Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Pengetahuan Obyektif

Oleh Marsigit

Subyek1:
Wahai pengetahuansatu dimanakah engkau sekarang?



Pengetahuansatu:
Aku sekarang berada di dalam dirimu. Aku di dalam pikiranmu. Aku telah menjadi persepsimu. Aku telah menjadi imajinasimu. Aku telah menjadi analisismu. Aku telah menjadi tesismu. Aku telah menjadi
pendapatmu. Aku telah menjadi kesimpulanmu. Aku telah menjadi metodemu. Aku telah menjadi hak ciptamu. Itulah keadaanku sekarang, yaitu aku telah menjadi subyektifmu. Aku adalah dirimu yang subyektif, yaitu aku yang menurut ukuranmu sendiri.

Subyek1:
Tetapi mengapa engkau tampak gelisah.

Pengetahuansatu:
Aku mulai gelisah karena sedang memikirkanmu. Aku merasa tidak baik jika terus menerus tetap tinggal di dalam dirimu. Aku merasa iba terhadapmu jika nama baikmu tercemar gara-gara aku terlalu lama tinggal di dalam pikiranmu.

Subyek1:
Kemudian apa maumu.

Pengetahuansatu:
Aku ingin keluar dari dirimu. Aku ingin keluar dari dalam pikiranmu. Aku ingin mengadakan pameran. Dengan aku mengadakan pameran maka aku berharap banyak orang-orang akan mengetahui tentang diriku. Jika orang-orang banyak, mengetahui tentang diriku, maka mereka juga akan mengetahui tentang dirimu. Maka ijinkanlah aku mengadakan pameran, dan aku berjanji akan kembali masuk ke dalam dirimu, ketika sudah sampai saatnya.

Subyek1:
Baiklah kalau begitu, aku ijinkan engkau keluar dari dalam diriku dan silahkan mengadakan pameran.

Pengetahuansatu:
Terimakasih subyek1ku. Wahai orang banyak, aku berasal dari subyek1ku. Aku telah lama di dalam pikiran subyek1ku. Aku telah lama menjadi persepsi subyek1ku. Aku telah lama menjadi imajinasi subyek1ku. Aku telah lama menjadi analisis subyek1ku. Aku telah lama menjadi tesis subyek1ku. Aku telah lama menjadi pendapat subyek1ku. Aku telah lama menjadi kesimpulan subyek1ku. Aku telah lama menjadi metode subyek1ku. Aku telah lama menjadi hak cipta subyek1ku. Itulah keadaanku masa lalu, yaitu aku telah menjadi subyek1tif dari subyek1ku. Aku sekarang sudah berada di luar subyek1ku, yaitu aku telah bersiap untuk tidak menjadi ukuran dari subyek1ku sendiri. Aku siap mengadakan pameran. Maka silahkan engkau semuanya melihat diriku. Silahkan engkau semuanya meneliti diriku. Silahkan engkau semuanya mengoreksi diriku secara terbuka. Silahkan engkau semuanya menganalisis diriku. Silahkan engkau semuanya menilai diriku. Silahkan engkau semuanya memperbaikiku.

Subyek2:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

Subyek3:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

..

Subyekn:
Wahai pengetahuansatu maafkanlah jika aku nanti membuatmu kecewa karena aku telah menemukan bahwa ada beberapa hal darimu yang tidak sesuai dengan kebenaran umum.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan persepsi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah melakukan kesalahan analisi.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat tesis yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menyampaikan pendapat yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah membuat kesimpulan yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah menggunakan metode yang salah.
Aku menemukan bahwa subyekmu telah lama menganggapmu sebagai benar, padahal senyatanya engkau itu adalah salah.

Pengetahuansatu:
Waduh, bagaimanakah nasibku ini? Padahal selama ini aku telah menjadi kebanggaan subyek1. Aku telah menjadi pedoman subyek1. Aku telah lama menjadi anak emas dari subyek1. Padahal sekarang aku tahu sebenar-benar diriku tidaklah sesuai dengan pandangan orang-orang. Aku hanya benar sesuai subyektifitas subyek1. Padahal aku ternyata salah bagi subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn. Wahai para subyek semuanya, kecuali subyek1, aku minta tolonglah kepadamu. Bagaimana caranya agar aku juga benar bagi engkau semuanya.

Subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn bersama-sama menjawab:
Wahai pengetahuansatu, sungguh berat caranya. Sungguh panjang perjalanannya. Jika engkau menginginkan agar engkau juga benar bagi kita semua, termasuk benar bagi subyek1, maka subyek1 harus bersedia memperbaiki banyak hal.
Subyek1 harus memperbaiki persepsinya.
Subyek1 harus memperbaiki analisinya.
Subyek1 harus memperbaiki tesisnya.
Subyek1 harus memperbaiki pendapatnya.
Subyek1 harus memperbaiki metodenya.
Subyek1 harus memperbaiki kesimpulannya.

Subyek1:
Wahai subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn , terimakasih atas saran dan koreksimu. Aku dengan ikhlas telah menerima semua saran dan perbaikanmu.
Aku akan memperbaikki persepsiku.
Aku akan memperbaikki analisisku.
Aku akan memperbaikki tesisku.
Aku akan memperbaikki pendapatku.
Aku akan memperbaikki metodeku.
Aku akan memperbaikki kesimpulanku.
Maka inilah persepsiku yang baru. Inilah analisisku yang baru. Inilah pendapatku yang baru. Inilah metodeku yang baru. Inilah kesimpulanku yang baru.

Pengetahuansatu:
Wahai subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn , kelihatannya subyek1 tidak lagi mengakuiku. Lalu bagaimana nasibku?

Subyek2, subyek3, subyek4, ..., subyekn bersama-sama menjawab:
Wahai pengetahuansatu, itulah sebenar-benar nasibmu. Engkau telah berubah menjadi pengetahuan obyektif. Maka namamu juga telah berubah. Jika engkau tidak keberatan maka engkau akan aku sebut sebagai pengetahuandua.

Pengetahuandua:
Wahai subyek1, subyek2, subyek3, subyek4...subyekn, terimakasih aku ucapkan, karena aku telah engkau angkat menjadi pengetahuan obyektifmu. Tetapi aku merasa malu jika aku engkau angkat begitu saja tanpa engkau uji kehandalanku. ku juga merasa malu kepada pengetahuansatu, karena walaupun pengetahuansatu bersifat subyektif dan serba salah, tetapi berani mengadakan pameran. Maka aku bersedia menjadi pengetahuan obyektifmu semua dengan syarat aku diperbolehkan presentasi di seminar dan bergaul dengan orang-orang. Hal demikian juga aku maksudkan agar subyek1 bisa secara ikhlah menerimaku kembali dengan demikian aku berharap nantinya juga bisa menjadi pengetahuan subyektif dari subyek1.

Seminar dan pergaulan:
Wahai para hadirin semuanya, marilah kita bersama menguji pandatang baru kita ini, yaitu pengetahuandua, dan mengadakan diskusi dan pergaulan. Setelah kita berdiskusi, bergaul maka seminar ini mengambil kesimpulan bahwa ternyata:
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah persepsi yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah analisi yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah tesis yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah pendapat yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah metode yang benar.
Kita memutuskan bahwa pengetahuan2 adalah kesimpulan yang benar.

Pengetahuan2:
Wahai semuanya, aku terharu mendengar semua kesaksianmu. Aku telah engkau angkat menjadi pengetahuan obyektif bagi semuanya. Bahkan aku telah divalidasi dalam seminar dan melalui pergaulanpergaulan. Aku merasa netral dan tidak berpihak. Aku adalah benar bagi semuanya tanpa kecuali. Inilah sebenar-benar diriku. Aku adalah pengetahun obyektifmu semuanya.

Pengetahuan2 bertanya kepada subyek1:
Wahai subyek1, bagaimanakah menurut pendapatmu. Bagaimanakah kondisiku. Apakah engkau bersedia menerima diriku untuk menjadi pengetahuan subyektifmu sekaligis pengetahuan obyektifmu?

Subyek1:
Aku merasa terharu melihat betapa jauh pengembaraanmu. Engkau bahkan telah merubah wajah dan isimu demi menggapai kebenaran obyektif. Aku merasa sangat bersyukur, bahwasanya aku telah diberikan rakhmat dan hidayah Nya. Maka dengan serta merta aku dengan tangan terbuka dan dengan hati ikhlas, aku bersedia menerimamu kembali. Dengan ini engkau telah menjadi pengetahuanku baik secara obyektif maupun subyektif.

Orang tua berambut putih:
Dari berbagai pertanyaanmu itu sebetulnya aku telah hadir di sisimu. Aku telah menyaksikan bagaimana subyek1 sebenar-benar belajar. Itulah usahamu menggapai pengetahuan. Amien.

22 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Pengetahuan ada dua yaitu pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang berasal dari pikiran manusia, sedangkan pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang lebih luas dan melibatkan banyak unsur. Untuk dapat menggapai pengetahuan yang obyektif diperlukan pemikiran yang jernih sehingga mampu berfikir secara luas dan menyebar. Kenapa pikiran jernih, karena jika pikiran kita dinodai oleh pikiran kotor nanti bukan ilmu yang didapat melainkan kesombongan.

    ReplyDelete
  2. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Setiap manusia mempunyai pengetahuan-pengetahuan di dalam dirinya, maka jika pengetahuan itu hanya untuk dirinya sendiri maka dia tidak bersikap MENGADA. Pengetahuan harus dikeluarkan ke masyarakat sosial untuk diuji. Jika pengetahuan/pemahaman/pendapat seseorang bersifat subyektif, maka setelah dibuktikan maka akan berubah menjadi obyektif. Itulah usaha setiap manusia untuk menggapai pengetahuan obyektif.

    ReplyDelete
  3. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang berdasarkan pemikirannya sendiri tanpa memerhatikan unsur-unsur atau pemikiran-pemikiran lain dan akan bersifat benar bagi pemikirnya sendiri. Sedangkan pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang merupakan pemikirannya sendiri yang memperhatikan unsur-unsur lain serta pemikiran-pemikiran lain, persepsi-persepsi lain yang membuat benar untuk semua yang berpikir tentangnya.

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pengetahuan subjektif ialah pengetahuan yang berasal dari pendapat atau pemikiran diri sendiri yang hanya diakui oleh pemilik pengetahuan itu sendiri. Sedangkan pengetahuan objektif merupakan pengetahuan yang tidak hanya oleh diri kita sendiri tetapi juga oleh orang lain. Maka sebenar- benar pengetahuan subjektif dapat menjadi pengetahuan objektif yaitu dengan menyampaikan pengetahuan subjektif tersebut kepada orang lain sehingga orang lain dapat menguji kebenaran pengetahuan tersebut. Karena itulah setiap orang harus berani menyampaikan pengetahuan subjektifnya sehingga dapat didengar orang lain dan dapat dikoreksi sehingga pengetahuan subjektif tersebut dapat sekaligus menjadi pengetahuan objektif.

    ReplyDelete
  5. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Dari membaca elegi diatas saya dapat melihat pengetahuan dari dua sudut pandang, yaitu pengetahuan yang bersifat subyektif dan pengetahuan yang bersifat obyektif. Pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang kita ketahui dan ada dalam pikiran kita yang kebenarannya masih bersifat pribadi sehingga belum tentu bisa diterima secara universal sedangkan pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang ada dalm pikiran kita yang kebenarannya berlaku secara umum dan dapat diterima oleh orang lain karena kebenarannya telah disepakati. Karena itu adalah lebih baik jika kita menilai sesuatu hendaknya bersikap objektif bukan subjektif. Kita menilai berdasarkan dengan kenyataan dan kebenaran yang bersifat universal bukan berdasarkan pada pembenaran akan diri sendiri.

    ReplyDelete
  6. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Elegi di atas dari sudut pemahaman saya menejlaskan tentang 2 hal yakni tesis subyektif dan tesis obyektif. Tesis subyektif sebuah kesimpulan yang hanya didasarkan sebatas pemikiran pribadi dimana kebenarannyapun bersifat pribadi sehingga untuk menjadi tesis objektif dimana kebenaran bisa diterima oleh orang lain juga tidak hanya diri pribadi maka di butuhkan anti tesis (Apa yang ada dalam diri kita adalah tesis dan apa yang diluar dari diri kita adalah anti tesisnya). Dan anti tesis didapatkan melalui proses diskusi terkait koreksi, kritik dan saran dari orang lain maka terciptalah sintesis setelah mengalami proses pereduksian penyataan, persepsi atau kesimpulan yang kurang tepat sehingga pada akhirnya melahirkan tesis baru berupa pengetahuan obyektif.

    ReplyDelete
  7. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Pengetahuan berdasarkan elegi diatas terdapat dua sudut pandang, yaitu pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang ada dalam pikiran kita, apapun yang kita pikirkan tentang sesuatu tanpa adanya intervensi dari orang lain. Untuk pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang masih dipengaruhi oleh siapa orangnya yang sedang dipikirkan atau adanya intervensi dari pikiran orang lain. Dalam membangun sebuah pengetahuan itu yang baik jika pengetahuan itu berdasarkan pengetahuan yang terjadi sebenarnya. Pengetahuan akan semakin bagus jika kita bisa menggabungkan atau mencampurkan dengan pengetahuan orang lain karena dapat memperkaya ilmu yang akan kita miliki.

    ReplyDelete
  8. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Dalam mempelajari suatu ilmu tentunya kita memiliki pandangan masing-masing (subyektif), tiap orang memiliki pandangan atau persepsi yang berbeda. Untuk itu agar persepsi kita tidaklah salah, kita perlu mendiskusikannya atau bertanya dengan orang yang lebih ahli. Jangan berlaku sombong merasa bahwa persepsi kitalah yang paling benar. Bisa jadi salah, melalui kegiatan diskusi kita bisa mendengarkan persepsi orang lain dan kemudian menemukan kebenaran.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  9. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pengetahuan dapat dipandang dari dua sudut pandang, yaitu pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang benar menurut diri kita sendiri. Sedangkan pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang benar menurut kita dan juga menurut orang lain. Cara menjadikan pengetahuan yang kita miliki bisa menjadi pengetahuan obyektif yaitu dengan mempublishnya sehingga orang lain dapat melihat dan menerima kebenarannya.

    ReplyDelete
  10. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Dan sekali lagi, bahwa pengetahuan subyektif merupakan cerminan analitik a priori. Namun apalah daya jika semua itu hanyalah analitik, tidak menjadi sintetik? Ia hanyalah tesis tanpa merasakan anti-tesisnya. Maka semua itu hanya angan-angan belaka. Tidaklah ia menjadi hidup jika hanya berkarat dalam pikiran. Diasah pun dalam pikiran, asahnya juga bukan batu lagi tetapi tinggal kayu yang menjadi pegangan dari asahan itu. Ya, itulah karena dia terlalu lama mambuat subyektif tertanam sangat lama dan membuatnya lapuk karena kesalahan-kesalahan yang hanya bisa bisa dibuktikan jika ia dikeluarkan.

    ReplyDelete
  11. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Dan bahwasanya, pengetahuan obyektif hanya dapat digapai dengan membuat tesis menyentuh anti-tesisnya sehingga menjadi sintetik. Subyektif haruslah dikeluarkan dari tanah yang membuatnya lapuk dan berkarat. Ia haruslah pula dibuktikan. Ia yang sudah terasah hanya dari kayu haruslah merasakan batu asah dalam dunia anti-tesisnya. Apalah dayanya jika ia ingin menjadi sintetik namun tak memiliki tesis? Maka sebenar-benarnya pengetahuan obyektif adalah jika ia mampu manjadi pengada untuk sintetik a priori

    ReplyDelete
  12. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pengetahun dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan subyektif dan obyektif. Pengetahuan obyektif diperoleh dengan mendengarkan pendapat-pendapat orang lain, bukan hanya dari pikiran kita. Sebenar-benar belajar adalah melalui pengetahuan subyektif dan obyektif.

    ReplyDelete
  13. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Pengetahuan yang hanya berdasarkan pada kebenaran menurut keyakinan diri sendiri atau yang biasa disebut dengan pengetahuan subyektif tidak lah cukup. Hal ini karena kebenaran subyektif hanyalah benar bagi suatu subyek dan tidak benar bagi subyek lain. Bahkan pengetahuan yang subyektif kemungkinan tidak sesuai dengan kebenaran yang sesungguhnya. Agar pengetahuan tidak hanya benar menurut diri sendiri, maka kita perlu mengembangkan pengetahuan tersebut, diantaranya dengan mengkomunikasikannya dengan orang lain. Dengan demikian pengetahuan tersebut akan mengalami penilaian dan juga mendapatkan masukan serta perbaikan sehingga pengetahuan dapat berkembang dan diakui kebenarannya oleh subyek lain. Pengetahuan tersebut berubah tidak hanya subyektif melainkan merupakan pengetahuan obyektif. Pengetahuan obyektif merupakan pengetahuan yang tidak berpihak atau netral. Pengetahuan ini benar bagi semua pihak dan telah diakui kebenarannya.

    ReplyDelete
  14. Vety Triyana K
    13301241027
    P Matematika Int 2013

    Manusia haruslah senantiasa mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang bertebaran di muka bumi ini, sehingga ada kewajiban dari manusia untuk memiliki ilmu pengetahuan seperti apa yang sudah diperintahkan oleh agama. . dengan adanya ilmu pengetahuan , kita sebagai manusia dapat menciptakan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. sebelum menggapai ilmu pengetahuan yang objektif, terlebih dahulu berhadapan pada ilmu pengetahuan subjektif. karena pengetahuan subjektif ini merupakan bentuk pengetahuan tentang apa yang kita pikirkan, apa yang kita rencanakan untuk bisa disalurkan kepada lingkungan masyarakat. setelah memilki pengetahuan subjektif barulah melangkah kepada pengetahuan objektif. pengetahuan objektif ini merupakan kemampuan dalam ucapan, sesuatu apa yang kita lakukan, atau bisa dikatakan sebagai bentuk pergerakan dari apa yang didaptkan pada pengetahuan subjektif. Alangkah lebih baik lagi jika kita telah memiliki pengetahuan baru baik pengetahuan objektif maupun pengetahuan subjektif haruslah kita amalkan atau kita implementasikan kedalam kegiatan sehari-hari agar manfaatnya dapat terasa.

    ReplyDelete
  15. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam elegi menggapai pengetahuan yang objektif yang dapat saya tanggapi adalah kita perlu bersikap objektif dalam menggapai pengetahuan yang ingin kita capai. Apabila kita bawa ke ranah pembelajaran di kelas dimana terdapat guru dan siswa. Maka seorang guru dalam menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa-siswanya haruslah bersikap secara objektif, karena ketika seorang guru bersikap subjektif maka akan terjadi kecenderungan guru tersebut hanya melihat siswa yang menurutnya pandai saja, dan ini akan menimbulkan rasa kontradiksi antara siswa yang satu dan siswa yang lainnya.

    ReplyDelete
  16. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang benar hanya menurut diri kita sendiri tetapi belum tentu menjadi benar untuk orang lain. Sedangkan pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang benar menurut kita dan juga menurut orang lain. Terkadang kita begitu sombong menggunakan standar kita sendiri, tidak mempedulikan standar yang digunakan orang pada umumnya. Padahal benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain pada umumnya. Hal inilah yang kemudian menghasilkan pengetahuan yang subjektif berdasar diri kita pribadi. Maka dibutuhkan perjuangan untuk mencapai pengetahuan objektif yang menggunakan standar pada umumnya, bukan lagi standar individual.

    ReplyDelete
  17. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Pengetahuan obyektif adalah pengetahuan yang benar menurut kita, dan juga benar menurut orang lain. Pada pengetahuan kesalahan persepsi, analisis, tesis, pendapat dan kesimpulan menggambarkan pengetahuan subyektif pikiran manusia, sehingga untuk menggapai pengetahuan yang obyektif maka pikiran dan pengetahuan dapat disintesiskan menghasilkan kebenaran persepsi, analisis, tesis, pendapat, metode, dan kesimpulan. Dengan proses itu dilakukan secara bersama maka akan didapatkan pengetahuan yang tidak hanya memiliki nilai kebenaran pada satu orang saja, tetapi juga untuk beberapa orang (universal).

    ReplyDelete
  18. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tentu kita tidak bisa memiliki jawaban untuk pertanyaan sejauh mana pengetahuan yang engkau miliki. Pengetahuan hari ini akan berbeda dengan pengetahuan hari besok dan seterusnya. Kita akan mengetahui sejauh mana pengetahuan yang kita miliki ketika yang ada dan yang mungkin ada itu nyata tidak ada di dalam pikiran.

    ReplyDelete
  19. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Setiap orang memiliki pandangannya masing-masing dalam menilik suatu ilmu pengetahuan, keadaan inilah yang dinamakan subjektivitas. Keadaan ini boleh jadi akan menimbulkan kesalahan-kesalahan persepsi, misskonsepsi, kesalahan analisis, kesalahan penyi mpulan dan lain sebagainya. Sehingga ada baiknya jika seseorang memberi pandangan terhadap suatu ilmu, ia tetap berhati-hati dan melihat dari sisi objektivitas pengetahuan tersebut.

    ReplyDelete
  20. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Kita harus terus belajar, terkadang apa yang kita anggap benar selama ini adalah merupakan hal yang salah. Maka dalam hal ini memperbanyak pengetahuan adalah kuncinya. Misalnya saja orang zaman dahulu menganggap benar bahwa bumi itu datar, padahal setelah dilakukan penelitian oleh nicola corpenicus telah diketahui bahwa bumu itu bulat. Jadi pengetahuan awal yang telah disepakati benar oleh banyak orang menjadi salah ketika kita terus belajar untuk mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  21. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Pengetahuan berhubungan erat dengan kebenaran. Sedangkan kebenaran bersifat relatif dan bertingkat. Ada kebenaran menurut diri sendiri atau pribadi, ada kebenaran kelompok, dan juga ada kebenaran mutlak. Begitupun dengan pengetahuan, dia juga bersifat seperti kebenaran. Pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Pengetahuan subyektif mengandung unsur kebenaran pengetahuan menurut pribadi masing-masing sehingga dia belum tentu menjadi pengetahuan bagi orang lain, sedangkan pengetahuan obyektif adalah pengetahuan subyektif yang sudah mengalami proses sintesis, tesis dan antitesis oleh orang lain dalam interaksinya, sehingga pengetahuan obyektif tersebut dapat mengandung unsur kebenaran bukan hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain.

    ReplyDelete
  22. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Pengetahuan terdiri dari pengetahuan subjektif dan pengetahuan objektif. Pengetahuan subjektif adalah benar menurut pikiran kita, sedangkan pengetahuan objektif adalah benar menurut pikiran kita dan pikiran orang lain. Untuk mengkonfirmasi kebenaran dari pemikiran kita, maka kita harus mengutarakannya pada orang lain. Maka kita dapat melakukan perbaikan pada pemikiran kita.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id