Feb 25, 2011

Elegi Menemukan Diriku Adalah Ketidak Adilan




Oleh Marsigit

Pikiranku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memikirkan satu hal saja. Nah ini aku sedang memikirkan Obyek A.

Obyek Bukan A Protes:
Wahai pikiran...kenapa engkau hanya memikirkan Obyek A saja? Padahal Obyek Bukan A itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau pikirkan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Penglihatanku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa melihat satu hal saja. Nah ini aku sedang melihat Obyek B.

Obyek Bukan B Protes:
Wahai Penglihatan...kenapa engkau hanya melihat obyek B saja? Padahal Obyek Bukan B itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau lihat. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Pendengaranku:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mendengar satu hal saja. Nah ini aku sedang mendengarkan Obyek C.

Obyek Bukan C Protes:
Wahai Pendengaran...kenapa engkau hanya mendengarkan Obyek C saja? Padahal Obyek Bukan C itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau dengarkan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Perasaan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa merasakan satu hal saja. Nah ini aku sedang merasakan Obyek D.

Obyek Bukan D Protes:
Wahai Perasaan...kenapa engkau hanya merasakan Obyek D saja? Padahal Obyek Bukan D itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau rasakan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mengatakan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mengatakan satu hal saja. Nah ini aku sedang mengatakan Obyek E.

Obyek Bukan E Protes:
Wahai Mengatakan...kenapa engkau hanya mengatakan Obyek E saja? Padahal Obyek Bukan E itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau katakan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Menulis:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa menulis satu hal saja. Nah ini aku sedang menulis Obyek F.

Obyek Bukan F Protes:
Wahai Menulis...kenapa engkau hanya menulis Obyek F saja? Padahal Obyek Bukan F itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau tulis. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Berdoa:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa berdoa satu hal saja. Nah ini aku sedang berdoa G.

Berdoa Bukan G Protes:
Wahai Berdoa...kenapa engkau hanya berdoa G saja? Padahal Berdoa Bukan G itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau gunakan berdoa. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Memakan:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memakan satu hal saja. Nah ini aku sedang memakan Makanan H.

Makanan Bukan H Protes:
Wahai Memakan...kenapa engkau hanya memakan H saja? Padahal Makanan Bukan H itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau makan. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mengarah:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa mengarah pada satu hal saja. Nah ini aku sedang mengarah ke Tujuan I.

Tujuan Bukan I Protes:
Wahai Mengarah...kenapa engkau hanya mengarah ke Tujuan I saja? Padahal Tujuan Bukan I itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama kemana engkau mengarah. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Memegang:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa memegang pada satu hal saja. Nah ini aku sedang memegang Obyek J.

Obyek Bukan J Protes:
Wahai Memegang...kenapa engkau hanya memegang Obyek J saja? Padahal Obyek Bukan J itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau pegang. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Mencintai:
Pada suatu saat dan suatu waktu aku hanya bisa mencintai satu hal saja. nah ini aku sedang mencintai Obyek K.

Obyek Bukan K Protes:
Wahai mencintai...kenapa engkau hanya mencintai Obyek K saja? Padahal Obyek Bukan K itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama untuk engkau cintai. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Berhenti:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa berhenti di suatu tempat saja. Nah ini aku sedang berhenti di Tempat Ini.

Tempat Bukan Ini Protes:
Wahai Berhenti...kenapa engkau hanya berhenti di Tempat Ini saja? Padahal Tempat Bukan Ini itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama sebagai tempat engkau berhenti. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Menjadi Subyek:
Pada suatu saat dan suatu tempat aku hanya bisa menjadi sebagai subyek tertentu saja. Nah ini aku telah menjadi Matematikawan.

Bukan Matematikawan Protes:
Wahai Menjadi Subyek...kenapa engkau hanya menjadi Matematikawan saja? Padahal Bukan Matematikawan itu banyaknya bermilyar-milyar dan mereka mempunyai hak yang sama sebagai subyek menjadimu. Maka aku menemukan bahwa sebenar-benar Dirimu itu adalah Tidak Adil.

Diriku:
Oh...hhh sang Bagawat kenapa setiap hal pada diriku selalu menghasilkan Ketidak Adilan?

Bagawat:
Itulah manusia yang mempunyai sifat serba terbatas. Dan itulah gunanya berpikir dan menyadari. Jikalau engkau telah menyadari betapa .....sangat sangat sangat sangat sangat ....sangat.... terbatas.... kemampuan dirimu itu, apalagi setiap hal pada dirimu selalu menghasilkan ke Tidak Adilan maka apakah lagi yang engkau banggakan dan engkau sombongkan pada dirimu itu. Tiada engkau sadari, maka engkau telah selalu berbuat dosa karenanya. Maka selalu mohon ampunlah kepada Tuhan Mu atas Ketidak Adilan yang setiap saat engkau produksi itu. Tiadalah manusia mampu menghilangkan kesombongan kecuali atas pertolongan Allah SWT. Amiin.

30 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Manusia cenderungnya hidup di dunia ini telah bersikap tidak adil. Kebanyakan manusia lebih banyak mengejar dunia tetapi akhiratnya tertinggal. Contoh lainnya, mahasiswa matematika hanya belajar matematika saja, sehingga ilmu lainnya seperti biologi, kimia, teknik, sastra tertinggal. Berarti manusia sudah bersikap tidak adil. Inilah yang membuktikan bahwa manusia sifatnya terbatas dan tidak bisa adil. Manusia hanya bisa berusaha adil, tetapi belum mencapai kesempurnaan adil. Keterbatasan manusia inilah yang mengharuskan manusia merendah dan memohon ampun pada Allah SWT atas kekhilafannya yang terkadang merasa hebat di dalam hati maupun di luar hati.

    ReplyDelete
  2. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Kita sebagai manusia harus menyadari bahwa kita memiliki banyak keterbatasan sehingga kita tidak boleh menyombongkan diri. Seperti yang diuraikan pada elegi di atas, bahkan apapun yang dilakukan manusia merupakan ketidakadilan. Lalu apa yang dapat disombongkan manusia? Maka selalu mohon ampunlah kepada Tuhan atas semua yang telah kita lakukan.

    ReplyDelete
  3. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Keterbatasan adalah milik manusia. Manusia memliki pikiran yang terbatas. Manusia tidak bisa memikirkan semua yang ada di hidupnya bersamaan. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan Prof Marsigit bahwa manusia memiliki epoche yang bisa menyimpan pikiran yang sedang tidak kita pikirkan. Betapa hebat dan agungnya Tuhan yang menciptakan otak manusia sedemikian rupa. Dengan keterbatasan tersebut, manusia tidak sewajarnya untuk berlaku sombong dan angkuh karena masih ada Tuhan di atas segala-galanya.

    ReplyDelete
  4. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Manusia disebut al-insan karena kecenderungannya akan sifat pelupa sehingga memerlukan teguran dan peringatan untuk mengingatkannya kembali bahwa dirinya diciptakan dengan segala keterbatasan yang menjadikan dirinya tidak pernah adil.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  5. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY 2016

    Elegi ini akan selalu membuka pikiran saya untuk menyadari bahwa manusia mempunyai sifat serba terbatas. Diriku selalu menghasilkan ke Tidak Adilan maka tidak perlu aku membanggakan dan menyombongkan apa yang ada dalam diriku. Aku tak mampu memikirkan bermilyar-milyar objek dan sifat yang ada diluar pikiran, penglihatan, perasa, pendengaran, dan perabaku, maka untuk apa aku sombong. Maha besar Allah SWT untuk segala keagungan yang dimiliki-Nya.

    ReplyDelete
  6. Assalamualaikum Wr. Wb
    Manusia itu memiliki sifat yang terbatas, sehingga dengan berpikir kita akan menyadari bahwa diri kita itu penuh dengan ketidakadilan. Sehingga janganlah sombong terhadap apa yang kita miliki. Dan tanpa kita sadari kita telah melakukan dosa yang banyak karenanya, sehingga senantiasalah memohon ampunan kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah kita perbuat dan semoga kita terhindar dari sifat sombong.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Karena sebenar- benar manusia itu terbatas maka ia cenderung tidak adil. Seorang manusia hanyalah memiliki 2 mata, maka bagaimana ia akan melihat seluruh objek yang jumlahnya tak terhingga di dunia ini? Manusia hanyalah memiliki dua telinga, maka bagaimana ia akan mendengar seluruh suara yang ada di dunia ini? Manusia hanyalah memiliki satu mulut dan satu lidah, maka bagaimanalah ia akan merasakan seluruh makanan yang beranekaragam di dunia ini? Manusia hanyalah memiliki dua tangan, maka bagaimana ia akan menyentuh seluruh objek di dunia ini? Manusia hanyalah memiliki dua kaki, maka bagaimanalah ia akan melangkah di hamparan bumi yang lias ini. Maka sebenar- benar manusia itu terbatas, oleh karenanyalah ia membutuhkan bantuan orang lain. Maka sebenar- benar manusia itu terbatas, oleh karenanyalah ia tidak memiliki hak untuk bersikap sombong.

    ReplyDelete
  8. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Elegi ini bercerita tentang rumah epoche yang sering menjadi topik perkuliahan. Yang dapat dimaknai bahwa jika kita telah fokus pada suatu hal maka yang lain akan tidak tampak dan masuk ke rumah epoche. Ya, tapi hal itulah yang dapat kita gunakan sebagai bahan refleksi diri seperti yang telah diungkapkan pada elegi ini. Bahwa manusia itu sifatnya terbatas, maka apalah yang dapat kita sombongkan, maka sering-seringlah kita memohonkan ampun kepada-Nya.

    ReplyDelete
  9. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    elegi ini mengajarkan kita untuk lebih mengenal diri, mengenali bahwa diri ini memiliki keserbaterbatasan,dengan keterbatasan itu kerap kali kita berbuat tidak adil pada segala hal yang kita adil, padahal ketika seseirang sudah berani menilai dan penilaiannya ini didasarkan pada satu pandangan, maka disitulah kita tidak adil.
    elegi ini juga mengajrkan kita untuk melihat dunia dari berbagai jendela, akan banyak pemandangan yang beragam yang bisa kita lihat melalui jendela-jendela itu, maka sebenar-benar manusia yang sombong adalah mereka yang mengatakan bahwa "hei.. pemandangan di jendela sebelah sini yang paling bagus", ini lah sebenar-benar ketidak adilan itu.

    ReplyDelete
  10. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Manusia tidak ada yang kesempurnaan, dibalik ketidaksempurnaan itu memiliki keterbatasan, dibalik keterbatasan itu manusia tidak bisa berbuat adil. Karena manusia sudah melebihi kapasitas yang tidak dimilikinya untuk berubat tidak adil. Oleh karena itu marilah selalu untuk banyak berdoa agar mendapatkan syafaat dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  11. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Secara ontologis manusia terlahir memang tidak mampu adil pada dirinya sendiri, seperti yang digambarkan dalam elegi di atas misalnya dalam hal melihat, manusia tidak pernah adil ketika melihat karena ia tak mampu melihat bagian belakang kepala (tengkuk),yang berarti selama ini kita hanya melihat bagian depan saja, sehingga kita sudah tidak adil terhadap dunia padahal dunia punya hak yang sama untuk kita lihat tapi kita tak mampu melihatnya secara keseluruhan karena pada hakekatnya manusia adalah mahluk yang terbatas.

    ReplyDelete
  12. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia itu tidak akan pernah adil dalam segala hal, adil kita terhadap suatu hal akan tidak adil bagi hal yang lain. Itulah manusia yang terbatas kemampuannya yang mengakibatkan manusia itu tidak adil, dan ketidak adilan inilah yang menjadi lumbung dosa bagi manusia. Oleh karena itu kita sebagai manusia yang serba terbatas seharusnya selalu memohon ampun kepada Allah SWT agar dosa atas ketidak adilan kita ini dihapuskan oleh Allah SWT. Amin.

    ReplyDelete
  13. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Manusia selalu mempunyai rasa tidak puas. Manusia terkadang selalu melihat ke atas bukan ke bawah. Terkadang manusia juga memikirkan hal-hal yang diluar batasnya. Begitulah manusia, sifatnya terbatas, maka apalah yang dapat kita sombongkan? Maka sering-seringlah kita memohon ampun kepada-Nya.

    ReplyDelete
  14. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Sebenar-benarnya kita adalah manusia yang tak sanggup berlaku adil. Namun yang kita lakukan hanyalah sebatas berusaha untuk menggapai keadilan itu. Apalagi bersikap adil terhadap pikiran, hal ini dikarenakan keterbatasan kita dalam berpikir. Implikasinya adalah janganlah kita menyombongkan diri karena kita manusia penuh keterbatasan. Mohon ampunlah kepadaNya agar dibebaskan dari sikap kesombongan.

    ReplyDelete
  15. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Bahwa adil itu sendiri mengandung makna objektif nyata. Manusia yang adil adalah yang tidak melebihi kewenangannya, beradab berarti berbudaya. Manusia yang beradab adalah manusia yang merupakan hasil olah pikir manusia dan dijadikan pedoman berperilaku.

    ReplyDelete
  16. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Kenyataan yang terjadi ternyata setiap hari kita selalu berbuat tidak adil dimna segala hal dihidup ini tersusun dari bermilyran sifat yang selalu berubah-ubah namun pada kenyataannya kita tidak menyadarinya justru kita dengan sombongnya menyimpulkan sesuatu hanya dengan satu kata dengan mengeliminasi sifat-saifat yang lainnya dan itu adalah bentuk dari ketidak adilan kita ini maka istighfar adalah langkah yang harus kita tempuh tatkala kita selalu lupa akan ketidak adilan itu karena kontradiksinya kita dalam hidup.

    ReplyDelete
  17. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Elegi ini sangat menarik. Elegi ini menyadarkan kita bahwa kita hanyalah makhluk yang sangat sangat terbatas. Segala kemampuan dan setiap yang kita lakukan selalu meliputi keterbatasan. Maka tidaklah pantas bagi kita untuk sedikitpun berlaku sombong. Karena keterbatasan itu, sebagai manusia kita tidak akan pernah bisa berlaku adil, bahkan terhadap diri kita sendiri. Di samping itu, tanpa kita sadari kita telah sering melakukan banyak dosa karena ketidakadilan yang telah kita perbuat sehingga hendaknya kita senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT dan memohon pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  18. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Keterbatasan adalah milik manusia, Sedang ketidakterbatasan adalah milik Allah. Maka kita tidak bole berlaku sombong tidak adil terhadap apapun yang ada di dalam hidup ini karena yang maha kuasa hanya satu yaitu Allah.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  19. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Walaupun manusia tahu bahwa dirinya bagian dari ketidakadilan, akan tetapi itu bukan berarti bahwa dirinya tidak dapat berbuat adil atau berusaha berbuat adil, karena keadilan akan membawa banyak manfaat bagi hidup kita. berlaku adil terhadap apa yang kita pikirkan adalah sulit karena keterbatasan kita dalam berpikir, maka kesadaran dan memohon ampun serta membebaskan diri dari belenggu kesombongan adalah bentuk usaha kita untuk berbuat adil terhadap diri dan pikiran kita. Aamiin

    ReplyDelete
  20. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Manusia berjalan diatas keadilan dan ketidakadilan. Manusia tidak bisa melihat kekanan sekaligus kekiri, manusia tidak bisa melihat keatas sekaligus kebawah, manusia tidak bisa melihat kedean sekaligus kebelakang. Manusia juga masih banyak yang tidak seimbang antara dunia dan akhirat. Ketika mengejar dunia maka kadang lupa dengan akhiratnya. Ketika mengejar akhirat kadang masih teringat dengan urusan dunia dan itulah godaan syetan. Oleh karena itu berdoalah kepada Allah, karena atas rahmat dan karunia serta kuasa Allah kita dapat terlindung dari godaan syetan.

    ReplyDelete
  21. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Dalam hidup manusia tidak luput dari apa yang dinamakan keterbatasan. Karena apapun yang dapat dilakukan manusia, ada suatu hal yang membatasinya jika manusia mau mencoba menyadarinya. Diantara semua keterbatasan itu, seharusnya manusai menyadari segala kekurangan yang dimilikinya, agar selalu merasa kosong, terhindar dari kesombongan dan selalu berupaya menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan tidak ada manusia yang mampu menghilangkan kesombongan kecuali atas ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  22. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Kita sebagai manusia tidak akan pernah bisa adil dalam hidup kita. Contohnya saja kita tidak tidak pernah menengok ke bagian belakang kepala kita kecuali kita menggunakan cermin tiga dimensi. Selama ini yang kita lihat hanyalah bagian depan wajah saja, berarti sebetulnya kita semua ini tidak adil terhadap dunia karena dunia mempunyai hak yang sama untuk dilihat, tetapi kita tidak mampu untuk melihatnya. Jadi manusia itu terlahir tidak bisa mampu adil kepada dirinya sendiri. Tapi karena itulah manusia bisa hidup, maka dikatakan bahwa manusia itu tidak sempurna dalam kesempurnaan dan sempurna dalam ketidaksempurnaan.

    ReplyDelete
  23. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Manusia adalah terbatas, maka dia tidak bisa menjadi seadil-adilnya makhluk. Sehebat-hebat aku mengucapkan pikiranku melalui kalimatku maka aku tak akan mungkin mampu mengucapkan semua pikiranku. Sehebat-hebat tulisanku, tidak mungkin mampu menulis semua yang aku ucapkan. Sehebat-hebat tindakan dan langkahku, tidak lah mungkin mampu melaksanakan semua tulisanku, kata-kataku, atau pun pikiranku. Setiap hal pada diri kita selalu menghasilkan ketidak adilan. Lalu apakah yang bisa kita banggakan dan sombongkan? Sungguh berdosa jika kita bangga dan sombong di hadapan Tuhan. Maka mohon ampun lah pada Allah atas segala ketidakbaikan dalam diri kita.

    ReplyDelete
  24. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Betapapun manusia sudah merasa berbuat adil, pastilah tetap tidak adil dari segi yang lain. Kecuali yang Maha Adil. Pada badan sendiri saja kita tidak adil. Contohnya : mengapa hanya mata kanan yang disebut mata kanan?Mengapa mata kiri tidak?Mengapa hanya jari manis yang disebut jari manis?Jari yang lain tidak?Begitu seterusnya. Profesi sebagai hakim juga, dituntut adil. Maksud dari adil di sini juga yang salah harus dapat ganjaran. Itulah adil menurut manusia. Karena kita sudah tau ada konsep hati baik dan buruk.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  25. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Sehebat-hebat manusia tidak akan mampu mencapai adil yang seadil-adilnya. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas, melihat terbatas, mendengar terbatas, makan terbatas, bicara terbatas, dan lain sebagainya. Maka manusia adalah tidak sempurna dalam kesempurnaan dan sempurna dalam ketidaksempurnaan. Tidak pantas manusia merasa sombong apalagi mengagungkan diri sendiri. Sebab kita hanyalah setitik makhluk ciptaan Alloh. Diatas langit masih ada langit, dan sesungguhnya kesempurnaan hanyalah Alloh yang memiliki.

    ReplyDelete
  26. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Manusia dengan segala keterbatasannya seharusnya tidak pantas berbuat sombong. Kesombongan hanya akan membuat manusia semakin terperosok dalam dosa. Meskipun manusia itu terbatas tetapi sebenarnya manusia bia berusaha melampaui batas. Meskipun bukan berarti manusia bisa melampaui batas itu. Hal yang saya dapat yaitu kita tidak boleh berdiam diri saja. Kita harus terus berikhtiar dan berdoa. Tidak hanya berhenti di satu tempat. Manusia hendaknya selalu berfilsafat untuk meningkatkan dimensi berpikirnya. Teruslah bergerak maka ilmu akan mengalir.

    ReplyDelete
  27. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Manusia itu sifat, banyak kekurangannya. Manusia itu diciptakan dalam bentuk yang sempurna, tetapi tidak sempurna. Sempurna karena diberi anugerah berupa hati dan pikiran. Tidak sempurna karena salah satunya adalah tidak bisa adil dalam segala hal, contohnya adalah tidak bisa adil dengan pandangan belakang kita. Maka manusia itu semurna dalam ketidaksempurnaan, sehingga tidak boleh sombong dengan apa yang dimilikinya. Karena kesombongan hanya akan membuat hati menjadi kacau, selain itu masih ada yang lebih tinggi dari kita, karena kesombongan yang sesungguhnya adalah milik Tuhan yang Maha segalanya.

    ReplyDelete
  28. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Berawal dari sifat manusia, bahwa manusia memiliki ketidaksempurnaan dan keterbatasan. Ketidaksempurnaan dan keterbatasannya ini yang mengakibatkan manusia bersifat reduksionis. Begitulah manusia memiliki sifat yang terbatas. Di dalam pikiran saja hanya mampu memikirkan satu hal dalam satu waktu dan saat ingin memikirkan dua hal dalam waktu bersamaan yang terjadi maka apa yang dipikirkan tidak memperoleh jawaban yang baik tetapi malahan menjadi suatu penyakit, dalam berbuat manusia hanya mampu melakukan 1 hal dalam satu waktu saat ingin melakukan 2 hal dalam satu waktu terkadang hasil yang diperoleh tidak maksimal dan tetap saja itu dianggap tidak adil karena masih banyak hal lain yang dapat dilakukan. Walaupun manusia tahu bahwa dirinya bagian dari ketidakadilan, akan tetapi itu tidaklah berarti bahwa dirinya tidaklah tidak dapat berbuat adil atau berusaha berbuat adil, karena keadilan akan membawa banyak manfaat bagi hidup kita. Kalau menurut saya keadilan itu tidaklah selalu berarti sama rata, terkadang keadilan itu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Contoh kecilnya saja dalam keluarga pemenuhan ini akan adil jika orang tua jika orang tua ketika memenuhi kebutuhan anak disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak bukan didasarkan pada satu anak saja. Dengan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari ketidakadilan,maka tidaklah patut kita hidup di dunia ini dengan menyombongkan diri.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  29. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Saya teringat pernyataan Kull Ahmad Agha, “Pada setiap orang ada sifat sombong yang tidak dapat ditundukkan. Dengan perantaraan musibah dan kesulitan ini Allah Swt ingin menghancurkan kesombongan tersebut. Musibah dan kesulitan ini perlu supaya manusia tidak lupa diri.

    ReplyDelete
  30. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Dari elegi diatas, dapat diartikan bahwa manusia tidak boleh sombong dan tinggi hati karena pada hakikatnya manusia memiliki berbagai macam limitasi dalam kehidupannya yang mendorong manusia untuk bersikap tidak adil. Manusia harus menyadari bahwa manusia dibatasi oleh ruang dan waktu. Keterbatasan atau limitasi itu penting bagi manusia untuk bisa menemukan jati diri dan kesadaaran atas keberadaannya dalam dimensi ruang dan waktu. Selalu rendah hati dan tidak juga merendahkan yang lainnya merupakan sikap yang bijkasana.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id