Feb 26, 2011

Elegi Menggapai Ontologi dan Epistemologi Jawa: Hubungan subyek predikat dalam Serat Sastra Gending

Oleh Marsigit

Ontologi menjawab hakekat yang ada. Serat Sastra Gending adalah karya Sultan Agung ing Mataram (1613-1645). Damarjati Supajar mengungkapkan bahwa karya ini mengandung nilai-nilai kefilsafatan yang tinggi. Di sini saya hanya fokus untuk mengungkap sebagian kecil saja dari isi Serat Sastra Gending yang menunjukkan adanya pemikiran tentang ontologi dan epistemologi hubungan SUBYEK-PREDIKAT. Hubungan subyek-predikat ini sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant (1724-1802) yang akhirnya menghasilkan proses berpikir ANALITIK atau SINTETIK.



Berikut saya nukilkan hubungan subyek-predikat dalam Serat Sastra Gending (Damarjati Supajar, 2001):

1. Jika subyeknya DZAT, maka predikatnya SIFAT. Hubungannya dijelaskan sebagai berikut:

Jawa:
Dat lan sifat upami, Sayekti dingin datira, Dupi wus ana sipate, Mulajamah aranira, Awal lan akhirira, Kang sifat tansah kawengku, Marang dat kajatinira

Terjemahan:
Dzat dan sifat selalu, lebih dulu dzatnya, ketika sudah ada sifat, yang disebut Mulajamah, yang awal dan yang akhir, sifat selalu termuat, dalam hakekat dzat

2. Jika subyeknya RASA maka predikatnya PANGRASA, jika subyeknya CIPTA maka predikatnya RIPTA, jika subyeknya YANG DI SEMBAH maka predikatnya YANG MENYEMBAH. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Rasa pangrasa upami, Yekti dingin rasanira, Pangrasa kari anane, Kang cipta-kulawan ripta, Sayekti dingin cipta, Kang ripta pan gendingipun, Kang nembah lan kang di sembah.

Terjemahan:
Hati dan pikiran ibaratnya, lebih unggul pikiran pasti, dari keberadaan pikiran, Sedang kreasi dan perangkaian, tentu lebih utama kreasi, dari rangkaian tembang, seperti yang menyembah danyang disembah.

3. Jika subyeknya adalah KODRAT maka predikatnya adalah IRADAT. Jika subyeknya YANG KADIM maka predikatnya YANG BARU, jika subyeknya SASTRA maka predikatnya GENDING, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya YANG MENYEMBAH, jika subyeknya RASA maka predikatnya PANGRASA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Yekti dingin kang pinuji, Kahanane kang anembah, Saking kodrating Hyang manon, Apan kinarya lantaran, Sajatining panembah, Wisesaning dat mrih ayu, Amuji ing dewekira.

Umpamane jalu lawan estri, Yen saresmi jroning rokhmat pada, Pranyata iku tandane, Tuhu tuhuning kawruh, Ing pamoring anyar lan kadim, Dat lawan sipatira,Sastra gendingipun, Kang rasa lawan pangrasa, Estri priya pamornya kapurba, Wening, Atetep tinetepan.

Terjemah:
Tentu lebih dulu yang disembah, dari pada yang menyembah, dari hakekat Hyang Agung, berguna sebagai sarana, hakekat penyembahan, kepada Dzat untuk keselamatan, memuja kepada Nya.
Seperti suami istri, bila bersetubuh dalam kebenaran, merupakan perumpamaan, bagi pengetahuan sejati, meleburnya yang fana dan baka, antara dzat dan sifat, antara sastra dan gending, antara hati dan pikiran, rahasis pria-wanita yang terangkum, menyatu dalam kesatuan.

4. Jika subyeknya adalah YANG BERCERMIN maka predikatnya adalah BAYANGANNYA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Mulajamah loroning ngatunggil, Tinggal rasa rasa kawisesan, Nging lamun dadi tuduhe, Wajib ing prianipun, Kadya ngakal pinurbeng alip, Lir warna jro paesan, Iku pamenipun, Kang ngilo jatining sastra, Kang wayangan gending, Sasirnaning cermin, manjing jatining sastra.

Terjemahan:
Mulajamah kesatuan dua hal, yang itu menjadi kiasan, substansi kejantanan, pemikiran yang bermula dari alif, itulah perumpamaan, yang bercermin ibarat sastra, danbayangan itu adalah gending, selesai bercermin, bayangan kembali kepada sastra.

5. Jika subyeknya adalah SUARA maka predikatnya adalah GEMA. Jika subyeknya adalah LAUTAN maka predikatnya adalah IKANNYA. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Lir kumandang lan swara upami, Kumandanging barat gending ngakal, Sastra upama swarane, Gending kumandang barung, Wangsul marang swara umanjing, Lir minojro samodra, Mina gendingipun sastra upama amandaya, Mina yekti anaya saking jaladri, Myang kauripanira.

Terjemahan:
Seperti gema dengan suara, gema itu perumpamaan gending, suara ibarat sastra, setelah gema gending berlalu, ia kembali kepada sastra, seperti ikan di lautan, ikan adalah gending, dan sastra adalah kehidupannya, ikan selalu kembali keair, yang menjadi kehidupannya.

6. Jika subyeknya adalah PRADANGGA maka predikatnya adalah GENDING. Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Pejahing mina awor jaladri, Jro samodra pasti isi mina, Tan kena pisah karone, Malih ngibaratipun, Lir niyaga nabuh kang gending, Niyaga sastranira, Gending gendingipun, Barang reh purbeng niyaga, Kasebuting niyaga dening kang gending, Panjang yen cinarita.

Terjemahan:
Ikan hidup mati di lautan, di dalam laut pasti berisi ikan, keduanya tidak pernah terpisahkan, seperti perumpamaan, seperti alat musik dengan pemainnya, pemain adalah sastra, alat musik adalah gendingnya, setelah selesai memainkan musik,baru bisa dipilah pemain dan alat, panjang bila harus dijelaskan.

Demikian seterusnya. Di dalam Serat Sastra Ganding tersebut masih disebutkan dan diuraikan:
Jika subyeknya adalah PAPAN TULIS maka predikatnya adalah TULISANNYA, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya adalah yang MENYEMBAH, jika subyeknya adalah MANIKMAYA maka predikatnya adalah BATARA GURU, jika subyeknya adalah DALANG maka predikatnya adalah WAYANG, jika subyeknya adalah BUSUR maka predikatnya adalah ANAK PANAHNYA, jika subyeknya adalah WISNU maka predikatnya adalah KRESNA.

Berikut saya tambahkan lagi:

7. Jika subyeknya PAPAN TULIS maka predikatnya adalah TULISANNYA, jika subyeknya YANG DISEMBAH maka predikatnya adalah YANG MENYEMBAH.
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Dewa watak hawa sanga, Wus kanyatan gumlaring bumi langit, Iku kawruhana sagung, Endi kang luhur andap, Upamane papan lawan tulisipun, Kanyatan ingkang anembah, Kalawan ingkang pinuji

Terjemahan:
Dewa dan sembilan hawa nafsu, fenomena bumi dan langit, itu harus menjadi pengetahuan, tentang yang tinggi dan yang rendah, seperti papan tulias dengan tulisan, bagaikan hamba yang menyembah, dengan Tuhan yang disembah

8. Jika subyeknya MANIKMAYA maka predikatnya adalah BATARA GURU.
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Papan moting kawisesan, Manikmaya purbaning papan wening, Tulise mangsi Hyang Guru, Sastra upama papan, Gending ngakal upama mangsi wus dawuh, Yen dingin mangsinira, Ngendi nggone tibeng tulis.

Terjemahan:
Papan tempat kekuasaan, Manikmaya menjadi papan azali, Batara Guru menjadi tulisannya, Sastra adalah papan, Kata yang tertulis ibarat gending, bila harus lebih dulu tulisan, dimana ia akan diguratkan.

9. Jika subyeknya WISNU maka predikatnya adalah KRESNA
Hubungannya dijelaskan sebagi berikut:

Jawa:
Kayata Narendra Kresna, Lawan risang Batara Wisnumurti, Iku ngibarat satuhu, Loro-loroning tunggal, Tanggal cipta sarasa sauripipun, Hyang Wisnu umpama sastra, Sri Kresna umpama Gending.

Terjemahan:
Seperti raja Khrisna, dengan dewa Wisnu yang Agung, itu hakekatnya, dua hal yang satu adanya, menyatu dalam berbagai halnya, Wisnu ibarat sastra, Khrisna ibarat gendingnya.


Demikianlah hanya sebagian yang saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Amiin

Referensi:
Dr. Damarjati Supajar, 2001, Filsafat Sosial Serat Sastra Gending, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru

26 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Dalam elegi ini dijelaskan bahwa Serat Sastra Gending memaparkan tentang hubungan subjek dan predikat. Dimana predikat adalah hal yang melekat pada subjek dan subjek menguasai predikatnya. Seperti subjek dzat predikatnya sifat. Dzat memiliki sifat-sifat yang melekat pada dirinya dan dzat tersebut berkuasa penuh atas sifat-sifatnya. Dan contoh-contoh lainnya. Maka seperti subjek Tuhan Yang Maha Esa berkuasa atas predikat ciptaaNya tanpa terkecuali. Maka dari itu hendaklah manusia tidak sombong, karna manusia tidak memiliki apapun yang memiliki segalanya adalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Isi serat sastra Gending oleh Sultan Agung ing Mataram mengandung nilai-nilai kefilsafatan yang tinggi dimanahubungan antara subyek predikat dalam ranah ontologi dan epistemologi t sejalan dengan Pemikiran Immanuel Kant. Subyek merupakan yang dikenai suatu perbuatan, sedangkan predikat merupakan yang melakukan perbuatan tersebut. Dimana dalam elegy diataas dicontohkan bila subyeknya papan tulis, maka predikatnya tulisannya.

    ReplyDelete
  3. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Dari elegi diatas, terlihat bahwa pemikiran tentang ontologi dan epistemologi hubungan subyek-predikat lebih dahulu dikemukakan oleh Sultan Agung ing Mataram dalam karyanya Serat Sastra Gending yang kemudian sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant. Dalam karyanya, Sultan Agung mengungkapkan bahwa antara subyek dan predikat, lebih dulu subyeknya dan predikat selalu termuat dalam hakikat subyek.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  4. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY 2016

    Seperti suatu kalimat (dalam pelajaran bahasa Indonesia), subjek akan mengawali predikat, predikat muncul setelah subjek disebutkan, demikian pula hubungan subyek-predikat yang dikemukakan oleh Sultan Agung ing Mataram dalam karyanya Serat Sastra Gending, akan muncul banyangan jika bendanya ada terlebih dahulu, akan muncul penyembah jika yang disembah ada terlebih dahulu, dan seterusnya. Demikian yang dapat saya pelajari dari elegi ini.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum Wr. Wb
    Subjek dan predikat saling berkaitan, tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Subjek itu memberikan makna kepada predikat. Subjek tanpa predikat tidak ada artinya begitu juga sebaliknya, predikat tidak akan bermakna tanpa subjek.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  6. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Elegi ini mengajarkan kepada saya, bahwa disebuah subjek pasti membutuhkan predikat. Begitupun juga manusia pasti membutuhkan predikat untuk memperoleh sebuah kejelasan tentang kehidupan di dunia ini dan , semua yang ada di dunia ini membutuhkan subjek untuk menjelaskan makna.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Subjek tidak dapat terpisahkan dari predikat. Sebagaimana dalam serat sastra gending karya Sultan Agung Ing Mataram. Jika subjeknya dzat maka predikatnya sifat. jika subjeknya suara maka predikatnya gema. Jika subjeknya bercermin predikanya adalah bayangannya. Manusia sebagai subjek di dunia ini tentu tidak dapat dipisahkan dari predikatnya yang salah satunya adalah perbuatannya.

    ReplyDelete
  8. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Hubungan subyek dan predikat dalam segala aspek kehidupan ditunjukkan pada elegi ini. Karena ajaran dasar moral dalam kehidupan manusia tidak lepas dari keterkaitannya antara subyek dan predikat. Mereka saling memaknai segala sesuatu. Subjek merupakan yang dikenai suatu perbuatan dan predikat adalah yang melakukan perbuatan tersebut. Subjek dan predikat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

    ReplyDelete
  9. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Elegi di atas menggambarkan bahwa sebuah karya Sultan Agung Ing Mataram yang ditulis oleh Damarjati Supajar yang mengaitkan antara subjek dan predikat. Dimana setiap subjek selalu memiliki predikat. Keduanya memang harus saling berkaitan agar memiliki sebuah makna yang bisa dimengerti.

    ReplyDelete
  10. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Dalam elegi di atas bisa dilihat bahwa ternyata filsafat juga ada dan dekat dengan kehidupan kita meskipun kadang kita tidak menyadarinya, ini terbukti dengan karya Sultan Agung ing Mataram (1613-1645) yaitu Serat Sastra Gending yang mengandung nilai-nilai filsafat yang menyatakan bahwa akan selalu ada hubungan antara subyek dan predikat, dimana subyek selalu mendahului predikat dan predikat selalu mengenai sifat dari subyek. Hal ini membuktikan bahwa sebenar-benarnya filsafat adalah untuk semua orang yang mampu melakukan olah pikir.

    ReplyDelete
  11. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Serat Sastra Gending karya Sultan Agung ing Mataram, perwayangan, dan budaya jawa yang lainnya menyadarkan kita bahwa sesungguhnya budaya jawa memiliki unsur filsafat yang dapat kita ambil pelajarannya. Dalam Serat Sastra Gending ini hubungan Subyek-Predikat sangatlah erat dan sangat penting, segala hal yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki hubungan Subyek-Predikat yang sangat erat. Seperti jika subyeknya Dzat, maka predikatnya Sifat, ini dapat dikatakan bahwa jika subyeknya manusia, maka predikatnya adalah sifatnya, perilakunya serta perbuatannya.

    ReplyDelete
  12. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Elegi ini membuktikan bahwa filsafat itu tidak hanya dipelajari oleh orang-orang pendidikan tetapi filsafat itu untuk semua orang. Filsafat juga ada dan dimiliki oleh orang-orang jawa, terbukti ditemukanya karya-karya yang mengandung nilai-nilai filsafat.Di dalam serat Sastra Gending jawa selalu ada hubungan antara subyek dan predikat, dimana subyek selalu mendahului predikat dan predikat selalu mengenai sifat dari subyek.

    ReplyDelete
  13. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Elegi di atas merupakan elegi yang menjelaskan bagaimana hubungan subyek dan predikat sesuai Serat Sastra Gending, salah satu karya yang mengandung nilai filsafat yang tinggi. Karya ini juga sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant. Salah satu contoh, jika subyeknya YANG DISEMBAH, predikatnya YANG MENYEMBAH. Seperti hubungan Tuhan dengan hambanya. Kita sebagai hamba selalu menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  14. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Subyek dan predikat merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, keduanya ada sebagai syarat terwujudnya sebuah proses. Ada hubungan sebab-akibat yang sangat erat diantara keduanya sehingga bisa dikatakan bahwa keduanya itu adalah satu. Comtohnya guru sebagai subyek maka murid adalah predikatnya. Tanpa adanya guru maka keberadaan murid tidak ada begitupun sebaliknya ,jika pengertiannya kita dari sisi proses maka bisa dikatakan guru adalah murid dan murid adalah guru.

    ReplyDelete
  15. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Subjek selalu membutuhkan predikat agar bisa bermakna. Maka seperti manusia, yang membutuhkan predikat untuk bisa mendapatkan status, kejelasan dan identitas yang menandakan arti kehidupan ini.


    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  16. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Filsafat sastra Jawa salah satu pedoman dalam menjalani kehidupan tentu selagi tidak bertentangan dengan ajaran agama. Supaya tidak terjadi salah memahami dan mengamalkannya. Di dalam sastra gending diatas kental dengan bahasa simbolik. Bahasa simbolik yang tertulis: sastra diartikan sebagai Tuhan yang mencipta, sedangkan gendhing adalah makhluk yang dicipta. Dan dalam serat Sastra Gending jawa selalu ada hubungan antara subyek dan predikat, dimana subyek selalu mendahului predikat dan predikat selalu mengenai sifat dari subyek.

    ReplyDelete
  17. Fitri ayu ningtiyas
    16709251037
    S2 p.mat b uny 2016

    Salah satu yang dibahas dalam elegi ini adalah tentang subjek dan prediket, dimana jika subyek adalah rasa maka predikatnya berupa pangrasa, jika subyek adalah cipta maka predikat berpa ripta, jika subyek adalah yang di sembah maka predikat berupa yang menyembah. Dalam hal ini seperti hati dan pikiran yang diibaratkan secara pasti lebih unggul pikiran berdasarkan keberadaan pikiran dan dari sisi keilmuannya.

    ReplyDelete
  18. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Melalui elegi ini, kita ditunjukkan bahwa dengan berolah pikir secara ekstensif dan intensif, kita akan menemukan berbagai hubungan ilmu pengetahuan, salah satunya tentang filsafat jawa yang ternyata berkaitan erat dengan pemikiran Immanuel kant. Tentu hal ini dapat kita lakukan bila kita mau belajar dan mencari ilmu pengetahuan. Selain itu, melalui elegi ini kita dapat melihat bahwa predikat selalu termaktub (melekat) di dalam subyek. Atau dapat dikatakan bahwa subyek berkuasa atas predikat.

    ReplyDelete
  19. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Menyadari akan penciptaan langit dan bumi dan segala isinya di alam semesta, menyadari adanya tugas manusia. Menyadari bahwa Pencipta lebih dahulu daripada yang diciptakan, Pencipta lebih unggul dari yang diciptakan. Menyadari bahwa yang disembah jauh lebih utama daripada yang disembah. Menyadari bahwa tiada yang berhak di sembah selain Allah, Allah Maha Pencipta, Allah Maha Kuasa dan Tidak ada satu hal pun yang luput dari Kuasa Allah.

    ReplyDelete
  20. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Menyadari akan penciptaan langit dan bumi dan segala isinya di alam semesta, menyadari adanya tugas manusia. Menyadari bahwa Pencipta lebih dahulu daripada yang diciptakan, Pencipta lebih unggul dari yang diciptakan. Menyadari bahwa yang disembah jauh lebih utama daripada yang disembah. Menyadari bahwa tiada yang berhak di sembah selain Allah, Allah Maha Pencipta, Allah Maha Kuasa dan Tidak ada satu hal pun yang luput dari Kuasa Allah.

    ReplyDelete
  21. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Elegi di atas menunjukkan bahwa Serat Sastra Gending karya Sultan Agung ing Mataram
    Memiliki nilai-nilai kefilsafatan yang tinggi. Dalam karya ini kita dapat mengangkap ontologi dan epistimologi hubungan subjek dan predikat yang sejala dengan pemikiran Immanuel Kant yang pada akhirnya menghasilkan proses berpikir analitik dan sintetik. Salah satu yang dapat kita pahami adalah tentang bagaimana hubungan Wisnu dan Kresna dimana Wisnu adalah subjek dan predikatnya. Predikat dikuasai oleh subjek, maka Kresna titisan dewa Wisnu, maka dalam diri Kresna ada sifat-sifat Wisnu yang melekat.

    ReplyDelete
  22. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Mehami elegi di atas, terlihat bahwa setiap subjek mempunyai objeknya sendiri. Maka sebaik-baik menjadi predikat adalah ketika mampu menyesuaikan dengan subjek yang ada. Dan semua akan menjadi bermakna ketika sesuai dengan konteks ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  23. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Dari elegi ini bisa dilihat bahwa segala sesutu itu memiliki pasangan. Subyek dan obyek itu tidak terpisahkan. Namun, bukan berarti subyek menguasai obyek atau obyek menguasai subyek. Keduanya saling berinteraksi dan melengkapi untuk menciptakan harmoni.
    Filofosi ini bukan hanya dimiliki oleh negara lain. Tetapi kita sendiri memiliki filosofi. Filosofi masyarakat pada masa lalu seperti dalam karya sastra. Filsafat jawa itu banyak sekali menggambarkan/ mengatur hidup manusia dalam tata krama dan peraturan jawa untuk menggapai sebuah keseimbangan hidup. Filsafat jawa itu seringkali mengedepankan perilaku yang baik menurut orang jawa. Tetapi filsafat jawa ini tidak hanya dapat dipergunakan oleh orang jawa, tetapi nilai yang terkandung dalam filsafat jawa itu bisa digunakan oleh semua orang karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang adiluhung.

    ReplyDelete
  24. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Subjek dan predikat adalah adalah dua hal yang saling berkaitan. Subjek adalah yang melakukan perlakuan sedangkan predikat adalah perlakuan yang dilakukan. Dalam sastra Jawa misalnya yang dituliskan di atas, “rasa pangrasa upami, Yekti dingin rasanira, Pangrasa kari anane, Kang cipta-kulawan ripta, Sayekti dingin cipta, Kang ripta pan gendingipun, Kang nembah lan kang di semba”, yag artinya “Hati dan pikiran ibaratnya, lebih unggul pikiran pasti, dari keberadaan pikiran, Sedang kreasi dan perangkaian, tentu lebih utama kreasi, dari rangkaian tembang, seperti yang menyembah danyang disembah”. Subjek dan predikat tidak hanya terdapat dalam kalimat namun dapat juga terdapat dalam kehidupan kita. Di mana keduanya ada kaitannya dengan kehidupan manusia. Misalnya hubungan manusia dengan manusia lainnya, maupun manusia dengan Sang Pencipta. Sehingga setiap sisi kehidupan manusia sebenarnya mempunyai subjek dan predikat yang saling berkaitan

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  25. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Sastra Gending berisi tentang ajaran-ajaran yang sangat bijak. Di dalamnya banyak mengajarkan kehidupan bagi manuasia, bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan, masyarakat social, keluarga dan bagaimana manusia bernegara.
    Sastra Gending sangat menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan, menjadikan Tuhan dia atas segalanya di bumi ini, bahwa manusia bukan apa-apa di hadapan Tuhan. Sastra Gending mengajarkan kita sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan kita harus saling menghormati satu dengan yang lain, saling menghargai antara yang tua dan yang muda. Bagi pencari ilmu Sastra Gending mengajarkan agar manusi mencari ilmu dengan tanpa meninggalkan ilmu agama sebagai pegangan hidup. Seorang pencari ilmu harus istiqomah berada di jalanNya agar dalam pencariannya dia tidak tersesat baik dalam mendapatkan maupun menjalankan keilmuannya. Dalam ehidupan bernegara Sastra Gending mengajarkan manusia untuk mentaati para pemimpin dan ulama, setiap manusia menghadapi masalah hendaknya para ulamalah yang menjadi tempat dia bertanya dan hendaknya pula untuk mencari kesepakatan manusia tidak meninggalkan musyawarah sebagai jalan mencari mufakat.

    ReplyDelete
  26. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Di dalam elegi ini bisa dilihat tingginya filsafat yang dimiliki oleh jawa. Setiap orang jawa memiliki kesadaran filsafat yang tinggi meskipun mereka bukan orang yang berpendidikan tinggi. terbukti ditemukanya karya-karya yang mengandung nilai-nilai filsafat. Hal ini membuktikan bahwa filsafat itu diajarkan kepada anak cucu diantaranya dengan perantara gending dan permainan-permainan anak. Dan dalam serat Sastra Gending jawa selalu ada hubungan antara subyek dan predikat, dimana subyek selalu mendahului predikat dan predikat selalu mengenai sifat dari subyek.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id