Jul 31, 2010

Elegi Menggapai Lengkap

Oleh Marsigit

Obyek pikir:
Wahai lengkap, siapakah diriku itu? Apakah keadaanku itu memenuhi kelengkapan? Mengapa banyak orang memikirkan diriku beraneka ragam?



Lengkap:
Aku saat ini sedang memikirkanmu sebagai tidak lengkap. Senyatanya aku tidaklah mampu memikirkan dirimu secara lengkap. Itulah keterbatasanku. Tetapi keterbatasanku itu juga keterbatasanmu.

Obyek pikir:
Mengapa engkau menampakkan diri. Bahkan lebih dari itu? Mengapa engkau mengaku-aku dapat menjamin kelengkapanku.

Lengkap:
Itulah hakekat yang ada dan yang mungkin ada. Jika aku adalah yang mungkin ada, mengapa engkau musti protes tentang keberadaanmu. Ketahuilah wahai obyek pikir, bahwa diriku itu juga bernasib sepertimu juga. Aku tidak lain tidak bukan juga merupakan obyek pikir. Aku sepertimu juga, yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi aku sekaligus juga merupakan metode berpikir. Aku merupakan kelengkapan atau penyeimbang dari adanya reduksi. Tugasku adalah mengawasi reduksi. Maka jika aku biarkan reduksi itu berkeliaran, itulah sebenar-benar dirimu semua. Karena engkau semua akan binasa dimangsa oleh reduksi. Maka sebetulnya fungsiku adalah menjaga dirimu semua.

Obyek pikir:
Oh maafkan aku, jika aku telah lancang terhadapmu. Tetapi mengapa engkau bersifat kontradiksi. Suatu saat engkau mengharuskan diriku untuk menggapai lengkap, tetapi suatu saat engkau selalu mengakui tidak akan pernah diriku itu menggapai lengkap. Maka manakah dirimu itu yang dapat aku percaya?

Lengkap:
Itulah sebenar-benar dirimu. Manusia itu pada hakekatnya terbatas dalam semua hal. Aku bagi dirimu adalah kontradiksi, padahal bagi diriku aku tidaklah kontradiksi. Itulah kodratnya. Itulah batas pikiranmu. Tetapi agar engkau mempunyai gambaran bagaimana sulitnya menggapai lengkap, maka undanglah teman-temanmu kemari. Aku akan berikan penjelasan secukupnya kepada engkau semua.

Kubus:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai kubus mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai kubus yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan. Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bola:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bola mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bola yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai bentuk dan ukurannya saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Guru matematika:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai guru matematika mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagaiguru matematika dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai guru matematika yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai dari sisi kompetensi mendidik dan hubunganku dengan subyek didik dan pendidikan matematika. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Mahasiswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai mahasiswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai mahasiswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan dari sisi kompetensi belajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai mahasiswa dan dunia mahasiswaku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Siswa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai siswa dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai siswa yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai UAN. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Bilangan:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai bilangan mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku dapat menyebutkan berbagai sifatku antara lain sebagai bilangan yang indah, mahal, murah, buruk, besar, kecil, terbuat dari kayu, terbuat dari besi, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai nilai saja. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Dosen:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Ketahuilah bahwa aku sebagai dosen dapat menyebutkan sifat-sifatku sebagai dosen yang gemuk, kurus, cantik, tampan, kaya, miskin, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya diambil sifatku yang sedikit saja. Oleh reduksi aku hanya dipikirkan kompetensi mengajarku dan hubunganku dengan tugas-tugasku sebagai dosen dan dunia dosenku. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Diskusi:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai diskusi mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai diskusi yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai diskusi yang baik. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Doa:
Wahai lengkap, perkenankanlah aku ingin melaporkan kepada dirimu. Aku telah merasa didholimi oleh reduksi. Ketahuilah bahwa aku sebagai doa mempunyai sifat-sifatku yang lengkap. Sifat-sifatku itu luas merentang seluas dunia, sampai batas pikiranku. Aku bisa menyebutkan sifat-sifatku sebagai doa yang mahal, murah, seru, heboh, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi mengapa oleh reduksi aku hanya dipikirkan sebagai doa yang khusuk. Dan sifat-sifatku yang lain telah direduksi atau dihilangkan.Dengan demikian aku merasa sedih dan timpang hidupku. Aku merasa jauh dari kelengkapan seperti yang aku idamkan.

Lengkap:
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, siswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku. Tetapi...
Wahai semua obyek pikir, kubus, bola, guru matematika, mahasiswa, bilangan, dosen, diskusi, doa, ...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Iba rasa hatiku menyaksikanmu dan juga menyaksikanku. Mengapa? Karena yang engkau akui sebagai kekuatanmu itu sebenarnya adalah kelemahanmu. Dengan bangganya dan sombongnya engkau selalu katakan “......dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Itulah sebenar-benar kelemahanmu dan juga kelemahanku. Mengapa?
Jikalau engkau semua memang bermaksud menggapai lengkap, mengapa engkau sendiri tidak bisa lengkap menyebutkan semua sifat-sifatmu itu? Mengapa engkau musti selalu berkata “...dan seterusnya. Saya ulangi dan seterusnya. Itulah kekuatanku”. Bukankah itu bukti bahwa tiadalah ada satu obyek pikirpun dapat aku pikirkan sebagai lengkap. Sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Itulah kelengkapan hanya milik Tuhan YME.

Semua obyek pikir bersama-sama berkata:
Wahai lengkap ampunilah aku semua. Karena kepicikanku semua itulah aku telah berbuat tidak bijaksama terhadap ketentuanmu. Tetapi bukankah engkau tahu bahwa kami semua selalu terancam oleh reduksi. Kami semua benar-benar merasa ketakutan, terhadap perilaku reduksi. Terus bagaimanakan solusinya?

Orang tua berambut putih:
Wahai lengkap. Wahai reduksi. Dan wahai semua obyek pikir. Ingatlah bahwa lengkap dan reduksi itu juga obyek pikir. Jadi ketentuan bagi obyek pikir berlaku juga bagi lengkap dan reduksi. Maka dengarkanlah semua nasehatku ini.
Ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia, maka dia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu maka manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi. Sejak lahir hingga mati, semua manusia menggunakan metode reduksi. Sebetul betulnya reduksi adalah metode untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu.
Ketahuilah bahwa tiadalah mudah menerima bagi suatu obyek pikir untuk dihilangkan atau dieliminasi sebagian atau beberapa sifat-sifatnya. Maka itulah kodratnya bahwa manusia diberi karunia untuk selalu berikhtiar agar dapat melengkapi hidupnya. Namun ketahuilah bahwa karena keterbatasan manusia maka manusia tidak dapat lengkap memeikirkan dirinya dan juga memikirkan obyek pikirnya. Itulah kodrat Nya.
Maka dapat aku katakan bahwa sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Sebenar-benar lengkap adalah idamanmu. Maka bacalah elegi-elegi yang lainnya agar satu dengan yang lainnya selalu dapat dikaitkan. Baca juga khususnya elegi menggapai harmoni.
Demikianlah kesaksian saya. Renungkanlah. Selamat belajar. Semoga sukses. Amien.

23 comments:

  1. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia sebagai makhluk Tuhan yang identik dengan ketidak sempurnaan hanya bisa memikirkan segala sesuatu sebagian saja, tidak bias menyebutkan lengkap, itulah sebabnya manusia berpikir reduksi, yaitu berpikir dengan melihat peruntukkannya. Karena ketika manusia berpikir lengkap maka sesungguhnya tidak akan bisa selesai untuk menjelaskan salah satu dari objek pikir saja. Sehingga kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan tak tidak sombong dengan apa yang kita miliki sekarang.

    ReplyDelete
  2. Dita Nur Syarafina
    NIM. 16709251003
    PPs Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang lengkap, bahkan manusia pun tidak akan pernah lengkap. Lengkap hanya dirasakan ketika di akhirat. Tetapi mengapa banyak manusia mengatakan lengkap? Itulah obyek pikir manusia. Manusia seringkali mereduksi pengertian kata lengkap sehingga pemahaman tentang lengkap menjadi sederhana. Itulah tanda keterbatasan manusia. Kenyataanya, manusia hanya bisa berusaha menggapai lengkap.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Reduksi itu yang sesuatu dengan ruang dan waktu sedangkan lengkap adalah idaman. Maka sebenar- benar manusia itu ialah menggapai lengkap. Lengkap itu tidak akan pernah tergapai tetapi harus terus digapai, itulah hidup. Tidaklah mungkin menjadi seorang manusia yang memiliki segalanya yang bahkan segalanya itu tidaklah dapat kita sebutkan satu per satu. Tetapi sangatlah mungkin bagi manusia untuk terus berikhtiar melengkapi segala sesuatu yang belum lengkap.

    ReplyDelete
  4. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Manusia itu pada hakekatnya adalah mahluk yang terbatas dalam semua hal. keterbatasan manusia ini menyebabkan manusia tidak dapat memikirkan semua obyek pikirnya yaitu yang ‘ada’ dan yang ‘mungkin ada’.Sehingga karena keterbatasannya maka manusia tidak dapat lengkap memikirkan dirinya dan memikirkan obyek pikirnya, karena dia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Tiada satu obyekpun dapat dipikirkan sebagai lengkap.. Oleh karena itu manusia dibekali dengan metode reduksi yaitu metode penyederhanaan berpikir dengan hanya mengambil bagian tertentu saja sesuai dengan kebutuhan.Sehingga dapat dimaknai bahwa sebenar-benarnya hidup adalah mampu menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap.

    ReplyDelete
  5. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    Manusia dilahirkan di muka bumi ini layaknya kertas putih, bersih. Tak mengetahui apapun. Namun dibekali akal pikiran sebagai karunia untuk selalu berikhtiar. Berusaha agar dapat melengkapi hidupnya walaupun dengan segala keterbatasan dan juga meyakini bahwa nasib bisa di rubah selama kita mau merubahnya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  6. ANDI SRI MARDIYANTI SYAM
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah
    Assalamu Alaikum Wr. Wb.,

    "Maka bacalah elegi-elegi yang lainnya agar satu dengan yang lainnya selalu dapat dikaitkan." Pesan tersebut salah satunya yang bisa saya ambil dari tulisan Prof. Marsigit di atas. Dimana kita senantiasa terus menambah pengetahuan dari membaca. Dan dari situ, kita bisa menghubungkan pengetahuan yang satu dengan pengetahuan yang lain hingga kita menguasai berbagai ilmu, sehingga semakin dekatlah kita dengan yang disebut "lengkap."


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  7. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Sesungguhnya manusia adalah ciptaan Allah yang mempunyai batasan-batasan serta tidak lengkap. Maksudnya manusia tidak lah sempurna, konteks tidak lengkap disini maksudnya adalah manusia yang selalu terbatas untuk menggapai lengkap, karena manusia pada dasarnya tidak puas atas apa yang telah dimilikinya. Lengkpa dalam menggapinya harus disertai dengan usaha dan doa, jangan hanya berdiam diri untuk mendapatkannya. Selama masih ada jalan mungkin saja kita bisa menggapainya. Tetapi kita tidak bisa menggapai lengkapNya Allah SWT yang menciptakan kita.

    ReplyDelete
  8. Vety Triyana K
    13301241027
    P. Matematika Int. 2013

    Ketidaksempurnaan manusia ditandai dengan cara berpikir manusia itu sendiri yang hanya mampu memikirkan sesuatu hanya dari sebagaian aspek yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu manusia di haruskan untuk melakukan usaha atau ikhtiar untuk melengkapi dari pemikiran yang belum lengkap tersebut. Dengan kemapuan berpikir kita yang seperti ini diharapkan kita sebagai manusia dapat mencapai tujuan hidup kita dengan tidak lupa senantiasa berdoa ketika kita melakukan ikhtiar.

    ReplyDelete
  9. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Lengkap dan reduksi merupakan obyek pikir. Namun dalam berpikir manusia sebagai makhluk Tuhan yang tidak sempurna, memiliki keterbataasan. Manusia hanyalah mampu memikirkan sebgaian kecil dari obyek filsafat (yang ada dan yang mungkin ada). Sehingga Tuhan memberikan manusia untuk berpikir secara reduksi. Sebenar-benar berpikir adalah reduksi.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  10. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan kodrat terbatas. Yang kita perbuat ataupun yang kita pikirkan tidak perbah bisa mencapai lengkap. Karena kelengkapan absolute hanya milik Allah SWT. Dengan keterbatasannya manusia tidak mampu menjadi lengkap ini, karena itu manusia selalu melakukan reduksi dalam hidupnya.

    ReplyDelete
  11. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan, manusia itu makhluk sempurna karena dibekali akal dan pikiran. Tetapi akal dan pikiran itu juga akan berdampak pada pemikiran manusia yang berbeda-beda. Sedangkan pikiran manusia itu terbatas, manusia tidak akan pernah bisa memikirkan apa yang ada di luar pikirannya. Maka itulah ketidaksempurnaannya, dan tentunya masih ada banyak lagi. Sehingga lengkap atau tidaknya manusia itu tergantung dari ruang dan waktu. Oleh karena itu, syukurilah kesempurnaan yang telah diberikan Tuhan pada kita, dan mohon ampunlah karena ketidaksempurnaan kita.

    ReplyDelete
  12. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Kelengkapan merupakan sebuah simbol dari dimensi yang lebih tinggi terhadap dimensi yang lebih rendah yaitu obyek pikir. Namun selain daripada itu kelengkapan mungkin saja bisa menutupi kekurangan dari obyek pikir, namun keberadaan obyek pikir juga untuk mengisi kekosongan kelengkapan agar menjadi lebih baik. Mereka berdua seindah dua sejoli yang saling menutupi dan saling mengisi satu sama lain. Kelengkapan dan obyek pikir lahir untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Namun itu hanya sebatas dari dimensi dunia yang ada saat ini (immanen), sulitlah dipandang secara keataa (transenden).

    ReplyDelete
  13. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Secara transenden dapat dipahami bahwa nyatalah Sang Maha Lengkap. Pada komentar sebelumnya kelngkapan dan obyek pikir saling menutupi, namun secara transenden Sang Maha Lengkap tidaklah membutuhkan "obyek pikir-Nya", obyek pikir hanya membutuhkan Sang Maha Lengkap. Obyek pikir tidaklah akan ada apa-apanya tanpa Sang Maha Lengkap, namun Sang Maha Lengkap tidaklah membutuhkan "obyek pikir" jika ia berkehendak. Ia tidak butuh itu untuk menjadi sempurna dan lebih baik, karena Ia adalah Sang Maha Pemilik Segala. Namun "obyek pikir" membutuhkannya untuk membuatnya melewati dimensinya dan menjad lengkap sesuai kehendak Sang Maha Lengkap.

    ReplyDelete
  14. Eka Pravista
    13301241004
    Pendidikan Matematika A 2013

    Jika ada yang merasa lengkap, maka tidaklah akan ada kejadian selanjutnya pada diri yang merasa lengkap. Tidaklah ada yang lengkap pada setiap yang merasa lengkap kecuali hanya milik-Nya.

    ReplyDelete
  15. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dari elegi ini, lengkap merupakan hal yang sempurna. Allah memberikan keistimewaan pada manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, namun dibalik keistimewaan itu, manusia juga tidak sempurna, memiliki keterbatasan dalam memikirkan yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena keterbatasan itulah manusia juga dikaruniai kemampuan untuk menyederhanakan semua yang ada dan yang mungkin ada yang menjadi obyek pikirannya. Inilah yang dinamakan kemampuan mereduksi. kelengkapan yang bersifat reduksi dari manusia merupakan salah satu cara untuk berikhtiar melengkapi hidupnya. Sehingga keseimbangan antara reduksi dan lengkap merupakan sebenar-benar kehidupan berpikir manusia.

    ReplyDelete
  16. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Manusia diciptakan dengan banyak keterbatasan. Pikiran manusia pun memiliki keterbatasan. Karena keterbatasan manusia, maka dia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari apa yang sedang dipikirkannya. Misalnya ketika menyebutkan sifat-sifat kubus, manusia mengucapkan "dan seterusnya. Hal itu menunjukkan manusia tidak dapat menyebutkannya dengan lengkap. Itu lah keterbatasan manusia. Karena keterbatasan itu pula, manusia dibekali metode berpikir reduksi. Memikirkan hanya yang diperlukan. Lengkap yang absolut hanya milih Tuhan YME.

    ReplyDelete
  17. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Keterbatasan menjadi sebuah keniscayaan pada diri setiap manusia. Karena keterbatasan manusia tersebut, maka manusia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu manusia dibekali Tuhan dengan metode berpikir reduksi. Sepanjang hidupnya, manusia menggunakan metode reduksi untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu. Sebenar-benar metode reduksi adalah sesuai ruang, waktu dan peruntukkannya. Manusia tak akan pernah bisa menggapai lengkap, karena sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Lengkap absolut adalah kelengkapan yang hanya dimiliki Allah SWT. Kita dapat menyimpulkan bahwa Allah SWT mempunyai sifat kesempurnaan yang absolut (tidak terbatas) dari segala hal. Sehingga sebagai hamba kita tak punya hak untuk sombong dengan segala keterbatasan ini. Semoga kita ditetapkan menjadi manusia yang sadar akan keterbatasan diri kita.Amiin..

    ReplyDelete
  18. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Manusia memiliki keterbatasan dalam mengolah dan menjalani kehidupan ini termasuk dalam hal berfikir, ini berarti manusia hanya mampu memikirkan sebagian saja dari yang ada dan yang mungkin ada dalam kehidupan. Oleh karena itu maka manusia dibekali dengan metode berpikir reduksi yang merupakan metode untuk terbebas dari jebakan ruang dan waktu. Sebenar-benar hidup adalah menjaga keseimbangan antara reduksi dan lengkap. Sebenar-benar reduksi adalah sesuai ruang dan waktunya. Sebenar-benar lengkap adalah idaman.

    ReplyDelete
  19. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Tak ada yang sempurna di dunia ini, manusia dengan keterbatasan yang dimilikinya. Yang bisa dilakukan yaitu menyelaraskan, menyeimbangkan dan menggapai harmoni. Menjadi seseorang yang bersyukur dan tidak iri terhadap orang lain. Karena selalu ada kelebihan dan kelemahan dalam diri yang menjadi ciri dari seseorang. Tak sombong dan memamerkan apa yang menjadi kelebihan dan berusaha untuk memperbaiki kelemahan yang dimiliki. Semoga kita selalu merefleksikan diri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lagi. Amin.

    ReplyDelete
  20. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Semua obyek pikir janganlah merasa sombong untuk menyebutkan kelengkapan yang ada pada diri masing-masing. Sesungguhnya semua obyek pikir itu tidak ada yang lengkap, pasti ada kelemahan dan kekurangan. Inilah keterbatasan yang dimiliki manusia, manusia hanya mampu memikirkan sebagian dari yang ada dan yang mungkin ada. Kelengkapan hanya milik Alloh SWT

    ReplyDelete
  21. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Setiap manusia ditakdirkan memiliki limitasi terhadap ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan bersifat infinit dan lengkap. Dengan demikian tidaklah mungkin manusia dapat mencapai pada sebuah titik yang disebut dengan lengkap. Sehingga yang dapat dilakukan manusia adalah mencoba memangkas jarak antara posisi dirinya dengan suatu titik yang disebut dengan lengkap. Dan manusia harus terus berproses mensintesis, tesis dan antitesis sehingga dirinya dapat terus menggapai logos dan menghindarkan dirinya terhadap mitos.

    ReplyDelete
  22. NUR AZIZAH
    16709251017
    PMAT KELAS A PPS UNY 2016

    Sebenarnya tidak ada yang benar-benar lengkap di dunia ini. Selengkap apapun kita menyebutkan, tetap saja kita tidak bisa menyebutkan semuanya dengan lengkap. ‘dan seterusnya dan seterusnya’ adalah bukti kelemahan dari lengkap. Tidak pantas bagi kita untuk merasa sombong. Sebab selengkap-lengkapnya diri kita tetaplah belum lengkap. Maka sebenar-benar lengkap adalah milik Alloh swt. dengan segala kebaikan yang lengkap dan jelas.

    ReplyDelete
  23. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend Matematika S2 Kelas B

    Manusia tak akan pernah bisa menggapai lengkap, karena sebenar-benar lengkap adalah lengkap absolut. Lengkap absolut adalah kelengkapan yang hanya dimiliki Allah SWT. Maka sungguh kita tidak ada apa-apanya di hadapan Allah, kita tak berdaya untuk menggapai lengkap. Oleh karena itu, selalu berikhtiarlah dan berdoa agar dapat melengkapi hidup meskipun tidak dapat menggapai lengkap. tetap berikhtiarlah mencapai sempurna meskipun kita tidak akan pernah mampu meraihnya, namun setidaknya kita berusaha mendekati kesempurnaan itu.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id