Mar 8, 2011

Elegi Seorang Guru menggapai Diri?




Oleh: Marsigit
Kata-kataku terbukti tidak cukup:
Tiadalah tolok bandingan apa yang baru saja aku alami. Terangnya pikiranku melebihi terangnya lampu seribu watt. Jernihnya pikiranku melebihi jernihnya air tirisan. Lembutnya hatiku melebihi lembutnya salju. Ikhlasnya hatiku seikhlas hilangnya jiwa ragaku. Kutatap sekelilingku, maka mereka menebar senyum kepadaku. Kupalingkan wajahku maka karunia dan rakhmat Nya lah yang terpancar. Keburukan meluruh menjadi kebaikan.

Semuanya seakan memberi selamat kepadaku atas terangku yang baru aku dapat. Semua yang kulihat terbaca olehku ayat-ayat Nya. Apakah ini yang disebut sebagai kun fayakun maka jadilah, jika Tuhan menghendakinya. Maka hanya doa syukur ku lah yang selalu meluncur tiada henti atas karunia Mu ya Tuhan. Janganlah keadaan ini cepat berlalu ya Tuhan. Aku tidak mau pergi, aku ingin tetap di sini, karena aku merasa segar walaupun tiadalah setetes air menyentuh bibirku. Aku merasa kuat walaupun tiada sesuap nasi masuk dalam perutku. Oh Tuhan, jikalau Kau perkenankan aku, tetapkanlah aku selamanya disini. Karena inilah kerinduan yang selama ini aku dambakan. Tetapi saya ragu apakah permohonanku benar, karena ternyata saya mulai sadar bahwa kata-kataku tidaklah cukup. Padahal masih banyak pertanyaanku. Ketika aku tidak mampu bertanya, apakah diriku sudah mati atau masihkah aku bisa menghirup udara segar?
Aku meragukan kesadaranku sendiri:
Sambil melantunkan doa-doaku tak terasa air mataku jatuh menimpa kakiku. Setetes air mataku telah menyadarkan kakiku dari tidurnya. Pelan-pelan kesadaran itu menjulur keseluruh tubuhku. Badan terasa hangat, kepala terasa berat, mata terasa kantuk. Maka kutengok kiri, tiadalah orang disampingku, ketengok kanan tiadalah juga orang di sana. Pelan-pelan aku mulai sadar bahwa selama ini aku telah sendiri. Dalam kesendirian ini mulai terasa dinginnya sepi. Maka dengan sisa-sisa tenagaku, dengan gontai aku mulai berjalan meniti lorong. Terlihat jelas di sana banyak lorong-lorong itu. Ada lorong yang lebar, ada lorong yang sempit, ada lorong yang panjang ada pula lorong yang pendek. Di ujung-ujung lorong selalu ada pemandangan yang bermacam-macam, ada yang indah, ada yang terang, ada yang kelam, ada yang ramai seperti pasar, tetapi juga ada gambar yang menakutkan seperti raksasa. Dalam kegamangan melangkah, aku sempat bertanya dalam hati, dimanakah aku ini. Masih hidupkah aku? Apakah ini dunia? Jangan-jangan ini akhirat. Maka kuraba erat-erat tanganku, kugerakan kakiku, kugelengkan kepalaku, dan kukedipkedipkan mataku. Semuanya tampak jelas sesuai dengan kriteria bahwa aku masih hidup.
Tetapi aku tidak bisa meragukan pertanyaanku:
Walaupun saya masih meragukan kesadaranku sendiri, tetapi ada yang sangat jelas tidak dapat kuragukan, yaitu pertanyaanku. Setelah aku merasa mendekati batas itu, maka luruh dan layulah semua tanaman yang ada dalam pikiranku. Pikiranku seakan padang pasir yang luas dengan bukit-bukit. Aku seakan lupa akan semuanya. Mengapa? mengapa? Dan yang tersisa ternyata hanyalah pertanyaanku.
Untung si orang tua berambut putih datang kembali:
Wahai muridku aku mengerti bahwa dirimu ada dalam keadaan gelisah. Untuk menggapai pengetahuanmu maka bertanyalah.
Aku bertanya:
Bolehkah aku bertanya siapa sebetulnya diriku itu?
Orang tua berambut putih:
Oh pertanyaan yang luar biasa. Tidak biasanya seseorang bertanya demikian. Karena pertanyaan demikian memerlukan syarat-syarat tertentu. Orang yang bisa bertanya demikian adalah tentu orang yang telah berilmu. Jadi pertama-tama saya mengucapkan puji syukur ke hadlirat Nya bahwa engkau telah diberi nikmat mendapatkan ilmu itu. Namun saya ingin menyampaikan bahwa yang demikian itulah tidak bersifat dalam keadaan diam. Karena dalam keadaan diam dapat diartikan berhenti. Dan keadaan berhenti dapat pula dikatakan bahwa engkau belum berilmu. Oleh karena itu bergeraklah dan gerakanlah selalu dirimu sinergis tali temali bersama ilmumu dalam ruang dan waktu. Namun telah terbukti bahwa engkau ternyata telah dapat mengajukan pertanyaan yang demikian. Maka saya dapat menyimpulkan bahwa engkau ternyata juga tidak dalam keadaan diam. Untuk itu saya mengucapkan selamat. Itulah sebetul-betulnya ilmu. Dan untuk itulah aku juga merasakan keharuan di dalamnya.
Aku bertanya:
Aku bertanya singkat mengapa guru menjawabnya panjang lebar.
Orang tua berambut putih:
Itulah sebetul-betul ilmu. Jawabanku adalah kata-kataku dan kata-kataku adalah ilmuku. Ilmuku tidak bukan tidak lain adalah engkau sendiri. Jadi bersyukurlah jika engkau mendapatkan jawaban yang panjang lebar, karena itu juga pertanda bahwa rakhmat Nya telah datang. Demikianlah hendaknya jika engaku pun ditanya oleh siswa-siswamu. Pertanyaan dari siswa-siswamu itu juga adalah rakhmat Nya. Jadi jemputlah rakhmat dengan rakhmat pula. Memang demikianlah kodratnya. Untuk memperoleh pertanyaan kita bermodal pertanyaan, untuk memperoleh ilmu kita perlu bekal ilmu, dan juga untuk mendapat rakhmat Nya kita juga perlu rakhmat Nya. Jadi tawaduk dan berdhikirlah menjemput rakhmat Nya.
Aku bertanya:
Jadi siapakah diriku itu guru. Mengapa sekedar mengetahui diriku saja kok sulitnya bukan main?
Orang tua berambut putih:
Kesulitanmu itu pertanda bahwa kau juga telah berilmu dan akan memperoleh ilmu. Bagi orang-orang yang sudah tidak bisa lagi mengajukan pertanyaan, maka tiadalah kesulitan apapun di situ. Hanya pahala atau dosa-dosanyalah yang dia tanggung di tempat abadi. Sebagai seorang guru akupun tentu perlu mengajukan pertanyaan kepadamu. Kapan dan di mana kah kau itu tidak dapat mengajukan pertanyaan? Tolong renungkanlah. Tetapi baiklah aku juga ingin menyampaikan siapa sebetulnya kau itu. Sudah sering saya ucapkan bahwa aku tidak lain tidak bukan adalah engkau juga. Padahal aku adalah pengetahuanmu. Jadi tidak bukan tidak lain kau itu sebetulnya adalah pengetahuanmu sendiri. Demikian juga jika kamu bertanya siapakah aku dan juga siapakah murid-muridmu. Maka aku juga dapat katakan bahwa murid-muridmu tidak lain-tidak bukan adalah pengetahuannya.
Aku bertanya:
Mengapa guru masih berbelit-belit dan panjang lebar?
Orang tua berambut putih:
Berbelit-belit dan panjang lebar itu sebetulnya belum cukup. Berapakah usiamu?
Aku menjawab:
Amurku sekitar 36 tahun
Orang tua berambut putih:
Nah jika suatu peristiwa terjadi dalam waktu 1 detik, memerlukan penjelasan selama 1 menit agar orang-orang jelas betul apa hakekat peristiwa itu. Maka aku sebenar-benarnya memerlukan 60 kali 36 tahun untuk dapat menjelaskan siapa dirimu sebenarnya. Itu pun dengan asumsi hidupmu diskrit atau putus-putus tiap menit, padahal aku tahu bahwa sebenar-benar hidupmu adalah kontinu. Maka apa yang saya terangkan hanyalah manipulatif saja dan penyederhanaan saja. Ketahuilah bahwa segala macam bentuk penyederhanaan adalah nama lain dari eliminasi. Tahukah kau betapa sedihnya seseorang yang tereliminasi atau mengalami penghilangan sifat atau karakternya. Maka sekali lagi aku ingatkan bahwa hal yang paling berbahaya di dunia ini adalah jika seseorang sangat menikmati kegiatannya menghilangkan sifat atau karakter orang lain. Bukankah kamu sebetul-betulnya tidak menghendaki satu atau dua sifatmu tereliminasi? Jika demikian bagaimanakah nasib murid-muridmu? Bukankah muridmu itu adalah cermin bagi dirimu? Tahukah kamu seperti apa ciri-ciri orang paling berbahaya itu? Adalah orang yang tidak penyabar. Adalah orang yang menginginkan hasil yang cepat tanpa berusaha. Adalah orang yang suka melakukan penyederhanaan. Adalah orang yang suka membuat label-label atas banyak sifat. Adalah orang yang suka memberi nama secara tidak proporsional. Adalah orang yang suka mengukur-ukur. Adalah orang yang suka menilai-nilai dengan bilangan-bilangan. Adalah orang yang suka menghakimi. Adalah orang yang suka memberi keputusan-keputusan. Adalah orang yang suka mewakili dan diwakilkan. Yang semuanya itu dilakukan secara tidak proporsional. Ketahuilah bahwa untuk itu semua tiadalah absolutly benar untuk orang-orang yang dia perlakukan.
Aku merasakan sesuatu:
Guru, mendengar uraianmu yang terakhir aku merasakan sesuatu dalam diriku. Tubuhku mulai agak gemetar, perasaanku mulai agak kacau, pikiranku mulai agak bimbang, kepercayaan diriku mulai agak luntur.
Orang tua berambut putih:
Kenapa?
Aku menjawab:
Karena apa yang guru katakan itu ternyata semuanya aku lakukan. Aku melakukan selama ini terhadap murid-muridku. Tetapi aku masih merasa punya pembelaan guru. Apakah aku harus menterjemahkan muridku juga selama 15 tahun sesuai dengan umurnya? Kalau demikian kapan selesainya aku mengajar? Bukankah saya juga harus cepat-cepat menentukan bagaimana hasil belajarnya. Saya juga harus memberi skor dan nilai matematika yang memang dia mendapat 6. Saya juga harus memberi label bahwa dia adalah seorang murid yang sedang-sedang saja dalam belajar matematika. Saya juga harus memberi keputusan dia naik kelas atau tidak. Bahkan saya pernah menulis angka merah buat muridku sehingga dia tidak naik kelas. Apakah yang saya lakukan itu semua adalah penyederhanaan? Jika demikian maka aku termasuk orang-orang yang kau sebut sebagai orang paling berbahaya di dunia. Benarkah itu. Tolong guru, tolonglah ayo jawab segera.
Orang tua berambut putih:
Nah kalimatmu yang terakhir itu pertanda kamu tidak penyabar. Itu artinya ciri-ciri orang yang paling berbahaya.
Aku bercermin:
Baiklah guru aku sekarang merasa sudah bisa mulai menjadi seorang penyabar. Akan aku turunkan nada dan frekuensi bicaraku. Mengapa aku seakan merasa bisa tenang. Karena aku telah menemukan cermin. Siapakah cermin itu guruku? Tidak lain tidak bukan kecuali kau sendiri. Kaulah cerminku wahai guruku. Seperti berkali-kali kau katakan bahwa engkau juga diriku, dan diriku juga dirimu. Tetapi aku ingin menyampaikan fakta sebagai rasa keadilan bahwa engkau juga harus bertanggung jawab atas segala ucapanmu. Bukankah sejak awak engkau guruku selalu berbicara. Bukankah setiap kata yang engkau lantunkan itu sebetulnya adalah penyederhanaan? Kalau begitu aku telah menemukan god-fathernya orang yang paling berbahaya di dunia itu ternyata adalah engkau guruku sendiri. Wahai guruku, janganlah hanya terdiam di situ. Maka jawablah bantahanku ini jika kau memang pantas menjadi guruku.
Orang tua berambut putih:
Jangankan kau tunjuk, jangankan kau katakan, jangankan kau tuduhkan. Kau tidak berbuat apapun sebenarnya aku telah merasakan. Bahwa setiap kata yang kita produksi sebenarnya adalah penyederhanaan. Jangankan sebuah kata, selembar daun yang jatuh ketanah itu juga telah menutup sifat-sifat tanah yang tertimpanya. Itulah hakikat sifat, subyek dan obyek. Ketika aku berbicara kepadamu maka akulah subyek yang membahayakan sifat-sifatmu sebagai obyek. Ketika kamu berbicara denganku maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifatku sebagi obyek. Ketika kau berbicara kepada murid-muridmu maka kaulah subyek yang membahayakan sifat-sifat murid-muridmu sebagai obyek. Siapakah orang yang paling produktif menghasilkan kata-kata, dan dengan demikian dia menjadi orang yang paling berbahaya. Itulah kebanyakan orang-orang yang berkuasa. Tetapi janganlah salah paham. Maksud kuasa di sini adalah kuasa dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bukankah ketika kamu mulai berbicara itu tanda bahwa kamu berkuasa untuk bicara. Jadi guru adalah berkuasa atas muridnya, orang tua berkuasa atas orang muda. Orang kaya berkuasa atas orang miskin. Orang sehat berkuasa atas orang sakit. Orang gemuk berkuasa atas oarang kurus. tetapi jangan salah paham. Karena orang kuruspun berkuasa terhadap orang gemuk, yaitu ketika badan langsing menjadi pilihan. Dan muridmu juga berkuasa atas dirimu ketika dia menuntut hak-haknya. Maka jika kau telah merasa menemukan siapa diriku ini itu pertanda bahwa kau akan menemukan siapakah dirimu itu. Maka tiadalah dapat terbebas wahai bagi orang-orang yang melantunkan kata-katanya dari segala bahaya dan dosa-dosanya. Karena tiadalah satu katapun yang kau lantunkan absolutly benar sebenar-benarnya di dunia ini. Maka ketika aku dan engkau baru berangkat untuk melantunkan satu kata itu pertanda kita sudah mulai menjadi bahaya bagi orang lain. Maka hati-hatilah berbicara. Maka satu satunya solusi maka selalu tawakal, tawadu’ dan istighfarlah kepada kodrat Nya.
Kesimpulanku mungkin:
Kalau begitu aku sekarang akan diam, supaya tidak membahayakan orang lain.
Orang tua berambut putih:
Berbicara adalah kodrat Nya. Diam juga kodrat Nya. Antara bicara dan diam itulah sebenar-benar ilmumu. Berbicara dapat membahayakan tetapi tidak berarti tidak perlu. Sementara itu diam, tidaklah terbebas pula dari bahaya, setidaknya adalah bahaya bagi dirimu, yaitu bagi orang yang berusaha diam. Mengapa? Karena diam pertanda selesai dan selesai pertanda justru kamu sendirilah yang membahayakan dirimu sendiri. Bukankah itu justru dosanya lebih besar ketimbang kamu dibahayakan oleh orang lain? Mengapa, dalam diam itu pertanda kamu telah menyimpulkan hidupmu sebagi diam dan menyederhanakan hidupmu ke dalam diam. Artinya kamu telah mengeliminasi hakekat hidupmu yang tidak diam, dan dengan demikian kamu telah mendholimi hakekat bicaramu. Bukankah sebenar-benar hidup adalah hijrah? Sebenar-benar hidup adalah berusaha, sebenar-benar hidup adalah ikhtiar, sebenar-benar hidup adalah tidak diam. Kamu tidak lain tidak bukan adalah bicaramu. Maka jika terpaksa engkau ingin diam, maka asukkan semua yang aku katakan tadi dalam diammu. Itulah sebenar-benar blakc-hole. Diam kelihatannya, padahal sangat ramai di dalamnya.
Aku bingung:
Jadi aku harus bagaimana guru. Begini salah, begitu salah. Bingung aku jadinya.
Orang tua berambut putih:
Jikalau kamu bisa mengatakan sesuatu salah, itu pertanda kau punya potensi bisa mengatakan sesuatu itu benar. Diantara salah dan benar itulah sebenar-benar ilmumu. Bingung itu ada diantara benar dan salah. Maka bingungmu itu merupakan bagian dari ilmumu.
Aku capai:
Aku capai guru, aku lelah, aku lemas. Aku merasakan tenagaku tidak mampu untuk menyelesaikan tugas-tugas muliaku. Padahal aku harus membelajarkan murid-muridku belajar matematika. Padahal tidak cuma satu kelas, padahal kelas paralel, padahal aku tidak hanya mengajar kelas satu, tetapi kelas dua, padahal aku harus mengurusi keluargaku, isteriku dan anak-anakku. Padahal aku harus..., aku harus...., aku harus....di dunia....di akhirat....?
Orang tua berambut putih:
Capai dan lelah adalah kodrat Nya. Maka bersyukurlah jika engkau masih bisa merasakan capai dan lelah. Itu pertanda engkau masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidupmu. Namun hendaklah disadari, apalah arti seorang dirimu itu? Seberapakah kemampuanmu itu? Seberapakah tenagamu itu? Seberapa luas pikiran dan hatimu? Tenaga dan pikiranmua sebenarnya bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuasaan Nya. Padahal kau telah menyebut begitu banyak urusanmu baik tentang dunia maupun akhiat. Itulah pertanda kekuasaan dan kebesaran Tuhan pencipta alam. Maka kekuasaan Nya tiadalah tolok bandingannya. Dirimu dan juga diriku hanyalah setitik pasir ditepi samudra. Maka tiadalah sesorang mampu mengerjakan urusan dunia dan juga akhirat tanpa bantuan dan kuasa Allah SWT. Amien. Dirimu adalah ikhtiarmu sekaligus kodrat Nya. Maka marilah kita selalu ingat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Nya. Amien. Agar kita selalu diberi kekuatan lahir bathin dan keselamatan widunya wal akhirat. Amien. Amien. Amen.

30 comments:

  1. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Bicara atau diam sebenarnya adalah pilihan. Tetapi kita sebagai manusia diciptakan Allah S.W.T. untuk bicara karena itu pertanda kalau diri kita hidup. Hidup itu mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah S.W.T. dan jangan sekali-kali mengeluh atas hidup yang diberikan oleh-Nya. Bicara benar atau salah adalah bukti manusia diciptakan tidak sempurna. Oleh karena itu berpikirlah sebelum kita berbicara agar meminimalkan kesalahan dalam berbicara. Karena apa yang kita ucapkan adalah diri kita.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  2. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter siswa. Guru adalah contoh bagi siswa. Karena itu, guru harus mengenal siapa dirinya, menyadari ruang dan waktu, serta meningkatkan dimensi hidupnya. Posisi guru sebagai subyek memberikan peluang bagi guru untuk mereduksi atau menutupi sifat dan karakter siswa yang menjadi obyeknya. Tentunya ini sangat berbahaya. Maka guru harus berhati-hati dalam berbicara dan selalu tawakkal, tawadhu' dan istifar kepada KodratNya, serta selalu ingat dan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  3. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Memahami hati dan pikiran serta mengevaluasi kelebihan dan kekurangan adalah hal yang penting yang harus dilakukan guru agar dapat menggapai diri. Kelebihan yang dimiliki dapat dikembangkan dalam pembelajaran dan kontribusinya dalam dinia pendidikan. Kekurangan yang dimiliki bisa menjadi tolak ukur , dalam hal apa yang harus diperbaika dan seberapa besar perjuangna yang harus dimiliki dalam melakukan pembenahan.

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum Wr. Wb
    Sebagai seorang guru haruslah bisa mengenali seberapa besar kemampuan yang dimiliki, tenaga yang dimiliki, seberapa luas pikiran yang dicapai oleh guru. Serta sebagai guru harus bisa merefleksi diri sehingga bisa mengenali diri kita sendiri. Serta nantinya akan bisa mengembangkan potensi yang dimiliki dan bisa mengajar para siswa dengan baik lagi.
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  5. Azwar Anwar
    16709251038
    Pendidikan Matematika S2 Kelas B 2016

    Guru hanyalah seorang manusia yang di tugaskan untuk mengajar, mendidik serta membimbing siswanya. Guru juga harus bisa menggali terus informasi serta ilmu yang dimilikinya. Sebenar-benarnya guru menggapai diri jika dikatakan mampu juga sudah bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan benar serta bermanfaat buat diri sendri, siswa maupun orang lain.

    ReplyDelete
  6. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Sebenar- benar manusia hanya bisa melakukan penyederhanaan. Termasuk seorang guru dengan keterbatasannya hanya bisa melakukan penyederhanaan terhadap kemampuan siswa sehingga yang dinilai hanya sebatas kemampuan ini dan itu, sehingga nilai yang dikeluarkan hanya sebatas angka- angka. Maka dengan keterbatasannyalah tugas seorang guru adalah meminimalisir kedhalimannya kepada siswa yakni dengan berusaha untuk memahami keberagaman siswa, dengan memfasilitasi segala potensi yang dimiliki siswa, memfasilitasi siswa untuk membangun pengetahuannya.

    ReplyDelete
  7. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Seorang guru yang baik adalah dapat menyadari apa yang dimilikinya, memahami hati dan pikiran yang dimiliki. Menyadari apa yang dimiliki, kemampuan yang dimiliki, pikiran yang dimiliki, pengetahuan yang dimiliki. Kelebihan yang dimiliki agar dapat dikembangkan, serta kelemahan yang dimiliki agar dapat diminimalkan atau bahkan diperbaiki. Tidak penyabar bagi seorang guru matematika akan berakibat fatal, karena dalam matematika itu seharusnya lebih mementingkan proses untuk menggapai pengetahuan itu.

    ReplyDelete
  8. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Menjadi seorang guru itu tidaklah mudah. Banyak tuntutan yang harus kita penuhi untuk mampu melaksanakan tugas guru semaksimal mungkin. Elegi ini mengajarkan pembaca untuk mempersiapkan diri dan mental sebelum terjun dalam profesi tertentu. Walaupun kita sudah terlanjur terjun ke dalam sebuah profesi tertentu, kita harus menekuninya dan selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala karunianya.

    ReplyDelete
  9. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Untuk dapat menggapai diri maka seorang guru perlu mengenal dirinya sendiri, seberapa besar kemampuannya , seberapa besar tenaganya, seberapa luas pikiran dan hatinya. sehingga dengan menyadari apa yang dimiliknya dan kemampuannya guru dapat menginstrospeksi diri dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuannya, yaitu bekerja sesuai dengan proporsi dan kemampuan yang ia miliki.

    ReplyDelete
  10. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013


    Pencarian jati diri adalah salah satu momen yang pasti dirasakan oleh masing-masing individu. Termasuk yang dilakukan oleh sang guru. Setiap profesi yang dijalani pasti suatu ketika akan timbul keraguan terhadap diri sendiri apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh sekeliling kita. Sebagai seorang guru, untuk terus mengupgrade diri memerlukan kerjasama antar guru dan terus menambah ilmu.

    ReplyDelete
  11. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Mengingat peran guru yang begitu penting dalam pembentukan karakter siswa maka seorang guru harus dapat mengenal siapa dirinya. Menjadi seorang guru, hendaknya juga senantiasa mengupgrade diri. Terutama di era perkembangan teknologi yang pesat seperti saat ini, maka pendidik tidak cukup hanya berbekal keterampilan dan pengetahuan yang telah dimilikinya saja, namun guru juga dituntut untuk terus berinovasi dan mengembangkan kemampuannya.

    ReplyDelete
  12. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Untuk menggapai sebaik-baik diri kita perlu ikhtiyar yang sungguh-sungguh dan doa yang khusyuk. Hal yang prlu dicapai seseorang tidak hanya duniawi saja, namun juga ukhrowi. Oleh karena itu, seseorang perlu menyeimbangkan kedua urusan tersebut, duniawi dan ukhrowi sehingga dapat mencapai derajat tinggi di dunia maupun di akhirat.

    ReplyDelete
  13. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Manusia diciptakan di dunia ini memiliki tujuan. Bukan hanya hidup saja, namun juga ibadah. Apapun yang manusia lakukan di sunia ini akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Manusia hendaknya selalu berbuat baik sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat.

    ReplyDelete
  14. Herwati Dian Saputri
    12313244004
    Pend. Matematika (Inter.)

    Selain itu, manusia yang dapat mendahulukan akhirat ketimbang dunia akan memperoleh derajat yang tinggi di hadapan Allah. Karena urusan dunia itu akan mengikuti urusan akhirat. Sebagai contoh: ketika berdagang dan sudah masuk waktu sholat. Maka hendaknya manusia menghentikan kegiatan berdagangnya dan bergegas untuk sholat.

    ReplyDelete
  15. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Segala sesuatu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing begitu juga dengan seorang guru. Guru pasti pernah mengalami yang namanya capai dan lelah dalam menghadapi pembelajaran di kelas. Capai dan lelah merupakan pertanda bahwa kita masihlah hidup. Namun janganlah seorang guru sampai berlarut-larut dalam rasa capai dan lelahnya. Segerah memohon kepada Allah SWT agar rasa itu diangkat dari diri, karena dialah yang berkuasa untuk mengadakan dan menghilangkan rasa capai lelah.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  16. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Menjadi seorang guru adalah hal yang tidak mudah. Selain materi yang harus kita kuasai, kita juga harus belajar bagaimana cara mendidik murid dengan baik. Tetapi terkadang ada pula murid yang tidak menurut dan kita memerlukan tenaga ekstra dan kesabaran yang lebih untuk menghadapinya. Untuk mengatasi rasa lelah dan tidak sabar itu kita perlu mendekatkan diri pada Allah dan mensyukuri karunia yang telah diberikan. Karena tidak setiap orang mendapat kesempatan menjadi guru.

    ReplyDelete
  17. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Kembali lagi, ulasan tentang keluhan. Ketahuilah bahwa keluhan itu hanya akan diam pada tempatnya dan tidak menyelesaikan masalah yag dihadapai. Guru matematika mestinya mampu pula menyelsaikan masalah-masalah, yang bukan hanya ada dalam buku teks tapi realita dan kondisi kehisupan ini. Rasa lelah dan capai dalam menuntut ilmu, itu hanyalah keluhan dan tidak akan menyelesaikan masalah.

    ReplyDelete
  18. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    aka kawan-kawanku sekalian, atasilah rasa lelah itu sesuai dengan jalanmu masing-masing kawan. Karena kita tahu bahwa lelah itu memeang rintangan untuk emncapai tujuan. Tidaklah tujuan yang indah itu digapai hanya dengan semudah meembalikkan telapak tangan.
    "Sebuah revolusi bukanlah kasur yang terbuat dari mawar. Sebuah revolusi adalah perjuangan sampai titik darah penghabisan antara masa depan dan masa lalu" ~ Fidel Castro

    ReplyDelete
  19. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Menjadi guru memang tidaklah mudah. Banyak sekali yang harus diperhatikan. Di samping mengenali siswanya, guru juga perlu mengenali dirinya sendiri, yaitu dengan mengukur seberapa besar tanggung jawabnya, seberapa besar perannya, seberapa besar kemampuannya dan lain-lain. Mengenali diri pun bukan merupakan pekerjaan yang mudah, kita tidak akan pernah mampu benar-benar mengenali diri kita sendiri, terlebih jika masih ditutupi dengan kesombongan. Namun, dengan terus berusaha mengenali diri setidaknya kita akan dapat menyadari berbagai keterbatasan yang kita miliki. Dengan demikian kita akan terpacu untuk meningkatkan kemampuan diri serta menyadari segala keterbatasan kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  20. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    “Jika kamu tidak merasa lelah, maka sejatinya tidak ada yang sedang kamu perjuangkan”. Sejalan dengan salah satu bagian dari elegi di atas bahwa capai dan lelah adalah kodrat. Maka kita patut bersyukur jika kita masih bisa merasakan diberikan nikmat capai dan lelah karena itu pertanda bahwa kita masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidup. Jika kita sebagai guru lelah karena terlalu banyak aktifitas yang kita lakukan demi mencerdaskan siswa-siswa, semoga itu tidak membuat menyerah, namun justru menambah gairah kita untuk lebih ikhlas lagi dalam mendidik siswa-siswa kita. Kita mungkin capai dan lelah menjalani hidup ini, kita tak sadar bahwa begitu banyak nikmat yang terlupakan untuk disyukuri, karena hanya fokus pada urusan yang menyebabkan kita capai dan lelah. Maka teruslah berikhtiarlah untuk meningkatkan dimensi kita. “Berlelah-lelahlah kita dalam kebaikan, sampai kelelahan itu lelah mengikuti kita”. Wallahu a’alam..

    ReplyDelete
  21. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Memang manusia dikatakan sempurna karena dilengkapi dengan akal, pikiran dan hati, tetapi karena dilengkapi itu membuat pandangan manusia itu berbeda-beda, tidak ada manusia yang memiliki sifat yang sama. Maka terkadang ada yang bertentangan dengan norma, aturan, adat istiadat. Oleh karena itu tidak ada manusia yang sempurna. Guru pun juga begitu, pasti banyak kesalahan saat mengajar, kadang untuk memahami banyaknya karakter yang ada di kelas membuatnya tidak adil kepada setiap siswa. Selain itu, karena siswa yang banyak kadang susah untuk mengendalikan emosi. Maka menjadi guru itu tidaklah mudah, karena guru bisa dikatakan panutan siswa saat dikelas. Jadi harus menjaga betul terhadap sikap perilakunya.

    ReplyDelete
  22. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Manusia hakekatnya tersusun dari sifat-sifat yang berjuta juta dan setiap sifat terus berubah sifatnya setiap detik waktu berjalan. Maka tidak bisa kita akan menggapai siapa diri kita ini hanya dengan satu kata karena jika diri kita bisa didefinisikan dengan satu kata maka sejatinya itu bukanlah diri kita karena kita dalam mendefinisikan seseuatu telah melakukan eliminasi terhadap sifat yang lain. Tapi jika diri kita atau orang lain kalau harus didefinisikan maka jawabannya adalah orang yang selalu bertanya itulah sebaik-baiknya jawaban mengingat manusia itu terus berfikir.

    ReplyDelete
  23. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Sebenar-benar dirimu adalah kodratmu. Dan sebenar-benar dirimu adalah ikhtiarmu. Maka tidak ada manusia yang mampu menjalani hidup di dunia tanpa memohon rahmat dariNya. Maka sudah sepantasnya kita selalu ingat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Nya agar kita selalu diberi kekuatan lahir bathin dan dilancarkan dalam menjalankan segala sesuatunya. Karena capai dan lelah pun adalah pertanda betapa manusia hanyalah makhluk yang lemah diluar kuasaNya.

    ReplyDelete
  24. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Guru yang baik adalah guru yang selalu memperbaiki dirinya, baik itu dari keilmuannya, cara mengajari murid-muridnya maupun cara bersosialisasi dengan orang lain. Dalam pembelajaran guru dihadapkan dengan anak-anak yang berbeda-beda karakter, maka semaksimal mungkin guru harus bersikap adil, guru harus memiliki seni dalam mengajar, sehingga murid tidak jenuh dengan pelajaran. Karena pendidikan itu adalah perubahan, yang baik biarlah kita tanamkan dalam diri dan yang buruk cobalah sedikit-demi sedikit memperbaikinya.

    ReplyDelete
  25. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Guru yang baik adalah menurut saya adalah guru yang senantiasa melakukan kegiatan refleksi terhadap dirinya sendiri. Kegiatan refleksi ini berguna sebagai bahan evaluasi untuk menengok kembali proses pembelajaran yang telah ia lakukan di kelas. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa metode pembelajaran yang ia lakukan sebelum sesuai atau tidak dengan kebutuhan siswa dengan berbagai macam karakteristik, sehingga kedepannya guru dapat menyesuaikan metode yang digunakan dengan karakteristik siswanya. Selain itu, guru harus juga terbuka, dalam artian bersedia menerima kritikan-kritikan guna untuk selalu memperbaiki dirinya.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  26. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Guru adalah profesi dunia akhirat. Guru adalah penyambung pengetahuan seorang murid antara dunia dan akhirat. Guru bukan sekedar menyuruh muridnya diam. Guru tidak boleh ini itu. Banyak sekali pantangan guru. Belum kalau muridnya nakal. Tetap tidak diperbolehkan seujung sel pun kita menyakiti murid. Kita juga harus bisa menjelma menjadi murid juga orang tua berambut putih itu. Orang tua berambut putih tidak akan keberatan dirinya dipinjam seorang guru.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  27. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Menjadi guru adalah pengabdian. Ketika kita menjadi guru, banyak tantangan akan, Untuk contoh bagaimana bersikap terhadap siswa, bagaimana menilai siswa, bagaimana mendidik siswa dengan baik, dan sebagainya. Mengingat peran guru yang begitu penting dalam pembentukan karakter siswa maka selayaknyalah guru mengenal siapa dirinya, dan saya rasa itu tidaklah sesederhana yang kita bayangkan mengingat guru juga merupakan manusia yang biasa yang memiliki sifat-sifat yang senang sekali mereduksi. Untuk dapat menggapai diri maka kita perlu mengenal seberapa besar kemampuan kita, seberapa besar tenaga kita, seberapa luas pikiran dan hati kita. Untuk dapat mengenali diri maka kita perlu juga merefleksi diri, dengan bercermin dan melihat siapa dan bagaimana diri kita.

    ReplyDelete
  28. Moh. Bayu Susilo
    16709251012
    S2/P. Matematika/A/2016

    Sebelum menjadi seorang pengajar dan pendidik, seorang guru harus sudah mengenal diri dan jati dirinya. Idealnya seorang guru harus memberikan dirinya secara total bagi dunia pendidikan, sebuah keadaan yang berat di tengah semua persoalan hidup yang harus dihadapi oleh seorang guru. Maka perlu ada strategi untuk menyiasati beban-beban struktural
    administratif kependidikan agar tidak menjerat guru kedalam perangkap yang melelahkan sehingga mereka melepaskan idealisme dan semangat yang dibutuhkan. Strategi ini antara lain adalah menciptakan kondisi yang memacu untuk terus menerus belajar.

    ReplyDelete
  29. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Kita adalah manusia yang memiliki batas, dan tugas kita adalah mengenali diri kita, di mana batas kemampuan kita agar kita dapat mengupgradenya. "Capai dan lelah adalah kodrat Nya. Maka bersyukurlah jika engkau masih bisa merasakan capai dan lelah. Itu pertanda engkau masih hidup. Diantara capai dan tidak capai itulah sebenar-benar hidupmu. Namun hendaklah disadari, apalah arti seorang dirimu itu? Seberapakah kemampuanmu itu? Seberapakah tenagamu itu? Jika kita mengenali batas kemampuan diri kita, kita akan lebih tertata dalam bertindak. Misal kita tidak suka berdiam diri, kita akan melakukan smeua kegiatan yang bermanfaat di waktu luang, namun kita harus tahu kapan diri kita harus beristirahat, kapan diri kita harus makan, supaya kesehatan tetap terjaga.

    ReplyDelete
  30. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Penyederhanaan tak ada yang bisa menghindari. Namun, jika dalam pembelajaran matematika seharusnya tidak melakukan langkah yang secara singkat yang menginginkan hasil yang cepat. Karena pentingnya alur pemikiran siswa dalam memecahkan permasalahan matematika. Tanpa berusaha, maka hasilnya pun sesuai dengan apa yang diusahakan. Bertanya merupakan salah satu cara untuk mencari ilmu dan belajar. Belajar dapat dengan banyak cara. Bertanya pun merupakan batas ilmu yang kita punya. Jika kita ingin bertanya, tentu harus memiliki ilmu terlebih dahulu dan mengetahui apa yang akan ditanyakan. Aneh jika bertanya mengenai sesuatu yang tidak diketahui apa yang akan ditanyakan. Seseorang bertanya karena sadar akan kekurangan yang belum ada di pikiran, atau hati, ataupun yang belum cocok dengan apa yang ada di benaknya. Semoga kita menjadi orang yang tidak diam. Amin.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id