Sep 20, 2010

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan




Oleh: Marsigit

Hamba menggapai keputusan mengingat teman lama:

Melihat photo itu, aku teringat teman lamaku. Aku tidak tahu sekarang dia berada di mana. Tetapi aku masih mempunyai banyak ingatan tentang dia.
Hanya saja ingatanku tentang dia juga telah banyak berkurang. Tetapi yang pasti adalah bahwa aku betul betul lupa bagaimana aku bisa mengenalnya dulu. Aku juga lupa bagaimana aku bisa mengenal lebih jauh temanku itu. Aku juga lupa bagaimana prosesnya sehingga temanku itu menjadi sangat penting bagi diriku. Tetapi dengan melihat photo itu, sedikit demi sedikit aku mulai mengingatnya. Kenangan manisku bersamanya mulai teringat kembali. Kadang-kadang terdapat ingatan yang muncul secara pelan tetapi pasti. Sehingga pada suatu saat sepertilah aku melihat bayangannya persis seperti dia sekarang berada di depanku.

Hamba menggapai keputusan berjumpa teman lama:

Wahai teman lamaku, salam. Panjang umurlah engkau. Baru saja aku memikirkanmu, ternyata engkau muncul di depanku. Alhamdullilah, bagaimana khabarnya. Baik-baik saja bukan?

Teman lama:
Salam juga sahabatku. Aku sangat gembira bisa bertemu lagi dengan engkau. Aku tidak mengerti juga kenapa pada saat ini aku berada di sini dan ternyata bertemu dengan engkau. Sungguh mengharukan dan aku merasakannya sebagai karunia dan rizki yang diberikan oleh Nya kepada kita berdua.

Hamba menggapai keputusan:

Sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa aku sedang memikirkan dan mengingat-ingat tentang persaudaraan kita. Kebetulan sekali, barangkali kedatanganmu dapat membantu aku untuk itu. Maka sebelum kita berbicara banyak dan bercerita panjang lebar, aku ingin tanya kepadamu, bagaimana ya kita dulu bisa saling kenal. Apakah engkau ingat?

Teman lama:
Wah, kebetulan juga sepertinya keadaanku seperti engkau. Aku juga tidak begitu ingat bagaimana kita bisa saling kenal. Tetapi paling tidak aku dapat mengatakan satu hal kepadamu, yaitu bahwa kepergianku selama ini sebenarnya telah mendapat sedikit pengetahuan untuk sekedar mengungkap masalah kenal-mengenal.

Hamba menggapai keputusan:

Baiklah coba katakan dan ceritakan apalah pengetahuanmu itu kepadaku.

Teman lama:
Baiklah. Jika kita berdua sama-sama lupa tentang peristiwa yang menimpa kita bersama pada waktu yang lampau, maka untuk mengingatnya kembali atau lebih dari itu untuk mengerti kembali kita bisa menggunakan pengandaian. Menurut teori yang aku dapat, kenalnya seseorang terhadap sesuatu paling tidak dapat melalui 2 (dua) cara yang berbeda. Cara yang pertama adalah karena engkau diberi tahu oleh seseorang tentang diriku. Sedangkan cara kedua adalah karena engkau melihat dan bertemu langsung denganku. Maka bolehkah aku sekarang bertanya, kira-kira dulu, engkau mengenal aku dengan cara diberitahu oleh seseorang atau karena engkau merasa bertemu langsung denganku.

Hamba menggapai keputusan:

Lha yang ini aku juga lupa. Tetapi misal, bahwa ketika aku dulu mengenal engkau dengan cara aku diberitahu oleh seseorang, lalu apa bedanya dengan jika aku melihat dan bertemu langsung denganmu.

Teman lama:
Jelas sangat berbeda. Jika engkau mengenal aku dengan cara engkau diberitahu terlebih dulu oleh seseorang tentang diskripsi diriku, sementara engkau belum pernah melihatku, itulah sebenar-benar yang disebut sebagai a priori. Pengetahuan a priori mu tentang aku bersifat abstrak dan maya. Itu hanyalah ada dalam pikiran dan memorimu. Itulah juga bersifat seperti halnya sifat sebuah wadah. Jadi pengetahuanmu tentang diriku hanyalah bersifat keterangan-keterangan. Maka tiadalah sebenar-benar nilai kebenaran kecuali hanya berdasar hubungan antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut kebenaran koherensi. Pengetahuan a priori mu tidaklah hanya berlaku untuk pengetahuan tentang diriku saja, tetapi berlaku untuk semuanya. Engkau dapat memikirkan secara a priori apakah matematika itu, benda-benda, obyek-obyek, hukum, peraturan, dan apapun yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Maka tiadalah hukum kontradiksi di situ kecuali bahwa yang dimaksud kontradiksi adalah inkonsistensi. Maka sebenar-benar ilmu a priori mu tentang matematika adalah matematika yang terbebas dari inkonsistensi.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu bagaimana dengan cara kedua? Yaitu jika aku mengenalmu dengan cara melihat sendiri dan bertemu langsung denganmu?

Teman lama:
Jika engkau pertama-tama melihat diriku dengan mata kepalamu sendiri, padahal engkau sebelumnya belum mempunyai informasi apapun tentang diriku, maka itulah sebenar-benar pengetahuan yang bersifat a posteriori. Dengan pengetahuan a posteriori mu tentang diriku berarti engkau menggunakan panca inderamu untuk mengenal diriku. Engkau melakukan pengamatan fisik tentang diriku, itulah sebenar-benar yang dikatakan sebagai kegiatan mempersepsi. Jadi pengetahuan a posteriori mu tentang diriku, engkau peroleh melalui persepsi mu tentang diriku. Maka tiadalah sebenar-benar nilai benar di situ jikalau pengamatanmu tidak cocok dengan keadaan diriku. Itulah yang sebenar-benar disebut sebagai kebenaran korespondensi, yaitu mencocokkan pengetahuanmu dengan kondisi faktualnya.

Hamba menggapai keputusan:
Kemudian, apapun caranya jika ternyata aku telah mengenal dirimu, apa pula bedanya di dalam pikiranku?

Teman lama:

Dilihat dari asal usulnya, sebenar-benar mereka terdapat perbedaan yang mendasar. Pengetahuan a postriori mu tentang diriku dibangun atas dasar kemampuan imajinasimu dan intuisimu dalam ruang dan waktu. Dengan pengematanmu engkau mengembangkan pula kemampuan sensibilitas untuk mendefinisikan diriku dalam ruang dan waktu. Pengetahunmu tentang diriku dikaitkan kedudukanku dalam ruang dan dalam waktu. Kaitanku dan kedudukanku dalam ruang dan waktu itulah yang menyebabkan engkau selalu dapat mengingat tentang diriku. Maka dalam pengetahuan a posteriorimu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu sesuai dengan data pengamatanmu dan bersifat korespondensi atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian, bagaimana pula tentang pengetahuan a priori ku terhadapmu?

Teman lama:

Pengetahuan a priori mu tentang diriku dibangun atas dasar konsistensi antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai logika. Maka semua logika dan matematika murni berlakulah hukum koherensi, yaitu hukum bagi tidak bolehnya ada inkonsistensi atau kontradiksi dalam hubungannya. Maka dalam pengetahuan a priori mu tentang diriku, keputusanmu adalah pengetahuanmu yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuanmu bersifat koheren atau tidak.

Hamba menggapai keputusan:

Kemudian bagaimanakan peran kedua pengetahuanku itu terhadap pengetahuanku tentang dirimu?

Teman lama:
Sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a priori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Demikian juga, sebenar-benar yang terjadi adalah jika engkau hanya mempunyai pengetahun a posteriori tentang diriku, maka pengetahuanmu tentang diriku barulah mencapai lima puluh persen. Maka agar engkau mempunyai pengetahuan tentang diriku sebanyak seratus persen, maka itulah sebenar-benar yang terjadi bahwa pengetahuan a priori yang datangnya dari atas (superserve), bertemu dengan pengetahuan a posteriori yang datangnya dari bawah (subserve).

Hamba menggapai keputusan:
Heubatlah engkau. Namun bukankah aku ingin menggapai keputusan, kemudian dimanakah kepurtusanku itu?

Teman lama:
Janganlah terburu-buru memutuskan sesuatu. Karena terdapatlah makhluk hitam besar yang menakutkan yang akan selalu mengganggumu sehingga engkau sulit melakukan keputusan-keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Makhluk seperti apakah itu?

Teman lama:
Sebesar-besar musuhmu di dunia itulah yang disebut prejudice atau wat-prasangka. Makhluk besar hitam tidak lain tidak bukan adalah prasangka burukmu terhadap diriku. Jikalau engkau telah berprasangka buruk terhadap diriku, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori mu itu. Maka setiap kesimpulanmu tentang diriku tiadalah bersifat konsisten maupun koresponden dengan faktaku yang sebenarnya. Maka apapau hasilnya, keputusany itulah ynag kemudian di sebut sebagai salah.

Hamba menggapai keputusan:

Tidak aku tidak ingin salah memahamimu.

Teman lama:

Jikalau demikian maka hilangkanlah makhluk-makhluk hitam besar itu. Maka sebenar-benar pengetahuanmu yang paling tinggi tidak lain tidak bukan adalah keputusanmu tentang diriku ini.

Hamba menggapai keputusan:

Jadi?

Teman lama:
Sebenar-benar ilmu adalah keputusan. Maka jangan harap engkau merasa berilmu jikalau engkau tidak dapat mengambil suatu keputusan. Itulah bahkan matematika disebut pula sebagai ilmu tentang pengambilan keputusan.

Hamba menggapai keputusan:
Jadi siapakah diriku ini?

Teman lama:

Dirimu tidak lain tidak bukan adalah keputusan itu sendiri.

Hamba menggapai keputusan:

Lalu siapa dirimu?

Teman lama:
Bukankah sejak awal aku telah memutuskan untuk bertemu, berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu. Jadi aku tidak lain tidak bukan adalah keputusan juga.
Maka sebenar-benar kita adalah terbukti sebagai keputusan-keputusan. Dan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jikalau engkau tidak mampu mengambil keputusan.

31 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Keputusan yang kita ambil sangat berpengaruh pada kehidupan kita. Oleh karena itu, dalam memutuskan suatu hal, tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Pengambilan keputusan harus dilandaskan pada pemikiran yang benar-benar matang dan berbagai pertimbangan dan keputusan yang kita ambil mencerminkan ilmu yang kita miliki.

    ReplyDelete
  2. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Ilmu itu dibangun oleh dua hal yaitu a priori dan a posteriori. A priori berdasarkan logika dan konsistensi dan a posteriori tentang pengalaman. Itulah keseluruhan ilmu. Ilmu adalah keputusan. Contoh ilmu matematika adalah tentang keputusan akan menggunakan bentuk penyelesaian yang mana dengan rumus yang mana untuk menuju solusi yang sama. Itulah ilmu, maka sebenar-benar orang berilmu adalah mereka yang bisa mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pengetahuan dibangun oleh priori dan a posteriori. pengetahuan dibangun oleh logika dan pengalaman. Jadi janganlah merasa telah memiliki suatu pengetahuan jikalau hanya memperolehnya dari buku- buku tanpa pengalaman langsung. Karena dengan pengalaman lah pengetahuan yang dibangun oleh logika menjadi lengkap 100%. Setinggi- tinggi pengetahuan adalah keputusan. Sebenar- benar ilmu adalah keputusan. Maka janganlah terburu- buru mengambil keputusan tanpa didasari dengan ilmu. Janganlah mengambil keputusan yang didasari prasangka- prasangka karena itulah keputusan yang salah. Prasangka ialah musuh terbesar dalam hidup yang menjadikan kita sulit mengambil keputusan. Maka dalam mengambil keputusan haruslah dengan landasan ilmu dan kejernihan hati yang bersih dari prasangka.

    ReplyDelete
  4. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    a priori adalah sesuatu yang kita ketahui hanya berdasarkan pengetahuan-pengetahuan umum, sperti buku-buku, dasar-dasar pemikiran orang lain tanpa pernah mengalaminya, sedangkan a posteriori adalah pengetahuan yang dengan sendirinya sudah kita alami secara langsung, kita ketahuai dengan pengalaman kita yang pernah mengalaminya. demikianlah pengetahuan yang kita miliki, tidak cukup hanya berdasarkan dari buku-buku, pemikiran orang lain ataupun sumber-sumber yang lain, disamping itu kita juga harus bisa mendapatkan pengetahuan itu dari pengalaman kita sendiri harus kita alami sendri sehingga pengetahuan kita terhadap sesuatu atau seseorang dapat mencapai kesimpulan yang baik. dala mengambil keputusanpun harus didasari dengan pemikiran yang positif senhingga pengetahuan yang sudah kita kumpulkan tidak hilang begitu saja. terimakasih

    ReplyDelete
  5. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan, maka jangnlah mengaku-aku mempunyai ilmu jikalau engkau tidak mampu mengambil keputusan. Tetapi harus diingat juga kita tidak boleh terburu-buru dalam mengambil keputusan karena ada prasangka buruk yang dapat dengan mudah menghalangi kita agar sulit dalam mengambil keputusan. Dan kuncinya adalah ambilah keputusan itu berdasarkan a priori atau pengetahuanmu dan ditambah dengan a posteriori yang berupa pengalamanmu untuk mendapatkan 100 % keputusanmu itu.

    ReplyDelete
  6. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Dalam kehidupan kita sebagai manusia tidak akan bisa lepas dari mengambil suatu keputusan. Pengambilan keputusan bukan sekedar asal memilih saja namun harus disertai dengan pertimbangan dengan menggunakan pikiran yang jernih dan mengkombinasikan pengetahuan a priori dan a posteriori sehingga keputusan yang kita ambil nantinya adalah keputusan yang tepat.Karena setinggi tingginya ilmu adalah keputusan sehingga seseorang belum dapat dikatakan berilmu jika belum mampu mengambil keputusan

    ReplyDelete
  7. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Kehidupan sehari-hari kita sebenarnya adalah kehidupan yang selalu bergumul dengan keputusan. Keputusan merupakan kesimpulan terbaik yang diperoleh setelah mengevaluasi berbagai alternatif. Jadi dalam mengambil sebuah keputusan itu harus dipikirkan secara logis dan matang agar tidak salah mengambilnya. Keputusan yang salah bisa jadi resiko atau bencana terutama bagi seorang pemimpin. Dalam menuntut ilmu pun harus mampu mengambil keputusan, jangan sampai ilmu yang kita peroleh itu salah dan menjadi boomerang buat kita sendiri.

    ReplyDelete
  8. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Maka janganlah mengaku-aku mempunyai ilmu jikalau engkau tidak mampu mengambil keputusan. Namun untuk mengambil suatu keputusan haruslah memikirkan dampak baik dan buruk di kedepannya nanti, mengambil keputusan hendaknya berkepala dingin sehingga tidak terburu- buru. Dan ketika sudah mnegambil keputusan, maka jalanilah dengan sebaik mungkin karena itulah bentuk dari pertanggungjawaban keputusan yang sudah diambil.

    ReplyDelete
  9. Khintoko Intan Permatasari
    13301244011
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalam elegi diatas,digambarkan makhluk hitam besar yang menakutkan yang akan selalu mengganggu sehingga seseorang akan sulit melakukan keputusan-keputusan.Makhluk hitam besar itu tdak bukan adalah ketakutan, keserakahan, prasangka buruk, dan keresahan yang tinggal dalam hati dan pikiran. Sehingga tidak akan bisa seseorang itu bisa mengambil keputusan. Jika tidak memiliki ilmu sebagai jembatan menuju hidup yang lebih baik, maka menjadi kecilah seseorrang itu yang tidak mau mengambil sebuah keutusan besar dalam hidupnya. Bahwasanya ilmu dan pengalaman yang dimilikki adalah kunci untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik lagi dengan berani mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  10. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Membaca elegi di atas membuat saya teringat akan sahabat – sahabat saya sewaktu di bangku sekolah. Menuju pada apa itu keputusan, pengetahuan a priori tentang sesuatu bersifat abstrak dan maya yang hanya ada dalam pikiran dan memori. Pengetahuan tentang sesuatu hanya bersifat keterangan – keterangan. Nilai kebenaran berdasarkan pada hubungan antara keterangan yang satu dengan keterangan yang lainnya dinamakan kebenaran koherensi. Pengetahuan a posteriori yaitu mengenal sesuatu menggunakan panca indera dengan melakukan pengamatan fisik yaitu dikatakan sebagai kegiatan mempersepsi. Pengetahuan a posteriori diperoleh melalui persepsi. Nilai kebenaran berdasarkan pada pengamatan yang cocok dengan keadaan dinamakan kebenaran korespondensi, yaitu mencocokkan pengetahuan dengan kondisi faktual. Pengetahuan a postriori dibangun atas dasar kemampuan imajinasi dan intuisi dalam ruang dan waktu. Dengan pengamatan yang dilakukan, maka kemampuan sensibilitas berkembang untuk mendefinisikannya dalam ruang dan waktu dikaitkan dengan pengetahuan. Dalam pengetahuan a posteriori, keputusan merupakan pengetahuan yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuan sesuai dengan data pengamatan dan bersifat korespondensi atau tidak. Dalam pengetahuan a priori, keputusan adalah pengetahuan yang tertinggi, yaitu keputusan apakah pengetahuan bersifat koheren atau tidak.

    ReplyDelete
  11. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dari penjelasan di atas, mengingatkan kita untuk berpikir dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Berpikir yang dimaksud adalah berpikir tentang hubungan antara pengetahuan dengan fakta yang terjadi sesungguhnya. Sehingga, kita tidak terburu – buru dalam memutuskan sesuatu. Untuk dapat mengambil keputusan, tentunya banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah prasangka. Berprasangka terhadap sesuatu itu tidak salah. Yang salah adalah berprasangka buruk. Hendaknya kita selalu berprasangka baik terhadap orang lain. Pengetahuan yang paling tinggi yaitu keputusan yang telah diambil. Ilmu adalah keputusan. Maka tidaklah merasa berilmu jika tidak dapat mengambil suatu keputusan.

    ReplyDelete
  12. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Hidup itu adalah memilih keputusan. Seorang yang berilmu maka iapun tidak takut dalam memilih atau menentukan keputusannya, ia juga berani untuk mempertanggungjawabkan segala keputusannya. Namun dalam mengambil keputusan kita haruslah berhati-hati, jangan terburu-buru. Harus berpikir kritis dan berhati jernih ketika mengambil keputusan. Dan mewmohon petunjuk semoga keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  13. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Di elegi ini menjelaskan bagaimana sumber pengetahuan itu sendiri bisa didapatkan, ,mengacu kepada seorang filsuf juru damai yaitu Imanuel Kant maka pengetahuan itu didapkan dari proses a priori yang sumbernya dari akal pikiran dan a posteriori yang berasal pengalaman indrawi maka sebenar-benar pengetahuan bagi Imanuel Kant adalah Sintetis A Priori, Pengetahuan yang tidak hanya dari pikiran tapi juga dari pengalaman.

    ReplyDelete
  14. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pengetahuan itu dibangun oleh a priori dan a posteriori. A priori adalah pengetahuan yang bersifat abstrak dan maya, berupa keterangan-keterangan. Sedangkan a posteriori adalah pengetahuan yang berasal dari proses penginderaan kita. Untuk membangun pengetahuan secara utuh diperlukan a priori dan a posteriori.

    ReplyDelete
  15. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Berdasarkan elegi ini, setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Apabila belum dapat mengambil keputusan berarti belum berilmu. Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan pengetahuan a priori sekaligus pengetahuan a posteriori. Pengetahuan a priori bersifat abstrak yang berada di dalam pikiran, kita bisa memikirkan meskipun belum menginderanya, sedangkan pengetahuan a posteriori ialah memikirkan setelah mengindranya. Apabila kita hanya memperoleh ilmu dari salah satu cara saja, maka itu baru separuh ilmu. Namun dalam menggapai keputusan akan ada halangan yang menghadang, yaitu prasangka buruk. Bila prasangka buruk telah menghinggapi pikiran tentang suatu pengetahuan, maka akan sulit untuk membangun pengetahuan yang benar.

    ReplyDelete
  16. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Pengambilan keputusan dari manusia haruslah berdasarkan pikiran, akal, dan nalar.karena pada dasarnya manusia adalah makhluk berfikir dan oleh karena itu dalam bertindak manusia mampu menafsirkan melalui pemikiran yang akan membangun ilmu pengetahuan. Manusia lebih unggul dari binatang karena sesungguhnya manusia adalah binatang yang berfikir atau makhluk yang berfikir. Berfikir sudah menjadi ciri khas manusia dan karena berfikir itulah membuat dia menjadi manusia.

    ReplyDelete
  17. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    pengetahuan pada hakekatnya hal yang diperlukan dalam diri manusia, baik itu pengetahuan yang berasal dari objek pikir maupun dalam objek pengalaman. Kedua objek pengetahuan ini meruapakan suatu landasan yang menjadikan manusia dapat membuat sebuah keputusan dengan baik, keputusan diperlukan untuk memecahkan suatu permasalahan yang selalu terjadi dalam diri manusia. dan bukankah sebenar-benar ilmu adalah keputusan.

    ReplyDelete
  18. misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Apabila kita tidak mampu mengambil keputusan, maka kita tidak memiliki ilmu.sedangkan setinggi-tinggi ilmu adalah mengambil keputusan. Namun perlu diingat bahwa Pengambilan keputusan tersebut tidak hanya sekedar memilih saja namun harus disertai dengan pertimbangan dan pemikiran yang baik sehingga keputusan yang kita ambil nantinya adalah keputusan yang benar. Dalam pengambilan keputusan tidak hanya menggunakan pengetahuan a priori saja namun juga harus mengkombinasikan pengetahuan a priori dengan pengetahuan a posteroati. dalam sebuah perjalanan pasti ada hambatan. Seperti halnya dalam menggapai keputusan tak lekang dari prasangka buruk yang menghambat diri kita untuk melangkah ke depan.dengan mengambil suatu keputusan diperlukan ilmu yang seluas – luas dan sedalam – dalamnya supaya hasilnya sesuai dengan harapan. Berhati – hatilah dalam mengambil keputusan, agar terhindar dari keputusan yang salah.

    ReplyDelete
  19. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dalam elegi ini dijelaskan tentang a priori dan a posteriori. Dalam mempelajari ilmu diperlukan keduanya baik pengetahuan a priori dan a posteriori. Keberhasilan mempelajari ilmu ditunjukkan dengan mampu mengambil keputusan. Mengambil keputusan pun harus berhati-hati dan ada ilmunya.

    ReplyDelete
  20. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Prasangka menjadikan manusia berpikiran negative terhadap suatu hal dan seseorang. Prasangka mungkin menumbuhkan sikap iri dan dengki dalam diri seseorang. Dengan prasangka tidak ada kebaikan yang dapat dilihat dalam diri orang yang diprasangkai. Jika seseorang telah berprasangka buruk terhadap orang lain, maka tertutuplah pengetahuan a priori dan pengetahuan a posteriori nya. Maka apapun hasilnya, keputusannya selalu terlihat salah.

    ReplyDelete
  21. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Setelah saya membaca artikel di atas yang dapat saya ambil pelajaran didalamnya adalah untuk dapat mempelajari sesuatu baik secara a priori maupun secara a posteriori maka yang dibutuhkan adalah pikiran positif terhadap sesuatu itu terlebih dahulu. Ketika pikiran kita positif terhadap suatu hal terlebih dahulu, maka ilmu yang kita pelajari InshaAllah akan dapat masuk dengan cepat. Disampig berpikir positif maka yang dibutuhkan selanjutnya adalah keikhlasan untuk mempelajari ilmu tersebut, karena dengan rasa ikhlas maka hambatan seberat apapun yang ada didepan ketika kita sedang mempelajarinya maka akan terasa ringan dan dapat kita lalui.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  22. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Pengambilan keputusan memang suatu hal yang tidak mudah, kadang kala kita salah dalam mengambil keputusan. Namun tentunya kesalahan tersebut hanya dapat kita ketahui jika keadaan atas keputusan yang telah kita ambil tersebut itu telah berlalu. Nah, dalam hal ini tentunya yang dibutuhkan adalah kelapangan dan keikhlasan hati bahwa ternyata itulah takdir kita, yakni takdi yang datang setelah adanya ikhtiar. Sehingga dalam hal ini yang dapat kita lakukan dalam mengambil keputusan adalah efek manfaat dan mudharatnya. Jika pada perhitungan awal terindikasi mempunyai manfaat yang lebih banyak dari mudharatnya, maka keputusan tersebut layak untuk diambil.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  23. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dalam mengambil keputusan memang terkadang tidaklah mudah. Dalam agama terdapat tata cara mengenai pengambilan keputusan, misalnya saja dengan melakukan shalat istikharah. InshaAllah dengan shalat istikharah, Allah SWT akan memberikan sinyal-sinyal melalui firasat dan juga intuisi apakah keputusan yang akan kita ambil tersebut layak atau tidak untuk ditindaklanjuti. Sehingga dalam hal ini pengambilan keputusan atas nama Allah akan menjadikan kita tetap kuat ketika hasil akhir atas keputusan tersebut tidak sesuai dengan harapan. Mengapa? Karena Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tetapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  24. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Ilmu sangat diperlukan dalam mengambil sebuah keputusan. Sebab dengan ilmu seseorang akan mempunyai sifat bijaksana sehingga dengan sifat bijkasana tersebut diharapkan keputusan yang diambil tepat dan meminimalisir penyesalan dikemudian hari. Ilmu dibentuk dari dua unsur yaitu a priori dan a posteriori. A priori berdasarkan logika dan konsistensi dan a posteriori tentang pengalaman atau empirisme. Gabungan antara A priori dan a posteriori akan menghasilkan kebijaksanaan dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat.

    ReplyDelete
  25. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Keputusan adalah finish dari sebuah pemikiran dalam memutuskan sesuatu. Pengambilan berdampak burukkah jika keputusan itu diambil atau malah sebaliknya. Keputusan tersebut berkaitan erat dengan sikap bijak, sebab dengan sikap bijak tersebut akan berpengaruh pada pengambilan keputusan yang tepat. Ada dua macam dalam mengambil keputusan, yaitu berpikir panjang dulu baru bisa mengambil keputusan dan tanpa berpikir panjang langsung bisa mengambil keputusan. Hal ini disebabkan karena ada alasan, alasan tentang perlu berpikir panjang lalu bisa mengambil keputusan, disebabkan karena ada perhitungan-perhitungan dampak positif dan negatifnya, tidak mau mengambil keputusan secara gegabah, karena jika salah mengambil langkah akan berakibat pada munculnya masalah baru.

    ReplyDelete
  26. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Kemudian alasan kenapa tidak perlu berpikir panjang lalu bisa langsung mengambil keputusan, dikarenakan anggapan semuanya butuh proses, dan proses tidak harus langsung berhasil titik akhirnya, artinya di sini titik tekannya adalah belajar dari pengalaman, jadi jika dengan pengambilan keputusan tersebut akhirnya akan menimbulkan masalah yang baru akan dijadikan sebagai pembelajaran dari pengalaman tersebut, dan masih banyak waktu untuk memperbaiki dan mencoba lagi. jadi kesimpulannya di sini adalah tergantung dari masing-masing pribadi memilh salah satu diantara dua cara pengambilan tersebut.

    ReplyDelete
  27. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Sebenar-benar ilmu adalah mengambil keputusan. Sedangkan ilmu itu dibangun separuh oleh a priori dan separuh lagi oleh a posteriori. A priori berarti pengetahuan yang disandarkan pada logika, dari proses berpikir, dari proses menganalisa kaitan-kaitan dan disandarkan pada kebenaran koherensi. Sedangkan a posteriori adalah ilmu yang didasarkan pada pengalaman, biasanya diperoleh dari pengamatan dan dari suatu interaksi langsung yang kita alami. Akan tetapi dalam proses berpikir kita selalu dibayang-bayangi oleh prasangka. Apabila prasangka kita buruk maka kita tidak akan bisa belajar dan tidak akan bisa mengambil keputusan. Maka dalam pengambilan keputusan kita harus terbebas dari prasangka-prasangka dan melibatkan pengetahuan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  28. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Seorang pemimpin harus dapat memutuskan hal yang diperdebatkan. Seorang pemimpin adalah orang yang dapat dipercaya membangun amanah dan pekerjaan memberi keputusan di antara-keputusan-keputusan yang ada.
    Wassalamu'alakum wr wb.

    ReplyDelete
  29. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh.
    Kehati hatian dalam mengambil keputusan adalah hal yang harus dilakukan dalam setiap proses pengambilan keputusan. Sikap reflektif dan visioner harus digabungkan dalam proses ini, terlebih doa dan usaha maksimal serta meminta petunjuk dari Allah adalah yang harus diutamakan. Karena Allah jalan kebaikan dan sebaik baik keputusan adalah keputusan yang diberikan oleh Allah.


    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  30. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Musuh terbesar dalam diri manusia yaitu suatu prasangka dalam dirinya. Prasangka ada yang baik dan ada yang buruk. prasangka merupakan suatu pemikiran atau persepsi dalam diri yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.Prasangka sangat berpengaruh terhadap tindakan yang akan diambil oleh seseorang.
    Mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan baik apriori maupun aposteriori. Pengetahuan adalah sesuatu yng diketahui dan dapat dibuktikan, berbeda dengan prasangka. Keputusan harus diambil dengan pikiran jernih tanpa ada prasangka yang belum dapat dibuktikan kebenarannya

    ReplyDelete
  31. Iqlima Ramadhani Fabella
    13301241017
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sesungguhnya dalam hidup ini memang harus pandai-pandai atau dapat mengambil sebuah keputusan. Namun, dalam pengambilan keputusan juga diperlukan sebuah tanggungjawab. Tidak asal. Maka dari itu, keberhasilan mempelajari ilmu dapat ditunjukkan dengan mampu mengambil sebuah keputusan. Dimana dalam mengambil keputusan tersebut diperlukan kehati-hatian juga

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id