Oleh Marsigit
Ada paling tidak 3 (tiga) kekuatan/manfaat filsafat yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan dimensi hidup manusia Jawa/Indonesia/Timur.
Pertama, kesadaran akan RUANG dan WAKTU.
Banyak permasalahan hidup terjadi dikarenakan manusia kurang atau tidak memahami masalah dimensi ruang dan waktu. Banyak cara ditempuh agar kita memahami ruang dan waktu; tiap bangsa, tiap suku dan tiap Agama mempunyai caranya masing-masing. Orang yang tidak menyadari akan ruang dan waktu, dalam perwayangan digambarkan sebagai waktu Kala, yaitu sifat-sifat buruknya sang Batara Kala. Sedangkan orang yang telah mempunyai kesadaran tentang ruang dan waktu, dalam perwayangan digambarkan sebagai waktu Cakra, yaitu waktunya Sang Khrisna. Orang Jawa yang belum menyadari akan ruang dan waktu maka dia perlu diruwat, dengan cara menggelar pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk. Puncak acaranya adalah pertempuran antara Batara Kala dengan Sri Batara Khrisna, yang kemudian dimenangkan oleh Batara Khrisna dengan senjata Cakra nya, artinya Buruk Waktu dikalahkan oleh Baik Waktu. Itulah betapa orang Jawa/Indonesia/bangsa Timur menganggap pentingnya kesadaran tentang RUANG dan WAKTU. Sebetulnya, ruang dan waktu adalah hidup itu sendiri, dengan menyadarinya maka dia akan menyadari hidupnya. Jadi dapat dikatakan bahwa mempelajari filsafat adalah meruwat diri sendiri agar sadar ruang dan waktu.
Kedua, analisis yang bersifat INTENSIF dan EKSTENSIF.
Berpikir intensif yaitu berpikir secara dalam sedalam-dalamnya; dan berpikir ekstensif adalah berpikir luas seluas-luasnya. Kedua kegiatan berpikir itu akan mampu memberi jawaban ontologis persoalan hidup manusia. Berpikir intensif akan menyoroti hakekat sesuatu dengan sinar terang 1000 watt; sehingga tidak ada satupun yang mampu bersembunyi karenanya. Semua tanpa kecuali akan terungkap tidak ada yang tersisa. Dengan berpikir ekstensif, manusia akan terhindar dari berpikir parsial, sehingga akan memperoleh keseluruhan dalam kesatuan dan kesatuan dalam keseluruhan. Dalam perwayangan, berpikir intensif dan ekstensif ini digambarkan sebagai Senjata Kaca Paesan dari Sang Bathara Krisna. Maka Batara Khrisna dapat mengetahui rencana-rencana buruk dan jahat dari para Kurawa, mengetahui siluman dan mengetahui para bajulbarat, tek-tekan prajuritnya Batara Kala. Kaca Paesan itu pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh orang-orang ikhlas Pandawa Lima. Demikianlah, maka pemikiran yang mendalam dan luas dapat memberi rasa keikhlasan bagi para subyek pikirnya. Maka mempelajari filsafat dapat dikatakan usaha manusia untuk menuntut ilmu.
Ketiga, selalu berusaha menggapai LOGOS dan menggapai BUKAN MITOS.
Maka musuh sebenarnya bagi orang berfilsafat adalah berhentinya pikiran kritis atau keadaan mitos. Mitos tidak berada dimana-mana kecuali siap bercokol dalam diri kita sendiri. Jika kita sudang merasa mencapai jelas atau terang kemudian kita enggan untuk memeikirkannya kembali, maka mitos siap menerkam kita. Dalam perwayangan, ini digambarkan sebagai Senjata Kembang Cangkok Wijaya Kusuma dari Sri Khrisna, yaitu dapat menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Orang yang enggan berpikir digambarkan orang sakit yang perlu dinaungi Kembang Cangkok Wijaya Kusuma, demikian pula orang yang tidak mau berpikir digambarkan sebagai orang yang mati. Maka mempelajari filsafat dapat dikatakan usaha manusia agar tetap hidup dan lebih hidup.
Itulah makna kiasan dari ajaran-ajaran Jawa/Indonesia/Timur yang penuh dengan metapora yaitu ajaran-ajaran tersembunyi, agar memang manusia itu perlu memikirkannya.
Demikian semoga bermanfaat. Amiiin.
The small of beauty and the beauty of small can be very different things however they are all amazing. The great of beauty and the beauty of great can also be very different things however they are also amazing. The small of ideas is sometimes amazing. So everything can be amazing. Life is translating and to be translated in the schema of space and time. So I am concerned with what we were proud of in the past, what we are doing now and what we are going to prepare for the future. Marsigit
Blog Archive
-
►
2010
(29)
-
►
February
(10)
- Elegi Memahami Jejaring Sistemik
- Elegi Konferensi Internasional II Para Transenden
- Elegi Konferensi Internasional I Para Transenden
- Elegi Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit
- Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan
- Elegi Konferensi Pertama Para Bagawat
- Elegi Sang Bagawat Main Paksa
- Elegi Meratapi Sang Profesor Plagiat dan Guru Pema...
- Elegi Silaturakhim Para Ikhlas
- Elegi Memahami Sang Kanopi
-
►
January
(12)
- Elegi Memahami Sang Konveyor
- Elegi Menggapai Cemani
- Elegi Menyesali Rumahku Yang Terlalu Besar
- Elegi Perpisahan Kuliah Filsafat 2009: Kutarunggu ...
- Elegi Mencocokan Teori dan Praktek
- Elegi MengungkapTempurung Pendidikan
- Elegi Wawancara Imaginer Dengan Direktur Pabrik Ma...
- Elegi Menyaksikan Sang Rahwana Diperdaya Kapinala
- Elegi Kuda Lumping Bangsaku
- Elegi Menonton Pakar Pendidikan Bingung
- Elegi Tarian Lenggang
- Elegi Menakar Bilangan Seperduapuluh
-
►
February
(10)
-
▼
2009
(242)
-
►
December
(8)
- Elegi Menangkap Pedagang Bangsa
- Bahan Ujian Semester Filsafat 2009/2010: Elegi Men...
- Elegi Mengeledhek Kaum Tribal Dengan Sebotol Sofdr...
- Elegi Menggapai Awal dan Akhir Kedua
- Tugas Terakhir Filsafat (Untuk Semua Mahasiswa Fil...
- Lagi Pertanyaan Filsafat: Analog, Hubungan, Taraf ...
- Pertanyaan Filsafat: Mendengkur atau Tidak Mendeng...
- Infor Terkini Des 2009
-
►
November
(15)
- Elegi Mengintip Pesta Raya Black-hole Diraja (Lanj...
- Elegi Menggapai Pergaulan Dunia
- Elegi Pemberontakan Para Normatif
- Misteri Dibalik Elegi Menggapai Sastra
- Elegi Pemberontakan Para Formal
- Elegi Menggapai Menilai Normatif
- Elegi Menggapai Sastra Jawa
- Elegi Menggapai Hati Yang Jernih
- Elegi Menggapai Pikiran Jernih
- Elegi Menggapai Nilai Diri
- Elegi Menggapai Awal
- Elegi Menggapai Pondamen
- Elegi Menggapai Kenyataan
-
▼
October
(11)
- Elegi Menggapai Mengada dan Pengada
- Elegi Menggapai Pikiran Ikhlas
- Elegi Menggapai Bijak
- Elegi Menggapai Hati Kesatu
- Elegi Memahami Elegi
- Ontologi dan Epistemologi Jawa: Mengerti Hidup?
- Ontologi dan Epistemologi Jawa: Hubungan subyek pr...
- Elegi Pemberontakan Para Logos
- Filsafat atau Sastra?
- Referensi Hakekat Berpikir
- Refleksi Diri
-
►
December
(8)
Monday, October 26, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
23 comments:
menurut saya bangsa timur menganggap pentingnya kesadaran tentang ruang dan waktu memang benar.
sifat-sifat buruk hanya bisa dikalahkan dengan kesadaran ruang dan waktu dan menyadari bahwa manusia itu harus berupaya menjadi yang lebih baik prinsipnya secara beristiqomah
menurut saya bangsa timur menganggap pentingnya kesadaran tentang ruang dan waktu memang benar.
sifat-sifat buruk hanya bisa dikalahkan dengan kesadaran ruang dan waktu dan menyadari bahwa manusia itu harus berupaya menjadi yang lebih baik prinsipnya secara beristiqomah
NINI WAHYUNI
LT UNY CLASS A
2009
Untuk menggapai tahap mengerti, membutuhkan proses yang kadang cukup panjang. Ada yang cepat menyerah, namun ada juga yang pantang menyerah.
Pepatah petitih Minang juga tak kalah kayanya dengan Jawa. Banyak sekali nasehat2 yang menggambarkan tentang keberartian hidup.
Salah satunya yang cukup terkenal adalah: " Alam Takambang Jadi Guru". Maksudnya Apa yang ada dibumi ini bisa dijadikan pelajaran hidup. Hal ini selaras dengan ajaran Islam yang menyuruh kita untuk belajar melalui ayat2 Qauliyah dan Kauniyah.
Terkadang manusia sadar akan kelemahan2 dan kekurangannya, tapi hanya sedikit yang mau menyadari dan meng-up grade kekurangan2 itu. Adapun yang sudah meraih kekuatan2 dalam kehidupan, namun sayang dimanfaatkan untuk menyengsarakan orang lain.
Wallahualam.
"Bakato bapikia dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang nan tahu, ulemu padi nan kadipakai."
(Orang yang pandai dalam kehidupan,bergaul, di ibaratkan bagai padi yang semakin berisi akan semakin menunduk)
Sdr Nini Wahyuni...itulah kekayaan dan local genious bangsa Indonesia termasuk suku Minang, Jawa dll. Itulah tugas kita untuk menggali mutiara terpendam nenek moyang kita. Kerangka pikir filsafat barat itu merupakan modal dasarnya. Amiin
belajar untuk mengerti sanaat membutuhkan waktu yang panjang, ketika mengerti tampak sedikit cahaya terang kita di tuntut untuk tahu dan paham dan juga membutuhakan waktu yang panjang pula ini menurut saya juga merupakan permasalahan hidup, sehingga ketika kita belum mampu untuk mengerti dan memehami itulah sebenarnya suatu permasakahan timbul sehihingga kita tidak bisa berfikir sedalam dan seluas-luasnya sehingga timbul suatu kepercayaanluar yang orang sering sebut sebagai mitos.
dalam mencapai mengerti dan kemudian memahami tentunya perlu suatu perjuangan keras dan pantang menyerah. kita mesti belalajar dengan falsafah hidup,kiasan kata dan makna,nasihat dan petuah agar kita mampumengerti dan memahami arti hidup.
Setelah membaca wacana diatas, saya teringat Bapak waktu menyampaikan mata kuliah filsafat kemarin, mengatakan bahwa sifat yang baik dicontohkan didalam pewayangan oleh Sri Bathara Kresna atau Narayana yang mempunyai senjata-senjata yang bapak sebutkan seperti diatas, namun yang saya tanyakan bahwa Sri Batara Kresna juga mempunyai ajian yaitu Tiwikrama yaitu dapat menjadi raksasa atau "Buta" seperti ajian miliknya Puntadewa, yang merupakan salah satu Team dari Pandawa. Nah dari hal berdasarkan hal tersebut jika dilihat dari kacamata filsafat apa maksudnya? terima kasih pak...
salam pak. selalu berusaha menggapai LOGOS dan menggapai BUKAN MITOS. saya sengat setuju dengan point ini. tapi yang ingin saya tanyakan pak. menagap filsuf kadang juga banuyak yang terjebak pada mitos bukan logos. prasangaka bukan ilmu. dugaan bukan keilmiahan. Phytagoras misalkan, menyatakan bahwa manusia mengalami reingkarnasi. nyawanya bisa berpindah kepada tumbuhan, hewan dan akhirnya menggapai kesempurnaan dengan kembali ke jasad manusia. ilmu pengetahuan mana yang bisa menjelaskan pendapat ini? kalo dimensinya ilmu masih belum sampai apa tidak lebih baik diam atau memikirkan hal lain yang jelas dan konkrit. Allah berfirman: yasalu naka 'anirruh, quliruh min amri rabbii wama utitum minal ilmi illa qaliila "mereka bertanya tentang ruh (nyawa), katakanlah (wahai Muhammad )ruh adalah ruh adalah urusan Tuhanku, tidaklah aku diberi pengetahuan tentangnya kecuali sangatlah sedit (al Isra: 85). Wallahu 'alam. Terimakasih pak
Taufik Novantoro..Khrisna Tiwikrama itu sama saja dengan marahnya orang bijak. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa orang bijak bisa marah? Maka coba mari kita renungkan bersama bilamana Tuhan YME itu kemudian menjadi MURKA?
Ass..Sdr Wahyudi..uraian anda menambah wawasan kita semua. Amiin.
salam super pak......
pertanyaan saya kapan ruang dan waktu itu berubah pak???
muhlisin (UPY)
setelah saya membaca artikel ini saya mendapatkan kata kata orang yang malas berfikir di umpamakan orang yang sakit dan dinaungi kembang caplok wijaya kusuma apa makna ungkapan itu menurut pandangan bapak?
Terimakasih atas penjelasannya pak...
Asalamu'alaikum Wr. Wb
Sarjiyo (03410084) UPY Pendidikan MTMTK
Kebetulan saya juga senang dengan seni pewayangan, wayang menggambarkan dari setiap orang yang diciptakan Allah SWT dimana manusia karena memiliki yang paling sempurna yaitu akal pikiran sehingga dapat memikirkan mana yang baik dan yang buruk .Yang baik digambarkan Pandawa dan yang bersifat buruk kurawa disini yang digambarkan bapak adalah Kresna dimana beliau mempunyai banyak ilmu yang hebat atau ngedab - edabi dan dapat menghadapi atau membantu segala rintangan yang ada sehingga membantu pandawa untuk berbuat kepada kebaikan. Intinya manusia harus berhati - hati dalam bertindak harus mengunakan pedoman yang benar sesuai tuntunan . Pertanyaan saya apakah ada kresna pada zaman sekarang sehingga dapat membantu umat manusia untuk berbuat kebaikan ? Padahal orang sekarang sekali dayung penginnya terpenuhi !
Wasalamu'alaikum Wr. Wb
Nama :Prestigian Prita Sholikah
NIM :06410344
Prodi :Pend. Matematika UPY
Apakah sebenarnya maksud dan tujuan bapak dengan setiap perkataan yang dikemas secara filsofi,
bukankah dengan bahasa yang ringan, sederhana dan mudah disampaikan dapat dipahami mahasiswa
sehingga dalam mengikuti mata perkuliahan akan lebih menarik. Apakah maksud bapak menggunakan
bahasa filosofi supaya mahasiswa dapat berfikir lebih kritis...? Menurut hemat saya, justru malah
sebaliknya..mahasiswa seakan akan dibuat menerjemahkan bahasa filosofi dari pada makna pembelajaran
filsafat pendidikan matematika.
ass....wr.wb
Hidup kita akan mudah juka kita jalani dengan ikhlas dan hidup kita akan bermakna jika kita bisa menempatkannya kedalam kesadaran kita akan ruang dan waktu. sesungguhnya hidup ini hanyalah bersifat sementara. tidak satupun didunia ini yang hidup untuk selamanya kecuali Allah SWT.
wassalam....
Saya kurang sependapat dengan tulisan Bapak pada “Ontologi dan Epistimologi Jawa” yang menyatakan bahwa “Banyak permasalahan hidup terjadi dikarenakan manusia kurang atau tidak memahami masalah dimensi ruang dan waktu”. Sebab banyak sekali orang yang menyadari tentang dimensi ruang dan waktu tetapi dia tidak berusaha mencari kebenaran absolute (Kebenaran yang turun dari Tuhan “Allah SWT”), padahal hakekat hidup itu sesungguhnya adalah mengabdi kepada tuhan sebagaimana diperintahkan dalam kitab yang diturunkan melalui Nabi-NabiNya, buktinya banyak sekali isme-isme (keyakinan-keyakinan) yang tidak merujuk kepada arahan Tuhan.
Assalamuallaikum…...
Setelah membaca elegi ini saya sepakat bahwa ada paling tidak 3 kekuatan/manfaat filsafat yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan dimensi hidup manusia. Akan tertapi menurut saya ini semua tergantung dari manusia itu sendiri . misalnya manusia sadar akan ruang dan waktu karna ruang dan waktu adalah hidup itu senri. Manusia itu tahu ini salah, itu salah toh masih lakukan juga. Inilah maksud saya walaupun manusia itu sadar akan ruang dan waktu akan tetapi tidak meningkatkan dimensi hidupnya.
Wassalam…..
Ambar Winarsih (06410367) UPY
Menurut saya apabila kita mempelajari sesuatu, kemudian telah mencapai taraf pemahaman. Maka sebaiknya kita menerapkan ilmu itu,agar kita tetap berpikir dan mitos tidak menerkam kita.
Asslkm wr wb. Mencoba memahami makna arti mengerti hidup memerlukan suatu perenungan. Terlebih lagi jika kita akan memaknai apa sih mengerti hidup diri kita? Ini perlu adanya suatu proses muhasabah yang mendalam.
(09709251024) PMB
Ass.
Saya jadi teringat ketika saya dulu menjalani ruwatan. Waktu itu saya hanya mengerti bahwa ruwatan yang dilakukan untuk keselamatan hidup kita, saya mengikuti saja apa yang diperintahkan. Berarti saya waktu itu belum menyadari ruang dan waktu ya Pak ? Mungkin saya juga melakukan ruwatan diri sendiri untuk menyadari ruang dan waktu. Sedangkan kaca paesan, kita dapat melihat dengan jelas tentang ilmu pengetahuan yang kita pelajari ketika kita mempunyai niat yang ikhlas. Banyak orang Timur mempercayai mitos, sehingga logos sering ditinggalkan. Berfikir kritis itu penting dalam hidup seseorang. Dengan mempelajari filsafat, awal dari segala awal.
Assalamu'alaikum.Wr.Wb.
Pak, ketika seseorang menikah dan bertempat tinggal di lingkungan atau desa suaminya, maka sudah pasti dia harus mngikuti adat istiadat disana. Bagaimana seandainya sang perempuan tidak bisa menjalani adat istiadat yang berlaku disana karena tidak sesuai dengan hati nuraninya atau kepercayaannya? apakah itu berarti dia telah bertentangan dengan ruang dan waktu yang berlaku di lingkungan itu?
Ass..Neny Endriana..di batas pikiranmu itulah ilmumu. Ternyata ilmumu itu tidak hanya di batas pikiranmu, tetapi juga dibatas hatimu, dibatas kata-kata dan bahasa mu. Ternyata ilmumu itu juga berada dibatas kemampuanmu, termasuk kemampuan menyesuaikan diri. Padahal aku telah menyaksikan bahwa ilmumu itu adalah hidupmu. Maka renungkanlah. Amiin
Terimakasih banyak atas penjelasannya pak...
Post a Comment