Nov 6, 2014

Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya



Ass wr wb, ketika aku baca lagi Elegi ini, aku merasa ini penting untuk mengetahui batas pikiran. Oleh karena ini Elegi ini sengaja aku angkat ke permukaan kembali agar dapat disimak lebih banyak lagi oleh para pembaca. Selamat membaca. Wss wr wb

Oleh Marsigit

Pikiranku:
Oh...hoh... kalau tidak salah itu yang namanya Fatamorgana. Hem...sekali lagi dia berusaha menggodaku. Jelas-jelas dia memang bermaksud menguji pikiranku. Wahai Fatamorgana...agar aku mampu memecahkan misterimu...maka bersedialah engkau berkomunikasi denganku?

Fatamorgana:
Aku mempunyai caraku sendiri dalam berperilaku sebagai Fatamorgana. Jika aku tunduk dengan perintah-perintahmu maka tidaklah lagi aku bernama Fatamorgana.

Pikiranku:
Waha...tahu saja aku akan dirimu. Wahai Fatamorgana...engkau itu sebetulnya adalah Intuisiku.

Intuisiku:
Selamat aku ucapkan kepada dirimu, bahwasanya engkau itu hampir saja bisa menangkap Fatamorgana. Tetapi ketahuilah bahwa intuisimu itu hanya sebagian dari sifat Fatamorgana itu. Adalah tidak adil bahwa sifat yang sebagian itu engkau peruntukan untuk menamakan keseluruhan. Jika Intuisi adalah Fatamorgama, maka belum tentu Fatamorgana itu Intuisi.

Pikiranku:
Welah...ternyata belum pas juga. Baiklah Fatamorgana, sekarang pasti aku akan benar. Melihat gejalamu maka engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Etik dan Estetika.

Etik dan Estetika:
Wahai Pikiran, ketahuilah bahwa Etik dan Estetika itu bisa bersifat pribadi, kelompok atau universal. Lihatlah Fatamorgana itu! Dengan lincahnya dia itu berlari-lari dari pribadi, menuju kelompok, menuju universal atau sebaliknya. Padahal dirimu tidak bisa menunjuk ruang dan waktunya Fatamrgana sekarang itu. Maka adalah terlalu gegabah jika engkau menunjuk dia hanya sebagai Etik dan Estetika. Jika Etik dan Estetika adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu Etik dan Estetika.

Pikiranku:
O..iya ya. Hemm...aku belum akan menyerah. Tetapi mengapa engkau tidak pula segera pergi dariku? Ah ini pasti aku akan betul. Wahai Fatamorgana engkau itu pastilah Superegoku.

Superego:
Wahai Pikiranku...pusat pengendalian Superegomu itu adalah pada Egomu. Ketahuilah bahwa Egomu itu hanyalah sebagian kecil saja dari pengendalian Fatamorgana ini. Maka tiadalah tepat jika engkau katakan bahwa Fatamorgana itu adalah Superegomu. Jika Superego adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Superego.

Pikiranku:
Wahai Fatamorgana engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Bayanganku sendiri?

Bayangan:
Wahai Pikiran...lihatlah di sebelah sana! Ada bagian Fatamorgana tidak selalu mengikuti dirimu. Bagaimana mungkin Fatamorgana adalah hanya bayanganmu jika sebagian sifatnya adalah ternyata bayangan orang lain. Jika Bayanganmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah bayanganmu.

Pikiran:
Wahai Fatamorgana kurangajar betul engkau itu, telah membuat marah pikiranku. Engkau itu kan cuma Fenomena. Hanya Fenomena saja, kok sombongnya luar biasa.

Fenomena:
Wahai Pikiran...ketahuilah bahwa menurut Immanuel Kant, Fenomena adalah sesuatu obyek yang bisa dipersepsi dengan panca indera. Sedangkan ada dari bagian Fatamorgana, tidak dapat dipersepsi menggunakan panca indera. Itulah yang disebut Noumena. Jika Fenomena adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Fenomena.

Pikiran:
Wahaha....haha....mau minteri orang pinter ya kamu! Alasanmu itulah sebenar-benar telah menunjukkan bahwa misteri itu telah terungkap. Kan... kalau begitu...ya gampang saja....Singkat kata Fatamorgana ya sekaligus Fenomena dan Noumena, ...gitu aja kok repot.

Fenomena dan Noumena:
Wahai Pikiran..aku menyayangkan sifatmu yang sombong. Kesombonganmu itulah penyebab engkau termakan mitos. Ketahuilah bahwa teori Fenomena dan Noumena itu kan hanya teorinya seorang Immanuel Kant. Kenapa engkau serahkan hidupmu seribu persen kepada teori itu. Bukankah hal yang demikian menunjukkan bahwa sebenar-benar dirimu itu adalah telah mati, dikarenakan tidak mampu lagi berpikir kritis. Pendapat seseorang adalah suatu tesis, maka wajib hukumnya bagi pikiran kritis untuk mencari anti-tesisnya. Jika Fenomena dan Noumena adalah Fatamorgana maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Fenomena dan Noumena.

Pikiran:
Wah heh huh hah kok kak tut tat tit tut tat tit weil weil thong thong shot...udah-udah pergi sana aku tidak butuh lagi memikirkanmu.

Fatamorgana:
Hemhem...sudah sampilah pada saatnya engkau itu tak berdaya.

Pikiran:
Woh...nanti dulu. Aku merasa gengsi kalau tidak bisa memecahkan misterimu itu. Tetapi segenap daya dan upaya pikiranku ternyata tak mampu memecahkan Fatamorgana ini. Wahai Hatiku telah sampailah diriku itu dipenghujung batasku. Padahal penghujung batasku itu adalah Hatiku. Bolehkah aku meminta bantuan dirimu untuk memecahkan misteri siapakah Fatamorgana didepanku itu?

Hatiku:
Ketahuilah wahai Pikiranku, bahwa tidaklah mungkin dirimu mampu mengetahui segala seluk beluk Hatimu. Sedangkan kalimatmu itupun tidak mampu mengucapkan dan menuliskan segala pikiranmu. Tindakanmu tidak akan mampu menjalani semua tulisamu. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan Fatamorgana ini hanya dengan kalimat-kalimatmu itu, kata-katamu, dan tulisan-tulisanmu? Sedangkan diriku itu pun tidak seluruhnya mampu merasakan Fatamorgana. Maka tidaklah cukup jika engkau hanya mengandalkan Hatimu sendiri. Ujilah dengan Hati para subyek diri yang lain. Jika Hatimu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Hatimu.

Hati Subyek Diri yang Lain:
Sebentar dulu...emangnya urusanku hanyalah Fatamorganamu. Sedangkan akupun sedang menghadapi Fatamorgana yang lain. Fatamorgana diriku saja aku sulit memecahkan, apalagi Fatamorgana dirimu. Hati pertama: ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap hati manusia. Hati kedua:ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap pikiran manusia. Hati ketiga: ketahuilah bahwa Fatamorgana dapat berada diluar hati atau diluar pikiran.

Pikiranku:
Wahai para Hati...cukup-cukup. Tidak mau menjelaskan Fatamorganaku malah bertengkar sendiri. Okey...saya akan bertanya kepada Nasibku. Wahai Nasibku...tinggal dirimulah aku meminta tolong. Apa dan siapakah Fatamorgana ini?

Nasibku:
Wahai Pikiran...sebagian Nasibmu itu adalah tersembunyi sifatnya. Jika engkau mengetahui semua nasibmu, maka hal demikian bertentangan dengan hakekat dirimu sebagai manusia. Ketahuilah bahwa nasibmu itu ternyata bisa pula menjadi Fatamorgana. Jika Nasibmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu bahwa fatamorgana itu adalah Nasibmu. Adalah hanya ditangan Allah SWT segala Nasibmu itu berada. Lahir, mati dan jodhoh itu ada ditangan Tuhan. Manusia itu hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Maka sekecil-kecil dan sebesar-besar persoalanmu itu serahkan saja kepada Tuhan. Berdoalah dengan tawadu’ dan ikhlas. Allah SWT akan selalu mendengar doa orang yang ikhlas. Amiin

Pikiranku:
Hemm...baru kali ini Pikiranku mendapat persoalan yang begitu besar dan hebat. Baiklah aku akan bertanya kepada Doaku. Wahai doaku, bersediakah engkau menjelaskan kepada diriku apa dan siapa Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...pikiran...pikiran...sombong dan bengal amat engkau itu. Bukankah sudah banyak peringatan bagi dirimu bahwa dirimu itu hanyalah bersifat terbatas. Tiadalah hukumnya doa bisa dicampur dengan pertanyaan. Bagaimana bisa engkau berdoa sementara engkau masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan? Tetapi mengapa engkau selalu saja berusaha ingin memecahkan misteri Fatamorgana ini. Ketahuilah bahwa dalam Doamu itu ada tempatnya di mana pikiranmu harus berhenti.

Pikiranku:
Hah...apa? Pikiranku harus berhenti? Bukankah jika Pikiranku harus berhenti maka matilah diriku itu. Wahai Doaku...apakah engkau menginginkan lebih baik Pikiranku mati dari pada aku bisa memahami Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...Pikiran-pikiran. Berhentinya Pikiran itu tidaklah harus bahwa dirimu itu mati. Ketahuilah bahwa Pikiranmu itu juga mati sementara ketika engkau tidur. Tentulah bahwa Pikiranmu itu juga mati jika dirimu mati. Ketahuilah sekedar memperoleh jelasnya sesuatu saja, sudah dapat dikatakan bahwa pikiranmu telah mati. Atau jika pikiranmu sedang memikirkan A, maka matilah pikiranmu terhadap B. Maka bukankah Pikiranmu itu juga harus mati ketika engkau berdoa secara ikhlas dan khusuk. Maka tiadalah Doamu itu ikhlas dan khusyuk jika engkau dalam keadaan mengembarakan Pikiranmu itu. Sampai di sini apakah engkau belum paham bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tidaklah berdaya memecahkan fatamorgana ini. Jangankan Pikiranmu, sedangkan Hatimu saja tak kuasa melakukan hal yang sama. Maka sekali lagi tiadalah Pikiranmu itu mampu memecahkan setiap persoalan hidupmu. Sadarlah bahwa sudah saatnya engkau mengakui bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tak berdaya memecahkan misteri Fatamorgana. Berserahlah keharibaan Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayah Nya. Amiin.

81 comments:

  1. Febri Harina Alwi
    13301244003
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pada elegi ini, kita dapat mengambil pembelajaran bahwa setiap manusia lahir dengan keterbatasan. Sehingga tidaklah kita dapat mengetahui segala hal yang ada, sehingga yang dapat kita lakukan adalah berserah diri kepada Allah SWT, serta jangalah sombong terhadap sesuatu.

    ReplyDelete
  2. Nurul Imtikhanah
    13301244002
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dari elegi ritual ikhlas tersebut dapat disimpulkan bahwasannya manusia mempunya keterbatasan dalam memikirkan tentang sesuatu contohnya fatamorgana. Fatamorgana yang tidak bisa dicapai oleh hati maupun pikiran manusia dan belum ada istilah yang tepat untuk mendeskripsikannya menunjukkan bahwa sangatlah terbatas kemampuan kita pada alam semesta ini sehingga kita jangan bersifat sombong atas ciptaanNya.

    ReplyDelete
  3. Firda Listia Dewi
    16701251014
    PEP S2 Kelas B

    Manusia diciptakan dengan batasan-batasan tertentu seperti pada Elegi Ritual Ikhlas yang mengajarkan mengenai terbatasnya kemampuan berfikir. Ketika manusia telah menghadapi keterbatasan tersebut, hendaknya berhenti dan mau mengakui ketidak-mampuannya serta bersikap berserah diri kepada Allah SWT. Apabila tetap memaksakan diri, hanya akan memperoleh kesia-siaan. Oleh karena itu, tindakan yang paling bijak untuk menghadapi keterbatasan ini adalah dengan bersikap Ikhlas.

    ReplyDelete
  4. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B (Angkatan 2016)

    Berdasarkan pemhaman saya, elegi ini merupakan “pergelutan” dan “gejolak” dalam diri manusia. Pergelutan antara fenomena, fatamorgana, pikiran, nurani dan ego manusia. Dan menurut saya, kuncinya ada dalam pikiran seseorang. Namun hal yang masih belum disadari adalah “sebenar-benar pikiran manusia itu tidaklah berdaya memecahkan fatamorgana ini. Jangankan pikiran, hati saja tak kuasa melakukan hal yang sama. Maka sekali lagi tiadalah pikiran itu mampu memecahkan setiap persoalan hidupmu”.
    Salah satu jenis terburuk adalah pikiran sombong. Kesombongan inilah yang menyebabkan manusia termakan mitos. Berpikir itu hakikat manusia yang memiliki pikiran, namun semua ada batasannya. Batas pikiran manusia adalah jangan melewati garis kesombongan dan selalu kembali berserah kepada Yang Maha Memiliki, Allah subhanahu wa ta’ala.

    ReplyDelete
  5. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika C 2013

    dari postigan diatas, memberikan motivas bagi saya bahwa dalam menuntut ilmu jangan terlalu rakus, artinya smeua masalah yang da di dunia ini bisa terpecahkan, karena pasti susatu saat kita pasti akan dihadapi dengan suatu permasalah yang tidak mampu kita hadapi, disinilah perna doa, kita pasrhkan kepada doa agar bisa menyelesaikan maslah yang pikira kita tidak bisa hadpinya. jadi awalilah segala kegiatan dengan berdoa. terimaksih pak

    ReplyDelete
  6. Harsiti Indrawati
    13301241021
    Pendidikan Matematika A 2013

    Batas. Semua yang kita miliki terbatas ruang dan waktu. Pikiran kita adalah terbatas. Bahkan ada yang kita rasakan tapi tidak dapat dijelaskan oleh pikiran. Bahkan hati kita juga terbatas. Ada hal yang terjangkau oleh kita dan ada pula yang sulit untuk dijangkau. Pada akhirnya kita adalah manusia yang bergantung kepada-Nya. Maka kita harus mengingatnya supaya terhindar dari rasa sombong.

    ReplyDelete
  7. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016
    Wahai Fatamorgana engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Bayanganku sendiri? itu adalah sebuah pertanyaan yang muncul dari kondisi ini. Fatamorgana yang tidak bisa dicapai oleh hati maupun pikiran manusia dan belum ada istilah yang tepat untuk mendeskripsikannya menunjukkan bahwa sangatlah terbatas kemampuan kita pada alam semesta ini sehingga kita jangan bersifat sombong atas ciptaanNya.

    ReplyDelete
  8. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Maka sekali lagi tiadalah pikiran itu mampu memecahkan setiap persoalan hidupmu”.
    Salah satu jenis terburuk adalah pikiran sombong. Kesombongan inilah yang menyebabkan manusia termakan mitos. Berpikir itu hakikat manusia yang memiliki pikiran, namun semua ada batasannya. Batas pikiran manusia adalah jangan melewati garis kesombongan dan selalu kembali berserah kepada Yang Maha Memiliki

    ReplyDelete
  9. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Iklas sesungguhnya memberikan ketenangan pikiran dan ketenangan hati, manusia sebagai makluk ciptaan maka sudah pasti memiliki banyak kekurangan dan batasan, maka tidak selayaknya kita memikirkan segala sesuatu itu harus dapat dipikirkan, walaupun pemikiran kita sangat lah luas namun tetap terbatas pada suatu hal. oleh karena itu di situlah Ikhlas muncul sebagai penyejuk dan membuat pikiran kita berhenti pada satu tempat, dan membuat ketenangan batin tersendiri. Ikhlas mengajarkan kita untuk tidak sombong dan rendah hati.

    ReplyDelete
  10. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Elegi ini memberikan kita pelajaran bahwa manusia itu terbatas. Contohnya pikiranmu tidaklah mampu memecahkan setiap persoalanmu. Bahkan pikiranmu tidaklah mampu mengetahui segala seluk beluk hatimu. Sedangkan kalimatmu tidaklah mampu mengucapkan ataupun menuliskan pikiranmu. Begitu juga tindakanmu tidaklah mampu menjalani semua tulisanmu. Oleh karena itu, apabila manusia telah mencapai keterbatasannya itu maka sadarlah dan akuilah ketakberdayaan dirimu. Berserahlah kepada Allah dengan berdoa secara ikhlas dan khusyuk.

    ReplyDelete
  11. Teduh Sukma Wijaya
    13301241073
    Pendidikan Matematika C 2013

    Fatamorgana yang tidak bisa dicapai oleh hati maupun pikiran manusia dan belum ada istilah yang tepat untuk mendeskripsikannya menunjukkan bahwa sangatlah terbatas kemampuan kita

    ReplyDelete
  12. Dari elegi yang bapak postingkan tersebut, nampak bahwa pikiran tak berdaya dan begitu kesulitan dalam mendefinisikan fatamorgana. Ketika pikiran mencoba mendefinisikan, muncul kontradiksi yang membantah argumen pikiran. Hal ini mengisyaratkan bahwa seseorang terkadang harus ikhlas ketika pikirannya sudah tidak berdaya lagi dan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Karena sesuatu yang terus dipaksa, hanya akan mendatangkan kesombongan dan berakhir pada keputusasaan.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  13. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Elegi di atas merupakan bahan renungan untuk kita sebagai manusia, bahwa pikiran kita memiliki keterbatasan. Terkadang manusia memaksakan pikirannya untuk memikirkan sesuatu yang diluar jangkauan pikirannya. Manusia beranggapan bahwa dia dapat memikirkan segala sesuatu, sehingga menyebabkan kesombongan dalam diri. Janganlah ilmu disertai dengan kesombongan, ketika pikiran kita sudah tidak sanggup untuk berpikir maka segeralah untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah.

    ReplyDelete
  14. Khaerudin
    16701621009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sebagai contoh ketika sebuah lembaga menetapkan sebuah visi, pada hakikatnya semua visi tidak akan tercapai, kalau tercapai bukan visi itu namanya fatamorgana. Berbenar-benar dikira air dikejar sana ternyata bukan, visi harus dibuat tapi untuk tidak tercapai, bagi orang-orang yang memikirkannya, jadi sebagian orang menganggap tercapai itu berarti mereka belum berpikir, hanya sedikit orang yang bisa memikirkannya.

    ReplyDelete
  15. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. MatematikaC 2013

    Fatamorgana, apa yang sesungguhnya dapat dijelaskan dari satu kata itu? Pada elegi tentang fatamorgana ini ditunjukkan bahwa kata tersebut tidak dapat dijelaskan hanya dengan hati dan pikiran. Sekali lagi, manusia adalah makhluk terbatas, tidak semua yang mereka kenal dapat mereka jelaskan hanya dengan kata-kata, tulisan-tulisan. ALLAH yang Maha Mengetahui, semua yang diketahui dan diketahui makhluk-Nya. ALLAH tempat kita, manusia, memanjatkan doa dan berlindung dari segala mitos yang mengikuti kita.

    ReplyDelete
  16. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Dari elegi di atas dapat kita ambil ibroh (pelajaaran), bahwa akal manusia bersifat terbatas. Ia tak mampu untuk memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada. Masih banyak rahasia Allah yang belum terpecahkan oleh manusia. Menyadari akan keterbatasan kita, maka tak selayaknya kita untuk tidak melaksanakan syariat (hukum) Allah. Bagaimanapun juga syariat (aturan) adalah buku petunjuk manusia. Syariat ibarat buku petunjuk bagi sebuah benda, jika benda tidak menggunakan buku petunjuk tersebut, maka benda tersebut akan cepat rusak. Seperti itupula manusia, bahkan manusia lebih kompleks dari benda. Sehingga,implementasi buku petunjuk (Al-Qur’an) dalam seluruh aspek kehidupan merupakan hal yang mutlak dan absolut.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  17. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Dari elegi di atas dapat dipahami bahwa pada hakekatnya semua hal yang ada dan mungkin ada itu adalah fatamorgana dalam artian kita tidak akan pernah bisa mengidentifikasikan secara tepat terhadap karakter maupun fenomena yang ada. Semua fenomena adalah fatamorgana jadi kita bisa mendeskripsikan segala hal dengan kata-kata namun pada akhirnya kita akan menemukan bahwa yang kita deskripsikan itu adalah salah karena diri kita ini memilki berjuta-juta sifat dan setiap sifat memiliki berjuta-juta pangkat sifat yang tidak bisa di definisikan dengan sebuah kata. Maka dari itu dalam mendefinisikan makna fatamorgana langkah yang harus dilakukukan oleh seorang manusia seperti apa yang dikatakan oleh Sokrates adalah pengakuan, mengakui bahwa kita ini tidak tahu apapun. Dari sini saya bisa mengatakan bahwasanya fatamorgana itu sudah memasuki ranah aspek spiritual dan manusia dalam memahami aspek spiritual cukup dengan mengimani dalam diri akan ketetapan-Nya karena manusia memiliki keterbatasan dalam berfikir .

    ReplyDelete
  18. LINA
    16701261022
    S3-PEP Kelas A

    Pikiran adalah sumber kesombongan. Oleh karena itu perlu mempertimbangkan doa, nasib,dan bahkan fatamorgana yang selama ini kita anggap semu. Keberadaan ketiganya akan membawa keseimbangan pikiran kita.

    ReplyDelete
  19. Retno Widyaningrum
    16701261004
    PEP A 2016
    Manausia hidup dalam ruang dan waktu. ada keterbatasan dalam pikiran kita, sikap yang sombong tidak akan menyelsaikan masalah maka kita harus tetap berserah diri tawakal dan penuh keikhlasan.

    ReplyDelete
  20. Retno Widyaningrum
    16701261004
    PEP A 2016
    Bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di (1) setiap hati manusia, (2) setiap pikiran manusia, (3) berada diluar hati atau diluar pikiran. Kemana-mana selalu ada sehingga untuk mengimbangi perlu hati yang lembut, tenang, ikhlas, kuat, dan tawakal. Agar tidak terjebak dalam fatamorgana yang dapat menyesatkan kita dalam kehidupan yang kita jalani.

    ReplyDelete
  21. Ika Dewi Fitria Maharani
    PPs UNY P.Mat B
    16709251027

    Dari bacaan ini saya mendapatkan dua poin :
    1. Pikiran kita terbatas sebagai manusia, maka janganlah sombong dan merasa tau segalanya. Dalam keterbatasan itulah adanya kesempurnaan dan dalam kesempurnaan itu terdapat keterbatasan, itulah manusia.
    2. Saat kita berfikir A, maka diwaktu yg sama pula kita tidak bisa memikirkan B-Z. Maka ketika berdoa janganlah memikirkan hal yang lain. Khusyuk, fokus dan ikhlas.

    ReplyDelete
  22. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016


    Pikiran adalah sumber dari segala kebaikan. Pikiran juga merupakan sumber dari segala kejelekan. Perlu ada interaksi aspek di luar pikiran kita untuk mengarahkan pikiran menjadi sumber kebaikan. Perlu ada interaksi pikiran dengan fatamorgana, intuisi, etik-estetika, bayangan, fenomena, doa, maupun fatamorgana.

    ReplyDelete
  23. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Berdo’a merupakan aktivitas ibadah, dan bahkan menurut sabda Nabi Muhammad SAW doa di ibaratkan sebagai otak ibadah (Mughulibadah). Seperti halnya otak bagi manusia yang demikian penting peranaanya bagi kehidupan, demikian pula doa dalam ibadah. Bahkan doa juga merupakan tiang agama (imaduddin) dan sejata bagi orang mukmin (silahul mukmin).

    Dalam mewujudkan impian yang kita miliki, kita harus berdoa dan berikhtiar. Ikhtiar merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Ikhtiar juga dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Akan tetapi, usaha kita gagal, hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan lebih keras dan tidak berputus asa.

    ReplyDelete
  24. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Hendaknya kita setiap mengingat Allah SWT. Semua permasalahan yang kita hadapi selalu kita adukan kepada Alla SWT untuk mendapatkan jalan terbaik yang dipilihkan-Nya. Satukan hati dan pikiran kita saat berdo’a agar dapat menjaga kekhusyu’an. Ikhtiyar dan do’a harus berjalan beriringan.

    ReplyDelete
  25. Setiap aspek memiliki ruangannya sendiri-sendiri, dan tiap posisi yang dimiliki belum tentu menjadi dominasi pada aspek lain. Tiap aspek memiliki dominasi pada sektor yang dikuasainya sendiri. Elegi ini memberikan pengetahuan kepada saya mengenai pembatasan pada diri sendiri, bahwa yang menguasai tubuh ini bukan diri kita saja, namun aspek-aspek lain juga turut berkontribusi pada aspek sektor lainnya. Prof.,
    setidaknya percakapan 7 elemen dasar pada diri manusia di atas masih homogen, karena masing-masingnya tidak saling terpecah. Ketujuh-tujuhnya menggabung menjadi sebuah homogenitas yang membentuk satu tujuan menanggapi pikrian dan pola pembentuknya.
    Pemikiran manusia yang "katanya" tidak berbatas akhirnya terbantah seketika pada proses paling sederhana ketika pembentukan kreativitas sampai inovasi.
    Ketujuh aspek tersebut meski memiliki keegoaannya masing-masing namun tidak menjamin keleluasan berpikirnya dalam mengembangkan satu indikator yang utuh.
    Bisa dibayangkan, apabila ketujuh faktor tersebut berseberangan dan berpencar.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    PEP-A/2016

    ReplyDelete
  26. Pikiranku
    Tiap pikiran dalam diriku adalah ego
    Yang mana ia ingin membentuk dirinya sendiri dan mengatakan bahwa kekuatannya mutlak untuk menembus aspek lainnya. Belum tentu kemanfaatan pikiran bisa berdiri parsial dan menjadi pemenang atas kekuatan tersebut. Pikiran adalah aspek terkecil dari organ otak yang kompleksitasnya melebihi organ jaringan lain. Prof., saya bingung.
    Proses pembentukan pikrian manusia yang sifatnya bercabang dan heterogen akhirnya berubah menjadi homogen dalam waktu sesingkat-singkatnya pada proses provokasi, atau dalam bahasa kami sebut proses persuasi.
    Pikiran manusia yang diciptakan pada prinsipnya sendiri merupakan gejolak dasar yang kadang tidak bisa berkuasa. Kuasi yang ingin ditampilkan akhirnya menimbulkan blur effect yang membahayakan pejalan kaki lain (otot di setiap jaringan) yang menjalar ke organ tubuh manusia.
    waah..
    ternyata aspek pikiran manusia saja bisa berpengaruh tiada berbatas pada aspek seminimal pemikiran, pikiran, berpikir, memikir, dipikir, terpikir. Hehehe
    satu katas dasar, akhirnya mengarah pada pengembangan ketidakjelasan alat pikir manusia.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    PEP-A/2016

    ReplyDelete
  27. Fatamorganaku
    fatamorgana dalam pemikiran saya hanyalah refleksi yang semu namun karena keegoannya ia membentuk dan ingin mendominasi sebagai proses paling nyata yang ingin manusia rasakan sebagai pengalaman yang riil dan tidak terbantah pada aspek lain *termasuk pikiran.
    padahal, fatamorgana adalah titik paling lemah yang dimiliki manusia, dan kekuatan semunya sungguh terbatas ruang dan waktu. Ia memiliki kekuatan ketika manusia akhirnya percaya dan bisa menjadikannya kekuatan besar. Padahal, kekuatan yang dihasilkan fatamorgana tidak mampu membenahi diri dan etika subjek.
    Etik dan estetik pada aspek fatamorgana adalah kemustahilan pasif, yang mana setiap aspek yang dimiliki si fatamorgana belum mampu terpecahkan pada akar masalah yang berbeda. Ketika diminati pertanggungjawaban, ada kalanya fatamorgana adalah pihak yang pertama kali mengalihkan dan mengandalkan ketidakpercayaan. Ia adalah yang sering ingkar dan paling tidak setia.
    Ini hanya pemikiran dangkal saya, Prof.


    Memet Sudaryanto
    16701261005
    PEP-A/2016

    ReplyDelete
  28. intuisiku,
    ia adalah kekuatan sebenarnya.
    Ada sebuah pertanyaan yang Prof. Igit tanyakan pada saya, dan jawaban saya hanya spekulatif.
    "Siapa yang membuatmu tahu apa itu air?
    waktu itu saya menjawab, Pak Igit, Bapak saya, Ibu saya, kakak saya, teman saya, dan akhirnya semua jawaban saya salah.
    Intuisi adalah pemeran utama di bawah alam bawah sadar yang kekuatannya membentuk sekaligus merusak ketika ia tidak dianggap adil di setiap pemahaman dasar manusai yang mengembangkan keilmuan untuk meluapkan logos yang ingin dibentuk pada dasaran perkembangan manusai berpikir.
    Prof., intuisi saya tidak memiliki kepekaan yang jika dibandingkan intuisi orang lain, menurut saya, intuisi saya pernah dirusak dengan beberapa cara. Pada akhirnya kini ia sudah tidak bekerja dengan maksimal.
    Dulu ini sudah saya tanyakan pada pertemuan di kelas tanggal 17 November, namun Prof. Igit belum menjawabnya, yakni bagaimana meningkatkan intuisi yang sudah pernah lumpuh atau mati rasa karena perbagai sebab yang kadang disengaja atau tidak sengaja.
    Intuisi terkuat adalah intuisi yang dimiliki anak kanak-kanak, namun di sisi lain saya merasa intuisi saya tidak berjalan sesuai semestinya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    PEP-A/2016

    ReplyDelete
  29. Bayangan

    sebenarnya pada aspek ini saya sedikit iba, hehehe.
    Bila cahaya terhalang sesuatu benda maka akan timbullah bayangan dari benda penghalang itu. Jika sumber cahayanya lemah, seperti matahari pada hari berawan, bayangan tidak kentara. Ditempat teduh tidak ada bayang-bayang, karena tempat teduh sudah merupakan bayangan sebuah benda yang menghalangi sinar matahari.
    Kutipan di atas menyadarka saya mengenai lemahnya bayangan dalam diri manusia yang tidak bisa menyebabkan apapun. Bayangan akhirnya menjadi side-effect dari kejadian yang susah payah dibuat dengan alhasil kosong.
    Prof.
    mohon dimaafkan jika salah dalam saya menyampaikan, namun bayangkan tidak memiliki warna, ia gelap dan sunyi. Pada malam hari ia hanya bisa bersembunyi. Pada titik tertinggi pun, bayangan tidak memiliki kekuatan, ia hanya memilik satu titik.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    PEP-A/2016

    ReplyDelete
  30. HATIKU
    pada konsep ini saya ingin mengutip, (mohon maaf jika salah)

    “Ingatlah, bahwa didalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah itu baik (sehat) seluiruh tubuhpun akan menjadi baik. Namun, jika segumpal darah itu sakit, seluruh tubuh pun akan menjadi sakit. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati,” (HR Bukhari).

    nah...
    dibandingkan intuisi saya bisa memberikan kekuatan riil pada tiap diri, adalah hati. Bahkan hati tidak hanya dimiliki oleh manusia: seperti hewan, buah, tanaman, juga memiliki hati. Kuat bukan pengaruhnya?
    Oleh karena iotu, kekuatan hati yang dominan adalah kekuatan yang hakiki. Peningkatan intuisi akan memngaruhi kekuatan hati, kesadaran pada bayangan adalah bentuk dari kekuatan hati yang jauh lebih hakiki. Kesadaran pada fatamorgana juga mengaembangkan power of heart untuk tidak hurt.
    sayangnya hati itu banyak, dan juga disini ada "HATI YANG LAIN" susah memang dideskripsikan posisi manusia dalam menanggapi kekuatan hati. Namun hati selalu mendominasi.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    PEP-A/2016

    ReplyDelete
  31. Gelombang otak ada lima yaitu gamma, beta, alpha, tetha, delta (MOHON DIKOREKSI JIKA SALAH)
    Kelima gelombang tersebut pun saya rasa kaan selalu gagal dalam mendefinisikan nasib.
    Pada aspek NASIBKU, saya tidak ingin berpanjang lebar.
    Tapi saya punya pengalaman yang menarik untuk saya bagikan Prof.

    7 Tahun yang lalu
    ketika bulan April-Juni
    saya mengalami gejolak terkuat dalam diri saya. Ketika itu saya ingin masuk di jurusan S-1 PGSD UNY atau di Pendidikan Bahasa Inggris UNY. 5 kali tes dan kesemuanya ditolak, yakni PMDK, SM G.1, SM.G.2, SNMPTN, Non-Reg.
    Sedih saat itu saya prof., lima kali saya mencoba dan selalu gagal. Sampai-sampai saat itu saya merasa bahwa diri saya adalah sampah. Pada suatu saat, akhirnya saya tidak punya lagi kesempatan untuk masuk di UNY. Alhasil, Bapak saya memberikan wejangan "Kalau tidak kuliah di negeri, tidak akan dibiayai". Hati saya rusak, intuisi saya lemah, akhirnya waktu itu saya mencari informasi kampus yang masih membuka peluang masuk mahasiswa. Dan saya diterima di UNS Pendidikan Bahasa Indonesia.

    Elegi ini selalu saya jadikan definisi NASIBKU!

    Jogja sudah tidak hujan Prof., saya kembali ke kos-kosan.
    Mendung masih menggelayut, namun larut menjawab semua tanya.
    Terimakasih atas malam yang hangat, selama bergumul dengan diri sendiri dalam pikiran, fatamorgana, intuisi, bayangan, hatiku, nasibku, dan ternyata ada satu tamu tak diundang "HATI YANG LAIN".

    Ananda
    Memet Sudaryanto
    16701261005
    PEP-A/2016

    ReplyDelete
  32. Aslm P Memet selamat terus membaca, jangan lupa dilandasi doanya. Jika capai jangan dipaksakan. Kerjakan bertahap. Semoga sukses. Juga yg lainnya. Wslm.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terbangun, dan membaca ini! Terimakasih Prof.

      Delete
  33. Fatamorgana adalah keinginan, cita-cita dan atau harapan, sehingga seseorang mau mencapai keinginan, ciata-cita, atau harapan tentu membutuhkan pemikiran yang mendalam yang melibatkan subyek lain, keteguhan hati dan perasaan yang disertai dengan keikhlasan doa-doa yang dipanjatkan.

    Muhlis Malaka
    16701269003
    PEP A 2016

    ReplyDelete
  34. Miftahir Rizqa
    S3 PEP Kelas A
    16701261027
    Fenomena dan Noumena adalah Fatamorgana maka belum tentu Fatamorgana itu fenomena dan Noumena. kegelisahan pikiran, landasi dengan ikhlas dan diiringi selalu dengan do'a

    ReplyDelete
  35. Rofiah Yusuf
    13301241039
    Pend. Mat I 2013

    Dari elegi ini dapat kita ketahui bahwa pikiran manusia itu terbatas. Tidak semua hal mampu dipikirkan dengan akal manusia, karena masih banyak hal yang belum diketahui oleh manusia.

    ReplyDelete
  36. Dari ritual ikhlas ini, kita dapat mengambil banyak hikmah dan pelajaran. Bahwa pada hakikatnya manusia itu makhluk yang lemah. Manusia mempunyai batasan-batasan pemikiran yang mana hati dan pikiran tidak mampu untuk memecahkannya dan mencernanya seperti halnya Fatamorgana. Allah sang maha penciptalah yang kuasa terhadap segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita berserah dan memohon pertolongan.


    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  37. Elegi ini memberikan gambaran bahwa kita sebagai manusia merupakan makhluk yang lemah dengan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki. Terkadang pemikiran manusia tidak bisa melewati batas tertentu dalam memecahkan masalah sehingga doa dan kepasrahan diri terhadap Sang Pencipta Allah SWT menjadi kuncinya agar masalah kita dapat terselesaikan atas kuasaNYa.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  38. Defy kusumaningrum
    13301241022
    Pedidikan Matematika A 2013

    Elegi ini berisi tentang keterbatasan. Manusia diciptakan memiliki keterbatasan. Keterbatasan dalam berpikir salah satunya. Dalam menghadapi suatu hal, tidak semuanya bisa kita selesaikan. Kemampuan kita terbatas, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mengenali dan mengakui keterbatasan itu serta berserah kepada Allah SWT. Dengan begitu kita akan menemukan solusi terbaik sesuai kemampuan yang dimiliki.

    ReplyDelete
  39. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Janganlah kita selalu men dewa kan pikiran kita. Tidak semua hal dapat dianalisa dengan menggunakan pikiran. Maka dalam hal ini, sesuatu yang kita belum mampu untuk menjawabnya maka serahkanlah hal itu kepada Allah. Nasib kita kedepannya juga merupakan suatu misteri yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, sehingga yang perlu kita lakukan secara kontinu dan terus menerus yakni selalu berdoa dan berikhtiar, haruslah selalu menyertakan Allah SWT di dalam setiap usaha yang kita lakukan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  40. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Manusia memiliki keterbatasan dalam berpikir, saat memikirkan A maka pikiran kita sedang mati tentang B, begitu pula sebaliknya. Saat kita akan mengembarakan pikiran yang perlu diperhatikan adalah ruang dan waktu. Dan setelah mengembarakan pikiran, yang perlu kita lakukan adalah berserah diri kepada Allah atas hasil pikiran yang kita peroleh, serta banyak beristighfar untuk kesalahan pengembaraan pikiran.

    ReplyDelete
  41. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Dalam elegi ini saya memperoleh satu lagi pelajaran yang sangat bermakna: "Maka tiadalah Doamu itu ikhlas dan khusyuk jika engkau dalam keadaan mengembarakan Pikiranmu itu."
    Hal ini berarti bahwa saat kita berdoa/menghadap Allah SWT, fokuskan pikiran kita hanya pada memperoleh ridho Allah SWT, karena saat itulah ikhlas dan khusyuk telah menemani langkah yang kita tempuh. AKan tetapi berdasarkan pengalaman selama ini, masih sulit bagi saya Prof. untuk dapat ikhlas dan khusyuk dalam berdoa, terkadang saat memanjatkan doa- saya masih bisa mendengar perbincangan orang lain disekitar saya, ini berarti saya masih harus terus berupaya untuk menggapai ikhlas dan khusyuk. Semoga ALlah SWT selalu memberikan arah kepada kita semua untuk menuju gerbang ikhlas dan kekhusyukan itu, amiiiiin..

    ReplyDelete
  42. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Manusia itu merupakan makhluk yang terbatas. Termasuk Pikiran manusia itu juga terbatas ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  43. Pikiran tidak bisa menembus hal-hal yang tidak ada di dalam pikiran itu sendiri. Pikiran tidak bisa menembus Fatamorgana, itulah sifat manusia yang terbatas dan hendaknya kita senantiasa mendekatkan diri dan meminta kepada Dzat yang Maha tidak Terbatas, Dzat yang Maha Sempurna yaitu Allah SWT.

    Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    ReplyDelete
  44. Manusia mempunyai keterbatasan dalam berpikir. tidak semua yang ada mampu dipikirkan oleh pikiran
    Miftahir rizqa
    PEP Kelas A
    16701261027

    ReplyDelete
  45. ketika pikiran tidak berdaya lagi maka solusinya adalah berserah diri kepada Allah SWT. demikian agar kita tidak menjadi manusia yang sombong.
    Miftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    ReplyDelete
  46. Pikiran tidak mampu memikirkan fenomena, karena pikiran mempunyai keterbatasan dalam berpikir. tawakal kepada Allah SWT serta diiringi do'a dengan ikhlas. agar kita terbebas dari kesombingan.
    Miftahir Rizqa
    PEP Kelas A
    16701261027

    ReplyDelete
  47. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Manusia adalah makhluk yang suka berpikir. Namun pikiran manusia itu terbatas. Tidak semua hal dapat kita pikirkan. Kita juga tidak bisa berpikir dengan fokus tentang dua hal sekaligus. Ini menunjukkan kuasa Allah bahwa kita hanya makhluk kecil yang tidak berdaya.

    ReplyDelete
  48. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    fatamorgana merupakan suatu angan-angan dan impian-impian yang masih bersifat abstrak atau suatu harapan yang sangat kita inginkan dimana dalam menggapainya dibutuhkan ikhtiar dan juga keikhlasan. Fatamorgana hanya akan tetap menjadi fatamorgana jika tidak ada usaha di dalamnya untuk dapat mewujudkannya. Oleh karena itu mari kita wujudkan fatamorgana-fatamorgana yang ada di dalam pikiran kita melalui usaha juga kerja keras serta doa dan rasa ikhlas dalam menjalankan usaha tersebut. Insha Allah fatamorgana-fatamorgana yang ada di dalam pikiran kita akan menjadi kenyataan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  49. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Secara tidak langsung salah satu paragraf di atas menjadi sebuah anti tesis dari pernyataan Rene Descartes, yakni aku berpikir maka aku ada. Ternyata ketika kita hanya memfokuskan untuk memikirkan satu hal, berarti kita sedang mati pada hal yang lainnya. Bahkan ketika kita hendak berdoa secara khusyuk, maka tentunya pikiran kita tidak boleh mengembara kemana-mana, karena dalam berdo’a kita mengusahakan agar gelombang otak kita masuk kedalam kategori tetha agar dapat meraih kekhusukan. Yang dibutuhkan oleh manusia dalam mencapai keinginannya adalah ridho Allah. Maka doa merupakan sarana yang sangat tepat untuk meraih ridho Allah SWT.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  50. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Berbicara mengenai nasib manusia ketika ditinjau dari sisi spiritual, ada 3 hal yang sudah tentu tertulis di dalam lauful mahfudz, yakni rejeki, jodoh dan kematian. Namun untuk dapat menyesuaikan antara apa yang telah tertera di lauful mahfudz maka dibutuhkan ikhtiar dan doa untuk membuka pintu-pintu rejeki tadi. Ibaratnya kita menginginkan uang yang banyak, namun kita sendiri malas bekerja, sehingga pintu-pintu rejeki tentunya tidak akan terbuka. Oleh karena itu dalam berdoa seorang ustadz yang memimpin doa biasanya mengatakan “bukakanlah pintu rezekinya Ya Allah:. Apa maksudnya? Rezeki kita itu sudah tertulis di lauful mahfudz, hanya saja untuk dapat turun ke bumi butuh sarana atupun pintu agar rezeki tersebut dapat sampai ke diri kita. Bagaimana pintu rezeki dapat terbuka, yakni ikhtiar dan doa serta selalu perbaiki akhlak dan ibadah kita.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  51. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Ada satu hal yang dapat saya jadikan pelajaran di atas, yakni kita jangan bermahzab hanya pada aliran filsafat saja, misalnya hanya bermahzab pada aliran Emanuel Kant, ketika kita hanya bermahzab hanya satu saja, maka disebutkan di atas bahwa kita dapat termakan oleh mitos. Hal itulah yang banyak terjadi di msyarakat sekarang kemanunggalan mahzab yang dianut menyebabkan radikalisme dan fanatisme terhadap mahzab tersebut, sehingga rasa menerima penghargaan terhadap orang lain semakin berkurang dikarenakan kurang nya ilmu orang tersebut dan rasa fanatisme terhadap mahzabnya tersebut.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  52. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Kekuatan doa dalam mewujudkan fatamorgana sangatlah diperlukan karena untuk mewujudkan sesuatu yang kita inginkan dibutuhkan ridho Allah SWT. Sehingga dengan berdoa kita sama halnya dengan meminta ridho dari Allah SWT. Selain itu kekuatan doa sangatlah mempengaruhi psikologis kita, ketika kita ingin mewujudkan sesuatu dan disertai dengan doa maka kita serasa mendapat kekuatan dan semangat dan segala jalan untuk menuju cita-cita kita dibukakan oleh Allah SWT.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  53. Luthfannisa Afif Nabila
    13301241041
    Pendidikan Matematika A 2013
    Manusia itu mempunyai batas kemampuan sendiri-sendiri, jangan terlalu memaksakan untuk mengerti jika hanya batasnya sampai disitu saja. Jangan jadi manusia yang berlebihan. Penasaran boleh namun juga harus disesuaikan dengan kemampuan yang ada dalam dirinya.

    ReplyDelete
  54. soviyana munawaroh syidhi
    13301244020
    pendidikan matematika c 2013

    setelah membaca elegi ritual ikhlas ini, saya dapat mengambil hikmah dan pembelajaran bahwa sebenarnya kita sebagai manusia memiliki sebuah keterbatasan yang bahkan tidak dapat di deskripsikan oleh hati ataupun pikiran. selalu ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata- kata baik kata- kata pikiran atau kata hati, oleh karena itu sebagai manusia yang penuh keterbatasan ini teruslah berserah kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

    ReplyDelete
  55. soviyana munawaroh syidhi
    13301244020
    pendidikan matematika C 2013

    fatamorgana merupakan sesuatuyang sangat sulit sekali untuk dideskripsikan, dia ada dalam pikiran kita, namun tak dapat kita "gapai". fatamorgana ibarat sebuah angan- angan semu, namun fatamorgana belum tentu angan- angan. untuk mewujudkan fatamorgana tersebut adalah dengan berserah diri kepada Tuhan YME, dan jangan sombong dalam menjalani kehidupan ini

    ReplyDelete
  56. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    setiap manusia mempunyai batasan baik dalam pikiran, hati maupun tindakan. Sehingga ketika manusia telah mencapai batas pemikirannya maka berdoa dan berikhtiar itu jauh lebih baik dari pada segalanya, karena dalam pemikiran terbatas kita dapat dengan mudah terhasut oleh syaitan-syaitan yang terus menerus menggoda kita.

    ReplyDelete
  57. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    "Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya", Manusia memiliki batasan dalam berpikir, karena semua yang ada di dunia memiliki batasan termasuk pikiran manusia. Misalnya, ketika kita berdoa secara ikhlas dan khusuk, pikiran kita sejenak berhenti.Sama dengan pikiran, hati manusia juga ada batasannya. Jadi, manusia hendaknya berserah diri kepada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan berdoa secara ikhlas dan khusuk. Terima kasih

    ReplyDelete
  58. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Pikiran kita terbatas dan tidak terbatas. Kita bisa saja mengembarakan pikiran kita sejauh mungkin, tetapi kita hrus mengingat cara unuk pulang agar tidak tersesat dalam pengembaraan pikiran kita, yaitu dengan cara memohon ampun dan petunjuk kepada Tuhan. Menyikapi persoalan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika dan bertentangan dengan logika itu dengan cara kita kembalikan saja kepada Tuhan.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  59. Musa Marengke
    S3 PEP kelas A,2016
    Setiap manusia memiliki fitrah “mengakui” Tuhan (kebenaran), indra manusia untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan menemukan wahyu untuk menjadi pedoman, enentukan mana yang benar dan mana yang salah;Keyakinan tidak boleh bercampur sedikitpun dengan keraguan;Aqidah yang kuat akan melahirkan ketentraman jiwa;Bila seseorang sudah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu. Artinya seseorang tidak akan bisa meyakini sekaligus dua hal yang bertentangan itu.

    ReplyDelete
  60. Musa Marengke
    S3 PEP kelas A,2016
    Ikhlas itu bukan tanpa syarat.ia membutuhkan ketulisan karena ia beraasal dari tauhid kepada Allah. Orang yang bartauhid sudah otomatis akan bersikap akhlas dalam segala aspek kehidupan.Akan tetapi banyak orang yang tidak iklhlas karena lunturnya tauhidnya. oleh karena itu,ada beberapa faktor penyebab lunturnya nilai-nilai ketauhidan dan beberapa penganut nilai-nilai ketauhidan seseorang, yaitu:
    a.Manusia terlalu mengagungkan kemampuan akal-pikirannya sehingga, bisa menggantikan Tuhan dengan akalnya;
    b.Manusia kurang menggunakan akal sehingga mudah terkelabui oleh kekuatan-kekuatan yang menjerumuskan ke dalam takhayul;
    c.Manusia terlalu membesar-besarkan kehidupan duniawi sehingga lalai akan dibalik kehidupan (akhirat)
    d.Manusia terlalu mengejar kehidupan materi sehingga melalaikan kehidupan spiritual, padahal kehidupan spiritual mengandung kedalaman dimensi dan kedekatan pada Tuhan;
    e.Manusia memiliki kemampuan menciptakan simbol-simbol dan menganggapnya sebagai kemajuan sehingga lalai pada simbol-simbol ketauhidan yang murni dan hakiki.

    ReplyDelete
  61. Musa Marengke
    S3 PEP kelas A,2016

    Seseorang yang memahami sifat-sifat Tuhan dengan pikiran yang terbuka dan dikaitkan dengan fakta-fakta alam semesta yang bisa diamati, tak punya pilihan lain kecuali menyadari akan eksistensinya disinilah aqidah berfungsi sebagai penerungan terhadap Allah dan ciptaannya[ Lihat, Suzanne Hanief. Islam dan Muslim, Judul asli: What Everyone Should Know About Islam Muslim” (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), h. 23 ]. Sebab sifat ketuhanan Allah begitu unik dan hanya bisa dimengerti melalui perenungan terhadap sifat-sifat dan hasil ciptaan-Nya

    ReplyDelete
  62. Musa Marengke
    S3 PEP kelas A,2016

    Kalau demikian, maka kebebasan persepsi Islam adalah “mengikat”[ Yang mengikat adalah akal/ pikiran akal dikonotasikan “igal” artinya “pengikat atau mengikat” sebuah kain berbentuk, yang sering dipakai (kebiasaan) dikepala orang haji yang berfungsi sebagai “pengikat dan penahan” agar balutan kain diatas kepala itu sulit terlepas dan tepukan angin kencan. Maka akal berfungsi pada manusia agar manusia tidak bebas dalam aktivitasnya. Ia diatur oleh hukum-hukum logika yang terserah ] perilaku dan pemikiran manusia, agar semata-mata diarahkan untuk “beribadah”. Disinilah aqidah berfungsi sebagai “pengikat” yang menolong manusia agar menjaga simbol-simbol ikatan itu, jangan sampai terlepas. Aqidah senantiasa memberikan bingkai kebebas

    ReplyDelete
  63. Musa Marengke
    S3 PEP kelas A,2016

    Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan melaksanakan ibadah dengan tertib, dan memiliki akhlak yang mulia serta bermua’amalah dengan baik

    ReplyDelete
  64. Febri Harina Alwi
    13301244003
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pikiran kita adalah sesuatu yang terbatas. Jika kita memikirkan satu hal, maka hal lain akan mati. Jika kita sedang tidur, maka pikiran kita akan mati. Dengan pikiran yang terbatas ini manusia seharusnya tidak menyombongkan diri. Tetap tawakal dan khusuk dalam berdoa kepada Allah SWT. Selalu berserah diri terhadap Allah SWT.

    ReplyDelete
  65. Febri Harina Alwi
    13301244003
    Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dikaruniai akal dan pikiran. Namun, perlu kita sadari bahwa pikiran manusia adalah pikiran yang terbatas. Manusia tidak boleh menyombongkan diri dan menganggap dirinya sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Kita hanyalah makhluk ciptaanNya yang penuh dengan keterbatasan. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berdoa dan berikhtiar agar dimudahkan dalam segala urusan.

    ReplyDelete
  66. Febri Harina Alwi
    13301244003
    Pendidikan Matematika C 2013

    Fatamorgana merupakan keinginan, harapan, ataupun cita-cita. Seseorang yang mau mencapai keinginan, cita-cita, ataupun harapannya membutuhkan pemikiran yang mendalam, serta keteguhan hati dan perasaan yang disertai dengan keikhlasan doa-doa yang dipanjatkan agar segala keingin, harapan, dan cita-cita nya tercapai.

    ReplyDelete
  67. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Elegi ini mengajarkan kita untuk sadar akan keterbatasan kita seperti menyikapi fatamorgana yang tak sanggup dipecahkan oleh hati dan pikiran kita. Hendaknya kita selalu bersandar dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya serta selalu senantiasa bersikap rendah diri dan tidak sombong.

    ReplyDelete
  68. Praneswari Kusuma Dewi
    13301241033
    Pendidikan Matematika A 2013

    Hikmah yang dapat saya petik dari elegi ini adalah bahwasannya pikiran manusia itu terbatas, ia tidak akan mampu memahami segala hal terkait dunia, bahkan terkait dengan dirinya sendiri. Jika tentang dunia saja pikiran manusia itu tidak sepenuhnya bisa menjangkau, apalagi jika dihadapkan dengan hal-hal yang ghaib, seperti akhirat, takdir, kematian, alam semesta. Kemudian jika ia berpikir tentang Allah SWT jelas pikiran manusia sangatlah terbatas, oleh karena terbatasnya pikiran manusia ini maka manusia tidak boleh sombong. Ketika pikiran bisa menjangkau sesuatu itu karena Allah SWT telah menghendakinya. Itu adalah bagian dari Rahmat-Nya.

    ReplyDelete
  69. Terkadang pikiran manusia akan menjadi kacau, ketika ia ditimpakan permasalahan-permasalahan yang berat. Maka disini kita melihat bahwa masalah itu tidak hanya diselesaikan dengan pikiran, tetapi juga merupakan suatu keharusan untuk menghadirkan hati yang bersih, ikhlas, tenang dan lapang. Ketika masalah berada pada titik puncaknya, sehingga pikiran pun menjadi tak berdaya, maka cukuplah hati yang bergerak, membimbing dalam doa yang tulus, khusuk, dan ikhlas kepada Allah SWT. Hal ini menyadarkan kita sebagai manusia, bahwa tidak pantas sedikitpun kita sombong. Di atas langit masih ada langit. Hanya kepada Allah SWT tempat kita bergantung dan berserah diri. Maka saya sangat setuju dengan Bapak Marsigit bahwa ketika hati sedang berdoa maka pikiran harus berhenti sejenak, ia harus tunduk, patuh kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.

    ReplyDelete
  70. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Pikiran atau akal merupakan rahmat yang Allah berikan kepada manusia. Manusia diberi akal atau pikiran agar dapat menggunakannya untuk memecahkan dan menyelesaikan permasalah yang dihadapi. Akan tetapi tidak semua persoalan dapat dipecahkan dengan akal manusia. Karena sesungguhnya pikiran manusia itu terbatas.

    ReplyDelete
  71. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Persoalan didalam hidup ada yang yang bisa diselesaikan dengan akal manusia akan tetapi ada juga yang tidak bisa diselesaikan oleh akal manusia. Manusia sering sekali merasa sombng karena akal yang ia miliki. Banyak sekali fenomenya yang kadang tidak bisa dijelaskan oleh akal manusia. Karena pikiran manusia sesungguhnya terbatas. Oleh karena itu jangan bersikap sombong dan hendaknya berserah diri kepada ALLAH.

    ReplyDelete
  72. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Setiap manusia mengalami fenomena dan fatamorgana pemikiran masing-masing. Manusia mempunyai keterbatasan dalam memikirkan sesuatu dan tidak semua hal bisa dipikirkan oleh akal manusia, akan tetapi manusia tidak boleh berhenti berpikir karena kerja otak akan berhenti dan kehidupan pun seakan-akan seperti tak bermakna. Manusia tetap harus berusaha, berikhtiar, ikhlas, dan berserah diri dalam menjalani kehidupan karena pemikiran kita belum tentu selalu bisa memecahkan persoalan hidup.

    ReplyDelete
  73. AJI SANTOSO
    13301241034
    PMA13

    tidak adil bahwa sifat yang sebagian itu engkau peruntukan untuk menamakan keseluruhan.Tuhan menciptakan manusia denga segala keterbatasannya. kalimatmu tidak mampu mengucapkan dan menuliskan segala pikiranmu. Tindakanmu tidak akan mampu menjalani semua tulisamu. Manusia itu hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Maka sekecil-kecil dan sebesar-besar persoalanmu itu serahkan saja kepada Tuhan. Berdoalah dengan tawadu’ dan ikhlas.

    ReplyDelete
  74. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan dialog di atas, saya menyimpulkan bahwa dialog ini menyadarkan kita bahwa sesungguhnya manusia memiliki keterbatasan dalam berpikir . Tidak semua bisa dipikirkan oleh akal dan pikiran. Tidak hanya berpikir, dalam hal lainnya pun manusia memiliki banyak keterbatasan. Tidak semua yang mereka kenal dapat mereka jelaskan hanya dengan kata-kata, tulisan-tulisan. Terkadang dalam hati jelas walau dalam pikiran tidak

    ReplyDelete
  75. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pikiran kita kadang terbatas dan tidak mampu mengetahui hal-hal lain yang susah dijangkau sehingga kita tidak bisa sombong, karena banyak hal yang belum atau bahkan tidak ketahui. Maka janganlah kita sombong dengan apa yang kita ketahui dan apa yang kita miliki. Kesombongan bisa membuat kita termakan mitos yaitu hal-hal yang merugikan diri sendiri. Ketika kita sudah sampai pada tingkat orang sombong kita harus segera berdoa dan berhenti agar kita tidak termasuk orang yang merasa tahu segalanya.

    ReplyDelete
  76. SHALEH
    PPs/PEP/2016/A

    Pengembaraan pikiran yang terlampau jauh menelusuri ruang dan waktu tanpa dikuatkan dengan do'a kepada Sang Maha Pencipta Pikiran hanya akan membuahkan arogansi.

    ReplyDelete
  77. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Dalam epistemologi fatamorgana dijelaskan bersifat khayal yang tidak dapat dicapai. Pikiran, estetika, intuisi, dan hati berada di dalam diri. Berbeda dengan fatamorgana yang bersifat khayalan dan jauh dari jangkauan oleh intuisi bahkan pikiran manusia.

    ReplyDelete
  78. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Fenomena tentang akhirat, alam kubur, surga dan neraka belum bisa dan mampu ditembus oleh indera dan akal manusia. Baru sebatas mampu didengar dan kemudian menjadi khayalan semata. Imanen yang bersifat kepercayaan hanya mampu meyakininya saja, seperti kondisi, keadaan dan fenomena akhirat (surga). “Surga” dari penjelasan sansekerta berarti perjalanan, bahasa jawa berarti perjalanan dunia cahaya, dalam bahasa arab dieknal “Jannah” berarti kebun/taman. Adalah tempat yang kekal dan belum ditembus oleh panca indra.

    ReplyDelete
  79. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    “Seseorangpun tidak mampu mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka (kenikmatan) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan” -As-Sajadah:17-

    “Allah telah menyediakan bagi hamba hambaku yang sholeh (kenikmatan Jannah) yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, serta terlintas di hati manusia” –Hadits-

    ReplyDelete
  80. Wadiyono
    16701251021
    Penelitian dan Evaluasi Pendidikan S2 2016

    Pikiran memiliki keterbatasan. Inilah yang mau dijelaskan dalam artikel ini. Ketika pikiran kita sudah tak berdaya, maka kita akan berhenti untuk berpikir dalam mengembalikan semua pada Sang Kuasa. Manusia bukan mesin yang bisa on sepanjang waktu. Adakalanya pikiran menjadi tak berdaya,lelah dan menjadi buntu.Inilah kesadaran bahwa manusia bukan makhluk super yang selalu siap untuk segala-galanya. Ketika pikiran menjadi tak berdaya hal yang harus dilakukan adalah bahwa harus berpasrah kepada Hyang maha Pemikir,Sang Khalik….

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id