pelbagai ilmu yang lain. Karena itu, menurut filsuf terdahulu, kata filsafat memiliki dua arti. Pertama, pengertian umum dari pengetahuan rasional sebagaimana adanya, meliputi semua sains kecuali ilmu yang diperoleh melalui pewahyuan; kedua, adalah arti yang tidak umum yaitu teologi atau filsafat tinggi, yang merupakan bagian dari filsafat teoritis. Filsafat, menurut istilah umum adalah ilmu yang bukan diperoleh dari pewahyuan. Dan filsuf adalah seseorang yang mampu menguasai seluruh ilmu pengetahuan. Berdasarkan pemahaman umum terhadap filsafat ini, maka dikatakan filsafat adalah kesempurnaan jiwa manusia baik dari sisi teoritis maupun dari sisi praktis.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id