Sep 22, 2010

Elegi Konferensi Patung Filsafat

Oleh Marsigit

Logos:
Supaya bangsaku lebih dapat mengenal dirinya sendiri, maka aku akan menyelenggarakan konferensi patung filsafat. Aku persilahkan para patung filsafat untuk mengenalkan diri, memamerkan diri, mempromosikan diri. Tetapi jika para patung filsafat itu ingin kampanye mencari pendukung masing-masing, ya silahkan saja. Tetapi bagaimanapun aku akan tetap mengawasi dan mewaspadaimu semua. Saya akan menjadi moderator sekaligus pembahas. Wahai patung-patung filsafat, maka silahkanlah sekarang ini adalah waktumu untuk presentasi.



Patung Contoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung contoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi contoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya sebagai contoh yang baik bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi contoh yang baik.

Logos:
Wahai Patung Contoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan contoh?

Patung Contoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi contoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan contoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan contoh. Sekali contoh tetap contoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi contoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Contoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Tokoh:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung tokoh. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi tokoh bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali aku hanya sebagai tokoh bagi yang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah aku telah menjadi tokoh bagi yang lain.

Logos:
Wahai Patung Tokoh, bagaimana kejadiannya jika dirimu itu ternyata tidak dapat dijadikan tokoh?

Patung Tokoh:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadi tokoh. Maka jika aku mulai ditengarai tidak dapat dijadikan tokoh, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar aku tetap dapat dijadikan tokoh. Sekali tokoh tetap tokoh. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga aku tetap menjadi tokoh.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Tokoh. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Ide:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung ide. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi ide bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan ideku dapat digunakan bagi orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah ideku telah digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Ide, bagaimana kejadiannya jika idemu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Ide:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan ideku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai ideku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar ideku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga ideku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Ide. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Slogan:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung slogan. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan slogannya menjadi menjadi slogan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan sloganku dapat digunakan sebagai slogan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah sloganku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Slogan, bagaimana kejadiannya jika sloganmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Slogan:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan sloganku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai sloganku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar sloganku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga sloganku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Slogan. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Nasehat:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung nasehat. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan nasehatnya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan nasehatku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah nasehatku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Nasehat, bagaimana kejadiannya jika nasehatmu ternyata tidak digunakan oleh orang lain?

Patung Nasehat:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan nasehatku digunakan oleh orang lain. Maka jika ditengarai nasehatku mulai tidak digunakan orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar nasehatku digunakan oleh orang lain. Sekali digunakan tetap digunakan. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hinga nasehatku digunakan orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Nasehat. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Bijaksana:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung bijaksana. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan kebijaksanaanya menjadi menjadi panutan bagi yang lainnya, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya menjadikan kebijaksanaanku dapat digunakan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu apakah kebijaksanaanku digunakan oleh orang lain.

Logos:
Wahai Patung Bijaksana, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau dianggap tidak bijak oleh orang lain?

Patung Bijaksana:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah menjadikan diriku dianggap bijak oleh orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai dianggap tidak bijak oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku dianggap bijak oleh orang lain. Sekali bijak tetap bijak. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap bijak oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Bijaksana. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah bijaksana. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Disiplin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung disiplin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana mendisiplinkan orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya mendisiplinkan orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu mendisiplinkan orang lain.

Logos:
Wahai Patung Disiplin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak disiplin?

Patung Disiplin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah mendisiplinkan orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak disiplin oleh orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap disiplin oleh orang lain. Sekali disiplin tetap disiplin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap disiplin oleh orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Disiplin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah disiplin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pembimbing:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pembimbing. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana membimbing orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya membimbing orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu membimbing orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pembimbing, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu membimbing?

Patung Pembimbing:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah membimbing orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu membimbing orang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu membimbing orang lain. Sekali membimbing tetap membimbing. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dianggap mampu membimbing orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pembimbing. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu membimbing. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Patung Pemimpin:
Wahai hadirin semua, saya adalah patung pemimpin. Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana memimpin orang lain, maka aku adalah patungmu. Ketahuilah bahwa subyek dan anggotaku itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Sedangkan obyek –obyekku adalah para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka. Maka tiadalah pikiranku, niatku dan rencanaku kecuali hanya memimpin orang lain. Tidaklah terlalu peduli bagaimanakah keadaanku itu. Aku hanyalah peduli pada tujuanku yaitu memimpin orang lain.

Logos:
Wahai Patung Pemimpin, bagaimana kejadiannya jika ternyata engkau sendiri tidak mampu memimpin?

Patung Pemimpin:
Setinggi-tinggi dan sebesar-besar usahaku adalah memimpin orang lain. Maka jika ditengarai diriku mulai ketahuan tidak mampu memimpinorang lain, aku akan melakukan segala cara dan usaha agar diriku tetap dianggap mampu memimpin orang lain. Sekali memimpin tetap memimpin. Aku akan tutupi semua kelemahan dan keburukanku, sedemikian hingga aku tetap dapat memimpin orang lain.

Logos:
Itulah sebenar-benar Patung Pemimpin. Sebenar dirimu adalah sebuah patung. Engkau telah diciptakan oleh sipembuatnya, dan digunakan oleh sipembuatnya sebagai mitos. Sebenar-benar dirimu itu tidaklah mampu memimpin. Maka sebenarnya engkau itu adalah musuhku. Maka terkutuklah engkau itu.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, terutama yang belum memberikan presentasi: patung informasi, patung dermawan, patung kebaikkan, patung keamanan, patung koordinator, patung administrator, patung ketua, patung sekretaris, patung peraturan, patung sahabat, patung editor, patung fasilitator, patung guru, patung dosen, patung mahasiswa, patung jabatan, patung profesi, patung dedikasi, patung senior, patung pakar, patung pengalaman, patung orang tua, patung piagam, patung sertifikat, patung suami, patung lurah, patung ganteng, patung polisi, patung moral, patung etika, patung semua yang ada dan yang mungkin ada. Serta logos. Maafkan aku, karena terbatasnya waktu maka konferensi terpaksa kita hentikan. Perkenankan aku akan memberi sambutan akhir.

Orang tua berambut putih:
Wahai semuanya, sebenar-benar logos adalah berpikir kritis. Maka sebenar-benar logos adalah lawan dari mitos. Sedangkan sebenar-benar si pembuat patung tidak lebihnya seperti bangsa quraish pada jaman jahiliah, yaitu membuat patung kemudian mengajak orang lain untuk menyembahnya. Maka hanyalah logos atau berpikir kritislah yang akan dapat mengahancurkan segala patung-patung filsafat dan si pembuatnya itu.

17 comments:

  1. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Patung dibuat oleh si pembuatnya, seperti patung contoh, patung pemimpin, patung ide, patung slogan, dsb. Patung haya bersifat manipulatif, jadi sebenarnya patung hanya mengelabui orang lain untuk mengikutinya. Contoh seperti patung pemimpin, sebenarnya dia bukan pemimpin yang baik dan seharusnya, tetapi dia memakai topeng agama, topeng harta, topeng relasi, dll sehingga dia terkesan menjadi pemimpin. Inilah dinamakan terjebak dalam mitos, maka mitos itu musuh besarnya logos. Karena logos adalah berfikir kritis.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Subyek dan anggota para petung yang presentasi itu kebanyakan adalah para orang tua, para pemimpin, para guru, penguasa dan orang-orang yang mempunyai kelebihan-kelebihan, kecerdasan, kekayaan, kekuasaan serta orang-orang yang merdeka. Maka sebenar- benar ujian bagi orang- orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaannya, termasuk menggunakan kekuasaannya untuk menutupi kelemahan dan keburukannya agar tetapi berkuasa, agar tetap menguasai para objek. Para subjek ini telah menggunakan mitos mitos untuk menutupi kelemahannya di depan para objek. Maka para objek yaitu para orang muda, para anggota, para siswa, orang yang dikuasai, orang tidak berdaya, orang tidak berkuasa dan orang-orang yang tidak merdeka haruslah berusaha terlepas dari mitos- mitos yang dibuat para orang yang berkuasa. Cara mengalahkan mitos adalah dengan logos, dengan daya pikir kritis. Maka para objek haruslah berpikir kritis untuk mengalahkan mitos dan subjek yang membuatnya.

    ReplyDelete
  3. Areani Eka Putri
    12301249003
    Pend. Matematika Sub'12

    patung-patung filsafat itu menggambarkan tentang orang-orang yang berkuasa seperti para guru, orang tua, penguasa-penguasa, pemimpin dan yang memiliki banyak kelebihan. mereka menganggao dirinya bisa dijadikan teladan dan panutan, sumber ide, sumber nasehat dan lain sebagainya meskipun mereka menyadari mereka masih memiliki kekurangan mereka tidak berusaha untuk memperbaiki atau menerima pendapat orang lain malah menutupinya dengan mitos-mitos agar tetap berkuasa dan tetap dipandang baik sehingga mereka dapat mengontrol dan menguasai para objerk seperti anak-sanak, siswa, orang yang lebih lemah. untuk dapat mengalahkan dan mengatasi mitos itu harus memiliki logos dengan kata lain objek harus memiliki cara berpikir yang kritis.

    ReplyDelete
  4. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Patung filsafat adalah sebuah keadaan dimana seseorang akan memaksakan dirinya untuk menjadikan semua yang ada dan mungkin ada pada dirinya agar menjadi ada dan mungkin ada bagi orang lain tanpa memperhatikan kemampuan sebenarnya yang dimilikinya, dalam kenyataan kehidupan sering kita menemukan jelmaan manusia yang menjadi patung-patung filsafat yakni dengan memaksakan kehendak tanpa memperhatikan kemampuan dirinya, yaitu misalnya ia ingin menjadi contoh, tokoh, sumber ide,menasehati,memimpin, dan mencoba menjadi yang ada dan mungkin ada bagi orang lain meskipun sebenarnya ia tidak memliki kemampuan untuk menjadi itu semua.
    Sehingga untuk menghindarkan diri menjadi jelmaan patung filsafat atau untuk meruntuhkan patung filsafat yang bisa dilakukan hanyalah dengan berpikir kritis dan logis.

    ReplyDelete
  5. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Patung filsafat digambarkan sebuah para pemimpin atau penguasa yang dzalim. Karena mereka hanya ingin memerintah serta menguasai tanpa adanya sebuah ilmu(logos). Mereka itu lah yang menganggap dirinya sebagai yang paling mengerti dan berkuasa atas segala hal. Sebenarnya mereka itu diibaratkan sebagai patung yang pada jaman jahiliyah agar membuat kita tersesat. Oleh karena itu maka kita harus berpikir logis dan kritis agar dapat terhindar dari patung-patung filsafat.

    ReplyDelete
  6. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Suatu usaha untuk menjadi seseorang, dalam hal di atas seperti pemimpin, tokoh, nasehat, bijaksana, dan lain – lain tergantung pada niat. Jika seseorang ingin dianggap sebagai seorang pemimpin misalnya, maka tidak benar jika ia melakukan berbagai cara agar ia tetap menjadi seorang pemimpin. Yang dilakukan adalah bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Dalam percakapan di atas, patung – patung tersebut semua menutupi dari kelemahan yang dimiliki. Bukankah setiap ciptaan-Nya tak ada yang sempurna, yang selalu memiliki kelemahan. Yang bisa dilakukan adalah menjadi seseorang yang lebih baik dan berguna bagi orang lain, serta pada lingkup yang lebih luas.

    ReplyDelete
  7. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Berdasarkan elegi diatas patung filsafat ingin menjadi tokoh, yang dicontoh, yang dianggap mampu untuk memimpin, namun sebenarnya tidak. Itulah sebenar-benar mitos, lawan dari logos. Untuk itulah dalam memilih pemimpin yang nanti akan menjadi panutan, kita haruslah berpikir kritis. Jangan sampai salah memilih. Pemimpin yang baik haruslah bijaksana, pintar menjaga amana, dapat menjadi teladan yang baik untuk umatnya. Dan Pemimpin terbaik adalah Nabi Muhamma SAW.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  8. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Semua Patung-patung filsafat yang dijelaskan di atas bisa dikatakan hanyalah patung yang kalah dengan motif dalam artian kesemuanya hanyalah tidak lebih dari sebuah mitos karena dalam melakukan sesuatu tidak lepas dari orientasisinya mengejar motif yang bersifat ke arah materi melakukan segala upaya agar orang tetap menganut motif yang telah dicapainya oleh karena itu menurut saya menjadi logos yang befikir kritis adalah sebenar-benarnya yang harus menjadi orientasi kita.

    ReplyDelete
  9. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Sekarang di zaman modern ini, patung yang disembah oleh orang-orang bukan lagi patung yang terbuat dari batu. Melainkan patung yang berupa tindakan, sifat, jabatan, maupun status yang dapat menjadikan mereka diagung-agungkan oleh sebagian yang lain. Kita diharapkan dapat menghancurkan segala patung-patung filsafat dengan menggunakan ilmu yang kita miliki. Karena hanya pemikiran yang kritislah yang dapat menghancurkan ini semua.

    ReplyDelete
  10. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Patung filsafat dalam elegi ini merupakan sesuatu yang diciptakan oleh seseorang yang telah memiliki kelebihan dibanding dengan yang lain. Sesuatu yang dibuat tersebut mungkin memiliki tujuan yang baik untuk membantu orang lain, namun justru menutupi potensi dan kemampuan orang yang akan dibantu. Bantuan yang dibuat justru tidak mampu mendayagunakan potensi yang dimiliki bahkan dapat menyebabkan ketergantungan. Patung filsafat yang diciptakan juga dapat menyebabkan orang-orang yang lemah cenderung hanya menerimanya begitu saja dan mengikutinya, padahal patung-patung yang diciptakan bukanlah sesuatu yang sempurna. Patung yang diciptakan bisa jadi tidak sesuai dengan yang seharusnya. Semua objek yang ada dan yang mungkin ada dapat terancam menjadi patung filsafat. Maka agar tidak terjebak dalam patung filsafat, kita harus aktif, berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan agar dapat menggapai logos.

    ReplyDelete
  11. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Itulah konsep ideal dari apa yang ada dalam diri manusia. Tidaklah mungkin sesuatu itu menjadi ada jika tidk diciptakan dengan sabaik-baik oleh pembuatnya, itu tidak lain untuk menunjukkan konsep idealitas dari dalam diri manusia. Itulah mitos-mitos yang tercipta dibagan imajiner manusia. Mereka hanylah patung, merek memperagakan modelnya yang kaku. Kekuannyalah yang membuatnya menjadi mitos karena ia hanya memperagakan hal-hal itu saja dan tidak bisa mengkritisi apappun yang dilakukan dan apa yang dilakukan oleh orang lan terhadap dirinya.

    ReplyDelete
  12. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Sesungguhnya apa yang hendak kita lakukan itu harus mempunyai dasar, dalam artian kita harus tau dasar aturannya. Seperti hal nya dalam beribadah, dalam beribadah itupun kita harus tahu dasarnya sehingga kita tidak ikut-ikutan menyembah hanya karena itu merupakan tradisi orang tua. Ini juga merupakan salah satu kritikan bagi umat islam agar dapat menambah tingkat keimanannya, mengapa ia memilihi islam sebagai agamanya, apakah karena itu turun-temurun? Nah mari umat islam, kita harus mendalami agama yang kita anut secara lebih mendalam, sehingga kita tidak hanya beribadah sebagai mitos saja, atau beribadah karena ikut-ikutan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  13. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dengan logos atau berpikir kritis akan dapat melawan mitos, tujuan dari seorang pembuat patung pastilah agar menjadikan patung dalam bentuk apapun itu menjadi sesembahan bagi orang lain. Padahal sesungguhnya patung dapat menjadi sebuah model salah satu bentuk yang dapat dijadikan penyemangat atau motivasi untuk menjadi lebih baik, tetapi tujuan pembuatan sebuah patung adalah hanya diketahui oleh pembuat patung.

    ReplyDelete
  14. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dalam elegi di atas mitos diibaratkan menjadi patung, seperti patung contoh, patung tokoh, patung disiplin, dan lain-lain. Kondisi seseorang yang memaksakan kehendak tanpa melihat ke dalam dirinya untuk menjadi contoh, tokoh, disiplin, dan menjadi semua yang ada dan yang mungkin ada bagi orang lain, itulah sebenar-benarnya dia telah menjelma menjadi sebuah patung filsafat. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berpikir kritis dan tak mudah termakan mitos tentang semua yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  15. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Pada zaman jahiliyah atau zaman kebodohan, patung-patung dianggap sebagai Tuhan oleh mereka para penyembah berhala. Ketidakmengertian tentang agama menjadikan manusia pada zaman itu melihat benda-benda mati sebagai Tuhan mereka. Tpi kini manusia telah memiliki logos dalam berfikir yang lawan dari mitos. Dan hanya logos yang dapat mengahancurkan pemahaman akan patung-patung tersebut.

    ReplyDelete
  16. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    "Barang siapa berpikir, berniat, atau berencana menjadikan dirinya menjadi contoh bagi yang lainnya, maka dia adalah patungmu". Jadi tidak peduli siapakah dia dan apa yang melekat padanya asal dia dapat bermanfaat bagi orang lain dan dapat menjadi contoh yang baik. Sebagai seorang manusia tentu tidak ada yang sempurna, maka dari itu dibutuhkan kebijaksanaan untuk mencotoh yang baik dan meninggalkan contoh yang kurang baik. Dan manusia dituntut untuk terus berfikir, tesis dan antitesis terhadap segala hal yang ditemui agar terhindar dari mitos.

    ReplyDelete
  17. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Patung-patung filsafat pada elegi ini mirip dengan orang yang berkuasa dan sombong, berbuat sesuatu dengan tujuan tertentu, membuat mitos-mitos agar orang lain mempercayainya, dan tidak melihat apakah tujuannya baik atau buruk untuk obyek-obyeknya, tentunya ini sangat membahayakan banyak orang. Oleh karena itu, manusia diwajibkan menuntut ilmu agar tidak dibodohi oleh orang lain dan dapat mereduksi mana yang benar dan salah.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id