Sep 20, 2010

Elegi Menggapai Karakter




Oleh Marsigit
(Di gali dari butir-butir pemikiran Krathwhol)

Kesadaran:
Ada ilmu baru dihadapanku. Aku akan menyadari ilmu ini jika ilmu ini memang bermanfaat untuk dunia maupun akhirat. Tetapi untuk itu aku perlu pengakuan dan dukungan orang-orang disekiratku.
Wahai ikhlas, sebetulnya aku menginginkan bertanya kepada banyak orang, tetapi mereka berada jauh dari diriku. Lagi pula mereka saling berderet-deret secara teratur ada yang paling dekat, dekat, agak dekat, agak jauh, jauh, paling jauh dan sangat jauh. Sedangkan engkau tahu bahwa orang yang paling dekat adalah dirimu. Sedangkan engkau tahu bahwa dirimu itu sebetulnya adalah ikhlasku. Maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku, karena aku tahu bahwa pertanyaanku itu adalah awal dari ilmuku.

Ikhlas:
Wahai kesadaran, engkau akan bertanya apakah kepada diriku?

Kesadaran:
Begini. Ini ada ilmu yang baru saja dikenalkan oleh dosenku. Apakah engkau bisa menerima ilmu tersebut?

Ikhlas:
Sepanjang ilmu itu adalah demi kebaikan, maka aku selalu ikhlas.

Kesadaran:
Apa yang engkau maksud sebagai kebaikan?

Ikhlas:
Kebaikan adalah membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat.

Kesadaran:
Sepanjang yang saya ketahui, ilmu itu membawa manfaat yang baik, baik bagi dunia maupun akhirat.

Ikhlas:
Baik kalau begitu. Setelah aku pikir-pikir, ternyata keikhlasanku itu mempunyai prasarat.

Kesadaran:
Apakah prasaratmu itu?

Ikhlas:
Aku ikhlas menerima ilmu itu jika ilmu itu memang dalam jangkauan kesadaranmu dan menjadi perhatianku.

Kesadaran:
Sejauh yang aku sadari, ilmu itu terjangkau oleh kesadaranku. Tetapi aku tidak tahu apakah ilmu itu menjadi perhatianku atau tidak.

Kesadaran dan keikhlasan secara bersama bertanya:
Wahai perhatian, apakah engkau merasa bahwa ilmu yang dikenalkan oleh dosenku itu benar-benar menjadi perhatianmu?

Perhatian:
Sesungguhnya pertanyaanmu berdua itu sungguh aneh bagi diriku. Bukankan antara kesadaran, keikhlasan dan perhatian itu sebenarnya satu kesatuan. Mengapa engkau bertanya seperti itu?

Kesadaran dan keikhlasan:
Tetapi engkau tahu bahwa kita berduapun tidak berarti apa-apa tanpa perhatian.

Perhatian:
Baiklah. Suatu ilmu atau pengetahuan baru akan menjadi perhatianku jika bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat.

Kesadaran dan keikhlasan:
Kalau begitu tiadalah berbeda syarat-syaratmu itu dengan syarat-syarat kita berdua.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Kalau begitu kita bertiga berketetapan hati bahwa ilmu baru ini memang bermanfaat di dunia maupun akhirat. Marilah kita deklarasikan perihal penerimaan kita untuk memulai mempelajari ilmu itu.

Respon:
Wahai kesadaran, keikhlasan dan perhatian, mengapa engkau bertiga telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal penerimaan anda bertiga untuk memulai mempelajari ilmu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Wahai respon, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh postitif juga boleh negatif, tetapi juga boleh netral.

Respon:
Baik kalau begitu. Untuk menentukan sikapku maka gantian aku ingin bertanya. Sebetulnya ada masalah apa engkau menemuiku?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Begini. Kita bertiga berkenalan dengan ilmu baru. Kita bertiga sepakat bahwa ilmu baru itu ternyata bermanfaat bagi dunia maupun akhirat. Maka kami bersepakat pula untuk membuka diri kami untuk menerima memulai mempelajari ilmu itu. Tetapi kami bertiga menyadari bahwa langkah kami itu semata-mata ditentukan oleh sikapmu itu. Jika sikapmu positif maka engkau adalah orang ke empat yang menjadi rombongan kita untuk memulai perjalanan mempelajarai ilmu ini. Bagaimanakah jawabanmu?

Respon:
Ketahuilah bahwa aku itu terdiri dari dua hal. Pertama aku adalah kesudianku. Kedua aku adalah kemauanku. Jika aku sudi tetapi aku tidak mau, apalah artinya sikapku itu. Sebaliknya jika aku mau tetapi aku tidak sudi, maka apalah juga artinya sikapku itu. Agar aku sudi maka aku harus yakin dulu bahwa ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Agar aku mau aku juga harus yakin bahwa ilmu itu juga bermanfaat bagi dunia maupun akhirat.


Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Baiklah kalau begitu syarat-syaratmu ternyata sama dengan syarat-syarat kami bertiga. Kalau begitu engkau bisa cepat bergabung dengan kami.

Respon:
Nanti dulu. Ketahuilah bahwa aku masih mempunyai satu unsur lagi. Unsurku yang ketiga adalah kepuasanku. Jadi aku harus yakin bahwa ilmu itu juga memberikan kepuasan terhadap diriku.

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Lalu apakah kepuasanmu itu?

Respon:
Pertama aku harus mengetahui dulu, apakah engkau bertiga mempunyai payung yang dapat melindungiku dan dua unsurku yang lain?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu itu.

Respon:
Aku enggan selalu berkata dengan masing-masing dirimu. Aku lebih suka berkata denganmu sekaligus. Jikalau aku menyebut dirimu dengan satu nama saja, maka kira-kira engkau akan menggunakan nama apa?

Kesadaran, keikhlasan dan perhatian berkata secara bersama-sama:
Baiklah, sesuai dengan sifat-sifat yang kami miliki maka nama yang paling cocok dengan diri kami bertiga adalah penerimaan. Apakah dengan jawabanku ini engkau akan segera bergabung dengan diriku?

Respon:
Nanti dulu. Aku masih mempunyai satu syarat lagi. Syaratku yang satu lagi adalah bahwa agar aku mempunyai respon yang positif terhadap ilmu itu maka aku harus merasa puas terhadapnya. Aar aku merasa puas terhadapnya maka aku harus bisa berkomunikasi dengan nya. Padahal komunikasi yang aku minta adalah bahwa aku harus aktif memahaminya. Aku dengan ilmu itu harus bisa saling menterjemahkan dan diterjemahkan. Apakah engkau mampu menerima syarat-syaratku itu?

Penerimaan:
Dari sifat-sifat dan komunikasiku menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa ilmu itu mempunyai sifat-sifat seperti apa yang engkau syaratkan. Jadi silahkan engkau bersikap seperti yang telah engkau tetapkan melalui syarat-syaratmu itu.

Respon:
Baiklah kalau begitu aku bersedia bergabung dengan dirimu wahai penerimaan.

Nilai:
Wahai penerimaan dan respon, mengapa engkau berdua telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal penerimaan dan respon positif anda berdua terhadap ilmu barumu itu,
tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Wahai nilai, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh menilai baik, juga boleh menilai negatif, tetapi juga boleh netral.

Nilai:
Baik kalau begitu. Untuk menentukan sikapku maka gantian aku ingin bertanya. Sebetulnya ada masalah apa engkau menemuiku?

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Begini. Kita berdua berkenalan dengan ilmu baru. Kita bertiga sepakat bahwa ilmu baru itu ternyata bermanfaat bagi dunia maupun akhirat. Maka kami bersepakat pula untuk membuka diri kami untuk menerima memulai mempelajari ilmu itu. Tidak hanya itu, kami juga sepakat untuk menerima dan merespon positif ilmu itu dengan syarat-syarat tambahan yang telah kami tentukan. Syarat-syarat tambahan itu antara lain bahwa kami dapat saling menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu. Tetapi kami berdua menyadari bahwa langkah kami itu semata-mata ditentukan oleh penilaian itu terhadap ilmu itu. Jika penilaianmu positif maka engkau adalah orang ke tujuh yang menjadi rombongan kita untuk memulai perjalanan mempelajarai ilmu ini. Bagaimanakah jawabanmu?

Nilai:
Ketahuilah bahwa aku itu terdiri dari tiga hal. Pertama aku adalah kehendakku. Kedua aku adalah referensiku. Ketiga aku adalah komitmenku. Agar aku berkehendak menilai ilmu itu, maka aku harus mempunyai referensi. Tetapi begitu aku memutuskan untuk menilai baik ilmu itu maka seketika aku berubah menjadi komitmenku. Ketiga hal tersebut itu tidak dapat aku pisahkan. Agar aku mempunyai kehendak untuk menilai maka aku harus yakin dulu bahwa ilmu itu bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Aku juga harus bisa menterjemahkan dan diterjemahkan dengan ilmu itu. Artinya aku juga bersifat aktif dan tidak hanya pasif saja. Untuk itu maka aku juga memerlukan catatan-catatanmu.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Ternyata syarat-syaratmu itu sesuai juga dengan syarat-syaratku. Dan kami berdua juga bersedia memenuhi segala syarat-syarat tambahanmu. Apakah engkau bersedia bergabung dengan diriku?

Nilai:
Nanti dulu. Aku masih mempunyai syarat tambahan. Syarat tambahanku adalah apakah engkau dan aku kira-kira mempunyai payung untuk berlindung bersama?

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Aku tidak mengerti apa maksudmu.

Nilai:
Maksudku adalah, jika aku telah menetapkan untuk menilai positif ilmu itu, apakah aku dan engkau bisa bergabung dengan satu nama saja.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Kami sebenarnya sangat toleran terhadap dirimu. Akan memberi nama apakah engkau bagi diri kita bertiga?

Nilai:
Jika engkau berdua tidak keberatan maka kita berdua melebur saja jadi satu dan kita beri nama sebagai minat.

Penerimaan dan respon bersama-sama menjawab:
Nama yang bagus. Kami setuju. Jadi?

Minat:
Jadi diriku sekarang adalah penerimaan, respon dan nilai. Tetapi tiga dalam diriku itu jika dijabarkan akan terdiri dari sembilan aspek yaitu kesadaran, sudi menerima, perhatian, sudi merespon, mau merespon, kepuasan, kehendak menilai, referensi untuk menilai dan komitmen.

Pengertian:
Wahai minat. Mengapa engkau telah berbuat lancang telah mendeklarasikan perihal minatmu untuk mempelajari ilmu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Minat:
Wahai pengertian, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. Tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang sikapmu. Anda boleh memahami ilmu itu sesuai dengan pengertianmu.

Pengertian:
Wahai minat. Sebetulnya syaratku mudah saja. Syaratku adalah asalkan engkau memang berkehendak untuk menilainya, engkau juga mempunyai referensi untuk menilainya dan engkau juga mempunyai komitmen untuk menilainya. Maka aku dengan serta merta akan membangun pengertianku terhadap ilmumu itu.

Nilai:
Ketahuilah pengertian. Sebetulnya syarat-syaratmu itu telah terkandung di dalam diriku.

Pengertian:
Baik kalau begitu. Aku telah mengerti akan ilmumu itu. Itulah sebenar-benar ilmumu dan ilmuku.
Tetapi ketahuilah bahwa pengertianku terhadap ilmumu itu ternyata tidak tunggal. Maka aku perlu mengelola pemngertian-pengertian itu. Aku perlu menggabung-ganbungkannya. Aku perlu merangkumkannya. Katakanlah bahwa aku terdiri dari konsep-konsep dan organisasi dari konsep-konsep tentang ilmu itu. Tetapi ketahuilah agar pengertianku itu bersifat komprehensif maka aku masih mempunyai permintaan terhadap dirimu.

Nilai:
Wahai pengertian, apakah permintaan tambahanmu itu?

Pengertian:
Aku mau menindaklanjuti pengertianku asal aku dan engkau menjadi satu saja yaitu sebagai sikap.

Nilai:
Nama yang bagus. Aku setuju. lalu?

Sikap:
Inilah sebenar-benar diriku yang telah menentukan sikap positif terhadap ilmuku yang baru ini. Maka sebenar-benar diriku adalah terdiri dari nilai dan pengertian.

Karakter:
Wahai sikap. Engkau telah berbuat lancang telah mendeklarasikan sikap positifmu terhadap ilmu barumu itu, tanpa terlebih dulu meminta ijin kepadaku.

Sikap:
Wahai karakter, sebetulnya engkau itu merdeka terhadap diri kami. Apapun keadaan kami, maka terserahlah dirimu. Anda boleh ada juga boleh tidak ada di situ. Tetapi jika anda ada disitu maka anda juga boleh menentukan sembarang karaktermu. Tetapi jika engkau telah
menampakkan karaktermu itu, maka karaktermu itu harus sesuai dengan diriku. Maka tinggal pilihlah engkau itu.

Karakter:
Sebetulnya jarak antara diriku dengan dirimu sangatlah dekat. Maka aku telah melakukan kesimpulan umum. Dan dari kesimpulan umum tentang pengertianmu maka aku mulai mempunyai ciri khas keilmuan barumu itu. Lebih dari itu aku bahkan kelihatan menonjol dalam dirimu. Ilmumu itu juga semakin tampak dalam karakterku. Tidak terasa aku telah mulai berubah dikarenakan ilmu baruku ini. Perubahan diriku itulah yang kemudian aku sebut sebagai karakterisasi. Aku bersyukur telah mampu mempelajari ilmu baru sehingga telah memberikan aku karakter sesuai dengan ciri keilmuan baruku itu. Bahkan aku mulai merasakan bahwa karakterku itu mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan bahkan hatiku. Ternyata dengan karakterku yang baru ini aku tetap terjaga oleh hatiku. Amien.

33 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Pembentukan karakter berawal dari proses penerimaan, respon dan penilaian. Seseorang dalam menghadapi ilmu baru maka awalnya ia akan memberikan perhatiannya dan mulai untuk menerimannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka ilmu ini akan menyatu ke dalam dirinya membentuk karakternya. Yang pada saatnya nanti ilmu yang telah dimiliki akan mampu mengambarkan karakter dirinya.

    ReplyDelete
  2. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Karakter meliputi ilmu, sikap, nilai, minat, dsb. Karakter tiap orang berbeda-beda. Karakter menunjukkan kualitas seseorang. Jika seseorang memiliki ilmu baik dan bermanafaat tapi sikapnya tidak mencirikan kebaikan, maka karakter orang tersebut buruk. Maka ilmu, sikap, niali, minat seseorang haru berjalan beriringan. Contoh guru matematika memiliki ilmu matematika dan ilmu mengajar, tetapi jika guru mengajarnya tidak baik, ilmu yang diajarkan memaksakan, maka karakter guru tersebut tidak baik.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sebuah ilmu baru dapat membentuk karakter seorang manusia. Sebagaimana ilmu matematika dapat memberikan berbagai karakter seperti teliti dan logis. Ilmu biologi dapat memebrikan karakter mencintai lingkungan. Maka jika suatu ilmu telah memberikan suatu karakter pada diri kita itulah yang disebut karakterisasi. Maka sebaik- baik ilmu ialah ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Sehingga karakter karakter positif pula yang akan terbentuk dalam diri kita.

    ReplyDelete
  4. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    sebenar-benarnya karakter itu ada dalam diri, maka sebai-baik diri adalah yang selalu membaca hati, memberikankepada diri untuk berpikir dan merasakan tenang nilai-nilai baim dan benar. ajaran agama yang tercantum dalam kitab-kitab itu sebenarnya juga sudah ada dalam diri, letaknya ada dalam hati, maka disitu pula letak karakter itu berada yang kemudian diimplementasikan dalam perbuatan.

    ReplyDelete
  5. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Setiap manusia mempunyai karakter yang berbeda, karakter merupakan ciri khas yang dimiliki masing-masing individu, yang terbentuk dari kesadaran penerimaan informasi yang baru ,merespon,menilai, kemudian akan terbentuk sikap dan menjadi karakter , yang nantinya karakter itu akan menentukan apa yang akan di lakukan yang akan nampak melalui perkataaan,ucapan, gerak, pikiran, tindakan, bahkan sampai ke hati . Kiranya kita dapat membangun dan membentuk karakter yang baik karena hal tersebut dapat menentukan cara berpikir dan bertindak kita.

    ReplyDelete
  6. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Karakter orang dapat meliputi beberapa hal, misalnya ilmu, sikap, pikiran, fisik, jasmani dan lain-lain. Proses pembentukan mental tersebut menunjukan keterkaitan antara fikiran, perasaan dan tindakan. Dari akal terbentuk pola fikir, dari fisik terbentuk menjadi perilaku. Cara berfikir menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berprilaku menjadi karakter. Apabila hal ini terjadi terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan. Pembentukan karakter juga dapat diubah tergantung apa yang kita sedangn pikirkan atau kita alami. Jadi hati dan pikiran ini sangat mempengaruhi karakter setiap orang.

    ReplyDelete
  7. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Seseorang yang berkualitas dilihat dari karakternya. Berupa ucapan, aktivitas, pikiran, dan hati. Karakter seseorang dapat dibangun melalui ilmu yang mereka peroleh, yang mereka pelajari. Seseorang yang berilmu, terlihat dari karakternya. Begitu juga sebaliknya. Karakter itu sendiri sebaiknya dibangun sejak dini, atau bangku sekolah. Jadi tugas guru juga memberi pembelajaran untuk menciptakan siswa yang berkarakter baik.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  8. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menuntut ilmu yaitu dengan kesadaran diri, kemauan diri, sikap, dan lain sebagainya agar ilmu yang kita dapatkan menjadi bermanfaat bagi diri sendiri. Ilmu yang telah kita dapatkan tersebut demi kebaikan dunia dan akhirat. Agar menuntut ilmu tidak sia – sia, dan kita rasakan manfaatnya yaitu dengan rasa ikhlas. Ilmu yang kita cari yaitu ilmu demi kebaikan, yaitu yang dapat membawa manfaat. Mengacu pada apa yang telah dirasakan sebagai siswa, mahasiswa, adakalanya, saat berlangsung perkuliahan, kita merasa bosan ataupun lelah dalam mempelajari sesuatu. Semoga kita selalu mau, berminat, sadar akan ilmu yang kita dapatkan selama berkuliah, sehingga dapat bermanfaat bagi sendiri, dunia dan akhirat. Pun menuntut ilmu tidakhanya dalam bangku sekolah maupun perkuliahan, namun di luar itu, atau bahkan dalam kehidupan sehari – hari. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan membuka mata, pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  9. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Karakter yang kita miliki merepresentasikan ilmu yang kita miliki. Orang yang berilmu cenderung memiliki karakter yang baik. Setiap manusia pasti mempunyai karakter yang berbeda. Meski ia kembar identik pun. Hati dan pikiran yang ikhlas akan membuat karakter orang lebih baik.

    ReplyDelete
  10. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Tidak ada manusia yang sama, karena manusia itu sifat. Sifat itu bermacam-macam, karena manusia memiliki hati dan pikiran. Sehingga karakter manusia itu juga hasil dari olah hati dan pikirannya. Jadi manusia itu akan mudah dalam memahami dari apa yang mereka suka, karena sesuai dengan apa yang mereka pikirkan/sifatnya. Kemudian implikasinya dalam pembelajaran maka siswa akan lebih mudah memahami materi yang penyampaiannya disesuaikan dengan karakternya. selain itu, dalam menuntut ilmu, mengingat bahwa siswa memiliki karakter yang berbeda-beda, sedangkan kodrat manusia itu memang berbeda satu dengan yang lain, maka kita tidak bisa memaksakan semua siswa itu sama. Biarkan mereka merdeka menjadi dirinya masing-masing. Tugas guru disini juga berperan sebagai pengawas agar mereka berkembang kearah yang baik.

    ReplyDelete
  11. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Sebenar-benar ilmu itu tidak ada yang salah, ilmu itu bisa jadi salah tergantung dari bagaimana kita memberikan karakter terhadap ilmu itu sendiri namun sekali lagi bukan ilmu itu yang salah melainkan kita karena kita yang memberikan karakter terhadap ilmu itu. Karakter disini yang dimadsud dilihat sejauh mana memberikan azas kebermanfaatan bagi sesama di dunia maupun untuk akhirat kelak.

    ReplyDelete
  12. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Karakter seseorang tentu akan berbeda dengan karakter orang lainnya. Karakter setiap individu akan mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan, dan bahkan hati. Karakter dapat dibangun, memang tidak mudah. Butuh kebiasaan dan proses yang cukup lama. Semoga kita semua dapat senantiasa memperbaiki diri dan mempunyai karakter yang baik.

    ReplyDelete
  13. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Setiap ilmu yang sekarang sedang dipelajari, harus membentuk karakter, belajar tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Jika tujuan untuk kebahagiaan akhirat sehingga kebahagiaan di dunia akan didapatkan secara otomatis. Oleh karena itu dalam mempelajari diperlukan keikhlasan, kesadaran, perhatian, respon, penerimaan, minat, nilai, pengertian, dan karakter.

    ReplyDelete
  14. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Mempelajari suatu ilmu apapun pasti akan bermanfaat untuk diri kita. Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat untuk diri kita. Mempelajari ilmu didasari dengan kesadaran diri kita bahwa mempelajari itu adalah sesuatu yang akan memberikan pengalaman untuk diri sendiri. Keikhlasan hati menjadi penentu ilmu yang kita pelajari. Semakin ikhlas diri kita mempelajari sesuatu, tentu sesuatu itu akan semakin terasa manfaatnya untuk diri kita.

    ReplyDelete
  15. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Terkait dengan masalah nilai dalam penerimaan dan respon terhadap suatu ilmu maka itu merupakan sesuatu yang berada di akhir. Penilaian baik, buruk, maupun tak ada nilai bukanlah hal yang dipermasalahkan. Nilai menjadi sesuatu yang akan berbanding lurus dengan usaha dalam mempelajari ilmu. Ilmu yang kita pelajari apapun itu akan mempengaruhi karakter pada diri kita yang mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, dan hati

    ReplyDelete
  16. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Berdasarkan elegi ini, pengetahuan akan membentuk karakter sesuai dengan ilmu yang diperoleh. Karakter akan mempengaruhi setiap perilaku, sikap dan tindakan seseorang. Karakter yang baik muncul dari ilmu pengetahuan yang baik dan lingkungan yang baik pula. Di samping itu, dalam membangun ilmu pengetahuan yang baru, terdapat beberapa proses yang dilalui sebelum informasi yang diterima dapat tersimpan di dalam pikiran hingga menjadi karakter. Proses tersebut merlibatkan penerimaan, respon, nilai, pengorganisian nilai, hingga akan menjadi karakter. Maka tahapan tertinggi dalam membangun ilmu ialah perubahan karakter atau yang disebut sebagai karakterisasi. Karena perbedaan tiap individu dalam menjalani proses-proses tersebut, maka karakter yang dimiliki oleh setiap individu pun akan berbeda. Agar ilmu yang dipelajari dapat memberikan manfaat dan karakter yang baik, maka dalam proses karakterisasi perlu diyakinkan bahwa ilmu tersebut benar-benar baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat.

    ReplyDelete
  17. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Suatu ilmu tentu mengandung karakter di dalamnya. Belajar merupakan proses mencari ilmu agar dapat menjadikan seseorang yang belajar itu menjadi pribadi yang berkarakter sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya. Ilmu yang baik adalah ilmu yang berkarakter dan bermanfaat bagi diri sendiri yang belajar serta bagi lingkungan sekitarnya. Karakter positif akan terbentuk dalam diri kita apabila kita menggunakan ilmu dengan baik.

    ReplyDelete
  18. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Tidak ada kata rugi dalam mempelajari ilmu karena semua ilmu itu ada manfaatnya. Dengan belajar suatu ilmu, kita akan terbentuk menjadi pribadi yang berkarakter yang nantinya akan terlihat dari sikap, perkataan, maupun perbuatan kita sehari-hari. Seseorang yang mencari ilmu dengan ikhlas dapat membuat ilmu yang dipelajari itu mudah dipahami dan tidak membebani orang tersebut. Oleh karena itu, kita hendaknya belajar dengan ikhlas demi pribadi berkarakter.

    ReplyDelete
  19. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Menuntut ilmu atau belajar tidak bisa dengan paksaan oleh orang lain. Belajar yang baik yaitu belajar yang mencari ilmu atas kemauan sendiri, bukan atas kehendak orang lain. Hal ini dikarenakan apabila seseorang belajar hanya karena dipaksa maka hasilnya tidak akan maksimal karena dalam belajar penuh dengan tekanan. Dalam hal ini guru berperan untuk menciptakan minat belajar siswa sehingga mereka akan sadar sendiri tentang pendidikan berkarakter.

    ReplyDelete
  20. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Karakater itulah yang telah aku sebutkan bahwa ilmu yang bersesuaian antara hati dan pikiran. Ketika hatinya menjadi kotor maka ia akan mencemari ilmu yang merupakan anaknya. Dan terciptalah etika-etika yang berwujud sebagai karakter yang buruk rupanya. Namun ketika hati yang bersih masih tetap terjaga dan pengetahun masih mengekor kepada hati yang bersih dan tetap terjaga itu, maka terlahirlah etika yang berwujud sebagai karakter-karakter yang baik rupanya. Karakter itulah yang menyelimuti manusia dan menentukan siapa dirinya.

    ReplyDelete
  21. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    saya sangat setuju dengan salah satu pernyataan diatas, yakni jika hal itu mempunyai nilai yang sama mengapa harus diberi nama yang berbeda-beda, misalnya saja dalam strategi pembelajaran, ada contextual teaching and learning, ada mathematics realistic, ada PMRI, sesungguhnya mereka semua mempunyai nilai yang sama, yakni sama-sama mengimplementasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari, mengapa ketiga strategi tersebut tidak dijadikan satu nama saja, sehingga orang-orang tidak bingung dalam membedakannya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  22. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sebenar-benarnya diri kita adalah tidak lain dan tidak bkan adalah belajar menggapai diri. Mengenali diri kita yang sebenar-benarnya. Benar bahwa hidup adalah perjalanan, perjalanan menemukan diri kita. manjalankan segala peran kita di muka bumi. Sementara peran pada setiap orang dapat berubah sesuai dengan ruang dan waktunya. Begitulah manusia yang bersifat dinamis dan dapat berubah-ubah sesuai dengan adaptasinya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  23. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Karakter merupakan nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan. Kecenderungan, potensi. Nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran. Dengan adanya karakter (watak, sifat), kita dapat memperkirakan perilaku individu dalam pelbagai keadaan, dan karenanya juga dapat mengendalikannya. Dari situ, individu membentuk sifat-sifat kepribadiannya yang berguna bagi masyarakat. Karakter menemukan ungkapannya dalam sikap individu terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, terhadap tugas yang dipercayakan kepadanya, dan terhadap hal-hal lain

    ReplyDelete
  24. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Hal yang dibutuhkan seseorang ketika mempelajari ilmu baru adalah kesadaran, sudi menerima, perhatian, sudi merespon, mau merespon, kepuasan, kehendak menilai, referensi untuk menilai komitmen dan pengertian dengan syarat ilmu tersebut bermanfaat yang baik bagi dunia dan akhirat. Ilmu yang telah dipelajari sseseorang akan mempengaruhi karakternya. Kemudian karakter mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, kegiatan bahkan hati sehingga dapat disimpulkan bahwa ilmu yang dipelajari seseorang akan tergambar pada perilakunya.

    ReplyDelete
  25. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Karakter dapat berubah karena dipengaruhi tetapi dia juga dapat mempengaruhi sehingga menyebabkan perubahan. Karakter kita bisa berubah seiring dengan masuknya ilmu baru dalam diri kita. Dengan ilmu baru kita dapat mempengaruhi karakter diri kita sesuai dengan ciri keilmuan baru itu. Kemudian karakter yang telah berubah karena ilmu baru akan mempengaruhi kata-kata, ucapan, gerak, pikiran, bahkan hati kita. Sebenar-benar hidup adalah ilmu. Maka tiadalah dikatakan hidup jika tak membutuhkan ilmu. Ilmu lah penuntun kita pada kedamaian yang abadi kelak di akhirat-Nya. Kita bisa menggapai karakter baik dengan berusaha menuntut ilmu dunia dan akhirat. Ilmu itu lah yang dapat kita jadikan bekal untuk melangkah di muka bumi ini menuju ke alam akhirat. Maka sombong lah orang yang merasa tak membutuhkan ilmu lagi, padahal ilmu yang dimiliki hanyalah terbatas.

    ReplyDelete
  26. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Karakter seseorang dapat dilihat dari ilmu, ucapan, aktivitas, pikiran, hati, fisik, jasmani, sikap dan lain sebagainya. Karakter seseorang dapat pula dibentuk dari lingkungan dan pengalaman yang pernah dilaluinya. Karakter juga hendaknya sudah dibangun pada anak sejak usia dini, sebab karakter yang baik akan membuat seseorang terarah dalam memperoleh ilmu-ilmu yang diperlukannya.

    ReplyDelete
  27. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Karakter menurut pemahaman saya adalah sifat alami yang ada dalam diri manusia dan bersifat statis atau tetap. Ilmu, pengalaman dan lingkungan hanya akan merubah cara pandang seseorang terhadap dunia tapi tidak akan merubah karakter dari seseorang. Pada dasarnya karakter seseorang itu unik dan berbeda satu dengan lainnya. Dan pada dasarnya manusia terlahir dengan karakter yang baik dan bersih.

    ReplyDelete
  28. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh ilmu yang dimilikinya. Suatu ilmu yang baru lambat laun akan memberikan dampak yang signifikan pada karakter seseorang. Perubahan pembentukan karakter seseorang melalui kepemilikan ilmu baru ini disebut dengan karakterisasi. Ini seyogynya kita perhatikan dalam proses belajar mengajar. Kita dapat membentuk karakter peserta didik melalui proses pembentukan ilmu pengetahuan dalam proses belajar mengajar.

    ReplyDelete
  29. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Karakter atau watak dari ilmu pengetahuan adalah memiliki nilai untuk kehidupan manusia dan bisa diterima di semua kalangan. Tiada guna ilmu jika tidak ada faedah. Setiap hari kita menuntut ilmu karena ilmu sebagai penyeimbang dan juga penyelaras antara respon dan sebabnya. Antara yang ada dan yang mungkin ada. Penghubung antara kebijakan dunia dan akhirat.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  30. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Dalam menuntut ilmu kita perlu ikhlas, sadar serta harus merespon. Maksutnya adalah ketika kita belajar dengan guru atau dosen maka hal pertama yang harus kita persiapkan adalah ikhlas. Ikhlas untuk datang ke kelas, ikhlas mengorbankan waktunya untuk mendengarkan penjelasan dosen atau guru, ikhlas untuk menerima ilmu yang diberikan oleh dosen. Ketika ikhlas sudah kita miliki maka semuanya akan terasa ringan dan tidak merasa menjadi beban. Selain ikhlas maka kita perlu kesadaran ketika kita menerima ilmu. Apabila kita tidak sadar kita tidak mungkin dapat menerima ilmu yang diberikan oleh dosen atau guru.

    ReplyDelete
  31. Fauzul Muna Afani
    Pendidikan Matematika A 2013
    13301241010

    Kesadaran juga penting untuk berpikir apakah ilmu yang diajarkan mendatangkan kebaikan bagi kita dan lingkungan sekitar. Apabila sudah ikhlas dan sadar maka selanjutnya yang kita btuhkan adalah respon dari apa yang kita lakukan. Merespon dalam artian ada tindakan dari kita untuk mendapat ilmu tersebut. Penilaian kita terhadapat ilmu yang kita pelajari juga mempengaruhi. Minat, sikap dan karakter merupakan hal yang penting dalam berilmu.

    ReplyDelete
  32. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Dari elegi Prof. Marsigit di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa dalam menuntut ilmu, ada tiga hal yang patut dimiliki yakni kesadaran, perhatian dan keihklasan. Ketiganya menjadi modal penting. Kesadaran akan pentingnya menuntut ilmu harus ditanamkan dalam diri kita.Kesadaran bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya beberapa derajat. Kemudian dibutuhkan perhatian atau fokus agar kita lebih mudah dalam menerima ilmu. Selain keduanya, dibutuhkan keikhlasan. Ikhlas berlelah-lelah, bersungguh-sungguh dalam belajar.

    Sekian, terima kasih
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete

  33. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Dari beberapa hal yang patut diperhatikan dalam menuntut ilmu dan menggapai karakter di atas, Imam As-Syafii pernah menyampaikan nasihat kepada muridnya. Ia mengungkpakan bahwa kita tidak akan bisa mendapatkan ilmu kecuai dengan enam perkara. Pertama kecerdasan baik yang alami maupun dari hasil usaha, kedua semangat dalam belajar, ketiga yakni cita-cita yang tinggi, keempat adalah bekal dalam hal ini kita harus mau mengorbankan waktu dan juga harta yang kita miliki, kelima adalah mau duduk dalam majelis yang berdiskusi terkait ilmu yang bermanfaat, dan yang terakhir yakni waktu yang panjang.

    Sekian, terima kasih
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id